"For your name’s sake, O Lord, pardon my
guilt, for it is great" (New Revised Standard Version Catholic Edition, Psalm 25: 11)
"Oleh
karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan
itu." (Alkitab Terjemahan Baru, Maz. 25:11)
Kunci untuk Menyelesaikan Dosa-Dosa pada Masa
Penghakiman
Oleh karena "nama"
TUHAN—yaitu "slow to
anger" (panjang sabar), "merciful",
"abounding in love"
(berlimpah kasih setia), kudus, dan "setia mengampuni"—maka sudah
pasti Raja Daud telah menerima pengampunan atas dosa-dosanya.
Perkataan "nama" TUHAN dalam bahasa roh nubuat
adalah merujuk kepada “karya” Roh Tuhan. "Nama" TUHAN sudah tentu tidak
berdusta, sebab nama itu mengalir dari sifat-sifat Ilahi yang tidak berubah (immutable). Tujuan orang percaya
menyelesaikan dosa-dosa melalui anugerah "nama" TUHAN adalah agar
mereka dapat diterima oleh Allah dan selanjutnya dapat mengecap ibadah rohani,
yaitu karunia Spirit of prayer
(Roh Doa). Yesus berkata dalam Matius 5:48:
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama
seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" ("be perfect therefore, as My
Father in heaven is perfect").
The Spirit of prayer adalah urusan yang menuntut
keadaan roh seseorang yang sempurna (perfect) atau kudus untuk memasuki "kamar" (Mat.6:6)! Jadi, menyelesaikan dosa-dosa
bukanlah agar kita berusaha menjadi sinless (tanpa dosa), sebab berusaha menjadi sinless adalah suatu kebodohan
bagi fitrah daging, bahkan merupakan hal yang mustahil bagi orang percaya. Oleh
karena itu, penyelesaian dosa-dosa sangat praktis untuk urusan the Spirit of prayer; roh doa
menjadikan orang percaya sebagai pelaku Firman Tuhan yang berkemenangan menurut
pesan nubuat dalam Doa Bapa Kami.
Apabila Hakim
datang untuk misi menyempurnakan penghakiman dan penghukuman, hanya mereka yang
dianugerahi roh "takut akan Tuhan," roh
pengertian, dan roh hikmat yang akan dapat memasuki hadirat Hakim. Mereka yang
takut akan Tuhan Sahaja yang memeiliki keyakinan untuk mendapat berkat pengampunan dosa dari "nama" TUHAN yang immutable!
 |
| Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu,sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (I am)" (Yoh. 8: 58). |
Menyelesaikan Dosa-Dosa pada Zaman Perjanjian
Pendamaian bukanlah masalah besar karena Covenanted
names of God, yaitu "Domba Allah" atau "Raja Damai"
(Kristus), senantiasa duduk di sebelah kanan Bapa sebagai penjamin dan
pengantara bagi setiap pengakuan dosa orang-orang percaya. Hukum Taurat
mengajar bahwa setiap dosa umat Allah harus diselesaikan dengan mempersembahkan
sin offering (burnt offering).
Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat,
nubuat para nabi, dan juga pesan lirik Mazmur (Lukas 24:44). Dia diutus sebagai
"Domba Allah." Upacara penyelesaian dosa-dosa manusia telah
"Sudah Selesai" dalam kematian Yesus di atas kayu salib. Imam Agung
Melkisedek, yaitu Yesus Kristus, telah "selesai" mengupacarakan
persembahan Korban Domba Allah di bumi. Persembahan (doa ritus Melkisedek di
bumi) itu sangat ajaib dan tanpa cacat cela!
"Sengat maut, yaitu dosa" telah selesai
ditelan oleh kuasa pentahiran dosa dari pribadi Domba Allah yang "Sudah
Selesai" ("It's finished") dipersembahkan dalam kematian
"Domba Allah." Kematian Kristus adalah Pengupacaraan Altar di bumi
untuk "menghapuskan dosa-dosa dunia." Maka, memandang Salib Yesus
membawa setiap orang percaya kepada "nama" TUHAN (Lihat Keluaran
34:5-6).
Upacara Altar Yesus di bumi itu bukanlah
diupacarakan menurut hukum-hukum pengupacaraan Ordo Imam Harun, melainkan
persembahan Altar Domba Allah itu dipersembahkan oleh Kristus menurut
pengupacaraan Ordo Imam Agung Melkisedek (Lukas 24:44). Hal itu diupacarakan
oleh Roh Tuhan! Oleh sebab itu, manusia tidak dapat melihat kematian Yesus
sebagai penggenapan upacara Altar Melkisedek di bumi, kecuali jika ia
dianugerahi "Firman yang tersingkap." Upacara Paskah yang
diupacarakan oleh Roh Tuhan menggenapi Lukas 24:44.
Sejak saat itu, berkat kuasa pengampunan oleh Roh
Tujuh Lapis Karunia—yaitu hasil pengupacaraan Melkisedek—telah mengalir tanpa
henti di sepanjang zaman Perjanjian Pendamaian. Pendamaian diungkapkan dengan
frasa nubuat: "pergantian siang dan malam" atau "siang dan malam
tidak berhenti-henti" (Kejadian 8:22). Kita tahu bahwa frasa "siang
dan malam tidak berhenti-henti" itu akan berakhir dengan frasa "tidak
ada malam dan tidak ada siang," yaitu dalam nubuat Nabi Zakharia (Zakharia
14:5-7).
Pintu Roh Tuhan senantiasa terbuka, namun tidak ada
hal yang impure (cemar/tidak tahir) yang dapat memasukinya. Pintu Raja Damai
akan tertutup karena Sang Hakim akan turun untuk menghakimi dan menghukum semua
orang yang berdosa. Oleh karena itu, pintu Sang Hakimlah yang akan dibuka
menggantikan Pintu Raja Damai.
Siapakah yang dianugerahi karunia roh pengertian
dan roh hikmat untuk memasuki "Pintu" hadirat Sang Hakim? Hanya
mereka yang dianugerahi hikmat, seperti perumpamaan "lima gadis yang
bijaksana," yang dapat memasuki Spirit of prayer (Matius 6:6). Hanya mereka yang telah
dilatih dan dididik oleh Roh Tuhan mengenai urusan "masuk ke dalam kamar
yang tersembunyi" yang dapat mengecap berkat pengampunan dosa-dosa,
meskipun Perjanjian Pendamaian sudah sampai ke penghujungnya!
Pada masa Judgment, kuasa dan "Pintu"
nama Domba Allah tidak lagi menjamin "pendamaian"! Perjanjian
Pendamaian sudah berakhir! Pada periode masa penghakiman, nama Ilahi di
sepanjang Perjanjian Damai akan menghentikan operasinya. Sebagai contoh,
"nama" Domba Allah yang menghapus dosa dunia akan berhenti
beroperasi kepada gereja: gereja tidak dapat menuai jiwa-jiwa karena para malaikat yang menjadi penuai.
Walaupun demikian, "nama" Allah seperti yang diberitakan
dalam Keluaran 34:5-7 tidak akan berubah. Rincian sifat-sifat nama TUHAN
seperti "penuh belas kasihan," pengampun, dan penuh kasih akan terus
berlanjut seperti pada masa sebelumnya. Sifat-sifat Allah tidak akan berubah
(immutable), akan tetapi Perjanjian Pendamaian yang akan berakhir!
Namun, hanya mereka yang telah dianugerahi roh
hikmat dan roh pengertian yang dapat memasuki "pintu" hadirat Sang
Hakim! Itulah alasannya mengapa tertulis dalam Kitab Wahyu, Roh Kudus
menasihati: "...peganglah apa yang ada padamu..." (That is the
reason, why it was written in the book of Revelation, the Spirit exhorted:
"...hold what was given unto you..."). Apakah maksud frasa "what
was given unto you"? Kita akan memegang apa yang diberikan kepada kita,
dan frasa itu merujuk kepada "Harta Sion" (Yesaya 11 dan Yesaya
33:6).
Mereka yang belum memegang "Harta Sion,"
baiklah mereka memohon "Harta Sion" itu selagi "siang dan malam" masih
berganti! Harta Sion itu ialah (Roh) Hikmat, (Roh) Pengetahuan, (Roh)
Pengertian, dan (Roh) "Takut akan TUHAN." Mereka yang menerima
Karunia Roh "Takut akan TUHAN" akan dapat mengaku dosa seperti lirik
Daud dalam Mazmur 25:11: "Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah
kesalahanku..." Karunia "Takut akan TUHAN" adalah kunci besar
kepada "nama" TUHAN, baik Covenanted names of God maupun Immutable
names of God (rujuk Keluaran 34:6-7). TUHAN bergaul karib dengan orang yang
dianugerahi karunia "Takut akan TUHAN" (Mazmur 25:14).
Raja Daud adalah penyembah Roh Tujuh Lapis Karunia
Allah: The Spirit of the Menorah. Daud memasuki hadirat Roh Tuhan dan mengecap
kebaikan-kebaikan (blessings, termasuk apa yang kita pahami sebagai
"Ucapan Bahagia" / beatitudes) dari Roh Tujuh Lapis Karunia. Daud
bernyanyi dalam Mazmur 27:4: "Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah
yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN
dan menikmati bait-Nya." Keinginan rohani seperti lirik Daud tersebut tidak
akan ada di antara manusia yang "luka" dan yang "belum
dilahirkan kembali."
Pusat kesadaran manusia yang "luka"
didominasi oleh otak. Keinginan seperti dalam Mazmur 27:4 hanya ada bagi mereka
yang telah dibimbing oleh Roh Kudus agar realitas "ranting pada Pohon
Kehidupan" menjadi kenyataan: manusia rohani (spiritual man).
Ibadah "agama" yang lahir dari ajaran
Ordo Melkisedek dapat dikatakan bermula secara tulen dari bani Israel. Ibadah
ini bersifat Teokrasi dan diperintah oleh the Kingdom of priests. Ibadah agama
bagi satu bangsa dan negara diupacarakan oleh kaum Imam, yang berpusat di
Tabernakel, Yerusalem. Dalam kehidupan Raja Daud, kita melihat Daud sebagai
seorang nabi, raja, dan seperti "imamat yang rajani" yang menyembah
Roh Tuhan.
Ibadah agama lebih menjurus kepada kuasa-kuasa pengupacaraan Imamat
yang pernah memerintah Teokrasi Tanah Suci pada zaman Hakim-hakim, tetapi kelak
Israel menolak teokrasi "Hakim-hakim" karena mereka memilih sistem
monarki Ibrani seperti bangsa-bangsa lain.
Meskipun "kerajaan imamat" telah ditolak,
namun Imamat masih berkuasa sebagai pengupacara tata ibadah "agama"
bagi umat Tuhan sehinggalah nubuat kehancuran pusat ibadah (Tabernakel)
digenapi pada masa kemusnahan Bait Allah oleh Jenderal Titus. Maka, agama
Perjanjian Lama itu telah berhenti karena mereka semakin terserak ke seluruh
penjuru bumi.
Ibadah agama melibatkan kepatuhan kepada banyak hukum yang
dikuatkuasakan oleh imam-imam atau pemerintah. Agama dilihat "hidup"
dan berfungsi di hadapan Allah hanya apabila umat Allah tetap setia memegang
Perjanjian, dan selagi "Pintu" "nama" TUHAN (the Covenanted
name of God) belum tertutup! Selagi suatu Perjanjian dipegang, maka Covenanted
names of God tidak akan berhenti beroperasi.
Bahtera Nuh menerima setiap
binatang yang datang kepadanya selagi "pintu" bahtera masih terbuka.
Pintu Covenanted names of God, seperti Raja Damai, akan senantiasa
menganugerahkan pendamaian antara Allah Bapa dan manusia di bumi (orang
percaya) selagi pintu "nama" Raja Damai belum ditutup oleh tangan
Allah!
"Akar" agama bagi hampir semua agama
Kristen tidak dapat dipisahkan dari "tafsiran bayangan" (typology)
praktik agama yang berpusat di Bait Allah pada zaman Teokrasi—yaitu kerajaan
Imamat Israel yang pernah bertahan hampir 400 tahun. Jika periode kerajaan
Imamat (Theocracy YHVH) itu dihitung dari saat Allah mengeluarkan dekret
pengangkatan the Kingdom of priests and holy nation bagi bangsa Israel, maka
theocracy YHVH telah bertahan selama kurang lebih 391 tahun (Simin 42-43). Menurut kronologi Simin, sistem monarki
pula bertahan selama kurang lebih 511 tahun (42-43).
Oleh karena kebanyakan agama Kristen Perjanjian
Baru diilhamkan oleh akar agama monoteisme Perjanjian Lama yang berpusat di
Tabernakel, maka keberadaan agama Kristen tidak dapat dipisahkan dari
nation-building atau kingdom-building. Sebab itulah kita melihat zaman
keberadaan "Gereja Kekaisaran" dan "Gereja Negara." Kita
juga melihat pengaruh zaman feodalisme di mana kaum Imamat diangkat oleh
monarki feodal sebagai golongan bangsawan (noblemen).
Namun, semua itu
menjelaskan bahwa agama memang tidak dapat dipisahkan dari agenda
nation-building. Gereja sering kali terseret oleh politik ke dalam agenda
politik, sehingga kehilangan "kebebasan" untuk menabur benih; bahkan
sering kali tertakluk pada kegagalan agama yang bersifat institusional,
sehingga kehilangan "minyak dan anggur."
Agama-agama Kristen dapat berfungsi sebagai
platform untuk harvesting jiwa-jiwa manusia di dunia karena pintu-pintu
Covenanted names of God. Di dalam Perjanjian Baru, contoh Covenanted names of
God ialah Anak Manusia, Domba Allah, dan Raja Damai. Pintu Pendamaian akan
tertutup atau diberitakan oleh "Langit" bahwa "Matahari akan
menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya dan bintang-bintang akan
berjatuhan" (Matius 24:29). Matius 24:29 adalah pemberitaan
"langit" bahwa Pintu Pendamaian akan ditutup. Namun, Pintu akan
benar-benar tertutup hanya apabila Sang Hakim turun dan kelihatan seperti
awan-awan yang bergulung seperti gulungan Kitab.
Penyembahan "roh" tidak dibatasi oleh
ritus-ritus yang dikuasai oleh kaum Imamat. Praktik agama tertumpu pada
upacara-upacara agama yang dikuasai sepenuhnya oleh imam-imam. Ketika agama
gagal, hanya nabi-nabi (true branches) yang masih dapat beribadah dalam
"penyembahan roh" kepada Roh Tuhan ("memasuki hadirat Roh
Kudus"), seperti yang terjadi pada umat TUHAN di Tanah Suci dalam
Perjanjian Lama.
Hanya nabi-nabi yang beribadah kepada Roh Tuhan karena ibadah
Roh tidak terbatas pada upacara atau ritus Tabernakel yang berpusat di
Yerusalem. Kegagalan agama bagi bani Ibrani menurut Perjanjian Sinai secara
jelas dinubuatkan dalam "pesan perceraian" TUHAN dengan
"istri-Nya" (Israel) dalam 2 Raja-raja 23:27. Pesan YHVH dalam nubuat
2 Raja-raja 23:27, Kitab Maleakhi, Yesaya, dan nubuat nabi-nabi lain
menjelaskan kegagalan praktik agama the kingdom of priests and the holy nation.
Kita tidak berfokus pada kegagalan agama tersebut
karena Imam Agung Melkisedek dalam pribadi Kristus telah "Sudah
Selesai" mengupacarakan Jalan Kudus yang sempurna bagi semua orang yang
percaya untuk menerima aliran Roh Kudus yang Immanuel di bumi! Yang menarik
adalah pengetahuan dan pengertian yang disampaikan oleh para nabi mengenai
ibadah roh secara individu, yaitu penyembahan di dalam hadirat Roh Kudus:
"imamat yang rajani." Yesus bersabda: "Allah itu Roh...
barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Di "dalam" Roh bermaksud di dalam hadirat Roh Kudus yang tidak
terbatas pada upacara ritus oleh para imam.
Kelak, Yesus menggariskan ajaran ibadah roh yang
dapat dipraktikkan secara individu tanpa penguasaan para imam, sebagaimana
nubuat-Nya dalam doa "Bapa Kami" (Matius 6:9-13). Doa "Bapa
Kami" adalah panduan dan nubuat untuk menjadi the doers of the Word of
God. Maka, kita melihat bahwa agama berasal dari kingdom of priests, sedangkan
ibadah rohani yang sejati berasal dari ajaran doa "Bapa Kami" yang
dimungkinkan oleh kekuatan hadirat Roh Tujuh Lapis Karunia.
Agama memiliki Creed (Pengakuan Iman/Syahadat).
Ketika ada Creed, muncullah manipulasi apologetika yang menyatakan bahwa jika
seseorang tidak mengikut Creed, maka ia telah sesat! Creed diciptakan sebagai
pernyataan ringkas kepercayaan agama untuk mencegah perbedaan tafsiran rasional
di antara orang-orang percaya. Hal itu berfungsi sebagai identitas
(identification) suatu agama! Namun agama dikuasai oleh kaum imamat, dan umat
awam diseru untuk taat mematuhi semua peraturan agama. Praktik beragama terbatas
bagi penduduk bumi (earthlings). Sorga tidak memiliki agama, meskipun ada hukum
roh yang sempurna.
Yesus telah menubuatkan panduan ibadah roh, yaitu
doa Bapa Kami. Kandungan pesan nubuat dalam doa Bapa Kami adalah panduan untuk
menjadi pelaku Firman Allah (the doers of the Word of God). Untuk mencegah
perpecahan kesatuan agama di antara pengikut-pengikut Yesus (the followers of
the Way), agama membuat Creed atau Syahadat. Penyembahan Roh menuntut
"kunci" untuk memasuki hadirat Roh Tuhan, sedangkan agama konsisten
dengan kepatuhan pada ritus-ritus yang diupacarakan oleh imam. Maka, agama dikenal
karena Syahadat dan ritusnya. Namun, dalam kasus penganutan agama secara
ekstrem, Creed digunakan sebagai apologetika untuk menghakimi dan mengklaim
bahwa orang yang melanggarnya akan masuk neraka.
Jadi, Yesus pada dasarnya tidak mengajar agama,
melainkan mengajar Ibadah Roh melalui doa Bapa Kami, sebagaimana yang
dinubuatkan oleh mulut TUHAN dalam Perjanjian Lama. Dia dituduh melanggar agama
Nabi Musa. Mahkamah agamalah yang menjatuhkan hukuman mati ke atas Yesus karena
Dia dianggap sebagai "bidaah" dan bahkan menista Allah karena mengaku
diri-Nya sebagai Allah. Tetapi, dengan keajaiban hikmat-Nya sebagai Juruselamat
dan "nama-Nya" sebagai Domba Allah, Dia telah mengupacarakan
kematian-Nya sebagai Upacara Altar Melkisedek di bumi! Upacara itu "Sudah
Selesai" diupacarakan oleh Yesus sendiri menurut Ordo Melkisedek.
"Sudah Selesai" berarti bahwa sengat dosa, yaitu maut, telah ditelan
oleh Kuasa Pengupacaraan Altar Kristus di bumi.
"Sudah Selesai" doa Melkisedek di
bumi—yaitu Upacara Altar—berarti "Berkat" Raja Damai dan Pembaptis
Api telah mulai mengalirkan atau mencurahkan Roh Kudus (Roh Tujuh Lapis
Karunia) kepada seluruh bangsa di sepanjang zaman Pendamaian, sejak Hari
Pentakosta.
Sejak zaman Habel, "nama TUHAN" yang
diutus dan dinyatakan kepada manusia menurut Ordo Melkisedek telah
menyingkapkan ajaran kepada umat Allah di bumi bahwa dosa-dosa manusia
diselesaikan "dengan menuruti Firman Allah." "Nama" Kristus
ialah Firman Allah: "...dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah'." (Wahyu
19:13). Oleh karena itu, frasa "menuruti Firman" juga bernubuat
mengenai sikap "percaya" dan mengikut Yesus: the followers of the
Way.
Daud bernyanyi bahwa Jalan Kudus dapat dikecap dengan menuruti Firman! Dan
Firman Allah menyatakan bahwa dosa diselesaikan dengan doa (upacara) jalan
altar: Jalan Penebusan. Yesus adalah "Jalan" Altar yang menggenapi
semua ajaran Melkisedek mengenai altar Perjanjian Lama (Yesaya 53; Lukas
24:44). Dia bernubuat: "Akulah jalan..."
Aliran Kehidupan atau Berkat
Tuhan telah mengalir 24 jam sehari, segera setelah Dia berfirman "Sudah
Selesai." Berkat yang mengalir memberikan kekayaan dan tidak menambah
kesusahan dalam kehidupan jasmani ("The blessing of the Lord brings
wealth, without painful toil for it" / "The blessing of the Lord
brings forth wealth, he adds no sorrow to it"). Berkat itu mencakup semua
beatitudes oleh ketujuh karunia Roh Kudus yang utama atau
"kunci-kunci" Roh Tuhan.
Semua karunia Tuhan, termasuk berkat-berkat yang
disampaikan dalam "Ucapan Bahagia" (Matius 5), telah mengalir kepada
seluruh bangsa di bumi sejak upacara Altar Melkisedek "sudah selesai"
diupacarakan. "Ucapan Bahagia" bukanlah resources manusia, melainkan
seluruh beatitudes adalah resources Roh Tuhan! Sebab itulah kita mengaku di
hadapan Tuhan: "...apart from You (Christ), we are nothing"! Kita
tidak memiliki sumber daya untuk menjadikan roh kita pure heart! Namun, roh
yang "setia mengampuni" (forgiving spirit) itu mengalir 24 jam sehari
berkat pengupacaraan Altar Melkisedek yang "Sudah Selesai"
diupacarakan. Pembaptis Api mulai mencurahkan "lidah api"
(Melchizedek Blessing) kepada seluruh bangsa bermula pada Hari Pentakosta, dan
hingga sekarang masih terus mengalir ke bumi.
Kita tahu bahwa ibadah roh hanya dimungkinkan oleh
hadirat Immanuel Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memungkinkan realitas Immanuel
karena Anak Manusia, Yesus, hanya berjalan bersama manusia selama 33 tahun di
bumi. Walaupun demikian, Roh-Nya adalah Immanuel bersama dengan manusia hingga
saat ini! Roh Bapa, Roh Yesus, dan Roh Kudus adalah "satu."
Jika berkat pengupacaraan Altar Melkisedek di bumi
mengalir tanpa henti hingga kini, bagaimanakah orang percaya dapat memasuki
hadirat-Nya? Apakah "Kunci" untuk memasuki hadirat-Nya? Matius 5:8
menyingkapkan bahwa pure heart (suci hatinya) adalah prasyarat untuk memasuki
Hadirat Roh atau dalam frasa nubuat "melihat Wajah Allah"!
Kita akan belajar dari pemberitaan dan kesaksian
para nabi mengenai pengertian dan pengetahuan untuk bergaul karib dengan Roh
Tujuh Lapis Karunia. Raja Daud bernyanyi dalam Mazmur 25:14: "TUHAN
bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya
diberitahukan-Nya kepada mereka."
Nabi Yusuf tidak mengalami kesulitan
untuk beribadah kepada Roh Tuhan di mana pun ia berada. Meskipun ia dijual oleh
kakak-kakaknya kepada pedagang Ishmaelites yang kemudian menjualnya kepada
Potifar di Mesir, dan seterusnya dianiaya oleh istri Potifar hingga
dipenjarakan di dalam penjara bawah tanah, Yusuf ternyata dapat mengecap
"roh doa," yaitu dream dreams, visions, dan Voice.
Dicatat dalam
kisah Yusuf dalam Kitab Kejadian bahwa "TUHAN menyertai Yusuf..."
sebanyak tiga kali. Justeru, keberhasilan Yusuf adalah "penyertaan Tuhan". Hal itu berarti TUHAN bergaul karib dengan Yusuf (Kejadian
39:2, 3, 21, 23; Kisah Para Rasul 7:9). Yusuf diberikan "kunci" untuk
memasuki hadirat Roh Kudus. "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut
akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka" (Mazmur
25:14); Yesus adalah Immanuel bagi semua orang percaya!
Nabi Daniel tetap dapat beribadah kepada Roh Tuhan
meskipun agama Ibrani dilarang untuk dipraktikkan di dalam Kekaisaran Babel.
Nabi Daniel tidak mengalami masalah untuk menyembah dan beribadah kepada Roh
Tuhan, walaupun "agamanya" dilarang (outlawed) di Babel. Nabi Daniel
tidak mengalami masalah untuk memiliki the Spirit of Prayer karena ia adalah
penerima anugerah Kasih Karunia. Dan sudah pasti, Allah telah menganugerahinya
"Kunci" Roh Tuhan, yaitu Karunia "Takut akan TUHAN."
Kelak, dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan
karya Roh Kudus yang menerangkan prasyarat memasuki Hadirat atau melihat Wajah
Allah, yaitu pure heart. Roh yang suci tidak dimungkinkan oleh usaha-usaha
intelektual atau daging manusia, melainkan oleh anugerah karya Tujuh Lapis Roh
yang mengalir tanpa henti akibat kuasa Ilahi dalam Pengupacaraan Altar
Melkisedek di bumi. Yesus menubuatkan bahwa semua dosa "Sudah
Selesai." Masalahnya hanyalah bagaimana tap into atau mengakses kuasa
pengampunan Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Dapatkan Roh Hikmat dan
Roh Pengertian, serta bersukacitalah dalam Roh Tuhan! Peganglah
"Kunci," agar Roh Tuhan bergaul karib dengan roh seseorang (Mazmur
25:14; Yesaya 33:6; Ayub 28:28; Amsal 9:10).
Bagaimanakah cara memegang "kunci" itu,
karena kunci itu sebenarnya senantiasa melekat pada Roh Tuhan? Memohonlah
karunia "takut akan TUHAN" setiap kali kita berdoa! Karunia itu
datang dan pergi mengikuti Pribadi Roh Kudus. Percaya kepada "nama"
TUHAN (nama Bapa dalam Keluaran 34:5-7 dan juga nama Kristus) yang
dianugerahkan kepada kita haruslah telah sembuh dari segala penyakit
ketidakpercayaan, seperti ragu-ragu, berkecil hati, serta sembuh dari dosa
akibat menyebut "nama" TUHAN secara salah.
Dalam ibadah roh Raja Daud yang intim dengan Roh
Tuhan—sebagaimana yang disampaikan dalam lirik-lirik Mazmur—kita melihat bahwa
meskipun Daud melakukan banyak pelanggaran hukum/ajaran agama, seperti memasuki
Tabernakel yang jelas hanya Imam Besar saja yang dibenarkan masuk; bahkan ia
juga mempraktikkan poligami dengan beristrikan 8 istri dan banyak gundik; ia
juga pernah berbuat dosa besar dengan merencanakan pembunuhan terhadap
prajuritnya, Urias, agar dapat mengambil istrinya, Batsyeba, sebagai istri raja.
Jika demikian, mengapa Allah tidak menolak Daud
dari takhta kerajaan sebagaimana Allah menolak Raja Saul? Jawabannya sederhana:
Allah telah menganugerahkan karunia "Takut akan TUHAN" kepada Daud
sejak kecil, sehingga Daud dinubuatkan oleh Allah sebagai orang "yang
berkenan di hati-Ku." Dalam bahasa yang mudah, Allah menganugerahkan
"kunci"—yaitu karunia "Takut akan TUHAN"—kepada Daud agar
Allah bergaul karib dengannya. Anugerah karunia fear of the Lord adalah "Kunci"
untuk memasuki hadirat Roh Tujuh Lapis Karunia. Pribadi Roh Kudus itu juga
disebut sebagai "Hikmat," sebagaimana dalam pemberitaan para nabi dan
para bapa leluhur (patriarchs).
Sebagai penyembah Roh Tuhan, seorang percaya akan
mengikuti Jalan Roh, Pintu Roh, dan Kunci Roh. Semua penyembah Roh Tuhan, yaitu
nabi-nabi baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tunduk pada tiga
(3) elemen utama dalam penyembahan Roh atau ibadah roh: Jalan, Pintu, dan
Kunci! Kita dapat melihat bagaimana penyembah Roh meneruskan ibadahnya atau
Spirit of Prayer dalam kegelapan:
"Who among you fears the Lord and obeys the voice of his servant, who walks in darkness and has no light, yet trusts in the name of the Lord and relies upon his God?" (New Revised Standard Version Catholic Edition, Isaiah 50:10)
Rahasia Perutusan "Nama" Tuhan menurut
Bahasa "Roh Nubuat"
Roh nubuat ialah "melihat" semua
"nama" Tuhan yang dianugerahkan kepada umat manusia, baik Immutable
names of God maupun Covenanted names of God. Keduanya mengerjakan Firman Allah
yang sama. Oleh sebab itu, Roh nubuat adalah Roh Tujuh Karunia Tuhan, dan semua
"nama" Tuhan berkarya menurut Ordo yang satu, yaitu Ordo Melkisedek.
Jika Nabi Daniel diambil sebagai contoh orang
percaya yang berjalan dalam kegelapan, maka "nama" TUHAN yang diseru
oleh Nabi Daniel adalah Mercy (Belas Kasihan). Daud adalah contoh orang percaya
yang termasuk dalam Perjanjian Tanah Perjanjian, maka ia menyeru kedua-dua
aliran "nama" Roh Tuhan:
Covenanted names of God (Perjanjian Abraham,
Perjanjian Sinai, Perjanjian Daud, Perjanjian Domba Allah [Paskah Yesus]).
Immutable names of God (yang tidak terikat pada
Perjanjian).
Bapa leluhur Ayub (Patriarch Job) tidak diketahui
secara jelas Perjanjian mana yang dimasukinya, namun Ayub menganut ibadah
"jalan altar." Sementara itu, Nabi Daniel berada dalam masa hukuman
di Babel karena ia diangkut dalam pembuangan ke Babel. Mereka (sepuluh suku
Israel di utara dan Yehuda) telah meninggalkan Perjanjian, sehingga berada di
luar Perjanjian. Pesan para nabi adalah mengenai "Hikmat" yang
berkarya sebagai Hakim atas semua bangsa, yang menyatakan karya kebaikan TUHAN pada
Masa Judgment. Mengerti "nama" TUHAN berarti mengenal Roh Tuhan;
mengenal Allah adalah hasil karya "roh pengertian."
Dalam roh nubuat, "nama" TUHAN terbagi
menjadi tiga aliran perutusan Surgawi, yaitu:
"Nama" TUHAN yang terikat pada ikatan
Perjanjian (Covenanted names of God), dan dijamin oleh Upacara Paskah Tuhan.
Contoh: "Aku adalah Aku" (YHVH) sebagai Raja Israel di Tanah
Perjanjian; Yesus Kristus, Raja Kebenaran, Domba Allah; Raja Damai.
"Nama" TUHAN dalam ikatan Perjanjian bertujuan untuk karya Roh Tuhan
dalam "menabur dan menuai" (lihat Kejadian 8:22).
"Nama TUHAN" yang Immutable (tidak
berubah), karena dari sifat-sifat Ilahi terpancarlah karya-karya Roh Tuhan yang
senantiasa berkarya bagi seluruh generasi umat manusia di bumi, dan juga
berkarya untuk menggenapi semua perjanjian. Nama Ilahi yang immutable berkarya
memberkati manusia dan mengalir melintasi semua perjanjian yang diadakan Allah
di bumi. Nabi Musa menerima pemberitaan "nama" TUHAN yang immutable
dalam Keluaran 34:5-7. Orang yang dianugerahi karunia "takut akan TUHAN"
diajar oleh Roh Kudus sebagai permulaan Hikmat. "Nama TUHAN" yang
Immutable (melintasi semua perjanjian) menurut roh pengertian adalah seperti:
Panjang Sabar (slow to anger), Penyayang (abounding in love), Pengasih (rich in
mercy), Setia, Adil, Benar, Tidak Bercacat Cela (flawless), Mahakuasa, Kudus,
Pencipta Langit dan Bumi. Semua nama TUHAN yang Immutable itu merujuk kepada
the ancient gates. Nama TUHAN yang diutus berasal dari Sifat-sifat Ilahi yang
Immutable, mengalir dari sifat-sifat Roh Ilahi.
Roh pengertian mengajar kita bahwa dari
"nama" TUHAN, kita menerima pancaran anugerah-anugerah kehidupan,
baik ketika kita masih dibalut bejana tanah liat maupun setelah kematian. Oleh
sebab itu, "percaya" dan "menuruti nama" TUHAN (becoming
followers) adalah prasyarat untuk menerima anugerah-anugerah kehidupan. Dosa
secara sederhana adalah "tidak percaya" kepada "nama"
TUHAN:
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya
diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya
dalam nama-Nya;" (Yohanes 1:12).
Meskipun setiap nama TUHAN dalam Alkitab
menerangkan "misi" tertentu mengikut suatu Covenant, namun semuanya
adalah Roh Ilahi yang sama dan satu. Setiap "nama Raja Ilahi" terikat
pada Perjanjian tertentu yang saling berkaitan dan bersambung. Semuanya berbagi
"Firman Allah" yang seratus persen sama, walaupun setiap
"nama" Ilahi diutus dengan misi tertentu: "...dan nama-Nya
ialah: 'Firman Allah'." (Wahyu 19:13; Lukas 24:44).
Pembagian "Firman
Allah" yang sama bagi semua "nama" TUHAN yang berasal dari Ordo
Melkisedek menjelaskan apa itu "roh nubuat." Maka, menerima Kehidupan
kekal dimulai dengan anugerah "percaya" kepada "nama"
TUHAN. Apakah Domba Allah dan Yesus Kristus, Raja Damai, adalah
"nama" TUHAN?
Wahyu 19:13 bersaksi: "...dan nama-Nya ialah:
'Firman Allah'." Namun, terlepas dari apa pun rumusan intelektual,
"percaya" adalah anugerah operasi karya Roh Tujuh Lapis Karunia
(Firman).
Covenanted names of God dari perutusan Surga
dimulai dengan Upacara Imam Melkisedek, baik di bumi maupun di Surga. Hal ini
menjawab mengapa Abram perlu bertemu Imam Allah, Melkisedek, di pegunungan
Seir—karena "nama TUHAN" yang diutus dari Surga hanya beroperasi
apabila Melkisedek mengupacarakannya. "Nama" TUHAN bagi Abram hanya
akan beroperasi kepada pewaris janji apabila Upacara Melkisedek "sudah
selesai." Sebab itulah Abram dicatat bertemu dengan Raja Kebenaran Ordo
Melkisedek dari Salem! Imam Agung Ordo Melkisedek perlu
"mengupacarakan" terlebih dahulu setiap kali Surga membuat perutusan
"nama" TUHAN, supaya "berkat" nama TUHAN yang dinyatakan
dapat mengalirkan kuasa.
Yesus sebagai Imam Agung Melkisedek perlu
mengupacarakan Altar terlebih dahulu di bumi—yaitu kematian-Nya sebagai Domba
Allah di kayu salib—barulah operasi "menghapus dosa-dosa dunia"
dimulai (beroperasi/mengalirkan kuasa) ketika upacara Melkisedek "Sudah
Selesai."
Demikian juga "nama" Sang Hakim, Tujuh
Tanduk, Tujuh Mata, dan Tujuh Roh. Imam Agung Melkisedek perlu mengupacarakan
suatu upacara Surgawi selama setengah jam dalam keadaan sunyi sepi, barulah
"nama" Hakim Yesus mulai beroperasi mengalir ke bumi! Sebab itu,
Kitab Wahyu menubuatkan bahwa setelah "upacara setengah jam" di Surga
selesai, nyatalah agenda Sang Hakim di bumi yang dinubuatkan sebagai
berdentumnya "guruh" ("guruh" adalah suara Sang Hakim,
sebagaimana suara yang menyertai angin puting beliung dalam Ayub 38:1 dan Nahum
1:3), halilintar, dan gempa bumi.
Upacara Melkisedek di Surga
Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang
ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di
hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi
berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan
banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang
kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa
orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu,
mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah
bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi. (Wahyu 8:1-5).
Upacara Melkisedek adalah salah satu rahasia
prasyarat dalam perutusan nama TUHAN, dan merupakan syarat untuk memulai
operasi "nama" TUHAN atas umat manusia di bumi! Wahyu 8:5b adalah
penggenapan nubuat Matius 24:27: "For as lightning that comes from the
east is visible even in the west, so will be the coming of the Son of
Man." Nubuat "seperti halilintar" akan mulai terlihat
penggenapannya dalam penglihatan roh atau mimpi-mimpi (dream dreams) pada Wahyu
8:5b. Hal itu mulai memperlihatkan manifestasi Penghakiman dan Penghukuman di
bumi hanya setelah Upacara Melkisedek—yaitu ketika kuasa Bapa sebagai Hakim
diserahkan kepada Anak untuk Penghakiman dan Penghukuman dalam Wahyu 8:1-4.
Nabi Daniel yang diangkut dalam pembuangan
(hukuman) ke Babel memiliki hikmat untuk berdoa secara tepat dan benar. Daniel
tidak menyeru "nama" Raja Yahweh, karena YHVH secara jelas telah
berfirman bahwa Ia berhenti berkarya di Tanah Suci sebagai Raja bagi Israel,
sebagaimana dalam nubuat 2 Raja-raja 23:27.
Daniel menyeru "nama" TUHAN yang
Immutable, yaitu Mercy (Belas Kasihan). Mercy adalah Nama TUHAN yang Immutable
(tidak berubah) dan tidak terikat pada perjanjian. Itulah yang dimaksudkan oleh
Nabi Yesaya mengenai name of the Lord dalam Yesaya 50:10. Pengertian dan Hikmat
adalah anugerah Allah yang membantu urusan doa yang berkenan kepada-Nya.
"Nama" atau "karya" TUHAN yang
diseru oleh Nabi Daniel adalah Mercy. Nama itu Immutable sebab Mercy sebenarnya
adalah sifat Roh Ilahi. Dari sifat-sifat Allah terpancarlah nama TUHAN yang
evergreen (kekal). "Nama TUHAN" yang Immutable (melintasi semua
perjanjian) menurut roh pengertian adalah seperti: Panjang Sabar, Penyayang,
Pengasih, Setia, Adil, Benar, Tidak Bercacat Cela (Flawless), Mahakuasa, Kudus,
Pencipta Langit dan Bumi. Semua nama TUHAN yang Immutable merujuk kepada the
ancient gates. Nama TUHAN yang diutus berasal (origin) dari Sifat-sifat Ilahi
yang Immutable.
9 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan
terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad (ancient gates), supaya
masuk Raja Kemuliaan! 10 "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?"
"TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mazmur 24:9-10)
Alkitab
Terjemahan Baru. Yayasan
Lembaga SABDA, sabda.org. Diakses 28
July 2015.
Simin,
Joannes. "The Interpolated Chronologies in the Old Covenant based
on Prophecies,” 31 Oct. 2014, Intellectual Property Official Notification,
MyIPO, Malaysia. Manuskrip tidak diterbitkan.
The Bible. New Revised
Standard Version Catholic Edition, National Council of Churches, 1989. Bible
Gateway, biblegateway.com. Accessed 28 July 2015.