"Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia,
harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Alkitab Terjemahan Baru, Yohanes 4:24). Sang Pencipta
bekerja siang dan malam tanpa henti untuk memperdamaikan antara diri-Nya yang
Mahasuci dengan umat manusia yang berdosa (Mazmur 68:19). Mayoritas orang
percaya bergantung pada tiga kategori catatan firman Tuhan yang tertulis dan
diwahyukan kepada para nabi. Ketiga kategori tertulis itu merupakan Firman-Nya
yang ditulis oleh nabi-nabi Perjanjian Lama.
Yesus Kristus sendiri pernah bersabda: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika
Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada
tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab
Mazmur." (Lukas 24:44). Artinya, Yesus telah mengakui
(mengiktiraf) tiga kategori catatan firman yang ditulis oleh para nabi: seluruh
Taurat, seluruh kitab-kitab para nabi, dan kitab Mazmur. Ketiga sumber Firman
tertulis itu memberitakan Injil Allah yang akan datang ke dunia untuk
mengadakan Perjanjian Baru, sekaligus menawarkan Kasih Karunia kepada semua
bangsa-bangsa melalui penuaian gereja. 'Nama' Yesus Kristus adalah Firman Allah
(Wahyu 19:13b; Yohanes 1:1). Justeru, karya Kristus dapat kita baca berdasarkan tiga sumber Firman yang bertulis berikut:
(1) Seluruh Hukum Suci Tuhan dalam
Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama (All the Holy Divine Laws);
(2) Seluruh nubuatan atau "pesan" Tuhan, baik
dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru (Written Prophecies or 'Spoken' words); serta
(3) Seluruh lirik puitis dari hati Tuhan (Divine Lyrics), baik
dalam Kitab Mazmur maupun dalam kitab-kitab para nabi.
Kedatangan Kristus yang pertama ketika Ia menjadi
manusia (terbalut daging)
berfokus pada penggenapan seluruh Taurat, kitab-kitab para nabi, dan juga Mazmur (Lukas24:44).
Kematian-Nya di Kayu Salib Suci merupakan kulminasi dari karya penganugerahan berkat Pendamaian, Penebusan, dan Keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Sebelum era ini, dalam
Perjanjian Lama, ketiga berkat tersebut sering kali terbatal; bahkan Tuhan YHVH
tidak berkenan turun karena pemimpin upacara (Imam Besar) atau gembala serta
persembahan korban sering kali gagal menuruti Firman Allah, sehingga berkat
yang dipohonkan tidak terwujud. Seluruh upacara darah binatang dalam Perjanjian
Lama diizinkan oleh Bapa Yahweh sekadar sebagai bayangan bagi Altar Melkisedek
yang sejati, yaitu Kayu Salib Yesus yang dilayani oleh Tuhan Tritunggal
sendiri, di mana korban-Nya adalah Domba Paskah Allah, yaitu Sang Anak Manusia.
Sederhananya, hal ini terlihat sebagai transisi
dari upacara-upacara yang dilayankan oleh manusia menurut ritus YHVH menuju
penyempurnaan Upacara Altar Melkisedek yang dilayani di bumi oleh Pribadi Tuhan
Yesus Kristus sendiri. Tuhan Yesus sendiri yang melayani kematian suci-Nya guna
menyempurnakan seluruh upacara Perjanjian Lama yang hanya bersifat tipologi
atau bayangan Kristus!
Kedatangan Kristus yang kedua adalah misi ['nama']
sebagai Hakim yang Mahaadil; hal itu haruslah juga dilihat menggenapi atau
tidak menyimpang dari Firman-Nya dalam (Lukas 24:44). Semua nubuat ataupun
wahyu pribadi yang dikumandangkan oleh para santa dan santo Gereja hendaklah
mengiyakan dasar pekerjaan Kristus yang diketahui oleh umat Tuhan, yaitu
sebagaimana kata-kata-Nya dalam (Lukas 24:44). Allah Bapa, Allah Roh Kudus, dan
Kristus 'berkarya' menurut dasar yang sama, karena Mereka adalah Tuhan yang Satu
Roh.
Kitab Mazmur adalah nyanyian yang mengandung Firman [Lyrics] yang
bercampur dengan 'lirik-lirik' karangan para nabi. Sebagian besar lagu dalam
Mazmur dikarang oleh Raja Daud, serta kompilasi lirik dan lagu dari para nabi
YHVH. Salah satu dari asas pekerjaan Tuhan Yesus yang harus disempurnakan
berasal dari "Lirik-Lirik Tuhan Yahweh." Raja Daud dikatakan sangat
dekat di hati Tuhan dan banyak mendengar lirik ucapan hati Tuhan [...the
Secrets of the Covenants of God... (Mazmur 25:14)].
Lirik-lirik puisi Tuhan dalam Kitab Mazmur, ketika
tersingkap, akan menyingkapkan rahasia-rahasia karya atau misi keselamatan
Kristus. Kitab Mazmur menyimpan informasi rohani mengenai Perjanjian Damai,
pengadilan, serta penghukuman atas seluruh bangsa di bumi. Perjanjian Damai
tersebut diungkapkan melalui frasa lirik "siang dan malam yang tanpa
henti". Ucapan Kristus, "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu,"
akan berakhir ketika lirik "siang dan malam"—yang merupakan puitisasi
hati Tuhan dalam Kejadian 8:22—berubah menjadi "tanpa siang dan tanpa
malam", atau ketika makna liriknya berbalik seperti dalam Zakharia 14:6-7,
Matius 24:29, dan Wahyu 6:12-15.
Lirik-lirik puisi dalam Matius 24:29 sebenarnya
merupakan suatu "pemberitaan" yang berkaitan dengan maksud lirik
Mazmur 19:1 mengenai penghakiman (judgment) yang akan dilaksanakan oleh Kristus
sebagai Hakim pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Hal tersebut merupakan
"pemberitaan" tanda di langit yang sekaligus berfungsi sebagai titik
peralihan karya Tuhan, yaitu pengakhiran masa pendamaian serta permulaan
pengadilan dan penghukuman.
Pengumuman penghakiman (judgment) dalam Matius 24:29
tergolong dalam kategori Firman ketiga (3), yakni berdasarkan lirik-lirik
puitis dari hati Tuhan yang disampaikan oleh Kristus saat Ia berkhotbah di
Bukit Zaitun. Peristiwa tersebut disertai tanda-tanda di bumi, di langit, dan
di surga secara serentak!
"The heavens declare the glory of God; the
skies proclaim the work of his hands." (New International Version, Psalm
19:1)
Kunci Penafsiran:
Frasa "...Langit (the skies)
memberitakan..." merupakan bahasa Roh Tuhan yang puitis dan tidak merujuk
secara harfiah pada langit fisik yang tampak oleh mata telanjang di atas kepala
kita. Frasa ini melainkan merujuk kepada "alam roh" yang kita
saksikan saat kita berdoa dan menerima penglihatan-penglihatan surgawi. Roh
katalah yang melihat melalui mata rohani, bukan mata fisik milik tubuh jiwa.
Kata "langit" (heavens atau skies) di
dalam Alkitab memiliki tiga pengertian yang berbeda, bergantung pada konteks
penyampaian pesan roh tersebut. Ketika menemukan kata "langit",
umumnya kata itu berkaitan dengan pemandangan seperti matahari, bulan,
bintang-bintang, cuaca (panas atau dingin), musim, serta siang atau malam.
Meskipun demikian, tanpa anugerah roh hikmat dan roh pengertian, kita tidak
akan menyadari adanya tiga makna yang berbeda di balik kata "langit".
Oleh karena itu, kata "langit" (heavens atau skies) dalam Firman Suci
Tuhan di Alkitab dapat merujuk pada salah satu dari daftar pengertian di bawah
ini:
 |
| Langit harfiah cuma memberitahukan kita tentang cuaca. Ia tidaklah memberitakan 'karya atau Nama Tuhan. |
Langit fisik (langit
sebenarnya): merujuk pada beberapa lapisan atmosfer langit dan angkasa luar, di
mana National Aeronautics and Space Administration (NASA) menjadi salah satu
lembaga yang memiliki otoritas ilmiah dalam menafsirkan serta merumuskan realitasnya.
Langit penglihatan gabungan:
merujuk pada "alam langit" yang disaksikan seseorang, di mana
manifestasi alam roh tersebut menyertai atau memperkaya pemandangan langit
fisik yang sebenarnya. Contohnya adalah Bintang Betlehem yang hanya dilihat oleh
tiga orang majus dari Timur.
Langit profetik (bahasa Roh
Tuhan): merujuk pada pemandangan langit yang disaksikan dalam penglihatan (the
skies seen in vision) sesuai Yohanes 6:63. Pengertian ini hanya dapat dilihat
dan dipahami oleh orang percaya yang dianugerahi kesempatan untuk memasuki
kehadiran Roh Kudus serta dikaruniai karunia hikmat dan pengertian. "Langit" kategori
ketiga (poin 3) inilah yang dimaksudkan dalam Matius 24:29; Kejadian 8:22;
Zakharia 14:6-7; dan Wahyu 6:12-15. Dalam tulisan ini, kata "langit"
atau fenomena apa pun di "langit" (skies atau heavenly luminaries)
merujuk secara khusus pada pengertian kategori ketiga, yaitu "bahasa"
Roh Tuhan. "Langit" dalam kategori pengertian ini merujuk pada alam
roh (the spirit's realm).
Kedua kata, yaitu
"heavens" dan "skies", dalam Kitab Mazmur 19:1-4 dan Mazmur
50:3-6 merujuk pada bahasa Roh yang menggunakan lirik-lirik puitis untuk
"memberitakan" pekerjaan Tuhan melalui ungkapan pesan yang
disampaikan oleh "matahari", "bulan", dan
"bintang-bintang" (or simply the heavenly luminaries that pronounce
the work of the hand of God). Daud menyanyikan lirik-lirik tentang pemandangan
di langit yang bermakna bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang bergerak
menurut bahasa Roh. Langit itu "memberitakan pekerjaan tangan Tuhan atau
misi-Nya".
Lirik-lirik
tentang langit "memberitakan" misi Ilahi (nama Tuhan). Dengan kata
lain, selain melalui tipologi (typology) dalam pengajaran Hukum Taurat dan
nubuatan para nabi Tuhan, karya Tuhan juga diberitakan oleh lirik-lirik puitis
dari lubuk hati Tuhan, seperti lagu-lagu dalam Kitab Mazmur. Ringkasnya, lirik
lagu tentang Tuhan maupun Kitab Mazmur memberitakan karya atau pekerjaan Tuhan.
Contoh-contoh lirik Tuhan selain dari Kitab Mazmur adalah Kejadian 8:22,
Zakharia 14:6-7, dan Matius 24:29.
Matius 24:29 yang
dinubuatkan oleh Yesus Kristus di Bukit Zaitun berfungsi secara khusus untuk
"mengumumkan" misi (nama) penghakiman dan penghukuman oleh Sang
Hakim. Ayat 29 tersebut juga berfungsi sebagai "titik peralihan"
(point of sailing) bagi misi penghakiman yang dilaksanakan oleh Kristus saat Ia
kembali ke bumi. Ayat ini menjadi titik peralihan karya Roh Tuhan, yaitu dari
misi "Pendamaian" oleh Raja Damai menjadi "Penghukuman dan
Penghakiman" atas dunia oleh Sang Hakim.
Saving justice (keadilan yang menyelamatkan)
akan dianugerahkan kepada orang-orang percaya selama "satu waktu, dua
waktu, dan setengah waktu" (a time, times, and half a time). Saving
justice ini bermakna bahwa meskipun "gandum" dihakimi—bahkan mungkin
tubuh jasmani mereka menempuh berbagai penghukuman Ilahi—roh mereka (sang
"gandum") tetap dianugerahi keselamatan untuk mengecap kehidupan
kekal abadi.
Frasa "satu
waktu, dua waktu, dan setengah waktu", jika diterjemahkan ke dalam angka,
menjadi 7, 7 × 7, dan 7 × ½, yaitu 7 tahun, 49 tahun, dan 3,5 tahun yang
menurut pendapat penulis telah dimulai pada 8 Maret 2011. Rhyme tersebut
dihitung berdasarkan kalender bulan Ibrani, dan jika dikonversikan ke dalam
kalender matahari modern, jangka waktunya adalah sekitar 58,9033 tahun.
(Catatan: Tanggal 8 Maret 2011 M adalah perkiraan/prediksi penulis mengenai
permulaan "a time", dan perkiraan ini tidak berkaitan langsung dengan
otoritas mana pun dari institusi gereja mana pun. Jangan khawatir dengan
prediksi tanggal tersebut, sebab hakikatnya "murka" Tuhan telah
dimulai sejak di Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Yang Jahat, ketika
Adam dan Hawa baru saja melanggar hukum di Eden. Selain itu, Raja Daud
menyanyikan bahwa murka-Nya ditumpahkan "setiap hari", atau dalam
versi bahasa Inggris berbunyi "His wraths are daily expressed on
earth".)
"A time"
akan berlangsung selama 7 tahun (genap satu tahun Sabat) sebelum hari Kristus
Yesus turun ke bumi. Rasul Petrus, dalam catatan Kitab Kisah Para Rasul,
mengutip nubuatan Nabi Yoel bahwa lirik langit "matahari menjadi gelap dan
bulan menjadi merah darah" akan diberitakan "sebelum" hari Tuhan
itu datang (lihat Kisah Para Rasul 2:19-21; Matius 24:29-30). Oleh karena itu,
sepanjang tujuh tahun terakhir sebelum Kristus sebagai Hakim turun,
"sangkakala" (shofar)—yaitu Roh Kristus yang diwakili oleh Roh Kudus—akan
menyampaikan pesan "kedatangan Kristus sebagai Hakim yang Mahaadil"
kepada umat Perjanjian (Mazmur 81:3) di bumi, agar mereka tetap dapat menuruti
Jalan, Pintu, dan Kunci.
Dalam bahasa nubuatan Nabi Yesaya, hal itu berbunyi
"masuk" ke dalam "kamar/bahtera", sampai tiba saat
kedatangan Kristus sebagai Hakim (Yesaya 26:20-21). Demikian pula dua nafiri
perak (silver trumpets) dalam Bilangan 10:10 yang bernubuat secara tipologi
(typology) mengenai dua penghulu malaikat (archangels) yang akan mengingatkan
dan memanggil umat Perjanjian untuk terus menuruti Firman, supaya mereka
senantiasa diperdamaikan sepanjang periode tujuh tahun terakhir tersebut
(...trumpeting the last seven callings; embarking the "Ark" i.e.
"entering your own chamber").
Pada tiupan
sangkakala (kedua nafiri perak/dua malaikat) yang ketujuh (at the last
trumpet)—yaitu tepat pada tahun ketujuh bagi "a time"—maka
"rahasia" yang disampaikan Rasul Paulus akan digenapi (1 Korintus
15:51-54). Frasa "dalam sekejap mata" pada ayat 52 tidak dimaknai
secara harfiah sebagai benar-benar "sekejap mata", melainkan merujuk
pada rentang waktu 50 hari yang dihitung dari Perayaan Paskah (sesuai dengan
ajaran teofani/theophany) hingga penggenapan hari ke-50. Rentang waktu tersebut
juga merujuk pada fenomena rohani, yaitu "transformasi" rohani
sebagaimana yang telah dialami oleh Nabi Musa, Nabi Elia, dan Yesus Kristus.
Transformasi tersebut menjelaskan bahwa mereka harus melewati 40 hari dan 40
malam sebagai proses transformasi roh. Orang-orang pilihan (the elect) yang
masih hidup akan mengalami transformasi dalam jangka waktu 40 hari 40 malam,
dan periode ini tercakup di dalam rentang waktu 50 hari tersebut. Adapun 10
hari pertama mendahului periode 40 hari tersebut, yaitu masa "kebangkitan"
bagi mereka yang telah tertidur (meninggal).
Dalam Perjanjian Lama, umat Israel dipanggil dengan
peniupan dua nafiri perak sebagai isyarat bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan (Bilangan
10). Shofar dibunyikan
untuk mengumumkan kedatangan (arrival) tahun baru, yaitu pada Hari Bulan Baru
(hari pertama di bulan pertama, Abib/Aviv) setiap tahun (Mazmur
81:3-4a). Meniup shofar
pada hari kedatangan Bulan Baru merupakan dekrit Tuhan untuk selama-lamanya
(dekrit berarti keputusan Ilahi yang tidak dapat ditarik kembali). Mengapa hal
itu menjadi dekrit?
Meskipun Yesus sendiri
telah memberitakan kedatangan-Nya yang kedua di Bukit Zaitun—sesuai dengan
konsistensi Firman Tuhan menurut nubuatan Yesaya
46:10—dan terus dikumandangkan pasca-Pentakosta melalui surat-surat yang hidup
dari Tuhan, bahkan doksologi Katolik pun senantiasa mengikrarkan pengakuan
dalam setiap Misa Kudus bahwa "Kristus akan kembali", namun tiupan shofar sepanjang periode 7
tahun terakhir pada hakikatnya menggenapi tipologi kiamat pertama.
Nuh telah memasuki bahtera (ark) 7 hari sebelum murka
Tuhan ditumpahkan ke bumi. Nuh-lah yang mendahului masuk ke dalam
"kamar" (bahtera) tersebut, lalu semua pasangan spesies binatang yang
terpilih datang kepada Nuh, hingga kemudian pintu bahtera itu ditutup oleh
"tangan" Tuhan. Bahtera tersebut merupakan tipologi Perjanjian Tuhan
dengan orang-orang pilihan-Nya (the elect). Membangun bahtera adalah Perjanjian
antara Tuhan dan Nuh.
Oleh karena itu, penyerahan diri ke dalam Perjanjian akan
tetap sah selama "Pintu" Perjanjian Pendamaian tersebut belum ditutup
oleh tangan (nama) Tuhan. Orang-orang terpilih yang memasuki Perjanjian
Pendamaian (bahtera) oleh Raja Damai akan terus-menerus "masuk kamar"
selama pintu pendamaian belum ditutup. Bahtera adalah tipologi Perjanjian dan
memiliki bilik-bilik atau kamar (chambers/compartments). Setiap orang yang memasuki
Perjanjian perlu memasuki kamar atau kabinnya sendiri; hal ini bermakna bahwa
setiap umat perjanjian harus mahir dalam roh doa (the Spirit of prayer).
Nabi Yesaya bernubuat
mengenai persiapan menghadapi Penghakiman Tuhan, yaitu memasuki kamar
masing-masing: "20 Mari
bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutup pintu di belakangmu; bersembunyilah
sebentar sampai amarah itu berlalu. 21 Sebab sesungguhnya, TUHAN keluar dari
tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya; bumi akan
menyingkapkan darah yang tertumpah di atasnya dan tidak lagi menutupi
orang-orang yang terbunuh di sana" (Alkitab Terjemahan Baru, Yesaya
26:20-21).
Siapakah yang akan menutup
pintu Perjanjian Pendamaian? Firman Allah menyatakan bahwa yang menutup Pintu
adalah tangan Tuhan. Tangan Tuhan-lah yang akan menutup pintu tersebut. Tangan
menggambarkan buatan tangan (handiwork)
atau karya Tuhan, di mana karya tersebut juga diungkapkan sebagai
"nama" Tuhan. Jadi, nama Tuhan-lah yang akan menutup Pintu. Dalam
Perjanjian Pendamaian antara Tuhan dan manusia di bumi oleh Raja Damai, urusan
menutup pintu pendamaian adalah wewenang tangan Tuhan.
Yesus Kristus (Raja
Damai) berkata, "Akulah
Pintu." Maka, yang membuka Pintu Pendamaian adalah Yesus Kristus.
Penghakiman dan Penghukuman akan dimulai penyempurnaannya di bumi oleh tangan
Tuhan Sang Hakim. Nama Tuhan sebagai Hakim adalah "tangan" yang
menutup Pintu Pendamaian. Raja Damai membuka Pintu Pendamaian, tetapi Sang
Hakim yang akan menutup Pintu Pendamaian tersebut. Itu bukanlah berarti orang percaya yang memiliki karunia takut akan Tuhan tidak dapat memasuki hadirat Hakim, melainkan gereja pada masa kesusuhan besar tidaklah diberikan kuasa untuk menuai jiwa-jiwa. Para malaikat yang menggantikan gereja menjadi the harvesters.
Bilakah pintu Perjanjian
Pendamaian akan ditutup? Atau bilakah Perjanjian Baru oleh Raja Damai (Prince of Peace) akan ditutup
pintunya? Kita sebenarnya akan mengalami kesulitan besar untuk memprediksi
tanggal kedatangan Sang Hakim (kedatangan Kristus yang kedua kali) jika kita
kekurangan hikmat dan pengertian. Namun, kita memiliki panduan rohani secara
umum untuk membaca tanda-tanda (signs) yang disingkapkan oleh Roh Kudus. Saat
kedatangan Sang Hakim memiliki tanda di surga, tanda di langit, dan tanda di
bumi yang terjadi secara serentak. Ketika tanda-tanda itu terlihat dinyatakan
secara simultan di ketiga alam roh (yaitu surga, langit, dan alam roh di
bumi)—yang disaksikan dalam penglihatan rohani (spiritual visions)—maka besar kemungkinan Sang Hakim
sudah ada di bumi!
Mengapa "tangan" Tuhan yang menutup pintu
bahtera tersebut? Bahtera (Perjanjian) yang dibangun menurut kehendak Firman
sudah sepantasnya hanya ditutup oleh tangan Tuhan sendiri. Jalan untuk menerima
"anugerah Pendamaian" yang disempurnakan oleh salib Kristus atau Raja
Damai hanya layak ditutup oleh tangan (nama) Tuhan saja. Nama Tuhan yang
menutup Perjanjian Pendamaian adalah "Hakim". Raja Damai yang telah
membuka pintu Pendamaian, Yeshua, berkata, "Akulah pintu..." dan Ia menyatakan, "Damai sejahtera-Ku berikan
kepadamu." Pada ketika itu, pintu Tabernakel Perjanjian Lama di Yerusalem telah ditutup!
Pintu tabernakel Yerusalem telah ditutup dan 'Pintu' Perjanjian Perdamaian telah dibuka karena Yesus bersabda "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu" dan juga "Akulah Pintu...". Ini memang merupakan salam (greeting) dari Sang Raja Damai! Ketika kelak Pintu
Pendamaian ditutup, maka berakhirlah Perjanjian Pendamaian antara
Tuhan dan umat manusia di bumi. Salam yang berbunyi "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu" akan
berhenti berkumandang. Kondisi ketiadaan Perjanjian Pendamaian antara Tuhan dan
umat manusia ini dinubuatkan dalam ritme (rhyme) "a time, times and half a time", atau
singkatnya "Penghakiman" (Judgment). Penghakiman dan penghukuman tersebut
dilaksanakan oleh tujuh tanduk, tujuh mata, dan tujuh Roh bersama para malaikat
penuai atas penduduk di muka bumi. Gereja tidak menuai karena para malaikat yang menuai! Gereja diseru masuk 'kamar' selalu (Matius 5:6; Yesaya 26:20-21)!
Penabur mulai menabur pada
pagi hari, dan Ia akan kembali menuai pada petang hari. Oleh karena itu,
bilakah "hari Tuhan" itu tiba? Hal itu sangat mudah
"dibaca" karena terdapat banyak tanda dari petikan nubuatan para nabi
yang menunjuk pada waktu "petang" tersebut, seperti dalam Zakharia
14:5d-7 dan Kisah
Para Rasul 2:20. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa sebelum hari Tuhan tiba,
orang-orang percaya akan menyaksikan penglihatan rohani di alam langit, di mana
"matahari akan berubah
menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari
yang besar dan mulia itu."
Sebelum hari Tuhan tiba, bulan terlihat
menjadi darah; sedangkan pada hari Tuhan, bulan "tidak bercahaya".
Bulan sudah menjadi merah darah sejak Hari Pentakosta, karena Pentakosta pada
hakikatnya merupakan permulaan penghakiman dan penghukuman bagi "ibunda
umat Tuhan", yaitu Israel, serta penghakiman atas bangsa-bangsa. Namun,
penghakiman dan penghukuman tersebut tidak disempurnakan oleh Roh Kudus, sebab
Roh Kudus yang mulai dicurahkan pada Hari Pentakosta merupakan kesinambungan
misi era Pendamaian yang dimulai melalui kurban di bumi oleh kematian Kristus
di kayu salib. Kita menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim
untuk menyempurnakan penghakiman dan penghukuman atas seluruh bangsa di dunia.
Jadi, Hari Pentakosta pada hakikatnya merupakan titik awal bagi akhir zaman
bangsa-bangsa. Santo Yohanes menulis dalam suratnya bahwa pada masa awal gereja
pun telah muncul banyak antikristus, menandakan bahwa itu merupakan jam-jam
terakhir bagi zaman bangsa-bangsa.
Zaman bangsa-bangsa dimulai
di Menara Babel Kuno (Kejadian
11). Sebelum Menara Babel dihukum, penduduk dunia hanya terdiri dari satu
bangsa dengan satu bahasa tuturan. Namun setelah penghakiman dan penghukuman,
bangsa yang satu itu terpecah menjadi banyak bangsa dan beragam bahasa. Manusia
di dunia yang pernah bersatu menjadi satu bangsa dan satu bahasa tersebut
pernah ada, tetapi kemudian tidak ada lagi karena para malaikat turun
melaksanakan penghakiman atas Menara Babel lalu mengacaukan bahasa mereka,
sehingga mereka tidak lagi diperhambakan sebagai satu bangsa oleh penguasa
dunia. Kendati demikian, dunia yang menyatu seperti pada zaman Menara Babel
akan muncul kembali, yakni dalam era Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah
panji-panji Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).
Kedatangan Kristus sebagai
Hakim bertujuan untuk melanjutkan dan menyempurnakan penghakiman serta
penghukuman atas bangsa-bangsa di dunia yang tidak disempurnakan oleh misi Roh
Kudus. Roh Kudus melaksanakan misi kesinambungan Pendamaian oleh Raja Damai, tetapi
pada saat yang sama Ia juga berkarya sebagai Hakim di atas bumi yang menghakimi
"ibunda umat Tuhan". Penghakiman atas "ibunda umat Tuhan"
ini disingkapkan melalui frasa "bulan menjadi merah darah": kaum
Ibrani sebagai ibunda umat Tuhan (the moon / the motherhood of the people of God)
mengalami penganiayaan berdarah (bloody moon) oleh penguasa bangsa-bangsa, seperti
yang dilakukan Hitler pada Perang Dunia II.
Bangsa Israel senantiasa
menyandang sebutan simbolis sebagai "ibunda umat Tuhan" di bumi,
sebagaimana Hawa (Eve)
yang menjadi simbol keibuan bagi semua orang di bumi yang percaya kepada Allah
sebagai Pencipta langit dan bumi serta Bapa dari segala roh. Mereka yang
berhenti percaya kepada Allah sebagai Pencipta pada akhirnya memisahkan diri
dari warisan rohani keibuan Hawa. "Perempuan" yang terluka tersebut
tetap percaya kepada Allah sebagai Sang Pencipta Tertinggi. Sebaliknya, mereka
yang tidak lagi berdiri di sisi Hawa pada akhirnya diperhambakan oleh nama-nama
"binatang" (beasts)
di bumi yang menyebarkan kebohongan dari si Ular Tua.
Bangsa Israel telah
ditetapkan untuk menjadi pembawa identitas nubuat-keibuan-Hawa, yakni sang
"perempuan"—umat Allah di bumi! Dalam Wahyu
12, istilah "perempuan" merujuk pada keibuan umat Allah, yaitu bangsa
Israel, sedangkan orang-orang bukan Yahudi (gentiles) yang menerima Kabar Baik disebut sebagai
keturunannya (offspring).
Frasa "bulan tidak
bercahaya" merujuk pada rentang waktu ketika seluruh bangsa di dunia—baik
"ibunda umat Tuhan" (Israel) maupun bangsa-bangsa lain di dunia—akan
dihakimi dan dihukum oleh Sang Hakim yang telah turun ke bumi. Untuk mempertajam
pemahaman kita dalam membaca tanda-tanda saat turunnya Sang Hakim ke bumi,
penulis akan mengambil latar belakang (setting) kelahiran Raja Damai sebagai contoh dalam
mempelajari cara melihat dan membaca tanda-tanda saat Ia datang ke bumi:
1. Tanda di Surga: Para gembala domba (para nabi/ the prophets) telah
menyaksikan tanda di surga. Mereka melihat (melalui penglihatan rohani) surga
terbuka dan kemuliaan nama Tuhan yang diiringi oleh jutaan malaikat (awan-awan di surga / clouds of
heavens). Surga memiliki tujuh lapis, dan ketika ketujuh lapisan surga
tersebut terbuka, maka clouds
of heavens atau para malaikat di surga akan bergerak bagaikan gulungan
kitab. Jika kita merujuk pada Wahyu
6:14 yang berbunyi, "...maka
menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung...", ayat ini
merujuk pada "tanda di surga" berkenaan dengan saat turunnya Sang
Hakim ke bumi. Kata "langit" dalam petikan ayat tersebut sebenarnya
merujuk pada heavens.
Raja Daud menyanyikan bahwa "heavens
declare God's glory". Bagaimanakah kiranya kemuliaan (glory) Tuhan di surga itu? The clouds of heavens
mengiringi Sang Hakim dan tampak seperti awan-awan yang bergerak dalam formasi
"gulungan kitab". Semua itu disaksikan dalam penglihatan rohani (spiritual visions). Dalam
catatan pesan dua malaikat pada Kisah
Para Rasul 1:6-11, malaikat memberikan pesan bahwa sebagaimana Kristus
terangkat ke surga, demikian pula cara Ia akan turun kelak ke bumi sebagai
Hakim. Frasa "demikianlah caranya" merujuk pada pergerakan
makhluk-makhluk roh, yaitu the
clouds of heavens yang bergulung seperti gulungan kitab. Dalam Matius
24:30, dinubuatkan bahwa "...pada
waktu itu (saat Sang Hakim turun) akan tampak tanda Anak Manusia di langit
(heavens), dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak
Manusia itu datang di atas awan-awan di langit (heavens) dengan segala
kekuasaan dan kemuliaan-Nya."
(2) Tanda di Langit: Pada saat kelahiran
Raja Damai (Yesus Kristus), tanda di langit disaksikan oleh tiga orang Majus dari
Timur. Majus diserap dari
kata magus dalam bahasa
Inggris. Magus sebenarnya
adalah pelihat atau pengamat bintang yang terbiasa dengan penglihatan rohani (spiritual visions) yang
disaksikan di alam roh yang disebut "langit". Namun, mereka tidak
melihat alam roh surga, melainkan hanya menyaksikan alam roh di bawah surga,
yaitu "langit". Mereka melihat "Bintang Betlehem" atau
bintang Raja Kebenaran sebagaimana yang dinubuatkan oleh Balaam bin
Beor—seorang nabi di luar bangsa Israel—lebih dari ribuan tahun Sebelum Masehi
(sebelum Mesias/Raja Kebenaran dilahirkan). Dalam kasus kedatangan Kristus
kembali, tanda di langit adalah sebagaimana yang tercantum dalam Matius
24:29, yang menjelaskan bahwa "...matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak
bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa
langit akan goncang."
(3) Tanda di Bumi: Tanda di bumi pada kelahiran
Almasih (Mesias) yang dinanti-nantikan adalah kelahiran seorang bayi di kandang
domba/ternak di Betlehem. Santo Yohanes kemudian menuliskan bahwa tanda di bumi
tersebut dinamakan "Firman telah menjadi manusia". Wahyu
6:14 menubuatkan, "...dan
tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya." Sementara
itu, frasa "...maka
meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" merupakan
tanda di bumi yang dinubuatkan dalam Wahyu
8:5. Bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi adalah tanda-tanda kehadiran Sang
Hakim di bumi! "TUHAN
itu lambat untuk murka dan besar dalam kuasa; TUHAN tidak sekali-kali
membebaskan orang yang bersalah dari hukuman; jalan-Nya ialah dalam puting
beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya" (Nahum
1:3). Jalan murka Tuhan yang disaksikan dalam penglihatan rohani berkaitan
dengan perjalanan murka Tuhan, seperti angin puting beliung (the whirlwind) yang disertai
fenomena rohani berupa badai (storm) dan awan-awan (clouds). "Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu,
mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah
bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" (Wahyu
8:5). Oleh karena itu, kehadiran Sang Hakim di bumi berkaitan erat dengan
tanda-tanda yang dapat disaksikan melalui penglihatan rohani, yaitu guruh,
halilintar, dan gempa bumi.
Shofar dan kedua nafiri perak tersebut
memiliki pesan tipologi (typology)
mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali. Yohanes Pembaptis mengumumkan
Yesus sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" sekitar
tiga tahun sebelum Sang Anak Domba mati di atas kayu salib sebagai Juru Selamat
Penebus. Ketika waktu "petang" tiba, nama-Nya akan terus diumumkan
sebagai Anak Domba bertanduk tujuh, bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh—yakni misi
penghukuman di dunia sebagai Hakim yang Mahaadil.
Pernyataan nama merupakan
misi (mission) Tuhan.
Nama-Nya yang diumumkan sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa
dunia" juga dimaknai sebagai saving grace (kasih karunia yang menyelamatkan) bagi
orang-orang percaya. Sementara itu, nama-Nya atau misi-Nya yang dinubuatkan
sebagai "tujuh tanduk, tujuh mata, dan tujuh Roh" dimaknai sebagai
kesempurnaan-Nya dalam memberikan saving justice (keadilan yang menyelamatkan) kepada
orang-orang kudus yang masih hidup di "padang gurun" atau periode
penghukuman.
Dalam Matius
13, Anak Manusia adalah Sang Penabur, dan ladang adalah dunia. Dalam lirik
puitis dari lubuk hati Yahweh kepada Nuh dalam Kejadian
8:21-22, alegori karya Tuhan diungkapkan melalui baris lirik "menabur dan
menuai" yang akan berlangsung seolah-olah "siang dan malam tidak akan
berhenti". Misi ini dimulai dari perjanjian damai antara Tuhan dengan Nuh
beserta keturunannya yang ditandai oleh pelangi, tetapi akan berakhir pula
karena karya pendamaian tersebut tunduk pada batas daya tahan rohani bumi. Daya
tahan rohani bumi memiliki makna yang sama dengan kesabaran Tuhan yang panjang
sabar terhadap kejahatan dan dosa-dosa manusia di bumi.
Misi Tuhan untuk
memperdamaikan umat manusia melalui jalan "penebusan" tidak
terpisahkan dari urusan "pengantaraan". Pada era bapa-bapa leluhur (patriarchs)—yaitu sebelum
Hukum Taurat diturunkan di Gunung Sinai kepada Nabi Musa—urusan pengantaraan
diupacarakan oleh para kepala keluarga/bapa patriarch. Setelah era Hukum Taurat
diturunkan di Gunung Sinai, suku Imam (kaum Lewi) diangkat menjadi pengelola
kerajaan teokrasi Israel di Tanah Suci, dan penyelenggaraan kurban penebus dosa
atau pembenaran umat Israel dilakukan melalui pengantaraan keturunan ordo Imam
Harun.
Dalam Perjanjian Baru, semua bangsa di bumi telah dianugerahi jalan
penebusan dan pengampunan dosa melalui kuasa pengantaraan Imam Agung Surgawi
menurut Ordo Melkisedek, yaitu Anak Domba yang duduk di sebelah kanan Bapa.
Oleh karena itu, kekuatan perjanjian damai—baik dalam Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru—terletak pada kesempurnaan Pengantara-Nya. Yesus adalah
Pengantara yang maha sempurna. Kendati demikian, pengantaraan-Nya pasti akan
berakhir ketika "matahari menjadi gelap, bulan berhenti bercahaya, dan
bintang-bintang berjatuhan".
Pengantaraan Raja Damai
sebagai jaminan tuntas atas Perjanjian Damai dalam era Perjanjian Baru akan
berakhir dan diberitakan oleh "langit" sebagaimana tertulis dalam Matius
24:29. Maksud Matius
24:29 memiliki penafsiran yang senada dengan nubuatan-nubuatan yang telah
disampaikan oleh Nabi Zakharia dalam Zakharia
14:6-7 serta oleh Rasul Yohanes dalam Wahyu
6:12-13.
Kesempurnaan karya Tuhan dalam menganugerahkan kehidupan yang
kelimpahan kepada umat manusia adalah melalui jalan penebusan, yaitu salib
Kristus. Agenda pendamaian baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru
diumpamakan sebagai pekerjaan seorang petani yang pergi ke ladang dari
"pagi" hingga "petang". Oleh karena itu, penafsiran
mengenai perubahan waktu penetapan (at an appointed time) bagi misi Tuhan di bumi
bukanlah dengan merumuskan nubuatan menurut pengertian manusiawi—seperti
perhitungan matematis atau integrasi kalender buatan manusia—melainkan secara
mendasar menurut "permulaan dan pengakhiran karya Ilahi dalam perumpamaan
menabur dan menuai" (seedtime
and harvest).
Melihat
pengakhiran misi Ilahi dalam perumpamaan "menabur dan menuai" berarti
memahami bagaimana misi penghukuman akan datang ke bumi, serta memahami
bagaimana hal tersebut ditetapkan oleh Allah Bapa. Pemazmur menyanyikan Firman
Tuhan mengenai penghukuman: "Aku menetapkan waktu yang tepat" (Mazmur
75:2). "Anak Domba yang menghapus dosa dunia" akan mengakhiri
pelayanan Pengantaraan ketika langit memberitakan, "Matahari akan menjadi
gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya, dan bintang-bintang akan berjatuhan."
Dalam
bahasa Dusun (a native language of borneo) dikatakan bahwa langit seolah-olah menundait (berpantun/berpuitis)
melalui lirik-lirik perihal langit. Berakhirnya tugas Kristus sebagai
Pengantara bagi misi era Pendamaian di sebelah kanan Bapa menandakan bahwa misi
penghukuman oleh "Singa dari suku Yehuda"—yaitu Sang Anak Domba
bertanduk tujuh, bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh—pasti dimulai.
Nabi Zakharia
bernubuat bahwa ketika waktu petang menjelang (sunset), Kristus akan
dianugerahi kuasa oleh Bapa untuk turun ke bumi sebagai sosok bertanduk tujuh,
bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh. Gelar yang unik ini sebenarnya merupakan
pernyataan misi Surgawi atau ringkasnya penyataan "nama". Nabi
Zakharia bernubuat, "Pada waktu petang akan ada terang" (Zakharia
14:7). Dia yang tidak bertanduk dan mati di kayu salib adalah Kristus, yakni
Sang Anak Domba, Juru Selamat, dan Penebus menurut Pengantaraan Ordo Surgawi
Melkisedek sepanjang masa "siang dan malam tidak berhenti". Sementara
itu, Dia yang kembali dengan "mata tujuh, tanduk tujuh, dan tujuh Roh"
adalah Kristus yang diberi kuasa sebagai Hakim yang Mahaadil dengan kekuasaan
Raja segala raja yang sempurna.
Pasca-kiamat
air bah pada zaman Nuh, maklumat puitis dari lubuk hati Tuhan dalam Kejadian
8:22 menjadi titik awal agenda pendamaian antara Tuhan dan keturunan Nuh di
bumi. Permulaan karya Pendamaian ini diumpamakan sebagai waktu pagi bagi misi
pendamaian Tuhan di bumi bersama umat manusia yang terluka. Sebaliknya, karya
tangan Tuhan pada waktu petang menuju pada pengakhiran masa pendamaian, yang
diberitakan secara puitis melalui lirik-lirik "langit" mengenai
penghakiman (judgment) dalam Matius 24:29. Karya tangan Ilahi selama nama-Nya
disandang sebagai "Anak Domba yang menghapus dosa dunia"—atau
ungkapan hati YHVH—diuraikan sebagai "siang dan malam tidak akan
berhenti" (day and night will never cease) atau dimaknai sebagai
"menabur dan menuai" (seedtime and harvest).
Ketika
waktu petang tiba, lirik-lirik "langit" dalam Matius 24:29 akan
memberitakan pesannya kepada umat Perjanjian mengenai agenda Penghukuman.
Setelah genap tujuh tahun dari titik pengumuman tersebut, Kristus (Light) akan
turun dari surga sebagaimana yang diberitakan oleh dua malaikat berjubah putih
dalam Kisah Para Rasul 1:9-11. Dalam bahasa Inggris dinyatakan, "...When
evening comes, there will be Light (Jesus Christ)" (Zakharia 14:7). Jadi,
langit yang berbahasa puitis dalam Kejadian 8:22 memberitakan misi pendamaian
Tuhan kepada umat manusia yang berdosa, sedangkan pengakhiran misi pendamaian
Tuhan tersebut diumumkan oleh puisi "langit" dalam Matius 24:29.
Dengan demikian, waktu pagi bagi seedtime and harvest adalah Kejadian 8:22, dan
waktu petang bagi agenda pendamaian tersebut adalah Matius 24:29.
Dalam
Perjanjian Lama, jalan pendamaian adalah Jalan Penebusan melalui ritus kurban
penebusan, yang kemudian disempurnakan oleh Sang Anak Domba, Yesus, di atas
kayu salib. Kayu salib merupakan puncak atau waktu "tengah hari" bagi
karya pendamaian Tuhan. "Damai sejahtera Kuberikan kepadamu"—demikian
Firman Sang Raja Damai untuk memperkuat pesan pelangi sekaligus menyempurnakan
misi pendamaian yang telah diumumkan Tuhan pada zaman Nuh. Karya Yesus Kristus
sebagai Raja Damai yang menganugerahkan pendamaian (Yesaya 54:9-10; Yeremia
33:20-26) antara umat manusia yang terluka dan Roh Tuhan yang Mahasuci akan
berakhir ketika pemberitaan lirik-lirik langit dalam Kejadian 8:22 berbalik
maknanya menuju Matius 24:29 (serta Zakharia 14:6-7 dan Wahyu 6:12-13). Bapa
Segala Roh memberitakan agenda pendamaian dalam Kejadian 8:22, yang
diperdengarkan kepada Nabi Nuh melalui lirik-lirik dari lubuk hati-Nya.
Nuh
dan keturunannya adalah penerima pengumuman karya pendamaian Tuhan tersebut.
Pemahaman mengenai pengakhiran masa pendamaian dengan Tuhan akan terlihat makin
jelas ketika keterkaitan antara Kejadian 8:22 dan Zakharia 14:6-7 diteliti
berdasarkan firman YHVH dalam Yesaya 46:10 yang berbunyi, "Aku
memberitahukan dari mulanya apa yang kemudian akan terjadi dan dari zaman
purbakala apa yang belum terlaksana."
Setelah
air bah, Tuhan hendak memulai hal yang baru di bumi, yaitu berdamai dengan
keturunan Nuh agar kelak mereka dapat memenuhi muka bumi meskipun mereka adalah
keturunan yang berdosa atau "terluka". Misi Tuhan untuk
memperdamaikan umat manusia yang terluka dengan diri-Nya yang suci diumumkan
melalui puisi tentang "langit" dari lubuk hati YHVH (Kejadian 8:22).
Jadi, Kejadian 8:22 tidak ditulis tanpa makna. Daud bernyanyi dalam Mazmur
bahwa rencana-rencana hati Tuhan tetap ada untuk selama-lamanya. Melalui Yesaya
46:10, kita memahami rahasia lirik dari hati Tuhan dalam Kejadian 8:22.
Ayat
tersebut memberitahukan tentang "pengakhiran" yang telah dinyatakan
sejak purbakala atau sejak permulaan. Hal ini benar karena permulaannya
disampaikan melalui lirik-lirik puitis, sedangkan pengakhirannya terlihat
melalui lirik-lirik puitis (summoning the heavens) yang bermakna kebalikan.
Frasa "dingin dan panas" berbalik menjadi "tidak ada dingin,
tidak ada panas, dan tidak ada kabut"; sementara lirik "siang dan
malam tidak akan berhenti" berbalik menjadi pemberitaan langit "tanpa
siang dan tanpa malam".
Peralihan frasa pemberitaan langit tersebut
dinubuatkan oleh Nabi Zakharia dan ditulis sebagai "hari yang unik"
(lihat Kejadian 8:22 dan Zakharia 14:6-7). Peralihan itu bermakna berahirnya
misi Pendamaian Tuhan untuk berganti menjadi misi Penghukuman dan Pengadilan
Tuhan. Dengan kata lain, maksud misi Ilahi dalam Kejadian 8:22 akan berakhir
pada Zakharia 14:6-7 atau Matius 24:29.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa Matius 24:29 merupakan pengumuman khusus yang merujuk
pada pengakhiran misi Pendamaian Tuhan, atau puisi penutup bagi Kejadian 8:22
yang menandai berahirnya masa seedtime and harvest. Penuaian jiwa
diselenggarakan oleh gereja yang diurapi Roh Kudus sepanjang era gereja sejak
Hari Pentakosta. Namun, permulaan penuaian saat Kristus kembali—yakni era
setelah pengumuman Matius 24:29—akan dilaksanakan oleh para malaikat di bawah
perintah Sang Hakim (Matius 13).
Lirik
puitis "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22,
ketika berakhir, akan menjadi "tanpa siang dan tanpa malam"
sebagaimana nubuatan Zakharia 14:6-7. "Matahari menjadi gelap, bulan tidak
bercahaya, dan bintang-bintang berjatuhan" merupakan puisi yang
menyampaikan pesan senada dengan nubuatan Yesus dalam Matius 24:29. Oleh karena
itu, Matius 24:29 adalah "pemberitaan langit" yang memuat pesan Ilahi
mengenai keadaan "tanpa siang dan tanpa malam", sebagaimana yang
diberitakan dalam Zakharia 14:6-7.
Kedua ayat tersebut merupakan penutup bagi
frasa "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22.
"Hari yang unik" dalam nubuatan Zakharia merujuk pada rentang waktu
"satu masa, dua masa, dan setengah masa", yaitu periode yang
dinubuatkan sebagai waktu Penghukuman oleh Hakim yang Mahaadil. Periode
tersebut juga disebut dalam bahasa simbolis sebagai alegori "padang
gurun" atau secara puitis sebagai "tanpa siang dan tanpa malam".
Pemberitaan
melalui puisi "langit" yang diseru oleh Tuhan mengumumkan permulaan
atau pengakhiran masa pendamaian sesuai dengan makna lirik pemberitaan langit
tersebut (Mazmur 19:1-4; Mazmur 50:3-6). Jika Tuhan hendak mengakhiri
karya-Nya—yakni misi "menabur dan menuai" dalam Kejadian 8:22—maka Ia
akan memberitakan pengakhirannya melalui lirik-lirik "langit" yang
memuat makna antonim dari "siang dan malam", seperti yang diberitakan
dalam Matius 24:29 (yang senada dengan Zakharia 14:6-7, Mazmur 50:3-6, dan Wahyu
6:12-13).
Maksud
lirik-lirik puisi langit dalam Matius 24:29 berfungsi untuk mengakhiri karya
yang telah diberitakan sebelumnya sekaligus mengumumkan misi-Nya yang baru.
Pemberitaan-Nya melalui pesan lirik langit (Mazmur 50:3-6) untuk mengakhiri
karya tersebut disampaikan lewat lirik-lirik puitis tentang langit yang telah
berbalik maknanya. Ringkasnya, gambaran harmonis (damai) mengenai langit dalam
Kejadian 8:21-22 berbalik menjadi pesan puisi langit yang bertolak belakang
(tiada pendamaian), sebagaimana yang disampaikan Yesus melalui lirik-lirik
puitis langit dalam Matius 24:29.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Matius
24:29 merupakan pengumuman khusus yang merujuk pada pengakhiran misi Pendamaian
Tuhan, atau puisi penutup bagi Kejadian
8:22 yang menandai berakhirnya masa seedtime and harvest (menabur dan menuai).
Penuaian jiwa diselenggarakan oleh gereja yang diurapi Roh Kudus sepanjang era
gereja sejak Hari Pentakosta. Namun, permulaan penuaian saat Kristus
kembali—yakni era setelah pengumuman Matius
24:29—akan dilaksanakan oleh para malaikat di bawah perintah Sang Hakim (Matius
13).
Lirik puitis
"siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian
8:22, ketika berakhir, akan menjadi "tanpa siang dan tanpa malam"
sebagaimana nubuatan Zakharia
14:6-7. "Matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan
bintang-bintang berjatuhan" merupakan puisi yang menyampaikan pesan senada
dengan nubuatan Yesus dalam Matius
24:29. Oleh karena itu, Matius
24:29 adalah "pemberitaan langit" yang memuat pesan Ilahi mengenai
keadaan "tanpa siang dan tanpa malam", sebagaimana yang diberitakan
dalam Zakharia
14:6-7. Kedua ayat tersebut merupakan penutup bagi frasa "siang dan malam
tidak akan berhenti" dalam Kejadian
8:22. "Hari yang unik" dalam nubuatan Zakharia merujuk pada rentang
waktu "satu masa, dua masa, dan setengah masa", yaitu periode yang
dinubuatkan sebagai waktu Penghukuman oleh Hakim yang Mahaadil. Periode
tersebut juga disebut dalam bahasa simbolis sebagai alegori "padang
gurun" atau secara puitis sebagai "tanpa siang dan tanpa malam".
Pemberitaan
melalui puisi "langit" yang diseru oleh Tuhan mengumumkan permulaan
atau pengakhiran masa pendamaian sesuai dengan makna lirik pemberitaan langit
tersebut (Mazmur
19:1-4; Mazmur
50:3-6). Jika Tuhan hendak mengakhiri karya-Nya—yakni misi "menabur dan
menuai" dalam Kejadian
8:22—maka Ia akan memberitakan pengakhirannya melalui lirik-lirik
"langit" yang memuat makna antonim dari "siang dan malam",
seperti yang diberitakan dalam Matius
24:29 (yang senada dengan Zakharia
14:6-7, Mazmur
50:3-6, dan Wahyu
6:12-13).
Maksud
lirik-lirik puisi langit dalam Matius
24:29 berfungsi untuk mengakhiri karya yang telah diberitakan sebelumnya
sekaligus mengumumkan misi-Nya yang baru. Pemberitaan-Nya melalui pesan lirik
langit (Mazmur
50:3-6) untuk mengakhiri karya tersebut disampaikan lewat lirik-lirik puitis
tentang langit yang telah berbalik maknanya. Ringkasnya, gambaran harmonis
(damai) mengenai langit dalam Kejadian
8:21-22 berbalik menjadi pesan puisi langit yang bertolak belakang (tiada
pendamaian), sebagaimana yang disampaikan Yesus melalui lirik-lirik puitis
langit dalam Matius
24:29.
Jadi, urutan
pemberitaan "Misi-Nya" melalui lirik-lirik puitis adalah sebagai
berikut:
1. Pengumuman atau pemberitaan
oleh langit melalui lirik/puisi (Mazmur
19:1-4; Kejadian
8:22; Matius
24:29; Mazmur
50:3-6; Wahyu
6:12-13; Zakharia
14:6-7);
2. Tuhan memberikan
"Tanda" (Sign) (Kejadian
9:12-17; Matius
24:30). Dalam Matius
24, terdapat tanda-tanda akhir zaman yang masih berada dalam agenda pendamaian
oleh Sang Anak Domba. Sementara itu, Penghakiman memiliki maklumat (pronouncement),
yaitu ayat 29 yang keluar dari mulut-Nya;
3. Rincian Perjanjian atau Misi
Penghakiman (Judgment Mission) akan diberikan (Kejadian
9:1-10; Matius
24:31-44; Wahyu
6–19);
4. Penggenapan, penyempurnaan,
dan penyelesaian.
Pemberitaan
mengenai Penghakiman (Judgment) diumpamakan oleh Yesus Kristus seperti
burung-burung nazar yang mengerumuni bangkai: "Di mana ada bangkai, di
situ burung nazar berkerumun" (Matius
24:28). Burung-burung nazar yang berkerumun tersebut memberitakan secara jelas
dan nyata bahwa terdapat bangkai yang mereka lihat. Berkerumun merupakan
insting (instinct) alami burung nazar, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Walaupun
burung nazar dianggap sebagai binatang haram/najis dalam tradisi Ibrani,
pemberitaan mereka mengenai keberadaan bangkai bukanlah suatu kebohongan. Oleh
karena itu, Matius
24:29 sebenarnya merupakan pengumuman puitis yang fungsinya sama seperti
perumpamaan burung-burung nazar yang berkerumun.
Berkerumunnya
burung nazar merupakan perumpamaan mengenai pengumuman kedatangan Yesus yang
kedua kali yang telah ditetapkan oleh Allah Bapa. Demikian pula maksud
perumpamaan kilat/halilintar pada ayat 27. Maka, ayat 29 bagaikan
"burung-burung nazar" yang mengumumkan secara sangat jelas bahwa
Kristus akan datang sesuai dengan pengumuman di surga (Mazmur
76:8) atau di dalam hati Allah Bapa. Burung nazarlah yang mencari bangkai
karena mereka adalah pemakan bangkai. Di sisi lain, Kristus adalah Roti dari
Surga, dan mereka yang dianugerahi karunia "takut akan Tuhan" (fear
of the Lord) adalah orang-orang yang secara murni "lapar" akan Roti
Surgawi.
Kristus
berfirman bahwa untuk hidup, manusia perlu memakan manna dari surga, selain
makanan roti duniawi (Matius
4:4; Ulangan
8:3). Sebagaimana burung nazar pemakan bangkai yang tahu tempat keberadaan
bangkai, demikian pula orang-orang yang senantiasa lapar akan Roti Surgawi:
kepada merekalah dinyatakan "rahasia-rahasia Tuhan" (Mazmur
25:14). Rasa lapar tersebut timbul karena karunia Roh Tuhan yang disebut
sebagai "takut akan Tuhan" (fear of the Lord). Dan fear of the Lord merupakan
"kunci" utama untuk mulai mengenal hikmat, yaitu Kristus sendiri (Yesaya
33:6; Amsal
2:1-6).
Bagaimanakah kedatangan-Nya
dikumandangkan?
· Dikumandangkan seperti dalam Mazmur
19:1-4, Mazmur
50:3-6, dan Amos
3:7:
"Langit menceritakan
kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari
meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu
kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak
terdengar; tetapi gema mereka mejangkau seluruh bumi, dan perkataan mereka
sampai ke ujung dunia." (Mazmur
19:1-4)
· Dinyatakan dalam Amos
3:7:
"Sungguh, Tuhan ALLAH tidak
berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para
nabi."
Prediksi/Proyeksi:
1. Masa "Tanpa siang dan tanpa malam" (without daytime and without nighttime) (Zakharia
14:6-7; Matius
24:29) dimulai: 8 Maret
2011 M
2. Kedatangan Yesus (7 tahun
setelah maklumat/pronouncement): 20
Mei 2018 M
(Sebagai perbandingan, hukuman
kiamat yang pertama dimulai setelah Nuh masuk ke dalam bahtera (Yesaya
26:20-21), yaitu 7 hari sebelum tingkap-tingkap di langit mencurahkan air.
Hukuman pada era turunnya Kristus akan dimulai setelah satu masa berlalu, yaitu
fasa 7 tahun pengumuman terakhir? (Kisah
Para Rasul 2:19-20)).
3. Hukuman (Chastisement) baru
berakhir setelah 59,5 tahun (atau setara 58,9033 tahun menurut perhitungan
kalender matahari modern), yaitu diperkirakan berakhir pada: 1 Februari 2070 M
Ulasan terkini (10 Juni 2018): pembaca "tanda-tanda zaman" (the reader of the signs of the times) "Tanggal ramalan" (the above predicted date) di atas adalah tidak tepat, karena ketika tanggal tersebut diramalkan, penulis belum menerima pesan hikmat dan pengertian untuk "melihat" keselarasan (alignment) tanda-tanda di ketiga-tiga alam keberadaan roh yang dianugerahkan kepada umat Tuhan secara serentak. Jika seseorang ingin menjadi pembaca "tanda-tanda zaman", dia harus memiliki dasar dalam melihat alur roh nubuat (the flow of the Spirit of Prophecy).
Ada empat alam roh yang diciptakan Tuhan pada nubuatan penciptaan dalam Kitab Kejadian pasal 1 (There are four different spirit realms namely the heavens, the skies, the earth, and the hells). Pembaca "tanda-tanda zaman" harus mengetahui keempat keberadaan alam roh tersebut, sebab tanda-tanda zaman akan muncul di dalam alam roh yang disebutkan tadi melalui penglihatan (visions) dan mimpi (dreams).
Ketika tanda-tanda (the Signs) di surga, di langit, dan di bumi dinyatakan secara serentak pada waktu yang telah ditetapkan (at an appointed time)—seperti pada saat kelahiran Kristus—kita mengetahui bahwa itulah waktu yang tepat (the exact time) bagi Sang Hakim yang menghakimi dengan keadilan untuk memulai jalan murka Ilahi di bumi: yaitu angin puting beliung (a whirlwind). Kilat memang menyertai Whirlwind.
Tiga orang
majus mengetahui waktu yang tepat dari kelahiran Kristus karena mereka melihat
momen ketika "Tanda" [Bintang Betlehem] dari Raja Damai muncul di
"langit" (alam roh yang disebut "langit", bukan ditafsirkan
secara harfiah sebagai langit fisik). Ada tiga alam roh yang harus
"dibaca" melalui karunia penglihatan (visions) dan mimpi (dreams). Ketiga alam roh itu merupakan tempat
tanda-tanda dinyatakan oleh Tuhan secara serentak. Jika tanda-tanda tersebut
telah dinyatakan secara serentak, barulah kita dapat menyatakan bahwa itulah
saat "nama" Sang Hakim telah berada di bumi!
Tujuh (7) Heavens ~ Surga (kadang-kadang diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia sebagai "langit" atau "cakrawala");
Skies ~ Realitas alam roh "langit", yang
berada di bawah realitas alam tujuh lapis surga; di atas bumi adalah langit dan di atas langit adalah surga tujuh lapis.
Bumi (earth) ~ Alam roh ini terlihat seolah-olah seperti
bumi yang kita pijak karena bentuk muka buminya memiliki dataran, sungai,
danau, hutan, pepohonan, laut, dan lautan, bahkan segala makhluk serta
binatang-binatang yang aneh/ganjil sebagaimana yang tercatat dalam nubuatan
para nabi—seperti binatang bertanduk sepuluh yang keluar dari "laut".
"Laut" dalam Wahyu 13 sebenarnya merujuk pada alam roh yang
menyampaikan pesan rohani simbolis tentang bangsa-bangsa di dunia. Oleh karena
itu, binatang yang keluar dari laut bermakna "suatu pemerintahan yang
muncul dan telah memerintah banyak bangsa di dunia". Contohnya terdapat
dalam Kitab Daniel yang menyatakan beberapa binatang keluar dari air laut yang
menggelora, yang bermakna munculnya beberapa kekaisaran yang menaklukkan banyak
bangsa di dunia. Dengan demikian, bukankah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga
tergolong sebagai "binatang yang keluar dari laut" atau dari jurang
maut, karena lembaga tersebut merupakan pemerintahan global (world governance) yang
mencakup hampir semua bangsa di dunia?
Sebenarnya ada satu lagi alam roh yang disebut
"neraka". Namun, penulis tidak menerima firman yang tersingkap
mengenai neraka; oleh karena itu, kita tidak akan membahas realitas alam roh
neraka. Kita tahu bahwa untuk mengesahkan penggenapan saat kedatangan Sang
Hakim, tanda-tanda di surga harus dilihat bersamaan dengan tanda di langit dan
tanda di bumi. Pada peristiwa kelahiran Raja Damai, tanda-tanda di surga hanya
disaksikan oleh "para gembala" (the prophets).
Penulis menyebut para
gembala di padang gembalaan tersebut sebagai the prophets, karena sebenarnya
hanya nabi-nabi Tuhan yang dikaruniakan penglihatan rohani untuk melihat
kemuliaan "surga terbuka"! Tiga orang majus dari Timur (the heathen
seers) mengonfirmasi bahwa mereka juga telah melihat tanda kelahiran Raja
Kebenaran tersebut, yaitu Bintang Betlehem yang pernah dinubuatkan oleh nabi
Balaam bin Beor lebih dari seribu tahun yang lalu. Balaam juga merupakan
seorang heathen seer! Kedua kelompok nabi tersebut bertemu pada konteks (setting)
yang sama, yaitu ketika "Firman itu telah menjadi manusia" tampak di
bumi sebagai "seorang bayi di kandang ternak", sebagaimana yang
diberitakan oleh Malaikat.
Penulis telah mendapat penglihatan
"langit" pada 10 Juni 2018, dan "Matahari" terlihat berada
di garis ufuk petang dengan posisi matahari yang hanya berjarak setebal 2 mm
sebelum menyentuh atau mencecah garis ufuk terbenam. Mungkinkah Sang Hakim akan
datang sewaktu-waktu sekarang? Nabi Zakharia bernubuat dalam Zakharia 14:5d-7:
"Lalu TUHAN, Allahku, akan datang, dan semua orang kudus bersama-sama Dia.
Pada waktu itu tidak akan ada lagi terang, suhu dingin, atau pembekuan. Hari itu
akan menjadi hari yang unik—hari yang hanya diketahui oleh TUHAN—tanpa
perbedaan antara siang dan malam. Pada waktu petang akan ada terang."
Yeshua adalah Terang (Light) atau Matahari (Sang Hakim) yang akan datang. Pada
waktu petang, Sang Hakim akan datang sewaktu-waktu bersama para malaikat (para
penuai) yang dapat disaksikan dalam penglihatan rohani sebagai gulungan Kitab!
 |
Membaca 'tanda' di langit perihal kedatangan Hakim
(Zak. 14:7)
|
Penglihatan penulis pada 10 Juni 2018 adalah seperti pemandangan (seperti gambar kiasan di atas) pada sekitar pukul 01.57 WIB, tetapi cahaya "petang"-nya lebih cemerlang (brilliant) dan hidup. Saya teringat ayat "...pada waktu petang akan ada terang" dalam Zakharia 14:7 ketika melihat penglihatan tersebut. Ia (Sang Hakim) dapat saja hadir di bumi sewaktu-waktu bersama para malaikat. Sang Hakim tersebut akan disertai tanda-tanda, yaitu bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi. "TUHAN itu lambat untuk murka dan besar dalam kuasa; TUHAN tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman; jalan-Nya ialah dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya" (Nahum 1:3).
Jalan murka Tuhan yang disaksikan dalam penglihatan rohani adalah seperti angin puting beliung (the Whirlwind) yang tidak terpisahkan dari keberadaan fenomena rohani, seperti badai (storm) dan awan-awan (clouds). "Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" (Wahyu 8:5). Oleh karena itu, kehadiran Sang Hakim di bumi dapat dikenali dengan melihat tanda-tanda melalui penglihatan rohani, yaitu guruh dan halilintar (tanda di langit) serta gempa bumi (tanda di bumi). Yesus pernah bernubuat dalam Matius 24:27, "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia."
Kilat tidak akan ada jika angin puting beliung tidak ada, karena kilat merupakan tanda khusus kehadiran Sang Hakim di bumi apabila disaksikan dalam penglihatan rohani. Dalam kesaksian Nabi Nahum, nama Tuhan—yaitu Sang Hakim—"...berjalan dalam puting beliung [whirlwind] dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya." Nabi Nahum dalam Nahum 1:1-3 berbicara tentang penglihatan rohani mengenai Sang Hakim. Sang Hakim dapat dikenali dan dibedakan dari Roh Raja Damai dengan melihat tanda-tanda yang menyertai nama Tuhan, meskipun keduanya adalah Roh yang satu. Sebagian besar orang percaya mengetahui perihal tanda-tanda kehadiran Raja Kebenaran atau Raja Damai, seperti pada saat kelahiran-Nya dan pada Hari Pentakosta. Nama Sang Hakim dapat dikenali dalam penglihatan rohani sebagai "Puting Beliung", dan Ia disertai tanda-tanda seperti guruh, halilintar, badai, dan gempa bumi!
Sitasi
Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan
Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 28 September 2015.
The
Bible. New International Version, Biblica, 2011. Bible Gateway,
://biblegateway.com. Accessed 28 September 2015.