Jika seseorang hendak menjadi pembaca tanda-tanda zaman, ia
harus memiliki dasar dalam melihat alur Roh Nubuat. Ada empat alam roh yang
diciptakan Tuhan pada nubuat penciptaan dalam Kitab Kejadian pasal 1 (yaitu
surga, cakrawala, bumi, dan dunia orang mati/neraka).
Pembaca tanda-tanda zaman semestinya mengetahui keempat
keberadaan alam roh tersebut; tanda-tanda zaman akan muncul di dalam alam-alam
roh yang disebutkan itu. Tanda-tanda tersebut terlihat melalui
penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi.
Ketika tanda-tanda di surga, di
cakrawala, dan di bumi dinyatakan secara serentak pada "waktu yang telah
ditetapkan"—seperti pada saat kelahiran Kristus—maka kita mengetahui bahwa
itulah saat yang tepat ketika Hakim yang mengadili dengan keadilan mulai membuka
jalan murka Ilahi di bumi: suatu angin badai.
Ketiga orang majus mengetahui
waktu yang tepat dari kelahiran Kristus karena mereka melihat saat ketika tanda
itu [Bintang Betlehem] dari Raja Damai muncul di cakrawala (alam roh yang
disebut cakrawala; bukan ditafsirkan sebagai langit harfiah). Ada tiga alam roh
yang harus ‘dibaca’ melalui karunia penglihatan dan mimpi-mimpi. Ketiga alam
roh itu adalah tempat tanda-tanda dinyatakan oleh Tuhan secara serentak.
Tanda-tanda tersebut harus dinyatakan secara serentak, barulah kita dapat
mengatakan bahwa itulah saat ketika nama Hakim itu diberitakan dan bahwa Ia
hadir di bumi. Tiga alam roh dan bumi yang nyata terlihat sebagai berikut:
1. Surga (Tujuh Tingkat Surga-heavens)
Kadang-kadang diterjemahkan juga sebagai "langit"
atau "cakrawala". Ada tujuh tingkat surga dan setiap tingkat memiliki
pintu.
2. Cakrawala (Realitas Alam Roh Langit-skies)
Keberadaannya berada di bawah realitas alam tujuh tingkat
surga. Kadang-kadang ada satu ciri khas dalam pemberitaan tanda di cakrawala,
yaitu penglihatan tersebut tidak disertai suara maupun bahasa yang terdengar
dari "tanda" di langit itu. Namun, hal ini tidak mengherankan karena
Raja Daud bersaksi melalui mazmurnya dalam Mazmur 19:4–5, bahwa pemberitaan
nama Tuhan di langit memang tidak terdengar suaranya: "Tidak ada berita
dan tidak ada kata-kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka
memancar ke seluruh bumi, dan perkataan mereka sampai ke ujung dunia."
3. Alam Roh Bumi
Alam roh ini terlihat seolah-olah seperti bumi yang kita pijak
karena bentuk permukaannya memiliki dataran, sungai, danau, hutan, pepohonan,
laut, bahkan segala makhluk dan binatang-binatang yang aneh, sebagaimana yang
tercatat dalam penglihatan para nabi, seperti binatang bertanduk sepuluh yang
keluar dari dalam laut.
"Laut" dalam Wahyu 13 sebenarnya merujuk
kepada alam roh bumi yang menyampaikan pesan roh yang profetis tentang
bangsa-bangsa di dunia. Maka, binatang yang keluar dari dalam laut berarti suatu
pemerintahan yang muncul dan memerintah atas banyak bangsa di dunia. Contohnya
terdapat dalam Kitab Daniel yang mencatat beberapa binatang keluar dari laut
yang bergelora, yang berarti beberapa kekaisaran yang menaklukkan banyak bangsa
di dunia akan muncul.
Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga
tergolong sebagai "binatang yang keluar" dari dalam laut atau dari
jurang maut, karena lembaga itu merupakan suatu pemerintahan dunia yang
merangkumi hampir seluruh bangsa (air yang banyak) di dunia.
4. Bumi Harfiah (Bumi Nyata)
Terdapat banyak tanda di bumi nyata atau di tengah-tengah
manusia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada para nabi. Saya akan mengangkat
salah satu tanda yang pernah ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di
Tesalonika, yang sebenarnya menyingkapkan rahasia kerangka waktu kedatangan
Hakim (kedatangan Kristus yang kedua kali). Ungkapan "Damai dan
aman!" adalah tanda di antara bangsa-bangsa yang menunjukkan kegiatan
sejagat dan menjadi petunjuk kerangka waktu kedatangan Kristus.
Sebenarnya ada satu lagi alam roh yang disebut neraka (dunia
orang mati). Namun, penulis tidak menerima firman yang tersingkap mengenai
neraka; oleh sebab itu, kita tidak akan membahas realitas alam roh neraka
tersebut. Kita tahu bahwa untuk mengesahkan pemenuhan saat kedatangan Hakim,
tanda-tanda di surga harus terlihat bersama-sama dengan tanda di cakrawala dan
tanda di bumi.
Pada kelahiran Raja Damai, tanda-tanda di surga hanya dilihat
oleh para gembala (para nabi). Penulis menyebut para gembala di padang
gembalaan itu sebagai "para nabi", karena sebenarnya hanya nabi-nabi
Tuhan yang dikaruniai penglihatan rohani untuk melihat kemuliaan "surga
terbuka". Artinya, mereka melihat tujuh tingkat surga terbuka dalam
penglihatan mata roh.
Tiga orang majus dari Timur (pelihat dari luar Israel)
mengesahkan bahwa mereka juga telah melihat tanda kelahiran Raja Kebenaran itu,
yaitu Bintang Betlehem yang pernah dinubuatkan oleh Nabi Bileam bin Beor lebih
dari seribu tahun sebelumnya. Bileam juga adalah seorang pelihat. Kedua
kelompok nabi itu telah 'bertemu' pada latar yang sama, yaitu ketika
"Firman itu telah menjadi manusia" tampak di bumi, yaitu seorang bayi
di dalam kandang ternak, sebagaimana yang diberitakan oleh malaikat.
Penulis telah mendapat penglihatan tentang cakrawala pada
tanggal 10 Juni 2018, dan Matahari tampak berada di garis ufuk petang dengan
posisi matahari yang hanya berjarak setebal 2 mm sebelum menyentuh atau
mencecah garis ufuk terbenam.
Mungkinkah Hakim akan datang sewaktu-waktu
sekarang? Boleh jadi Hakim sudah ada di bumi! Nabi Zakharia bernubuat dalam
Zakharia 14:5b–7: "Lalu TUHAN, Allahku, akan datang, dan semua orang kudus
bersama-sama Dia. Pada waktu itu tidak akan ada lagi terang, suhu dingin atau
beku. Tetapi akan ada satu hari—hari itu diketahui oleh TUHAN—dengan tidak ada
pergantian siang dan malam, dan pada waktu malam pun akan ada terang."
Yeshua adalah Terang atau Matahari (Hakim) yang akan datang.
Pada waktu petang, Hakim akan datang sewaktu-waktu bersama-sama dengan para
malaikat (para penuai) yang dapat dilihat dalam penglihatan rohani sebagai
gulungan kitab. Untuk memahami lirik nubuat dalam Zakharia 14:5–7, pembaca
harus kembali kepada puisi Yahweh yang diberikan kepada Nuh dalam Kejadian
8:22: "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan
menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
Doa Nuh
yang berkenan kepada Tuhan disusuli dengan berkat penganugerahan suatu
penyataan yang agung bagi Nuh dan keturunannya. Nuh dianugerahkan lirik-lirik
puisi yang sangat berguna untuk melihat tanda-tanda kedatangan Hakim
(kedatangan Kristus yang kedua kali).
Dalam versi bahasa Inggris, frasa "Selama bumi masih
ada" berbunyi "as long as the earth endures". Saya lebih
menyukai kata "endure" (bertahan), karena kata itu lebih
menyingkapkan dan lebih tepat jika dibandingkan dengan frasa "masih
ada". Zakharia 14:5–7 sebenarnya adalah penglihatan rohani yang
menerangkan akhir dari maksud nubuat dalam puisi Kejadian 8:22.
Kejadian 8:22
menerangkan permulaan karya Tuhan setelah air bah. Yesaya 46:10 menerangkan
bahwa Tuhan memberitahukan akhir hal-hal sejak dari mulanya. Lirik puisi Tuhan
dalam Kejadian 8:22 menjelaskan permulaan pekerjaan Ilahi, sedangkan Zakharia
14:5–7 menerangkan kegenapan atau akhir dari maksud nubuat dalam Kejadian 8:22.
Zakharia 14:5–7 secara singkat adalah "tanda" di cakrawala yang memberitakan
nama Hakim menurut tafsiran Mazmur 19:2.
Kembali kepada bait pertama dalam Kejadian 8:22, "as long
as the earth endures" membawa arti bahwa perdamaian akan berlanjut dengan
syarat selama bumi masih bertahan. Sangat mudah untuk mengetahui apa yang akan
terjadi apabila 'bumi' memberitakan pesan Roh bahwa ia tidak tahan lagi, karena
setiap arti lirik dalam Kejadian 8:22 akan berubah menjadi kebalikan dari arti
asalnya (antonim), yaitu seperti lirik-lirik dalam Zakharia 14:5–7. Hal ini
juga dijelaskan dalam Yesaya 26:20–21.
Apa yang akan terjadi kepada "bumi" apabila tanda di
langit memberitakan bahwa matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan
bintang-bintang berjatuhan? Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat. Namun,
"bumi" di sini bukanlah bumi harfiah, melainkan bumi di alam roh
dalam penglihatan roh. Oleh karena itu, dalam penglihatan roh, roh bumi
memberitakan suatu gempa bumi yang dahsyat, sebagaimana catatan dalam Wahyu
6:12.
Jika kita melihat Wahyu 6:12–15, ayat 12 hingga 13 sebenarnya
adalah petikan mengenai tanda di bumi dan tanda di cakrawala. Ayat 14a adalah
tanda di surga, sedangkan gunung-gunung dan pulau-pulau memberitakan tentang
tiadanya perdamaian atau berakhirnya perdamaian antara Tuhan dan penduduk muka
bumi. Hal itu juga menerangkan bahwa penuaian akan beralih tangan dari Gereja
kepada para malaikat.
Ayat 14a, yaitu "tanda di surga" yang dapat dilihat
dalam penglihatan roh, sebenarnya telah berulang kali disampaikan oleh para
nabi, seperti dalam catatan Matius 24:30–31 dan Kisah Para Rasul 1:6–11. Wahyu
6:14a, Matius 24:30–31, dan Kisah Para Rasul 1:6–11 adalah mengenai
"tanda" di surga, yaitu awan-awan (para malaikat) yang tergulung dan
kemuliaan Hakim. Mazmur 19:2 berbunyi bahwasanya penglihatan surga adalah suatu
deklarasi kemuliaan Tuhan: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan
cakrawala memberitahukan pekerjaan tangan-Nya."
Harus diingat bahwa surga ini merujuk kepada tujuh tingkat
surga. Ketika setiap pintu di setiap tingkat surga dibuka, tampaklah awan-awan
tergulung. Awan-awan yang tergulung dalam penglihatan roh di surga sebenarnya
adalah tindakan para malaikat Tuhan dalam membuka pintu-pintu surgawi. Itulah
sebabnya hal itu kelihatan dalam penglihatan roh sebagai awan-awan yang
tergulung.
Oleh sebab itu, kedatangan Kristus yang kedua kali sebenarnya
dapat diketahui oleh orang-orang percaya, terutama mereka yang
"berjaga-jaga", dengan melihat melalui penglihatan rohani dan
mimpi-mimpi—yaitu melihat tanda-tanda di surga, tanda-tanda di cakrawala,
tanda-tanda di alam roh bumi, dan di bumi nyata (bumi harfiah) serta di
tengah-tengah manusia.