New International Version, Psalm 19 :
For the director of music. A psalm of David. 1 The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of his hands (handiworks). 2 Day after day they pour forth speech; night after night they reveal knowledge. 3 They have no speech, they use no words; no sound is heard from them (visions dream dreams). 4 Yet their voice goes out into all the earth, their words to the ends of the world. In the heavens God has pitched a tent for the sun.
Jika seseorang hendak menjadi pembaca tanda-tanda zaman, ia harus memiliki dasar dalam melihat alur Roh Nubuat. Ada empat alam roh yang diciptakan Tuhan pada nubuat penciptaan dalam Kitab Kejadian pasal 1 (yaitu surga, cakrawala, bumi, dan dunia orang mati/neraka).
Pembaca tanda-tanda zaman semestinya mengetahui keempat keberadaan alam roh tersebut; tanda-tanda zaman akan muncul di dalam alam-alam roh yang disebutkan itu. Tanda-tanda tersebut terlihat melalui penglihatan-penglihatan dan mimpi-mimpi.
Ketika tanda-tanda di surga, di cakrawala, dan di bumi dinyatakan secara serentak pada "waktu yang telah ditetapkan"—seperti pada saat kelahiran Kristus—maka kita mengetahui bahwa itulah saat yang tepat ketika Hakim yang mengadili dengan keadilan mulai membuka jalan murka Ilahi di bumi: suatu angin badai.
Ketiga orang majus mengetahui
waktu yang tepat dari kelahiran Kristus karena mereka melihat saat ketika tanda
itu [Bintang Betlehem] dari Raja Damai muncul di cakrawala (alam roh yang
disebut cakrawala; bukan ditafsirkan sebagai langit harfiah). Ada tiga alam roh
yang harus ‘dibaca’ melalui karunia penglihatan dan mimpi-mimpi. Ketiga alam
roh itu adalah tempat tanda-tanda dinyatakan oleh Tuhan secara serentak.
Tanda-tanda tersebut harus dinyatakan secara serentak, barulah kita dapat
mengatakan bahwa itulah saat ketika nama Hakim itu diberitakan dan bahwa Ia
hadir di bumi. Tiga alam roh dan bumi yang nyata terlihat sebagai berikut:
1. Surga (Tujuh Tingkat Surga-heavens)
Kadang-kadang diterjemahkan juga sebagai "langit" atau "cakrawala". Ada tujuh tingkat surga dan setiap tingkat memiliki pintu.
2. Cakrawala (Realitas Alam Roh Langit-skies)
Keberadaannya berada di bawah realitas alam tujuh tingkat surga. Kadang-kadang ada satu ciri khas dalam pemberitaan tanda di cakrawala, yaitu penglihatan tersebut tidak disertai suara maupun bahasa yang terdengar dari "tanda" di langit itu. Namun, hal ini tidak mengherankan karena Raja Daud bersaksi melalui mazmurnya dalam Mazmur 19:4–5, bahwa pemberitaan nama Tuhan di langit memang tidak terdengar suaranya: "Tidak ada berita dan tidak ada kata-kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka memancar ke seluruh bumi, dan perkataan mereka sampai ke ujung dunia."
3. Alam Roh Bumi
Alam roh ini terlihat seolah-olah seperti bumi yang kita pijak karena bentuk permukaannya memiliki dataran, sungai, danau, hutan, pepohonan, laut, bahkan segala makhluk dan binatang-binatang yang aneh, sebagaimana yang tercatat dalam penglihatan para nabi, seperti binatang bertanduk sepuluh yang keluar dari dalam laut.
"Laut" dalam Wahyu 13 sebenarnya merujuk kepada alam roh bumi yang menyampaikan pesan roh yang profetis tentang bangsa-bangsa di dunia. Maka, binatang yang keluar dari dalam laut berarti suatu pemerintahan yang muncul dan memerintah atas banyak bangsa di dunia. Contohnya terdapat dalam Kitab Daniel yang mencatat beberapa binatang keluar dari laut yang bergelora, yang berarti beberapa kekaisaran yang menaklukkan banyak bangsa di dunia akan muncul.
Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga tergolong sebagai "binatang yang keluar" dari dalam laut atau dari jurang maut, karena lembaga itu merupakan suatu pemerintahan dunia yang merangkumi hampir seluruh bangsa (air yang banyak) di dunia.
4. Bumi Harfiah (Bumi Nyata)
Terdapat banyak tanda di bumi nyata atau di tengah-tengah manusia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada para nabi. Saya akan mengangkat salah satu tanda yang pernah ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, yang sebenarnya menyingkapkan rahasia kerangka waktu kedatangan Hakim (kedatangan Kristus yang kedua kali). Ungkapan "Damai dan aman!" adalah tanda di antara bangsa-bangsa yang menunjukkan kegiatan sejagat dan menjadi petunjuk kerangka waktu kedatangan Kristus.
Sebenarnya ada satu lagi alam roh yang disebut neraka (dunia orang mati). Namun, penulis tidak menerima firman yang tersingkap mengenai neraka; oleh sebab itu, kita tidak akan membahas realitas alam roh neraka tersebut. Kita tahu bahwa untuk mengesahkan pemenuhan saat kedatangan Hakim, tanda-tanda di surga harus terlihat bersama-sama dengan tanda di cakrawala dan tanda di bumi.
Pada kelahiran Raja Damai, tanda-tanda di surga hanya dilihat oleh para gembala (para nabi). Penulis menyebut para gembala di padang gembalaan itu sebagai "para nabi", karena sebenarnya hanya nabi-nabi Tuhan yang dikaruniai penglihatan rohani untuk melihat kemuliaan "surga terbuka". Artinya, mereka melihat tujuh tingkat surga terbuka dalam penglihatan mata roh.
Tiga orang majus dari Timur (pelihat dari luar Israel)
mengesahkan bahwa mereka juga telah melihat tanda kelahiran Raja Kebenaran itu,
yaitu Bintang Betlehem yang pernah dinubuatkan oleh Nabi Bileam bin Beor lebih
dari seribu tahun sebelumnya. Bileam juga adalah seorang pelihat. Kedua
kelompok nabi itu telah 'bertemu' pada latar yang sama, yaitu ketika
"Firman itu telah menjadi manusia" tampak di bumi, yaitu seorang bayi
di dalam kandang ternak, sebagaimana yang diberitakan oleh malaikat.
Penulis telah mendapat penglihatan tentang cakrawala pada tanggal 10 Juni 2018, dan Matahari tampak berada di garis ufuk petang dengan posisi matahari yang hanya berjarak setebal 2 mm sebelum menyentuh atau mencecah garis ufuk terbenam.
Mungkinkah Hakim akan datang sewaktu-waktu sekarang? Boleh jadi Hakim sudah ada di bumi! Nabi Zakharia bernubuat dalam Zakharia 14:5b–7: "Lalu TUHAN, Allahku, akan datang, dan semua orang kudus bersama-sama Dia. Pada waktu itu tidak akan ada lagi terang, suhu dingin atau beku. Tetapi akan ada satu hari—hari itu diketahui oleh TUHAN—dengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan pada waktu malam pun akan ada terang."
Yeshua adalah Terang atau Matahari (Hakim) yang akan datang. Pada waktu petang, Hakim akan datang sewaktu-waktu bersama-sama dengan para malaikat (para penuai) yang dapat dilihat dalam penglihatan rohani sebagai gulungan kitab. Untuk memahami lirik nubuat dalam Zakharia 14:5–7, pembaca harus kembali kepada puisi Yahweh yang diberikan kepada Nuh dalam Kejadian 8:22: "Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
Doa Nuh yang berkenan kepada Tuhan disusuli dengan berkat penganugerahan suatu penyataan yang agung bagi Nuh dan keturunannya. Nuh dianugerahkan lirik-lirik puisi yang sangat berguna untuk melihat tanda-tanda kedatangan Hakim (kedatangan Kristus yang kedua kali).
Dalam versi bahasa Inggris, frasa "Selama bumi masih ada" berbunyi "as long as the earth endures". Saya lebih menyukai kata "endure" (bertahan), karena kata itu lebih menyingkapkan dan lebih tepat jika dibandingkan dengan frasa "masih ada". Zakharia 14:5–7 sebenarnya adalah penglihatan rohani yang menerangkan akhir dari maksud nubuat dalam puisi Kejadian 8:22.
Kejadian 8:22 menerangkan permulaan karya Tuhan setelah air bah. Yesaya 46:10 menerangkan bahwa Tuhan memberitahukan akhir hal-hal sejak dari mulanya. Lirik puisi Tuhan dalam Kejadian 8:22 menjelaskan permulaan pekerjaan Ilahi, sedangkan Zakharia 14:5–7 menerangkan kegenapan atau akhir dari maksud nubuat dalam Kejadian 8:22. Zakharia 14:5–7 secara singkat adalah "tanda" di cakrawala yang memberitakan nama Hakim menurut tafsiran Mazmur 19:2.
Kembali kepada bait pertama dalam Kejadian 8:22, "as long as the earth endures" membawa arti bahwa perdamaian akan berlanjut dengan syarat selama bumi masih bertahan. Sangat mudah untuk mengetahui apa yang akan terjadi apabila 'bumi' memberitakan pesan Roh bahwa ia tidak tahan lagi, karena setiap arti lirik dalam Kejadian 8:22 akan berubah menjadi kebalikan dari arti asalnya (antonim), yaitu seperti lirik-lirik dalam Zakharia 14:5–7. Hal ini juga dijelaskan dalam Yesaya 26:20–21.
Apa yang akan terjadi kepada "bumi" apabila tanda di langit memberitakan bahwa matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan bintang-bintang berjatuhan? Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat. Namun, "bumi" di sini bukanlah bumi harfiah, melainkan bumi di alam roh dalam penglihatan roh. Oleh karena itu, dalam penglihatan roh, roh bumi memberitakan suatu gempa bumi yang dahsyat, sebagaimana catatan dalam Wahyu 6:12.
Jika kita melihat Wahyu 6:12–15, ayat 12 hingga 13 sebenarnya adalah petikan mengenai tanda di bumi dan tanda di cakrawala. Ayat 14a adalah tanda di surga, sedangkan gunung-gunung dan pulau-pulau memberitakan tentang tiadanya perdamaian atau berakhirnya perdamaian antara Tuhan dan penduduk muka bumi. Hal itu juga menerangkan bahwa penuaian akan beralih tangan dari Gereja kepada para malaikat.
Ayat 14a, yaitu "tanda di surga" yang dapat dilihat dalam penglihatan roh, sebenarnya telah berulang kali disampaikan oleh para nabi, seperti dalam catatan Matius 24:30–31 dan Kisah Para Rasul 1:6–11. Wahyu 6:14a, Matius 24:30–31, dan Kisah Para Rasul 1:6–11 adalah mengenai "tanda" di surga, yaitu awan-awan (para malaikat) yang tergulung dan kemuliaan Hakim. Mazmur 19:2 berbunyi bahwasanya penglihatan surga adalah suatu deklarasi kemuliaan Tuhan: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitahukan pekerjaan tangan-Nya."
Harus diingat bahwa surga ini merujuk kepada tujuh tingkat surga. Ketika setiap pintu di setiap tingkat surga dibuka, tampaklah awan-awan tergulung. Awan-awan yang tergulung dalam penglihatan roh di surga sebenarnya adalah tindakan para malaikat Tuhan dalam membuka pintu-pintu surgawi. Itulah sebabnya hal itu kelihatan dalam penglihatan roh sebagai awan-awan yang tergulung.
Oleh sebab itu, kedatangan Kristus yang kedua kali sebenarnya dapat diketahui oleh orang-orang percaya, terutama mereka yang "berjaga-jaga", dengan melihat melalui penglihatan rohani dan mimpi-mimpi—yaitu melihat tanda-tanda di surga, tanda-tanda di cakrawala, tanda-tanda di alam roh bumi, dan di bumi nyata (bumi harfiah) serta di tengah-tengah manusia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar