Jumaat, 18 September 2015

Apakah itu karunia "takut akan Tuhan"?

By Joannes Simin 

    "Takut akan Tuhan" adalah karunia Roh Tuhan dan sifatnya adalah "kudus." Daud bersaksi melalui lirik nyanyiannya bahwa "takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya" (Mazmur 19:10). Hal itu 'kudus' karena merupakan pekerjaan dari aliran Roh Tuhan yang disebut 'karunia'. Maka dari itu, hal tersebut bukanlah hasil usaha kapasitas intelektual, tidak pula dapat direka-cipta, melainkan secara murni (pure) merupakan anugerah Roh Tuhan menurut kehendak-Nya yang sempurna! Perihal ini juga bukanlah reaksi emosional yang berkaitan dengan rasa takut.

    Karunia tersebut bekerja demi tujuan keselamatan umat manusia yang terpisah dari kehidupan yang penuh, supaya mereka kembali memiliki kesadaran dan kebergantungan (dependency) kepada Sang Pencipta, yaitu Bapa segala roh. Kehidupan warga Kerajaan Allah tidaklah mandiri (independent) dari Firman Tuhan.

    Mengapa Yesus membutuhkan "takut akan Tuhan" bekerja dalam diri-Nya? Roh Yeshua adalah Roh Tuhan sebagaimana yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5 dan Yesaya 11:1–6. Identitas Kristus dalam nubuat Yesaya 9:5 menjelaskan ke-Tuhanan Roh Yeshua: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Firman (Roh) yang menjadi 'daging' ini dilengkapi dengan 'roh takut akan Tuhan' karena itulah tujuh Roh Kristus yang bekerja untuk kemenangan 'penebusan' dan 'keselamatan' bagi umat manusia yang "terluka."

    Nabi Yesaya menuliskan nubuat Tuhan: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5).


Dosa sebagai akar tunjang masalah umat manusia dan rencana penyelamatan Allah Bapa


    Dosa dipandang sebagai sengat maut yang 'melukai roh' manusia yang berdosa! Penyakit pada tubuh jasmani disebabkan oleh luka pada daging, baik luka dalam maupun luka luar. Demikian juga halnya dengan penyakit roh. Penyakit pada roh yang akhirnya membawa maut digambarkan sebagai "luka-luka" kehidupan. Luka-luka Yeshua sebagai Anak Domba Allah dialirkan untuk menganugerahkan berkat penebusan dan keselamatan. Hal ini merujuk kepada pelaksanaan kurban kematian Yeshua di atas kayu salib sebagai mezbah Allah di bumi, agar berkat dapat mengalir tanpa henti.

    Hukum Taurat mengajarkan kita bahwa berkat penebusan dan keselamatan tidak akan mengalir kepada kita selama kurban di atas mezbah di bumi belum diselesaikan atau digenapi (lihat Lukas 24:44). Maksudnya, berkat penebusan dan keselamatan harus didahului oleh penyelesaian upacara kurban di atas mezbah bumi. Dan Yeshua, selaku Anak Domba Allah sekaligus Imami/Pengantara (Mediator), berkata: "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Kata "sudah selesai" ini merupakan prasyarat dari Allah yang harus digenapi sebelum aliran berkat penebusan dan keselamatan dapat dicurahkan!

    Yeshua dinubuatkan sebagai penghapus dosa-dosa dunia menurut penggenapan Lukas 24:44. Sejak semula, yakni sejak zaman Habel, mezbah merupakan jalan untuk menerima berkat pengampunan dosa. Mezbah menyatakan nama Tuhan, yaitu Kasih. Kasih Ilahi itu menebus dan mengampuni! Penebusan itu dapat dengan mudah dipahami melalui pelaksanaan upacara 'kurban' di atas mezbah. Oleh karena itu, mendirikan mezbah berarti beribadah!

    Nabi Yohanes Pembaptis bersaksi: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Mezbah adalah 'jalan roh' untuk menerima berkat penebusan dan keselamatan! Yesus bukanlah orang berdosa, sebab Ia tidak berdosa. Namun, karena Ia adalah 'Anak Domba Paskah Allah' yang dikurbankan menurut ordo Melkisedek di bumi, maka curahan darah Sang Anak Domba menjanjikan berkat penebusan dan keselamatan dapat mengalir kepada seluruh bangsa tanpa henti, dimulai sejak Hari Pentakosta. Berkat itu telah mengalir ke bumi secara Immanuel.

    Karunia 'takut akan Tuhan' ada secara penuh dalam Roh Yesus Kristus, Anak Domba Allah; karena itulah Ia seratus persen tunduk kepada kehendak Bapa. Kristus, di dalam kepenuhan ketujuh karunia Roh Ilahi dengan segala "kekayaan" dalam kematian-Nya sebagai kurban penebus dosa-dosa umat manusia di atas kayu salib, telah menganugerahkan "Jalan" perdamaian antara Roh Allah dan roh manusia yang terluka. Yeshua berkata: "Akulah jalan..." (Yohanes 14:6).

    Jalan mezbah yang sempurna itu hanya dapat disempurnakan oleh Anak Manusia. Hal itu merupakan karya tujuh Roh yang melaksanakan kurban kematian Yesus menurut Ordo Melkisedek. Ia menggenapi Hukum Taurat, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur.

    Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, keduanya menganugerahkan 'Jalan perdamaian' menurut Ordo Melkisedek. Yang terdahulu adalah jalan penebusan menurut Firman Allah dalam ibadah Hukum Taurat, sedangkan dalam Perjanjian Baru, ‛Jalan Mezbah’ oleh Yeshua telah menganugerahkan "Jalan" kepada semua bangsa di dunia, supaya mereka dapat beribadah secara roh kepada Roh Allah. "Jalan" itu sesuai dengan pekerjaan Roh Allah (lihat Lukas 24:44). Yang terdahulu adalah kuk ibadah menurut Hukum Taurat, sedangkan jalan ibadah roh melalui Kristus adalah kuk ibadah 'roh' yang ringan dan tidak memberi beban.

    "Firman" yang tertulis tentang keselamatan umat manusia yang terluka—yaitu seluruh Hukum Taurat, seluruh kitab nabi-nabi, dan seluruh lirik lagu pujian dalam kitab Mazmur—telah dilaksanakan dan digenapi oleh pribadi Sang Juruselamat, "Firman yang telah menjadi manusia." Rasul Yohanes bersaksi bahwa Yeshua adalah sosok yang "...nama-Nya ialah: 'Firman Allah'" (Wahyu 19:13).

    Yeshua menganugerahkan Jalan, Pintu, dan Kunci, supaya setiap orang yang namanya tertulis di dalam Kitab Kehidupan dapat mengikuti Jalan, Pintu, dan Kunci tersebut. Dengan demikian, mereka dapat menjadi pelaku Firman Allah (the doers of the Word of God) dengan mengikuti jejak Sang Anak Sulung, yaitu Kristus, yang melakukan Firman secara seratus persen.

    Para pelaku Firman hanya akan memperoleh kemenangan dalam melakukan Firman-Nya apabila ada kekuatan yang diberikan oleh ketujuh Roh Kudus. Dengan kata lain, hal ini juga disebut sebagai memiliki hikmat, pengertian, dan pengetahuan dalam melakukan kehendak Tuhan. Dalam bahasa yang sederhana, kehidupan kekal berarti mengenal Yang Mahakudus. Mengenal Yang Mahakudus adalah suatu hal yang mustahil tanpa adanya anugerah ketujuh karunia Roh Kudus.

    Setelah 'Jalan' ibadah secara roh selesai dikerjakan oleh Anak Manusia, Bapa di sorga mengutus Roh Kudus untuk memberikan 'berkat', yaitu ketujuh karunia Roh Allah. Melalui hadirat Roh Kudus pada pusat roh umat Allah, Ia memberikan Roh pengertian. Sebab, mengenal Yang Mahakudus merupakan pekerjaan dari karunia 'Roh pengertian' di dalam pribadi Roh Kudus.

Hikmat Raja Salomo dan penjelasannya mengenai "takut akan TUHAN."

"1 Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, 3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, 4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah." (Amsal 2:1–5).

 

Manusia-Ilahi (Yesus) dan Adam (asal-usul manusia)

 

    Manusia sejati yang memiliki "takut akan TUHAN" adalah Yesus Kristus. Dia bergantung penuh pada kehendak Roh Bapa dalam melaksanakan misi sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." Pengertian dan pengenalan Yesus akan Allah Bapa adalah penuh dan sempurna. Supaya Ia dapat melaksanakan kehendak Bapa dengan mudah, maka roh-Nya beroperasi dalam kepenuhan ketujuh karunia tersebut, termasuk karunia "takut akan TUHAN."

    Yesus, Sang Anak Manusia, memiliki daging (otak manusiawi), tetapi Ia hidup, mendengar, dan melakukan kehendak Roh Allah Bapa secara seratus persen. YHVH memberikan pesan kepada Yesaya: "...ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN..." (Yesaya 11:3). Yesus penuh dengan rasa "takut akan TUHAN", yaitu suatu kebergantungan total (total dependency). Dia adalah manusia rohani sejati yang pusat kesadarannya (consciousness) adalah 'roh'. Sebaliknya, pusat kesadaran manusia yang 'terluka' adalah otak (daging).

    Sebelum jatuh ke dalam dosa, pusat kesadaran Adam secara dominan berpusat pada rohnya. Pada mulanya, ia adalah manusia rohani (spiritual man). Oleh karena itu, ia dapat berkomunikasi dengan mudah dengan Roh Allah yang Mahakudus. Setelah berdosa, pusat kesadaran dominannya berangsur-angsur berubah dari 'roh' menjadi 'otak', yang mengandalkan lima panca indra. Hal ini menjelaskan mengapa Allah sengaja membuat bunyi seolah-olah Ia sedang berjalan di taman Eden, yaitu setelah Adam dan Hawa memutuskan untuk hidup mandiri (independent) dengan melanggar hukum Eden; mereka telah memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (pohon otak). Padahal, mereka seharusnya hanya memakan buah dari pohon kehidupan (the tree of life—hikmat), apabila mereka ingin tetap berada dalam persekutuan dengan Roh Allah dan layak untuk tinggal di Eden.

    "Ketujuh karunia Roh Ilahi Kristus bekerja atas roh manusia, agar roh manusia yang tidak suci (berdosa/"terluka") dapat berdamai kembali melalui 'Jalan', dan menerima kembali anugerah kehidupan yang penuh."

    Adam yang berdosa (terpisah) mulai mengalami perubahan pada pusat kesadaran dominannya; dari berpusat pada rohnya menjadi berpusat pada otak. Ia mulai kehilangan kepekaan akan hadirat Roh Kudus Allah. Perasaan 'takut' mulai menguasai mereka. Allah sengaja membuat bunyi seolah-olah Ia sedang berjalan sambil memanggil-manggil nama Adam. Mereka 'takut' mendengar 'hadirat' Tuhan. Namun, pastilah Allah telah mengampuni kesalahan Adam dan Hawa di Eden, meskipun mereka tidak lagi layak tinggal di sana. Pintu Eden telah tertutup bagi mereka, walaupun kelak Allah membuka pintu hadirat-Nya di bumi melalui ajaran mezbah atau 'jalan mezbah'.

    Sejak saat itu, setiap orang yang dipanggil nama-nya akan diberikan hikmat oleh Allah untuk mengenali "jalan", kembali kepada "kesadaran" rohnya. Hal ini bertujuan agar manusia mengenali kembali realitas keberadaan Allah, yakni komunikasi dengan Roh Allah melalui 'roh doa' (the spirit of prayer). Adam bukanlah kehilangan "kesadaran rohnya," namun kekuatan kesadaran itu telah berubah karena dosa.

    Adam dan Hawa kehilangan kelayakan untuk terus tinggal di Eden. Namun, mereka mengenali Allah dengan jauh lebih hebat dan akrab dibandingkan dengan kita atau keturunan Adam lainnya, karena mereka pernah tinggal di Eden/Firdaus. Mereka hanya dilarang untuk terus menetap di Eden. Allah masih memanggil setiap orang (He called each one of us by name!). Panggilan itu terdiri dari panggilan umum (general calling—beribadah secara roh kepada Allah) dan panggilan khusus (specific calling)! Operasi Roh Allah yang khusus ini mengembalikan kesadaran kebergantungan (dependency) kepada Allah sebagai Sumber kehidupan kekal. Sebagaimana bergantungnya kehidupan jasmani pada uang, maka demikian pulalah karunia Roh Allah yang diwahyukan sebagai "takut akan TUHAN"; hal itu mendorong manusia yang "terluka" menuju "jalan" Allah untuk menerima berkat penebusan dan keselamatan.

    Raja Salomo mengumpamakan permulaan hikmat—yaitu karunia "takut akan TUHAN"—seperti kebergantungan kehidupan jasmani yang membutuhkan kebutuhan asas, yaitu uang dan harta. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah Bapa setiap hari agar Ia menganugerahkan "karunia takut akan TUHAN", yaitu kunci roh Allah sebagai dasar kehidupan rohani. Yesus memperlihatkan kesempurnaan kebergantungan-Nya pada Allah Bapa dalam mengerjakan kehendak Bapa, dan hal ini disebabkan oleh beroperasinya rasa "takut akan TUHAN" di dalam diri-Nya.

    Ada banyak 'jalan' kehidupan roh (agama) di dunia ini, namun Daud bersaksi melalui nyanyiannya: "Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya" (Mazmur 25:12). YHVH memberikan 'jalan' perdamaian menurut ajaran Hukum Taurat. Hukum Taurat mengajarkan bahwa berkat penebusan dan keselamatan tidak akan mengalir turun kepada umat-Nya sekiranya 'mezbah' belum diselesaikan menurut Firman-Nya. Yeshua datang untuk menyempurnakan pekerjaan Roh dalam Hukum Taurat (lihat Lukas 24:44). Kristus bersabda: "Akulah jalan..." (Yohanes 14:6). Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).

    Yesus telah dicobai Iblis setelah berpuasa selama 40 hari 40 malam. Sekiranya Yesus kalah terhadap tipu muslihat dan bujukan Setan serta tunduk pada kesadaran otak, maka sudah tentulah Ia akan menikah, bekerja, berbisnis, berperang, atau menjadi raja dunia. Akan tetapi, tubuh jasmani-Nya tunduk kepada Roh (otak manusiawi-Nya tidak 'terpisah' dari kesadaran Roh). Otak Yeshua senantiasa terhubung (linked) dengan roh-Nya, dan Roh Yeshua senantiasa 'satu' dengan Roh Bapa di sorga. Oleh karena itu, Yeshua senantiasa sadar dan tanggap akan realitas alam roh. Kekuatan Roh Yesus adalah Ilahi (Mighty God), karena roh-Nya sepenuhnya Ilahi, dari Alpha dan Omega. Pusat kesadaran-Nya adalah Roh, dan otak-Nya senantiasa dapat berkomunikasi dengan Roh dan alam roh; Yesus adalah manusia rohani sejati (true spiritual man).

    Roh Tujuh Karunia adalah Kristus: Messiah

    Yesaya menjelaskan Roh yang ada pada Yesus menurut nubuat dalam kitab Yesaya 11:2–4 dengan merinci ketujuh karunia Roh Kudus. Pada hakikatnya, karunia Roh Kudus bersifat tak terbatas (infinite), namun Allah menjelaskannya berdasarkan nubuat bahwa pada Kristus terdapat tujuh karunia Roh, tetapi semuanya adalah satu. Pernyataan tersebut merupakan suatu konsistensi (consistency) dari Roh nubuat.

    "Takut akan TUHAN" adalah salah satu dari ketujuh pilar karunia Roh yang dianugerahkan kepada manusia yang "terluka" agar ia dilahirkan kembali, serta bertumbuh dan memahami bagaimana karunia-karunia Roh Kristus tersebut bekerja/beroperasi dalam menggenapi Firman. Ketujuh karunia Roh itu beroperasi untuk 'menerangi' mereka yang berjalan dalam ziarah iman.

 

Manusia dan karunia "takut akan Tuhan:"

 

    Tetapi, oleh karena Yesus adalah Tuhan, maka adalah lebih praktis bagi kita untuk belajar dan menyelami inti sari "takut akan TUHAN" dari perspektif rohani seorang percaya, yaitu manusia "terluka" yang normal dan senantiasa berdosa seperti Raja Daud. Sewaktu hidupnya, Raja Daud mempunyai delapan istri, dan tentu saja sebagai raja ia mampu menambah jumlah gundiknya kapan saja. Namun, Daud bersaksi: "Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya" (Mazmur 25:12). Raja Daud juga menjelaskan bahwa "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka" (Mazmur 25:14).

    Allah bekerja (menebus dan menyelamatkan) melalui perjanjian-perjanjian dan juga melalui nama-Nya yang tidak berubah (immutable names of God), seperti penyataan dalam Keluaran 34:5–7. Ia bekerja menurut Firman-Nya. Keterangan bahwa "...nama-Nya ialah: 'Firman Allah'" berarti pekerjaan atau karya-Nya adalah menurut Firman-Nya sendiri. Daud bernyanyi: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya" (Mazmur 111:10).

    Dalam hubungan dengan Roh Allah, urusan menghakimi dengan benar berarti mendengar suara Roh Allah terlebih dahulu sebelum membuat penilaian tentang suatu perkara rohani. Jika dilihat dari moralitas menurut penghakiman pikiran manusia yang cenderung menghakimi, Raja Daud bukanlah sosok yang ideal atau sempurna sebagai 'orang benar' maupun sebagai "mulut" Allah, namun ia diberikan "anugerah Firman." Daud yang dipilih Allah amat responsif terhadap anugerah "takut akan TUHAN." Yesus bersabda bahwa lirik-lirik Mazmur adalah Firman yang harus Ia genapi (Lukas 24:44); sebagian besar lirik lagu nyanyian dalam Kitab Mazmur adalah Firman dari Roh Allah yang terjalin dengan lirik karangan para nabi, termasuk hasil karya Raja Daud.

    Anugerah "Firman" membuat segala sesuatu tidak ada yang mustahil bagi Raja Daud, dan takhtanya terus diteguhkan oleh Firman. Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu: "Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu." Firman itu bersuara: "Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus, maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia" (Mazmur 89:20–22).

    Daud memberitahukan dalam lirik nyanyiannya: "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105). Daud mempunyai hubungan yang intim secara "Roh dan roh" (deep calls to deep) dengan Roh Pencipta, yaitu YHVH. Maka, ia bersaksi tentang mereka yang diurapi: "Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!" (Mazmur 107:19–22).

    Daud memastikan agar penerus takhtanya menimba pengalaman hikmat, pengertian, dan pengetahuan dalam rasa "takut akan TUHAN." Namun anaknya, Raja Salomo, turut mewarisi praktik poligami ayahnya, bahkan nafsunya berlipat ganda dibandingkan ayahnya; tercatat bahwa Salomo mempunyai 700 istri dan 300 gundik (1 Raja-raja 11:3). Walaupun demikian, Salomo turut bersaksi seperti ayahnya, Daud: "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan" (Amsal 1:7).

    Salomo mengumpamakan karunia "takut akan TUHAN" sebagai suatu dorongan hidup yang kuat, sebagaimana kita didorong dalam mencari uang atau mengejar harta kehidupan: "...jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah" (Amsal 2:4–5). Namun, "dorongan karena kesadaran" roh itu hanyalah permulaan dan harus berkesinambungan. Jikalau kita melihat bahwa mengenal Allah adalah "Sumber" kehidupan yang "memperkaya" kehidupan rohani, maka tentu saja kita akan bermotivasi positif dalam "takut akan TUHAN."

    Karunia "takut akan TUHAN" yang aktif bekerja dalam roh seseorang akan memampukan orang percaya mengerti perumpamaan Yesus tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya, serta memungkinkan ia berkata dari isi hatinya yang terdalam bahwa tanpa Kristus ia tidak dapat berbuat apa-apa berhubungan dengan pekerjaan atau kehendak Roh Allah (Firman): "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Raja Daud yang dianugerahi rasa "takut akan TUHAN" berkata dalam Mazmur 16:2: "Aku berkata kepada TUHAN: 'Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagi-Ku selain Engkau!'" Meskipun Daud beristri delapan, karunia roh "takut akan TUHAN" setia bekerja dalam roh Raja Daud. Oleh karena itu, roh Daud memang penurut, tetapi seperti kita, tubuh jasmaninya (yang berpusat pada intelek/otak) memang lemah; tubuh jasmani memang senantiasa berdosa. Maka, Daud berpaut kepada kesetiaan Allah, bukan sebaliknya. Kita mengejarnya seperti mencari uang bukanlah karena kita setia, melainkan karena roh kita didorong oleh anugerah karunia "takut akan TUHAN."

    Nabi Yesaya, mulut Allah yang dipanggil ketika Raja Uzzia mangkat, bernubuat bahwa "takut akan TUHAN" adalah anugerah/karunia Roh Allah, karena itu merupakan salah satu dari tujuh manifestasi Roh Raja Damai yang dinubuatkan akan digenapi pada waktu yang ditetapkan di masa depan: "2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; 3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. 4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik" (Yesaya 11:2–4).

    Setelah lebih dari 700 tahun sejak tanggal nubuat yang diberikan Allah kepada Yesaya, ketika Raja Damai datang sebagai "Firman yang menjadi daging," Ia (Kristus) bersabda: "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yohanes 17:3). Kristus adalah Hikmat. Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa diberitakan oleh Rasul Paulus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (gentiles): "2...supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, 3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:2–3).

"Hikmat" itu adalah Kristus, dan Kristus itu adalah "Firman". Ketujuh Roh, ketujuh karunia itu adalah Roh Kristus: Firman. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10).

    "...dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah'" (Wahyu 19:13). Pekerjaan atau misi-Nya ialah Firman/Tuhan. Dalam nubuat, "nama" berarti karya Ilahi/misi (divine handiworks/mission). Karya Tuhan bekerja/beroperasi secara tujuh kelipatan (sevenfold). Oleh karena itu, Kristus, Roh Kudus, dan Allah Bapa adalah tujuh kelipatan; karya mereka baik dalam penciptaan, pendamaian, maupun dalam penghakiman dan penghukuman adalah dalam kelipatan tujuh, yaitu berdasarkan operasi tujuh karunia asas/pilar Roh. Yesus Kristus sebagai Hakim adalah Allah: tujuh mata, tujuh tanduk, dan tujuh Roh.

    Menurut Roh, "nama" yang dinyatakan (revealed) oleh Surgawi berarti 'pekerjaan Ilahi' (Divine Handiwork). "...nama-Nya ialah: 'Firman Allah". Jika tidak ada Firman yang dianugerahkan kepada manusia, tidak ada manusia yang mengetahui pekerjaan Roh Allah. Firman itu telah dibaluti daging: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" (Yohanes 1:14). Pekerjaan manusia secara jelas dinubuatkan dengan ungkapan profetis: makan dan minum, menikah dan mengawinkan, membuat batu bata, serta 'membeli atau menjual'. Jadi, pekerjaan manusia tanpa percaya kepada Allah amat jauh berbeza/berbeda dengan pekerjaan (handiwork) Roh Allah Pencipta!

    Mengapa pula "Firman" harus menjadi manusia? Karena Allah Bapa bekerja menganugerahkan "Jalan" menurut Firman (Lukas 24:44), supaya umat manusia yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan mendapat anugerah kehidupan kekal. Pekerjaan Roh Allah adalah mengutus "nama-Nya" dalam pribadi Kristus. "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17). "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna" (Yohanes 6:63). Maksudnya, daging (pikiran manusiwi) tidak digunakan untuk melakukan pekerjaan Roh, sehingga daging perlu dikesampingkan dalam mengerjakan pekerjaan Roh. "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63). "...dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah" (Wahyu 19:13).

    "Allah itu Roh..." (Yohanes 4:24). Firman adalah Karya (handiworks) Roh Allah. Pekerjaan manusia, sebaliknya, adalah daging yang berpusat pada 'otak/intelek'. Pada mulanya, manusia diciptakan dengan pusat kesadaran pada rohnya. Kemudian, ketika manusia berdosa, ia membawa seluruh keturunannya kepada kesadaran (consciousness) yang berpusat pada 'otak'. Terpisahnya kesadaran roh manusia dari hadirat Roh Mahakudus Allah memperlihatkan perubahan pusat kesadaran kehidupan. Meskipun masyarakat dahulu kala dikatakan dekat dengan 'kesadaran' alam roh, itu bukanlah kesadaran akan realitas Roh Allah. Tidak ada "Jalan" menuju realitas Roh Allah melainkan Kristus.

    Namun, sesungguhnya ada banyak jalan bagi alam roh; pada zaman Nuh, hanya Nuh yang 'berjalan' mengikuti 'jalan' Allah, sedangkan orang-orang seangkatan dengannya hidup menurut jalan-jalan mereka sendiri. Demikian juga halnya dengan kehidupan Henokh. Setelah Henokh berumur 65 tahun dan memperanakkan Metusalah, "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan" (Kejadian 5:22). Henokh bergaul dengan Allah karena Allah menganugerahkan "jalan" kepadanya, yaitu "Firman".

    "Firman" adalah Roh karena berasal dari Roh Allah. Setiap Firman yang keluar dari "mulut-Nya" disertai oleh malaikat-malaikat kudus untuk melaksanakan kehendak Allah sesuai dengan maksud Firman itu. Mazmur Daud memberi kita ilham dan pengertian: "Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melakukan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya" (Mazmur 103:20). "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63). Dalam setiap Firman yang diucapkan Tuhan, selalu ada malaikat-malaikat pelayan yang ditugaskan untuk menggenapi/melaksanakan Firman tersebut!

    Perkataan manusia bukanlah roh karena berasal dari otak manusia (daging), dan tidak ada roh yang melaksanakan perkataan manusia kecuali jampi serapah. Jampi serapah ahli sihir memang melibatkan roh, tetapi roh itu bukan berasal dari malaikat-malaikat-Nya. Yohanes memulai Injilnya dengan kata-kata pembuka: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1). Oleh karena itu, Firman hanya akan menjadi "pedang Roh" apabila dipakai oleh Roh Kudus. Jika Firman dipakai oleh otak/intelek semata, Firman tidak memiliki kuasa untuk menjadi "pedang Roh", melainkan sekadar transaksi intelek. Orang percaya yang "sumbu rohnya" (spiritual heart) senantiasa diurapi oleh hadirat Roh Kudus akan mendengar suara Roh terlebih dahulu mengenai penggunaan Firman yang tertulis dalam Kitab Suci. Jika otak yang memegang atau menggunakan Firman, hal itu tidak menyembuhkan, melainkan sekadar daya tarik intelektual (intellectual fascination).

    Roh Kudus adalah Roh Allah Bapa yang bekerja di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Anak adalah Roh yang dibaluti daging, karena Roh tidak dapat menjadi Anak Domba Allah tanpa tubuh daging. Maka, Roh mengambil tubuh manusia agar Ia memiliki daging dan darah untuk menggenapi penumpahan darah (penebusan umat manusia yang terluka), serta agar Firman menurut Lukas 24:44 dapat digenapi. Maria dipilih untuk menyediakan tubuh jasmani, tetapi Roh Kudus yang menjadi Roh-Nya; nama-Nya ialah Yesus Kristus: Mesias/Almasih. Oleh karena itu, "Anak Manusia" merujuk pada kemanusiaan-Nya, dan "Anak Allah yang Mahatinggi" merujuk pada keilahian-Nya—Roh-Nya. Naungan Bapa di bumi yang memberdayakan umat-Nya disebut Roh Kudus. Bapa ada di sorga. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Satu Roh.

    "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang" (Yohanes 16:13).

    Mereka yang diberikan anugerah "takut akan TUHAN" akan mengenal Allah. Keseluruhan anugerah ada pada Kristus (Raja Damai). Maka, Kristus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Rasul Paulus, yang dianugerahi rasa "takut akan TUHAN" oleh Allah, meluahkan keinginannya untuk mengenal-Nya lebih dalam. Ia berkata: "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Filipi 1:21). Ketika Yesus masih di bumi, Dia bersabda: "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (Yohanes 15:14). "Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain" (Yohanes 15:17). Hakikat kehidupan yang dibaluti daging memang amat sukar untuk mengasihi, karena roh penurut tetapi daging (pikiran manusiawi) lemah!

    Doa Raja Daud berbunyi: "TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!" (Mazmur 29:11). Kekuatan datang hanya dari urapan hadirat Roh Kudus yang dijanjikan untuk menggenapi dan meneruskan realitas 'Immanuel'. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Timotius 1:7). Utusan surgawi juga memberikan kekuatan selain Roh Kudus, seperti malaikat-malaikat: "Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya" (Lukas 22:43).

    Nabi Daniel diberikan kekuatan oleh malaikat Tuhan: "Ketika dikatakannya hal ini kepadaku, kutundukkan mukaku ke tanah dan aku terkelu. Tetapi sesuatu yang menyerupai manusia menyentuh bibirku; lalu kubuka mulutku dan mulai berbicara, kataku kepada yang berdiri di depanku itu: 'Tuanku, oleh sebab penglihatan itu aku ditimpa kesakitan, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. Masakan aku, hamba tuanku ini dapat berbicara dengan tuanku! Bukankah tidak ada lagi kekuatan padaku dan tidak ada lagi nafas padaku?' Lalu dia yang rupanya seperti manusia itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan, dan berkata: 'Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!' Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan berkata: 'Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan'" (Daniel 10:15–19).

    Untuk apakah kekuatan itu? Supaya kita dapat melaksanakan ibadah menurut "Doa Bapa Kami". Kehendak Roh Bapa ringkasnya dinyatakan di setiap baris "Firman" dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami kelihatan sederhana, namun untuk melaksanakan setiap maksud yang ada dalam doa itu, kita memerlukan kekuatan Roh Allah. Bukankah kita memerlukan kekuatan untuk memuliakan Allah? Bukankah kita memerlukan kekuatan Roh supaya kita dapat 'makan' Firman dengan sempurna? Kita memerlukan kekuatan supaya kita dapat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita memerlukan kekuatan-Nya untuk mengaminkan semua kehendak-Nya, dan juga supaya orang yang dianugerahi "takut akan TUHAN" dapat meneruskan perjalanan iman, meskipun 'seolah-olah' ia sedang berjalan dalam kegelapan. Kegelapan itu secara singkat berarti tidak ada suara Tuhan, sehingga doa terasa satu arah. Bagi kebanyakan orang percaya, kegelapan dapat berarti ketiadaan tanda-tanda berkat dari Allah. Pandangan radikal melihat "kegelapan" sebagai ketiadaan Roh Kudus yang turun menganugerahkan hadirat-Nya, atau tidak ada cahaya yang bersinar di atas kepala.

    Ayub bersaksi tentang hadirat Roh Terang dengan berkata: "...ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap" (Ayub 29:3). Orang percaya yang seolah-olah tidak mengalami hadirat Roh Kudus juga dikatakan berjalan dalam gelap: "Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya!" (Yesaya 50:10). Misi Raja Damai menjadi daging adalah sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia". Bapa menganugerahkan Yesus sebagai 'Jalan' (Yohanes 14:6) untuk mengenal Roh Allah, dan orang-orang percaya dipanggil sebagai "pengikut Jalan" (followers of the Way). Yesus Kristus adalah "Jalan" untuk memohon "karunia takut akan TUHAN".

    Yesus bersabda: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: 'Berilah Aku minum!', niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup" (Yohanes 4:10). Karunia Roh itu datang dan pergi, sebagaimana urapan Roh itu turun dan berlalu. Oleh karena karunia adalah operasi pribadi Roh Kudus dan tidak tinggal secara permanen dalam roh manusia, karunia tersebut tertakluk/tergantung pada keadaan "bait" (roh) orang percaya. Karunia bekerja setiap kali ia turun atas sumbu roh manusia. Oleh karena itu, karunia harus "dikejar" seperti mencari uang, dan karunia itu perlu dipohon dari Allah Bapa sepanjang hayat kita dalam perjalanan iman. "Kebergantungan hidup pada Pencipta" adalah "buah/hasil" yang muncul dalam roh orang percaya karena operasi karunia "takut akan TUHAN"; pada akhirnya, ia akan benar-benar menjadi ranting, dan Kristus adalah pokoknya. Ranting hidup (dependency) juga sinonim dengan frasa "the fear of the Lord". Oleh sebab itu, 'independensi' atau 'kehidupan yang tidak bergantung' pada Roh Allah (Firman) dapat diungkapkan dengan frasa "tidak takut akan TUHAN". Namun, di atas semuanya, kemenangan bukanlah karena kesetiaan manusia, melainkan karena kesetiaan hati Allah. Jika demikian, tidak ada yang dapat dimegahkan dalam kehidupan kerohanian melainkan mengucap syukur dan mempersembahkan korban syukur, karena Allahlah yang benar-benar setia dalam segala Firman-Nya.

    Maka, kesimpulan ringkas perihal "takut akan TUHAN" menurut lirik lagu Raja Daud adalah: "Carilah TUHAN" (mencari karena didorong oleh anugerah "takut akan TUHAN") "dan kekuatan-Nya" (kekuatan dari Roh Allah), "carilah wajah-Nya" (hadirat-Nya) "selalu!" (Mazmur 105:4). Mencari Allah adalah 'bisnis' yang suci. Tanpa pekerjaan Bapa yang dinyatakan oleh Kristus, sia-sialah pencarian itu. Mereka yang "lapar" akan Allah harus mengikuti 'Jalan', melalui 'Pintu', dan memegang 'Kunci' menuju hadirat Roh Kudus, yaitu Kristus (Yohanes 14:6; Yohanes 10:1–9; Matius 5:8).

    Misi dan operasi ketujuh karunia Roh Allah dialah yang memimpin seorang manusia yang "terluka" sehingga ia percaya (100% percaya) kepada "Firman". Kristus adalah kepenuhan hikmat Ilahi. Raja Salomo bersaksi: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10). Roh manusia yang "terluka" tidak akan mampu merindukan Firman jika tidak ada anugerah karunia "takut akan TUHAN" yang menyentuh rohnya. Oleh karena itu, hal ini menjawab pertanyaan dasar: bagaimana mungkin manusia yang kesadarannya (consciousness) "berpusat pada otak" dapat mengatakan bahwa Firman (Roh Allah) adalah Sumber hidupnya?

    Raja Salomo membagikan kesaksiannya: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10). "Takut akan TUHAN" itu ibarat mengejar harta terpendam, demikian ujar Raja Salomo. Yesaya bernubuat bahwa "takut akan TUHAN" adalah harta Tubuh Kristus (profetis Sion): "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion" (Yesaya 33:6).

    Tidak ada intelek manusia "terluka" yang dapat mengenal Roh Allah, melainkan melalui anugerah Roh Allah (Firman) yang bekerja/berkarya menurut operasi ketujuh karunia Roh Kudus di dalam roh manusia. Rasa "takut akan TUHAN" menjadikan manusia yang terluka akhirnya mengerti maksud asal penciptaan manusia rohani (blueprint/design yang semula), yaitu sepatutnya bergantung penuh kepada Sang Pencipta. Hal ini sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus sewaktu misi-Nya dalam daging, yang bergantung secara total kepada kehendak-kehendak Allah Bapa.

    Kehidupan 'ranting' ada karena ia bergantung penuh kepada 'Pokok'; roh manusia hanya dapat diumpamakan sebagai ranting apabila ada karunia "takut akan Allah" yang beroperasi di dalam roh manusia. Tidak mengherankan jika Raja Salomo mengumpamakannya seperti mencari uang (perak) atau mengejar harta, karena kehidupan yang berpusat pada 'otak' sesungguhnya 'bergantung' pada uang/harta. Maka, kebergantungan (dependency) itu hanya dimungkinkan dalam kehidupan kerohanian seseorang apabila operasi Karunia tersebut dianugerahkan oleh Roh Kudus. "Ya!... Di luar Kristus, aku tidak dapat berbuat apa-apa!" kata seorang manusia rohani (hal ini bukanlah ketiadaan kapasitas intelektual, melainkan ketiadaan kemampuan pada roh manusia itu sendiri). Oleh karena itu, roh manusia yang tidak memiliki kebergantungan (dependency) kepada Roh Allah dapat pula diungkapkan dengan frasa tidak "takut akan TUHAN". Amin.

Glosarium

  • Manusia "Terluka" ~ Keturunan Adam yang berdosa. Pusat kesadarannya (consciousness) dominan menjurus pada kapasitas intelek dan aktivitas sistem sarafnya, yaitu kebergantungan pada keinginan daging. Oleh karena itu, manusia "terluka" menafsirkan arti hidup dengan kekuatan pikirannya. Manusia "terluka" membutuhkan Yeshua untuk menerima berkat penyembuhan atas luka-luka hidupnya. Dosa adalah rekaman (informasi) di dalam roh seseorang dan rekaman dosa itu merupakan penyakit roh, sebagaimana pertumbuhan kanker pada tubuh jasmani. Penyakit itu perlu dihapuskan demi penyembuhan roh. Oleh bilur-bilur-Nya (Anak Domba Allah), kita disembuhkan!
  • Manusia yang Tidak "Terluka" ~ Roh Adam adalah suci sebelum ia jatuh ke dalam dusta Satan, hingga kuasa dosa mulai mengubah hidupnya. Sebelum jatuh ke dalam kuasa dosa, ia belum 'terluka", sehingga ia masih layak tinggal di Taman Eden/Firdaus. Ada satu lagi Manusia yang tidak 'terluka', yaitu Adam yang kedua, yakni Kristus. Roh-Nya adalah Ilahi, yaitu Yesus Kristus (lihat identitas Kristus dalam Yesaya 9:5 dan Yesaya 11). Pusat kesadaran-Nya (consciousness) dominan berpusat pada roh-Nya. Kedua-duanya adalah manusia rohani sejati, namun Roh Yesus adalah Ilahi, sedangkan roh Adam yang pertama adalah 'roh manusia yang suci' sebelum ia jatuh ke dalam dosa.

Adam yang pertama memang suci, tetapi tidak dianugerahi ketujuh karunia Roh karena ia bukanlah Roh Ilahi—kecuali apabila Roh Kudus turun atasnya, sehingga ia menjadi seumpama Kristus. Namun, roh Adam yang pertama bukanlah Roh Ilahi, sedangkan Roh Kristus adalah Ilahi (divine) [lihat Yesaya 9:5]. Jika diperbolehkan membuat perumpamaan, Roh Kristus itu seperti pedang, sedangkan roh Adam sekadar sarung pedang. Memang roh manusia diciptakan untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, sebagaimana hubungan antara pedang dan sarung pedang! Roh dari 'Manusia-Yesus' adalah kepenuhan ketujuh karunia karena Roh-Nya, dari Alfa sampai Omega, adalah Ilahi. Kebergantungan hidup pada Roh Allah adalah pesan dari Pohon Kehidupan. Oleh karena itu, mereka yang dianugerahi rasa "takut akan TUHAN" dibimbing oleh Roh sehingga memiliki hubungan seperti perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya, yaitu suatu kebergantungan rohani (spiritual dependency).

  • Luka-luka ~ Melalui bilur-bilur-Nya sebagai Anak Domba Allah, Raja Daud menyanyikan lirik profetis: "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka" (Mazmur 147:3).

 

Ketujuh Karunia Roh Kudus

(Ayat 1) Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.(Ayat 2) Roh TUHAN akan ada padanya, yaitu [1] roh hikmat dan [2] (roh) pengertian, [3] roh nasihat dan [4] (roh) keperkasaan, [5] roh pengenalan dan [6] (roh) takut akan TUHAN; (Ayat 3) ya, kesenangannya [7] (sukacitanya) ialah takut akan TUHAN.

(Yesaya 11:1–3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiada ulasan: