Selasa, 9 Januari 2018

Rahasia mengenai rekod dosa dalam roh kita


Luka pada tubuh roh: dosa-dosa

    Di manakah 'catatan' dosa-dosa itu disimpan? Apakah 'catatan' dosa itu dan bagaimanakah kuasa pengampunan Allah dapat menghapuskan dosa-dosa tersebut? Apakah yang akan terjadi atas roh manusia apabila 'catatan dosa' itu dihapuskan? Perbuatan-perbuatan yang megenapi Firman diumpamakan seperti mikrobioma (bakteri baik) yang berguna bagi tubuh kita, sedangkan perbuatan-perbuatan yang melanggar Firman Allah diumpamakan seperti bakteri jahat bagi tubuh kita. Oleh karena itu, pelanggaran terhadap Firman Allah mengakibatkan 'luka-luka' pada tubuh roh kita, sehingga kita perlu percaya kepada Firman yang berbunyi, "...oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh" (Yesaya 53:5c) demi kesembuhan tubuh roh kita.

"Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi." (Ayub 28:28)

"Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:21)

11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; (Yohanes 17:11-12a) 


 Tuhan itu Kasih


5 Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. 6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." (Keluaran 34:5-7)

    Perbuatan-perbuatan kita tertulis dalam roh kita masing-masing, baik perbuatan itu berupa penyempurnaan ibadah "Bapa Kami" maupun perbuatan-perbuatan dosa. Dosa-dosa tidak hanya diingat dan tersimpan dalam sel-sel memori otak, melainkan juga dicatat (atau direkam) secara luar biasa dan kompleks di dalam roh kita sendiri. Dosa-dosa atau rekaman kejahatan manusia hanya dapat dihapuskan oleh kuasa "Nama" [karya] Roh Bapa, yaitu "nama" [karya] yang diberikan kepada Roh Anak Allah Yang Mahatinggi. Kesempurnaan hikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia melibatkan kenyataan yang tidak berwujud (intangible realities—"nama" atau "karya" Bapa) dan kenyataan yang berwujud (tangible realities—"nama" [atau "karya"] Anak Allah Yang Mahatinggi di bumi).

    Pewahyuan Kebenaran "nama" [atau "karya"] Allah Bapa di sorga kepada umat manusia mencakup karya Allah di bumi melalui "nama" pribadi Anak Manusia. Hal ini menggenapi frasa "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Penglihatan rohani seperti yang dilihat oleh Nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya pasal 6 menjelaskan maksud kehendak Roh Allah atas roh Yesaya. Mezbah di sorga adalah penyataan kehendak ilahi, yaitu kehendak Kasih dan kehendak Belas Kasihan (mercy). "Nama" Bapa di sorga tidak dapat dilihat oleh pancaindra mata jasmani manusia. "Nama" Bapa atau "karya" Bapa hanya dapat dilihat oleh nabi-nabi, karena mereka telah dianugerahi karunia-karunia sehingga dapat memasuki hadirat Roh Allah, mendengar suara Firman, melihat penglihatan-penglihatan (visions), serta menerima mimpi-mimpi (dreams).

    Pemberitaan perihal "nama" atau "karya" Allah dalam Kitab Keluaran 34:5–7 adalah suara Firman Allah yang didengar oleh Nabi Musa! Oleh sebab itu, Nabi Musa mengenal "nama" Allah Bapa. Mengapa Allah memilih "ritus mezbah" sebagai cara untuk mengungkapkan kehendak-kehendak nama-Nya? Habel dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 4 sebagai manusia pertama, keturunan Adam, yang telah menuruti Firman, yaitu melaksanakan ritual firman mezbah. "Nama" TUHAN dalam Keluaran 34:5–7 berbunyi: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat."

    Kita tahu bahwa "nama" TUHAN adalah seperti yang diberitakan oleh Roh TUHAN sendiri kepada Nabi Musa dalam catatan Kitab Suci Keluaran 34:5–7. "Nama" TUHAN itu juga menjelaskan sifat-sifat ilahi yang tidak berubah (immutable). Semua kehendak Allah terbit dan mengalir dari sifat-sifat-Nya! Kehendak Allah untuk mengasihi orang-orang berdosa terbit dari sifat-Nya yang mengasihi ("God is love"). Allah itu Mahapengasih, Mahapenyayang, dan setia mengampuni dosa-dosa kita. Kehendak Allah yang mengampuni terbit dan mengalir dari sifat-sifat-Nya yang penuh belas kasihan, murah hati, dan setia. Rasul Paulus melihat hal ini melalui anugerah "roh" pengertian, dan ia diilhami oleh sifat-sifat Allah, lalu menyampaikan makna "kasih" kepada jemaat di Korintus: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu... ia tidak menyimpan kesalahan orang lain... Ia menutupi segala sesuatu... sabar menanggung segala sesuatu" (1 Korintus 13:4–8, TB). Rasul Yohanes pun menulis tentang kasih: "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:10). "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). 

    Definisi "kasih" ini diilhami oleh "nama" TUHAN yang tersingkap dari catatan Kitab Keluaran 34:5–7. Rasul Yohanes menyatakan bahwa "Kebenaran" disaksikan oleh darah, air, dan roh. Dalam ritus mezbah Kemah Suci (Tabernakel), darah adalah elemen ritus untuk upacara pentahiran dosa melalui percikan darah korban penghapus dosa. Air juga merupakan elemen dalam ritus mezbah untuk tujuan penyucian, sebagaimana percikan darah—yang harus dilaksanakan menurut firman ritus—dipercikkan pada tutup pendamaian dan pada tanduk-tanduk mezbah pada Hari Raya Pendamaian (national redemption). Dalam hal pentahiran roh Yesaya, kita membaca bahwa malaikat Serafim diutus oleh kehendak kasih untuk melaksanakan kehendak kasih, belas kasihan, dan pengampunan atas Yesaya. Oleh karena itu, mezbah mengungkapkan "nama" TUHAN dan sifat-sifat-Nya. Kita dapat memahami sifat-sifat TUHAN yang mengampuni karena jalan penebusan yang dilaksanakan melalui ritus mezbah adalah jalan untuk menyelesaikan masalah dosa. "Menebus" berarti mengampuni atau menghapuskan rekaman/catatan dosa. Jadi, "mezbah" pada hakikatnya mengungkapkan nama dan sifat-sifat Roh Allah!

Yesus Kristus adalah  Kasih Bapa yang kelihatan di bumi

    Mezbah Melkisedek di bumi, yaitu kematian Domba Allah, adalah hal yang kelihatan di bumi! Ia adalah "nama" yang diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi. Nama Bapa, seperti yang diberitakan oleh Roh YHWH dalam Keluaran 34:5–7, tidak kelihatan. Namun, "nama" yang diberikan kepada Anak Manusia kelihatan, dan nama Kristus sebagai "Domba Allah" telah disempurnakan di bumi ("It is finished"). "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa," kata Yesus. Allah Bapa sungguh ada dan nama-Nya benar, tetapi apakah jaminan bahwa Roh Bapa akan berkarya atas semua bangsa? Jawabannya ialah Mezbah Melkisedek di bumi harus dilaksanakan terlebih dahulu. Barulah berkat keselamatan Allah dapat mengalir di bumi. Upacara Melkisedek telah sempurna di bumi melalui kematian Domba Allah. Penyempurnaan mezbah di bumi itu dijelaskan dalam ucapan Yesus yang singkat: "Sudah selesai." Maka, terjaminlah Nama Bapa dan nama Anak untuk menggenapi nubuat "Immanuel" dalam urusan menabur dan menuai di sepanjang zaman Pendamaian bagi segala bangsa di dunia! Upacara Mezbah Melkisedek yang dilaksanakan hanya satu kali saja tanpa cacat cela telah menjamin bahwa Roh Allah akan menganugerahkan keselamatan kepada umat manusia di bumi. Oleh sebab itu, Yesus adalah Penjamin, Pengantara, Juruselamat, dan Penebus! Hadirat Roh Allah yang mengalir melalui curahan Pentakosta secara berkesinambungan adalah berkat yang terjamin, hasil dari Upacara Mezbah Melkisedek di bumi yang disempurnakan oleh Kristus saat Ia mengembuskan napas terakhir-Nya: "Sudah selesai!"

    Mezbah di sorga adalah pernyataan kehendak Nama Bapa, sedangkan mezbah di bumi adalah penyempurnaan "nama" yang diberikan kepada Kristus, yaitu Domba Allah yang menghapuskan dosa manusia! "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Ibadah roh atau roh doa tidak lepas dari empat elemen utama, yaitu "jalan roh," "pintu roh," "kunci roh," dan "pakaian kebenaran" (the garment of righteousness). Mengapa bapa-bapa leluhur (patriarchs) dan nabi-nabi Allah percaya kepada doa ritus mezbah sebagai "jalan roh" yang menuruti Firman Allah (Roh Allah)? Karena mereka semua adalah penerima kasih karunia Bapa di sorga. Kelak, Yesus berkata: "Akulah jalan..." Domba Allah yang mati di atas kayu salib adalah upacara ritus yang dilaksanakan menurut Imam Menurut Melkisedek. Dari zaman Habel hingga salib Kristus, mezbah itu berbicara dan menyingkapkan rahasia sifat ilahi, yaitu kasih dan belas kasihan Allah Bapa di sorga. Memahami ajaran rohani tentang mezbah berarti kita mengenal "nama" Bapa di sorga. Nabi Yesaya telah bersaksi bahwa ia melihat asal usul mezbah tersebut.

    "Nama" Bapa antara lain diungkapkan kepada Nabi Musa sebagai "berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" seperti pemberitaan TUHAN dalam Kitab Keluaran 34:5–7. "Nama" Allah memang tidak dapat kita lihat, namun nabi-nabi bersaksi bahwa mereka telah melihat "nama" Allah Bapa. Mezbah adalah hal yang kelihatan dan dapat ditangkap oleh akal budi (intelek). Maka, "jalan" ibadah roh yang dapat dilihat oleh mata jasmani manusia adalah upacara "Mezbah di bumi." Mezbah yang dilihat Nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya pasal 6 adalah penglihatan akan Mezbah Surgawi.

    Apakah arti dan maksud diperlihatkannya Mezbah Sorga kepada Yesaya? Yesaya melihat mezbah surgawi berarti ia telah melihat nama Bapa dan melihat nama yang diberikan kepada Sang Mesias. Mezbah itu berbicara tentang sifat-sifat Roh Allah. Dari sifat-sifat ilahi itulah mengalir karya Allah, atau singkatnya disebut "nama" Allah. Sifat-sifat Roh Allah tidak dapat dipisahkan dari "nama" Allah. Sifat dan nama Allah menyatu sebagai satu Roh! "Nama" Allah mengalir dari sifat-sifat-Nya. Karya tangan-Nya mengalir dari sifat-sifat kekal-Nya (His handiworks flow from His eternal attributes). Semuanya terpadu secara kekal dan tidak dapat dipisahkan.

    Sebelum Yesaya menerima kasih karunia, yaitu ketika ia melihat kemuliaan Bapa, Yesaya berkata: "Celakalah aku!" yang berarti "matilah aku kali ini." Tidak ada seorang pun yang dapat tetap hidup setelah melihat kemuliaan Hakim di sorga! Namun, Allah menganugerahkan kehendak kasih dan belas kasihan kepada Yesaya dengan memperlihatkan penglihatan mezbah di sorga. Kasih dan belas kasihan adalah kehendak nama Bapa di sorga. Penglihatan mezbah yang diterima oleh Yesaya berarti Yesaya telah melihat kehendak kasih dan belas kasihan. Jadi, mezbah adalah kehendak Nama Allah. Catatan Kitab Suci menyebutkan bahwa Habel mendirikan mezbah, demikian pula para bapa leluhur lainnya dan seluruh nabi. 

    Sebelum Yesaya menerima kasih karunia, ia berkata: "Celakalah aku," yang dapat diartikan: "matilah aku kali ini." Namun, Allah telah menganugerahkan kehendak kasih dan belas kasihan kepada Yesaya dengan memperlihatkan penglihatan mezbah di sorga. Kasih dan belas kasihan adalah nama Bapa di sorga. Maka, melihat penglihatan Mezbah Surgawi berarti melihat kehendak kasih dan belas kasihan Allah. Penglihatan mezbah yang diterima oleh Yesaya adalah penglihatan akan kehendak kasih dan belas kasihan Bapa di sorga! Yesaya telah melihat kasih karunia! Malaikat Serafim turun kepada roh Yesaya untuk melaksanakan kehendak kasih dan belas kasihan (nama Bapa). Malaikat Serafim sebagai utusan kehendak belas kasihan dan kasih Bapa sorgawi turun membawa kuasa mezbah, yaitu menghapuskan dosa-dosa Yesaya. Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi adalah anugerah kasih dan belas kasihan Bapa, atau singkatnya disebut kasih karunia!

    Nama Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan, menganugerahkan pengampunan dosa (pengampunan juga diartikan sebagai penyembuhan luka-luka akibat dosa atau penebusan dosa). Dosa-dosa ditebus berarti roh kita dihidupkan (disembuhkan dari luka-luka) karena korban penebus (sin offering) yang dikurbankan sebagai ganti penderitaan upah dosa, yaitu maut; ini adalah urusan di alam roh. Untuk menghapuskan kutuk Allah (akibat pelanggaran Hukum Taurat) dan maut, harus ada perintah-perintah di alam roh yang hanya dapat dilaksanakan oleh upacara darah suci YESUS menurut Imam Menurut Melkisedek. Imam Harun dan keturunannya dalam Perjanjian Lama melaksanakan ritus DARAH Korban Penghapus Dosa dan juga korban "kambing jantan bagi Azazel" pada Hari Raya Pendamaian (Day of Atonement, khusus untuk penebusan nasional bagi bangsa Israel yang dahulu merupakan negara teokrasi; lih. Imamat 16).

    Pengorbanan Yesus turut menggenapi seluruh Hukum Taurat, termasuk penebusan nasional ini, meskipun kelak ternyata bangsa Yahudi menolak-Nya sebagai JALAN Penebusan. Ia sebenarnya telah menebus seluruh umat manusia sebagai korban penghapus dosa (Paskah Allah) bagi semua orang di bumi tanpa memandang identitas bangsanya. Namun, ritus "kambing Azazel" secara khusus diperuntukkan bagi penebusan bangsa Israel. Bangsa-bangsa lain tidak memerlukan penebusan nasional karena tidak pernah diikat dalam perjanjian teokrasi oleh TUHAN (YHVH). Bagi bani Israel yang pernah menjadi negara teokrasi di tanah perjanjian, penebusan nasional tersebut telah digenapi oleh kematian Yesus sebagai "kambing pelepasan" di kayu salib.

    Mezbah yang dilihat Yesaya mengandung arti bahwa ia akan ditebus oleh anugerah nama Bapa surgawi! Oleh karena itu, Domba Allah dalam upacara ritus mezbah Melkisedek di bumi berarti orang-orang yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan akan ditebus oleh anugerah kasih karunia Allah. "Nama" Allah, yaitu kasih dan belas kasihan Allah, menganugerahkan penghapusan dosa. Hal itu singkatnya disebut "ditebus" atau "ditanggung" oleh nama Allah! Sebab itulah Yesus dikatakan "menanggung dosa-dosa manusia," karena Yesus yang diutus sebagai Domba Allah—korban mezbah di bumi—telah menyempurnakan nama Bapa, yaitu Kasih dan Belas Kasihan. Raja Daud sangat dekat dengan Roh Allah. Daud dikaruniai roh pengertian dan roh hikmat untuk melihat sifat-sifat Roh Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan.

    Kehendak nama Allahlah yang menganugerahkan penghapusan dosa-dosa manusia. Daud bernyanyi: "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia memikul beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela" (Mazmur 68:20). Yesus telah berhasil tanpa cacat cela (flawless) menyempurnakan Mezbah di bumi seperti di sorga. "Ditebus" berarti "oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh." Jadi, "ditebus" berarti dihidupkan atau disembuhkan dari luka-luka roh. Pada upacara mezbah Kemah Suci Perjanjian di Tanah Suci, kambing Azazel dan domba Korban Penghapus Dosa disembelih/dikurbankan, sedangkan Israel disembuhkan dan dibenarkan (rekaman dosa-dosa dihapuskan). Upacara Mezbah Melkisedek di bumi, yaitu kematian Domba Allah, Yesus Kristus, telah "Sudah Selesai" menebus kita semua. Rasul Yohanes bersaksi bahwa Yesus telah ditolak oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi. Namun, bagi siapa saja yang dianugerahi percaya kepada nama Bapa dan nama yang diberikan kepada Anak, Yohanes bersaksi: "Ia telah datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yohanes 1:11–12).

    Berseru kepada nama Kristus sama artinya dengan percaya kepada nama Bapa di sorga. Nama Bapa ialah Kasih dan Belas Kasihan! Ketika nama Bapa menganugerahkan aliran Kasih dan Belas Kasihan kepada semua bangsa di dunia, kita melihat Mezbah di bumi disempurnakan oleh nama yang diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi, yaitu Paskah Yesus—Domba Allah yang menghapuskan dosa dunia. Kita melihat Yesus sebagai Pelaksana Mezbah Melkisedek di bumi; kita melihat Penebus dan Juruselamat umat manusia.

    Nama Kasih dan Belas Kasihan Allah menganugerahkan pengampunan dosa, penghapusan dosa (taking away of guilt), dan penebusan dosa. Dosa-dosa ditebus berarti roh kita hidup (sembuh dari luka-luka). Kematian Yesus di atas kayu salib adalah penebusan mezbah di bumi yang dianugerahkan oleh Allah Bapa.

    Manusia yang berdosa (wounded man) tidak mungkin berkenan kepada Roh Allah Yang Mahakudus, kecuali ia dianugerahi dan diselubungi oleh kasih karunia. Kasih karunialah yang menjadikan seorang pembuat dosa (sinner) menjadi orang yang percaya kepada Firman Allah. "Percaya" kepada Firman Allah berarti menuruti Firman Allah. Nama Kristus "adalah Firman Allah" (Wahyu 19:13b). Karya Kristus 100% adalah Firman Allah karena Roh-Nya berasal dari Bapa. Oleh karena itu, Yesus juga merupakan Karya Bapa. Sifat Bapa adalah Kasih; maka Yesus Kristus adalah karya Kasih! Manusia yang rohnya cemar (impure) atau berdosa tidak akan tahan berdiri di hadirat Roh Allah Yang Mahakudus (pure). Doa yang berkenan kepada Allah hanyalah doa orang benar. Namun, siapakah orang benar di bumi ini? Tidak ada seorang pun yang benar di muka bumi ini! Tidak ada manusia yang benar (righteous), murni (pure), tanpa cacat (flawless), dan tanpa dosa (sinless). Hanya Allah saja yang nama-Nya Kudus, Setia, dan Benar! Kita semua telah jatuh di bawah kekuasaan dosa dan cenderung berbuat dosa; Allah sendiri pernah berfirman kepada Bapa Nuh bahwa "yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya" (Kejadian 8:21). Tidak ada manusia yang mengasihi Allah dengan segenap hati, dan tidak ada manusia yang mengasihi sesamanya seperti mengasihi dirinya sendiri.

    Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia singkatnya berarti menggenapi Induk Sepuluh Hukum (The Ten Commandments, Keluaran 20:1–17). Ayat 1 hingga 11 berisi rincian hukum perihal mengasihi Allah, sedangkan ayat 12 hingga 17 berisi rincian hukum perihal mengasihi sesama manusia. Pada induk hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi serta seluruh orang percaya. Akan tetapi, semua orang sebenarnya lemah dalam menuruti Firman yang tertulis dalam Kitab Suci Keluaran 20:1–17. Semua orang melanggarnya setiap hari, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Selalu saja ada bagian dari kesepuluh hukum Allah yang kita langgar setiap hari. Bahkan dalam hal menyebut nama Allah saja, terlihat betapa lemah dan tidak sempurnanya kita dalam menuruti hukum! Semua manusia dapat bersalah (fallible) dan lemah untuk menuruti Firman Allah. Benarlah perkataan Yesus: "...daging lemah."

    Daging memang lemah dalam menuruti Firman Allah. Ucapan kita tidak sempurna karena ketika berseru kepada nama-Nya, hati kita diwarnai keraguan, prasangka, bahkan penyakit berkecil hati, mengkritik, dan bersungut-sungut kepada Allah. Perjalanan iman mengajar kita untuk sembuh dari semua penyakit tersebut dalam hal menyebut nama Allah. Dalam menyebut nama Allah saja, kita sudah menemukan kegagalan. Namun, ketika kita mulai menjadi "ranting yang benar pada pohon anggur yang benar," kita akan mulai melihat kemenangan. Bahkan biarpun dosamu mengalir seperti sungai, tujuh kali lipatlah belas kasihan Allah akan mengalir ke atas rohmu. Roh Allah berpesan kepada jemaat di Filadelfia melalui penyampaian malaikat: "Aku tahu... bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku" (Wahyu 3:8). Tidak menyangkal nama Allah berarti percaya kepada nama Allah dengan sempurna, tanpa "penyakit" keraguan. Yesus berkata: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-mu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48). Allah itu sempurna, maka selayaknya kepercayaan kita kepada nama-Nya pun harus sempurna, tanpa ada unsur bersungut-sungut!

    Percaya yang sempurna berarti tidak menyangkal nama Allah. Ragu-ragu berarti kita tidak percaya sepenuhnya kepada nama-Nya, keberadaan-Nya, dan kesempurnaan-Nya. Dalam Keluaran 34:5–7, kita mendengar catatan Nabi Musa perihal Proklamasi (proclamation) nama [karya atau sifat-sifat] TUHAN. Nama TUHAN itu panjang sabar (slow to anger), adil (righteous), tanpa cela (flawless), mahakuasa (full of power), berlimpah kasih (abounding in love), kaya akan belas kasihan (rich in mercy), meneguhkan kasih setia kepada beribu-ribu orang (maintaining love to thousands), dan api yang menghanguskan (consuming fire / Holy). Nama Allah juga menjelaskan sifat-sifat-Nya yang tidak sekali-kali membebaskan orang yang tidak tahu "Jalan" (Way), termasuk orang yang tidak memiliki pengertian tentang bagaimana menghapuskan (take away / delete) rekaman dosa-dosa pada rohnya sendiri (orang berdosa/bersalah—guilty).

    Dosa-dosa direkam oleh roh kita secara tersimpan otomatis (autosaved). Karena manusia adalah debu dan pusat kesadarannya terletak pada otak, maka segala perbuatan dosa juga disimpan dalam sel-sel memori otak. Akibat-akibat dosa pun tersimpan dan muncul mengekspresikan diri pada tubuh jasmani sebagai trauma atau penyakit. Pengampunan dosa bukanlah soal memadamkan memori pada sel-sel otak. Allah tidak akan menghapus memori dosa. Kita akan tetap hidup dengan semua memori dosa tersebut. Berlalunya waktu akan melembutkan kenangan (time heals the heart). Pengampunan dosa oleh nama Allah adalah perihal menghapus informasi dosa, yaitu rekaman dosa-dosa dalam roh manusia! Terhapusnya informasi (rekaman) dosa-dosa dalam roh seseorang berarti ia telah menjadi "orang benar" pada saat ia menerima pengampunan. Allah-lah yang membenarkan manusia berdosa menurut Firman-Nya. Ketika Allah memandang roh seseorang yang diampuni dosanya, Allah dapat berkata: "Orang ini benar dan suci!" Namun hakikatnya, roh kita akan merekam lagi dosa-dosa yang baru. Kita memang senantiasa menambah luka-luka hidup setiap hari, tetapi Allahlah yang setia memikul beban kita; Dialah Juruselamat dan Penebus kita! "...oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh."

    Setiap kali kita berdosa, dosa itu direkam secara tersimpan otomatis dalam roh kita. Allah mampu melupakan dan tidak mengungkit-ungkit dosa yang sudah diampuni karena seluruh informasi dosa pada roh seseorang terhapus jika ia menerima pengampunan Allah! Ada tertulis: "Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita" (Mazmur 103:12). Dahulu saya bingung karena belum memiliki hikmat dan pengetahuan tentang bagaimana Allah mampu melupakan dosa-dosa saya. Ternyata, Allah menghapus (delete) catatan dosa tersebut pada roh manusia, yang disebut "diampuni." Maka, tidak ada lagi catatan dosa yang dapat dilihat oleh mata Allah! Demikianlah cara Allah melupakan dan tidak mengungkit-ungkit pelanggaran yang telah selesai diampuni.

    Manusia berkomunikasi dengan sesama manusia dan memahami alam sekeliling menggunakan otak. Roh Allah berkomunikasi dengan roh manusia—Roh dengan roh: Daud menulisnya sebagai "samudera raya memanggil kepada samudera raya" (deep calls to deep, Mazmur 42:8). Nabi Yoel bernubuat bahwa pada akhir zaman manusia akan menerima komunikasi dari Roh Allah melalui mimpi-mimpi (dreams), penglihatan-penglihatan (visions), dan suara (voice, Yoel 2:28). Hukum-hukum Allah (Induk dari semua hukum Allah) dicatat dalam roh kita secara rekaman roh. Biarpun catatan "dosa" itu bersifat "hidup," ia hidup sebagai "sengat" dalam roh kita, dan sengat itu membawa maut: sengat dosa ialah maut.

    Rekaman dosa membawa maut. Maut itu bermula dari rekaman-rekaman dosa dalam roh kita masing-masing! Oleh karena itu, dosa pada roh manusia adalah rekaman yang hidup dan bersifat rohani. Rekaman Firman Allah seperti Sepuluh Hukum (The Ten Commandments) adalah rekaman hidup dalam roh kita masing-masing, yang menghidupkan jiwa apabila dituruti. Rekaman yang berbentuk tinta, gambar, video, berkas media, atau tulisan tinta adalah rekaman yang mati. Rekaman rohani bersifat hidup dan roh. Teknologi buatan manusia mampu membuat rekaman yang kelihatan seolah-olah hidup melalui kemajuan teknologi informasi. Namun, roh manusia ciptaan tangan Allah mampu merekam dosa atau merekam firman-firman dengan lebih sempurna; ia merekam seluruh perbuatan dosa sebagai catatan roh, dan catatan roh (dosa) itu bersifat sengat yang hidup!

    Dosa adalah catatan rohani yang bersifat roh, tetapi memiliki sengat, dan sengat itu mengakibatkan maut. Rasul Paulus bersaksi: "Sengat maut ialah dosa" (1 Korintus 15:56). Jika seseorang menjalankan ibadah roh, yaitu "Bapa Kami" (Matius 6:9–13), maka catatan rohani pada roh orang yang melaksanakan pesan Bapa Kami tersebut adalah catatan perbuatan, apakah ia menuruti kehendak Allah yang sempurna atau sebaliknya. Jika catatan itu berupa rekaman dosa, hal itu menjadi kecemaran (impurities) pada roh seseorang yang mengakibatkan maut. Maut berarti terpisah dari Roh Allah dan tubuh tertakluk kepada kuasa kematian. Semua orang tertakluk kepada kuasa kematian karena benih tubuh berasal dari Adam yang telah jatuh, dan juga karena semua orang telah berdosa! Maka, dosa merusak benih roh dan merusak benih tubuh pada keturunan Adam.

    Adam yang kedua, yaitu Kristus, telah menjadi Jalan, Pintu, dan Kunci bagi umat manusia, supaya barangsiapa yang percaya akan menerima kekayaan keselamatan dan hikmat. Yesus adalah berkat Allah bagi umat manusia: "Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya" (Amsal 10:22). Namun, Roh Allah tidak bergaul karib dengan manusia yang tidak percaya kepada "Jalan" untuk menyelesaikan dosa-dosa. "Jalan" itu ialah menuruti Firman Allah. Firman Allah itu ialah Kristus, karena "nama-Nya ialah Firman Allah" (Wahyu 19:13b). Roh Kristus adalah Alfa dan Omega! Jadi, nama yang diberikan Bapa kepada Yesus ialah: "Lihatlah Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Percaya kepada Yesus berarti melihat nama Bapa dan melihat nama yang diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi. Yesus berkata: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." "Melihat" di sini berarti mata roh yang melihat! Oleh sebab itu, di dalam nama-nama Perjanjian Allah dalam Perjanjian Baru, yaitu Kristus, kita telah melihat keselamatan.

    Yesus menyelesaikan dosa-dosa manusia supaya nama Allah Bapa dalam hal "menabur dan menuai" dapat dianugerahkan kepada semua bangsa di dunia. Darah Yesus yang tertumpah sangat luar biasa keajaibannya karena tidak tertumpah menurut kehendak manusia! Darah itu tidak tertumpah secara sembarangan, melainkan tertumpah dengan sepenuhnya menuruti Firman (Lukas 24:44). Namun, manusia tidak dapat memahami penebusan itu karena darah itu tertumpah dalam upacara yang dilaksanakan oleh tangan Allah, yaitu menurut Imam Menurut Melkisedek. Manusia dengan kapasitas akal budinya hanya melihat bahwa Ia mati oleh keputusan mahkamah agama; mereka (kita) tidak melihat upacara Mezbah Melkisedek di bumi.

    Darah Domba yang tertumpah melalui ritus Kemah Suci dalam Perjanjian Lama dapat dilihat oleh mata jasmani sebagai ritus penebusan karena dilaksanakan oleh urutan Imam Harun (manusia). Jika seseorang dapat melihat kematian Yesus di kayu salib sebagai upacara Melkisedek, hal itu adalah anugerah Allah. Semua ritus mezbah perihal penyelesaian dosa dalam Perjanjian Lama sebenarnya telah disempurnakan dalam kematian Yesus. Mezbah di bumi menjadi sangat berkuasa dalam menghapuskan dosa-dosa hanya dengan berseru kepada nama Yesus, karena upacara penumpahan darah Domba Allah "Sudah Selesai." Mezbah Perjanjian Lama mengikuti ritus ordo para patriark dan Imam Harun, namun Mezbah Perjanjian Baru mengikuti ritus menurut Imam Agung Surgawi, Melkisedek. Penyelesaian dosa-dosa umat manusia menurut ritus Mezbah Melkisedek adalah salah satu maksud yang terkandung dalam ungkapan Lukas 24:44.

    Roh Pentakosta adalah berkat yang menyusul dari hasil Mezbah Yesus yang "Sudah Selesai" dilaksanakan di bumi. Pengakuan dosa kepada Yesus adalah bukti dari pihak manusia untuk mengaminkan kuasa Darah Domba yang dicurahkan satu kali untuk selama-lamanya. Maka, dosa-dosa diselesaikan dengan berseru kepada nama Yesus: Penebus dan Juruselamat. Mezbah Yesus atau Kayu Salib bagi Domba Allah adalah jaminan penghapusan rekaman dosa-dosa pada roh orang-orang percaya! Mengapa hal itu menjadi jaminan pengampunan dosa? Karena Upacara Mezbah di bumi melalui kematian Yesus sebagai Domba Allah telah "Sudah Selesai" dilaksanakan menurut Imam Agung Melkisedek, sepenuhnya menuruti Firman tanpa cacat cela (flawless, righteous, and holy Melchizedek Rite of Expiation on earth through the death of Christ on the Cross fulfilling all the Words spoken by the mouth of God in the Old Covenant days; see Luke 24:44; Isaiah 53).

    Penyaliban sebenarnya adalah hukuman mati (capital punishment) bagi penjahat-penjahat di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Namun, Kayu Salib Yesus adalah upacara Mezbah Melkisedek di bumi yang tidak dapat dilihat dan dipahami oleh akal budi manusia semata. Bagi mereka yang dikaruniai "mata rohani" untuk melihat Karya (nama) Bapa, mereka akan berkata: "Kematian Yesus di kayu salib adalah penggenapan 'jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (rujuk Lukas 24:44; Matius 6:9–13). Maka, melihat Salib Yesus bagi orang-orang percaya adalah melihat nama Bapa di sorga dan percaya (melihat) kepada nama yang diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi. Tidak heran Rasul Petrus berkata: "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan" (Kisah Para Rasul 2:21). Simbol salib seperti yang dipakai sebagai kalung di leher hanyalah pengingat akan nama Bapa dan nama yang diberikan kepada Anak. Karya manusia pada umumnya hanyalah makan-minum, membuat batu bata, mendirikan menara, membangun kota, kawin dan mengawinkan, membeli atau menjual, serta memperjuangkan perdamaian dan keamanan (peace and security) untuk tujuan pembangunan bangsa (nation building) atau kerajaan (kingdom building) di bumi.

    Jika orang percaya melakukan (fulfilling) ibadah roh (the doer of the Word), yaitu ibadah "Bapa Kami," hal itu akan dicatat pada roh kita juga. Melakukan atau menuruti Sepuluh Hukum (The Ten Commandments) terkandung dalam maksud doa "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Sepuluh Hukum adalah kehendak Bapa di sorga! Oleh karena itu, doa Bapa Kami bukan sekadar untuk dihafal, melainkan harus dilaksanakan atau dituruti sepenuhnya. Orang percaya menjadi pelaku Firman Allah di bumi (the doers of the Word of God on earth) dengan menggenapi doa Bapa Kami. Bukankah Hukum Taurat, yaitu Induk dari Segala Hukum (The Mother of all Laws / The Ten Commandments), ditulis oleh Roh Kudus dalam roh setiap orang percaya? Hal itu telah dinubuatkan oleh Nabi Yeremia! Seandainya kita gagal menuruti firman-firman, nama Allah tidak berubah, bahkan pengampunan tetap terjamin karena aliran berkat pengampunan dari kayu salib Yesus telah "Sudah Selesai" dilaksanakan di bukit Golgota! Di sepanjang zaman Pendamaian, berkat pengampunan itu mengalir tanpa henti. Jika ibadah (Bapa Kami) kita tidak sempurna seperti orang percaya di Sardis, ibadah mereka akan dicatat sebagai perbuatan-perbuatan yang tidak disempurnakan; doa Bapa Kami tidak digenapi dalam ibadah pribadi! Orang percaya adalah pelaku Firman Allah (the doers of the Word of God). Doa Bapa Kami adalah ibadah roh yang harus disempurnakan dengan kekuatan dan bimbingan Roh Allah. Maka, doa Bapa Kami ditujukan kepada orang-orang yang percaya secara sempurna. Percaya yang sempurna tidak berarti perawakan atau sifat-sifat yang sempurna, melainkan singkatnya tidak menyangkal nama Allah, seperti jemaat Allah di Filadelfia di Asia Kecil.

    Sengat pada roh seseorang adalah catatan dosa; maka rekaman dosa itu adalah sengat, yaitu maut! Oleh karena itu, kita mati setiap kali kita berbuat dosa terhadap Allah, tetapi nama Allah setia menghidupkan kita setiap hari! Daud bernyanyi: "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia memikul beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela. Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, TUHANku, memberi jalan keluar dari maut" (Mazmur 68:20–21 / Psalm 68:19–20).

    Dosa adalah pelanggaran hukum Roh Allah. Semua firman adalah roh, baik Firman itu berupa hukum (Taurat), nubuat, maupun bentuk lirik lagu seperti dalam Kitab Mazmur. Sifat Roh Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan, menganugerahkan pengampunan. Pengampunan Allah menghapuskan dosa-dosa dan menebus dosa-dosa! Nama Bapa, yaitu Kasih, memikul beban penderitaan kita setiap hari. Yesus adalah karya Kasih Bapa! Yesus menanggung dosa-dosa manusia. Yesus adalah hal yang kelihatan di bumi, sedangkan tidak ada seorang pun yang melihat Bapa di sorga. Nama Bapa, yaitu Kasih dan Belas Kasihan, bekerja memikul penderitaan orang percaya setiap hari, dan hal itu tidak kelihatan. Pada zaman Habel, nama Bapa berkarya di bumi dengan memerintahkan Habel untuk menuruti firman ilahi dalam upacara ritus mezbah. 

    Yesus berkata, "... perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yoh. 6:63). Taurat, nubuat para nabi, dan Kitab Mazmur adalah "roh" dan "hidup." Ketika dilanggar, pelanggaran itu direkam pada roh manusia. Hukum manusia di negara mana pun hanyalah huruf (letter), bukan roh. Spirit of the laws (semangat hukum) tidak terdapat dalam hukum buatan manusia. "Firman" itu adalah Roh Tujuh Lapis. Yesus datang untuk menyempurnakan kehendak Roh, yaitu kehendak Roh Bapa (Lukas 24:44). Tidak percaya kepada "nama" yang diberikan kepada Anak berarti menentang kehendak Bapa, dan itu adalah dosa. Dosa direkam pada roh manusia. Hukum komunikasi dalam alam roh terjadi melalui mimpi (dream dreams), penglihatan (visions), dan Suara Roh.

    Rekaman dosa dikomunikasikan kepada Roh Allah menurut rancangan (design) Allah: "Deep calls to deep" (samudra raya menyahut kepada samudra raya). Roh Allah akan melihat dan mendengar "rekaman dosa" pada roh manusia, lalu Ia akan berkata, "Orang ini adalah orang berdosa" (unrighteous man/transgressor of Divine Laws).  Hukum Kesepuluh adalah "roh dan hidup." Yesus berkata, "Semua perkataan-Ku adalah roh dan hidup."  Pelanggaran Firman (roh) dicatat atau direkam pada roh manusia. Allah tidak merekam dosa-dosa manusia di dalam Roh-Nya karena rekaman dosa manusia adalah pencemaran (impurities).

    Allah hanya menyimpan Firman Allah pada Roh-Nya. Roh-Nya senantiasa murni (pure) dan tidak ada yang dapat mencemarkan Roh Allah, karena Ia tidak merekam dosa-dosa manusia di dalam Roh-Nya! Dosa-dosa direkam pada roh manusia itu sendiri, sebab itulah roh manusia tercemar (impure)!

    Maka, Firman Allah bukanlah tinta di atas kertas, melainkan Roh Tujuh Lapis. Catatan Alkitab hanyalah usaha manusia untuk memelihara Suara, Penglihatan (visions), dan Mimpi (dreams) yang pernah diterima oleh para nabi. Perkataan manusia berasal dari otak. Perkataan itu bersifat daging dan tidak berkuasa, kecuali jika dikuasakan oleh suatu kuasa manusia—seperti perkataan raja yang dikuasakan oleh semua orang yang diberi kuasa oleh raja. Namun, perkataan raja bukanlah roh dan hidup. Allah itu Roh, maka Firman-Nya adalah roh dan hidup (Yoh. 6:63). Allah tidak memiliki otak dan daging; Ia sepenuhnya Roh: Bapa Segala Roh. Otak adalah pusat daging atau pusat kehidupan jasmani. Firman adalah perkataan "roh dan hidup." Para malaikat yang tak terhitung jumlahnya senantiasa bersiap dengan taat dan setia untuk menegakkan dan melaksanakan kehendak Firman (Mazmur 103:20).

    Allah menuliskan Sepuluh Perintah (Ten Commandments) pada roh orang percaya. Apabila Sepuluh Perintah itu dilanggar, maka pelanggaran kita juga dicatat pada roh manusia (si pelanggar). Rekaman pelanggaran itu bersifat "roh" dan dosa itu bersifat "hidup" di dalam roh, tetapi membawa maut. Oleh karena rekaman pelanggaran itu bersifat "roh", ia menaklukkan daging kepada kematian dan memisahkan roh dari Roh Allah. Rekaman dosa itu merupakan pelanggaran terhadap "Kuasa Kehidupan", yaitu penentangan terhadap Roh Allah atau Firman Allah. Melanggar Kuasa Kehidupan berarti memilih kuasa maut. Oleh karena itu, upah dosa adalah maut atau kematian daging dan pemisahan roh dari kuasa kehidupan yang optimum, yaitu Roh Allah dan Sorga. Orang yang memilih hidup berdosa berarti memilih untuk menentang Kuasa Kehidupan. Tidak percaya kepada Kuasa Kehidupan ("nama" Allah) sama artinya dengan melanggar Firman Allah. Namun malangnya, daging kita lemah dalam menuruti Firman Allah. Adalah lebih mudah untuk melanggar Kuasa Kehidupan daripada menurutinya. "Pengampunan dosa" berarti penghapusan (deletion) rekaman-rekaman dosa pada roh manusia.

    Kita semua sebenarnya memilih kuasa kematian setiap hari. Tidak ada seorang manusia pun yang secara sempurna memilih Kuasa Kehidupan, yaitu Firman Allah atau Roh Allah, kecuali Anak Manusia. Siapakah yang dapat melepaskan diri kita dari rekaman-rekaman pelanggaran Kuasa Kehidupan itu? Dosa-dosa setiap hari direkam secara otomatis (autosaved) dalam roh kita. Maka, roh manusia adalah tercemar (impure), sedangkan Roh Allah itu murni (pure)! Ayub bersaksi bahwa rekaman dosa itu seperti disimpan "di dalam pundi-pundi yang dimeterai." Maksudnya, dosa-dosa manusia adalah "rekaman roh yang bersifat hidup" di dalam roh kita sendiri. Maka, masing-masing kita menanggung rekaman dosa kita. Namun, oleh karena rekaman itu adalah pelanggaran dan bukan Penggenapan Firman, walaupun bersifat "roh", ia seperti "sengat", yaitu maut. "Sengat" atau penyakit pada roh kita itulah yang disebut "luka" (wounds). Maka, wounded man bermakna manusia yang terluka/berdosa.


Dan Yesus datang untuk menyembuhkan luka-luka kehidupan: "Oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh."

    Tidak ada orang yang benar di bumi melainkan mereka yang dianugerahi kasih karunia. Semua bapa leluhur (patriarchs) adalah penerima kasih karunia. Semua nabi juga adalah penerima kasih karunia. Nama Allah ialah Kasih. Nama atau karya Allah itu mengalir dan memancar dari sifat-sifat-Nya. Orang yang terluka (wounded man) yang menerima aliran "nama" Roh Allah akan menerima karunia. Oleh karena nama Allah itu Kasih, maka di mana Roh Allah itu mengalir, orang yang terjangkau oleh aliran Roh-Nya disebut penerima kasih karunia. Semua bapa leluhur, semua nabi, dan semua orang percaya adalah penerima kasih karunia Allah. "Sebab kasih-Mu besar melebihi langit, dan kesetiaan-Mu sampai ke awan-awan" (Mazmur 108:5). Ada tertulis bahwa "Penghakiman adalah keputusan sorgawi." Namun, kasih Allah berbunyi: "...kasih setia-Mu lebih tinggi dari sorga." "Langit" adalah ungkapan bahasa roh yang berkaitan dengan "pemberitaan karya Allah." "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Penghakiman dan penghukuman ilahi dibuat di sorga. Namun, itu adalah keputusan Allah menurut waktu yang ditetapkan oleh Allah. Meskipun demikian, kasih dan kemurahan (mercy) Allah memiliki kuasa yang lebih tinggi daripada mahkamah sorgawi karena kasih adalah nama Allah dan merupakan sifat Allah yang tidak berubah (immutable). Hukuman Allah atas Ninive, sebagai contoh, adalah keputusan mahkamah sorga yang telah dibatalkan dalam kisah Kitab Yunus. Sedangkan kasih Allah tidak dapat Ia batalkan karena itu adalah sifat Roh Allah. Namun, oleh karena kasih Allah itu suci, kasih itu juga dapat menghanguskan manusia yang berdosa!

    Kasih adalah Kuasa Kehidupan yang tertinggi di seluruh alam semesta karena kasih adalah nama Allah. Kasih adalah sifat Roh Allah yang immutable (tidak berubah). Yesus adalah karya Roh Bapa. Yesus adalah karya kasih Bapa. Santo Yohanes melihat Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan yang akan menggenapi Firman Allah (Lukas 24:44), maka ia menulis dalam Injil: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). Taurat, kitab nabi-nabi, dan Kitab Mazmur (Lukas 24:44) berbicara tentang Yesus sebagai Mesias karya tangan kanan Bapa. Melihat Yesus dan pekerjaan-Nya, yaitu Firman Allah, berarti melihat nama Bapa. Melihat Mezbah Yesus sebagai mezbah di bumi yang diupacarakan untuk menggenapi Lukas 24:44 adalah melihat nama Bapa (Keluaran 34:5-7). 

    Mata yang melihat dan telinga yang mendengar adalah anugerah Allah: "Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN" (Amsal 20:12). Dan oleh karena melihat mezbah "Anak Domba Allah" sebagai kehendak kasih Bapa, kita percaya kepada nama Bapa dan juga nama yang diberikan kepada Yesus, supaya orang percaya menerima hidup kekal abadi. Oleh karena percaya kepada Firman Allah, kita menuruti Firman Allah. Ritus mezbah adalah firman mezbah. Nama Yesus ketika melayani di mezbah bumi seperti di sorga ialah "Anak Domba Allah" dan juga sebagai Imam Agung menurut Melkisedek yang melayani di mezbah bumi. Orang-orang percaya dapat menyelesaikan rekaman-rekaman dosa pada roh mereka dengan menuruti (percaya kepada) nama Allah: "Nama-Nya ialah Firman Allah."

    Biarpun umat manusia sangat hebat dengan kapasitas intelektualnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari rekaman-rekaman dosa (rekaman pada roh). Manusia tidak mempunyai sumber daya (resourceless) untuk menyelesaikan rekaman-rekaman dosa pada roh mereka yang tersimpan secara roh dan otomatis (autosaved). Selama rekaman itu tersimpan pada roh manusia, selama itulah manusia akan dipandang bersalah atau tidak benar di mata Allah (unrighteous men in the sight of God). Namun, oleh karena nama Bapa dan nama Anak, kita dianugerahi limpahan kuasa Roh yang melepaskan kita dari rekaman dosa (sengat dosa). Kita dilepaskan dari sengat dosa oleh karena nama Allah yang setia mengampuni. Yesus datang dalam nama Allah. "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yoh. 1:8-9). 

    Ia adalah Anak Domba Allah, Anak Allah, Pembaptis dengan Api, Juruselamat, dan juga Hakim yang akan datang kembali. Nama Allah itu adalah "Yang Setia dan Yang Benar." Oleh karena itu, kita diselamatkan oleh Allah karena nama Allah. "...dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--" (Wahyu 1:5). Bapa, Anak, dan Roh Kudus setia mengampuni dosa-dosa orang percaya. Immutable names of God dan Covenanted names of God adalah setia mengampuni dosa. Yahweh, Yesus, Roh Kudus, dan Hakim (Kristus yang akan datang kembali) juga setia mengampuni dosa-dosa. Kemarin, hari ini, dan besok, Kristus tidak berubah! Maksudnya, sifat-sifat Roh Allah tidak berubah. Sifat-sifat Roh Allah menyatu dengan nama Allah! Roh Yesus (Yesaya 11 — Roh Kristus) adalah satu dengan Roh Bapa, dan Mereka adalah Roh yang mengampuni (forgiving Spirit). Sifat-sifat ilahi tidak berubah walaupun perjanjian seolah-olah bertambah, atau misi (missions/names) Allah seolah-olah dipandang manusia bertambah. 

    Sebenarnya seluruh Firman Allah sudah lengkap (complete) atau sudah ada secara penuh dalam pribadi Roh Allah dari Alfa sampai Omega. Melihat nama Allah dalam Covenanted names of God berarti melihat Immutable name of the Father in Heaven. Covenanted name of God kelihatan di bumi, tetapi Immutable name of the Father hanya dilihat oleh penduduk sorgawi. Jika nama itu dinyatakan sebagai mengampuni (forgiving), orang percaya perlu mengalahkan ketidakpercayaan (conquering unbelief) mereka. Dalam kisah kehidupan Ayub, istrinya ternyata gagal melihat kebaikan-kebaikan nama Allah ketika mereka kehilangan harta dan seluruh anak mereka. Namun, Ayub tetap bersandar kepada nama Allah:

    "Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: 'Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!' Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut." (Ayub 1:20-22) 

Ayub percaya kepada nama Allah yang tidak berubah, meskipun kehidupan jasmaninya seolah-olah ditimpa malapetaka. Kemudian istrinya berkata kepadanya:

"Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2:9)

    Bagi kebanyakan orang percaya, kita sering kali lebih menyerupai istri Ayub. Godaan untuk meragukan nama Allah akan datang dalam berbagai bentuk tatkala kita mengalami berbagai penderitaan atau malapetaka yang menimpa kehidupan jasmani.

Sumpah Perjanjian Allah (Suzerain Covenant)

    Dalam urusan penyelamatan umat manusia yang "terluka", bangsa-bangsa lain tidak melibatkan kasus "disumpahi" oleh Allah supaya mereka selamat; melainkan kita dianugerahi kasih karunia, yaitu nama Allah Bapa dan nama yang diberikan kepada Anak Manusia, Yesus Kristus. Anugerah nama Allah mencakup "Anak Domba Allah", supaya kita dapat menyelesaikan dosa (rekaman dosa dalam roh kita sendiri) dan selanjutnya dapat mengenal Bapa. Nama Allah itu adalah Kasih/Kemurahan (Mercy). Memancarnya berkat pelayanan mezbah di bumi menurut Urutan Melkisedek berarti bangsa-bangsa mulai dapat melihat nama Bapa (seperti yang diberitakan dalam Keluaran 34:5-7). Kematian Anak Domba Allah di mezbah (kayu salib) di bumi adalah penggenapan "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." "Mezbah di Sorga" seperti yang dilihat oleh Yesaya dalam Yesaya 6 adalah kehendak nama Allah di sorga: kita tahu bahwa kehendak kasih dan kemurahan Bapa itu adalah nama Allah dalam Keluaran 34:5-7. Ketika kehendak itu turun ke bumi, manusia yang terjangkau oleh kehendak Allah (kasih dan kemurahan) itu disebut penerima-penerima kasih karunia!

    Sumpah Allah dan kasih karunia Allah berkaitan, tetapi mempunyai tujuan yang jelas dan dapat dibedakan. Sumpah Allah hanya diberikan kepada satu garis keturunan, yaitu bani Ibrani yang bermula dari Abraham, Yakub (Israel), dan Daud. Mereka juga adalah penerima kasih karunia karena mereka adalah nabi-nabi Allah. Namun, bangsa-bangsa lain yang percaya dialiri oleh limpahan kasih karunia melalui nama Allah dan nama yang diberikan kepada Yesus Kristus! Nama Allah itu kuat seperti menara yang menyelamatkan orang benar. Raja Salomo berkata bahwa nama Allah bagaikan menara yang kuat, tempat perlindungan orang benar (Amsal 18:10). Sumpah Allah kepada orang-orang terpilih dalam satu garis keturunan yang dipelihara Allah adalah untuk menjamin keberhasilan kedatangan Kristus (the delivery of Christ). Maka, Firman menjadi manusia dari bangsa pilihan (the chosen race) yang beranak-cucu dari satu garis keturunan yang telah dipelihara oleh Allah sejak dari Adam. Penerima kasih karunia dapat kita lihat dalam silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius. Silsilah itu memang tidak terlepas dari sumpah Allah. Dari silsilah inilah kedatangan Kristus digenapi.

    Maka, perjanjian dengan sumpah (Suzerain Covenant) itu adalah rahasia Allah, yaitu Kristus. Garis keturunan itu diamanahkan oleh Allah dalam kedatangan Kristus (the delivery of Christ), yaitu Firman menjadi daging. Suku Dusun, sebagai contoh, tidak perlu disumpahi oleh Allah karena mereka tidak terlibat langsung dalam rantai silsilah kedatangan Kristus; bagi mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, cukuplah menjadi penerima-penerima kasih karunia. Sumpah Allah hanya diberikan kepada garis keturunan yang dipelihara oleh Allah seperti dalam silsilah Injil Matius, karena mereka adalah bangsa pilihan (the chosen race) dan terlibat dalam kedatangan Kristus kepada dunia. Sebenarnya, sumpah Allah mengalir dari nama Allah; apa pun pesan dan isi sumpah itu pada hakikatnya adalah firman Allah. Allah bergaul karib dengan Daud bukanlah disebabkan oleh sumpah semata, melainkan karena anugerah kasih karunia dan rasa takut akan TUHAN (the fear of the Lord). Sumpah itu berkaitan dengan kedatangan Kristus bahwa "daging" Mesias akan bertunas dari Daud. Ada sumpah Allah kepada Daud yang berbunyi:

"Aku telah mengikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun. Sela" (Mazmur 89:4-5)

Frasa "untuk selama-lamanya" merujuk kepada kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Raja segala raja dalam silsilah keturunan berdasarkan nubuat para nabi, seperti nubuat Nabi Yesaya dalam Yesaya 11:

"Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah." (Yesaya 11:1)

Mesias "Bertunas" dari Isai

    "Bertunas" berarti memiliki "daging". Adam "bertunas" dari bumi bermakna bahwa daging/tubuh Adam berasal dari debu/tanah liat (bumi). Maka, Yesus yang bertunas dari Daud (juga ditulis atas nama ayah Daud, yaitu Isai) berarti Kristus yang dinubuatkan dalam Yesaya 11 memang memiliki daging sebagai Anak Manusia, dan daging-Nya berasal dari silsilah Raja Daud! Maksudnya, Mesias yang ditunggu-tunggu itu memiliki daging dari keturunan Isai. Mesias itu adalah manusia dari garis keturunan Isai, namun Roh-Nya berasal dari Allah Bapa. Roh-Nya adalah Roh Kudus! Namun, kita tidak menyebut pribadi Yesus itu semata-mata Roh Kudus dalam pengertian wujud non-fisik saja, karena "lidah api" yang menghidupkan sel telur (ovum) Santa Maria telah menjadi manusia—sehingga secara kasatmata Ia terlihat seolah-olah memiliki roh yang terpisah dari Roh Allah Bapa. Ia tampak terpisah bagi mata manusia karena Ia telah terbungkus oleh daging! Oleh karena itu, orang tanpa anugerah "mata yang melihat" hanya akan melihat daging Yesus saja! Bapa, Yesus, dan Roh Kudus adalah satu Roh Allah!

    Roh Yesus berasal dari Benih (Seed), yaitu "lidah api" yang menghidupkan sel telur Santa Maria menjadi janin yang hidup, lalu tumbuh dan lahir sebagai Mesias yang ditunggu-tunggu. Sel telur Santa Maria adalah tunas dari Daud. Sel telur tersebut mengalami pengubahan ketika Kuasa Kehidupan (Roh Kudus) menghidupkannya tanpa sperma, dan Ia menjadi manusia karena Roh Kudus! Oleh sebab itu, Ia disebut "Anak Manusia." "Anak Manusia" juga mengandung makna bahwa Yesus adalah "domba jantan pemikul dosa" (the Scapegoat/Azazel), sebagaimana kambing jantan yang dipersembahkan pada Hari Raya Pendamaian. Nabi Yehezkiel juga disebut son of man (anak manusia) karena ia kerap kali diperintahkan Allah untuk memperagakan kembali dosa-dosa Israel dan menanggung akibat dosa-dosa tersebut melalui bentuk nubuat sindiran; namun Nabi Yehezkiel sebenarnya melaksanakan peran lambang kambing jantan pemikul dosa. Nabi Yehezkiel dapat dikatakan sebagai bayangan (foreshadowing) atau partisipasi dalam peran Sang Juruselamat, yaitu Yesus yang telah menggenapi pelayanan mezbah menurut urutan Melkisedek di bumi.

    Jadi, Santa Maria menyediakan benih jasmani (seed of the flesh) yang berasal dari keturunan Daud (Isai), sedangkan Roh Kudus yang turun atas Maria menyediakan Benih Roh (Seed of the Spirit) bagi Anak Allah dalam kandungan Maria. Ketika Kristus lahir, Ia disebut "Anak Allah Yang Mahatinggi" dan Ia juga sering menyebut diri-Nya sebagai "Anak Manusia." Sebutan yang pertama merujuk kepada keilahian-Nya, sedangkan sebutan yang kedua merujuk kepada kemanusiaan atau daging-Nya, yaitu Anak Domba Allah. Dengan demikian, Ia sanggup memenuhi misi sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Mezbah yang sempurna di bumi menuntut Anak Domba Allah dari sorga, dan Anak Domba itu harus memiliki daging dan darah yang mewakili umat manusia. Ketika mempersembahkan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah, Yesus berkata saat mengembuskan napas terakhir-Nya: "Sudah selesai" (It is finished). Mezbah dan Jalan itu telah digenapi dalam Kristus. Melihat kayu salib sebagai penggenapan Firman Allah berarti melihat dan percaya kepada nama Bapa, serta percaya kepada nama Anak Allah Yang Mahatinggi.

    Hawa (Eve) sebagai perempuan (woman) menunjuk kepada bangsa pilihan Allah dari antara segala bangsa di bumi, yaitu bangsa Israel. Namun, bangsa-bangsa lain di dunia juga telah melihat Terang Dunia itu. Bangsa-bangsa lain yang percaya kepada nama Allah Israel disebut dalam kata nubuat sebagai saksi-saksi Kristus (the offspring). Dalam hubungan ibadah rohani, Gereja memang disebut sebagai mempelai Kristus. Namun, dalam tafsiran roh nubuat (Spirit of Prophecy), perempuan (woman) itu selamanya merujuk kepada kaum Yakub (the house of Jacob). Penglihatan Santo Yohanes dalam Wahyu 12 mengenai perempuan dengan mahkota 12 bintang di kepalanya dan bulan di bawah kakinya adalah penglihatan rohani yang serupa dengan yang dilihat oleh Bapa Leluhur Yusuf dalam Kejadian 37:9:

"Lalu ia bermimpi pula untuk kedua kalinya dan menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya, katanya: 'Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.'" (Kejadian 37:9)

    Penglihatan Yusuf adalah identitas kaum Yakub yang serupa dengan penglihatan Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1. Kaum Yakub inilah yang menerima sumpah Allah! Bangsa-bangsa lain yang percaya kepada nama Allah Israel dan percaya kepada nama Yesus Kristus disebut saksi-saksi Kristus atau keturunan perempuan itu (the offspring of the woman):

 

"Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus." (Wahyu 12:17)

    Kita dapat belajar dari sejarah Israel bahwa mereka dididik oleh Roh Allah selama 40 tahun di padang gurun agar mereka mengerti apa itu "percaya." Dengan percaya yang sempurna, barulah mereka melihat tembok Yerikho runtuh, Sungai Yordan terbelah, dan selanjutnya dapat menduduki Tanah Perjanjian. Nama Allah menjanjikan pengampunan dosa, tetapi orang percaya perlu dididik terlebih dahulu oleh Roh Allah agar ketika memohon pengampunan melalui pengakuan dosa setiap hari atau setiap kali berdoa, kita diberi kemampuan untuk "memindahkan gunung ke dalam laut." Memohon pengampunan dosa di hadapan Allah tanpa kekuatan dari Allah adalah usaha yang bagaikan memindahkan gunung ke dalam laut. Hanya "ranting" yang menerima "biji sesawi" (suara Firman) dari sorga yang diberi dasar keyakinan untuk dapat memindahkan gunung ke dalam laut. 

    Sebelum keyakinan itu datang, keraguan bagaikan "Goliat" atau gunung yang sangat sukar ditaklukkan. Untuk mendapat anugerah keyakinan, dibutuhkan anugerah "fajar menyingsing" (seperti dalam kisah Yakub bergulat hingga fajar menyingsing). Dan "ranting" itu akan berkata: "Apart from You, I am nothing" (Di luar Engkau, aku tidak dapat berbuat apa-apa). Allah bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan Ia memberitahukan rahasia perjanjian-Nya kepada mereka (Mazmur 25:14). Ayub bersaksi: "Tetapi kepada manusia Ia berkata: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat" (Ayub 28:28). Karunia ialah karya Roh Tujuh Lapis yang dianugerahkan kepada mereka yang tertulis sebagai penerima kasih karunia, seperti para nabi. Dasar operasional karunia-karunia ialah Roh Allah sendiri: Roh Tujuh Lapis Kristus (the Sevenfold Spirit of Christ / Spirit of Menorahs — YHVH, Kristus, Bapa, Roh Kudus, Hakim/Kristus yang akan datang kembali). Maka, karunia datang dan pergi karena karunia adalah Pribadi Roh Allah. Karunia tidak melekat pada roh manusia, melainkan senantiasa melekat pada Roh Tujuh Lapis Allah; karunia-karunia adalah Roh Allah (Yesaya 11). Manusia tidak dapat bernubuat atas kehendaknya sendiri karena Roh Nubuat (Spirit of Prophecy) adalah Roh Tujuh Lapis Allah. Oleh karena itu, setiap karunia dipohonkan setiap kali kita berdoa.

Nabi Musa sebagai Penerima Kasih Karunia

17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." 18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." 19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." 20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." 21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; 22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat."  (Keluaran 33:17-22) 

    Raja Daud mempunyai delapan istri dan banyak gundik. Namun, ia berdoa tiga kali sehari dan memuji-muji Allah sebanyak tujuh kali sehari. Tulisan ini bukan untuk mempromosikan kelemahan daging atau mendukung pilihan kehendak daging Raja Daud. Memang perbuatan berzinah itu terjadi dalam kehidupan jasmaninya, sebab Allah menghendaki raja bagi teokrasi Tanah Suci hanya beristri satu (monogami), sebagaimana yang diberitahukan oleh Nabi Samuel kepada Israel. Namun, Daud bersaksi bahwa Allah yang menanggung deritanya (dosanya); maksudnya, Allah yang menghapus (delete) dosa-dosa pada roh Daud. Ketika Daud masuk ke dalam hadirat Roh Allah dalam doa (spirit of prayer), Allah menaunginya dengan perlindungan rohani (spiritual covering), sebagaimana Nabi Musa yang dinaungi dengan telapak tangan Allah di Gunung Sinai.

    Kisah Musa yang dinaungi telapak tangan Allah itu senantiasa menunjuk kepada Kristus dan darah-Nya! Naungan rohani itu bersifat roh dan tidak dapat dilihat oleh mata kasat manusia. Seseorang memerlukan karunia "Roh Pengertian" untuk memahami kebenaran ini. Sebagai perbandingan dan untuk mencerahkan pemahaman intelek kita, kita dapat membayangkan roh kita yang dinaungi oleh belas kasihan Allah (kebaikan-kebaikan Roh Ilahi, termasuk Khotbah di Bukit / Ucapan Bahagia), sebagaimana bumi dinaungi oleh medan magnet dan lapisan-lapisan atmosfer. Naungan roh itu juga telah diberitakan sejak permulaan, di mana kita melihat bagaimana Adam dan Hawa yang berdosa karena memakan buah terlarang dinaungi oleh Allah dengan pakaian dari kulit binatang yang dibuat oleh kuasa Firman Allah. Demikian pula pesan pakaian kudus yang dipakai oleh Imam Harun ketika memasuki hadirat YHVH di Tempat Mahakudus (Holy of Holies) dalam Kemah Suci.




   There is always a 'cleft' for you and me in Christ, the rock of our salvation, so that we would be covered by the divine spiritual mantle (cloak). Just as the earth that covered by the unseen magnetic field and also by the atmospheric layers, so that the earth and all living beings inside her would not be burned down by the Sun's rays or Solar flares. His 'name' has unlimited divine resources including 'Beatitudes' in covering us up, so that we are able to stand in His Holy Presence ('seeing the Face of God'): The Consuming Fire.

                                     
...'tidak terbakar' di dalam hadirat 'Matahari' yang 'Consuming Fire.' Kekudusan Tuhan adalah 'Consuming Fire.'

19 And he said, “I will make all my goodness pass before you, and will proclaim before you the name, ‘The Lord’; and I will be gracious to whom I will be gracious, and will show mercy on whom I will show mercy.20 But,” he said, “you cannot see my face; for no one shall see me and live.” 21 And the Lord continued, “See, there is a place by me where you shall stand on the rock; 22 and while my glory passes by I will put you in 'a cleft' of the rock, and I will cover you with my hand until I have passed by; 23 then I will take away my hand, and you shall see my back; but my face shall not be seen.” (Exodus 33: 19-23)


Every time we seek the Spirit of Prayer, then we have to confess : "apart from You, I am nothing." Knowing that His presence is Consuming. Therefore, it is good to glorify His 'name,' because his 'name' is always cheerful in endowing us perfect 'mercy' in covering us --a 'poor spirit' [3 “Blessed are the 'poor in spirit,' for theirs is the kingdom of heaven (Matthew 5: 3)]. God's holiness is Consuming Fire. Therefore, whenever we 'enter' into His presence, then, we are, in truth, always 'poor in spirits' in His 'consuming' presence; our spirits are, as cotton as in the presence of the fire of God. To be consciously 'seeing' 'oneself' as a small lump of Cotton in God's Consuming Fire is undeniably the results of Divine operations called 'poor in spirit' (Mat.5: 3). Thus, we always thank God in endowing us the spiritual covering!  It is good to learn the natural wonders of the Creation, even as our mother Earth covered with atmospheric layers, so that the living things inside her would not be 'consumed' by the Consuming Sun!