Jumat, 07 November 2025

Bagaimana BERSUKACITA senantiasa ?

 


Penghibur/Roh Sukacita adalah Roh Kudus

 26 "...tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. 

27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Alkitab Terjemahan Baru, Yoh. 14:26-27) 

 

Sukacita di dalam Kristus

"Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka 'pohon tarbantin kebenaran', 'tanaman TUHAN' untuk memperlihatkan keagungan-Nya. Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa." (TB Yes. 61:1-3, 10-11) 

 

    Mengenal Yesus Kristus adalah dasar dari segala janji Allah yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat. Janji Allah kepada kita akan kasih karunia hidup kekal adalah sukacita abadi bagi kita, yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Berkat Tuhan, yaitu berkat pendamaian, berkat penebusan dosa, dan berkat penyembuhan batiniah serta jasmani, dijanjikan di dalam nama Kristus Yesus! Oleh sebab itulah, sukacita kita ada di dalam nama Kristus. Maka dari itu, mengenal Yesus Kristus adalah Jalan kita untuk bersukacita senantiasa! "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (TB Yoh. 17:3)

    Sukacita "di dalam Kristus" telah dinubuatkan dalam lirik Mazmur 98:1-4, ratusan tahun sebelum Yesus Kristus datang ke dunia melalui kelahiran-Nya dari Perawan Maria:

"1 Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya (Yesus Kristus), oleh lengan-Nya yang kudus. 2 TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. 3 Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. 4 Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (TB Mzm. 98:1-4) 



Bersukacitalah senantiasa 

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (TB Flp. 4:4)

16 Bersukacitalah senantiasa (Rejoice always in the Lord). 17 Tetaplah berdoa. 18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (TB 1 Tes. 5:16-18)

 

    Mengapa Rasul Paulus menasihatkan kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus agar "bersukacita senantiasa"? Jawabannya terdapat dalam Amsal 17:22 yang berbunyi: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (TB Ams. 17:22). Rupanya, Raja Salomo memiliki pengertian dan hikmat mengenai rahasia obat kehidupan yang mujarab! Kata "hati" di sini merujuk kepada "roh" atau pusat rohani, sekaligus merujuk kepada jiwa (the things that constitute the volition of the soul, namely the conscience, the emotions, and the intellectual capacities). 

    Hal-hal tersebut merujuk kepada pusat jiwa dan pusat rohaniah. Namun bagi tubuh rohaniah, pusat roh merujuk kepada sumbu roh, yaitu sarana komunikasi tubuh roh manusia dengan alam roh. Tempat "lidah api" Roh Kudus itu hinggap adalah pusat roh manusia.  

    Jika jiwa dan roh memiliki sukacita atau kegembiraan, hal itu akan menjadi obat yang sangat mujarab bagi kesehatan tubuh roh, jiwa, dan juga tubuh jasmani! Sebaliknya, jika kesedihan atau kemurungan melanda jiwa, hal itu akan berdampak buruk bagi sistem kesehatan tubuh, termasuk sistem kekebalan tubuh (immunology).  Goleman mengatakan bahawa sistem saraf dan emosi berhubung kait dengan fungsi-fungsi imunologi[1]. Pengeluaran hormon-hormon tubuh badan terkait rapat dengan reaksi emosi.  Emosi yang positif mengurangkan risiko kesihatan, manakala mereka yang menghadapi atau mengalami emosi negatif secara jangka panjang akan melipat gandakan risiko penyakit [2]  

    Frasa “di dalam Kristus”, jika dirujuk silang melalui pencarian tipologi (tipologi berarti gambaran atau bayangan dari karya keselamatan Kristus yang tersembunyi dalam Kitab-Kitab Taurat).  Dalam petikan Keluaran 33:20-22, bayangan tipologi "Pendamaian" Kristus dari nabi Musa dan hadirat TUHAN (YHVH) tersebut merujuk kepada frasa “di dalam lekuk gunung batu”.  Dalam pengertian Injili, “lekuk gunung batu” itu merujuk kepada pendamaian antara Allah dan manusia oleh kuasa darah kudus Kristus yang tercurah di kayu salib.

 

Sikap mengimani kata "bersukacita" atau “rejoicing always in the Lord”

     Sebelum kita memahami Firman Allah mengenai iman untuk “bersukacita dalam Tuhan,” kita perlu mengetahui dan mengerti rahasia keberadaan diri kita sendiri. Diri kita terdiri dari tiga unsur (essence), yaitu tubuh jasmani, jiwa, dan roh. Jiwa ada karena tubuh jasmani dan roh bersatu secara ajaib. Ketiga unsur ini dianyam bersama secara halus oleh kuasa Allah, sehingga dapat berdampingan (co-exist) dalam satu pribadi manusia. 

    Kita memerlukan Hikmat Ilahi untuk melaksanakan kehendak Allah untuk “bersukacita senantiasa,” sebab tidak mudah untuk tetap bersukacita di dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa (fallen world), terlebih lagi karena kesadaran (consciousness) kita kerap didominasi oleh panca indra tubuh jasmani (the five senses of the flesh). Kita memiliki tiga lapisan keberadaan, bahkan terdapat tiga jenis "pusat kehidupan" yang berdampingan dalam diri kita di bumi.  Oleh karena itu, kita perlu memahami fungsi dari pusat kehidupan tersebut untuk dapat bersukacita secara iman!

   Kita perlu menyadari bahwa ada tiga dimensi dalam diri kita: fisik, jiwa, dan roh (physical body, soul, and spiritual body). Kita memerlukan pengetahuan dasar bahwa jantung fisik berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh agar seluruh organ memperoleh asupan gizi (nourishment) untuk proses metabolisme yang seimbang serta untuk pembuangan sisa metabolisme (excretions of toxins and residuals). 

    Kita memiliki pusat jiwa tempat munculnya emosi, sedangkan dimensi yang paling dalam dan jarang disadari orang adalah pusat roh (the heart of the spirit), yaitu sarana untuk berkomunikasi dengan alam roh Ilahi maupun alam kegelapan. Bagian inilah dari diri kita yang sejati (the true essence or the higher self) yang dapat berkomunikasi dengan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus! 

    Singkatnya, jiwa memiliki dua jenis minda, yaitu terdiri dari "rational mind" dan "irrational mind (emotional mind)"[3]. "Pertama, pikiran rasional, adalah cara pemahaman yang biasanya kita sadari, lebih menonjol, dalam kesadaran, bijaksana, mampu merenung dan merefleksikan"[4].  Yang kedua ialah pikiran emosional (Irrational mind) yang impulsif, kuat dan terkadang tidak logis [5].  Pikiran emosional ini adalah tempat kita merasakan pelbagai pengalaman emosi seperti perasaan kasih, rindu, maupun benci [6].  Kegembiraan rohaniah, iaitu sukacita dalam keselamatan Kristus mennjadikan kita memiliki "...obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang" (Ams. 17:22). Namun, roh kita perlu dilahirkan kembali, mengalami penyucian, dan terus-menerus dibarui agar dapat belajar dari Roh Kudus bagaimana untuk bersukacita senantiasa. Melalui penyertaan iman, kita dimampukan untuk melakukan kehendak Allah, yaitu rejoicing always in the Lord.

    Bagaimanakah pedoman pemikiran (precept) yang perlu kita pegang ketika menghadapi berbagai tantangan agar kita memperoleh kemenangan dalam rejoicing always in the Lord?  Kita belajar dari kedua belas rasul mengenai prinsip baku yang perlu dianut, karena merekalah yang memegang kebenaran sejati. Rasul Petrus menulis dalam 1 Petrus 1:7-11:

"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu." (TB 1Pt. 1:7-11) 


    Meskipun demikian, Tuhan Yesus mengetahui bahwa di dalam dunia ini para pengikut-Nya akan mengalami banyak penderitaan. Oleh karena itu, secara tubuh dan jiwa sangat sulit untuk bersukacita dalam segala hal setiap saat. Namun, roh kita dapat bersukacita senantiasa dengan mempergunakan iman kita di dalam Kristus!

   "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (TB Yoh. 16:33)

    Sukacita dalam roh membutuhkan pengertian dan pengetahuan yang cukup dalam menghadapi kekuatiran, agar kita dapat bersukacita senantiasa di dalam Tuhan:

6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Allah yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. 7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. 11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin. (TB 1Pt. 5:6-11) 

 

Roh Sukacita (The Spirit of Joy - the Holy Ghost - Paraclete)

    Iman yang teguh akan memastikan bahwa setiap doa kita senantiasa didengar oleh Allah Bapa di sorga di dalam nama Kristus. Oleh karena itu, marilah kita mengucap syukur dan bersukacita senantiasa, karena Bapa kita selalu mendengar doa-doa kita di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

    "Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi." (TB Why. 8:4-5) 

Marilah kita senantiasa mengucap syukur dan bersukacita di dalam nama Yesus Kristus, karena Roh Allah sendiri yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran.

"Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (TB Yer. 31:34) 


"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (TB Ams. 17:22)


3 Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. 4 Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. 24 Kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel! 25 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya. 27 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! (TB Mzm. 22:3, 4, 24, 25, 27)






Nota Kaki

[1] Goleman, Daniel. Emotional Intelligent. 1st ed.., 1995. 
            New York, Bantam Books, 1996, pp.190-193
[2]  Ibid. 
[3]  Ibid, pp. 9-10
[4]  Ibid.
[5]  Ibid. 


Sitasi

Alkitab Terjemahan Baru. Yayasan Lembaga SABDA, sabda.org. Diakses 7 November 2025.



Selasa, 03 Juni 2025



The Spirit of God is only One 'Spirit', yet it is seen as the-Sevenfold Spirit of God- 'Spirit of the Menorah'...

7 Lift up your heads, O gates!
    and be lifted up, O ancient doors!
    that the King of glory may come in.
8 Who is the King of glory?
    The Lord, strong and mighty,
    the Lord, mighty in battle.
9 Lift up your heads, O gates!
    and be lifted up, O ancient doors!
    that the King of glory may come in.
10 Who is this King of glory?
    The Lord of hosts,
    he is the King of glory (Psalm 24: 7-10).

    Yahweh, Christ, the Holy Spirit, God the Father, and the returned Christ (Judge) are one 'Spirit' of God. The menorah is the Tabernacle's Lampstand with one central shaft, yet it has seven branches with buds, representing seven flames from olive oil. The Menorah was crafted by an artisan according to 'the Word' from Heaven. The Menorah always points to the 'Sevenfold' Spirit of God. Therefore, the Menorah is merely the shadow of the 'Sevenfold' Spirit of God. YHVH, God the Father, the Holy Spirit, the Spirit of the Messiah (Isaiah 11), and the spirit of the Judge (returned Christ), ...all are the 'Sevenfold Spirit of God.' 

A rainbow originates from 'one' colorless light from the Sun, but when it passes through a prism of water droplets, it appears as 7 layers of colored light. This formation of the rainbow is called the 'prism effect.' The Spirit of God is only One 'Spirit', yet it is seen as the 'Spirit of the menorah,' which is the Sevenfold Spirit of God. It is revealed, as if, it was a seven-layered Spirit, because the Order of Melchizedek determined such predestinations right from the seventh day of Creation, in which the agendas of human 'Salvation' would be administered by the 'Sevenfold Spirit of God.'

2 And on the seventh day God finished his work that he had done, and he rested on the Seventh Day from all his work that he had done. 3 So God blessed the seventh day and made it holy, because on it God rested from all his work that he had done in creation (Genesis 2: 2-3).

    The word 'rested' in the second verse refers to God's 'liberation' from the servitude of the Creation agenda. When Creation (the universe and humanity) was not yet completed, the Spirit of God seemed to be enslaved by His own agenda in completing Creation. Therefore, the word 'rest' is not to be interpreted literally but rather seen through the lens of 'the Spirit of Prophecy.' What is the Spirit of Prophecy? All Scripture is delivered to humanity in 'the Spirit of prophecy.' Why was the Book of Genesis, for example, written by Prophet Moses, and not written by the first man i.e. Adam? Because every Word of God is delivered in 'the Spirit of prophecy.' 

    Genesis is not concerning about Kronos information (chronological accounts), but rather "the Spirits of prophecy." So, Prophet Moses who wrote the book Pentateuch, did not pose any problem, though he was not there, when God laid the foundations of the universe. Because all Word flows in "the Spirit of prophecy." The Word is 'spirit' and life (John 6:63). The Word is not chronological, although some chronology can be deduced from the Books, especially those related to historical events like the records in books of the Kings.  Prophet Isaiah prophesied: "I make known the end from the beginning..." (Isaiah 46:10); these phrases suggest that the Biblical records were not written as according to chronological historical events. They were revealed unto human beings in the Spirit of Prophecy!

    The word 'Rested' in the second verse of the second chapter in the Book of Genesis is a prophetic word (the Spirit of prophecy) that prophesies, that God cannot sanctify humanity, if it is still enslaved by sin. Humanity needs to find 'rest' from the shackles of sin, and only then will God sanctify a believer. Just as God could not sanctify the first day to the sixth day in the prophetic sequence of creation, so in the salvation of humanity, He could not sanctify the first to the Sixth Day, because God was still enslaved by the agenda of creating (Creation Agenda). 

    Only when God was freed from the 'servitude' of Creation, which was on the seventh prophetic sequence or called the 7th day, only then can He sanctify Creation. That is why He sanctified only the 7th day. Similarly, sinful humanity, ...God cannot sanctify someone who is still bound by the servitude of sin. And, only when a person is freed from the shackles of sin, only then will God be able to sanctify him, through the bestowal of the Way, the Door, and the Keys. God could not 'sanctify' Israel when they were still enslaved in the land of Egypt, but God was able to sanctify them, after they were freed from servitude by the powers of other nations (heathen nations). In the Holy Land, they are said prophetically to have found 'rest' in the Promised Land; which means, they were free from servitude. We are not promised the gift of the Promised Land like Israel, but we are granted the blessing to enter the New Covenant promised to Israel (Jeremiah 31:31-33). 

    So great and extraordinary is the blessing flowing from the manifestation of the New Covenant, that even the 'islands' rejoice and the 'feet of the mountains' sing. 'Islands' and the feet of the mountains refer to other nations who believe in the 'Word' becoming 'the man called the Messiah'. Other nations have also shared in entering the New Covenant, as names written in the Book of Life. "31 “Behold, the days are coming, declares the LORD, when I will make a new covenant with the house of Israel and the house of Judah, 32 not like the covenant that I made with their fathers on the day when I took them by the hand to bring them out of the land of Egypt, my covenant that they broke, though I was their husband, declares the LORD. 33 But this is the covenant that I will make with the house of Israel after those days, declares the LORD: I will put my law within them, and I will write it on their hearts. And I will be their God, and they shall be my people" (Jeremiah 31: 31-33).

    When God sanctified the 7th day, what was the "name" of God that God used to sanctify that day? It is also in the language of 'the spirit of prophecy.' The word "sanctify" in the 3rd verse of Genesis 2 refers to the spirit of prophecy that cannot be separated from the immutable 'name' of God. That 'Name' grants the guarantee of 'maintenance' and 'salvation' to Creation and humanity. The Lord Yahweh proclaimed that 'Name' to Prophet Moses as recorded in Exodus 34:5-7. That 'Name' is what can sanctify humanity that has been freed from servitude. The Spirit of Christ also originates from that 'Name.' That is why the writer of Hebrews wrote that Christ is the same yesterday, today, and forever in Hebrews 13:8. The Spirit of Christ is 'one' with the "name" of God proclaimed by the Lord Yahweh in the record of Exodus 34:5-7.

    In verses 5 to 7, Yahweh proclaims His divine attributes. Thus, the 'name' ('handiwork') of God cannot be separated from His immutable attributes. The 'immutable' divine attributes guarantee our Salvation. And, Christ possessed those divine attributes, even during his earthly days was visible to the naked eyes of the human beings, while God the Father, YHVH, has never been seen by humans; He was invisible! Even the prophets in the old covenants days only saw 'a glimpse' of the unfathomable existence of the Heavenly Father. And yet, only Christ has seen fully, God the Father, from the beginning. Therefore, He is called 'Alpha and Omega.'

    However, who is the King of Glory and what were the meanings of the phrase 'ancient doors'? The King of Glory has divine attributes as recorded in Exodus 34:5-7. And the 'ancient doors' cannot be separated from the "name" of God in the proclamation of God according to the record of Exodus 34:5-7.  The "Ancient Ones" referred to God, the Father, whose "name" was/is Immutable, as long as heaven and earth have not yet been replaced by the New Heaven and New Earth!! Because New Heavens and New Earth mean the new "name" of God.


Kamis, 29 Mei 2025

Tiga Aliran Nama Tuhan dalam Sejarah Penyelamatan


Pendahuluan 

Dalam perjalanan sejarah manusia, Tuhan menyatakan diri-Nya dengan berbagai cara — melalui ciptaan, nabi-nabi, hukum, dan akhirnya melalui Firman yang menjadi manusia. Salah satu cara paling kuat Tuhan menyatakan diri-Nya adalah melalui nama-Nya. Nama-nama Tuhan bukan sekadar gelaran, tetapi wahyu yang hidup dan bekerja dalam penyelamatan umat-Nya. Dalam pengamatan yang mendalam, kita dapat merangkum karya penyelamatan Tuhan dalam tiga aliran nama:


1. Nama-Nama Perjanjian (Covenanted Names)

2. Nama-Nama Kekal (Immutable Names)

3. Firman Allah sebagai Nama (The Word of God as His Name)


---

1. Nama-Nama Perjanjian Tuhan (The Covenanted Names of God) 

Nama-nama ini muncul dalam konteks Tuhan membentuk hubungan perjanjian dengan umat-Nya. Nama-nama ini menegaskan kehadiran, pertolongan, dan komitmen Tuhan dalam kehidupan nyata. Contoh-contoh utama termasuk:


YHWH-Yireh – Tuhan yang menyediakan (Kej 22:14)

YHWH-Rapha – Tuhan yang menyembuhkan (Kel 15:26)

YHWH-Nissi – Tuhan panji kemenangan (Kel 17:15)

YHWH-Shalom – Tuhan damai (Hak 6:24)


Nama-nama ini mengungkap siapa Tuhan bagi umat-Nya, dan bagaimana Dia menyatakan kasih dan kuasa-Nya dalam konteks perjanjian.

Perjanjian Tuhan dengan Noah


1 Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 

8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” 12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Ku adakan antara Aku, dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Ku taruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Ku datangkan awan, di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah TANDA PERJANJIAN yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.” (TB Kej 9:1,8-17)

Perjanjian Tuhan dan Abraham

Lagi firman Tuhan kepadanya: “Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Kata Abram: “Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Firman Tuhan kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi Tuhan, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Firman Tuhan kepada Abram: “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.” Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu.” (TB Kej 15:7-21)

Perjanjian Tuhan dengan Yaakub/Israel


Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” (TB Kej 28:13-15)


Perjanjian Tuhan dengan the New Zion dalam Perjanjian Baru di dalam Kristus 

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengadakan PERJANJIAN BARU dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman Tuhan. Tetapi beginilah PERJANJIAN yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (TB Yer 31:31-34)

---


2. Nama-Nama Kekal Tuhan (The Immutable Names of God) 


Nama-nama ini mengungkapkan sifat kekal dan tidak berubah dari Tuhan. Ia adalah Allah yang sama dahulu, sekarang, dan selama-lamanya:


El Shaddai – Allah Yang Mahakuasa (Kej 17:1)

El Elyon – Allah Yang Mahatinggi (Kej 14:18-20)

El Olam – Allah Yang Kekal (Kej 21:33)

El Roi – Allah Yang Melihat (Kej 16:13)

YHVH - The Great Mercy of God

I AM THAT I AM - Ehyeh Asher Ehyeh

Keluaran  34: 5-7 

Turunlah Tuhan dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama Tuhan. Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: “ Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” (TB Kel 34:5-7)


Nama-nama ini lebih menekankan pada keagungan dan keberadaan Tuhan yang transenden dan tidak terbatas.


3.  The Word of God – His Name is the Word of God


(Firman Allah: Nama-Nya adalah Firman Allah)

 “...dan nama-Nya ialah: Firman Allah.” – Wahyu 19:13

Ini adalah penyataan tertinggi dan terakhir dari Allah — bukan hanya nama, tetapi Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:1,14).


Yesus disebut:

Logos – Firman Hidup

Imanuel – Allah menyertai kita

Anak Domba Allah – Penggenap segala korban