Jumat, 04 Desember 2015

"Di atas awan-awan di langit": Kristus Yesus sebagai YHVH dan Hakim Agung

 By Joannes Simin 

 

 

Yesus di Hadapan Mahkamah Agama


59 Imam-imam kepala, bahkan seluruh Mahkamah Agama, mencari kesaksian palsu terhadap Yesus supaya Ia dapat dihukum mati. 60 Namun, mereka tidak memperolehnya, walaupun banyak saksi dusta yang tampil. Akhirnya, tampillah dua orang 61 yang berkata, "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." 62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya, "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya, "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak?" 64 Jawab Yesus, "Engkau telah mengatakannya. Namun, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." (Alkitab Terjemahan Baru, Matius 26.59–64)

    Pengakuan Yesus tentang diri-Nya—seperti yang tertulis dalam Taurat, nubuat para nabi, dan lirik-lirik dalam Mazmur—telah mempercepat penghakiman oleh Mahkamah Agama terhadap Yesus. 65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang kamu telah mendengar hujat-Nya. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata, "Ia harus dihukum mati." (Matius 26.65–66)

    Pengakuan Yesus melalui frasa "...datang di atas awan-awan di langit" sebenarnya tidak mengelirukan pemikiran (precepts) para imam dan saksi. Mereka sangat memahami bahwa frasa "awan-awan di langit" merujuk pada Kemuliaan Tuhan (YHVH). Oleh karena itu, pengakuan 'keilahian' Kristus bahwa Dia setara dengan YHVH telah memuaskan keinginan buta para imam. Mereka berpikir bahwa mereka telah berhasil menghukum Dia, padahal Dialah sebenarnya yang berfirman pada zaman Perjanjian Lama. Yesus dituduh menghujat YHVH menurut penghakiman Mahkamah Agama; padahal Dia sesungguhnya adalah Roh YHVH pada zaman Perjanjian Lama tersebut.

    Berikut adalah beberapa petikan yang menjelaskan bahwa frasa profetik "datang di atas awan-awan di langit" merujuk pada kemuliaan hadirat Tuhan; sekaligus menjadi pernyataan yang jelas mengenai pengakuan keilahian Yesus. Yesus Kristus mengakui bahwa Dia adalah Ilahi: "Aku dan Bapa adalah satu" (~Satu Roh).


Contoh Petikan Frasa “Datang di atas Awan-awan di Langit” dari Taurat, Para Nabi, Mazmur, dan Kitab Wahyu


1) "Datang di atas awan-awan di langit" (Petikan dari Kitab Taurat)

9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." 18 Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. (Keluaran 19.9, 18)

    Maka Musa mendaki gunung itu dan awan itu menutupinya. Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari tengah-tengah awan itu. Tampaknya kemuliaan TUHAN sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel. Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya. (Keluaran 24.15–18)

 

2) "Datang di atas awan-awan di langit" (Petikan dari Kitab Nabi-Nabi)

"Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini." (Yesaya 45.8)

13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Daniel 7.13–14)

"Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin." (Wahyu 1.7)


3) "Datang di atas awan-awan di langit" (Petikan dari Kitab Mazmur)

Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, tidak hendak kami sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberikan-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka... dituntun-Nya mereka dengan awan pada waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang api. (Mazmur 78.3–5, 14)

    Penulis tidak akan menguraikan perihal penghakiman Mahkamah Agama tersebut, melainkan akan membagikan pemikiran tentang misteri mengenai "Dia yang datang di atas awan-awan di langit"; yaitu sebuah frasa profetik perihal kemuliaan hadirat Roh Tuhan. Yesus dihakimi dan disalibkan sebagai manusia dengan derajat paling rendah—sebagai hamba yang dijual seharga 30 uang perak—serta sebagai penghujat Tuhan dalam agama Perjanjian Lama. Namun, kematian-Nya itulah yang menjadi karya agung-Nya. Dalam kematian-Nya, kehendak Tuhan digenapi karena Dia menjadi korban penebus salah: Sang Jurupenebus.

    Oleh hikmat-Nya, Ia membenarkan banyak orang (Lihat Yesaya 53). Oleh kematian-Nya, pulau-pulau menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan dan memuji-muji nama-Nya.


Mengapa Yesus Kristus Mengatakan bahwa Dia Datang di atas Awan-awan di Langit?

"Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin." (Wahyu 1.7)

    Dia yang ditakdirkan sebagai "Domba Allah yang menghapuskan dosa dunia" telah berkata bahwa 'mulai sekarang' (pada saat Ia dihakimi manusia), engkau (Imam Besar) akan melihat Dia "datang di atas awan-awan di langit." Hal ini disebabkan perkataan tersebut merujuk pada kemuliaan-Nya sebagai co-partner Tritunggal: Hakim atas segala ciptaan! Dalam seluruh nubuatan Kitab Suci, frasa profetik tersebut merujuk pada Kristus yang dimuliakan di hadapan Bapa. Frasa ini juga merujuk pada kuasa yang dianugerahkan oleh Bapa, bahwa kuasa penghakiman dan penghukuman telah diserahkan kepada Anak Manusia yang "memegang segala kunci maut dan kerajaan maut" (Wahyu 1.18).

    Artinya, segala kematian berada di bawah takluk kekuasaan Kristus, bukan di tangan si Ular Tua. Kristus bukan sekadar sumber Kehidupan, melainkan Dia juga memiliki segala kekuasaan yang melampaui segala keberadaan maut, atau "memegang segala kunci maut dan kerajaan maut" (Wahyu 1.18).


Makna Frasa “Datang di atas Awan-awan di Langit”

    "Awan" yang terlihat oleh mata telanjang di atas merupakan salah satu fenomena pemandangan langit yang senantiasa menakjubkan karena keajaibannya. Fenomena ini memberikan inspirasi kepada manusia karena kedudukannya yang selalu ada di setiap lapisan langit. Bahkan, awan menimbulkan kegentaran dan kecemasan di hati manusia ketika menunjukkan tanda-tanda cuaca buruk seperti badai petir yang dahsyat atau pembentukan angin puting beliung.

    "Warna putih suci awan" tidaklah asing jika dikaitkan dengan "Kemuliaan" Tuhan yang Mahakudus. Kemuliaan hadirat Roh Tuhan dikaitkan dengan keberadaan "awan-awan suci (bersifat roh)" yang berkepul-kepul.

"Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci... kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci." (Keluaran 40.34–35)

    Hadirat "awan-awan Tuhan" adalah kemuliaan-Nya yang memberikan keadilan kepada bangsa-bangsa (Mazmur 97.6). Awan-awan itu juga mewakili malaikat-malaikat Tuhan yang tak terhitung jumlahnya, yang hadir sebagai rombongan hadirat Tuhan. Hadirat Roh Tuhan tersebut kelihatan seperti "tiang awan dan berhenti di pintu kemah apabila Musa memasuki Kemah" (Keluaran 33.9). Raja Daud bernyanyi:

11Ia mengendarai kerub, lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin.

12 Dan Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. (2 Samuel 22.11–12)

“Awan-awan” itu dalah para malaikat Tuhan. Awan juga melambangkan kemuliaan-Nya dalam murka-Nya.

"Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni surgawi?" (Mazmur 89.7)

    Orang-orang kudus yang kembali ke bumi seperti dalam Zakaria 14:5b juga diberitakan sebagai "awan-awan untuk melayang-layang ke seluruh dunia, maka dilaksanakannya apa yang dititahkan-Nya itu" (Barukh 6.61).

    Baik saat Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya di atas takhta-Nya (di atas Tabut Perjanjian) maupun pada saat Ia murka, elemen-elemen langit secara jelas dinyatakan sebagai 'pelaksana' Firman Tuhan.

"Pujilah TUHAN... hai api dan hujan es, salju dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya." (Mazmur 148.8)

    Mengapa elemen-elemen langit tersebut melaksanakan Firman? Jawabannya sederhana: seluruh elemen langit tersebut "menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2).

"Fire, hail, snow, clouds, and stormy wind are fulfilling His Word."

Oleh karena itu, kita tahu bahwa pada kedatangan Kristus yang kedua kali, Kristus telah bernubuat dalam Matius 24:30:

"Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya."

    "Awan-awan" (bersama Roh Tuhan) memberitakan kemuliaan-Nya sebagai Hakim, karena pemazmur bernyanyi: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya." Sebagaimana "awan-awan" itu muncul dalam hadirat Tuhan, demikian pulalah awan-awan tersebut memberitakan kemuliaan Sang Hakim dan memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Jadi, kita tidak hanya melihat awan-awan, tetapi juga halilintar!

Sebelum Dia datang di atas awan-awan, telah dinubuatkan bahwa:

"...maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. 13 Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. 14 Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan bergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya." (Wahyu 6.12b–14)

 

Mengapa Langit Menyusut Bagaikan Gulungan Kitab yang Digulung?

    Untuk menjawab mengapa langit menyusut sebelum Ia turun di atas awan-awan, kita perlu menyelidiki bagaimana Yesus Kristus terangkat ke surga!

 

9...terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." (Kisah Para Rasul 1.9–11)

 

Mengapa pula "awan" perlu menutup-Nya?

    Kita tahu bahwa "awan" seolah-olah merupakan entitas langit yang melaksanakan Firman (Mazmur 148.8). Yang dimaksud dengan firman 'awan-awan' adalah para malaikat Tuhan. Mereka juga diungkapkan sebagai "bintang-bintang" seperti dalam Kitab Wahyu. Tuhanlah yang memerintahkan “awan-awan” tersebut agar menutupi Yesus Kristus yang terangkat naik ke Sorga. Dalam Mazmur 78:23, Tuhan memerintahkan awan-awan (Kerubim), dan pintu-pintu surga pun dibuka! Jika demikian, tentu Dialah yang memerintahkan "awan-awan" itu menutupi-Nya, seolah-olah menutupi pintu surga.

"He commanded the clouds above, and opened the doors of heaven;"(New American Standard Bible, Psalm 78.23)

Pemazmur juga bernyanyi:

"He who covers the heaven with clouds," (Psalm 147.8)

    Tidak mengherankan jika langit akan menyusut—yaitu awan-awan akan menggulung seperti gulungan kitab—untuk membuka "pintu" bagi "Pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya..." (Mazmur 19.6). Awan-awan tersebut memiliki sifat demikian karena Roh Tuhanlah yang memerintahkannya.

Sekilas Perihal "Langit" pada Hari Pentakosta

    Pada hari Pentakosta, yaitu perhitungan 50 hari dari hari kebangkitan Yesus, entitas langit yang memberitakan pekerjaan tangan Tuhan hanyalah "angin" dan "api".

2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (Kisah Para Rasul 2.2–3) 

    Karena Roh Kudus disebut Ruach Ha-Kodesh, pemberitaan langit hanya melibatkan "angin" dan "api", tepat seperti yang dinubuatkan oleh para nabi:

"...yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu," (Mazmur 104.4)

    Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang melaksanakan karya Kristus bagi umat manusia di bumi: Firman Allah.

"He makes the winds His messengers, flaming fires His ministers" (Psalm 104.4)

    Mengapa hari Pentakosta tidak dikaitkan dengan "awan-awan", melainkan hanya diberitakan melalui "angin" dan "api"?

Mengapa hari Pentakosta tidak dikaitkan dengan "awan-awan", melainkan hanya diberitakan melalui "angin" dan "api"?

    Sebab "awan-awan" adalah pelaksana Firman-Nya (malaikat~ Mazmur 103:20–21) dengan mendengarkan suara Firman-Nya. Raja Damai/Raja Yesus Kristus adalah Firman Allah Bapa yang diutus sebagai Anak manusia! Walaupun Roh Kudus adalah Tuhan, kita tidak pernah menyebut Roh Kudus sebagai Raja. Hanya Yahweh dan Kristus Yesus sahaja yang disebut gelaran 'Raja' seperti Raja di atas segala raja, Raja Kemuliaan, Raja Kebenaran dan Raja Damai, karena nama-nama mereka menyatakan kekuasaan karya, dan Kerajaan Allah dijelaskan melalui nubuatan-nubuatan.

    Maka, "awan-awan" tidak diperintahkan oleh Allah Bapa untuk menyatakan kemuliaan Tuhan sewaktu turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Demikian pula halnya ketika Roh Kudus mengurapi orang-orang pilihan Tuhan dalam Perjanjian Lama. Kemuliaan yang dinyatakan melalui pemberitaan "awan-awan" hanya menyertai hadirat Roh Ilahi yang bergelar "Raja", yaitu Raja YHVH dan Raja Yesus Kristus yang akan datang kelak. Dengan demikian, Kristus yang dimuliakan Bapa dinyatakan kembali sebagai yang "datang di atas awan-awan di langit."

    Kita tidak pernah menggelari Roh Kudus sebagai 'Raja' karena gelaran sedemikian bukan saja janggal, melainkan juga frasa yang tidak sesuai dengan bahasa profetik. Sungguh unik, tetapi benar! Oleh sebab itu, Pentakosta tidak dikaitkan dengan "awan-awan." Ia hanya dikaitkan dengan "lidah api" dan 'deruan angin" dari Sorga. 

    Bagaimanapun juga, orang percaya bisa saja mendapat penglihatan tentang "awan-awan" dalam doa-doa pribadi mereka. Para malaikat senantiasa mengamati manusia di bumi dan selalu bersedia melaksanakan firman-Nya serta mematuhi suara firman-Nya.


Sitasi Alkitab:

Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 15 Agustus 2026.

New American Standard Bible (NASB). Bible gateway, ://biblegateway.com. Accessed 01 December 2015.

 



















______________________________
                            to be continued.....