Wahyu 6:1-14
1 Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh
meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata
dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!" 2 Dan aku melihat:
sungguh, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah
panah; kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang
untuk merebut kemenangan.
3 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar
makhluk yang kedua berkata: "Mari!" 4 Maka majulah seekor kuda lain,
seekor kuda merah padam, dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk
mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga manusia saling membunuh;
kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.
5 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar
makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sungguh, ada
seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di
tangannya. 6 Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu
berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi
janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
7 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar
suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!" 8 Dan aku melihat:
sungguh, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama
Maut, dan kerajaan maut mengikutinya. Kepada mereka diberikan kuasa atas
seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, kelaparan, sampar, dan
dengan binatang-binatang buas di bumi.
9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di
bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan
oleh karena kesaksian yang mereka miliki. 10 Dan mereka berseru dengan suara
nyaring, katanya: "Berapa lama lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar,
Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang
diam di bumi?" 11 Kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah
putih, dan kepada mereka dikatakan bahwa mereka harus beristirahat sedikit
waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka,
yang akan dibunuh sama seperti mereka.
12 Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam,
sungguh terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Matahari menjadi hitam bagaikan
karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. 13 Dan
bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara
menggugurkan buah-buahnya yang mentah apabila digoncang angin yang kencang. 14
Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung, dan tergeserlah
gunung-gunung serta pulau-pulau dari tempatnya. (eKatolik, Wahyu 6:1-14)
Mengapa Wahyu Kristus
Diberikan kepada Kita?
Dalam prolog, yaitu pada bab 1, Santo Yohanes memulai tulisan Kitab
Wahyu: "Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya,
supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya (pengikut Jalan) apa yang harus
segera terjadi" (eKatolik, Wahyu 1:1). Wahyu ini diberikan agar kita mengetahui
apa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan demikian, kita dapat membaca
karya Roh Tuhan dalam sejarah peradaban manusia sejak permulaan atau sejak
zaman purbakala (Yesaya 46:10).
Secara alamiah, kita takut kepada tiga dimensi waktu: masa lalu, masa
kini, dan masa depan. Namun, kita paling terpengaruh oleh dimensi masa depan
yang tidak diketahui! Seorang pujangga suku Asli Amerika Utara pernah
mengatakan: "We fear the things we do not know."
Jika demikian, Wahyu Kristus kepada Santo Yohanes sebenarnya memberikan
kekuatan, bahkan membantu "pertumbuhan iman" dalam mengarungi masa
depan yang sulit diramalkan. Rasul Paulus, melalui inspirasi Roh Kudus,
menyingkapkan fungsi nubuatan: bahwa nubuatan tidak dapat dipisahkan dari
"tanda" yang diberikan kepada orang-orang percaya. "Tanda"
itu sendiri adalah pesan Tuhan yang memberikan arah, petunjuk jalan, atau
"firman". "Firman" itu menjadi pelita bagi kaki orang
percaya dan cahaya yang menerangi perjalanan iman. Oleh karena itu, anak-anak
terang tidak hidup dalam kegelapan karena ada banyak "tanda",
nubuatan, maupun revelation knowledge yang dianugerahkan oleh Roh
Kebenaran. Hal ini juga memberitakan serta mengumumkan pekerjaan Roh Tuhan.
Bagi para pengikut 'Jalan', masa depan tidak hanya dilihat sebagai hasil
keputusan manusia—khususnya para penguasa bumi—tetapi peristiwa sejarah
dipercayai sentiasa tertakluk pada kedaulatan dan kesempurnaan Firman yang
sulit ditangkap oleh akal budi manusia. Firman dalam konteks ini adalah
nubuatan-nubuatan yang telah diturunkan oleh Tuhan melalui mulut nabi-nabi-Nya
di bumi.
Rencana Tuhan tentu saja ditentang oleh Seteru-Nya, yaitu Satan, agar
manusia tertipu oleh tipu muslihatnya. Si Ular Tua juga turut bekerja melalui
agen-agennya, atau yang secara ringkas disebut sebagai "lalang" yang
ditaburkan di tengah-tengah gandum. Bahkan, orang-orang 'pilihan' Tuhan
sekalipun turut disasar oleh Iblis/Satan supaya—jika memungkinkan—mereka
menjadi tidak percaya kepada Sumber Kehidupan sejati!
Rasul Yohanes bersaksi: "Berbahagialah mereka yang membacakan
dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat dalam Wahyu ini, serta yang
menuruti (percaya) apa yang tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah
dekat" (eKatolik, Wahyu 1:3).
Mengapa dituliskan frasa "Waktunya sudah dekat",
padahal ketika Wahyu diterima oleh Santo Yohanes, gereja baru berusia puluhan
tahun sejak kelahirannya pada hari Pentakosta?
Roh Kebenaran atau Roh Penghibur diutus untuk memberikan kekuatan
sekaligus menjadi "Pembimbing" bagi para pengikut Jalan, agar mereka
melihat realitas Kebenaran, yaitu Kristus. Roh itu diutus oleh Bapa dalam nama
Kristus, bukan saja untuk meneruskan karya 'nama' Raja Damai, melainkan juga
untuk memulai karya "api penghukuman" bagi semua bangsa.
House of Jacob (Kaum Yakub) lebih dahulu dibakar oleh
"api" Tuhan karena sebagai bangsa pilihan, merekalah yang lebih
dahulu mengenal Consuming Fire (Api yang Menghanguskan) dari kekudusan
Tuhan. Pemberontakan dan ketidakpercayaan mereka telah mengundang berbagai
"selimut api". Mereka juga menolak untuk percaya kepada "Firman
yang telah menjadi manusia". Santo Yohanes bersaksi bahwa mereka yang
tidak percaya kepada "Firman yang menjadi manusia" memiliki Roh
Antikristus.
Merek yang menerima Raja Damai diperdamaikan dengan Roh Pencipta.
Sebaliknya, mereka yang menolak Jalan Perdamaian dari Raja Damai secara
otomatis menempatkan rohnya di luar bahtera atau chamber Perjanjian
Damai.
Oleh karena itu, api Roh Kudus juga melaksanakan karya sebagai Roh
Penghukuman di sepanjang era Gereja: The 'fire' of the Holy Ghost as the
Spirit of Judgment during Church's age (zaman Sion yang rohani). Rasul
Yohanes menulis bahwa era awal Gereja juga dilihat secara rohani sebagai
"waktunya sudah dekat", atau dalam bahasa Inggris disebut "the
last hours". Maka, kedatangan Kristus yang kedua kali adalah
penyempurnaan penghakiman, penghukuman, dan keadilan.
Secara pribadi, saya selalu merasa diberkati (blessed) setiap
kali membaca Kitab Wahyu. Saya tidak merasa seolah-olah dihukum hanya karena
berkeinginan untuk mengerti informasi 'rohani' yang ada dalam Kitab Wahyu.
Kabut tebal yang menutupi 'penglihatan dan pengertian' saya tentang masa depan
selalu berkurang setiap kali saya membaca dan menuruti apa yang tertulis di
dalamnya.
Saya akan mengulas petikan dari Wahyu 6:1-14 karena bagian ini merupakan
ringkasan discourse yang populer, tetapi tafsirannya masih menimbulkan
kebingungan bagi banyak orang percaya. Nubuatan berfungsi menyingkapkan
"tanda" bagi orang-orang percaya! Seluruh buku nubuatan dalam Wahyu
disertai dengan "tanda-tanda".
Ketika tanda itu disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis, kita menjadi
"pembaca zaman", atau dalam versi bahasa Inggris: "the
readers of the signs of times: the times of the Prince of Peace and the times
of Judgment by the Judge who judges in equity." Banyak ahli
teologi—baik yang pakar maupun awam—menyajikan eksposisi atau eksegesis mereka
yang kerap kali bercampur aduk dengan intellectual fascinations mereka.
Lukas 24:45 menjelaskan: "Lalu Ia (Kristus) membuka pikiran
mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." Roh Tujuh Lapis,
Menorah, yaitu Kristus, adalah satu dengan Roh Kudus yang dijanjikan akan
diutus oleh Bapa. Dialah yang bertanggung jawab untuk menganugerahkan kepada
kita roh takut akan Tuhan, roh pengertian, roh pengetahuan, dan roh hikmat.
Tanpa karunia-karunia yang diberikan oleh Sevenfold Spirit, kita tidak
akan mengerti "tanda-tanda" (nubuatan) tersebut.
Tanpa Roh Kudus, yaitu Roh Tujuh Lapis itu, siapakah yang dapat mengenal
kehendak Tuhan? Jawabannya: tidak ada seorang pun yang akan mengerti Tuhan! "Perkataan-perkataan-Ku
adalah Roh," kata Yesus (Yohanes 6:63). Maka, Firman tidak dapat
ditafsirkan menurut kemauan intelek semata, melainkan hanya dapat dipahami
apabila disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis yang turun ke atas sumbu roh
orang-orang percaya.
Firman, apabila tersingkap, akan memfokuskan pikiran kita pada aktivitas
merekam realitas Roh (Firman), yaitu semua pengertian atau pengetahuan yang
dinyatakan oleh Kehadiran Roh. Jadi, roh kitalah yang menangkap Firman (Roh),
sementara otak kita yang aktif turut merekam segala pengertian yang
disingkapkan ke dalam memori pikiran.
Hakikatnya, saya tidak mengklaim bahwa seluruh pengertian tentang
tafsiran Wahyu 6:1-14 yang diuraikan dalam tulisan ini murni dari
"roh" secara keseluruhan. Ulasan saya berasal dari pembagian
kesaksian pelbagai latar belakang orang percaya, termasuk kesaksian yang
diunggah di internet. Tulisan ini lebih kepada kumpulan pelbagai kesaksian yang
berhasil saya himpun dari pelbagai sumber yang tidak dapat saya catat
dokumentasi rujukannya secara tertulis satu per satu.
Dalam Kitab Wahyu, terdapat tiga kategori Siksaan, yaitu:
- Meterai
(The Seals ~ 1st Woes)
- Sangkakala
(The Trumpets ~ 2nd Category of Woes)
- Cawan
(The Bowls ~ 3rd Category of Woes)
Namun, dalam tulisan ini, penulis hanya akan menguraikan Kategori
Siksaan yang pertama (1st Woe), yaitu yang disebut "Meterai".
Banyak orang percaya yang tidak tahu cara membaca 'tanda' zaman karena
mereka tidak meminta karunia untuk mendapatkan visions (penglihatan) dan
dream dreams (mimpi-mimpi). 'Tanda' hanya dapat dibaca melalui
penglihatan dan mimpi. Mereka hanya mendengar nubuatan, tetapi tidak dapat
'melihat' tanda-tanda zaman. Merek yang dikaruniai mata untuk melihat dapat
mengetahui (in part) di mana posisi kita berada saat ini.
Siksaan-Siksaan yang
Dinamakan sebagai "Meterai" (The Seals)
Mengapa disebut "meterai", dan apakah maksudnya?
Dalam dokumentasi resmi publik, setiap dokumen yang memiliki
"meterai" atau status rahasia/terbatas tunduk pada tata cara,
peraturan, dan hukum (Undang-Undang) yang berlaku. Dokumen bermeterai harus
mengikuti prosedur resmi dalam pengelolaannya. Meterai dapat berupa stempel
resmi pada lembaran dokumen maupun meterai lilin (wax seal) pada amplop.
Hanya orang-orang tertentu yang diberi wewenang atau lulus pemindaian keamanan
(security clearance) yang diizinkan mengakses dokumen tersebut.
Namun, kata "meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 merujuk pada
informasi 'rohani' dalam penglihatan simbolis. Meterai ini menyingkapkan
penderitaan atau siksaan yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi hingga
hari kedatangan Kristus yang kedua kali. Oleh sebab itu, anugerah pengertian
dari Roh Tujuh Lapis Tuhan tentu akan membantu kita untuk "membaca"
zaman.
Dia yang layak membuka meterai gulungan kitab adalah Tunas Raja Daud,
Anak Domba yang memiliki Tujuh Roh, Tujuh Tanduk, dan Tujuh Mata: yaitu
Kristus. Dengan kata lain, Kristuslah yang diberikan 'kuasa' oleh Allah Bapa
untuk melaksanakan dan menyempurnakan semua "meterai" (siksaan) yang
telah disampaikan kepada Santo Yohanes.
Hanya Kristus yang diberikan kuasa dan akses untuk membuka
meterai-meterai siksaan tersebut. Kunci 'maut' dan kerajaan 'maut' dipegang
oleh Kristus; bukanlah Satan yang memegang kunci maut, melainkan Yeshua. Dan
Yeshua jugalah yang menganugerahkan 'Jalan' Kehidupan.
Dengan demikian, jika "meterai" atau penderitaan (siksaan)
yang dimaksud dalam Wahyu 6 muncul, kita tahu bahwa Kristuslah yang memegang
kuasa, baik untuk menghentikannya maupun meneruskannya sesuai ketetapan rentang
waktu dari 'suara' Firman.
"Meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 adalah penderitaan/siksaan
atau murka Tuhan yang akan dialami oleh seluruh umat manusia di bumi. Walaupun
hal ini tidak berkaitan dengan kerahasiaan dokumen resmi pemerintah, gambaran
meterai dokumen dipaparkan untuk memberikan perbandingan mengenai akses
dan kuasa.
Anak Manusia telah diberikan kuasa oleh Bapa untuk menyempurnakan Firman
karena "nama-Nya ialah Firman Allah". "Nama" berarti
"karya" atau mission. Maka, "Firman Allah" adalah
karya Kristus, Roh Kudus, dan Allah Bapa. Tanpa Firman, tidak seorang pun dapat
mengerti bagaimana Roh Tuhan bekerja dan bagaimana Ia berurusan dengan umat
manusia yang terluka.
Kerahasiaan informasi "meterai-meterai" itu hanya dapat
dikunci atau didekripsi oleh Kristus (melalui karunia-karunia Roh Tujuh Lapis).
Oleh karena itu, kunci untuk memahami "meterai" adalah memohon kepada
Allah Bapa dalam nama Kristus agar mengutus Roh Tujuh Lapis, sehingga Roh itu
hinggap pada sumbu roh setiap orang percaya.
Jika ada pengikut 'Jalan' yang rindu dikaruniai hikmat dan pengertian
mengenai siksaan-siksaan simbolis ini, hendaklah ia memohon anugerah roh
hikmat, roh pengertian, dan roh pengetahuan dari Dia yang memegang
"kunci" meterai gulungan Kitab.
Disingkapkan dalam Wahyu 5:12: "Anak Domba yang disembelih itu
layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat,
dan kemuliaan, dan puji-pujian!"
Singkatnya, Roh Tujuh Lapis (Menorah) akan menganugerahkan hikmat kepada
kita agar kita memahami rahasia yang tersembunyi di balik meterai Wahyu 6.
Ketujuh meterai itu adalah tujuh "Murka Tuhan" (1st category of
Woe ~ the Seals) yang pertama, yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi
sebelum Ia tampil sebagai "Hakim yang Adil".
Matius 24:29 saling berkaitan dengan Wahyu 6:12. Kedatangan Kristus akan
terjadi apabila ada 'tanda' yang diberikan Tuhan di surga, di langit, dan di
bumi. Pada akhir meterai yang keenam—yaitu saat "awan-awan bergulung"
seperti gulungan kitab dapat dilihat dengan mata rohani—itulah saat Sang Hakim
turun ke bumi.
Yesus berkata: "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah
timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak
kedatangan Anak Manusia" ((eKatolik, Matius 24:27). Ayat tersebut bukanlah
sekadar perumpamaan, melainkan Yeshua memberitahukan 'tanda' di langit yang
perlu dibaca oleh orang-orang percaya!
Dalam Wahyu 4:5 diberitahukan bahwa takhta Hakim adalah tempat asal
kilat itu: "Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang
menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh
Allah." Kilat adalah salah satu 'tanda' yang hanya ada pada 'nama'
Tuhan yang diberitakan oleh langit sebagai Hakim. Kilat itu hanya dapat dilihat
melalui visions dan dream dreams!
Ada pula sebagian orang percaya yang berpendapat bahwa kedatangan
Kristus akan terjadi dalam Wahyu 10. Namun, yang pasti hal itu akan didahului
oleh "tanda" Anak Manusia di surga, di langit, dan di bumi! Ketiga
tempat tersebut adalah spirit realms (alam roh), kecuali bumi, karena
'tanda' di bumi dapat dilihat di alam roh sekaligus di bumi nyata.
Nubuatan tidak dapat dipisahkan dari tanda. Nubuatan hanya memberikan
kebaikan (profitability) apabila disampaikan kepada orang-orang percaya.
"Tanda" merujuk dan selalu terikat pada semua nubuatan yang
menguraikan secara terperinci peristiwa seperti kemuliaan kedatangan Kristus
pada Hari Tuhan!
Sebagaimana Ia naik ke surga dalam Kisah Para Rasul 1:9-11, demikian
pulalah Ia akan turun ke bumi kelak: langit bergulung seperti gulungan kitab,
dan kegelapan ada di bawah kaki-Nya. Apakah peristiwa itu akan terjadi pada
musim yang sama—yaitu hitungan 50 hari setelah Paskah? (Lihat Matius 24:30).
 |
Bell, Sarah. Albrecht Durer, The Four Horsemen of the Apocalypse, 1497-1498.
Art of the Apocalypse. 23 November 2015.<wsimag.com>
|
METERAI 1
"Seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah
panah, dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota."
Penunggang kuda putih ini bukan merujuk kepada Yesus atau
pemimpin Gereja, melainkan menyatakan rahasia murka Tuhan yang disebut
"Meterai 1".
Jika kita melihat era permulaan Gereja sejak lahirnya pada hari
Pentakosta, bangsa-bangsa di dunia pada masa itu diwarnai oleh pergolakan
politik imperium (empayar lawan empayar). Kata "mahkota"
adalah petunjuk atau kunci tafsiran persaingan antar-kekaisaran serta perebutan
takhta monarki pada zaman kekaisaran yang kemudian berlanjut ke sistem feodal.
Kedudukan seorang kaisar dianggap 'suci' (sacred), yaitu disebut
"diberikan mahkota". Peristiwa ini tidak terlepas dari pencarian
kekuasaan melalui percaturan politik raja-raja, di mana "pemenang"
akan merebut "kemenangan" (plunders).
"Kuda berwarna putih" tersebut secara khusus menunjuk pada
penderitaan akibat pergolakan politik kekaisaran dunia yang membawa kesusahan
hidup bagi orang percaya maupun tidak percaya. Yeshua adalah Raja atas segala
Raja dan Tuan atas segala Tuan. Ia menunggangi kuda putih dan senjata-Nya
bukanlah 'panah', melainkan lidah-Nya yang seperti pedang tajam bermata dua.
Kuda putih dalam Meterai 1 menggambarkan para kaisar yang menjadi
'hakim' dan 'tuhan-tuhan' (the gods) di bumi. Mereka diizinkan oleh
Tuhan untuk memerintah demi menggenapi nubuatan tentang 'murka' Tuhan.
Kekaisaran yang berkuasa di bumi saling bersaing, bukan hanya dari aspek
militer dan perdagangan, melainkan juga dalam perebutan tanah jajahan di seluruh
dunia. Konflik ini menyeret penduduk bumi ke dalam pelbagai penderitaan hingga
awal abad ke-20.
Bahkan hingga saat ini, masih ada sistem monarki berstatus imperialis,
meskipun tidak diakui secara terang-terangan. Monarki United Kingdom
adalah contoh "kuda putih yang ditunggangi oleh pemanah" yang masih
bertahan hingga sekarang! "Panah" adalah lambang "kuasa
penderitaan" yang dibawa oleh penjajahan dan penjarahan kekayaan
bangsa-bangsa secara rakus dan tidak adil.
Di ambang kedatangan-Nya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga
dikatakan menunggangi kuda putih, karena 'kuda putih' itu juga berbicara
tentang pemerintahan yang berprinsip pada 'karya damai dan selamat' (peace
and security) di muka bumi. Hal ini merujuk pada Piagam PBB Pasal 1 Bab 1 ("Peace
and Security") yang dikuasai oleh kelompok cabal di dunia ini.
Namun, hanya United Kingdom dan Prancis yang memiliki 'mahkota'
dalam lingkaran elit (cabal), yaitu sebagai anggota tetap Dewan Keamanan
PBB! Santo Paulus bernubuat mengenai 'kuda putih' ini dalam 1 Tesalonika 5: "Apabila
mereka mengatakan: Damai dan aman! (Peace and security) ..."
Kedamaian dan keselamatan dunia yang diperjuangkan oleh PBB adalah 'kuda
putih' yang memegang senjata peperangan di tangannya. Meskipun PBB bukan
pemerintahan kerajaan feodal, lembaga ini seolah-olah diberikan 'mahkota'
(kuasa memerintah dunia), karena istilah nubuatan 'diberikan mahkota' juga
merujuk pada bahasa nubuatan 'diberikan pemerintahan' di atas bumi.
Yeshua, walaupun menunggangi Kuda Putih, bernubuat dengan maksud yang
sangat berbeda dari Kuda Putih Meterai 1. Kristus menghakimi dan menghukum
dengan penuh keadilan, serta menganugerahkan damai dari Allah. Pedang-Nya tidak
dipegang oleh tangan, melainkan keluar sebagai 'lidah pedang' dari mulut-Nya,
yaitu Firman Allah. Lagipula, Yeshua memiliki banyak mahkota, sedangkan
penunggang Meterai 1 hanya memiliki satu mahkota (Lihat Wahyu 19:11-12). Yeshua
adalah Raja Damai yang memegang kunci penunggang kuda Meterai 1: menguncinya
untuk berlari atau menghentikannya!
METERAI 2
"Kuda merah padam" adalah bahasa nubuatan
yang mengungkapkan kuasa penderitaan akibat peperangan dunia secara menyeluruh.
Kita tahu bahwa kuda adalah penggerak logistik militer kuno sekaligus barisan
pemusnah yang bergerak cepat. Kuda berfungsi sebagai sarana transportasi perang
dahulu kala yang masih relevan hingga sekarang karena kemampuannya bergerak di
pelbagai medan topografi.
Kuda merah padam menjadi simbol kuasa penderitaan yang mencabut
perdamaian antar-bangsa di bumi, sehingga terjadi aksi saling membunuh atau
berperang dalam skala besar (dalam frasa nubuatan disebut "sebilah pedang
yang besar"). Peperangan antara negara Sekutu/British dengan Kekaisaran
Ottoman, Perang Dunia I, dan Perang Dunia II adalah contoh penderitaan yang
dibawa oleh meterai kuda merah padam. Peperangan dunia ketiga yang akan datang
juga tergolong sebagai larian kuda merah padam ini.
METERAI 3
"Kuda hitam dengan orang yang menungganginya memegang
timbangan." Kita tahu bahwa 'timbangan' adalah simbol
transaksi jual-beli atau perdagangan. Timbangan yang dibawa oleh penunggang
kuda hitam bermakna penderitaan akibat krisis dan guncangan ekonomi yang
dahsyat, seperti Depresi Besar (Great Depression) dunia pada tahun
1920-an dan 1930-an.
Penunggang kuda melambangkan agenda atau karya manusia dalam sistem
pemerintahan dan perekonomian dunia pada era pasca-Pentakosta. Lalu ada suara
yang berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar.
Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
Satu dinar adalah upah kerja sehari, sedangkan secupak (sekitar 1 kg
beras/gandum) tidak cukup untuk memberi makan satu keluarga selama sehari. Ini
menggambarkan penderitaan akibat kekurangan bahan pangan pokok. Kematian akibat
kelaparan adalah bagian dari murka Tuhan, meskipun kekurangan pangan tersebut
dipicu oleh ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia.
"Gandum dan jelai (barli)" secara rohani merujuk pada berkat
Tuhan serta simbol hasil usaha manusia. Murka Tuhan yang dilambangkan oleh Kuda
Hitam merujuk pada penderitaan penduduk dunia akibat hilangnya berkat Tuhan dan
ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia dalam agenda nation-building
atau kingdom-building.
Frasa nubuatan "minyak dan anggur" merujuk pada pekerjaan atau
karya Ilahi. Tuhan menjelaskan bahwa biarpun manusia dilanda malapetaka
kekurangan pangan oleh Meterai 3, penderitaan tersebut tidak akan merusak karya
Roh Tuhan. "Minyak dan Anggur" adalah berkat dalam karya Tuhan yang
menabur dan menuai di sepanjang zaman Perjanjian Perdamaian (era gerejani).
Pada era setelah kedatangan Hakim, binatang-binatang dalam Wahyu 13 dan
Wahyu 17 akan berusaha merusak minyak dan anggur tersebut. Karena itulah Anak
Domba di atas awan akan berperang mengalahkan kuasa mereka yang memperbudak dan
menganiaya penduduk dunia.
METERAI 4 dan METERAI 5
Kuda Hijau Kuning (Meterai 4) dan penunggangnya bernama Maut, dan
kerajaan Maut mengikutinya.
Berita Semasa: Suriah (Syria)
Kelompok "lalang" dan "gandum" yang ignorant
(acuh tak acuh) akan melihat konflik rumit di Suriah sebagai hal yang sangat
berbelit-belit dan membingungkan. Bahkan mereka yang dikaruniai penglihatan pun
hanya mampu melihat konflik pedang di Suriah sebagai masalah politik yang
menyeret seluruh dunia.
Manifestasi yang menjangkiti dunia akan memperlihatkan kuda-kuda Meterai
ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 berlari serentak di bumi! Sisi lain dari Meterai 4
adalah kematian akibat sampar, kelaparan, dan serangan binatang buas atau
berbisa.
Kuda-kuda dalam Kitab Wahyu tidak selalu berlari mengikut urutan
kronologis, melainkan muncul satu per satu dalam penglihatan Santo Yohanes.
Tuhan sengaja menyingkapkan cryptic prophetic designations bagi
malapetaka yang menimpa bumi satu per satu agar pesannya jelas.
Sebagai contoh, martir pertama yaitu Santo Stefanus merupakan korban
yang termasuk dalam kategori manifestasi Meterai 5. Demikian pula nubuatan
samar (cryptic prophecy) untuk Perang Dunia I (WW1) dan Perang Dunia II
(WW2) tergolong dalam Kuda Merah Padam (Meterai 2), yaitu 'pedang besar' yang
mencabut perdamaian dari bumi.
Wahyu 1:18 menjelaskan bahwa Kristus adalah: "...Yang Hidup. Aku
telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang
segala kunci maut dan kerajaan maut." (Wahyu 1:18). Dialah yang
mengizinkan kerajaan maut muncul di Suriah karena Sang Hakim belum turun ke
bumi.
Pihak-pihak yang terlibat dalam peperangan—tanpa mereka sadari—sedang
menggenapi nubuatan Meterai 4 maupun Meterai 5. Sebelum kedatangan Kristus yang
kedua kali, nama-Nya sebagai Hakim akan diberitakan terlebih dahulu (Zakaria
14:7; Mazmur 19:1-2; Mazmur 50:4-6). Penghakiman (judgment) akan
mendahului hari kedatangan-Nya.
Berita dari langit mengenai hari kedatangan Hakim menyatakan: "Tetapi
akan ada satu hari—hari itu diketahui oleh TUHAN—dengan tidak ada pergantian
siang dan malam, dan malam pun menjadi siang." (Zakaria 14:6-7). Dalam
versi NIV: "When evening comes, there will be light." kita
tahu 'petang' itu telah tiba apabila penglihatan tentang sunset
(matahari terbenam) datang kepada kita, disertai penggenapan tanda-tanda lain
di bumi, salah satunya berkaitan dengan Yerusalem (lihat Zakaria 12).
Kelima meterai dalam Wahyu 6 adalah skenario dunia yang dipaparkan dalam
penglihatan rohani untuk menggambarkan penderitaan manusia sejak kelahiran
Gereja (Pentakosta) hingga pengumuman Meterai ke-6 (kedatangan Kristus).
Meterai-meterai ini tidak ditafsirkan secara kronologis kaku; semuanya bisa
muncul dan berlari bersamaan pada rentang sejarah tertentu, sebagaimana yang
kita saksikan saat ini.
Manifestasi Meterai 4 (kuda hijau kuning di Suriah) dapat memicu Kuda
Merah (Meterai 2) untuk berlari kembali ke seluruh dunia membawa penderitaan
yang lebih global dalam bentuk peperangan dunia.
Kita tidak menyebut warna "hijau-kuning" sebagai rujukan
kepada umat Islam. Penafsiran semacam itu tidak tepat secara ketat menurut
tafsiran rohani, karena Meterai 4 tidak hanya merujuk pada aksi "saling
membunuh", tetapi juga mencakup "kelaparan, penyakit sampar, dan
serangan binatang buas". Logika sederhana (common sense)
menunjukkan bahwa wabak sampar dan binatang buas tidak ada kaitannya dengan
agama apa pun di dunia. Tafsiran yang marak di YouTube sering kali diunggah
demi kepentingan ideologi politik tertentu atau sekadar melayani kebencian (hatred).
Namun yang jelas: "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia
mengguntur, TUHAN di atas air yang besar." (Mazmur 29:3). Suara
penghakiman akan terdengar memberitakan "kerajaan maut" atau
peperangan saudara yang bermula di Suriah, dengan tanda "Salib" di
atas langit Suriah (dalam alam roh).
Salah satu ulasan mengenai "Kerajaan maut" adalah bahwa hal
itu merujuk pada peperangan yang melibatkan seluruh kerajaan di dunia (Kuda
Merah): Perang Dunia III (WW3).
Meterai Ke-empat iaitu
"Kuda hijau-kuning" tidaklah merujuk kepada peperangan-peperangan
saudara atau revolusi sahaja, melainkan termasuklah juga penularan jangkitan
"wabak penyakit sampar," dan juga "kematian oleh binatang buas
atau binatang berbisa."
Tidaklah benar dan tidaklah berhikmat jika ia
dikaitkan semata-mata dengan agama Islam atau kaum Muslimin; tafsiran
cetek seperti itu, adalah tafsiran yang melulunya 'stereotyping.' Kuda
hijau kuning yang ada sekarang adalah perang saudara atau revolusi Syria yang
mampu mengheret seluruh dunia kepada WW3, dan ia telahpun bermula di Syria
sejak Tahun 2011. Kuda itu dinubuatkan ditunggangi oleh orang yang
"bernama" maut, kerana tujuan pemerintah-pemerintah dunia yang
terlibat dalam peperangan saudara di sana adalah "saling-berbunuhan:"
bahasa profetiknya ialah "kerajaan maut"!
Kuda hijau kuning ini telahpun pernah muncul
sejak di awal zaman gereja, dan juga pernah muncul dalam peperangan-peperangan
saudara, dan ia turut berlari mewarnai revolusi negara-negara besar di dunia,
dan juga peperangan antara sekutu Inggeris melawan persaudaraan Empayar Ottoman dahulu,
di mana pihak British telah menang, maka muncullah peraturan
pembahagian tanah bekas takluk Empayar Ottoman di kalangan sekutu British
yang di panggil Mandates dan Protectorates.
Dan, sekarang, ia muncul kembali sebagai "peperangan
saudara" di bumi Arab! Ramai rohaniwan dan juga penganalisa politik
percaya bahawa Perang saudara Syria yang ada sekarang ini akan akhirnya
mengheret semua negara-negara pemegang kuasa veto untuk berperang di sana; ia
telah dinubuatkan sebagai "orang yang menunggang kuda hijau kuning"
dan "bernama" maut.
Atau ringkasnya, mission manusia yang
"saling berbunuhan." "Nama" dalam nubuatan adalah bermaksud
"mission" atau "matlamat/karya" yang dikehendaki oleh umat
manusia yang mahu melaksanakannya, dan ia tidaklah dihalang oleh Tuhan untuk
'beberapa ketika' lamanya, melainkan "merelakan" keinginan-keinginan
pemerintah-pemerintah dunia, supaya ia terjadi sebagaimana yang terjadi di
bumi Syria sekarang ini, sehinggalah seluruh dunia terheret
kepada peperangan dunia ke-3, iaitu "Kuda merah" berlari!
METERAI Ke-6
Meterai yang keenam juga turut memberitakan misi "Hakim yang Benar" yang akan
turun kelak! "...namaNya ialah Firman Allah"
"Meterai
ke-6" menyingkapkan siksaan yang harus dilalui
oleh umat manusia pada masa-masa jangkamasa peralihan "NamaNya," iaitu dari misi zaman Raja
Damai kepada misi-era Hakim yang turun. Dalam tempoh masa
peralihan, Hakim diumumkan akan datang, namun Raja Damai akan masih
terbuka pintuNya kepada umat manusia untuk memasuki perdamaian.
Namun, "meterai" ini juga adalah tempoh masa pemberitaan langit dalam
jam terakhir bagi tempoh peralihan, dan Tuhan menyeru 'langit':
"matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan
bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan
goncang." Meskipun Ia belum turun,
namun Judgment akan mula diproklamirkan bermula dari
"meterai" ke-6 ini, dan Roh Kudus melaksanakan penghakiman dan
penghukuman di bumi, di sepanjang tempoh peralihan.
Ada satu kata-nubuat yang tidak dilihat oleh kebanyakan
orang percaya iaitu 'halilintar.' Kenapa siksaan 'meterai-meterai' tidak
ada 'halilintar,' kecuali pada
meterai yang ke-tujuh dalam Wahyu 8: 5?
Jawapannya ringkas sahaja: Tugas penghakiman dunia sejak
pentakosta sehinggalah pada hari Hakim turun adalah dilaksanakan oleh 'mission'
Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menjadi Hakim di bumi sepanjang zaman Raja Damai.
Maka, itulah sebabnya tiada 'halilintar' dikaitkan dengan Roh Pentakosta! Kenapa pada meterai yang ke-tujuh ada
'halilintar'
sedangkan meterai 1 hingga meterai ke 6 tidak ada 'halilintar? Jika kita
tahu the pathway of Divine Wraths, maka kita akan tahu
sebabnya!
Yeshua sebagai Hakim akan turun ke bumi ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan,"
adalah merujuk kepada "bukaan (yang dibuat oleh
malaikat) Tujuh Lapis Sorga," maka meterai yang ke tujuh
pastinya ada haliliñtar kerana Dia sudah turun di bumi; Hakim
(puting-beliung telah menjamah bumi, dan ia dilihat dalam Penglihatan 'roh.'
Dari Meterai yang terakhir iaitu ke-7 dalam Wahyu 8: 5, Halilintar ('malaikat' sebagai
penuai) akan mewarnai semua the Pathway of Divine
wraths sehinggalah kepada Cawan Murka terakhir iaitu yang ke
tujuh. Maka kita tahu dari 'roh nubuat' bahawa 'halilintar ' itu
bermaksud hadirat para penuai (malaikat~the reapers) bersama Hakim di bumi.
Nabi Nahum melihat 'penglihatan roh' perihal Hakim seperti 'puting
beliung;' senjata bagi 'puting beliung' itu adalah 'halilintar'
('malaikat').
Bagaimana 'halilintar' (malaikat) itu difahami? Para
malaikat hanya tunduk kepada "suara" Firman! Kerana Raja bernyanyi:
"Terpujilah malaikat Tuhan yang gagah perkasa yang melaksanakan kehendak
Tuhan (Hakim) dengan mendengarkan "suara" Firman (Hakim)."
Bagaimana malaikat Tuhan akan melaksanakan 'pancaran kilat-petir' di setiap
negara? Ia bergantung kepada keperincian nubuatan. Ia bergantung kepada nubuat-nubuat tentang murka Tuhan Hakim, yaitu the lightnings,
storms, thunders and earthquakes.
Meterai yang ke-enam adalah
seperti tempoh masa ketika Nabi Yohanes Pembaptis mengumumkan Yesus Kristus
sebagai "Lihatlah Domba
Tuhan yang menghapuskan dosa-dosa dunia,"
namun selang tiga tahun sebelum ia benar-benar telah menjadi korban Domba Tuhan
di atas Kayu salib, Yesus masih melayani sebagai nabi atau sebagai Anak Manusia
sehinggalah saat ia mati.
Selama beberapa tempoh yang ditentukan Tuhan
melalui pemberitaan "langit dan Cakrawala," karya Raja Damai akan diteruskan oleh hadirat Roh Kudus, namun
pada masa yang sama Kristus yang akan datang sebagai Hakim akan
mula menyatakan manifestasi kehakimannya di bumi. "namaNya, ialah Firman Allah."
'Halilintar' hanya akan berdentum pada meterai yang
ke Tujuh (Why. 8: 5), kerana itu adalah 'tanda' Hakim sudahpun ada di bumi; ia
telah turun ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan Kitab."
Dalam Matius 24: 27, Yesus bernubuat bahawa kedatangannya Nya yang ke-dua
adalah seperti "halilintar terpancar di
Timur dan melontarkan cahaya 'ke barat."
Roh nubuat menyingkapkan bahawa 'halilintar' yang dimaksudkan Yesus itu sebenarnya mula memancar pada Meterai yang
ke-7, dalam petikan ayat Wahyu 8:5. Hadirat murkaNya (the pathway of Divine
Wraths) mula menyatakan permulaan maksud 'halilintar' itu. Puting Beliung ada 'halilintar'! Melihat penglihatan 'roh' iaitu a whirlwind di
bumi adalah 'tanda' hadirat Hakim di bumi!
Meterai ke-enam atau siksaan ke-enam yang muncul menggenapi
wahyu Tuhan adaalah 'transition period,' iaitu masih dalam selang waktu
Penghakiman oleh Roh Kudus. Namun, 'Nama' [karya] Yeshua sebagai Hakim juga
akan diberitakan oleh "pemberitaan langit." Ia
menyatakan murka Ilahi yang
dipanggil meterai ke-enam. Ia juga akan mengenapi
nubuatan perihal "gempa bumi" yang dahsyat. Nabi Asaph dalam Mazmur 50 menubuatkan bahawa
keadilan Tuhan sebagai Hakim turut diberitakan oleh 'bumi.'
Gempa bumi itu adalah bahasa roh nubuat yang melaksanakan 'suara' Firman. Murka
Tuhan dalam Meterai yang ke-enam, rupanya akan mulai diberitakan oleh bumi
dengan suatu "gempa bumi"
yang dahsyat. Daud dalam Mazmur 29 bernyanyi-bernubuat,
bahawa "Ada suara Tuhan di gunung atau di tanah dataran." Bukankah
hadirat Yang Mahasuci itu "ada suara yang menjadikan gunung-gunung
melonjak-lonjak...dan juga padang gurun (tanah bumi)...gemetar? lihat
Mazmur 29: 6, 8.
Permulaan Siksaan (Murka) oleh Meterai ke-enam adalah manifestasi
"gempa bumi" yang menandakan murka Tuhan mengegarkan "segala
dasar bumi." (Mazmur 82: 5). Tuhan menyeru 'bumi' lalu ia bergempa bumi.
Apakah ia merujuk kepada gempabumi yang diartikan secara harfiah? Itu bahasa
Roh nubuat! Namun, jika ada 'ñubuatan' yang menubuatkan perihal satu gempa-bumi
di bumi sebenar, maka gempabumi bumi itu adalah dikatakan ada 'suara' Tuhan di
atas dataran tanah.
Dalam konteks Wahyu 6: 12, ia merujuk kepada bahasa Roh yang
menyingkapkan 'tanda' sebelum kedatangan Kristus. Kita perlu berdoa meminta Roh
Tujuh lapis untuk melihat apakah keperincian "gempa-bumi" yang
dahsyat itu, entah ia literal atau pun simbolik. Banyaklah yang boleh digoncang
oleh murka Roh Tuhan di bumi ini, dan pengertian kita tidaklah semata-mata
dibatasi oleh kata-nubuat' "gempabumi" secara harfiah.
"Nubuatan-nubuatan" diberikan untuk menandai perjalanan masa
depan yang sukar dimengertikan. Masa depan adalah umpama jalan yang belum
pernah kita lalui. Perjalanan yang dilalui memerlukan 'tanda-tanda' bagi
memudahkan perjalanan, dan ia benar bagi perjalanan yang harfiah mahupun yang
rohaniah. Namun, perjalanan iman adalah perjalanan roh yang memerlukan
Firman sebagai "pelita" dan "cahaya" yang menerangi
perjalanan.
Justeru, nubuatan akan berfungsi sebagai 'tanda-tanda' yang
membantu kita melihat dan percaya; ia membangun, menegur, menghibur dan
menguatkan. Dan selepas peralihan "namaNya" itu, "langit dan cakrawala" (Mazmur 19 dan Mazmur 50: 4-6) akan memberitakan Karya Raja Hakim
yang akan turun, iaitu masa yang telah ditentukan Bapa; ia diumumkan
sebagaimana "burung-burung nazar"yang berkerumun, maka demikianlah kepastian akan kedatanganNya
yang kali kedua.
Meterai
ke-tujuh (The Seventh Seal)
The 'pathway' of Divine wraths
Saya terinspirasi oleh nubuat Nabi Nahum dalam Kitab Nahum 1: 3 yang menjelaskan
bahawa 'Jalan' (pathway) murka Roh Tuhan di bumi seolah-olah diumpamakan "perjalanan puting
beliung." " Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia
tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan
dalam puting beliung dan badai,
dan awan adalah debu kakiNya."
Pemazmur bernyanyi bahawa bumi ini adalah tumpuan kakiNya. Puting
beliung membinasa segala-gala yang ia lalui. Tetapi, di tengah-tengah pusaran
beliung itu terdapat 'suatu
sunyi senyap' yang mengerunkan. Bunyi
ledakan kemusnahan akan dirasakan semula, selepas 'sunyi' pada pusat pusaran yang menggerunkan itu berlalu. Murka
yang disebut “Meterai Ketujuh,” diberitakan "dan
ketika Anak Domba itu membuka meterai ke-tujuh,
maka sunyi senyaplah di Sorga, kira-kira setengah jam lamanya." Mengapa "sunyi senyap"?
Ada salah satu rahasia Melkisedek iaitu
sebelum Roh' Tuhan (Roh' Tujuh lapis) mengalir dalam karya "menabur dan
menuai," suatu upacara Imam Agung Melkisedek harus diselesaikan
upacaranya, iaitu Paskah Tuhan Yeshua. Sebelum Roh' Yahweh menabur kepada
pewaris Janji Tuhan kepada Abraham, maka Melkisedek perlu mengupacara 'altar,'
sebab itu dicatatkan Abram bertemu dengan Raja Kebenaran dari Salem di
pergunungan Seir. Untuk apa? Dan kenapa? Upacara 'altar.' Itu adalah rahasia
"menabur dan menuai."
Imam Sorgawi Melkisedek perlu mengupacara terlebih
dahulu altar di Sorga, sebelum Roh' Tujuh lapis mengalirkan thunders,
lightnings, storms, dan earthquakes di bumi! Kita tahu
bahawa urusan "menabur dan menuai" dalam Perjanjian Baru perlu
didahului oleh upacara altar di bumi!
Yeshua sebagai Imam Agung yang menurut Ordo Melkisedek perlu
mengupacara Altar di bumi terlebih dahulu sebelum Roh' Tujuh lapis (Roh'
Pentakosta) mengalir untuk "menabur
dan menuai." Justeru, adalah suatu konsistensi ordo Melkisedek untuk
"sunyi senyap" selama setengah jam di Sorga, kerana Melkisedek akan
mengupacara Altar Hakim di Sorga sebelum Roh' Tujuh Roh', Tujuh tanduk dan
Tujuh Mata memulakan Operasi penghakiman dan penghukuman di bumi. Jadilah
itulah sebabnya ia "sunyi senyap."
"Murka Tuhan" yang dinubuatkan oleh Nabi
Nahum dalam Nahum 1: 3 menyingkapkan “jalan murka Tuhan...” Ia membawa erti bahawa pemberitaan langit,
iaitu (Mzm.19:2; Maz.50: 4, 5-6) namaNya sebagai Hakim pada murka Meterai ke-6
sudah mulai dirasakan. Nabi Nahum menyingkapkan murka Tuhan sebagai "Ia
yang berjalan dalam puting beliung" (the 'pathway' of Divine Wraths).
Hadirat pusat pusaran mulai memberikan manifestasi dari "sunyi
senyap" itu, yang bermaksud "pusat pusaran puting beliung" itu
sudahpun menjamah bumi sepenuhnya pada Meterai ke-7.
Bukankah Sang Pemazmur bernyanyi bahawa bumi ini adalah tumpuan
kakiNya (His footstool)? Namun, kekelaman ada di bawah
kakiNya (juga sebagai pemberitaan
langit dalam Meterai ke-6)
mendahului menjamah bumi sebelum "WajahNya" menubuatkan manifestasi murkaNya di bumi. "Ia menekukkan
langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kakiNya." (Mazmur
18: 10). WajahNya akan mula memancarkan 'halilintar' di timur dan melontarkan cahaya ke barat; ia adalah 'tanda' hari
kedatangan Hakim.
Sunyi
senyap adalah suatu fenomena
'pusat' puting beliung. Jika Kristus sudah turun pada Wahyu 6: 14,
pada "pemberitaan langit" dalam meterai ke-6, maka "Meterai yang ke tujuh"
yang sunyi senyap dalam Wahyu 8: 1 itu pastinya memberikan kita pengertian bahawa upacara altar Hakim sedang berlangsung dan oleh kerana hadirat Hakim di bumi akan mengakibatkan menjadikan bumi (roh-roh
manusia yang percaya) tertegun seketika, (mereka yang tidak percaya tidaklah
akan merasai dalam 'roh mereka' perihal 'tertegun'), pada
ketika itu para malaikat (penuai) yang bersama Kristus telahpun betul-betul 'menjamah' menyentuh seluruh bumi!
Pada Wahyu 7: 1-8 adalah penganugerahan "meterai
Allah yang hidup" kepada 144,000 bani
Israel; berarti WajahNya sudah ada di bumi! Kisah Para Rasul mencatatkan
penggenapan janji Pembaptis Api apabila 'lidah-api' mengurapi mereka pada
kiraan 50 hari ataupun pada Hari Pentakosta. Pentakosta juga berarti
hadirat Roh Kudus yang diutus Bapa dalam 'nama' Pembaptis Api (Kristus).
Pengurapan 120 orang percaya oleh Roh Kudus pada hari itu juga disebut "meterai
Roh Kudus."
Maka, "meterai Allah yang hidup" tidaklah dapat
dianugerahkan kepada 144,000 bani Israel melainkan Kristus dan para penuaiNya
(malaikat) telahpun turun di bumi ini untuk kali yang
ke-2. Kenapa pula ia disebut "meterai Allah yang hidup," dan
apakah perbezaannya dengan meterai Roh
Kudus pentakosta ?
'Pekerjaan' atau 'nama' Hakim adalah termasuklah menganugerah
kehidupan kekal kepada yang mati di dalam Kristus, dan barangsiapa yang
dimeteraikan dengan "meterai Allah yang hidup" akan memiliki jaminan kuasa
kebangkitan Kristus biarpun dagingnya mati pada tempoh masa
Penghakiman dan Penghukuman. "Meterai
Allah yang hidup" itu juga akan
memberikan kita pengertian bahawa Tuhan Hakim benar-benar
wujud untuk memberikan keadilan, penghakiman dan penghukuman. Meterai ini
disempurnakan oleh para malaikat yang gagah perkasa.
Meterai
Roh Kudus pula dianugerahkan, agar
orang-orang percaya di sepanjang zaman Raja Damai dapat mengenali [roh
pengertian] yang Mahakudus, dan juga
supaya orang-orang percaya mempunyai kekuatan dan damai sejahtera dalam menelesuri perjalanan
iman yang dikarang oleh Yesus Kristus. Kristus
kembali dengan 'meterai Allah yang hidup' kepada semua yang telah
memasuki "kamar," dan pada hari Tuhan mereka masih di dalam 'kamar.' "Meterai Allah yang hidup" tidaklah diberikan kepada mereka yang tidak memasuki "kamar" (Yesaya 26: 20-21). Setiap suku kaum Israel dinubuatkan bahawa
ada 12,000 orang yang dinubuatkan akan menerima "meterai
Allah yang hidup." 'Meterai' itu
dilaksanakan oleh 'penuai' yaitu para malaikat Tuhan.
Seperti 'halilintar' yang akan terpancar di Timur dan melontarkan cahaya
ke bà rat...
Apakah maksud Yeshua dengan kata nubuatan itu?
Maka, bermulalah upacara altar Hakim dalam Wahyu 8:
1-4. Pada ayat yang ke-5, " ...Maka meledakkan bunyi (guntur),
disertai halilintar dan gempa bumi" yang menjelaskan secara simbolis bahawa "Puting Beliung" itu sebagai 'perjalanan murka' Tuhan (Hakim). Selepas “sunyi senyap” dalam meterai ke-tujuh, ia mula bergerak semula kepada "murka Tuhan" yang seterusnya, iaitu murka
"sangkakala pertama," iaitu murka Tuhan
kategori Sangkakala (the 2nd Category of Woe: Trumpets) dalam Wahyu 8: 6 sehinggalah kepada Wahyu 10: 7. The "pathway" of the
divine manifestations of divine wraths" diungkapkan oleh Nabi Nahum sebagai " Tuhan
itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari
hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting
beliung dan badai, dan awan adalah debu kakiNya" (Nahum 1: 3). Dan 'puting beliung' itu sebenarnya ada
"halilintar."
Ia bukanlah diartikan semuanya secara harafiah'
(literal sense), melainkan nubuatan Yeshua dalam Matius 24: 27 berbunyi
"...bahawa kedatangan Kristus yang kedua
(sebagai Hakim) adalah seperti terpancarnya kilat ('halilintar') di timur dan
melontarkan cahaya ke barat." 'Lightnings' points
to the Seventh Seal and onwards! Ia difahami apabila kita melihat
nubuatan Yeshua itu dalam 'roh penglihatan.' 'Halilintar' itu hanya akan
difahami secara terperinci apabila 'hukuman' ('wrath') Tuhan itu
disampaikan dengan keperincian nubuatan-nubuatan yang menerangkan hukuman murka
Tuhan.
Suara Tuhan Hakim adalah bunyi guntur! Namun,
tiada siapa yang mempunyai pengetahuan tentang suara guntur itu
(suara Hakim). Mesej suara 'guntur' hanya diketahui oleh mereka
yang menerima meterai "seal of the
Living God" atau meterai di dahi
dan di tangan dari Tuhan (bukan meterai dari binatang).
Patriarch Ayub
bersaksi: 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya
yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai
oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke
bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 37 Tangan
setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai (yang menyempurnakan "Bapa Kami"), agar
semua orang mengetahui perbuatan-Nya (Ayub
37: 5-7). Yang ada 'meterai' Tuhan dan selalu 'makan' (masuk 'kamar' terdalam)
sahaja yang akan mengetahui rahasia bunyi guntur (thunders-suara
Hakim). Lihat juga perihal suara Hakim, iaitu 'guruh' (thunders) dalam
Mazmur 29 dan Wahyu 4:5.
Nubuatan mengenai "Halilintar" dalam Matius 24:27 sebenarnya telah disingkapkan oleh Tuhan kepada Santo Yohanes, yang merujuk pada "halilintar" pada meterai ketujuh dalam Wahyu 8:5. Hal ini juga menubuatkan penghukuman oleh "wajah" Raja Hakim yang telah turun ke bumi sebagaimana tercatat dalam Wahyu 6:14. Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa meterai pertama hingga ke-6 berada dalam masa penghakiman dan penghukuman oleh misi Roh Kudus pada era Raja Damai. Roh Kudus yang turun pada Hari Pentakosta dinubuatkan serta disaksikan melalui mata roh hanya sebagai "deruan" angin surgawi dan api; Roh Kudus turun di atas "sumbu roh" para rasul menyerupai lidah-lidah api.
Roh Kudus menghakimi dan menghukum tanpa disertai kata nubuatan "halilintar", melainkan hanya dinubuatkan dan dikenali sebagai roh api dan deru angin. Hanya TUHAN (YHVH) dalam Perjanjian Lama, serta Sang Hakim yang datang kembali ke bumi untuk kedua kalinya sebagai "Roh Tujuh Lapis, Tujuh Mata, dan Tujuh Tanduk", yang dikaitkan dengan "halilintar"!
Halilintar senantiasa menyertai puting beliung (whirlwind) dalam nubuatan-nubuatan mulai dari meterai ketujuh hingga genapnya Cawan Murka yang terakhir (cawan ketujuh). Dengan demikian, kita meyakini hadirat Kristus Sang Hakim yang telah turun kembali ke bumi berdasarkan kata nubuatan "halilintar" dalam Matius 24:27.
Melalui hal tersebut, kita menyadari bahwa Yeshua Kristus akan turun dalam Wahyu 6:14, dan hadirat "nama" Sang Hakim mulai dirasakan (secara roh) di bumi sebab "halilintar" mulai memancar dalam Wahyu 8:5. Sangkakala pertama hingga Cawan Murka ketujuh akan disempurnakan dalam misi penghakiman dan penghukuman oleh "nama" Kristus sebagai Raja Hakim yang telah kembali ke bumi. So be it.
Works Cited:
Bernardus, Dominicus. Alkitab Terjemahan Baru. eKatolik, Google Play Store/Softonic, 2015, Softonic.com. Diakses 22 November 2015.