Minggu, 22 November 2015

Wahyu 6 sehingga Wahyu 8: 5 : Siksaan-Siksaan yang muncul di dunia sehingga kedatangan Kristus; siksaan kategori "murka Tuhan" pertama yang disebut "Meterai 1 hingga Meterai 7"....

Wahyu 6:1-14

    1 Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!" 2 Dan aku melihat: sungguh, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah; kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

    3 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: "Mari!" 4 Maka majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam, dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga manusia saling membunuh; kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.

    5 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sungguh, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. 6 Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."

   7 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!" 8 Dan aku melihat: sungguh, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut, dan kerajaan maut mengikutinya. Kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, kelaparan, sampar, dan dengan binatang-binatang buas di bumi.

   9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. 10 Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lama lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?" 11 Kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.

12 Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sungguh terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. 13 Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah apabila digoncang angin yang kencang. 14 Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung, dan tergeserlah gunung-gunung serta pulau-pulau dari tempatnya. (eKatolik, Wahyu 6:1-14)

Mengapa Wahyu Kristus Diberikan kepada Kita?

    Dalam prolog, yaitu pada bab 1, Santo Yohanes memulai tulisan Kitab Wahyu: "Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya (pengikut Jalan) apa yang harus segera terjadi" (eKatolik, Wahyu 1:1). Wahyu ini diberikan agar kita mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan demikian, kita dapat membaca karya Roh Tuhan dalam sejarah peradaban manusia sejak permulaan atau sejak zaman purbakala (Yesaya 46:10).

    Secara alamiah, kita takut kepada tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun, kita paling terpengaruh oleh dimensi masa depan yang tidak diketahui! Seorang pujangga suku Asli Amerika Utara pernah mengatakan: "We fear the things we do not know."

    Jika demikian, Wahyu Kristus kepada Santo Yohanes sebenarnya memberikan kekuatan, bahkan membantu "pertumbuhan iman" dalam mengarungi masa depan yang sulit diramalkan. Rasul Paulus, melalui inspirasi Roh Kudus, menyingkapkan fungsi nubuatan: bahwa nubuatan tidak dapat dipisahkan dari "tanda" yang diberikan kepada orang-orang percaya. "Tanda" itu sendiri adalah pesan Tuhan yang memberikan arah, petunjuk jalan, atau "firman". "Firman" itu menjadi pelita bagi kaki orang percaya dan cahaya yang menerangi perjalanan iman. Oleh karena itu, anak-anak terang tidak hidup dalam kegelapan karena ada banyak "tanda", nubuatan, maupun revelation knowledge yang dianugerahkan oleh Roh Kebenaran. Hal ini juga memberitakan serta mengumumkan pekerjaan Roh Tuhan.

    Bagi para pengikut 'Jalan', masa depan tidak hanya dilihat sebagai hasil keputusan manusia—khususnya para penguasa bumi—tetapi peristiwa sejarah dipercayai sentiasa tertakluk pada kedaulatan dan kesempurnaan Firman yang sulit ditangkap oleh akal budi manusia. Firman dalam konteks ini adalah nubuatan-nubuatan yang telah diturunkan oleh Tuhan melalui mulut nabi-nabi-Nya di bumi.

    Rencana Tuhan tentu saja ditentang oleh Seteru-Nya, yaitu Satan, agar manusia tertipu oleh tipu muslihatnya. Si Ular Tua juga turut bekerja melalui agen-agennya, atau yang secara ringkas disebut sebagai "lalang" yang ditaburkan di tengah-tengah gandum. Bahkan, orang-orang 'pilihan' Tuhan sekalipun turut disasar oleh Iblis/Satan supaya—jika memungkinkan—mereka menjadi tidak percaya kepada Sumber Kehidupan sejati!

    Rasul Yohanes bersaksi: "Berbahagialah mereka yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat dalam Wahyu ini, serta yang menuruti (percaya) apa yang tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat" (eKatolik, Wahyu 1:3).

    Mengapa dituliskan frasa "Waktunya sudah dekat", padahal ketika Wahyu diterima oleh Santo Yohanes, gereja baru berusia puluhan tahun sejak kelahirannya pada hari Pentakosta?

    Roh Kebenaran atau Roh Penghibur diutus untuk memberikan kekuatan sekaligus menjadi "Pembimbing" bagi para pengikut Jalan, agar mereka melihat realitas Kebenaran, yaitu Kristus. Roh itu diutus oleh Bapa dalam nama Kristus, bukan saja untuk meneruskan karya 'nama' Raja Damai, melainkan juga untuk memulai karya "api penghukuman" bagi semua bangsa.

    House of Jacob (Kaum Yakub) lebih dahulu dibakar oleh "api" Tuhan karena sebagai bangsa pilihan, merekalah yang lebih dahulu mengenal Consuming Fire (Api yang Menghanguskan) dari kekudusan Tuhan. Pemberontakan dan ketidakpercayaan mereka telah mengundang berbagai "selimut api". Mereka juga menolak untuk percaya kepada "Firman yang telah menjadi manusia". Santo Yohanes bersaksi bahwa mereka yang tidak percaya kepada "Firman yang menjadi manusia" memiliki Roh Antikristus.

    Merek yang menerima Raja Damai diperdamaikan dengan Roh Pencipta. Sebaliknya, mereka yang menolak Jalan Perdamaian dari Raja Damai secara otomatis menempatkan rohnya di luar bahtera atau chamber Perjanjian Damai.

    Oleh karena itu, api Roh Kudus juga melaksanakan karya sebagai Roh Penghukuman di sepanjang era Gereja: The 'fire' of the Holy Ghost as the Spirit of Judgment during Church's age (zaman Sion yang rohani). Rasul Yohanes menulis bahwa era awal Gereja juga dilihat secara rohani sebagai "waktunya sudah dekat", atau dalam bahasa Inggris disebut "the last hours". Maka, kedatangan Kristus yang kedua kali adalah penyempurnaan penghakiman, penghukuman, dan keadilan.

    Secara pribadi, saya selalu merasa diberkati (blessed) setiap kali membaca Kitab Wahyu. Saya tidak merasa seolah-olah dihukum hanya karena berkeinginan untuk mengerti informasi 'rohani' yang ada dalam Kitab Wahyu. Kabut tebal yang menutupi 'penglihatan dan pengertian' saya tentang masa depan selalu berkurang setiap kali saya membaca dan menuruti apa yang tertulis di dalamnya.

    Saya akan mengulas petikan dari Wahyu 6:1-14 karena bagian ini merupakan ringkasan discourse yang populer, tetapi tafsirannya masih menimbulkan kebingungan bagi banyak orang percaya. Nubuatan berfungsi menyingkapkan "tanda" bagi orang-orang percaya! Seluruh buku nubuatan dalam Wahyu disertai dengan "tanda-tanda".

    Ketika tanda itu disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis, kita menjadi "pembaca zaman", atau dalam versi bahasa Inggris: "the readers of the signs of times: the times of the Prince of Peace and the times of Judgment by the Judge who judges in equity." Banyak ahli teologi—baik yang pakar maupun awam—menyajikan eksposisi atau eksegesis mereka yang kerap kali bercampur aduk dengan intellectual fascinations mereka.

    Lukas 24:45 menjelaskan: "Lalu Ia (Kristus) membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." Roh Tujuh Lapis, Menorah, yaitu Kristus, adalah satu dengan Roh Kudus yang dijanjikan akan diutus oleh Bapa. Dialah yang bertanggung jawab untuk menganugerahkan kepada kita roh takut akan Tuhan, roh pengertian, roh pengetahuan, dan roh hikmat. Tanpa karunia-karunia yang diberikan oleh Sevenfold Spirit, kita tidak akan mengerti "tanda-tanda" (nubuatan) tersebut.

    Tanpa Roh Kudus, yaitu Roh Tujuh Lapis itu, siapakah yang dapat mengenal kehendak Tuhan? Jawabannya: tidak ada seorang pun yang akan mengerti Tuhan! "Perkataan-perkataan-Ku adalah Roh," kata Yesus (Yohanes 6:63). Maka, Firman tidak dapat ditafsirkan menurut kemauan intelek semata, melainkan hanya dapat dipahami apabila disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis yang turun ke atas sumbu roh orang-orang percaya.

    Firman, apabila tersingkap, akan memfokuskan pikiran kita pada aktivitas merekam realitas Roh (Firman), yaitu semua pengertian atau pengetahuan yang dinyatakan oleh Kehadiran Roh. Jadi, roh kitalah yang menangkap Firman (Roh), sementara otak kita yang aktif turut merekam segala pengertian yang disingkapkan ke dalam memori pikiran.

    Hakikatnya, saya tidak mengklaim bahwa seluruh pengertian tentang tafsiran Wahyu 6:1-14 yang diuraikan dalam tulisan ini murni dari "roh" secara keseluruhan. Ulasan saya berasal dari pembagian kesaksian pelbagai latar belakang orang percaya, termasuk kesaksian yang diunggah di internet. Tulisan ini lebih kepada kumpulan pelbagai kesaksian yang berhasil saya himpun dari pelbagai sumber yang tidak dapat saya catat dokumentasi rujukannya secara tertulis satu per satu.

Dalam Kitab Wahyu, terdapat tiga kategori Siksaan, yaitu:

  1. Meterai (The Seals ~ 1st Woes)
  2. Sangkakala (The Trumpets ~ 2nd Category of Woes)
  3. Cawan (The Bowls ~ 3rd Category of Woes)

    Namun, dalam tulisan ini, penulis hanya akan menguraikan Kategori Siksaan yang pertama (1st Woe), yaitu yang disebut "Meterai".

    Banyak orang percaya yang tidak tahu cara membaca 'tanda' zaman karena mereka tidak meminta karunia untuk mendapatkan visions (penglihatan) dan dream dreams (mimpi-mimpi). 'Tanda' hanya dapat dibaca melalui penglihatan dan mimpi. Mereka hanya mendengar nubuatan, tetapi tidak dapat 'melihat' tanda-tanda zaman. Merek yang dikaruniai mata untuk melihat dapat mengetahui (in part) di mana posisi kita berada saat ini.

Siksaan-Siksaan yang Dinamakan sebagai "Meterai" (The Seals)

Mengapa disebut "meterai", dan apakah maksudnya?

    Dalam dokumentasi resmi publik, setiap dokumen yang memiliki "meterai" atau status rahasia/terbatas tunduk pada tata cara, peraturan, dan hukum (Undang-Undang) yang berlaku. Dokumen bermeterai harus mengikuti prosedur resmi dalam pengelolaannya. Meterai dapat berupa stempel resmi pada lembaran dokumen maupun meterai lilin (wax seal) pada amplop. Hanya orang-orang tertentu yang diberi wewenang atau lulus pemindaian keamanan (security clearance) yang diizinkan mengakses dokumen tersebut.

    Namun, kata "meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 merujuk pada informasi 'rohani' dalam penglihatan simbolis. Meterai ini menyingkapkan penderitaan atau siksaan yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi hingga hari kedatangan Kristus yang kedua kali. Oleh sebab itu, anugerah pengertian dari Roh Tujuh Lapis Tuhan tentu akan membantu kita untuk "membaca" zaman.

    Dia yang layak membuka meterai gulungan kitab adalah Tunas Raja Daud, Anak Domba yang memiliki Tujuh Roh, Tujuh Tanduk, dan Tujuh Mata: yaitu Kristus. Dengan kata lain, Kristuslah yang diberikan 'kuasa' oleh Allah Bapa untuk melaksanakan dan menyempurnakan semua "meterai" (siksaan) yang telah disampaikan kepada Santo Yohanes.

    Hanya Kristus yang diberikan kuasa dan akses untuk membuka meterai-meterai siksaan tersebut. Kunci 'maut' dan kerajaan 'maut' dipegang oleh Kristus; bukanlah Satan yang memegang kunci maut, melainkan Yeshua. Dan Yeshua jugalah yang menganugerahkan 'Jalan' Kehidupan.

    Dengan demikian, jika "meterai" atau penderitaan (siksaan) yang dimaksud dalam Wahyu 6 muncul, kita tahu bahwa Kristuslah yang memegang kuasa, baik untuk menghentikannya maupun meneruskannya sesuai ketetapan rentang waktu dari 'suara' Firman.

    "Meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 adalah penderitaan/siksaan atau murka Tuhan yang akan dialami oleh seluruh umat manusia di bumi. Walaupun hal ini tidak berkaitan dengan kerahasiaan dokumen resmi pemerintah, gambaran meterai dokumen dipaparkan untuk memberikan perbandingan mengenai akses dan kuasa.

     Anak Manusia telah diberikan kuasa oleh Bapa untuk menyempurnakan Firman karena "nama-Nya ialah Firman Allah". "Nama" berarti "karya" atau mission. Maka, "Firman Allah" adalah karya Kristus, Roh Kudus, dan Allah Bapa. Tanpa Firman, tidak seorang pun dapat mengerti bagaimana Roh Tuhan bekerja dan bagaimana Ia berurusan dengan umat manusia yang terluka.

    Kerahasiaan informasi "meterai-meterai" itu hanya dapat dikunci atau didekripsi oleh Kristus (melalui karunia-karunia Roh Tujuh Lapis). Oleh karena itu, kunci untuk memahami "meterai" adalah memohon kepada Allah Bapa dalam nama Kristus agar mengutus Roh Tujuh Lapis, sehingga Roh itu hinggap pada sumbu roh setiap orang percaya.

    Jika ada pengikut 'Jalan' yang rindu dikaruniai hikmat dan pengertian mengenai siksaan-siksaan simbolis ini, hendaklah ia memohon anugerah roh hikmat, roh pengertian, dan roh pengetahuan dari Dia yang memegang "kunci" meterai gulungan Kitab.

    Disingkapkan dalam Wahyu 5:12: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"

    Singkatnya, Roh Tujuh Lapis (Menorah) akan menganugerahkan hikmat kepada kita agar kita memahami rahasia yang tersembunyi di balik meterai Wahyu 6. Ketujuh meterai itu adalah tujuh "Murka Tuhan" (1st category of Woe ~ the Seals) yang pertama, yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi sebelum Ia tampil sebagai "Hakim yang Adil".

    Matius 24:29 saling berkaitan dengan Wahyu 6:12. Kedatangan Kristus akan terjadi apabila ada 'tanda' yang diberikan Tuhan di surga, di langit, dan di bumi. Pada akhir meterai yang keenam—yaitu saat "awan-awan bergulung" seperti gulungan kitab dapat dilihat dengan mata rohani—itulah saat Sang Hakim turun ke bumi.

    Yesus berkata: "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" ((eKatolik, Matius 24:27). Ayat tersebut bukanlah sekadar perumpamaan, melainkan Yeshua memberitahukan 'tanda' di langit yang perlu dibaca oleh orang-orang percaya!

    Dalam Wahyu 4:5 diberitahukan bahwa takhta Hakim adalah tempat asal kilat itu: "Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah." Kilat adalah salah satu 'tanda' yang hanya ada pada 'nama' Tuhan yang diberitakan oleh langit sebagai Hakim. Kilat itu hanya dapat dilihat melalui visions dan dream dreams!

    Ada pula sebagian orang percaya yang berpendapat bahwa kedatangan Kristus akan terjadi dalam Wahyu 10. Namun, yang pasti hal itu akan didahului oleh "tanda" Anak Manusia di surga, di langit, dan di bumi! Ketiga tempat tersebut adalah spirit realms (alam roh), kecuali bumi, karena 'tanda' di bumi dapat dilihat di alam roh sekaligus di bumi nyata.

    Nubuatan tidak dapat dipisahkan dari tanda. Nubuatan hanya memberikan kebaikan (profitability) apabila disampaikan kepada orang-orang percaya. "Tanda" merujuk dan selalu terikat pada semua nubuatan yang menguraikan secara terperinci peristiwa seperti kemuliaan kedatangan Kristus pada Hari Tuhan!

    Sebagaimana Ia naik ke surga dalam Kisah Para Rasul 1:9-11, demikian pulalah Ia akan turun ke bumi kelak: langit bergulung seperti gulungan kitab, dan kegelapan ada di bawah kaki-Nya. Apakah peristiwa itu akan terjadi pada musim yang sama—yaitu hitungan 50 hari setelah Paskah? (Lihat Matius 24:30).



Bell, Sarah.  Albrecht Durer, The Four Horsemen of the Apocalypse, 1497-1498.
Art of the Apocalypse. 23 November 2015.<wsimag.com>


METERAI 1


"Seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah, dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota."

    Penunggang kuda putih ini bukan merujuk kepada Yesus atau pemimpin Gereja, melainkan menyatakan rahasia murka Tuhan yang disebut "Meterai 1".

    Jika kita melihat era permulaan Gereja sejak lahirnya pada hari Pentakosta, bangsa-bangsa di dunia pada masa itu diwarnai oleh pergolakan politik imperium (empayar lawan empayar). Kata "mahkota" adalah petunjuk atau kunci tafsiran persaingan antar-kekaisaran serta perebutan takhta monarki pada zaman kekaisaran yang kemudian berlanjut ke sistem feodal. Kedudukan seorang kaisar dianggap 'suci' (sacred), yaitu disebut "diberikan mahkota". Peristiwa ini tidak terlepas dari pencarian kekuasaan melalui percaturan politik raja-raja, di mana "pemenang" akan merebut "kemenangan" (plunders).

    "Kuda berwarna putih" tersebut secara khusus menunjuk pada penderitaan akibat pergolakan politik kekaisaran dunia yang membawa kesusahan hidup bagi orang percaya maupun tidak percaya. Yeshua adalah Raja atas segala Raja dan Tuan atas segala Tuan. Ia menunggangi kuda putih dan senjata-Nya bukanlah 'panah', melainkan lidah-Nya yang seperti pedang tajam bermata dua.

    Kuda putih dalam Meterai 1 menggambarkan para kaisar yang menjadi 'hakim' dan 'tuhan-tuhan' (the gods) di bumi. Mereka diizinkan oleh Tuhan untuk memerintah demi menggenapi nubuatan tentang 'murka' Tuhan. Kekaisaran yang berkuasa di bumi saling bersaing, bukan hanya dari aspek militer dan perdagangan, melainkan juga dalam perebutan tanah jajahan di seluruh dunia. Konflik ini menyeret penduduk bumi ke dalam pelbagai penderitaan hingga awal abad ke-20.

    Bahkan hingga saat ini, masih ada sistem monarki berstatus imperialis, meskipun tidak diakui secara terang-terangan. Monarki United Kingdom adalah contoh "kuda putih yang ditunggangi oleh pemanah" yang masih bertahan hingga sekarang! "Panah" adalah lambang "kuasa penderitaan" yang dibawa oleh penjajahan dan penjarahan kekayaan bangsa-bangsa secara rakus dan tidak adil.

    Di ambang kedatangan-Nya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga dikatakan menunggangi kuda putih, karena 'kuda putih' itu juga berbicara tentang pemerintahan yang berprinsip pada 'karya damai dan selamat' (peace and security) di muka bumi. Hal ini merujuk pada Piagam PBB Pasal 1 Bab 1 ("Peace and Security") yang dikuasai oleh kelompok cabal di dunia ini.

    Namun, hanya United Kingdom dan Prancis yang memiliki 'mahkota' dalam lingkaran elit (cabal), yaitu sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB! Santo Paulus bernubuat mengenai 'kuda putih' ini dalam 1 Tesalonika 5: "Apabila mereka mengatakan: Damai dan aman! (Peace and security) ..."

    Kedamaian dan keselamatan dunia yang diperjuangkan oleh PBB adalah 'kuda putih' yang memegang senjata peperangan di tangannya. Meskipun PBB bukan pemerintahan kerajaan feodal, lembaga ini seolah-olah diberikan 'mahkota' (kuasa memerintah dunia), karena istilah nubuatan 'diberikan mahkota' juga merujuk pada bahasa nubuatan 'diberikan pemerintahan' di atas bumi.

    Yeshua, walaupun menunggangi Kuda Putih, bernubuat dengan maksud yang sangat berbeda dari Kuda Putih Meterai 1. Kristus menghakimi dan menghukum dengan penuh keadilan, serta menganugerahkan damai dari Allah. Pedang-Nya tidak dipegang oleh tangan, melainkan keluar sebagai 'lidah pedang' dari mulut-Nya, yaitu Firman Allah. Lagipula, Yeshua memiliki banyak mahkota, sedangkan penunggang Meterai 1 hanya memiliki satu mahkota (Lihat Wahyu 19:11-12). Yeshua adalah Raja Damai yang memegang kunci penunggang kuda Meterai 1: menguncinya untuk berlari atau menghentikannya!


METERAI 2

    "Kuda merah padam" adalah bahasa nubuatan yang mengungkapkan kuasa penderitaan akibat peperangan dunia secara menyeluruh. Kita tahu bahwa kuda adalah penggerak logistik militer kuno sekaligus barisan pemusnah yang bergerak cepat. Kuda berfungsi sebagai sarana transportasi perang dahulu kala yang masih relevan hingga sekarang karena kemampuannya bergerak di pelbagai medan topografi.  

    Kuda merah padam menjadi simbol kuasa penderitaan yang mencabut perdamaian antar-bangsa di bumi, sehingga terjadi aksi saling membunuh atau berperang dalam skala besar (dalam frasa nubuatan disebut "sebilah pedang yang besar"). Peperangan antara negara Sekutu/British dengan Kekaisaran Ottoman, Perang Dunia I, dan Perang Dunia II adalah contoh penderitaan yang dibawa oleh meterai kuda merah padam. Peperangan dunia ketiga yang akan datang juga tergolong sebagai larian kuda merah padam ini.


METERAI 3

    "Kuda hitam dengan orang yang menungganginya memegang timbangan." Kita tahu bahwa 'timbangan' adalah simbol transaksi jual-beli atau perdagangan. Timbangan yang dibawa oleh penunggang kuda hitam bermakna penderitaan akibat krisis dan guncangan ekonomi yang dahsyat, seperti Depresi Besar (Great Depression) dunia pada tahun 1920-an dan 1930-an.

    Penunggang kuda melambangkan agenda atau karya manusia dalam sistem pemerintahan dan perekonomian dunia pada era pasca-Pentakosta. Lalu ada suara yang berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."

    Satu dinar adalah upah kerja sehari, sedangkan secupak (sekitar 1 kg beras/gandum) tidak cukup untuk memberi makan satu keluarga selama sehari. Ini menggambarkan penderitaan akibat kekurangan bahan pangan pokok. Kematian akibat kelaparan adalah bagian dari murka Tuhan, meskipun kekurangan pangan tersebut dipicu oleh ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia.

    "Gandum dan jelai (barli)" secara rohani merujuk pada berkat Tuhan serta simbol hasil usaha manusia. Murka Tuhan yang dilambangkan oleh Kuda Hitam merujuk pada penderitaan penduduk dunia akibat hilangnya berkat Tuhan dan ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia dalam agenda nation-building atau kingdom-building.

    Frasa nubuatan "minyak dan anggur" merujuk pada pekerjaan atau karya Ilahi. Tuhan menjelaskan bahwa biarpun manusia dilanda malapetaka kekurangan pangan oleh Meterai 3, penderitaan tersebut tidak akan merusak karya Roh Tuhan. "Minyak dan Anggur" adalah berkat dalam karya Tuhan yang menabur dan menuai di sepanjang zaman Perjanjian Perdamaian (era gerejani).  

    Pada era setelah kedatangan Hakim, binatang-binatang dalam Wahyu 13 dan Wahyu 17 akan berusaha merusak minyak dan anggur tersebut. Karena itulah Anak Domba di atas awan akan berperang mengalahkan kuasa mereka yang memperbudak dan menganiaya penduduk dunia.


METERAI 4 dan METERAI 5

Kuda Hijau Kuning (Meterai 4) dan penunggangnya bernama Maut, dan kerajaan Maut mengikutinya.

Berita Semasa: Suriah (Syria)

    Kelompok "lalang" dan "gandum" yang ignorant (acuh tak acuh) akan melihat konflik rumit di Suriah sebagai hal yang sangat berbelit-belit dan membingungkan. Bahkan mereka yang dikaruniai penglihatan pun hanya mampu melihat konflik pedang di Suriah sebagai masalah politik yang menyeret seluruh dunia.

    Manifestasi yang menjangkiti dunia akan memperlihatkan kuda-kuda Meterai ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 berlari serentak di bumi! Sisi lain dari Meterai 4 adalah kematian akibat sampar, kelaparan, dan serangan binatang buas atau berbisa.

   Kuda-kuda dalam Kitab Wahyu tidak selalu berlari mengikut urutan kronologis, melainkan muncul satu per satu dalam penglihatan Santo Yohanes. Tuhan sengaja menyingkapkan cryptic prophetic designations bagi malapetaka yang menimpa bumi satu per satu agar pesannya jelas.

    Sebagai contoh, martir pertama yaitu Santo Stefanus merupakan korban yang termasuk dalam kategori manifestasi Meterai 5. Demikian pula nubuatan samar (cryptic prophecy) untuk Perang Dunia I (WW1) dan Perang Dunia II (WW2) tergolong dalam Kuda Merah Padam (Meterai 2), yaitu 'pedang besar' yang mencabut perdamaian dari bumi.

    Wahyu 1:18 menjelaskan bahwa Kristus adalah: "...Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." (Wahyu 1:18). Dialah yang mengizinkan kerajaan maut muncul di Suriah karena Sang Hakim belum turun ke bumi.

    Pihak-pihak yang terlibat dalam peperangan—tanpa mereka sadari—sedang menggenapi nubuatan Meterai 4 maupun Meterai 5. Sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, nama-Nya sebagai Hakim akan diberitakan terlebih dahulu (Zakaria 14:7; Mazmur 19:1-2; Mazmur 50:4-6). Penghakiman (judgment) akan mendahului hari kedatangan-Nya.

    Berita dari langit mengenai hari kedatangan Hakim menyatakan: "Tetapi akan ada satu hari—hari itu diketahui oleh TUHANdengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan malam pun menjadi siang." (Zakaria 14:6-7). Dalam versi NIV: "When evening comes, there will be light." kita tahu 'petang' itu telah tiba apabila penglihatan tentang sunset (matahari terbenam) datang kepada kita, disertai penggenapan tanda-tanda lain di bumi, salah satunya berkaitan dengan Yerusalem (lihat Zakaria 12).

    Kelima meterai dalam Wahyu 6 adalah skenario dunia yang dipaparkan dalam penglihatan rohani untuk menggambarkan penderitaan manusia sejak kelahiran Gereja (Pentakosta) hingga pengumuman Meterai ke-6 (kedatangan Kristus). Meterai-meterai ini tidak ditafsirkan secara kronologis kaku; semuanya bisa muncul dan berlari bersamaan pada rentang sejarah tertentu, sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

    Manifestasi Meterai 4 (kuda hijau kuning di Suriah) dapat memicu Kuda Merah (Meterai 2) untuk berlari kembali ke seluruh dunia membawa penderitaan yang lebih global dalam bentuk peperangan dunia.

    Kita tidak menyebut warna "hijau-kuning" sebagai rujukan kepada umat Islam. Penafsiran semacam itu tidak tepat secara ketat menurut tafsiran rohani, karena Meterai 4 tidak hanya merujuk pada aksi "saling membunuh", tetapi juga mencakup "kelaparan, penyakit sampar, dan serangan binatang buas". Logika sederhana (common sense) menunjukkan bahwa wabak sampar dan binatang buas tidak ada kaitannya dengan agama apa pun di dunia. Tafsiran yang marak di YouTube sering kali diunggah demi kepentingan ideologi politik tertentu atau sekadar melayani kebencian (hatred).

    Namun yang jelas: "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar." (Mazmur 29:3). Suara penghakiman akan terdengar memberitakan "kerajaan maut" atau peperangan saudara yang bermula di Suriah, dengan tanda "Salib" di atas langit Suriah (dalam alam roh).  

  Salah satu ulasan mengenai "Kerajaan maut" adalah bahwa hal itu merujuk pada peperangan yang melibatkan seluruh kerajaan di dunia (Kuda Merah): Perang Dunia III (WW3). 

Meterai Ke-empat iaitu "Kuda hijau-kuning" tidaklah merujuk kepada peperangan-peperangan saudara atau revolusi sahaja, melainkan termasuklah juga penularan jangkitan "wabak penyakit sampar," dan juga "kematian oleh binatang buas atau binatang berbisa."  

    Tidaklah benar dan tidaklah berhikmat jika ia dikaitkan semata-mata dengan agama Islam atau kaum Muslimin; tafsiran cetek seperti itu, adalah tafsiran yang melulunya 'stereotyping.' Kuda hijau kuning yang ada sekarang adalah perang saudara atau revolusi Syria yang mampu mengheret seluruh dunia kepada WW3, dan ia telahpun bermula di Syria sejak Tahun 2011. Kuda itu dinubuatkan ditunggangi oleh orang yang "bernama" maut, kerana tujuan pemerintah-pemerintah dunia yang terlibat dalam peperangan saudara di sana adalah "saling-berbunuhan:" bahasa profetiknya ialah "kerajaan maut"! 

    Kuda hijau kuning ini telahpun pernah muncul sejak di awal zaman gereja, dan juga pernah muncul dalam peperangan-peperangan saudara, dan ia turut berlari mewarnai revolusi negara-negara besar di dunia, dan juga peperangan antara sekutu Inggeris melawan persaudaraan Empayar Ottoman dahulu, di mana pihak British telah menang, maka muncullah peraturan pembahagian tanah bekas takluk Empayar Ottoman di kalangan sekutu British yang di panggil Mandates dan Protectorates.  

    Dan, sekarang, ia muncul kembali sebagai "peperangan saudara" di bumi Arab! Ramai rohaniwan dan juga penganalisa politik percaya bahawa Perang saudara Syria yang ada sekarang ini akan akhirnya mengheret semua negara-negara pemegang kuasa veto untuk berperang di sana; ia telah dinubuatkan sebagai "orang yang menunggang kuda hijau kuning" dan "bernama" maut. 

    Atau ringkasnya, mission manusia yang "saling berbunuhan." "Nama" dalam nubuatan adalah bermaksud "mission" atau "matlamat/karya" yang dikehendaki oleh umat manusia yang mahu melaksanakannya, dan ia tidaklah dihalang oleh Tuhan untuk 'beberapa ketika' lamanya, melainkan "merelakan" keinginan-keinginan pemerintah-pemerintah dunia, supaya ia terjadi sebagaimana yang terjadi di bumi Syria sekarang ini, sehinggalah seluruh dunia terheret kepada peperangan dunia ke-3, iaitu "Kuda merah" berlari!


METERAI Ke-6 

Meterai yang keenam juga turut memberitakan misi "Hakim yang Benar" yang akan turun kelak! "...namaNya ialah Firman Allah"

    "Meterai ke-6" menyingkapkan  siksaan yang harus dilalui oleh umat manusia pada masa-masa jangkamasa peralihan "NamaNya," iaitu dari misi zaman Raja Damai kepada misi-era Hakim yang turun.  Dalam tempoh masa peralihan, Hakim diumumkan akan datang, namun Raja Damai akan masih terbuka pintuNya kepada umat manusia untuk memasuki perdamaian. 

    Namun, "meterai" ini juga adalah tempoh masa pemberitaan langit dalam  jam terakhir bagi tempoh peralihan, dan Tuhan menyeru 'langit': "matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang."  Meskipun Ia belum turun, namun Judgment akan mula diproklamirkan bermula dari "meterai" ke-6 ini, dan Roh Kudus melaksanakan penghakiman dan penghukuman di bumi, di sepanjang tempoh peralihan.  

    Ada satu kata-nubuat yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang percaya iaitu 'halilintar.' Kenapa siksaan 'meterai-meteraitidak ada 'halilintar,' kecuali pada meterai yang ke-tujuh dalam Wahyu 8: 5?

    Jawapannya ringkas sahaja: Tugas penghakiman dunia sejak pentakosta sehinggalah pada hari Hakim turun adalah dilaksanakan oleh 'mission' Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menjadi Hakim di bumi sepanjang zaman Raja Damai. Maka, itulah sebabnya tiada 'halilintar' dikaitkan dengan Roh Pentakosta! Kenapa pada meterai yang ke-tujuh ada 'halilintar' sedangkan meterai 1 hingga meterai ke 6 tidak ada 'halilintar? Jika kita tahu the pathway of Divine Wraths, maka kita akan tahu sebabnya! 

    Yeshua sebagai Hakim akan turun ke bumi ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan," adalah merujuk kepada "bukaan (yang dibuat oleh malaikat) Tujuh Lapis Sorga," maka meterai yang ke tujuh pastinya ada haliliñtar kerana Dia sudah turun di bumi; Hakim (puting-beliung telah menjamah bumi, dan ia dilihat dalam Penglihatan 'roh.' Dari Meterai yang terakhir iaitu ke-7 dalam Wahyu 8: 5, Halilintar ('malaikat' sebagai penuai) akan mewarnai semua the Pathway of Divine wraths sehinggalah kepada Cawan Murka terakhir iaitu yang ke tujuh. Maka kita tahu dari 'roh nubuat' bahawa 'halilintar ' itu bermaksud hadirat para penuai (malaikat~the reapers) bersama Hakim di bumi. Nabi Nahum melihat 'penglihatan roh' perihal Hakim seperti 'puting beliung;' senjata bagi 'puting beliung' itu adalah 'halilintar' ('malaikat'). 

    Bagaimana 'halilintar' (malaikat) itu difahami? Para malaikat hanya tunduk kepada "suara" Firman! Kerana Raja bernyanyi: "Terpujilah malaikat Tuhan yang gagah perkasa yang melaksanakan kehendak Tuhan (Hakim) dengan mendengarkan "suara" Firman (Hakim)." Bagaimana malaikat Tuhan akan melaksanakan 'pancaran kilat-petir' di setiap negara? Ia bergantung kepada keperincian nubuatan.  Ia bergantung kepada nubuat-nubuat tentang murka Tuhan Hakim, yaitu the lightnings, storms, thunders and earthquakes.

    Meterai yang ke-enam adalah seperti tempoh masa ketika Nabi Yohanes Pembaptis mengumumkan Yesus Kristus sebagai "Lihatlah Domba Tuhan yang menghapuskan dosa-dosa dunia," namun selang tiga tahun sebelum ia benar-benar telah menjadi korban Domba Tuhan di atas Kayu salib, Yesus masih melayani sebagai nabi atau sebagai Anak Manusia sehinggalah saat ia mati.  

    Selama beberapa tempoh yang ditentukan Tuhan melalui pemberitaan "langit dan Cakrawala," karya Raja Damai akan diteruskan oleh hadirat Roh Kudus, namun pada masa yang sama Kristus yang akan datang sebagai Hakim akan mula menyatakan manifestasi kehakimannya di bumi. "namaNya, ialah Firman Allah." 

    'Halilintar' hanya akan berdentum pada meterai yang ke Tujuh (Why. 8: 5), kerana itu adalah 'tanda' Hakim sudahpun ada di bumi; ia telah turun ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan Kitab." Dalam Matius 24: 27, Yesus bernubuat bahawa kedatangannya Nya yang ke-dua adalah seperti "halilintar terpancar di Timur dan melontarkan cahaya 'ke barat." 

    Roh nubuat menyingkapkan bahawa 'halilintar' yang dimaksudkan Yesus itu sebenarnya mula memancar pada Meterai yang ke-7, dalam petikan ayat Wahyu 8:5. Hadirat murkaNya (the pathway of Divine Wraths) mula menyatakan permulaan  maksud 'halilintar' itu. Puting Beliung ada 'halilintar'! Melihat penglihatan 'roh' iaitu a whirlwind di bumi adalah 'tanda' hadirat Hakim di bumi!

    Meterai ke-enam atau siksaan ke-enam yang muncul menggenapi wahyu Tuhan adaalah 'transition period,' iaitu masih dalam selang waktu Penghakiman oleh Roh Kudus. Namun, 'Nama' [karya] Yeshua sebagai Hakim juga akan diberitakan oleh "pemberitaan langit."  Ia menyatakan murka Ilahi yang dipanggil meterai ke-enam.  Ia juga akan mengenapi nubuatan perihal "gempa bumi" yang dahsyat. Nabi Asaph dalam Mazmur 50 menubuatkan bahawa keadilan Tuhan sebagai Hakim turut diberitakan oleh 'bumi.' 

    Gempa bumi itu adalah bahasa roh nubuat yang melaksanakan 'suara' Firman. Murka Tuhan dalam Meterai yang ke-enam, rupanya akan mulai diberitakan oleh bumi dengan suatu "gempa bumi" yang dahsyat.  Daud dalam Mazmur 29 bernyanyi-bernubuat, bahawa "Ada suara Tuhan di gunung atau di tanah dataran." Bukankah hadirat Yang Mahasuci itu "ada suara yang menjadikan gunung-gunung melonjak-lonjak...dan juga padang gurun (tanah bumi)...gemetar? lihat Mazmur 29: 6, 8.

    Permulaan Siksaan (Murka) oleh Meterai ke-enam adalah manifestasi "gempa bumi" yang menandakan murka Tuhan mengegarkan "segala dasar bumi." (Mazmur 82: 5). Tuhan menyeru 'bumi' lalu ia bergempa bumi. Apakah ia merujuk kepada gempabumi yang diartikan secara harfiah? Itu bahasa Roh nubuat! Namun, jika ada 'ñubuatan' yang menubuatkan perihal satu gempa-bumi di bumi sebenar, maka gempabumi bumi itu adalah dikatakan ada 'suara' Tuhan di atas dataran tanah.

    Dalam konteks Wahyu 6: 12, ia merujuk kepada bahasa Roh yang menyingkapkan 'tanda' sebelum kedatangan Kristus. Kita perlu berdoa meminta Roh Tujuh lapis untuk melihat apakah keperincian "gempa-bumi" yang dahsyat itu, entah ia literal atau pun simbolik. Banyaklah yang boleh digoncang oleh murka Roh Tuhan di bumi ini, dan pengertian kita tidaklah semata-mata dibatasi oleh kata-nubuat' "gempabumi" secara harfiah.

    "Nubuatan-nubuatan" diberikan untuk menandai perjalanan masa depan yang sukar dimengertikan. Masa depan adalah umpama jalan yang belum pernah kita lalui. Perjalanan yang dilalui memerlukan 'tanda-tanda' bagi memudahkan perjalanan, dan ia benar bagi perjalanan yang harfiah mahupun yang rohaniah.   Namun, perjalanan iman adalah perjalanan roh yang memerlukan Firman sebagai "pelita" dan "cahaya" yang menerangi perjalanan.

    Justeru, nubuatan akan berfungsi sebagai 'tanda-tanda' yang membantu kita melihat dan percaya; ia membangun, menegur, menghibur dan menguatkan. Dan selepas peralihan "namaNya" itu,  "langit dan cakrawala" (Mazmur 19 dan Mazmur 50: 4-6) akan memberitakan Karya Raja Hakim yang akan turun, iaitu masa yang telah ditentukan Bapa; ia diumumkan sebagaimana "burung-burung nazar"yang berkerumun, maka demikianlah kepastian akan kedatanganNya yang kali kedua.                                  

Meterai ke-tujuh (The Seventh Seal)


The 'pathway' of Divine wraths

    Saya terinspirasi oleh nubuat Nabi Nahum dalam Kitab Nahum 1: 3 yang menjelaskan bahawa 'Jalan' (pathwaymurka Roh Tuhan di bumi  seolah-olah diumpamakan "perjalanan puting beliung." " Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kakiNya.

    Pemazmur bernyanyi bahawa bumi ini adalah tumpuan kakiNya. Puting beliung membinasa segala-gala yang ia lalui. Tetapi, di tengah-tengah pusaran beliung itu terdapat 'suatu sunyi senyap' yang mengerunkan. Bunyi ledakan kemusnahan akan dirasakan semula, selepas 'sunyi' pada pusat pusaran yang menggerunkan itu berlalu. Murka yang disebut “Meterai Ketujuh,” diberitakan "dan ketika Anak Domba itu membuka meterai ke-tujuh, maka sunyi senyaplah di Sorga, kira-kira setengah jam lamanya." Mengapa "sunyi senyap"? 

    Ada salah satu rahasia Melkisedek iaitu sebelum Roh' Tuhan (Roh' Tujuh lapis) mengalir dalam karya "menabur dan menuai," suatu upacara Imam Agung Melkisedek harus diselesaikan upacaranya, iaitu Paskah Tuhan Yeshua. Sebelum Roh' Yahweh menabur kepada pewaris Janji Tuhan kepada Abraham, maka Melkisedek perlu mengupacara 'altar,' sebab itu dicatatkan Abram bertemu dengan Raja Kebenaran dari Salem di pergunungan Seir. Untuk apa? Dan kenapa? Upacara 'altar.' Itu adalah rahasia "menabur dan menuai." 

    Imam Sorgawi Melkisedek perlu mengupacara terlebih dahulu altar di Sorga, sebelum Roh' Tujuh lapis mengalirkan thunders, lightnings, storms, dan earthquakes di bumi! Kita tahu bahawa urusan "menabur dan menuai" dalam Perjanjian Baru perlu didahului oleh upacara altar di bumi!

    Yeshua sebagai Imam Agung yang menurut Ordo Melkisedek perlu mengupacara Altar di bumi terlebih dahulu sebelum Roh' Tujuh lapis (Roh' Pentakosta) mengalir untuk "menabur dan menuai." Justeru, adalah suatu konsistensi ordo Melkisedek untuk "sunyi senyap"  selama setengah jam di Sorga, kerana Melkisedek akan mengupacara Altar Hakim di Sorga sebelum Roh' Tujuh Roh', Tujuh tanduk dan Tujuh Mata memulakan Operasi penghakiman dan penghukuman di bumi.  Jadilah itulah sebabnya ia "sunyi senyap."

    "Murka Tuhan" yang dinubuatkan oleh Nabi Nahum dalam Nahum 1: 3 menyingkapkan “jalan murka Tuhan...”  Ia membawa erti bahawa pemberitaan langit, iaitu (Mzm.19:2; Maz.50: 4, 5-6) namaNya sebagai Hakim pada murka Meterai ke-6 sudah mulai dirasakan. Nabi Nahum menyingkapkan murka Tuhan sebagai "Ia yang berjalan dalam puting beliung" (the 'pathway' of Divine Wraths). Hadirat pusat pusaran mulai memberikan manifestasi dari "sunyi senyap" itu, yang bermaksud "pusat pusaran puting beliung" itu sudahpun menjamah bumi sepenuhnya pada Meterai ke-7.

    Bukankah Sang Pemazmur bernyanyi bahawa bumi ini adalah tumpuan kakiNya (His footstool)?  Namun, kekelaman ada di bawah kakiNya (juga sebagai pemberitaan langit dalam Meterai ke-6) mendahului menjamah bumi sebelum "WajahNya" menubuatkan manifestasi murkaNya di bumi.  "Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kakiNya." (Mazmur 18: 10).  WajahNya akan mula memancarkan 'halilintar' di timur dan melontarkan cahaya ke barat; ia adalah 'tanda' hari kedatangan Hakim. 

    Sunyi senyap adalah suatu fenomena 'pusat' puting beliung. Jika Kristus sudah turun pada Wahyu 6: 14, pada  "pemberitaan langit" dalam meterai ke-6, maka "Meterai yang ke tujuh" yang sunyi senyap dalam Wahyu 8: 1 itu pastinya memberikan kita pengertian bahawa  upacara altar Hakim sedang berlangsung dan oleh kerana hadirat Hakim di bumi akan mengakibatkan menjadikan bumi (roh-roh manusia yang percaya) tertegun seketika, (mereka yang tidak percaya tidaklah akan merasai dalam 'roh mereka perihal 'tertegun'), pada ketika itu para malaikat (penuai) yang bersama Kristus telahpun betul-betul 'menjamah' menyentuh seluruh bumi! 

    Pada Wahyu 7: 1-8 adalah penganugerahan "meterai Allah yang hidup" kepada 144,000 bani Israel; berarti WajahNya sudah ada di bumi! Kisah Para Rasul mencatatkan penggenapan janji Pembaptis Api apabila 'lidah-api' mengurapi mereka pada kiraan 50 hari ataupun pada Hari Pentakosta.  Pentakosta juga berarti hadirat Roh Kudus yang diutus Bapa dalam 'nama' Pembaptis Api (Kristus). Pengurapan 120 orang percaya oleh Roh Kudus pada hari itu juga disebut "meterai Roh Kudus." 

    Maka, "meterai Allah yang hidup" tidaklah dapat dianugerahkan kepada 144,000 bani Israel melainkan Kristus dan para penuaiNya (malaikat) telahpun turun di bumi ini untuk kali yang ke-2. Kenapa pula ia disebut "meterai Allah yang hidup," dan apakah perbezaannya dengan meterai Roh Kudus pentakosta ? 

   'Pekerjaan' atau 'nama' Hakim adalah termasuklah menganugerah kehidupan kekal kepada yang mati di dalam Kristus, dan barangsiapa yang dimeteraikan dengan "meterai Allah yang hidup" akan memiliki jaminan kuasa kebangkitan Kristus biarpun dagingnya mati pada tempoh masa Penghakiman dan Penghukuman. "Meterai Allah yang hidup" itu juga akan memberikan kita pengertian bahawa Tuhan Hakim benar-benar wujud untuk memberikan keadilan, penghakiman dan penghukuman. Meterai ini disempurnakan oleh para malaikat yang gagah perkasa. 

Meterai Roh Kudus pula dianugerahkan, agar orang-orang percaya di sepanjang zaman Raja Damai dapat mengenali [roh pengertian] yang Mahakudus, dan juga supaya orang-orang percaya mempunyai kekuatan dan damai sejahtera dalam menelesuri perjalanan iman yang dikarang oleh Yesus Kristus. Kristus kembali dengan 'meterai Allah yang hidup' kepada semua yang telah memasuki "kamar," dan pada hari Tuhan mereka masih di dalam 'kamar.' "Meterai Allah yang hidup" tidaklah diberikan kepada mereka yang tidak memasuki "kamar" (Yesaya 26: 20-21). Setiap suku kaum Israel dinubuatkan bahawa ada 12,000 orang yang dinubuatkan akan menerima "meterai Allah yang hidup." 'Meterai' itu dilaksanakan oleh 'penuai' yaitu para malaikat Tuhan.

Seperti 'halilintar' yang akan terpancar di Timur dan melontarkan cahaya ke bàrat...
Apakah maksud Yeshua dengan kata nubuatan itu?

Maka, bermulalah upacara altar Hakim dalam Wahyu 8: 1-4. Pada ayat yang ke-5, " ...Maka meledakkan bunyi (guntur), disertai halilintar dan gempa bumiyang menjelaskan secara simbolis bahawa "Puting Beliung" itu sebagai 'perjalanan murka' Tuhan (Hakim). Selepas “sunyi senyap” dalam meterai ke-tujuh, ia mula bergerak semula kepada "murka Tuhan" yang seterusnya, iaitu murka "sangkakala pertama," iaitu murka Tuhan kategori Sangkakala (the 2nd Category of WoeTrumpets) dalam Wahyu 8: 6 sehinggalah kepada Wahyu 10: 7. The "pathway" of the divine manifestations of divine wraths" diungkapkan oleh Nabi Nahum sebagai " Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kakiNya" (Nahum 1: 3).  Dan 'puting beliung' itu sebenarnya ada "halilintar." 

    Ia bukanlah diartikan semuanya secara harafiah' (literal sense), melainkan nubuatan Yeshua dalam Matius 24: 27 berbunyi "...bahawa kedatangan Kristus yang kedua (sebagai Hakim) adalah seperti terpancarnya kilat ('halilintar') di timur dan melontarkan cahaya ke barat." 'Lightnings' points to the Seventh Seal and onwards! Ia difahami apabila kita melihat nubuatan Yeshua itu dalam 'roh penglihatan.' 'Halilintar' itu hanya akan difahami secara terperinci apabila 'hukuman' ('wrath') Tuhan itu disampaikan dengan keperincian nubuatan-nubuatan yang menerangkan hukuman murka Tuhan.

    Suara Tuhan Hakim adalah bunyi guntur! Namun, tiada siapa yang mempunyai pengetahuan tentang suara guntur itu (suara Hakim).  Mesej suara 'guntur' hanya diketahui oleh mereka yang menerima meterai "seal of the Living God" atau meterai di dahi dan di tangan dari Tuhan (bukan meterai dari binatang). 

    Patriarch Ayub bersaksi: 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 37 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai (yang menyempurnakan "Bapa Kami"), agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya (Ayub 37: 5-7). Yang ada 'meterai' Tuhan dan selalu 'makan' (masuk 'kamar' terdalam) sahaja yang akan mengetahui rahasia bunyi guntur (thunders-suara Hakim). Lihat juga perihal suara Hakim, iaitu 'guruh' (thundersdalam Mazmur 29 dan Wahyu 4:5.


                                 


   Nubuatan mengenai "Halilintar" dalam Matius 24:27 sebenarnya telah disingkapkan oleh Tuhan kepada Santo Yohanes, yang merujuk pada "halilintar" pada meterai ketujuh dalam Wahyu 8:5. Hal ini juga menubuatkan penghukuman oleh "wajah" Raja Hakim yang telah turun ke bumi sebagaimana tercatat dalam Wahyu 6:14.

    Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa meterai pertama hingga ke-6 berada dalam masa penghakiman dan penghukuman oleh misi Roh Kudus pada era Raja Damai. Roh Kudus yang turun pada Hari Pentakosta dinubuatkan serta disaksikan melalui mata roh hanya sebagai "deruan" angin surgawi dan api; Roh Kudus turun di atas "sumbu roh" para rasul menyerupai lidah-lidah api.

    Roh Kudus menghakimi dan menghukum tanpa disertai kata nubuatan "halilintar", melainkan hanya dinubuatkan dan dikenali sebagai roh api dan deru angin. Hanya TUHAN (YHVH) dalam Perjanjian Lama, serta Sang Hakim yang datang kembali ke bumi untuk kedua kalinya sebagai "Roh Tujuh Lapis, Tujuh Mata, dan Tujuh Tanduk", yang dikaitkan dengan "halilintar"!

    Halilintar senantiasa menyertai puting beliung (whirlwind) dalam nubuatan-nubuatan mulai dari meterai ketujuh hingga genapnya Cawan Murka yang terakhir (cawan ketujuh). Dengan demikian, kita meyakini hadirat Kristus Sang Hakim yang telah turun kembali ke bumi berdasarkan kata nubuatan "halilintar" dalam Matius 24:27.

    Melalui hal tersebut, kita menyadari bahwa Yeshua Kristus akan turun dalam Wahyu 6:14, dan hadirat "nama" Sang Hakim mulai dirasakan (secara roh) di bumi sebab "halilintar" mulai memancar dalam Wahyu 8:5. Sangkakala pertama hingga Cawan Murka ketujuh akan disempurnakan dalam misi penghakiman dan penghukuman oleh "nama" Kristus sebagai Raja Hakim yang telah kembali ke bumi. So be it.


Works Cited:

Bernardus, Dominicus. Alkitab Terjemahan Baru. eKatolik, Google Play Store/Softonic, 2015, Softonic.com. Diakses 22 November 2015. 






Tidak ada komentar: