Wahyu 6:1-14
1 Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh
meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata
dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!" 2 Dan aku melihat:
sungguh, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah
panah; kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang
untuk merebut kemenangan.
3 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar
makhluk yang kedua berkata: "Mari!" 4 Maka majulah seekor kuda lain,
seekor kuda merah padam, dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk
mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga manusia saling membunuh;
kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.
5 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sungguh, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya. 6 Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
7 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar
suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!" 8 Dan aku melihat:
sungguh, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama
Maut, dan kerajaan maut mengikutinya. Kepada mereka diberikan kuasa atas
seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, kelaparan, sampar, dan
dengan binatang-binatang buas di bumi.
9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di
bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan
oleh karena kesaksian yang mereka miliki. 10 Dan mereka berseru dengan suara
nyaring, katanya: "Berapa lama lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar,
Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang
diam di bumi?" 11 Kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah
putih, dan kepada mereka dikatakan bahwa mereka harus beristirahat sedikit
waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka,
yang akan dibunuh sama seperti mereka.
12 Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam,
sungguh terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Matahari menjadi hitam bagaikan
karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. 13 Dan
bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara
menggugurkan buah-buahnya yang mentah apabila digoncang angin yang kencang. 14
Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung, dan tergeserlah
gunung-gunung serta pulau-pulau dari tempatnya. (eKatolik, Wahyu 6:1-14)
Mengapa Wahyu Kristus
Diberikan kepada Kita?
Dalam prolog, yaitu pada bab 1, Santo Yohanes memulai tulisan Kitab Wahyu: "Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya (pengikut Jalan) apa yang harus segera terjadi" (eKatolik, Wahyu 1:1). Wahyu ini diberikan agar kita mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan demikian, kita dapat membaca karya Roh Tuhan dalam sejarah peradaban manusia sejak permulaan atau sejak zaman purbakala (Yesaya 46:10).
Secara alamiah, kita takut kepada tiga dimensi waktu: masa lalu, masa
kini, dan masa depan. Namun, kita paling terpengaruh oleh dimensi masa depan
yang tidak diketahui! Seorang pujangga suku Asli Amerika Utara pernah
mengatakan: "We fear the things we do not know."
Jika demikian, Wahyu Kristus kepada Santo Yohanes sebenarnya memberikan
kekuatan, bahkan membantu "pertumbuhan iman" dalam mengarungi masa
depan yang sulit diramalkan. Rasul Paulus, melalui inspirasi Roh Kudus,
menyingkapkan fungsi nubuatan: bahwa nubuatan tidak dapat dipisahkan dari
"tanda" yang diberikan kepada orang-orang percaya. "Tanda"
itu sendiri adalah pesan Tuhan yang memberikan arah, petunjuk jalan, atau
"firman". "Firman" itu menjadi pelita bagi kaki orang
percaya dan cahaya yang menerangi perjalanan iman. Oleh karena itu, anak-anak
terang tidak hidup dalam kegelapan karena ada banyak "tanda",
nubuatan, maupun revelation knowledge yang dianugerahkan oleh Roh
Kebenaran. Hal ini juga memberitakan serta mengumumkan pekerjaan Roh Tuhan.
Bagi para pengikut 'Jalan', masa depan tidak hanya dilihat sebagai hasil
keputusan manusia—khususnya para penguasa bumi—tetapi peristiwa sejarah
dipercayai sentiasa tertakluk pada kedaulatan dan kesempurnaan Firman yang
sulit ditangkap oleh akal budi manusia. Firman dalam konteks ini adalah
nubuatan-nubuatan yang telah diturunkan oleh Tuhan melalui mulut nabi-nabi-Nya
di bumi.
Rencana Tuhan tentu saja ditentang oleh Seteru-Nya, yaitu Satan, agar
manusia tertipu oleh tipu muslihatnya. Si Ular Tua juga turut bekerja melalui
agen-agennya, atau yang secara ringkas disebut sebagai "lalang" yang
ditaburkan di tengah-tengah gandum. Bahkan, orang-orang 'pilihan' Tuhan
sekalipun turut disasar oleh Iblis/Satan supaya—jika memungkinkan—mereka
menjadi tidak percaya kepada Sumber Kehidupan sejati!
Rasul Yohanes bersaksi: "Berbahagialah mereka yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat dalam Wahyu ini, serta yang menuruti (percaya) apa yang tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat" (eKatolik, Wahyu 1:3).
Mengapa dituliskan frasa "Waktunya sudah dekat",
padahal ketika Wahyu diterima oleh Santo Yohanes, gereja baru berusia puluhan
tahun sejak kelahirannya pada hari Pentakosta?
Roh Kebenaran atau Roh Penghibur diutus untuk memberikan kekuatan
sekaligus menjadi "Pembimbing" bagi para pengikut Jalan, agar mereka
melihat realitas Kebenaran, yaitu Kristus. Roh itu diutus oleh Bapa dalam nama
Kristus, bukan saja untuk meneruskan karya 'nama' Raja Damai, melainkan juga
untuk memulai karya "api penghukuman" bagi semua bangsa.
House of Jacob (Kaum Yakub) lebih dahulu dibakar oleh
"api" Tuhan karena sebagai bangsa pilihan, merekalah yang lebih
dahulu mengenal Consuming Fire (Api yang Menghanguskan) dari kekudusan
Tuhan. Pemberontakan dan ketidakpercayaan mereka telah mengundang berbagai
"selimut api". Mereka juga menolak untuk percaya kepada "Firman
yang telah menjadi manusia". Santo Yohanes bersaksi bahwa mereka yang
tidak percaya kepada "Firman yang menjadi manusia" memiliki Roh
Antikristus.
Merek yang menerima Raja Damai diperdamaikan dengan Roh Pencipta.
Sebaliknya, mereka yang menolak Jalan Perdamaian dari Raja Damai secara
otomatis menempatkan rohnya di luar bahtera atau chamber Perjanjian
Damai.
Oleh karena itu, api Roh Kudus juga melaksanakan karya sebagai Roh
Penghukuman di sepanjang era Gereja: The 'fire' of the Holy Ghost as the
Spirit of Judgment during Church's age (zaman Sion yang rohani). Rasul
Yohanes menulis bahwa era awal Gereja juga dilihat secara rohani sebagai
"waktunya sudah dekat", atau dalam bahasa Inggris disebut "the
last hours". Maka, kedatangan Kristus yang kedua kali adalah
penyempurnaan penghakiman, penghukuman, dan keadilan.
Secara pribadi, saya selalu merasa diberkati (blessed) setiap
kali membaca Kitab Wahyu. Saya tidak merasa seolah-olah dihukum hanya karena
berkeinginan untuk mengerti informasi 'rohani' yang ada dalam Kitab Wahyu.
Kabut tebal yang menutupi 'penglihatan dan pengertian' saya tentang masa depan
selalu berkurang setiap kali saya membaca dan menuruti apa yang tertulis di
dalamnya.
Saya akan mengulas petikan dari Wahyu 6:1-14 karena bagian ini merupakan
ringkasan discourse yang populer, tetapi tafsirannya masih menimbulkan
kebingungan bagi banyak orang percaya. Nubuatan berfungsi menyingkapkan
"tanda" bagi orang-orang percaya! Seluruh buku nubuatan dalam Wahyu
disertai dengan "tanda-tanda".
Ketika tanda itu disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis, kita menjadi
"pembaca zaman", atau dalam versi bahasa Inggris: "the
readers of the signs of times: the times of the Prince of Peace and the times
of Judgment by the Judge who judges in equity." Banyak ahli
teologi—baik yang pakar maupun awam—menyajikan eksposisi atau eksegesis mereka
yang kerap kali bercampur aduk dengan intellectual fascinations mereka.
Lukas 24:45 menjelaskan: "Lalu Ia (Kristus) membuka pikiran
mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci." Roh Tujuh Lapis,
Menorah, yaitu Kristus, adalah satu dengan Roh Kudus yang dijanjikan akan
diutus oleh Bapa. Dialah yang bertanggung jawab untuk menganugerahkan kepada
kita roh takut akan Tuhan, roh pengertian, roh pengetahuan, dan roh hikmat.
Tanpa karunia-karunia yang diberikan oleh Sevenfold Spirit, kita tidak
akan mengerti "tanda-tanda" (nubuatan) tersebut.
Tanpa Roh Kudus, yaitu Roh Tujuh Lapis itu, siapakah yang dapat mengenal
kehendak Tuhan? Jawabannya: tidak ada seorang pun yang akan mengerti Tuhan! "Perkataan-perkataan-Ku
adalah Roh," kata Yesus (Yohanes 6:63). Maka, Firman tidak dapat
ditafsirkan menurut kemauan intelek semata, melainkan hanya dapat dipahami
apabila disingkapkan oleh Roh Tujuh Lapis yang turun ke atas sumbu roh
orang-orang percaya.
Firman, apabila tersingkap, akan memfokuskan pikiran kita pada aktivitas
merekam realitas Roh (Firman), yaitu semua pengertian atau pengetahuan yang
dinyatakan oleh Kehadiran Roh. Jadi, roh kitalah yang menangkap Firman (Roh),
sementara otak kita yang aktif turut merekam segala pengertian yang
disingkapkan ke dalam memori pikiran.
Hakikatnya, saya tidak mengklaim bahwa seluruh pengertian tentang
tafsiran Wahyu 6:1-14 yang diuraikan dalam tulisan ini murni dari
"roh" secara keseluruhan. Ulasan saya berasal dari pembagian
kesaksian pelbagai latar belakang orang percaya, termasuk kesaksian yang
diunggah di internet. Tulisan ini lebih kepada kumpulan pelbagai kesaksian yang
berhasil saya himpun dari pelbagai sumber yang tidak dapat saya catat
dokumentasi rujukannya secara tertulis satu per satu.
Dalam Kitab Wahyu, terdapat tiga kategori Siksaan, yaitu:
- Meterai
(The Seals ~ 1st Woes)
- Sangkakala
(The Trumpets ~ 2nd Category of Woes)
- Cawan
(The Bowls ~ 3rd Category of Woes)
Namun, dalam tulisan ini, penulis hanya akan menguraikan Kategori
Siksaan yang pertama (1st Woe), yaitu yang disebut "Meterai".
Banyak orang percaya yang tidak tahu cara membaca 'tanda' zaman karena
mereka tidak meminta karunia untuk mendapatkan visions (penglihatan) dan
dream dreams (mimpi-mimpi). 'Tanda' hanya dapat dibaca melalui
penglihatan dan mimpi. Mereka hanya mendengar nubuatan, tetapi tidak dapat
'melihat' tanda-tanda zaman. Merek yang dikaruniai mata untuk melihat dapat
mengetahui (in part) di mana posisi kita berada saat ini.
Siksaan-Siksaan yang
Dinamakan sebagai "Meterai" (The Seals)
Mengapa disebut "meterai", dan apakah maksudnya?
Dalam dokumentasi resmi publik, setiap dokumen yang memiliki
"meterai" atau status rahasia/terbatas tunduk pada tata cara,
peraturan, dan hukum (Undang-Undang) yang berlaku. Dokumen bermeterai harus
mengikuti prosedur resmi dalam pengelolaannya. Meterai dapat berupa stempel
resmi pada lembaran dokumen maupun meterai lilin (wax seal) pada amplop.
Hanya orang-orang tertentu yang diberi wewenang atau lulus pemindaian keamanan
(security clearance) yang diizinkan mengakses dokumen tersebut.
Namun, kata "meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 merujuk pada
informasi 'rohani' dalam penglihatan simbolis. Meterai ini menyingkapkan
penderitaan atau siksaan yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi hingga
hari kedatangan Kristus yang kedua kali. Oleh sebab itu, anugerah pengertian
dari Roh Tujuh Lapis Tuhan tentu akan membantu kita untuk "membaca"
zaman.
Dia yang layak membuka meterai gulungan kitab adalah Tunas Raja Daud,
Anak Domba yang memiliki Tujuh Roh, Tujuh Tanduk, dan Tujuh Mata: yaitu
Kristus. Dengan kata lain, Kristuslah yang diberikan 'kuasa' oleh Allah Bapa
untuk melaksanakan dan menyempurnakan semua "meterai" (siksaan) yang
telah disampaikan kepada Santo Yohanes.
Hanya Kristus yang diberikan kuasa dan akses untuk membuka
meterai-meterai siksaan tersebut. Kunci 'maut' dan kerajaan 'maut' dipegang
oleh Kristus; bukanlah Satan yang memegang kunci maut, melainkan Yeshua. Dan
Yeshua jugalah yang menganugerahkan 'Jalan' Kehidupan.
Dengan demikian, jika "meterai" atau penderitaan (siksaan)
yang dimaksud dalam Wahyu 6 muncul, kita tahu bahwa Kristuslah yang memegang
kuasa, baik untuk menghentikannya maupun meneruskannya sesuai ketetapan rentang
waktu dari 'suara' Firman.
"Meterai" dalam Kitab Wahyu pasal 6 adalah penderitaan/siksaan
atau murka Tuhan yang akan dialami oleh seluruh umat manusia di bumi. Walaupun
hal ini tidak berkaitan dengan kerahasiaan dokumen resmi pemerintah, gambaran
meterai dokumen dipaparkan untuk memberikan perbandingan mengenai akses
dan kuasa.
Anak Manusia telah diberikan kuasa oleh Bapa untuk menyempurnakan Firman
karena "nama-Nya ialah Firman Allah". "Nama" berarti
"karya" atau mission. Maka, "Firman Allah" adalah
karya Kristus, Roh Kudus, dan Allah Bapa. Tanpa Firman, tidak seorang pun dapat
mengerti bagaimana Roh Tuhan bekerja dan bagaimana Ia berurusan dengan umat
manusia yang terluka.
Kerahasiaan informasi "meterai-meterai" itu hanya dapat
dikunci atau didekripsi oleh Kristus (melalui karunia-karunia Roh Tujuh Lapis).
Oleh karena itu, kunci untuk memahami "meterai" adalah memohon kepada
Allah Bapa dalam nama Kristus agar mengutus Roh Tujuh Lapis, sehingga Roh itu
hinggap pada sumbu roh setiap orang percaya.
Jika ada pengikut 'Jalan' yang rindu dikaruniai hikmat dan pengertian
mengenai siksaan-siksaan simbolis ini, hendaklah ia memohon anugerah roh
hikmat, roh pengertian, dan roh pengetahuan dari Dia yang memegang
"kunci" meterai gulungan Kitab.
Disingkapkan dalam Wahyu 5:12: "Anak Domba yang disembelih itu
layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat,
dan kemuliaan, dan puji-pujian!"
Singkatnya, Roh Tujuh Lapis (Menorah) akan menganugerahkan hikmat kepada
kita agar kita memahami rahasia yang tersembunyi di balik meterai Wahyu 6.
Ketujuh meterai itu adalah tujuh "Murka Tuhan" (1st category of
Woe ~ the Seals) yang pertama, yang harus dilalui oleh umat manusia di bumi
sebelum Ia tampil sebagai "Hakim yang Adil".
Matius 24:29 saling berkaitan dengan Wahyu 6:12. Kedatangan Kristus akan
terjadi apabila ada 'tanda' yang diberikan Tuhan di surga, di langit, dan di
bumi. Pada akhir meterai yang keenam—yaitu saat "awan-awan bergulung"
seperti gulungan kitab dapat dilihat dengan mata rohani—itulah saat Sang Hakim
turun ke bumi.
Yesus berkata: "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia" ((eKatolik, Matius 24:27). Ayat tersebut bukanlah sekadar perumpamaan, melainkan Yeshua memberitahukan 'tanda' di langit yang perlu dibaca oleh orang-orang percaya!
Dalam Wahyu 4:5 diberitahukan bahwa takhta Hakim adalah tempat asal
kilat itu: "Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang
menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh
Allah." Kilat adalah salah satu 'tanda' yang hanya ada pada 'nama'
Tuhan yang diberitakan oleh langit sebagai Hakim. Kilat itu hanya dapat dilihat
melalui visions dan dream dreams!
Ada pula sebagian orang percaya yang berpendapat bahwa kedatangan
Kristus akan terjadi dalam Wahyu 10. Namun, yang pasti hal itu akan didahului
oleh "tanda" Anak Manusia di surga, di langit, dan di bumi! Ketiga
tempat tersebut adalah spirit realms (alam roh), kecuali bumi, karena
'tanda' di bumi dapat dilihat di alam roh sekaligus di bumi nyata.
Nubuatan tidak dapat dipisahkan dari tanda. Nubuatan hanya memberikan
kebaikan (profitability) apabila disampaikan kepada orang-orang percaya.
"Tanda" merujuk dan selalu terikat pada semua nubuatan yang
menguraikan secara terperinci peristiwa seperti kemuliaan kedatangan Kristus
pada Hari Tuhan!
Sebagaimana Ia naik ke surga dalam Kisah Para Rasul 1:9-11, demikian
pulalah Ia akan turun ke bumi kelak: langit bergulung seperti gulungan kitab,
dan kegelapan ada di bawah kaki-Nya. Apakah peristiwa itu akan terjadi pada
musim yang sama—yaitu hitungan 50 hari setelah Paskah? (Lihat Matius 24:30).
![]() |
Bell, Sarah. Albrecht Durer, The Four Horsemen of the Apocalypse, 1497-1498.
Art of the Apocalypse. 23 November 2015.<wsimag.com>
|
"Seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah, dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota."
Penunggang kuda putih ini bukan merujuk kepada Yesus atau pemimpin Gereja, melainkan menyatakan rahasia murka Tuhan yang disebut "Meterai 1".
Jika kita melihat era permulaan Gereja sejak lahirnya pada hari Pentakosta, bangsa-bangsa di dunia pada masa itu diwarnai oleh pergolakan politik imperium (empayar lawan empayar). Kata "mahkota" adalah petunjuk atau kunci tafsiran persaingan antar-kekaisaran serta perebutan takhta monarki pada zaman kekaisaran yang kemudian berlanjut ke sistem feodal. Kedudukan seorang kaisar dianggap 'suci' (sacred), yaitu disebut "diberikan mahkota". Peristiwa ini tidak terlepas dari pencarian kekuasaan melalui percaturan politik raja-raja, di mana "pemenang" akan merebut "kemenangan" (plunders).
"Kuda berwarna putih" tersebut secara khusus menunjuk pada penderitaan akibat pergolakan politik kekaisaran dunia yang membawa kesusahan hidup bagi orang percaya maupun tidak percaya. Yeshua adalah Raja atas segala Raja dan Tuan atas segala Tuan. Ia menunggangi kuda putih dan senjata-Nya bukanlah 'panah', melainkan lidah-Nya yang seperti pedang tajam bermata dua.
Kuda putih dalam Meterai 1 menggambarkan para kaisar yang menjadi 'hakim' dan 'tuhan-tuhan' (the gods) di bumi. Mereka diizinkan oleh Tuhan untuk memerintah demi menggenapi nubuatan tentang 'murka' Tuhan. Kekaisaran yang berkuasa di bumi saling bersaing, bukan hanya dari aspek militer dan perdagangan, melainkan juga dalam perebutan tanah jajahan di seluruh dunia. Konflik ini menyeret penduduk bumi ke dalam pelbagai penderitaan hingga awal abad ke-20.
Bahkan hingga saat ini, masih ada sistem monarki berstatus imperialis,
meskipun tidak diakui secara terang-terangan. Monarki United Kingdom
adalah contoh "kuda putih yang ditunggangi oleh pemanah" yang masih
bertahan hingga sekarang! "Panah" adalah lambang "kuasa
penderitaan" yang dibawa oleh penjajahan dan penjarahan kekayaan
bangsa-bangsa secara rakus dan tidak adil.
Di ambang kedatangan-Nya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga dikatakan menunggangi kuda putih, karena 'kuda putih' itu juga berbicara tentang pemerintahan yang berprinsip pada 'karya damai dan selamat' (peace and security) di muka bumi. Hal ini merujuk pada Piagam PBB Pasal 1 Bab 1 ("Peace and Security") yang dikuasai oleh kelompok cabal di dunia ini.
Namun, hanya United Kingdom dan Prancis yang memiliki 'mahkota' dalam lingkaran elit (cabal), yaitu sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB! Santo Paulus bernubuat mengenai 'kuda putih' ini dalam 1 Tesalonika 5: "Apabila mereka mengatakan: Damai dan aman! (Peace and security) ..."
Kedamaian dan keselamatan dunia yang diperjuangkan oleh PBB adalah 'kuda putih' yang memegang senjata peperangan di tangannya. Meskipun PBB bukan pemerintahan kerajaan feodal, lembaga ini seolah-olah diberikan 'mahkota' (kuasa memerintah dunia), karena istilah nubuatan 'diberikan mahkota' juga merujuk pada bahasa nubuatan 'diberikan pemerintahan' di atas bumi.
Yeshua, walaupun menunggangi Kuda Putih, bernubuat dengan maksud yang sangat berbeda dari Kuda Putih Meterai 1. Kristus menghakimi dan menghukum dengan penuh keadilan, serta menganugerahkan damai dari Allah. Pedang-Nya tidak dipegang oleh tangan, melainkan keluar sebagai 'lidah pedang' dari mulut-Nya, yaitu Firman Allah. Lagipula, Yeshua memiliki banyak mahkota, sedangkan penunggang Meterai 1 hanya memiliki satu mahkota (Lihat Wahyu 19:11-12). Yeshua adalah Raja Damai yang memegang kunci penunggang kuda Meterai 1: menguncinya untuk berlari atau menghentikannya!
METERAI 2
"Kuda merah padam" adalah bahasa nubuatan yang mengungkapkan kuasa penderitaan akibat peperangan dunia secara menyeluruh. Kita tahu bahwa kuda adalah penggerak logistik militer kuno sekaligus barisan pemusnah yang bergerak cepat. Kuda berfungsi sebagai sarana transportasi perang dahulu kala yang masih relevan hingga sekarang karena kemampuannya bergerak di pelbagai medan topografi.
Kuda merah padam menjadi simbol kuasa penderitaan yang mencabut perdamaian antar-bangsa di bumi, sehingga terjadi aksi saling membunuh atau berperang dalam skala besar (dalam frasa nubuatan disebut "sebilah pedang yang besar"). Peperangan antara negara Sekutu/British dengan Kekaisaran Ottoman, Perang Dunia I, dan Perang Dunia II adalah contoh penderitaan yang dibawa oleh meterai kuda merah padam. Peperangan dunia ketiga yang akan datang juga tergolong sebagai larian kuda merah padam ini.
METERAI 3
"Kuda hitam dengan orang yang menungganginya memegang timbangan." Kita tahu bahwa 'timbangan' adalah simbol transaksi jual-beli atau perdagangan. Timbangan yang dibawa oleh penunggang kuda hitam bermakna penderitaan akibat krisis dan guncangan ekonomi yang dahsyat, seperti Depresi Besar (Great Depression) dunia pada tahun 1920-an dan 1930-an.
Penunggang kuda melambangkan agenda atau karya manusia dalam sistem pemerintahan dan perekonomian dunia pada era pasca-Pentakosta. Lalu ada suara yang berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
Satu dinar adalah upah kerja sehari, sedangkan secupak (sekitar 1 kg beras/gandum) tidak cukup untuk memberi makan satu keluarga selama sehari. Ini menggambarkan penderitaan akibat kekurangan bahan pangan pokok. Kematian akibat kelaparan adalah bagian dari murka Tuhan, meskipun kekurangan pangan tersebut dipicu oleh ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia.
"Gandum dan jelai (barli)" secara rohani merujuk pada berkat Tuhan serta simbol hasil usaha manusia. Murka Tuhan yang dilambangkan oleh Kuda Hitam merujuk pada penderitaan penduduk dunia akibat hilangnya berkat Tuhan dan ketidakadilan sistem ekonomi buatan manusia dalam agenda nation-building atau kingdom-building.
Frasa nubuatan "minyak dan anggur" merujuk pada pekerjaan atau karya Ilahi. Tuhan menjelaskan bahwa biarpun manusia dilanda malapetaka kekurangan pangan oleh Meterai 3, penderitaan tersebut tidak akan merusak karya Roh Tuhan. "Minyak dan Anggur" adalah berkat dalam karya Tuhan yang menabur dan menuai di sepanjang zaman Perjanjian Perdamaian (era gerejani).
Pada era setelah kedatangan Hakim, binatang-binatang dalam Wahyu 13 dan Wahyu 17 akan berusaha merusak minyak dan anggur tersebut. Karena itulah Anak Domba di atas awan akan berperang mengalahkan kuasa mereka yang memperbudak dan menganiaya penduduk dunia.
METERAI 4 dan METERAI 5
Kuda Hijau Kuning (Meterai 4) dan penunggangnya bernama Maut, dan kerajaan Maut mengikutinya.
Berita Semasa: Suriah (Syria)
Kelompok "lalang" dan "gandum" yang ignorant
(acuh tak acuh) akan melihat konflik rumit di Suriah sebagai hal yang sangat
berbelit-belit dan membingungkan. Bahkan mereka yang dikaruniai penglihatan pun
hanya mampu melihat konflik pedang di Suriah sebagai masalah politik yang
menyeret seluruh dunia.
Manifestasi yang menjangkiti dunia akan memperlihatkan kuda-kuda Meterai ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 berlari serentak di bumi! Sisi lain dari Meterai 4 adalah kematian akibat sampar, kelaparan, dan serangan binatang buas atau berbisa.
Kuda-kuda dalam Kitab Wahyu tidak selalu berlari mengikut urutan kronologis, melainkan muncul satu per satu dalam penglihatan Santo Yohanes. Tuhan sengaja menyingkapkan cryptic prophetic designations bagi malapetaka yang menimpa bumi satu per satu agar pesannya jelas.
Sebagai contoh, martir pertama yaitu Santo Stefanus merupakan korban yang termasuk dalam kategori manifestasi Meterai 5. Demikian pula nubuatan samar (cryptic prophecy) untuk Perang Dunia I (WW1) dan Perang Dunia II (WW2) tergolong dalam Kuda Merah Padam (Meterai 2), yaitu 'pedang besar' yang mencabut perdamaian dari bumi.
Wahyu 1:18 menjelaskan bahwa Kristus adalah: "...Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." (Wahyu 1:18). Dialah yang mengizinkan kerajaan maut muncul di Suriah karena Sang Hakim belum turun ke bumi.
Pihak-pihak yang terlibat dalam peperangan—tanpa mereka sadari—sedang menggenapi nubuatan Meterai 4 maupun Meterai 5. Sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, nama-Nya sebagai Hakim akan diberitakan terlebih dahulu (Zakaria 14:7; Mazmur 19:1-2; Mazmur 50:4-6). Penghakiman (judgment) akan mendahului hari kedatangan-Nya.
Berita dari langit mengenai hari kedatangan Hakim menyatakan: "Tetapi akan ada satu hari—hari itu diketahui oleh TUHAN—dengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan malam pun menjadi siang." (Zakaria 14:6-7). Dalam versi NIV: "When evening comes, there will be light." kita tahu 'petang' itu telah tiba apabila penglihatan tentang sunset (matahari terbenam) datang kepada kita, disertai penggenapan tanda-tanda lain di bumi, salah satunya berkaitan dengan Yerusalem (lihat Zakaria 12).
Kelima meterai dalam Wahyu 6 adalah skenario dunia yang dipaparkan dalam penglihatan rohani untuk menggambarkan penderitaan manusia sejak kelahiran Gereja (Pentakosta) hingga pengumuman Meterai ke-6 (kedatangan Kristus). Meterai-meterai ini tidak ditafsirkan secara kronologis kaku; semuanya bisa muncul dan berlari bersamaan pada rentang sejarah tertentu, sebagaimana yang kita saksikan saat ini.
Manifestasi Meterai 4 (kuda hijau kuning di Suriah) dapat memicu Kuda Merah (Meterai 2) untuk berlari kembali ke seluruh dunia membawa penderitaan yang lebih global dalam bentuk peperangan dunia.
Kita tidak menyebut warna "hijau-kuning" sebagai rujukan kepada umat Islam. Penafsiran semacam itu tidak tepat secara ketat menurut tafsiran rohani, karena Meterai 4 tidak hanya merujuk pada aksi "saling membunuh", tetapi juga mencakup "kelaparan, penyakit sampar, dan serangan binatang buas". Logika sederhana (common sense) menunjukkan bahwa wabak sampar dan binatang buas tidak ada kaitannya dengan agama apa pun di dunia. Tafsiran yang marak di YouTube sering kali diunggah demi kepentingan ideologi politik tertentu atau sekadar melayani kebencian (hatred).
Namun yang jelas: "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar." (Mazmur 29:3). Suara penghakiman akan terdengar memberitakan "kerajaan maut" atau peperangan saudara yang bermula di Suriah, dengan tanda "Salib" di atas langit Suriah (dalam alam roh).
Salah satu ulasan mengenai "Kerajaan maut" adalah bahwa hal itu merujuk pada peperangan yang melibatkan seluruh kerajaan di dunia (Kuda Merah): Perang Dunia III (WW3).
Meterai Ke-empat iaitu "Kuda hijau-kuning" tidaklah merujuk kepada peperangan-peperangan saudara atau revolusi sahaja, melainkan termasuklah juga penularan jangkitan "wabak penyakit sampar," dan juga "kematian oleh binatang buas atau binatang berbisa."
Tidaklah benar dan tidaklah berhikmat jika ia dikaitkan semata-mata dengan agama Islam atau kaum Muslimin; tafsiran cetek seperti itu, adalah tafsiran yang melulunya 'stereotyping.' Kuda hijau kuning yang ada sekarang adalah perang saudara atau revolusi Syria yang mampu mengheret seluruh dunia kepada WW3, dan ia telahpun bermula di Syria sejak Tahun 2011. Kuda itu dinubuatkan ditunggangi oleh orang yang "bernama" maut, kerana tujuan pemerintah-pemerintah dunia yang terlibat dalam peperangan saudara di sana adalah "saling-berbunuhan:" bahasa profetiknya ialah "kerajaan maut"!
Kuda hijau kuning ini telahpun pernah muncul sejak di awal zaman gereja, dan juga pernah muncul dalam peperangan-peperangan saudara, dan ia turut berlari mewarnai revolusi negara-negara besar di dunia, dan juga peperangan antara sekutu Inggeris melawan persaudaraan Empayar Ottoman dahulu, di mana pihak British telah menang, maka muncullah peraturan pembahagian tanah bekas takluk Empayar Ottoman di kalangan sekutu British yang di panggil Mandates dan Protectorates.
Dan, sekarang, ia muncul kembali sebagai "peperangan saudara" di bumi Arab! Ramai rohaniwan dan juga penganalisa politik percaya bahawa Perang saudara Syria yang ada sekarang ini akan akhirnya mengheret semua negara-negara pemegang kuasa veto untuk berperang di sana; ia telah dinubuatkan sebagai "orang yang menunggang kuda hijau kuning" dan "bernama" maut.
Atau ringkasnya, mission manusia yang "saling berbunuhan." "Nama" dalam nubuatan adalah bermaksud "mission" atau "matlamat/karya" yang dikehendaki oleh umat manusia yang mahu melaksanakannya, dan ia tidaklah dihalang oleh Tuhan untuk 'beberapa ketika' lamanya, melainkan "merelakan" keinginan-keinginan pemerintah-pemerintah dunia, supaya ia terjadi sebagaimana yang terjadi di bumi Syria sekarang ini, sehinggalah seluruh dunia terheret kepada peperangan dunia ke-3, iaitu "Kuda merah" berlari!
METERAI Ke-6
Meterai yang keenam juga turut memberitakan misi "Hakim yang Benar" yang akan turun kelak! "...namaNya ialah Firman Allah"
"Meterai ke-6" menyingkapkan siksaan yang harus dilalui oleh umat manusia pada masa-masa jangkamasa peralihan "NamaNya," iaitu dari misi zaman Raja Damai kepada misi-era Hakim yang turun. Dalam tempoh masa peralihan, Hakim diumumkan akan datang, namun Raja Damai akan masih terbuka pintuNya kepada umat manusia untuk memasuki perdamaian.
Namun, "meterai" ini juga adalah tempoh masa pemberitaan langit dalam jam terakhir bagi tempoh peralihan, dan Tuhan menyeru 'langit': "matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang." Meskipun Ia belum turun, namun Judgment akan mula diproklamirkan bermula dari "meterai" ke-6 ini, dan Roh Kudus melaksanakan penghakiman dan penghukuman di bumi, di sepanjang tempoh peralihan.
Ada satu kata-nubuat yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang percaya iaitu 'halilintar.' Kenapa siksaan 'meterai-meterai' tidak ada 'halilintar,' kecuali pada meterai yang ke-tujuh dalam Wahyu 8: 5?
Jawapannya ringkas sahaja: Tugas penghakiman dunia sejak pentakosta sehinggalah pada hari Hakim turun adalah dilaksanakan oleh 'mission' Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menjadi Hakim di bumi sepanjang zaman Raja Damai. Maka, itulah sebabnya tiada 'halilintar' dikaitkan dengan Roh Pentakosta! Kenapa pada meterai yang ke-tujuh ada 'halilintar' sedangkan meterai 1 hingga meterai ke 6 tidak ada 'halilintar? Jika kita tahu the pathway of Divine Wraths, maka kita akan tahu sebabnya!
Yeshua sebagai Hakim akan turun ke bumi ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan," adalah merujuk kepada "bukaan (yang dibuat oleh malaikat) Tujuh Lapis Sorga," maka meterai yang ke tujuh pastinya ada haliliñtar kerana Dia sudah turun di bumi; Hakim (puting-beliung telah menjamah bumi, dan ia dilihat dalam Penglihatan 'roh.' Dari Meterai yang terakhir iaitu ke-7 dalam Wahyu 8: 5, Halilintar ('malaikat' sebagai penuai) akan mewarnai semua the Pathway of Divine wraths sehinggalah kepada Cawan Murka terakhir iaitu yang ke tujuh. Maka kita tahu dari 'roh nubuat' bahawa 'halilintar ' itu bermaksud hadirat para penuai (malaikat~the reapers) bersama Hakim di bumi. Nabi Nahum melihat 'penglihatan roh' perihal Hakim seperti 'puting beliung;' senjata bagi 'puting beliung' itu adalah 'halilintar' ('malaikat').
Bagaimana 'halilintar' (malaikat) itu difahami? Para malaikat hanya tunduk kepada "suara" Firman! Kerana Raja bernyanyi: "Terpujilah malaikat Tuhan yang gagah perkasa yang melaksanakan kehendak Tuhan (Hakim) dengan mendengarkan "suara" Firman (Hakim)." Bagaimana malaikat Tuhan akan melaksanakan 'pancaran kilat-petir' di setiap negara? Ia bergantung kepada keperincian nubuatan. Ia bergantung kepada nubuat-nubuat tentang murka Tuhan Hakim, yaitu the lightnings, storms, thunders and earthquakes.
Meterai yang ke-enam adalah seperti tempoh masa ketika Nabi Yohanes Pembaptis mengumumkan Yesus Kristus sebagai "Lihatlah Domba Tuhan yang menghapuskan dosa-dosa dunia," namun selang tiga tahun sebelum ia benar-benar telah menjadi korban Domba Tuhan di atas Kayu salib, Yesus masih melayani sebagai nabi atau sebagai Anak Manusia sehinggalah saat ia mati.
Selama beberapa tempoh yang ditentukan Tuhan melalui pemberitaan "langit dan Cakrawala," karya Raja Damai akan diteruskan oleh hadirat Roh Kudus, namun pada masa yang sama Kristus yang akan datang sebagai Hakim akan mula menyatakan manifestasi kehakimannya di bumi. "namaNya, ialah Firman Allah."
'Halilintar' hanya akan berdentum pada meterai yang ke Tujuh (Why. 8: 5), kerana itu adalah 'tanda' Hakim sudahpun ada di bumi; ia telah turun ketika "awan-awan bergulung seperti gulungan Kitab." Dalam Matius 24: 27, Yesus bernubuat bahawa kedatangannya Nya yang ke-dua adalah seperti "halilintar terpancar di Timur dan melontarkan cahaya 'ke barat."
Roh nubuat menyingkapkan bahawa 'halilintar' yang dimaksudkan Yesus itu sebenarnya mula memancar pada Meterai yang ke-7, dalam petikan ayat Wahyu 8:5. Hadirat murkaNya (the pathway of Divine Wraths) mula menyatakan permulaan maksud 'halilintar' itu. Puting Beliung ada 'halilintar'! Melihat penglihatan 'roh' iaitu a whirlwind di bumi adalah 'tanda' hadirat Hakim di bumi!
Meterai ke-enam atau siksaan ke-enam yang muncul menggenapi wahyu Tuhan adaalah 'transition period,' iaitu masih dalam selang waktu Penghakiman oleh Roh Kudus. Namun, 'Nama' [karya] Yeshua sebagai Hakim juga akan diberitakan oleh "pemberitaan langit." Ia menyatakan murka Ilahi yang dipanggil meterai ke-enam. Ia juga akan mengenapi nubuatan perihal "gempa bumi" yang dahsyat. Nabi Asaph dalam Mazmur 50 menubuatkan bahawa keadilan Tuhan sebagai Hakim turut diberitakan oleh 'bumi.'
Gempa bumi itu adalah bahasa roh nubuat yang melaksanakan 'suara' Firman. Murka Tuhan dalam Meterai yang ke-enam, rupanya akan mulai diberitakan oleh bumi dengan suatu "gempa bumi" yang dahsyat. Daud dalam Mazmur 29 bernyanyi-bernubuat, bahawa "Ada suara Tuhan di gunung atau di tanah dataran." Bukankah hadirat Yang Mahasuci itu "ada suara yang menjadikan gunung-gunung melonjak-lonjak...dan juga padang gurun (tanah bumi)...gemetar? lihat Mazmur 29: 6, 8.
Permulaan Siksaan (Murka) oleh Meterai ke-enam adalah manifestasi "gempa bumi" yang menandakan murka Tuhan mengegarkan "segala dasar bumi." (Mazmur 82: 5). Tuhan menyeru 'bumi' lalu ia bergempa bumi. Apakah ia merujuk kepada gempabumi yang diartikan secara harfiah? Itu bahasa Roh nubuat! Namun, jika ada 'ñubuatan' yang menubuatkan perihal satu gempa-bumi di bumi sebenar, maka gempabumi bumi itu adalah dikatakan ada 'suara' Tuhan di atas dataran tanah.
Dalam konteks Wahyu 6: 12, ia merujuk kepada bahasa Roh yang menyingkapkan 'tanda' sebelum kedatangan Kristus. Kita perlu berdoa meminta Roh Tujuh lapis untuk melihat apakah keperincian "gempa-bumi" yang dahsyat itu, entah ia literal atau pun simbolik. Banyaklah yang boleh digoncang oleh murka Roh Tuhan di bumi ini, dan pengertian kita tidaklah semata-mata dibatasi oleh kata-nubuat' "gempabumi" secara harfiah.
"Nubuatan-nubuatan" diberikan untuk menandai perjalanan masa depan yang sukar dimengertikan. Masa depan adalah umpama jalan yang belum pernah kita lalui. Perjalanan yang dilalui memerlukan 'tanda-tanda' bagi memudahkan perjalanan, dan ia benar bagi perjalanan yang harfiah mahupun yang rohaniah. Namun, perjalanan iman adalah perjalanan roh yang memerlukan Firman sebagai "pelita" dan "cahaya" yang menerangi perjalanan.
Justeru, nubuatan akan berfungsi sebagai 'tanda-tanda' yang membantu kita melihat dan percaya; ia membangun, menegur, menghibur dan menguatkan. Dan selepas peralihan "namaNya" itu, "langit dan cakrawala" (Mazmur 19 dan Mazmur 50: 4-6) akan memberitakan Karya Raja Hakim yang akan turun, iaitu masa yang telah ditentukan Bapa; ia diumumkan sebagaimana "burung-burung nazar"yang berkerumun, maka demikianlah kepastian akan kedatanganNya yang kali kedua.
Meterai ke-tujuh (The Seventh Seal)
The 'pathway' of Divine wraths
Saya terinspirasi oleh nubuat Nabi Nahum dalam Kitab Nahum 1: 3 yang menjelaskan bahawa 'Jalan' (pathway) murka Roh Tuhan di bumi seolah-olah diumpamakan "perjalanan puting beliung." " Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kakiNya."
Pemazmur bernyanyi bahawa bumi ini adalah tumpuan kakiNya. Puting beliung membinasa segala-gala yang ia lalui. Tetapi, di tengah-tengah pusaran beliung itu terdapat 'suatu sunyi senyap' yang mengerunkan. Bunyi ledakan kemusnahan akan dirasakan semula, selepas 'sunyi' pada pusat pusaran yang menggerunkan itu berlalu. Murka yang disebut “Meterai Ketujuh,” diberitakan "dan ketika Anak Domba itu membuka meterai ke-tujuh, maka sunyi senyaplah di Sorga, kira-kira setengah jam lamanya." Mengapa "sunyi senyap"?
Ada salah satu rahasia Melkisedek iaitu sebelum Roh' Tuhan (Roh' Tujuh lapis) mengalir dalam karya "menabur dan menuai," suatu upacara Imam Agung Melkisedek harus diselesaikan upacaranya, iaitu Paskah Tuhan Yeshua. Sebelum Roh' Yahweh menabur kepada pewaris Janji Tuhan kepada Abraham, maka Melkisedek perlu mengupacara 'altar,' sebab itu dicatatkan Abram bertemu dengan Raja Kebenaran dari Salem di pergunungan Seir. Untuk apa? Dan kenapa? Upacara 'altar.' Itu adalah rahasia "menabur dan menuai."
Imam Sorgawi Melkisedek perlu mengupacara terlebih dahulu altar di Sorga, sebelum Roh' Tujuh lapis mengalirkan thunders, lightnings, storms, dan earthquakes di bumi! Kita tahu bahawa urusan "menabur dan menuai" dalam Perjanjian Baru perlu didahului oleh upacara altar di bumi!
Yeshua sebagai Imam Agung yang menurut Ordo Melkisedek perlu mengupacara Altar di bumi terlebih dahulu sebelum Roh' Tujuh lapis (Roh' Pentakosta) mengalir untuk "menabur dan menuai." Justeru, adalah suatu konsistensi ordo Melkisedek untuk "sunyi senyap" selama setengah jam di Sorga, kerana Melkisedek akan mengupacara Altar Hakim di Sorga sebelum Roh' Tujuh Roh', Tujuh tanduk dan Tujuh Mata memulakan Operasi penghakiman dan penghukuman di bumi. Jadilah itulah sebabnya ia "sunyi senyap."
"Murka Tuhan" yang dinubuatkan oleh Nabi Nahum dalam Nahum 1: 3 menyingkapkan “jalan murka Tuhan...” Ia membawa erti bahawa pemberitaan langit, iaitu (Mzm.19:2; Maz.50: 4, 5-6) namaNya sebagai Hakim pada murka Meterai ke-6 sudah mulai dirasakan. Nabi Nahum menyingkapkan murka Tuhan sebagai "Ia yang berjalan dalam puting beliung" (the 'pathway' of Divine Wraths). Hadirat pusat pusaran mulai memberikan manifestasi dari "sunyi senyap" itu, yang bermaksud "pusat pusaran puting beliung" itu sudahpun menjamah bumi sepenuhnya pada Meterai ke-7.
'Pekerjaan' atau 'nama' Hakim adalah termasuklah menganugerah kehidupan kekal kepada yang mati di dalam Kristus, dan barangsiapa yang dimeteraikan dengan "meterai Allah yang hidup" akan memiliki jaminan kuasa kebangkitan Kristus biarpun dagingnya mati pada tempoh masa Penghakiman dan Penghukuman. "Meterai Allah yang hidup" itu juga akan memberikan kita pengertian bahawa Tuhan Hakim benar-benar wujud untuk memberikan keadilan, penghakiman dan penghukuman. Meterai ini disempurnakan oleh para malaikat yang gagah perkasa.
Nubuatan mengenai "Halilintar" dalam Matius 24:27 sebenarnya telah disingkapkan oleh Tuhan kepada Santo Yohanes, yang merujuk pada "halilintar" pada meterai ketujuh dalam Wahyu 8:5. Hal ini juga menubuatkan penghukuman oleh "wajah" Raja Hakim yang telah turun ke bumi sebagaimana tercatat dalam Wahyu 6:14.
Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa meterai pertama hingga ke-6 berada dalam masa penghakiman dan penghukuman oleh misi Roh Kudus pada era Raja Damai. Roh Kudus yang turun pada Hari Pentakosta dinubuatkan serta disaksikan melalui mata roh hanya sebagai "deruan" angin surgawi dan api; Roh Kudus turun di atas "sumbu roh" para rasul menyerupai lidah-lidah api.
Roh Kudus menghakimi dan menghukum tanpa disertai kata nubuatan "halilintar", melainkan hanya dinubuatkan dan dikenali sebagai roh api dan deru angin. Hanya TUHAN (YHVH) dalam Perjanjian Lama, serta Sang Hakim yang datang kembali ke bumi untuk kedua kalinya sebagai "Roh Tujuh Lapis, Tujuh Mata, dan Tujuh Tanduk", yang dikaitkan dengan "halilintar"!
Halilintar senantiasa menyertai puting beliung (whirlwind) dalam nubuatan-nubuatan mulai dari meterai ketujuh hingga genapnya Cawan Murka yang terakhir (cawan ketujuh). Dengan demikian, kita meyakini hadirat Kristus Sang Hakim yang telah turun kembali ke bumi berdasarkan kata nubuatan "halilintar" dalam Matius 24:27.
Melalui hal tersebut, kita menyadari bahwa Yeshua Kristus akan turun dalam Wahyu 6:14, dan hadirat "nama" Sang Hakim mulai dirasakan (secara roh) di bumi sebab "halilintar" mulai memancar dalam Wahyu 8:5. Sangkakala pertama hingga Cawan Murka ketujuh akan disempurnakan dalam misi penghakiman dan penghukuman oleh "nama" Kristus sebagai Raja Hakim yang telah kembali ke bumi. So be it.
Works Cited:
Bernardus, Dominicus. Alkitab Terjemahan Baru. eKatolik, Google Play Store/Softonic, 2015, Softonic.com. Diakses 22 November 2015.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar