Kamis, 10 Desember 2015

Terangkatlah Yesus ke Sorga

6  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"

7 JawabNya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. ?

8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka.

10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,

11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama  seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."  (Kis 1:6-11)

Kedatangan Kristus ...Part 2 : Apakah yang dimaksudkan ‘Yesus…akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga’ ? (Kisah Para Rasul 1: 11).






Pemberitaan ‘Langit’ dan ‘Cakrawala’

8 Dahsyat Engkau! Siapakah yang tahan berdiri di hadapan-Mu pada saat Engkau murka? 9 dari langit Engkau memperdengarkan keputusanMu; bumi takut dan tertegun,  (Alkitab Terjemahan Baru, Mazmur 76: 8-9)

2 Sorga (heavens) menceritakan kemuliaan Allah, dan 'langit' memberitakan pekerjaan (a) tangan-Nya [(a) juga diungkapkan dengan kata nubuat 'karya' atau nama]; (Mazmur 19: 1-2)


4 Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya: 5 "Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!" 6 Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim (Mazmur 50: 4, 5, 6) 
                                  





Langit harfiah hanyalah memberitakan perihal cuaca samada cuaca dalam ruang lintup atmosfera bumi ataupun di luar atmosfera bumi.  Biru itu adalah batasan kemampuan penglihatan mata kasar.

    

    Kata "langit" (penglihatan "roh") dipakai sebagai ungkapan profetis dari Roh Tuhan. Tuhan Yesus bersabda, "Perkataan-perkataan-Ku adalah roh" (Yohanes 6:63).

    Mengapakah keputusan penghakiman (judgment) Tuhan diperdengarkan dari "langit"? Raja Daud bernyanyi bahwa keputusan penghakiman itu berasal dari sorga, yaitu dari Allah Bapa. "Langit" itu juga merujuk kepada pemberitaan "nama" Tuhan yang diberitakan oleh abjad-roh "langit". "Langit" itu berbicara seolah-olah ia adalah pribadi yang hidup. Memang benar ia hidup karena firman itu adalah roh. Pada hakikatnya, "langit" dan "bumi" adalah seperti "abjad Roh" Firman. Ketika Roh Tuhan mulai berkarya, bahasa roh Firman akan mengalir ke "langit" dan "bumi".

    Cara roh nubuat ini mengalir disebut dalam bahasa Inggris: the flow of the Spirit of prophecy. Mengapa pula langit "perlu" memberitakan "nama" atau "karya" Tuhan dalam lirik nubuat Mazmur 19:2-3 dan Mazmur 50:4-6? Mengapa tidak diberitakan dengan bahasa biasa yang tidak melibatkan kata "langit"? Sebab kesaksian Yesus adalah Roh Nubuat. Oleh karena itu, kata nubuat "langit" dan "bumi" adalah abjad utama bahasa Roh Tuhan (Firman).

    Kita tidak perlu heran mengapa Kitab Kejadian harus dimulai dengan "aliran" bahasa roh yang berbunyi, "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi..." Kalimat tersebut dapat juga disampaikan dengan bahasa yang berbunyi: Pada mulanya Firman menciptakan (abjad roh) langit dan bumi. Rincian abjad roh "langit" diungkapkan oleh fenomena yang ada di langit. "Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya dan bintang-bintang akan berjatuhan" dalam Matius 24:29, sebagai contoh, adalah rincian bahasa "abjad roh" yang memberitakan "nama" Tuhan Kristus yang akan datang.

    Bila kita terbiasa "membaca" rincian "abjad Roh" yang diungkapkan oleh "langit" dan "bumi", maka akan lebih mudah bagi kita untuk membaca nubuat-nubuat para nabi dalam Alkitab. Hal itu akan memperdalam pengertian dan ilmu tafsir kita. Bahasa Roh Tuhan melibatkan "aliran" (flow) Roh; Roh Tuhan yang berkarya (atau mengutus "nama-Nya") senantiasa mengalir kepada abjad roh (alam roh), yaitu "langit" dan "bumi". "Langit dan bumi" adalah realitas alam roh.

    Sebelum realitas (visible realities) yang dapat dilihat oleh mata telanjang manusia diciptakan oleh Allah, Dia telah menciptakan keberadaan "alam roh" yang disebut "langit dan bumi" (invisible realities): Penciptaan alam sejagat (universe) didahului dengan penciptaan Invisible realities kemudian menyusul adalah penciptaan visible realities! Justeru, dalam bahasa nubuatan “heavens and earth” adalah merujuk kepada invisible realities (alam roh): kemuliaan Allah diberitakan oleh "sorga" (heavens), sedangkan "karya tangan-Nya" diberitakan oleh "cakrawala" (skies).


                                      

Bahasa roh "langit" dalam Amos 8:9, "Pada hari itu," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan membuat matahari terbenam di siang bolong dan membiarkan bumi menjadi gelap pada hari terang benderang," menerangkan bahasa "abjad roh" langit tentang Murka Tuhan. Pekerjaan penghakiman dan penghukuman oleh Allah diberitakan oleh "langit" (Mazmur 19:2-3).  Matahari tengah hari yang menjadi "gelap" memberi arti bahwa Roh Tuhan berkarya dalam menjatuhkan hukuman ke atas bumi! Dalam peristiwa "Hari Paskah", orang yang percaya dibebaskan dari perhambaan dosa karena "matahari yang menjadi gelap" itu telah ditumpahkan kepada kepala Anak Domba Allah di atas kayu salib; itulah sebabnya ada mahkota duri di atas kepalanya.

    Kelikatan atau celiknya mata rohani terhadap bahasa penglihatan roh akan memampukan kita melihat "langit" yang memberitakan "nama" atau "karya" Raja Kebenaran dengan memperlihatkan "bintang" Raja Kebenaran ("bintang" Betlehem). Demikian pula halnya dengan "nama" Hakim yang diberitakan oleh "langit" seperti dalam petikan Matius 24:29! "Langit" dan "bumi" serta rincian fenomena alamiahnya seperti puting beliung, halilintar, badai salju, hujan, angin kencang, malam, siang, musim, panas, dingin, laut, air besar, sungai, binatang, burung, air bah, pohon, gunung, pulau-pulau, dan lain-lain, jelas berfungsi sebagai abjad utama Roh tempat Spirit of prophecy itu mengalir!

    Dalam konteks berita nubuatan dalam Alkitab, semua fenomena alamiah yang ada di langit dan semua yang secara alamiah ada di bumi adalah "abjad Roh" nubuat! Nabi Yesaya bernubuat dalam Kitab Yesaya 46:10 bahwa Allah telah memberitakan "hal-hal yang kemudian dari awal"; memberitakan sejak zaman purbakala apa yang belum terlaksana. Pemberitaan "hal-hal yang kemudian" dari "awal" menurut firman dalam Yesaya 46:10 dapat diungkapkan tanpa masalah karena Roh Tuhan mempunyai abjad roh, yaitu "langit" dan "bumi"!

   Roh nubuat memang mengalir sedemikian rupa! Kita akan diajar satu per satu oleh Roh untuk memahami arti semua rincian yang ada di langit dan di bumi. Kitab Wahyu, misalnya, sukar dipahami jika kita tidak dianugerahi pengertian, hikmat, dan pengetahuan tentang hal dasar abjad Roh, yaitu "langit" dan "bumi". Abjad dan olahan bahasa "langit" dan "bumi" itu perlu dilihat dalam "penglihatan rohani" (visions) atau "mimpi" (dream dreams).

    "Langit" bukanlah sahaja memberitahu mesej roh perihal 'langit dari zaman "semasa", malah melalui lirik-lirik nubuat tentang 'langit' sejak dari zaman purbakala yang tertulis dalam Kitab Suci. Sebab itulah kita membaca Kitab Mazmur kerana ia mengandungi banyak firman yang disampaikan melalui lirik-lirik nyanyian dan firman itu dapat menyingkapkan karya roh Tuhan di masa lalu mahupun masa hadapan. Banyaklah 'pemberitaan langit' dalam lirik-lirik Tuhan yang disampaikan oleh para nabi. Melalui lirik Tuhan yang ada ungkapan perkataan 'langit,' kita mendapat "pemberitaan" perihal pekerjaan ataupun juga disebut sebagai karya Tuhan. Ungkapan mesej 'langit, Roh Tuhan memberitahu atau memberitakan karya-Nya. 

   Dan pekerjaan Tuhan yang diungkapkan oleh  lirik 'langit itu perlu maklumat seterusnya, atau perlu keperincian nubuatan-nubuatan yang seterusnya. Keperincian nubuatan akan menyatakan kejelasan (clarity) 'tanda-tanda' zaman melalui pemberitaan 'langit.' Keperincian itu diberikan oleh santo-santo, namun rincinya mestilah tidak terpesong dari Lukas 24:44, Injil, dan tidak bertentangan dengan Surat-surat para rasul.  Nubuatan semasa dari nabi-nabi berfungsi sebagai urat-urat dan daging-kulit kepada 'tulangnya: ' Injil, Wahyu dan nubuatan dari Kitab para-Nabi, Taurat dan Mazmur.  Jika sesuatu nubuatan 'semasa' terpesong dari Tulangnya, maka nubuatan itu diragui kebenarannya dan dipertikaikan sumbernya.

    "Langit" tidak hanya memberitahukan pesan rohani perihal "langit" pada zaman "sekarang", tetapi juga melalui lirik-lirik nubuat tentang "langit" sejak zaman purbakala yang tertulis dalam Kitab Suci. Sebab itulah kita membaca Kitab Mazmur, karena kitab tersebut mengandung banyak firman yang disampaikan melalui lirik nyanyian, dan firman itu dapat menyingkapkan karya Roh Tuhan pada masa lalu maupun masa depan.

    Ada banyak "pemberitaan langit" dalam lirik-lirik Mazmur yang disampaikan oleh para nabi. Melalui lirik yang memuat kata "langit", kita memperoleh "pemberitaan" perihal ‘pekerjaan’ atau ‘karya’ Allah. Melalui ungkapan pesan "langit", Roh Tuhan memberitahukan atau memberitakan karya-Nya.

    Pekerjaan Tuhan yang diungkapkan oleh lirik "langit" tersebut memerlukan informasi lebih lanjut atau rincian nubuat-nubuat selanjutnya. Rincian nubuat akan menyatakan kejelasan (clarity) "tanda-tanda" zaman melalui pemberitaan "langit". Rincian tersebut diberikan oleh orang-orang kudus, namun rinciannya tidak boleh menyimpang dari Lukas 24:44, Injil, serta tidak bertentangan dengan Surat-surat para rasul. Nubuat-nubuat saat ini dari para nabi berfungsi sebagai otot, daging, dan kulit bagi "tulangnya", yaitu Injil, Wahyu, serta nubuat dari Kitab para-Nabi, Hukum Taurat, dan Kitab Mazmur. Jika suatu nubuat "saat ini" menyimpang dari "tulangnya", kebenarannya patut diragukan dan sumbernya layak dipertanyakan.




Ungkapan 'heavens' dan 'skies'  

     Apakah kemuliaan dan juga apakah nama (karya) Tuhan yang diberitakan oleh bahasa roh, iaitu ungkapan 'langit,’ dalam Matius 24: 29-30? Heavens yang diartikan secara harfiah adalah merujuk kepada langit di atas kepala kita, dan dapat dilihat oleh mata kasar kita. Demikian juga 'langit' yang diartikan secara harfiah, iaitu tempat matahari, bulan dan bintang-bintang. Apakah perkataan 'heavens' dan 'skies' itu di dalam Firman Taurat, Firman Mazmur, Firman nubuatan nabi-nabi ataupun dalam Firman dalam Kitab Wahyu?

    Atau,  apakah perkataan-perkataan itu digunakan Tuhan dalam penyampaian nubuatan-berlirik ? Dimanakah ia digunakan?...itu akan menentukan samada pengungkapan secara langsung atau ungkapan secara tidak langsung! Kebanyakan ungkapan 'langit' atau 'cakrawala' dalam Taurat biasanya merujuk kepada pengertian harfiah (literal) kerana Tuhan memperlihatkan kuasa dan hadirat-Nya secara harfiah. Jabatan-jabatan meteorologi diwujudkan oleh semua kerajaan di bumi kerana kita melaksanakan pengurusan-tadbir perihal ramalan cuaca, dan juga kita membuat kajian empirik perihal entiti-entiti cuaca setempat, ataupun ramalan cuaca mengikut lokaliti suatu ruang geografi dan atmosfera. Agensi angkasa lepas seperti NASA (North American Space Agency) telah diwujudkan untuk menjadi peneraju kajian dan penerokaan fenomena angkasa lepas. Segala berkat dan keajaiban alam iaitu anugerah Langit dan cakrawala yang harfiah itu adalah penyokong keujudan daging kita di bumi, dan mereka juga berfungsi menjadi panduan kepada umat manusia untuk berkarya dalam semua aktiviti kehidupan di bumi: takwim ibadah agama, perikanan, pelayaran, pertanian, pertukangan kayu, peredaran haid wanita, dan lain-lain lagi.

    Namun, apa yang dimaksudkan oleh firman Kitab Mazmur perihal ‘langit’ dan ‘cakrawala’ adalah merujuk kepada ungkapan bahasa ‘roh' yang mendedahkan rahasia mesej Roh Tuhan. Manusialah yang tertakluk kepada langit dan cakrawala harfiah ciptaan tangan Tuhan.  Tuhan pula berada di atas sekali bagi segala-gala ciptaan-Nya; di atas langit, dan di atas cakrawala. Malah, ungkapan 'langit' dan 'cakrawala' turut menyampaikan mesej Roh Tuhan!  Ia adalah 'roh' kerana semua firman adalah ‘roh.’ 

    Dalam nubuatan kedatangan Hakim, apa-apa firman Tuhan mengenai "langit dan cakrawala" adalah merujuk kepada alam roh: justeru, fenomena alam yang berlaku di langit seperti es, hujan, kemarau, banjir, kabus, awan, api, api belerang, angin, dan puting beliung, sejuk, panas, dingin, musim, salju, malam dan siang, matahari, bulan, dan bintang-bintang adalah mengungkapkan mesej rohaniah dari Sang Hakim.   Semua 'fenomena alam' yang tersebut di atas mengungkapkan mesej  roh dari Hakim Kristus yang kembali ke bumi. Nubuat yang diungkapkan oleh langit dan cakrawala adalah bahasa roh yang menyingkapkan sesuatu mesej makrifat firman Tuhan. Justeru itu, apa saja fenomena yang berhubungkait dengan 'langit' dan 'cakrawala' menurut firman dalam Kitab Suci hanya dapat dimengertikan apabila Roh Tuhan sendiri menganugerahkan karunia-karunia Roh Tujuh Lapis kepada kita.

    Maka, pemberitaan 'langit' dan 'cakrawala' bagi Roh Tuhan adalah mesej 'roh,’ kerana semua firman adalah berasal dari Roh Tuhan. Roh Tuhan senantiasa mempunyai bilangan malaikat  yang tidak terkira ramai untuk ‘melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.’ (Mazmur 103: 20).  Justeru itu, firman Tuhan sememangnya 'roh.’ Apabila nabi-nabi bernyanyi dalam Kitab Mazmur seperti "8 Hai api dan hujan es, salju dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya;" (Mazmur 148: 8). Maka, kita tahu bahawa apa saja fenomena yang berkaitan langit dan cakrawala seperti angin, ribut kencang, awan gelap, halilintar, dll. adalah merujuk kepada perbuatan-perbuatan ‘malaikat-malaikat’ Tuhan yang taat setia melakukan 'keadilan.' Keadilan itu dinyatakan oleh firman Hakim, dan dilaksanakan oleh para penuai dengan mendengar 'suara' Firman (malaikat). (Mazmur 50: 1-6; Mazmur 103: 20).

    Jadi, jika Roh Tuhan berbicara tentang “matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut, dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah,” dalam Wahyu 6: 12, maka maksud Roh Tuhan bukanlah merujuk kepada matahari, dan bulan secara harfiah, melainkan seringkasnya, ia merujuk kepada pemberitaan atau pengumuman pekerjaan atau (nama) karya Roh Tuhan yang bermula dalam Meterai ke-6. Dalam meterai ke-6, kelima-limanya  meterai yang terdahulu juga ada  berlangsung. Mesej nubuat Wahyu 6: 12 adalah sama dengan mesej Yoel 2: 31, iaitu "bulan menjadi merah" yang merujuk khusus kepada "perempuan," iaitu Kaum Ibrani, manakala 'anak-anak' pula merujuk kepada bangsa-bangsa lain yang telah ditakdirkan 'percaya.' 'Perempuan' dan anak-anak telahpun melalui Penghakiman oleh Tuhan Roh Kudus sehingga sekarang sejak dari Hari Pentakosta. 

    Sebelum itu, ''perempuan" itu (Ibrani) telahpun dihakimi dan telahpun melalui Penghukuman oleh Yahweh. Kemudian, Yesus datang mengupacarakan  Altar Melkisedek di bumi, untuk  menawarkan kepada Ibrani suatu Perjanjian Perdamaian, supaya Israel menyempurnakan nubuat "isteriKu dalam kesetiaan," sebagaimana yang dinubuatkan oleh Nabi Hosea. Namun, mereka yang menolak 'perkahwinan' kali  kedua itu akan dihakimi oleh Roh Kudus, dan ia disingkapkan sebagai "bulan menjadi merah darah." Bulan yang tidak bercahaya atau "gelap" pula adalah merujuk khusus kepada 'perempuan' yang memasuki Hari Tuhan! "Bulan" mengungkapkan perihal the motherhood of the people of God. Permulaan post Pentecost adalah "bulan merah" dan sebelum Hari Tuhan juga adalah "bulan merah."  Karya atau "nama" Hakim diberitakan oleh bahasa Roh dengan pemberitaan penglihatan--penglihatan 'langit' dalam  Matius 24: 29. Pemberitaan seumpama itu adalah dikatakan 'pemberitaan' langit dan cakrawala (Mazmur 19: 2). Ia hanya dilihat melalui penglihatan-penglihatan Rohani!
   
    Domba Tuhan di atas kayu Salib adalah karya Raja Damai yang diutus Bapa. Namun, Wahyu 6: 12 adalah memberitakan Karya atau pekerjaan-Nya yang diumumkan sebagai Hakim: bukankah Kristus itu Matahari yang mengelilingi bumi? Kristus bagaikan Matahari (Wahyu 1: 16; Mazmur 19 5-7), namun oleh kerana “matahari menjadi hitam dan bulan menjadi merah,” maka ia mengungkapkan tentang agenda 'menghukum dan menghakimi bumi' dengan penuh keadilan. Matahari yang hitam itu berarti karya Tuhan sebagai Hakim, dan bukanlah agenda perdamaian oleh Raja Damai.



“29 segera sesudah Siksaan (‘Siksaan’ itu merujuk kepada meterai 1 hingga meterai 5 dalam Wahyu 6: 1-11)  pada masa itu, matahari akan menjadi gelapdan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
30 Pada waktu itu akan tampak tandaAnak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap, dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaaan dan kemuliaan-Nya. (Matius 24: 29-30)

    Kamu percayakah bahawa kata-kata dua Malaikat dalam Kisah 1: 11 yang menjelaskan secara ringkas bagaimana Yesus terangkat ke Sorga itu sebenarnya t menyingkapkan ‘rahasia-rahasia’ apabila Dia akan kembali-turun ke bumi kelak ?

6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
7 Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
8Tetapi kamu akan menerima kuasa,kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem  dan Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka.
10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berkaian putih dekat mereka,
11 dan berkata kepada mereka “hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu,akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah Para Rasul 1: 10-11)



Apakah yang dimaksudkan oleh kedua Malaikat berkain putih itu dengan kata-kata “Yesus…akan datang kembali dengan cara yang sama ?”


    Bagaimana ia terangkat ke sorga, maka demikianlah ia akan turun ke bumi.  Sewaktu Yesus terangkat, ‘awan menutup-Nya.’ Apakah awan itu? Apakah ia adalah betul-betul awan iaitu, awan-awan di langit harafiah itu ? Ataupun ‘awan-awan’ tersebut adalah merujuk kepada realiti alam-roh?

    Kita dengar nyanyian Raja Daud bahawa Daud amat dekat sekali hatinya dengan Tuhan YHVH.  Tuhan bergaul karib dengan Daud, dan demikian juga halnya dengan semua nabi-nabi Tuhan yang menulis lirik lagu-lagu dalam Kitab Mazmur. Banyaklah rahasia-rahasia yang diberitahukan oleh Tuhan kepada para nabi tercatat dalam lirik-lirik lagu dalam Kitab Mazmur.  ‘Awan-awan’ (Cherubim) itu senantiasa bersama dengan manifestatsi Roh Tuhan YHVH. Di Sorga, awan-awan itu berkepul-kepul seperti kepulan kapas-putih salju yang menceritakan kemuliaan Tuhan yang Mahasuci. Hakikatnya, awan-awan itu adalah manifestasi Ilahi yang menyatakan kemuliaan-Nya.  ‘Awan-awan’ itu adalah bersifat ‘roh.’ Ia bukanlah awan kebiasaan yang selalu kita lihat di langit sebenar di bumi ini.  ‘Awan-awan’ itu adalah roh yang ikut serta dengan Roh Tuhan: kerub. Oleh kerana ia bersama Tuhan, maka memang benarlah pemazmur bernyanyi seolah-olah Tuhan “…menjadikan awan-awan sebagai kenderaan-Nya…” (Mazmur 104:3).


Bagaimana mungkin ‘awan-awan’ itu dapat menyingkapkan maksud tentang kemuliaan nama-Nya.


    'Nama' itu dalam nubuatan adalah bermaksud ‘karya.’ Yakub yang hanya mempunyai misi normal dalam hidupnya telah diberikan suatu perutusan Nama Sorgawi yang baru , selepas ia mendapat pengajaran yang disingkapkan oleh pergelutannya melawan kehendak malaikat yang ingin dilepaskan. Yakub berdegil dengan rencananya untuk tidak melepaskan malaikat itu selagi malaikat itu belum memberikan 'berkat.' Di dalam nama Israel ada pertolongan dan kuasa Tuhan yang menyertainya. Kehendak YHVH ataupun karya Ilahi mula disingkapkan kepada Yakub dengan menganugerahkan perutusan 'nama' Israel yang memberitakan maksud rencana Tuhan atau misi Tuhan dalam kehidupan barunya, dan juga keturunan Yakub; demikianlah Sorga berkerja atau berkarya di bumi untuk menyatakan Jalan keselamatan kepada manusia yang mewarisi luka Adam: 'nama' dari Sorga disingkapkan! Pemazmur menyanyikan lirik roh “langit memberitakan pekerjaan (handiwork) Tuhan” (Mazmur 19: 2). 'Pekerjaan' (handiwork) Tuhan mengikut 'nama' atau sifat Roh Tuhan. Justeru itu, apakah 'nama' Kristus yang disingkapkan oleh Matius 24: 29-30?Pastinya kita mudah melihat maksudnya! "Langit" dalam Mat.24: 29 jelas memberitakan kemuliaan "nama," Hakim. Karya Tuhan dalam kedatangan Kristus yang kedua adalah kemuliaan nama-Nya sebagai Hakim yang Maha-adil.

    Pada waktu Yesus Kristus naik ke Sorga, Ia “… memerintah awan-awan dari atas, [supaya] membuka pintu-pintu langit,” (Mazmur 78: 23). Kemudian ‘awan-awan’ (Cherubims) itu menutup kembali bukaan pintu lapisan-lapisan Sorgawi. Namun, semua ini bukanlah awan sebenar yang biasa kita lihat. Ia adalah  manifestasi realiti-realiti alam ‘roh.’   Kedua Malaikat yang berjubah putih telah berkata dalam Kisah 1: 11 bahawa Kristus akan kembali  “…dengan cara yang sama.” Kenapa ? Kerana frasa itu mendedahkan rahasia ‘bukaan’ pintu 7-lapis-sorgawi  ketika urusan turun-naiknya Roh Tuhan di antara Sorga dan bumi.

    Maksudnya, Kristus akan terlebih dahulu menitahkan ‘awan-awan’ (kerub/Cherubims) yang bersama denganNya supaya membukakan pintu-pintu langit, dan baharulah kemudiannya, Kristus akan turun ke bumi. Maksudnya ialah firman yang diungkapkan oleh Mazmur itu adalah realiti alam roh. Harus kita ingat bahawa ‘bintang Bethlehem’ hanya dapat dilihat oleh tiga orang majus sahaja pada ketika kelahiran Yesus. Dan ketiga-tiga manusia itu adalah orang majus dari timur. Maksudnya, bintang Bethlehem itu sebenarnya adalah realiti roh; ia tidaklah dilihat oleh semua orang.  Nabi Balaam ben Beor sahaja yang bernubuat tentang ‘bintang’ House of Jacob itu, di zaman dahulu-kala, yang kemudiannya selepas lebih 1,400 tahun, maka, ia disahkan telah dilihat oleh Seers yang sejenisnya dengannya:  heathen seers.

Bagaimanakah ‘pintu-pintu langit’ itu dibuka dan kemudiannya ditutup kembali oleh ‘awan-awan’?

     Pemazmur bernyanyi “maka Ia memerintah awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit,” (Mazmur 78: 23). Pemazmur juga bernyanyi “8 Hai api dan hujan es, salju dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya;” (Mazmur 148: 8).  Maka, kita tahu bahawa ‘awan-awan’ (clouds) itu adalah bahasa ‘Roh’ yang menjelaskan bahawa ‘awan-awan’ itu senantiasa patuh-melaksanakan firman-Nya.

     Kristus bersabda bahawa ia adalah Manna dari Sorga, akan tetapi apakah dia benar-benar seperti roti yang turun di padang gurun di zaman Kitab Keluaran?  Jawapannya memang bukan! Tetapi, roh manusia menurut penciptaannya adalah bergantung kepada Roh Tuhan untuk mendapat kehidupan yang penuh.  Justeru itu, Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai ‘Manna dari Sorga’ kerana setiap firman yang keluar dari mulut ‘Pokok Kehidupan’ adalah diumpamakan, sebagai manna yang memberikan makanan kehidupan kepada ‘ranting.’  Maka, ‘awan-awan’ itu adalah tunduk kepada firman Tuhan.  ‘Awan-awan’ menjadi watak yang hidup dan melaksanakan Firman Tuhan! “…awan…, melakukan Firman-Nya” (Mazmur 148: 8). ‘Awan-awan’ itu adalah sebenarnya adalah hadirat mahluk malaikat-malaikat cherub! (Mazmur 18: 11); mereka turut serta dalam rombongan hadirat Tuhan.

                                                           
     Justeru itu, “dia datang di atas awan-awan di langit” membawa erti bahwa awan-awan itu sebenarnya suatu pernyataan hadirat Roh Tuhan di bumi untuk melaksanakan agenda 'menghakimi dan menghukum': Kristus bersama para penuai iaitu para malaikat. ‘Awan-awan’ itu adalah malaikat Cherubim bersama Roh Tuhan, dan sebahagian daripada pernyataan Roh Tuhan sendiri; malaikat kerub bersama Tuhan.  Ia mengungkapkan pelbagai mesej menurut bagaimana ‘awan-awan’ itu dinyatakan kepada hamba-hamba-Nya, nabi Tuhan.  Raja Daud bernyanyi bahawa ‘2 Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan Cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (karya atau nama);’ (Mazmur 19: 2).  Maka kita tahu bahawa ‘awan-awan’ itu adalah fenomena alam yang mengungkapkan pemberitaan sesuatu mesej roh yang bersifat profetik dan juga mendedahkan maklumat makrifat Sorgawi. Tetapi, dalam penulisan lirik-lirik lagu, ia seringkasnya ditulis "langit memberitakan pekerjaan ('nama') tangan Tuhan."

     Dalam Kitab Wahyu 6 ayat 14, Santo Yohanes mencatatkan penglihatannya, “…maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.” Sudah tentu Wahyu 6: 14 sedang berbicara perihal ‘mesej roh,’ dan bukanlah tentang langit sebenar dan bukan juga berbicara tentang bumi sebenar. Ayat 14 berbicara tentang turunnya Hadirat Kristus ke bumi untuk melaksanakan karya-Nya:   penghakiman dan penghukuman.  Frasa “…tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya” mengungkapkan bahasa tentang Murka dan keadilan Hakim.  Murka Hakim yang penuh keadilan itu juga diungkapkan sebagai nyanyian “Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh kerana menyala-nyala murka-Nya” (Mazmur 18: 8; Mazmur 50: 1-6).  Namun, jika ia dilihat sebagai manifestasi 'Theophany' seperti dalam Kitab Keluaran bab 19, maka 'tergeserlah gunung-gunung' adalah reaksi harfiah di bumi kerana hadirat ('Wajah') Kristus.

     Kisah Para Rasul 1: 11 menyingkapkan bahawa Kristus akan kembali  “…dengan cara yang sama “ dan ‘pendedahan-pengetahuan’ yang diberikan oleh kedua -dua Malaikat itu samalah maksudnya dengan ayat yang digambarkan oleh frasa ayat ke-14, Wahyu 6 : “menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung.” Frasa ini adalah frasa firman (roh) yang merujuk kepada mesej yang dimaksudkan oleh kedua malaikat yang berjubah putih dalam Kisah Para Rasul 1: 11. Justeru itu, Kristus dijangkakan akan turun pada ayat ke-14 dalam Wahyu 6. “Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya.  Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?” (Yoel 2: 11)

     Kita tahu langit sebenar tidak akan bergulung kerana warna biru langit itu adalah batasan kemampuan penglihatan mata kasar manusia! Bukanlah langit harfiah biru itu yang akan mengulung ataupun fenomena ‘outerspace winds.’  Namun, ‘awan-awanlah’ yang sebenarnya bergulung-gulung itu! Malaikat kerublah yang bersama Kristus yang digambarkan sebagai “awan-awan itu bergulung” kerana mereka sedang memberikan bukaan pintu-pintu langit. ‘Awan-awan’ itu adalah bahasa roh (firman Tuhan) kerana ia adalah ‘roh.’ Ia sama-sekali tidak merujuk kepada  awan-awan harafiah di bumi ini; It doesn’t refer to the natural clouds of the skies within earth's layers of atmospheres. Ia adalah ‘awan-awan’ yang bersama dengan Roh Tuhan, dan memangpun mereka adalah roh kerub. Dalam Mazmur 18, dinyanyikan perihal ‘awan-awan.’ “…Kekelaman ada di bawah kaki-Nya” (ayat 18).  ‘Ia mengendarai Kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin.’ (ayat 11). 

     Ketika Yesus diangkat ke-sorga, “awan-awan itu menutupi-Nya” sehingga Ia tidak kelihatan lagi.  "Awan-awan" itu sebenarnya adalah kerub-kerub Tuhan yang kelihatan seperti awan, dan hanya disaksikan oleh orang-orang percaya yang sumbu rohaninya telah disucikan oleh darah Yesus. Terangkatnya Yesus ke sorga dicatat oleh para rasul. Pengikut-pengikut "Jalan Tuhan" atau keturunan perempuan itu (the woman and her offspring) disebut memiliki kesaksian tentang Kristus. Pemerintah-pemerintah tidak memiliki kesaksian tersebut, sehingga mereka tidak membuat catatan apa pun tentang terangkat-Nya Yesus, bahkan mereka tidak percaya kepada nama-nama yang diutus oleh Allah Bapa. Nama Tuhan itu mengandung arti misi atau karya Allah.  Contoh nama Tuhan adalah seperti Domba Tuhan yang menghapus dosa-dosa dunia, dan juga nama-Nya sebagai Pembaptis api.

“…Kekelaman ada di bawah kaki-Nya” (Mazmur 18: 18)


    Nabi Yesaya bernubuat bahwa, "Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku..." (Yesaya 66:1). Jika Hakim Kristus turun ke bumi, Dia akan keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. "Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya" (Mazmur 19:7). Yesus Kristus, ketika berada di lereng Bukit Zaitun, bernubuat dengan maksud yang sama, "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pula kelak kedatangan Anak Manusia" (Matius 24:27). "Sebab sesungguhnya, TUHAN mau keluar dari tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya, dan bumi tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, tidak lagi menutupi orang-orang yang mati terbunuh di sana" (Yesaya 26:21).

    Bagaimanakah bumi itu dikatakan "tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya"? "...Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah tempat kemenyan dari emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu" (Wahyu 8:3). Tuhan akan menunaikan pembalasan dan keadilan atas semua darah yang tertumpah ke bumi, sebagaimana yang diungkapkan oleh "kemenyan bersama dengan doa semua orang kudus."

"Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Sebab hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?" (Yoel 2:11).

"Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit..." (Matius 24:30).

"...Kekelaman ada di bawah kaki-Nya" (Mazmur 18:10).

    Kekelaman itu disebabkan oleh "awan-awan" (kerub) yang menyatakan "gambaran penyataan" yang gelap. Awan "gelap" memberitakan pesan Murka Tuhan, sedangkan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Proses terjadinya murka Tuhan itu seperti perjalanan puting beliung sebagaimana disingkapkan oleh nubuat nabi Nahum dalam Nahum 1:3, yang telah diulas oleh penulis dalam tulisan seri pertama "KedatanganKristus... Bagian 1". Oleh karena itu, "tanda" Anak Manusia di langit adalah "kekelaman" murka Tuhan di seluruh dunia.

    Selama berabad-abad, banyak nabi dan orang kudus telah bernubuat tentang "tanda" Anak Manusia di langit itu, yaitu "tanda Salib". Hal itu menandakan kedatangan Kristus ke bumi dengan malapetaka-malapetaka murka menurut nubuat para nabi. Secara pribadi, saya tidak percaya bahwa tanda tersebut akan dapat dilihat oleh seluruh penduduk bumi. Sebagai perbandingan, Bintang Betlehem hanya disaksikan oleh orang-orang Majus dari Timur, sedangkan para gembala mendengar pemberitaan para malaikat yang mengatakan bahwa tanda dilahirkannya Anak Manusia itu singkatnya adalah "seorang bayi di kandang ternak". Tidak ada seorang pun di antara golongan Sanhedrin atau Imam Besar yang melihat tanda-tanda Anak Manusia, kecuali murid-murid-Nya. Bahkan, mereka tidak percaya sehingga Yesus sengaja memberikan "tanda nabi Yunus", yang justru makin memperparah kebutaan mata rohani mereka!

    Jika ada yang bersaksi pernah melihat "tanda Salib" di langit, maka hal itu pastinya terjadi di antara orang-orang percaya saja! Rasul Paulus menasihatkan bahwa nubuat diberikan sebagai "tanda" bagi orang-orang percaya. Oleh karena itu, nubuat tentang "Salib di langit" adalah "tanda" untuk orang percaya saja, bukan untuk orang yang tidak percaya! Nubuat tentang "tanda" Anak Manusia di langit itu dimaksudkan untuk orang percaya saja, supaya hal itu "membangun, menasihati, dan menghibur" (1 Korintus 14:3), serta agar mereka yang percaya pada "tanda-tanda yang diberikan" menjadi diberkati (blessed). Memberikan nubuat kepada orang yang tidak percaya diumpamakan seperti menaruh "cincin emas pada jungur babi": sia-sia belaka seperti menjaring angin!

    Bagaimanapun juga, "Salib" singkatnya membawa arti "Murka Tuhan". Pada zaman Kekaisaran Romawi, hukuman di atas kayu salib dipastikan memberikan siksaan yang membawa kematian. Kematian Yesus terjadi karena Dia meminum "Cawan Murka Allah Bapa" (the Cup of His Father's Wrath) yang ditumpahkan ke atas kepala-Nya sebagai kambing azazel, dan juga sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia". Dia yang telah ditentukan sebagai "Anak Domba Allah" yang "Setia dan Benar" telah meminum habis seluruh murka itu! Karena Dia menanggung semuanya itu, pulau-pulau pun (termasuk bangsa-bangsa di pulau Borneo) dapat bersukacita dan kaki-kaki gunung pun dapat memuji-muji perbuatan tangan kanan Bapa.

    Murka Allah Bapa atas semua dosa seharusnya dipertanggungjawabkan dan ditumpahkan ke atas kepala setiap manusia di bumi, tetapi Sang Juruselamat datang untuk menanggung segala penderitaan dan luka-luka kita, supaya kita dianugerahi Jalan, Pintu, dan Roh untuk mengenal Roh Allah Yang Mahakudus. Pemazmur memuliakan Tuhan dengan mempersembahkan syukur kepada-Nya sebagai korban: "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela" (Mazmur 68:20).

    Oleh karena itu, "tanda" Anak Manusia itu adalah "Murka Tuhan" yang ditumpahkan ke seluruh dunia! Maksudnya, kedatangan Kristus ke bumi adalah untuk melaksanakan karya penghukuman dan penghakiman; "Salib" adalah lambang penghakiman dan penghukuman. Jikalau kita tidak dapat melihat "tanda Salib" itu, tanda tersebut masih dapat dipahami melalui pemberitaan nabi-nabi Tuhan yang memproklamasikan "nubuat-nubuat penghukuman" yang menyeluruh di seluruh dunia.

    Nubuat tentang Perang Dunia Ketiga (WW3) adalah salah satu "tanda" yang menjelaskan proses terjadinya "Murka Tuhan" yang akan ditumpahkan ke seluruh bumi. "Salib Yesus" adalah perlambangan "murka Allah Bapa" yang ditumpahkan ke atas kepala "Anak Domba Allah". Murka yang seharusnya ditumpahkan kepada semua orang dari segala zaman tersebut telah ditumpahkan ke atas kepala Yesus di atas kayu salib. Pada Hari Tuhan, pembalasan oleh murka Tuhan akan menimpa semua orang. Jadi, "tanda" Anak Manusia memiliki arti bahwa Murka Tuhan akan benar-benar ditumpahkan ke atas kepala setiap manusia ketika dimulainya pemberitaan langit sebelum Hari Tuhan: "Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya dan bintang-bintang akan berjatuhan."

    "Kekelaman ada di bawah telapak kaki Yesus" dipahami sebagai penglihatan "Salib" oleh sebagian orang percaya, khususnya dari kalangan komunitas Katolik. Tentu saja "penglihatan-penglihatan" rohani tersebut bukanlah merujuk kepada chemtrails pesawat terbang! Bagi mereka yang tidak pernah melihat penglihatan "Salib", kekelaman "awan gelap" pada telapak kaki Yesus dapat ditanggapi sebagai "murka Tuhan" dalam bentuk Perang Dunia Ketiga (WWIII). Telapak kaki yang gelap kelam itu adalah "murka Tuhan" yang dicurahkan sebagai manifestasi "peperangan" di muka bumi. Peperangan ini akan mendahului "Hari Tuhan", yaitu hari kedatangan Kristus yang kedua kali (WW3 precedes the 2nd Coming of Christ). Ketika Dia datang kembali, "awan-awan" tersebut akan memunculkan fenomena rohani yang terlihat melalui penglihatan roh::‘bergulung seperti gulungan kitab’  




Rujukan

Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org, Yayasan Lembaga Sabda, www.sabda.org/alkitab/. Diakses pada 10 Disember 2015




To be continued……………to Part 3  (Rujuk Part 1)