Pemberitaan ‘Langit’ dan ‘Cakrawala’
8 Dahsyat Engkau! Siapakah
yang tahan berdiri di hadapan-Mu pada saat Engkau murka? 9 dari langit Engkau
memperdengarkan keputusanMu; bumi takut dan tertegun, (Alkitab Terjemahan Baru, Mazmur 76: 8-9)
2 Sorga (heavens) menceritakan
kemuliaan Allah, dan 'langit' memberitakan pekerjaan (a) tangan-Nya [(a) juga diungkapkan dengan kata nubuat 'karya' atau nama]; (Mazmur 19: 1-2)
4 Ia berseru kepada langit di atas, dan kepada bumi untuk
mengadili umat-Nya: 5 "Bawalah
kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku
berdasarkan korban sembelihan!" 6 Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab
Allah sendirilah Hakim (Mazmur 50: 4, 5, 6)
 |
| Langit harfiah hanyalah memberitakan perihal cuaca samada cuaca dalam ruang lintup atmosfera bumi ataupun di luar atmosfera bumi. Biru itu adalah batasan kemampuan penglihatan mata kasar. |
Kata "langit" (penglihatan
"roh") dipakai sebagai ungkapan profetis dari Roh Tuhan. Tuhan Yesus
bersabda, "Perkataan-perkataan-Ku adalah roh" (Yohanes 6:63).
Mengapakah keputusan penghakiman (judgment) Tuhan
diperdengarkan dari "langit"? Raja Daud bernyanyi bahwa keputusan
penghakiman itu berasal dari sorga, yaitu dari Allah Bapa. "Langit"
itu juga merujuk kepada pemberitaan "nama" Tuhan yang diberitakan
oleh abjad-roh "langit". "Langit" itu berbicara seolah-olah
ia adalah pribadi yang hidup. Memang benar ia hidup karena firman itu adalah
roh. Pada hakikatnya, "langit" dan "bumi" adalah seperti
"abjad Roh" Firman. Ketika Roh Tuhan mulai berkarya, bahasa roh Firman
akan mengalir ke "langit" dan "bumi".
Cara roh nubuat ini mengalir disebut dalam bahasa
Inggris: the flow of the Spirit of prophecy. Mengapa pula langit
"perlu" memberitakan "nama" atau "karya" Tuhan
dalam lirik nubuat Mazmur 19:2-3 dan Mazmur 50:4-6? Mengapa tidak diberitakan
dengan bahasa biasa yang tidak melibatkan kata "langit"? Sebab
kesaksian Yesus adalah Roh Nubuat. Oleh karena itu, kata nubuat
"langit" dan "bumi" adalah abjad utama bahasa Roh Tuhan
(Firman).
Kita tidak perlu heran mengapa Kitab Kejadian harus
dimulai dengan "aliran" bahasa roh yang berbunyi, "Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi..." Kalimat tersebut dapat juga
disampaikan dengan bahasa yang berbunyi: Pada mulanya Firman menciptakan (abjad
roh) langit dan bumi. Rincian abjad roh "langit" diungkapkan oleh
fenomena yang ada di langit. "Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak
memancarkan cahayanya dan bintang-bintang akan berjatuhan" dalam Matius
24:29, sebagai contoh, adalah rincian bahasa "abjad roh" yang
memberitakan "nama" Tuhan Kristus yang akan datang.
Bila kita terbiasa "membaca" rincian
"abjad Roh" yang diungkapkan oleh "langit" dan
"bumi", maka akan lebih mudah bagi kita untuk membaca nubuat-nubuat
para nabi dalam Alkitab. Hal itu akan memperdalam pengertian dan ilmu tafsir
kita. Bahasa Roh Tuhan melibatkan "aliran" (flow) Roh; Roh
Tuhan yang berkarya (atau mengutus "nama-Nya") senantiasa mengalir
kepada abjad roh (alam roh), yaitu "langit" dan "bumi".
"Langit dan bumi" adalah realitas alam roh.
Sebelum realitas (visible realities)
yang dapat dilihat oleh mata telanjang manusia diciptakan oleh Allah, Dia telah
menciptakan keberadaan "alam roh" yang disebut "langit dan
bumi" (invisible realities): Penciptaan alam sejagat (universe) didahului dengan penciptaan Invisible realities kemudian menyusul adalah penciptaan
visible realities! Justeru, dalam bahasa nubuatan “heavens and earth”
adalah merujuk kepada invisible realities (alam roh): kemuliaan Allah
diberitakan oleh "sorga" (heavens), sedangkan "karya
tangan-Nya" diberitakan oleh "cakrawala" (skies).
 |
Bahasa
roh "langit" dalam Amos 8:9, "Pada hari itu,"
demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan membuat matahari terbenam di
siang bolong dan membiarkan bumi menjadi gelap pada hari terang
benderang," menerangkan bahasa "abjad roh" langit tentang Murka
Tuhan. Pekerjaan penghakiman dan penghukuman oleh Allah diberitakan oleh "langit" (Mazmur
19:2-3). Matahari tengah hari yang
menjadi "gelap" memberi arti bahwa Roh Tuhan berkarya dalam
menjatuhkan hukuman ke atas bumi! Dalam peristiwa "Hari Paskah",
orang yang percaya dibebaskan dari perhambaan dosa karena "matahari yang
menjadi gelap" itu telah ditumpahkan kepada kepala Anak Domba Allah di atas kayu
salib; itulah sebabnya ada mahkota duri di atas kepalanya. |
Kelikatan atau celiknya mata rohani terhadap bahasa
penglihatan roh akan memampukan kita melihat "langit" yang
memberitakan "nama" atau "karya" Raja Kebenaran dengan
memperlihatkan "bintang" Raja Kebenaran ("bintang" Betlehem).
Demikian pula halnya dengan "nama" Hakim yang diberitakan oleh
"langit" seperti dalam petikan Matius 24:29!
"Langit" dan "bumi" serta rincian fenomena alamiahnya
seperti puting beliung, halilintar, badai salju, hujan, angin kencang, malam,
siang, musim, panas, dingin, laut, air besar, sungai, binatang, burung, air
bah, pohon, gunung, pulau-pulau, dan lain-lain, jelas berfungsi sebagai abjad
utama Roh tempat Spirit of prophecy itu mengalir!
Dalam konteks berita nubuatan dalam Alkitab, semua
fenomena alamiah yang ada di langit dan semua yang secara alamiah ada di bumi
adalah "abjad Roh" nubuat! Nabi Yesaya bernubuat dalam Kitab Yesaya
46:10 bahwa Allah telah memberitakan "hal-hal yang kemudian dari
awal"; memberitakan sejak zaman purbakala apa yang belum terlaksana.
Pemberitaan "hal-hal yang kemudian" dari "awal" menurut
firman dalam Yesaya 46:10 dapat diungkapkan tanpa masalah karena Roh Tuhan
mempunyai abjad roh, yaitu "langit" dan "bumi"!
Roh nubuat memang mengalir sedemikian rupa! Kita akan
diajar satu per satu oleh Roh untuk memahami arti semua rincian yang ada di
langit dan di bumi. Kitab Wahyu, misalnya, sukar dipahami jika kita tidak
dianugerahi pengertian, hikmat, dan pengetahuan tentang hal dasar abjad Roh,
yaitu "langit" dan "bumi". Abjad dan olahan bahasa
"langit" dan "bumi" itu perlu dilihat dalam
"penglihatan rohani" (visions) atau "mimpi" (dream
dreams).
"Langit" bukanlah sahaja memberitahu mesej roh perihal 'langit
dari zaman "semasa", malah melalui lirik-lirik nubuat tentang
'langit' sejak dari zaman purbakala yang tertulis dalam Kitab Suci. Sebab
itulah kita membaca Kitab Mazmur kerana ia mengandungi banyak firman yang
disampaikan melalui lirik-lirik nyanyian dan firman itu dapat menyingkapkan
karya roh Tuhan di masa lalu mahupun masa hadapan. Banyaklah 'pemberitaan
langit' dalam lirik-lirik Tuhan yang disampaikan oleh para nabi. Melalui lirik
Tuhan yang ada ungkapan perkataan 'langit,' kita mendapat
"pemberitaan" perihal pekerjaan ataupun juga disebut sebagai karya
Tuhan. Ungkapan mesej 'langit, Roh Tuhan memberitahu atau memberitakan
karya-Nya.
Dan pekerjaan Tuhan yang diungkapkan oleh lirik 'langit itu perlu
maklumat seterusnya, atau perlu keperincian nubuatan-nubuatan yang seterusnya.
Keperincian nubuatan akan menyatakan kejelasan (clarity) 'tanda-tanda'
zaman melalui pemberitaan 'langit.' Keperincian itu diberikan oleh santo-santo,
namun rincinya mestilah tidak terpesong dari Lukas 24:44, Injil, dan tidak
bertentangan dengan Surat-surat para rasul. Nubuatan semasa dari
nabi-nabi berfungsi sebagai urat-urat dan daging-kulit kepada 'tulangnya: '
Injil, Wahyu dan nubuatan dari Kitab para-Nabi, Taurat dan Mazmur. Jika
sesuatu nubuatan 'semasa' terpesong dari Tulangnya, maka nubuatan itu diragui
kebenarannya dan dipertikaikan sumbernya.
"Langit" tidak hanya memberitahukan pesan
rohani perihal "langit" pada zaman "sekarang", tetapi juga
melalui lirik-lirik nubuat tentang "langit" sejak zaman purbakala
yang tertulis dalam Kitab Suci. Sebab itulah kita membaca Kitab Mazmur, karena
kitab tersebut mengandung banyak firman yang disampaikan melalui lirik
nyanyian, dan firman itu dapat menyingkapkan karya Roh Tuhan pada masa lalu
maupun masa depan.
Ada banyak "pemberitaan langit" dalam
lirik-lirik Mazmur yang disampaikan oleh para nabi. Melalui lirik yang memuat
kata "langit", kita memperoleh "pemberitaan" perihal ‘pekerjaan’
atau ‘karya’ Allah. Melalui ungkapan pesan "langit", Roh Tuhan
memberitahukan atau memberitakan karya-Nya.
Pekerjaan Tuhan yang diungkapkan oleh lirik
"langit" tersebut memerlukan informasi lebih lanjut atau rincian
nubuat-nubuat selanjutnya. Rincian nubuat akan menyatakan kejelasan (clarity)
"tanda-tanda" zaman melalui pemberitaan "langit". Rincian
tersebut diberikan oleh orang-orang kudus, namun rinciannya tidak boleh
menyimpang dari Lukas 24:44, Injil, serta tidak bertentangan dengan Surat-surat
para rasul. Nubuat-nubuat saat ini dari para nabi berfungsi sebagai otot,
daging, dan kulit bagi "tulangnya", yaitu Injil, Wahyu, serta nubuat
dari Kitab para-Nabi, Hukum Taurat, dan Kitab Mazmur. Jika suatu nubuat
"saat ini" menyimpang dari "tulangnya", kebenarannya patut
diragukan dan sumbernya layak dipertanyakan.
Ungkapan 'heavens' dan 'skies'
Apakah kemuliaan dan juga apakah nama
(karya) Tuhan yang diberitakan oleh bahasa roh, iaitu ungkapan 'langit,’ dalam Matius 24: 29-30? Heavens yang diartikan secara harfiah adalah
merujuk kepada langit di atas kepala kita, dan dapat dilihat oleh mata kasar
kita. Demikian juga 'langit' yang diartikan secara harfiah, iaitu tempat
matahari, bulan dan bintang-bintang. Apakah perkataan 'heavens' dan 'skies' itu di dalam Firman Taurat, Firman Mazmur, Firman nubuatan nabi-nabi ataupun dalam Firman dalam Kitab Wahyu?
Atau, apakah perkataan-perkataan itu digunakan Tuhan dalam penyampaian nubuatan-berlirik ? Dimanakah ia digunakan?...itu akan menentukan samada pengungkapan secara langsung atau ungkapan secara tidak langsung! Kebanyakan ungkapan 'langit' atau 'cakrawala' dalam Taurat biasanya merujuk kepada pengertian harfiah (literal) kerana Tuhan memperlihatkan kuasa dan hadirat-Nya secara harfiah. Jabatan-jabatan meteorologi diwujudkan oleh semua
kerajaan di bumi kerana kita melaksanakan pengurusan-tadbir perihal ramalan cuaca, dan juga kita membuat kajian
empirik perihal entiti-entiti cuaca setempat, ataupun ramalan cuaca mengikut lokaliti suatu ruang geografi dan atmosfera. Agensi angkasa lepas seperti NASA (North American Space
Agency) telah diwujudkan untuk menjadi peneraju kajian dan penerokaan fenomena
angkasa lepas. Segala berkat dan keajaiban alam iaitu anugerah Langit dan
cakrawala yang harfiah itu adalah penyokong keujudan daging kita di bumi, dan mereka juga berfungsi menjadi panduan kepada umat manusia untuk berkarya
dalam semua aktiviti kehidupan di bumi: takwim ibadah agama, perikanan, pelayaran, pertanian, pertukangan kayu, peredaran haid wanita, dan lain-lain lagi.
Namun, apa yang dimaksudkan oleh firman
Kitab Mazmur perihal ‘langit’ dan ‘cakrawala’ adalah merujuk kepada ungkapan bahasa ‘roh' yang mendedahkan rahasia mesej Roh
Tuhan. Manusialah yang tertakluk kepada langit dan cakrawala harfiah ciptaan tangan Tuhan. Tuhan pula berada di atas sekali bagi segala-gala ciptaan-Nya; di atas langit, dan di atas cakrawala. Malah, ungkapan 'langit' dan 'cakrawala' turut menyampaikan mesej Roh Tuhan! Ia adalah 'roh' kerana semua
firman adalah ‘roh.’
Dalam nubuatan kedatangan Hakim, apa-apa firman Tuhan mengenai "langit dan cakrawala" adalah merujuk kepada alam roh:
justeru, fenomena alam yang berlaku di langit seperti es, hujan, kemarau, banjir, kabus, awan, api, api
belerang, angin, dan puting beliung, sejuk, panas, dingin, musim, salju,
malam dan siang, matahari, bulan, dan bintang-bintang adalah mengungkapkan mesej rohaniah dari Sang Hakim. Semua 'fenomena alam' yang tersebut di atas mengungkapkan mesej roh dari Hakim Kristus yang kembali ke bumi. Nubuat yang diungkapkan oleh langit dan cakrawala adalah bahasa roh yang menyingkapkan sesuatu
mesej makrifat firman Tuhan. Justeru itu, apa saja fenomena yang berhubungkait dengan 'langit' dan 'cakrawala' menurut firman dalam Kitab Suci hanya dapat dimengertikan apabila Roh Tuhan sendiri menganugerahkan karunia-karunia Roh Tujuh Lapis kepada kita.
Maka, pemberitaan 'langit' dan 'cakrawala' bagi Roh
Tuhan adalah mesej 'roh,’ kerana semua firman adalah berasal dari Roh Tuhan. Roh Tuhan
senantiasa mempunyai bilangan malaikat
yang tidak terkira ramai untuk ‘melaksanakan firman-Nya dengan
mendengarkan suara firman-Nya.’ (Mazmur 103: 20). Justeru itu, firman Tuhan sememangnya 'roh.’
Apabila nabi-nabi bernyanyi dalam Kitab Mazmur seperti "8 Hai api dan hujan es, salju dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya;" (Mazmur 148:
8). Maka, kita tahu bahawa apa saja fenomena yang berkaitan langit dan cakrawala seperti angin, ribut kencang, awan gelap, halilintar, dll. adalah merujuk kepada perbuatan-perbuatan ‘malaikat-malaikat’ Tuhan yang taat setia melakukan 'keadilan.' Keadilan itu dinyatakan oleh firman Hakim, dan dilaksanakan oleh para penuai dengan mendengar 'suara' Firman (malaikat). (Mazmur 50: 1-6; Mazmur 103: 20).
Jadi, jika Roh Tuhan berbicara tentang “matahari
menjadi hitam bagaikan karung rambut, dan bulan menjadi merah seluruhnya
bagaikan darah,” dalam Wahyu 6: 12, maka maksud Roh Tuhan bukanlah merujuk
kepada matahari, dan bulan secara harfiah, melainkan seringkasnya, ia merujuk
kepada pemberitaan atau pengumuman pekerjaan atau (nama) karya Roh Tuhan yang bermula
dalam Meterai ke-6. Dalam meterai ke-6, kelima-limanya meterai yang terdahulu juga ada berlangsung. Mesej nubuat Wahyu 6: 12 adalah sama dengan mesej Yoel 2: 31, iaitu "bulan menjadi merah" yang merujuk khusus kepada "perempuan," iaitu Kaum Ibrani, manakala 'anak-anak' pula merujuk kepada bangsa-bangsa lain yang telah ditakdirkan 'percaya.' 'Perempuan' dan anak-anak telahpun melalui Penghakiman oleh Tuhan Roh Kudus sehingga sekarang sejak dari Hari Pentakosta.
Sebelum itu, ''perempuan" itu (Ibrani) telahpun dihakimi dan telahpun melalui Penghukuman oleh Yahweh. Kemudian, Yesus datang mengupacarakan Altar Melkisedek di bumi, untuk menawarkan kepada Ibrani suatu Perjanjian Perdamaian, supaya Israel menyempurnakan nubuat "isteriKu dalam kesetiaan," sebagaimana yang dinubuatkan oleh Nabi Hosea. Namun, mereka yang menolak 'perkahwinan' kali kedua itu akan dihakimi oleh Roh Kudus, dan ia disingkapkan sebagai "bulan menjadi merah darah." Bulan yang tidak bercahaya atau "gelap" pula adalah merujuk khusus kepada 'perempuan' yang memasuki Hari Tuhan! "Bulan" mengungkapkan perihal the motherhood of the people of God. Permulaan post Pentecost adalah "bulan merah" dan sebelum Hari Tuhan juga adalah "bulan merah." Karya atau "nama" Hakim diberitakan oleh bahasa Roh dengan pemberitaan penglihatan--penglihatan 'langit' dalam Matius 24: 29. Pemberitaan seumpama itu adalah dikatakan 'pemberitaan' langit dan cakrawala (Mazmur 19: 2). Ia hanya dilihat melalui penglihatan-penglihatan Rohani!
Domba Tuhan di atas kayu Salib adalah karya Raja Damai yang diutus Bapa. Namun, Wahyu 6: 12 adalah memberitakan Karya atau pekerjaan-Nya
yang diumumkan sebagai Hakim: bukankah Kristus itu Matahari yang mengelilingi bumi? Kristus bagaikan
Matahari (Wahyu 1: 16; Mazmur 19 5-7), namun oleh kerana “matahari menjadi hitam dan bulan menjadi merah,” maka ia mengungkapkan tentang agenda 'menghukum dan
menghakimi bumi' dengan penuh keadilan. Matahari yang hitam itu berarti karya
Tuhan sebagai Hakim, dan bukanlah agenda perdamaian oleh Raja Damai.
“29 segera sesudah Siksaan (‘Siksaan’
itu merujuk kepada meterai 1 hingga meterai 5 dalam Wahyu 6: 1-11) pada masa itu, matahari akan menjadi gelapdan
bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan
kuasa-kuasa langit akan goncang.
30 Pada waktu itu akan tampak
tandaAnak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap, dan mereka
akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala
kekuasaaan dan kemuliaan-Nya. (Matius 24: 29-30)
Kamu percayakah bahawa kata-kata dua Malaikat dalam Kisah 1: 11 yang menjelaskan secara ringkas bagaimana Yesus
terangkat ke Sorga itu sebenarnya t menyingkapkan ‘rahasia-rahasia’ apabila Dia akan
kembali-turun ke bumi kelak ?
6 Maka bertanyalah mereka
yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan
bagi Israel?”
7 Jawab-Nya: “Engkau tidak
perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
8Tetapi kamu akan menerima
kuasa,kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di
Yerusalem dan Yudea dan Samaria dan
sampai ke ujung bumi.”
9 Sesudah Ia mengatakan
demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari
pandangan mereka.
10 Ketika mereka sedang
menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang
berkaian putih dekat mereka,
11 dan berkata kepada mereka “hai
orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang
terangkat ke sorga meninggalkan kamu,akan
datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
(Kisah Para Rasul 1: 10-11)
Apakah yang dimaksudkan oleh kedua Malaikat berkain
putih itu dengan kata-kata “Yesus…akan datang kembali
dengan cara yang sama ?”
Bagaimana ia terangkat ke sorga, maka
demikianlah ia akan turun ke bumi.
Sewaktu Yesus terangkat, ‘awan menutup-Nya.’ Apakah awan itu? Apakah ia
adalah betul-betul awan iaitu, awan-awan di langit harafiah itu ? Ataupun ‘awan-awan’
tersebut adalah merujuk kepada realiti alam-roh?
Kita dengar nyanyian Raja Daud bahawa
Daud amat dekat sekali hatinya dengan Tuhan YHVH. Tuhan bergaul karib dengan Daud, dan demikian
juga halnya dengan semua nabi-nabi Tuhan yang menulis lirik lagu-lagu dalam
Kitab Mazmur. Banyaklah rahasia-rahasia yang diberitahukan oleh Tuhan kepada
para nabi tercatat dalam lirik-lirik lagu dalam Kitab Mazmur. ‘Awan-awan’ (Cherubim) itu senantiasa bersama
dengan manifestatsi Roh Tuhan YHVH. Di Sorga, awan-awan itu berkepul-kepul
seperti kepulan kapas-putih salju yang menceritakan kemuliaan Tuhan yang
Mahasuci. Hakikatnya, awan-awan itu adalah manifestasi Ilahi yang menyatakan
kemuliaan-Nya. ‘Awan-awan’ itu adalah
bersifat ‘roh.’ Ia bukanlah awan kebiasaan yang selalu kita lihat di langit
sebenar di bumi ini. ‘Awan-awan’ itu
adalah roh yang ikut serta dengan Roh Tuhan: kerub. Oleh kerana ia bersama Tuhan, maka
memang benarlah pemazmur bernyanyi seolah-olah Tuhan “…menjadikan
awan-awan sebagai kenderaan-Nya…” (Mazmur 104:3).
Bagaimana mungkin ‘awan-awan’ itu dapat menyingkapkan
maksud tentang kemuliaan nama-Nya.
'Nama' itu dalam nubuatan adalah bermaksud
‘karya.’ Yakub yang hanya mempunyai misi normal dalam hidupnya telah diberikan suatu perutusan Nama Sorgawi yang baru , selepas ia mendapat pengajaran yang disingkapkan oleh pergelutannya melawan kehendak malaikat yang ingin dilepaskan. Yakub berdegil dengan rencananya untuk tidak melepaskan malaikat itu selagi malaikat itu belum memberikan 'berkat.' Di dalam nama Israel ada pertolongan dan kuasa Tuhan yang menyertainya. Kehendak YHVH ataupun karya Ilahi mula disingkapkan kepada Yakub dengan menganugerahkan perutusan 'nama' Israel yang memberitakan maksud rencana Tuhan atau misi Tuhan dalam kehidupan barunya, dan juga keturunan Yakub; demikianlah Sorga berkerja atau berkarya di bumi untuk menyatakan Jalan keselamatan kepada manusia yang mewarisi luka Adam: 'nama' dari Sorga disingkapkan! Pemazmur menyanyikan lirik roh “langit
memberitakan pekerjaan (handiwork) Tuhan” (Mazmur 19: 2). 'Pekerjaan' (handiwork) Tuhan mengikut 'nama' atau sifat Roh Tuhan. Justeru itu, apakah 'nama' Kristus yang disingkapkan oleh Matius 24: 29-30?Pastinya kita mudah melihat maksudnya! "Langit" dalam Mat.24: 29 jelas memberitakan kemuliaan "nama," Hakim. Karya Tuhan dalam kedatangan Kristus yang
kedua adalah kemuliaan nama-Nya sebagai Hakim yang Maha-adil.
Pada waktu Yesus Kristus naik ke Sorga,
Ia “… memerintah awan-awan dari atas, [supaya] membuka
pintu-pintu langit,” (Mazmur 78: 23). Kemudian ‘awan-awan’
(Cherubims) itu menutup kembali bukaan pintu lapisan-lapisan Sorgawi. Namun, semua ini
bukanlah awan sebenar yang biasa kita lihat. Ia adalah manifestasi realiti-realiti alam ‘roh.’ Kedua Malaikat yang berjubah putih telah berkata dalam Kisah 1: 11 bahawa Kristus akan kembali
“…dengan cara yang sama.” Kenapa ? Kerana frasa itu mendedahkan rahasia ‘bukaan’ pintu 7-lapis-sorgawi ketika
urusan turun-naiknya Roh Tuhan di antara Sorga dan bumi.
Maksudnya, Kristus akan terlebih dahulu
menitahkan ‘awan-awan’ (kerub/Cherubims) yang bersama denganNya supaya membukakan
pintu-pintu langit, dan baharulah kemudiannya, Kristus akan turun ke bumi.
Maksudnya ialah firman yang diungkapkan oleh Mazmur itu adalah realiti alam roh.
Harus kita ingat bahawa ‘bintang Bethlehem’ hanya dapat dilihat oleh tiga orang majus sahaja pada ketika kelahiran Yesus. Dan
ketiga-tiga manusia itu adalah orang majus dari timur. Maksudnya, bintang
Bethlehem itu sebenarnya adalah realiti roh; ia tidaklah dilihat oleh semua
orang. Nabi Balaam ben Beor sahaja yang
bernubuat tentang ‘bintang’ House of Jacob itu, di zaman dahulu-kala, yang
kemudiannya selepas lebih 1,400 tahun, maka, ia disahkan telah dilihat oleh
Seers yang sejenisnya dengannya: heathen
seers.
Bagaimanakah ‘pintu-pintu langit’ itu dibuka dan kemudiannya ditutup kembali oleh
‘awan-awan’?
Pemazmur bernyanyi “maka Ia memerintah awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu
langit,”
(Mazmur 78: 23). Pemazmur juga bernyanyi “8 Hai api dan
hujan es, salju dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya;” (Mazmur 148:
8). Maka, kita tahu bahawa ‘awan-awan’
(clouds) itu adalah bahasa ‘Roh’ yang menjelaskan bahawa ‘awan-awan’ itu
senantiasa patuh-melaksanakan firman-Nya.
Kristus bersabda bahawa ia adalah Manna
dari Sorga, akan tetapi apakah dia benar-benar seperti roti yang turun di
padang gurun di zaman Kitab Keluaran?
Jawapannya memang bukan! Tetapi, roh manusia menurut penciptaannya
adalah bergantung kepada Roh Tuhan untuk mendapat kehidupan yang penuh. Justeru itu, Yesus mengumpamakan diri-Nya
sebagai ‘Manna dari Sorga’ kerana setiap firman
yang keluar dari mulut ‘Pokok Kehidupan’ adalah diumpamakan,
sebagai manna yang memberikan makanan kehidupan kepada ‘ranting.’ Maka, ‘awan-awan’ itu adalah tunduk kepada
firman Tuhan. ‘Awan-awan’ menjadi watak
yang hidup dan melaksanakan Firman Tuhan! “…awan…,
melakukan Firman-Nya” (Mazmur 148: 8). ‘Awan-awan’ itu adalah sebenarnya
adalah hadirat mahluk malaikat-malaikat cherub! (Mazmur 18: 11);
mereka turut serta dalam rombongan hadirat Tuhan.
Justeru itu, “dia
datang di atas awan-awan di langit” membawa erti bahwa awan-awan itu
sebenarnya suatu pernyataan hadirat Roh Tuhan di bumi untuk melaksanakan agenda 'menghakimi dan
menghukum': Kristus bersama para penuai iaitu para malaikat. ‘Awan-awan’ itu
adalah malaikat Cherubim bersama Roh Tuhan, dan sebahagian daripada pernyataan
Roh Tuhan sendiri; malaikat kerub bersama Tuhan. Ia mengungkapkan pelbagai mesej menurut
bagaimana ‘awan-awan’ itu dinyatakan kepada hamba-hamba-Nya, nabi Tuhan. Raja Daud bernyanyi bahawa ‘2
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan Cakrawala memberitakan pekerjaan
tangan-Nya (karya atau nama);’ (Mazmur 19: 2).
Maka kita tahu bahawa ‘awan-awan’ itu adalah fenomena alam yang
mengungkapkan pemberitaan sesuatu mesej roh yang bersifat profetik dan juga mendedahkan maklumat makrifat Sorgawi. Tetapi, dalam penulisan lirik-lirik lagu, ia seringkasnya ditulis "langit memberitakan pekerjaan ('nama') tangan Tuhan."
Dalam Kitab Wahyu 6 ayat 14, Santo
Yohanes mencatatkan penglihatannya, “…maka menyusutlah
langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan
pulau-pulau dari tempatnya.” Sudah tentu Wahyu 6: 14 sedang berbicara
perihal ‘mesej roh,’ dan bukanlah tentang langit sebenar dan bukan juga
berbicara tentang bumi sebenar. Ayat 14 berbicara tentang turunnya Hadirat
Kristus ke bumi untuk melaksanakan karya-Nya:
penghakiman dan penghukuman. Frasa
“…tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari
tempatnya” mengungkapkan bahasa tentang Murka dan keadilan Hakim. Murka Hakim yang penuh keadilan itu juga diungkapkan sebagai
nyanyian “Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan
dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh kerana menyala-nyala murka-Nya”
(Mazmur 18: 8; Mazmur 50: 1-6). Namun, jika ia dilihat sebagai manifestasi 'Theophany' seperti dalam Kitab Keluaran bab 19, maka 'tergeserlah gunung-gunung' adalah reaksi harfiah di bumi kerana hadirat ('Wajah') Kristus.
Kisah Para Rasul 1: 11 menyingkapkan
bahawa Kristus akan kembali “…dengan cara yang sama “ dan ‘pendedahan-pengetahuan’
yang diberikan oleh kedua -dua Malaikat itu samalah maksudnya dengan ayat yang digambarkan oleh frasa ayat ke-14, Wahyu 6 : “menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung.”
Frasa ini adalah frasa firman (roh) yang merujuk kepada mesej yang dimaksudkan
oleh kedua malaikat yang berjubah putih dalam Kisah Para Rasul 1: 11. Justeru
itu, Kristus dijangkakan akan turun pada ayat ke-14 dalam Wahyu 6. “Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana
firman-Nya kuat. Betapa dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat
menahannya?” (Yoel 2: 11)
Kita tahu langit sebenar tidak akan bergulung kerana warna
biru langit itu adalah batasan kemampuan penglihatan mata kasar manusia!
Bukanlah langit harfiah biru
itu yang akan mengulung
ataupun fenomena ‘outerspace winds.’ Namun, ‘awan-awanlah’ yang sebenarnya
bergulung-gulung itu!
Malaikat kerublah yang bersama Kristus yang
digambarkan sebagai “awan-awan itu bergulung”
kerana mereka sedang memberikan bukaan pintu-pintu langit. ‘Awan-awan’ itu
adalah bahasa roh (firman Tuhan) kerana ia adalah ‘roh.’ Ia sama-sekali tidak
merujuk kepada awan-awan harafiah di
bumi ini; It doesn’t refer to the natural
clouds of the skies within earth's layers of atmospheres. Ia adalah ‘awan-awan’
yang bersama dengan Roh Tuhan, dan memangpun mereka adalah roh kerub. Dalam
Mazmur 18, dinyanyikan perihal ‘awan-awan.’ “…Kekelaman
ada di bawah kaki-Nya” (ayat 18). ‘Ia
mengendarai Kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin.’ (ayat
11).
Ketika Yesus diangkat ke-sorga, “awan-awan itu menutupi-Nya” sehingga Ia tidak
kelihatan lagi. "Awan-awan"
itu sebenarnya adalah kerub-kerub Tuhan yang kelihatan seperti awan, dan hanya
disaksikan oleh orang-orang percaya yang sumbu rohaninya telah disucikan oleh
darah Yesus. Terangkatnya Yesus ke sorga dicatat oleh para rasul. Pengikut-pengikut
"Jalan Tuhan" atau keturunan perempuan itu (the woman and her offspring) disebut memiliki
kesaksian tentang Kristus. Pemerintah-pemerintah tidak memiliki kesaksian
tersebut, sehingga mereka tidak membuat catatan apa pun tentang terangkat-Nya
Yesus, bahkan mereka tidak percaya kepada nama-nama yang diutus oleh Allah
Bapa. Nama Tuhan itu mengandung arti misi atau karya Allah. Contoh nama Tuhan adalah seperti
Domba Tuhan yang menghapus dosa-dosa dunia, dan juga nama-Nya sebagai Pembaptis api.
“…Kekelaman ada
di bawah kaki-Nya” (Mazmur 18: 18)
Nabi Yesaya bernubuat bahwa, "Langit adalah
takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku..." (Yesaya 66:1). Jika Hakim
Kristus turun ke bumi, Dia akan keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar
dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.
"Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain;
tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya" (Mazmur 19:7). Yesus
Kristus, ketika berada di lereng Bukit Zaitun, bernubuat dengan maksud yang
sama, "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan
melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pula kelak kedatangan Anak
Manusia" (Matius 24:27). "Sebab sesungguhnya, TUHAN mau keluar dari
tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya, dan bumi tidak
lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, tidak lagi menutupi
orang-orang yang mati terbunuh di sana" (Yesaya 26:21).
Bagaimanakah bumi itu dikatakan "tidak lagi
menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya"? "...Maka datanglah
seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah tempat
kemenyan dari emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk
dipersembahkannya bersama-sama doa semua orang kudus di atas mezbah emas di
hadapan takhta itu" (Wahyu 8:3). Tuhan akan menunaikan pembalasan dan
keadilan atas semua darah yang tertumpah ke bumi, sebagaimana yang diungkapkan
oleh "kemenyan bersama dengan doa semua orang kudus."
"Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan
tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Sebab
hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?"
(Yoel 2:11).
"Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di
langit..." (Matius 24:30).
"...Kekelaman ada di bawah kaki-Nya" (Mazmur
18:10).
Kekelaman itu disebabkan oleh "awan-awan"
(kerub) yang menyatakan "gambaran penyataan" yang gelap. Awan
"gelap" memberitakan pesan Murka Tuhan, sedangkan cakrawala
memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Proses terjadinya murka Tuhan itu seperti
perjalanan puting beliung sebagaimana disingkapkan oleh nubuat nabi Nahum dalam
Nahum 1:3, yang telah diulas oleh penulis dalam tulisan seri pertama "KedatanganKristus... Bagian 1". Oleh karena itu, "tanda" Anak Manusia di
langit adalah "kekelaman" murka Tuhan di seluruh dunia.
Selama berabad-abad, banyak nabi dan orang kudus telah
bernubuat tentang "tanda" Anak Manusia di langit itu, yaitu
"tanda Salib". Hal itu menandakan kedatangan Kristus ke bumi dengan
malapetaka-malapetaka murka menurut nubuat para nabi. Secara pribadi, saya
tidak percaya bahwa tanda tersebut akan dapat dilihat oleh seluruh penduduk
bumi. Sebagai perbandingan, Bintang Betlehem hanya disaksikan oleh orang-orang
Majus dari Timur, sedangkan para gembala mendengar pemberitaan para malaikat
yang mengatakan bahwa tanda dilahirkannya Anak Manusia itu singkatnya adalah
"seorang bayi di kandang ternak". Tidak ada seorang pun di antara
golongan Sanhedrin atau Imam Besar yang melihat tanda-tanda Anak Manusia,
kecuali murid-murid-Nya. Bahkan, mereka tidak percaya sehingga Yesus sengaja
memberikan "tanda nabi Yunus", yang justru makin memperparah kebutaan
mata rohani mereka!
Jika ada yang bersaksi pernah melihat "tanda Salib" di langit, maka hal itu pastinya terjadi di antara orang-orang percaya saja! Rasul Paulus menasihatkan bahwa nubuat diberikan sebagai "tanda" bagi orang-orang percaya. Oleh karena itu, nubuat tentang "Salib di langit" adalah "tanda" untuk orang percaya saja, bukan untuk orang yang tidak percaya! Nubuat tentang "tanda" Anak Manusia di langit itu dimaksudkan untuk orang percaya saja, supaya hal itu "membangun, menasihati, dan menghibur" (1 Korintus 14:3), serta agar mereka yang percaya pada "tanda-tanda yang diberikan" menjadi diberkati (blessed). Memberikan nubuat kepada orang yang tidak percaya diumpamakan seperti menaruh "cincin emas pada jungur babi": sia-sia belaka seperti menjaring angin!
Bagaimanapun juga,
"Salib" singkatnya membawa arti "Murka Tuhan". Pada zaman
Kekaisaran Romawi, hukuman di atas kayu salib dipastikan memberikan siksaan
yang membawa kematian. Kematian Yesus terjadi karena Dia meminum "Cawan
Murka Allah Bapa" (the Cup of His Father's Wrath) yang ditumpahkan ke atas
kepala-Nya sebagai kambing azazel, dan juga sebagai "Anak Domba Allah yang
menghapus dosa dunia". Dia yang telah ditentukan sebagai "Anak Domba
Allah" yang "Setia dan Benar" telah meminum habis seluruh murka
itu! Karena Dia menanggung semuanya itu, pulau-pulau pun (termasuk
bangsa-bangsa di pulau Borneo) dapat bersukacita dan kaki-kaki gunung pun dapat
memuji-muji perbuatan tangan kanan Bapa.
Murka Allah Bapa atas
semua dosa seharusnya dipertanggungjawabkan dan ditumpahkan ke atas kepala
setiap manusia di bumi, tetapi Sang Juruselamat datang untuk menanggung segala
penderitaan dan luka-luka kita, supaya kita dianugerahi Jalan, Pintu, dan Roh untuk
mengenal Roh Allah Yang Mahakudus. Pemazmur memuliakan Tuhan dengan
mempersembahkan syukur kepada-Nya sebagai korban: "Terpujilah Tuhan! Hari
demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela"
(Mazmur 68:20).
Oleh karena itu,
"tanda" Anak Manusia itu adalah "Murka Tuhan" yang
ditumpahkan ke seluruh dunia! Maksudnya, kedatangan Kristus ke bumi adalah
untuk melaksanakan karya penghukuman dan penghakiman; "Salib" adalah
lambang penghakiman dan penghukuman. Jikalau kita tidak dapat melihat
"tanda Salib" itu, tanda tersebut masih dapat dipahami melalui
pemberitaan nabi-nabi Tuhan yang memproklamasikan "nubuat-nubuat
penghukuman" yang menyeluruh di seluruh dunia.
Nubuat tentang Perang
Dunia Ketiga (WW3) adalah salah satu "tanda" yang menjelaskan proses
terjadinya "Murka Tuhan" yang akan ditumpahkan ke seluruh bumi.
"Salib Yesus" adalah perlambangan "murka Allah Bapa" yang ditumpahkan
ke atas kepala "Anak Domba Allah". Murka yang seharusnya ditumpahkan
kepada semua orang dari segala zaman tersebut telah ditumpahkan ke atas kepala
Yesus di atas kayu salib. Pada Hari Tuhan, pembalasan oleh murka Tuhan akan
menimpa semua orang. Jadi, "tanda" Anak Manusia memiliki arti bahwa
Murka Tuhan akan benar-benar ditumpahkan ke atas kepala setiap manusia ketika
dimulainya pemberitaan langit sebelum Hari Tuhan: "Matahari akan menjadi
gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya dan bintang-bintang akan
berjatuhan."
"Kekelaman
ada di bawah telapak kaki Yesus" dipahami sebagai penglihatan
"Salib" oleh sebagian orang percaya, khususnya dari kalangan
komunitas Katolik. Tentu saja "penglihatan-penglihatan" rohani
tersebut bukanlah merujuk kepada chemtrails pesawat terbang! Bagi mereka yang
tidak pernah melihat penglihatan "Salib", kekelaman "awan
gelap" pada telapak kaki Yesus dapat ditanggapi sebagai "murka
Tuhan" dalam bentuk Perang Dunia Ketiga (WWIII). Telapak kaki yang gelap
kelam itu adalah "murka Tuhan" yang dicurahkan sebagai manifestasi
"peperangan" di muka bumi. Peperangan ini akan mendahului "Hari
Tuhan", yaitu hari kedatangan Kristus yang kedua kali (WW3 precedes the
2nd Coming of Christ). Ketika Dia datang kembali, "awan-awan" tersebut
akan memunculkan fenomena rohani yang terlihat melalui penglihatan roh::‘bergulung seperti gulungan kitab’
Rujukan
Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org, Yayasan Lembaga
Sabda, www.sabda.org/alkitab/. Diakses pada 10 Disember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar