Minggu, 06 Desember 2015

Kedatangan Kristus ...Part I

By Joannes Simin 



"Bumi dan Langit" Pre-Deluge (Zaman Sebelum Banjir)

    Tuhan itu adalah Roh. Dunia purbakala dan langit purbakala telah berlalu setelah malapetaka banjir besar pada zaman Nuh. Dunia purbakala telah dihakimi dan dihukum oleh keputusan Tuhan Yang Mahatinggi. Dunia dan langit purbakala itu telah ditahirkan, disembuhkan, dan juga diperbarui setelah banjir tersebut.

13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama bumi.” ”17 Sebab sesungguhnya Aku mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di bawah kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. 18 Tetapi dengan engkau, Aku akan mengadakan perjanjianKu, dan engkau akan 'masuk ke dalam bahtera' ('bahtera keselamatan') itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu” (eKatolik, Kejadian 6.13, 17, 18).


Roh Sang Pencipta


    Roh Tuhan telah menciptakan langit dan bumi. Dialah juga yang menciptakan dan memiliki semua makhluk di bumi. Dia bekerja siang dan malam. Pekerjaan-Nya sesuai dengan Karya-Nya, yaitu perkataan-perkataan Tuhan yang disebut “Firman.” Firman yang disampaikan dalam bentuk Taurat, Firman menurut nubuat para nabi, dan Firman-Nya yang disampaikan dalam bentuk lirik-lirik Mazmur kemudian menjelma sebagai pribadi manusia yang diumumkan oleh Nabi Yohanes Pembaptis sebagai “Domba Allah yang menghapus dosa-dosa manusia.” 

    Di atas kayu salib, Ia telah ditakdirkan sebagai kurban penebus dosa-dosa manusia. Dia yang dinyatakan oleh Roh Tujuh Lapis kepada kita telah membimbing kita untuk mengenali kehendak Bapa, yaitu Kristus Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi. Wahyu Kristus menurut catatan Santo Yohanes dalam Kitab Wahyu menyingkapkan bahwa nama Kristus itu adalah “Firman Allah.”


Apakah itu Karya Tuhan?


    'Nama' dalam bahasa Roh atau bahasa nubuat mengandung arti 'Karya.' Karya atau misi surgawi dalam menyelamatkan umat manusia telah diwahyukan kepada umat Tuhan melalui perutusan 'nama Tuhan' atau 'Karya Tuhan.' Karya atau 'nama' tangan kanan Bapa adalah Firman Allah. Tanpa Firman Allah, keturunan Adam yang 'terluka' tentu tidak mampu mengetahui kehendak dan realitas Roh Tuhan. Setelah Kristus naik ke Surga, hadirat suara Firman itu dilaksanakan dan disampaikan oleh 'nama' Tuhan yang diutus dalam pribadi Roh Tujuh Lapis (Roh Kudus). 

    Hadirat-Nya hadir bagaikan 'lidah-lidah api' yang turun dan hinggap di atas sumbu roh manusia. Firman juga turut diberitakan oleh malaikat-malaikat Tuhan. Mereka disebut prophet-angels, seperti malaikat-malaikat yang membawa pesan kepada Gideon, nabi Daniel, dan juga malaikat yang membawa pesan kepada Santo Yohanes. Dalam terangkatnya Kristus ke Surga, penulis Kisah Para Rasul mencatat dua malaikat berjubah putih yang sempat menyampaikan 'satu pesan' (Kisah Para Rasul 1.10–11) kepada orang-orang Galilea yang sedang takjub melihat Yesus diangkat ke Surga.

Penyampaian Pesan Roh Tuhan dan Tata Bahasa Pertuturan Manusia yang Terluka

    Semua Firman dalam Kitab Suci adalah karya (pekerjaan) tangan kanan Allah Bapa. Namun, jika Firman yang tertulis dalam Kitab Suci dipetik atau digunakan menurut pikiran manusia, Firman tersebut tidak akan memberikan kuasa sebagai pedang Roh. Firman itu akan menjadi Pedang Roh hanya apabila hadirat Roh Kudus yang turun di atas sumbu roh orang percaya membicarakan Firman tersebut kepada kita. 

    Firman yang tertulis dalam Kitab Suci mencakup semua firman Tuhan yang ditulis oleh para nabi, nabiah, serta santo atau santa dalam Perjanjian Baru. Sabda Yesus dalam Lukas 24.44 secara jelas menyatakan definisi ringkas mengenai "karya" Tuhan. Bagi orang percaya yang dewasa secara rohani dan memiliki keintiman hubungan dengan Roh Tuhan, mereka secara ringkas dapat mengatakan bahwa Firman itu adalah Yesus Kristus! Ini merupakan rumusan seperti yang dinyatakan kepada Santo Yohanes dalam Wahyu 19.10, 13"...dan nama-Nya ialah: Firman Allah"

    Karya Tuhan menurut pernyataan Roh kepada Santo Yohanes adalah Firman Allah. Roh Kudus juga berkarya menurut dasar yang sama, yaitu Firman Allah. Dalam bahasa yang mengandung arti yang sama, Roh Kudus beroperasi menurut 'suara' Kristus. Oleh karena itu, nama (pekerjaan) Kristus berdasarkan Wahyu 19.13 juga dinyatakan sebagai Firman Allah. Maksudnya, seluruh pekerjaan Kristus seratus persen sesuai dengan kehendak Allah Bapa: “...dan nama-Nya ialah: ‘Firman Allah” (Wahyu 19.13). Maka, kita tahu bahwa 'Roh Tuhan yang Esa' itu bekerja menurut Firman-Nya. Sebaliknya, 'umat manusia yang terluka' bekerja menurut perencanaan dan keputusan pikiran mereka. 

    Manusia yang 'terpisah dari realitas Tuhan' dikatakan memiliki kecenderungan kesadaran dominan yang berpusat pada daging, yaitu otak. Misi atau 'nama' yang dicari oleh manusia di bumi sesuai dengan pemikiran otak, sedangkan misi Tuhan adalah Firman Allah. Maka, karya manusia adalah agenda otak manusia yang merencanakan kehidupan daging kita di muka bumi ini. Firman Allah yang hidup itu adalah Kristus. Oleh karena itu, Injil Yohanes dimulai dengan “Pada mulanya adalah Firman...”, dan rahasia Tuhan itu juga adalah Kristus!

    Pekerjaan Roh Tuhan dimulai dengan penyampaian Firman. Oleh karena itu, segala sesuatu telah diciptakan di dalam Kristus dan untuk Kristus. Maka, Firman itu adalah dasar bagi pekerjaan suci Roh Tuhan. Jika tidak ada Firman yang dinyatakan kepada manusia, tidak ada seorang pun manusia yang dapat memahami pekerjaan tangan kanan Allah Bapa. Kristus adalah pekerjaan atau karya tangan kanan Allah Bapa. 

    Kristus adalah kepenuhan pernyataan Firman Allah. Maka, barangsiapa yang dianugerahi hubungan dan ketergantungan seperti perumpamaan “ranting sejati dengan Pokok sejati” dikatakan "berbahagia" karena ia memiliki anugerah untuk dapat bergaul karib dengan Tuhan. Perumpamaan “ranting sejati dengan Pokok sejati” adalah pengungkapan ibadah sejati dalam proses perjalanan iman, yaitu mengenali Firman Tuhan. Firman Tuhan itu adalah Kristus. Firman Tuhan dianugerahkan kepada umat manusia yang 'terluka' menurut Ordo Melkisedek (Melchizedek). Ordo Melkisedek menurunkan ajaran 'penebusan' sebagai jalan bagi umat manusia yang berdosa agar dapat diperdamaikan kembali dengan Roh Tuhan yang Mahasuci.

    Pada mulanya Karya Tuhan (Divine handiwork) adalah Firman Allah. Maka, segala sesuatu tidak pernah Tuhan perbuat tanpa menganugerahkan terlebih dahulu firman-Nya kepada umat-Nya (Amos 3.7). Oleh karena itu, Roh Tujuh Lapis memberikan kita mata rohani untuk melihat bahwa Kristus adalah Alpha dan Omega. Kristus adalah Karya tangan kanan Allah Bapa. Segala Firman atau karya Allah Bapa terikat pada personae Trinitas: Tuhan Bapa, Tuhan Anak yaitu Kristus, dan Tuhan Roh Kudus. 

    Ordo Melkisedek telah menentukan dari Alpha dan Omega bahwa Firman yang dianugerahkan Bapa kepada manusia adalah Kristus. Seluruh Kitab Suci adalah karya yang terikat pada pribadi Juruselamat manusia, yaitu Kristus. Sesungguhnya, Kristus itu adalah rahasia misteri Tuhan. Kristus bersabda bahwa Ia datang untuk menyempurnakan Karya Bapa yang sesuai dengan semua firman dalam Taurat, semua firman menurut nubuat para nabi, serta menyempurnakan semua lirik Tuhan yang telah diberitakan menurut Kitab Mazmur. Oleh karena itu, pekerjaan Kristus atau nama-Nya adalah Firman Allah. Nama tersebut bermakna “Karya” (handiwork).

    Kitab Suci mengandung Firman (spoken Word of the Lord) yang ditulis dalam Taurat, nubuat para nabi, lirik-lirik Tuhan dalam Mazmur, Firman Kristus dalam Injil, dan juga Wahyu. Firman Tuhan dalam Kitab Suci bercampur dengan catatan atau rekam manusiawi rohani, yaitu sejarah Alkitab (Biblical History), Kumpulan Amsal, Apokrifa (Apocrypha), dan surat-surat Rasul Kristus yang disampaikan menurut gaya bahasa penulis kitab-kitab tersebut. Maka, Kitab Suci adalah catatan yang mengandung Firman Tuhan yang bercampur dengan perkataan-perkataan manusia rohani

    Firman Tuhan mengandung elemen-elemen bahasa "manusia yang terluka." Kitab Mazmur, sebagai contoh, merupakan lagu-lagu yang mengandung lirik-lirik (firman) Tuhan yang bercampur dengan lirik-lirik manusiawi rohani, yaitu lirik-lirik milik hamba-hamba-Nya atau nabi-nabi-Nya.

    Tidak heran jika kita menemukan perkataan-perkataan yang mengungkapkan reaksi Tuhan terhadap dosa-dosa manusia seolah-olah Tuhan itu seperti manusia. Hakikatnya, sifat-sifat Ilahi tidak mungkin memiliki reaksi manusiawi seperti marah, murka, maupun sedih. Roh Tuhan tidak mungkin menjadi marah, murka, sedih, ataupun benci karena Ia adalah Sang Pencipta yang mutlak Sempurna. 

    Ia dikatakan Mahakasih karena Ia adalah sumber kehidupan. Namun, kata-kata sifat Tuhan yang diungkapkan menyerupai reaksi manusiawi seperti marah, murka, benci, dan sedih sengaja digunakan oleh Roh Tuhan karena penerima Firman adalah "manusia yang terluka." Tuhan sengaja menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh kemampuan intelek "manusia yang terluka."

     Meskipun Firman itu harus ditanggapi oleh roh, penyampaiannya mencakup penanggapan melalui intelek agar pernyataan Firman menjadi menyeluruh dan sempurna. Oleh karena itu, Firman itu dinyatakan juga sebagai 'manusia.' Jelas bahwa Yesus, ketika 'Roh' berjalan dibaluti 'daging manusia,' tidak menyatakan kemarahan-Nya kepada semua manusia kecuali terhadap imam-imam yang menggembalakan Israel dengan cara yang salah.

    Nama-Nya sebagai Domba Allah jelas menyatakan kasih-Nya yang sempurna kepada semua orang berdosa! Hakikatnya, Roh Tuhan tidak pernah 'marah' karena 'marah' adalah reaksi 'daging', tetapi Roh Tuhan tetap menggunakan bahasa itu agar manusia yang 'terluka' dan kesadarannya tertumpu pada 'otak' dapat menangkap reaksi 'kekudusan Ilahi yang menghanguskan' secara menyeluruh. 'Marah' adalah ungkapan reaksi Roh Tuhan yang menyatakan sifat Ilahi yang consuming fire; hal itu sebenarnya menyatakan reaksi kodrati Ilahi yang Mahasuci. Pribadi Roh Tuhan yang Mahasuci itu seperti api yang senantiasa meluap-luap menjilat segala perbuatan 'dosa.' 

    Hal ini diungkapkan sebagai Tuhan yang membenci atau marah kepada semua perbuatan dosa. Api hadirat Tuhan senantiasa marak dan menjilat semua orang yang berdosa. Namun, Ia panjang sabar. Tidak heran mengapa Ia tidak turun ke atas sumbu roh manusia yang tidak diperdamaikan kepada-Nya. Sifat alami Roh Tuhan yang Mahasuci itulah yang dimaksud dengan "murka" atau "marah." Dan bagaimanakah Roh Tuhan menjilat atau menghanguskan semua orang berdosa? Itu bergantung pada "panjang sabar-Nya," serta tunduk pada nama-Nya dan suara-Nya (lihat Amos 3:7).

     Oleh karena itu, "murka Tuhan" juga dapat dimengerti sebagai "panjang sabar-Nya" yang telah habis. Jika sabar-Nya habis, tentu hadirat-Nya yang semarak pasti menghanguskan. Taurat menjelaskan bahwa Tuhan bukanlah 'sabar yang tanpa batas.' Taurat, seperti yang dicatat oleh Nabi Musa, menjelaskan pribadi Roh Sang Pencipta sebagai Pencipta yang diungkapkan sebagai "Panjang Sabar." Bagaimanakah kiranya panjangnya kesabaran Tuhan itu? Hal itu merujuk pada kesempurnaan-Nya mengolah semua keputusan manusia, serta karya-Nya sesuai dengan semua Firman Tuhan yang telah dinyatakan kepada umat-Nya. 

    Pengajaran rohani (precept) mengenai "Panjang Sabar" Ilahi itu terasa lebih indah ketika dinyanyikan oleh pemazmur dalam lirik lagu dalam Mazmur 68:20: “Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela.” Nabi Yesaya bernubuat bahwa “...nama-Nya: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Maka, kesabaran-Nya sesuai dengan janji-janji (Firman) yang diikat oleh nama Raja Damai: Yesus Kristus. Ia setia kepada semua Firman, dan Ia benar pada semua Firman. Nama-Nya sebagai Raja Damai dan Domba Allah adalah ungkapan Panjang Sabar Ilahi yang paling sempurna!

    Ketika Roh Tuhan dicurahkan kepada semua bangsa di dunia bermula dari umat Israel perjanjian baru sejak hari Pentakosta, umat Tuhan mulai menyadari bahwa Roh Tuhan sebenarnya adalah Mahakasih. Dia adalah makhluk Roh Pencipta yang Mahakasih. Namun, Kasih-Nya dari Alpha hingga Omega bersifat Mahasuci yang menghanguskan! Maka, roh orang-orang yang tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan tidak dapat menerima dan mengecap kasih-Nya yang suci itu. Hadirat Kasih-Nya tidak berubah sifatnya, yaitu seperti api yang menjilat dan menghanguskan. Hal itu disebabkan oleh sifat Ilahi yang Mahasuci; kasih agape Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kesucian-Nya! 

    Kasih-Nya dan Kesucian-Nya teranyam bersama dan tak berubah dalam pribadi Roh-Nya yang Esa. Umat Perjanjian Baru memperoleh pengertian dari roh pengertian dan roh hikmat bahwa Roh Tuhan tidak memiliki sifat seperti murka, benci, marah, maupun sedih sebagaimana dalam reaksi emosi 'daging' manusia yang terluka. Namun, Roh Tuhan yang Mahasuci sengaja menggunakan kata-kata tersebut karena penerima Firman adalah manusia yang 'terluka.' 

    Manusia 'terluka' tidak sempurna pengertiannya dan penanggapannya tentang 'kekudusan' Tuhan, sehingga Tuhan menggunakan kata sifat seumpama itu agar otak manusia 'terluka' mampu mengungkapkan 'kekudusan Ilahi' dalam ruang lingkup pengalaman dan 'kesadaran' (consciousness) kehidupan manusia yang berpusat secara dominan pada otak dan sistem sarafnya! Dalam nama Kristus, mereka telah melihat bahwa Roh Tuhan (the Father of all spirits) itu adalah Kasih. Kasih-Nya bersifat setia karena nama-Nya (pekerjaan-Nya) adalah “Yang Setia dan Yang Benar” (Wahyu 19.11). 

    Kasih-Nya adalah suatu pekerjaan Ilahi yang setia dan benar. Kasih-Nya itu selama-lamanya bersifat Mahasuci! Oleh karena itu, Rasul Petrus memetik perintah Allah dari Perjanjian Lama yang berbunyi “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus,” sebagai suatu anjuran kepada para pengikut Jalan. Ini menjelaskan kekudusan hati (Roh) Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah berubah, biarpun Ia menyatakan diri-Nya dalam nama-nama Ilahi yang berbeda ('nama' Ilahi bermaksud pekerjaan, karya, atau misi).

    Penabur Firman adalah Anak Manusia. Para nabi adalah 'mulut' Tuhan. Kitab Suci secara ringkas memberitakan dan menyingkapkan Karya Tuhan yang berdaulat atas semua sejarah pekerjaan manusia (nama-nama manusia) di bumi. 'Nama' yang dicari oleh manusia adalah 'pekerjaan atau karya' yang dilakukan manusia di bumi; dan jika manusia memiliki 'menara' yang 'sampai ke langit,' itu berarti 'nama' yang dicari oleh manusia tersebut jelas meniadakan Firman dan meniadakan keberadaan Roh Tuhan! Pekerjaan Tuhan dan pekerjaan manusia kedua-duanya telah dicatat dalam Kitab Suci agar pembaca dapat melihat betapa Karya Tuhan turut serta dalam setiap pekerjaan manusia di bawah kolong langit ini.


Ulasan tentang Asal-usul Manusia 


    Tuhan itu adalah Roh. Ia senantiasa berurusan dengan manusia sejak awal karena Ia adalah Penciptanya, dan Dialah juga yang memiliki bumi serta segala isinya. Oleh karena manusia telah memilih untuk hidup terpisah dengan melanggar hukum-hukum Tuhan, realitas Tuhan menjadi seakan-akan 'tidak ada.' Realitas Tuhan hanya bisa hadir bagi mereka yang dianugerahi oleh Tuhan dengan utusan 'roh tujuh lapis.' Menurut pemikiran manusia, realitas Roh Tuhan memang seolah-olah tidak ada atau sulit untuk dimengerti. Tanpa operasi 'roh tujuh lapis,' tidak ada manusia yang mengerti kehendak Tuhan. 

    Sesungguhnya realitas Tuhan dapat ditanggapi oleh manusia terluka hanya apabila Roh Kudus turun dan hinggap di atas sumbu roh manusia. Manusia tidak memiliki sumber daya untuk menyucikan rohnya sendiri sehingga ia dapat memasuki hadirat Mahasuci Roh Sang Pencipta. Pada mulanya, Adam dan Hawa tidak terpisah dari realitas hadirat Roh Tuhan. Bahkan, mereka dibenarkan tinggal di Eden. Roh Kudus dapat turun ke atas sumbu roh Adam dan Hawa sewaktu-waktu yang dikehendaki oleh Tuhan karena roh mereka suci. Katakanlah roh mereka seperti air, dan Roh Tuhan juga seperti air. Roh manusia yang tidak suci apabila dilihat hubungannya dengan Roh Tuhan kita umpamakan seperti 'minyak' dan 'air'. Ia sangat dekat, tetapi tidak dapat 'bergaul karib' (Yesaya 59:1–2).

    Kelak, roh Adam dan roh Hawa menjadi tidak suci karena mereka telah melanggar Firman Tuhan yang suci. Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka dilarang memakan buah Pohon Pengetahuan. Pelanggaran Firman yang suci mengakibatkan mereka menjadi pelanggar kesucian Tuhan. Menjadi pelanggar kesucian Tuhan berarti menjadi orang yang berdosa atau secara ringkas disebut 'tidak suci.' 

    Dalam bahasa Inggris disebut out of tune atau wounded. Maka, wounded bermaksud 'terpisah dari semua realitas hadirat Roh Tuhan.' Manusia terluka yang tidak diperdamaikan tidak layak untuk tetap tinggal di Eden atau memasuki hadirat Roh-Nya yang Mahasuci. Namun, Adam dan Hawa yang berdosa dapat juga memasuki hadirat-Nya karena 'nama' Tuhan, yaitu Kasih! Kelak, Tuhan menutupi mereka dengan 'Firman Tuhan,' yang berarti Adam dan Hawa dianugerahi pengampunan! Meskipun diampuni, mereka tidak lagi diperbolehkan tinggal di Taman Surga (Eden). Mereka hanya diperbolehkan tinggal di bumi. Masalah manusia dalam memasuki realitas hadirat Tuhan yang Suci dijelaskan secara ringkas oleh Firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya dalam Yesaya 59:1–2.

Manusia pada dasarnya diciptakan menurut suatu design suci. Kitab Kejadian mencatat bahwa setelah penciptaan manusia pada hari keenam, Roh Tuhan memberikan tanggapan yang berbunyi “sungguh amat baik” (Kejadian 1.31). Ya, sungguh amat baik manusia yang diciptakan Tuhan karena roh Adam pada mulanya adalah suci. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakaNya mereka” (Kejadian 1.27).


Ulasan: Roh Manusia Diciptakan menurut Roh Tujuh Lapis


     Tuhan itu adalah Roh Tujuh Lapis. Menorah memiliki Tujuh Kaki Dian Emas. Menorah itu merujuk kepada Manusia-Ilahi, Yesus Kristus. Jika manusia Yesus sebagai manusia sejati adalah Roh Tujuh Lapis, bukankah manusia yang diciptakan menurut gambaran Kristus harus juga sebagai roh tujuh lapis? Wahyu 5:6 bernubuat bahwa Kristus memiliki tujuh tanduk, tujuh mata, dan juga tujuh roh Allah (lapis) yang diutus ke bumi.

     Apakah yang dimaksud dengan menurut gambar Allah? Bukankah Tuhan itu adalah makhluk Pencipta Roh yang tujuh lapis? Mana mungkin Ia memiliki rupa menurut pengertian harfiah karena Dia merupakan makhluk Roh? Maksud 'gambar' atau 'citra' Tuhan merujuk pada Roh-Nya yang tujuh lapis (Sevenfold Divine Spirit). Maka, manusia juga diciptakan menurut roh tujuh lapis. Manusia memiliki tujuh lapis roh. Bukankah agama lain seperti Hinduisme turut mengajarkan ajaran mengenai fenomena ciptaan manusia yang memiliki tujuh lapis roh—hanya saja dalam Hinduisme disebut tujuh pusat Chakra

    Yesus Kristus adalah manusia sejati yang suci, dan sesungguhnya Dia adalah Menorah itu: Roh Tujuh Lapis! Manusia sejati itu adalah roh tujuh lapis. Namun, Roh Kristus adalah Ilahi, sedangkan roh manusia hanyalah roh tujuh lapis saja yang tidak memiliki karunia-karunia seperti Kristus (Yesaya 11). Jika dilihat dalam perumpamaan, roh manusia adalah umpama sarung pedang, sedangkan Roh Tuhan adalah umpama pedang yang lebih tajam dari segala pedang: the Sword of the Spirit

    Roh Adam hanyalah 'sarung' pedang, sedangkan Roh Kristus adalah umpama 'Pedang'. Namun, ketika roh Adam belum berdosa, rohnya seolah-olah 'seperti' Kristus ketika Roh Kudus turun ke atas sumbu roh Adam. Roh manusia adalah umpama 'kaki dian' saja, dan Roh Kudus adalah 'api' yang turun mengurapi roh orang percaya! Kristus adalah 'Menorah' yang sempurna!

    Manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, diciptakan menurut gambar Allah yang Roh Tujuh Lapis. Tanpa Roh Kudus yang hadir dan turun di atas sumbu roh manusia, manusia tidak dapat memahami operasi karunia-karunia roh tujuh lapis dari Roh Kudus. Adam dan Hawa di Eden tidak memerlukan pendidikan formal, sebagaimana kita tumbuh besar, karena pusat kesadaran mereka sejak awal berpusat pada roh, dan sumbu roh mereka adalah tempat Roh Kudus turun. 

    Adam telah mengenal 'nama' Tuhan Bapa dalam waktu yang sangat lama di Taman Firdaus. Ia telah mengenal good and evil setelah melanggar hukum Eden. Ia tahu apa itu "kudus" untuk suatu periode di Eden, dan setelah berdosa, ia mengetahui apa itu evil. Sebelum mereka berdosa, hidup mereka bergantung penuh pada Pohon Kehidupan, yaitu Firman, untuk melanjutkan kehidupan di Eden. “Manusia rohani” itu belajar dari Roh Tuhan: Roh Tujuh Lapis, Roh Kudus. Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran karena 'roh' inilah yang bertanggung jawab memberikan realitas-realitas Roh Tuhan secara Immanuel.

    Mereka (Adam dan Hawa) pada mulanya adalah manusia rohani atau dalam bahasa Inggris disebut spiritual man. Manusia ‘terluka’ (wounded man) yang normal adalah manusia yang kesadarannya secara dominan berpusat pada aktivitas intelek dan sistem saraf. Maka, timbullah fenomena IQ (intelligence quotient) yang menjelaskan kemampuan intelek seseorang manusia yang terluka. Manusia daging yang terluka pada dasarnya terpisah dari realitas-realitas Roh Tuhan.

    Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatu kepada Adam dan Hawa. Bimbingan dan pengajaran itu hanya terjadi apabila Roh Tuhan turun ke atas sumbu roh mereka. Kitab Kejadian mencatat bahwa ular (naga) adalah binatang ciptaan Tuhan yang paling cerdik di Eden. Maksudnya, ular Eden itu memang pandai berbicara. Roh Satan menyelinap ke Eden dan menyamar sebagai ular itu. Roh Satan kemudian mengambil kesempatan ketika Roh Tuhan tidak turun ke atas sumbu roh Hawa dan Adam.

    Iblis menjerumuskan Adam dan Hawa ke dalam perseteruan dengan Roh Tuhan melalui tipu muslihatnya. Pada ketika Roh Kudus tidak hinggap pada sumbu roh mereka di dekat Pohon Pengetahuan, pada saat itulah Lucifer menyamar seperti ular Eden itu dan berhasil membohongi mereka. Maka, 'ular tua' itu merujuk secara profetis kepada Satan yang telah dikutuk oleh Tuhan. Oleh karena ular di Eden menjadi sasaran penyamaran oleh Roh Satan

    Tuhan membuat keputusan untuk mengutuk ular jelmaan Satan itu sehingga ia kehilangan anugerah berkat Tuhan. Ia menjadi makhluk yang dikutuk sehingga ia “...menjalar atas perutnya dan debu tanahlah yang dimakannya” (Kejadian 3:14). Satan adalah makhluk yang dikutuk Tuhan. Adam dan Hawa kehilangan kelayakan untuk terus tinggal di Eden! Namun, Tuhan mengampuni Adam dan Hawa, tetapi mereka hanya dapat tinggal di bumi. 

    Sejak itu, realitas Eden semakin pudar dan lama-kelamaan mulai menjadi mitos bagi keturunan Adam! Manusia yang terpisah dari realitas Eden dan sumber kehidupan akan kembali menjadi "debu tanah." Kutuk yang disebabkan oleh dosa itulah yang menyebabkan 'maut' menjerumuskan umat manusia sehingga dagingnya kembali ke bumi sebagai 'debu tanah.' 

    Maut diungkapkan mengakibatkan semua manusia kembali menjadi 'debu tanah.' "Debu tanah" adalah makanan atau 'hamba' bagi ular tua. Tidak mungkin ular secara harfiah diartikan memakan tanah, karena kita tahu bahwa ular adalah pemakan daging. Namun, kata-kata "debu tanahlah yang dimakannya" adalah 'nubuat' yang mengungkapkan bahwa 'manusia yang terluka' itu adalah 'hamba' bagi Ular Tua.

    Menyadari pelanggaran Adam, Tuhan menyatakan hadirat-Nya kepada Adam dan Hawa. Dia tahu roh mereka telah berubah: dari suci (pure) menjadi tidak suci (impure); dari kesadaran yang berpusat pada roh berubah menjadi berpusat pada otak. Tuhan tahu sumbu roh mereka tidak lagi peka terhadap hadirat Roh Tuhan. Hati roh mereka menjadi tumpul seketika dalam menangkap realitas hadirat Roh Tuhan. 

    Mereka kehilangan kepekaan kesadaran roh, atau secara ringkas roh mereka telah 'terluka' (The descendants of Adam were deprived of divine consciousness due to their transgressions). Sumbu roh mereka tidak lagi menjadi tempat hinggapnya 'lidah api'—Roh Kudus. Roh mereka tidak lagi diperdamaikan dengan Roh Tuhan, atau dengan kata lain, kerohanian mereka 'mati.' 

    Kesadaran roh mereka tidak lagi dapat menangkap hadirat suci Roh Tuhan. Keadaan inilah yang disebut 'terluka,' dan ini menjelaskan mengapa Tuhan membuat bunyi seolah-olah seperti manusia yang berjalan-jalan di taman. Tuhan jelas ingin memberikan 'bunyi' yang dapat ditangkap oleh sistem pancaindra 'daging' Adam dan Hawa. Namun, pesan Roh yang lebih dalam bermaksud: Tuhan masih sudi berjalan bersama-sama dengan manusia yang berdosa.

    “Luka” itu jugalah yang menjelaskan mengapa Tuhan memanggil Adam dan Hawa dengan suara yang terdengar (audible voice). Sejak itu, Tuhan sering memanggil semua manusia keturunan Adam dengan suara yang terdengar, dan sampai sekarang Tuhan masih membuat “bunyi-bunyi seolah-olah Ia berjalan di taman,” yaitu pertanda hadirat-Nya meskipun manusia itu berdosa. 

    Setiap manusia yang 'terluka' mendapat kesembuhan dari “luka-luka Yesus.” Oleh bilur-bilur-Nya, manusia 'terluka' mulai dididik oleh Roh Kebenaran untuk menjadi peka kembali terhadap realitas Roh Tuhan.

    Dan sesungguhnya “sejuk di taman itu” adalah waktu petang hari karena Tuhan datang kepada mereka pada sebelah petang, ketika cuaca dingin mulai terasa di taman itu.  "Pagi" biasanya dikaitkan dengan joy dan awakening, tetapi "petang" biasanya dikaitkan dengan Judgment atau coming darkness! Mungkinkah ini bermaksud bahwa penulisan profetis Kitab Suci menyingkapkan sesuatu tentang misteri “when evening comes there will be Light”?

    Bahwasanya, Roh Tuhan hanya melaksanakan penghukuman apabila jam telah sampai pada “petang” hari (the last hour). Sampai sekarang, Firman Tuhan masih konsisten pada bahasa “dingin di sebelah petang” yang mengungkapkan bahwa Tuhan datang untuk menghukum. Namun, karena 'dingin' itu masih ada, Ia masih memberikan anugerah “jubah yang terbuat dari Firman” sebagai penutup ketelanjangan ('dosa'). 

    Ketika dingin dan panas tidak ada lagi, sudah pasti Tuhan tidak akan menganugerahkan lagi jubah 'penutup' kepada yang tidak percaya. Sebagai Sumber kehidupan yang sempurna dan Mahabaik, jelas sekali bahwa Dia masih menganugerahkan 'jalan' kepada manusia 'terluka,' biarpun manusia berada dalam perseteruan dengan Roh Tuhan.

    Apabila “tidak akan ada lagi udara dingin atau keadaan beku” seperti nubuat dalam Kitab Zakharia 14:6, hal itu berarti Tuhan tidak lagi memberikan peluang untuk diperdamaikan dengan Roh-Nya. Kita tahu dingin itu hanya terjadi apabila waktu petang menjelang tiba karena sinaran terik Matahari kian menyusut dan menghilang. Oleh karena itu, jika Firman berbicara tentang “malam” atau “kegelapan yang datang,” hal tersebut dikaitkan dengan hukuman dari Tuhan. 

    Benarlah seluruh Firman Tuhan itu ditulis dalam bahasa profetis! Keseluruhan penyampaian firman berada dalam roh nubuat, atau secara ringkasnya "...kesaksian Yesus adalah roh nubuatan" (Wahyu 19.10b).

    Benarlah pernyataan (wahyu) Tuhan kepada Nabi Yesaya bahwa Ia “...memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana,...” (Yesaya 46:10). Hukuman akhir zaman akan dilaksanakan apabila “petang” menjelang tiba. Namun, hari kedatangan Kristus hanya akan terjadi apabila “pada waktu itu tidak akan ada lagi udara dingin atau keadaan beku” (Zakharia 14.6) karena sekiranya masih ada dingin, itu berarti Roh Tuhan masih memberikan “bukaan” jalan, pintu, dan kunci perdamaian antara Roh Tuhan dan roh manusia berdosa, sebagaimana yang telah terjadi pada Adam dan Hawa.

    Sebaik saja mereka berdosa, sumbu roh mereka tidak lagi 'suci' dan roh mereka tidak lagi dalam keadaan diperdamaikan dengan Roh Tuhan yang Mahasuci; bahkan kelak mereka diusir keluar dari Firdaus (Eden). Meskipun demikian, Tuhan telah mulai membukakan “jalan” untuk berdamai kembali dengan anak-anak Adam yang ‘terluka’ melalui Firman dalam bentuk ritus-ritus penebusan dosa (ibadah altar). 

    ‘Luka’ itu merujuk pada “berhentinya Roh Tuhan turun ke atas sumbu roh manusia.” Secara ringkas dapat diungkapkan sebagai “tidak ada perdamaian.” “Luka” atau ketiadaan perdamaian roh itulah yang menjerumuskan keturunan Adam ke dalam “kegelapan.” Tidak ada pengertian tentang Roh Tuhan bagi anak-anak Adam kecuali mereka menerima 'jalan' untuk bergaul karib dengan Roh Pencipta.

    Tanpa Roh Tuhan yang turun ke atas sumbu roh manusia, roh manusia itu dikatakan “tidak ada cahaya yang bersinar di atas kepala” (Ayub 29.3). Secara ringkas diungkapkan dengan perkataan “kegelapan telah masuk ke dunia melalui satu orang.” Kegelapan itu merujuk pada ketiadaan Roh Tuhan yang turun di atas sumbu roh manusia! 'Penciptaan' roh manusia ditetapkan "umpama lampu di tangan Tuhan" (lihat Amsal 20.27).

    Tanpa campur tangan tangan kanan Tuhan, lampu itu (roh manusia) akan menjadi lampu yang tidak memiliki nyalaan lidah api Roh Kudus di atas sumbunya! Tanpa Api Roh Kudus yang turun di atas sumbu roh manusia, roh manusia berada dalam kegelapan; maka manusia akan hidup tanpa “pelita bagi kaki dan tanpa terang yang menerangi jalan” (Mazmur 119.105). Jadi, ‘luka’ juga merujuk pada perubahan pusat kesadaran manusia. Manusia yang sejak semula diciptakan Tuhan sebagai manusia rohani (kesadaran berpusat pada rohnya) telah berubah menjadi manusia yang kesadarannya berpusat pada otak (daging). Sejak itu, keturunan manusia yang 'terluka' hidup menurut daging, atau pusat kesadarannya tertumpu secara dominan pada otak. Manusia menjadi tidak peka terhadap realitas-realitas Roh Tuhan yang Mahasuci.

    Ini menjelaskan mengapa Roh Tuhan seolah-olah menjadi mitos belaka bagi kebanyakan manusia. Roh mereka tidak dapat menangkap realitas Roh Tuhan. Walau bagaimanapun, manusia masih dapat menangkap realitas roh-roh yang berseteru dengan Roh Tuhan karena realitas roh-roh seumpama itu tidak menuntut kesucian sebagaimana yang dituntut oleh Roh Tuhan yang Mahasuci.

    Realitas Roh Tuhan akhirnya menjadi nol dalam kehidupan manusia pada zaman Nuh, kecuali keluarga Nuh. Hanya Nuh dan keluarganya yang hidup menangkap realitas Roh Tuhan. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya” (Kejadian 6.22). Umat manusia pada zamannya tidak melaksanakan perintah Tuhan karena mereka tidak dapat menangkap realitas Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka lebih menyukai hidup bergaul karib dengan realitas anak-anak Allah (malaikat) sehingga melahirkan keturunan yang dikutuk Tuhan yang disebut Nephilim (orang-orang raksasa), dan juga disebut sebagai keturunan Anak (Anakite) dalam Bilangan 13.33.

    Kita tahu bahwa hanya mereka yang dapat melihat realitas Roh Tuhan yang dapat bersukacita melakukan Firman. Manusia daging akan berkata, “Untuk apa kita melakukan Firman jika realitas keberadaan Roh Tuhan tidak dapat ditangkap oleh roh manusia?” Tidak heran Kristus berfirman, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3). Roh manusia memerlukan penebusan Kristus agar “luka” itu disembuhkan. Pemazmur bernyanyi: “20 Dikirimkannya (diutus) Firman, dan disembuhkanNya mereka, diluputkanNya mereka dari liang kubur” (Mazmur 107.20).


Bagaimanakah Roh Tuhan Bekerja, dan Kedatangan-Nya yang Kedua?     

                                       

    Kita tahu bahwa manusia bekerja menurut keputusan-keputusan intelek atau secara ringkasnya menurut otak manusia. Pada zaman agraris, manusia pergi ke sawah pada pagi hari dan akan pulang dari sawah di sebelah petang hari. Maka, matahari, bulan, dan bintang-bintang di atas langit itu jelas berfungsi sebagai panduan yang diberikan Tuhan kepada manusia di bumi agar mereka dapat mengatur pekerjaan dan kehidupan mereka. 

    Jadi, kita tahu juga bahwa “pagi” bagi manusia adalah permulaan jam bekerja di sawah, dan “petang” bagi manusia adalah jam untuk berhenti bekerja dan kembali ke rumah. Namun, memang benar bahwa dengan kemajuan teknologi, manusia dapat bekerja tanpa mengikuti anugerah bulan dan matahari. Manusia modern dapat bekerja pada malam hari karena ada tenaga listrik yang memberikan terang untuk melaksanakan aktivitas pekerjaan.

    Roh Tuhan tidaklah bekerja menurut matahari, bulan, dan bintang-bintang. Roh Tuhan secara konsisten bekerja menurut Firman-Nya yang suci. Apa yang Dia firmankan, itulah yang akan menjadi realitas, atau itulah yang akan muncul dalam berbagai dimensi keberadaan. Pekerjaan tangan Tuhan yang berurusan dengan manusia yang terluka juga tunduk pada Firman-Nya yang suci. Oleh karena itu, pekerjaan atau Karya Kristus adalah menurut Taurat yang suci, menurut nubuat-nubuat dari mulut Tuhan (para nabi), dan juga menurut Lirik-Lirik Mazmur (Lukas 24:44). Walau bagaimanapun, di manakah “pagi” bagi Roh Tuhan, dan di manakah “petang” bagi Roh Tuhan?

    Orang-orang percaya mengira menurut kecenderungan pikiran mereka bahwa “pagi” itu bisa saja merujuk pada zaman Adam. Namun, pengertian manusia modern yang seumpama itu tidaklah memenuhi roh nubuatan. Kecenderungan seumpama itu timbul atas dorongan fungsi otak yang telah terdidik oleh filsafat pendidikan, dan secara khusus terbiasa dengan studi ilmiah kronologi Penciptaan. Jika diteliti dengan cermat, penciptaan (Creation) mengambil waktu profetis selang “siang dan malam” yang berganti-ganti sebanyak tujuh hari.

    Oleh karena satu hari dihitung “petang ke petang” (sunset to sunset), maka “pagi” bagi Roh Tuhan bergantung pada permulaan “nama-Nya.” Setiap nama Tuhan memiliki permulaan untuk menabur Firman. Oleh karena itu, tujuh hari itu melibatkan “nama-nama” Tuhan dalam tujuh selang waktu yang berurutan. “Tujuh hari” tidak diartikan secara harfiah bahwa penciptaan selesai dalam rentang harfiah tujuh hari. Hal itu adalah “nubuatan” yang dinyatakan dalam “tujuh” urutan. Hal tersebut tidak menjelaskan rentang waktu sebenarnya, melainkan suatu “selang waktu yang tidak diketahui lamanya.” Ringkasnya, Kitab Kejadian menyatakan bahwa Firman Tuhan itu adalah dasar suci Penciptaan.


Kekeliruan Perihal Ungkapan “Satu Hari bagi Tuhan Seperti 1.000 Tahun bagi Manusia”


    Santo Petrus dalam suratnya, 2 Petrus 3:8, memetik ungkapan seperti dalam Lirik Mazmur 90:4, bahwa satu hari bagi Tuhan adalah seperti 1.000 tahun bagi manusia. Ini bukanlah suatu formula yang diberikan oleh Tuhan untuk menafsirkan nubuatan, baik nubuatan penciptaan maupun nubuatan Wahyu (Wahyu 20:2). Ungkapan seumpama ini berfungsi sebagai pernyataan rohani bahwa Roh Tuhan tidaklah bekerja menurut kalender manusia! Ungkapan ini sama sekali tidak berfungsi sebagai formula skala perhitungan tahun untuk menafsirkan atau membuat ramalan nubuatan yang berkaitan dengan tanggal! Roh Tuhan dalam Perjanjian Baru tidaklah tunduk pada kalender matahari, bulan, dan bintang-bintang dalam menyempurnakan Firman.

    Namun, memang benar takwim Ibrani adalah firman Tuhan YHVH. Walau bagaimanapun, kalender rohani Ibrani adalah bagi umat Tuhan yang hidup menurut Taurat di tanah suci. Umat Perjanjian Baru yang hidup menurut Roh tidaklah diperhambakan oleh takwim tersebut karena setiap hari mereka menyerukan kuasa Paskah Yesus. 

    Kuasa Paskah Yesus dirayakan setiap hari oleh “orang yang takut akan Tuhan” untuk diperdamaikan dengan Roh Tuhan. Perhitungan 1.000 tahun jika ditafsirkan secara harfiah bisa jadi disandarkan pada sistem kalender purbakala bulan (lunar calendar), atau bersandarkan pada kalender modern matahari (solar calendar).

    Walaupun Kristus mengakui bahwa Lirik Mazmur itu adalah firman-Nya dalam Lukas 24:44, ungkapan “satu hari seperti 1.000 tahun” bukanlah satu formula untuk menafsirkan pekerjaan Roh Tuhan, lalu dijadikan benchmark untuk membuat ramalan-ramalan tanggal kedatangan Kristus. Karya atau pekerjaan tangan Tuhan tidaklah bergantung pada matahari, bulan, dan bintang-bintang! Bahkan dalam ibadah ritual Tabernakel pada Perjanjian Lama telah disingkapkan bahwa pekerjaan Tuhan dalam Tabernakel tidak melibatkan cahaya matahari, cahaya bulan, maupun cahaya bintang-bintang! Tempat itu tertutup rapat oleh kemah hitam gelap.

    Firman berdasarkan Taurat menyatakan bahwa segala ibadah dalam Kemah Suci hendaklah dilaksanakan dengan bergantung penuh pada cahaya minyak zaitun suci pada Menorah! Pekerjaan Kristus bergantung penuh pada firman-Nya. Dan semua firman adalah roh. Oleh karena itu, pekerjaan tangan Tuhan adalah menurut firman-Nya, yaitu Roh Tuhan. Kalender diberikan supaya manusia dapat mengatur pekerjaan-pekerjaan ibadahnya kepada Tuhan.

    Kalender bangsa-bangsa diciptakan dan dihitung menurut ibadah kafir mereka. Maka, Tuhan YHVH menganugerahkan kalender suci yang rohaniah kepada bangsa Ibrani dengan tujuan khusus agar umat Tuhan dapat mengatur ibadah menurut takwim ibadah yang bebas dari elemen-elemen ibadah kalender kafir. Kalender rohaniah Ibrani diberikan Tuhan kepada umat Tuhan supaya mereka dapat mengatur ibadah mereka menurut takwim suci YHVH.

    Walaupun berkaitan dengan perayaan-perayaan keagamaan, kalender itu tetap terpaut pada pergerakan “bulan.” Jelas, pekerjaan tangan Roh Tuhan tidaklah tunduk pada “bulan.” Bulan (actual literal moon) adalah panduan untuk manusia di bumi! Firman (Kristus) tidaklah bergantung pada bulan walaupun Ia berbicara pasal bulan. Sudah tentu ramalan kedatangan Kristus tidaklah benar jika dimengerti sekadar melihat dan menghitung bulan yang mengelilingi bumi itu! Roh Tuhan tidaklah bekerja menurut bulan yang diartikan secara harfiah itu.


Pekerjaan Tangan Roh Allah Bapa Ditaklukkan dan Diikat Menurut Firman-Nya


    Kalender matahari, kalender bulan, dan kalender bintang-bintang bukanlah inti pengajaran Firman, biarpun Taurat (firman) menggunakan kalender bulan dalam penyampaian pesan Roh. Jelas, Roh Tuhan masih bekerja pada hari Sabat. Apakah Tuhan berehat pada hari Sabat? Bukankah mengampuni itu juga merupakan pekerjaan Roh Tuhan? Dan Ia masih bekerja mengampuni manusia berdosa setiap hari, termasuk pada hari Sabat. 

    Kalender rohani Ibrani tidak dapat menyingkapkan dengan jelas revelation knowledge apa pun perihal kedatangan Kristus. Jika kalender rohani Ibrani tidak memberikan penjelasan tuntas tentang kedatangan Kristus, sudah tentu kalender bangsa-bangsa lain seperti kalender suku Maya memberikan lebih banyak kekaburan jika dikaitkan dengan kedatangan Kristus.

    Firman itu adalah Kristus. Dan sesungguhnya Kristus itu bukanlah perihal perhitungan harfiah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Kalender Ibrani adalah panduan bagi orang Ibrani untuk menangkap pesan Roh, dan bukanlah panduan untuk perhitungan dalam meramal kedatangan Kristus. Walaupun perayaan-perayaan dalam takwim Ibrani tidak disangkal dapat menyingkapkan rahasia-rahasia pekerjaan Roh Tuhan dalam Perjanjian Baru secara pengertian typology, tidaklah itu bermaksud bahwa kedatangan Kristus harus ditafsirkan dengan menghitung waktu menurut ketetapan perayaan-perayaan Ibrani.

    Walau bagaimanapun, perhitungan kelipatan “tujuh tahun” dalam kalender bulan termasuk dalam karya Roh penghukuman Tuhan (Spirit of Judgment). Dalam sejarah Alkitab Perjanjian Lama, Yehuda telah dihukum oleh murka Tuhan dalam kelipatan 7; kegagalan beribadah menuruti 10 tahun Sabat, dan bila dikalikan tujuh, ia menjadi 70 tahun hukuman, yaitu masa pembuangan Yehuda di Babel. 

    Sementara itu, 10 suku di utara, yaitu kerajaan Israel, telah dihukum Tuhan lebih awal dibandingkan dengan kerajaan Yehuda; dan hukuman YHVH karena kegagalan Israel beribadah sebanyak 60 tahun Sabat dikalikan 7 menjadi 420 tahun hukuman dalam pembuangan. Perhitungan seven times jelas menyatakan bagaimana Roh Tuhan melaksanakan “hukuman” atas manusia, baik umat-Nya maupun bukan umat-Nya. Manifestasi Roh Penghukuman seperti itu (7 times) adalah firman YHVH dalam Kitab Imamat 26, Kitab Yeremia, dan juga dalam Kitab Daniel.



                                             
Prototaip "ramalan" Kedatangan Kristus yang ke-dua.


Prototaip tafsiran "satu masa, dua masa, dan separuh masa."
                          


    Namun, hal itu tetap tidak menjelaskan apa pun mengenai kedatangan Kristus karena hanya menjelaskan bagaimana Roh itu menggandakan hukuman, serta cuma berfungsi sebagai panduan pengajaran 'Typology' perihal spirit of Judgment. Meskipun roh penghukuman berada dalam kelipatan 7, hal itu tidak serta-merta menjadi formula untuk meramalkan kedatangan Kristus, karena kedatangan-Nya bukanlah berdasarkan ilmu matematika. Kedatangan Kristus tidaklah menurut ilmu matematika. 

    Meskipun ide kelipatan 7 X \times  itu sangat menarik untuk dipikirkan, hal tersebut harus dilihat bersama dengan seluruh firman Tuhan secara menyeluruh, yaitu menurut Taurat, menurut nubuat nabi-nabi, menurut Mazmur, dan menurut seluruh kitab Perjanjian Baru, bahkan termasuk semua nubuat orang-orang kudus. Semua hal itu perlu diperhitungkan dalam 'melihat' tanda-tanda yang memberikan panduan untuk mengetahui kedatangan-Nya.

    Ibadah dalam Tabernakel harus dilakukan hanya dengan melibatkan cahaya dari Menorah Suci saja, dan tidak boleh dicampuradukkan dengan cahaya matahari, bulan, maupun bintang-bintang di dalam Tabernakel. Oleh karena itu, pengertian mengenai pekerjaan Kristus tidak akan dipahami sekiranya dicampuradukkan dengan inspirasi kalender matahari atau kalender bulan. Walau bagaimanapun, Roh Tuhan memang menggunakan kata-kata yang mengaitkan fenomena matahari, bulan, dan bintang-bintang dalam pemberitaan 'langit', seperti dalam Mazmur 50.6 dan Mazmur 19.1–2.


Perumpamaan Pekerjaan Penabur


    Kita kembali pada kehidupan sederhana para petani yang menggantungkan hidup pada pekerjaan menabur dan menuai di sawah. Yesus Kristus mengumpamakan pekerjaan-Nya seperti seorang Penabur. Kita akan mengerti bagaimana Roh Tuhan bekerja dengan menelusuri aktivitas kehidupan seorang petani yang menabur, lalu menuai hasil penaburannya. Pekerjaan Tuhan itu seperti yang disampaikan oleh perumpamaan tentang seorang penabur.

    Yesus berkata: “…Kepadamu diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga…” (Matius 13.11). Misteri rahasia itu ialah Kristus! Maka, kita memohon kepada Kristus agar roh pengertian dan roh hikmat turun di atas sumbu roh kita untuk menyingkapkan bagaimana Roh Tuhan bekerja di bumi. Sungguh, Tuhan adalah Penabur (lihat Matius 13). Jadi, begitulah rahasia pekerjaan Tuhan disingkapkan. 

    Yesus berkata: Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia.” Roh Tuhan menaburkan firman ke atas roh-roh manusia pada waktu “pagi”, karena pada waktu “petang”, para malaikat akan datang untuk menuai. Tuhan menaburkan benih gandum; Lucifer menaburkan benih lalang. Ladang adalah dunia. Anak Manusia, yaitu Firman Allah yang menjadi manusia, Yesus Kristus, adalah kesempurnaan pekerjaan Ilahi dalam “menabur”.

    Saya berpendapat bahwa Tuhan telah mulai menabur sejak zaman Nuh. Kita tidak memperhitungkan zaman-zaman sebelumnya karena dunia purba itu sudah dihakimi dan dihukum pada masa air bah menenggelamkan bumi di zaman Nuh. Maka, “penaburan” pada zaman-zaman sebelum air bah sudah diselesaikan pada klimaks air bah! Saya percaya bahwa “menabur” dimulai kembali setelah air bah. Maka, era bumi setelah air bah adalah “pagi” bagi Roh Tuhan.

    Dunia purbakala dan langit purbakala sebenarnya telah dihakimi dan dihukum oleh Tuhan pada klimaks air bah di zaman Nuh. Nuh menerima perjanjian Tuhan, dan dia juga telah menjadi pewaris bumi yang disembuhkan dari pemusnahan air bah itu. Nuh dan seluruh keturunannya telah menjadi pewaris bagi 'langit' baru. Langit itu dikatakan baru karena muncul suatu pemberitaan baru dari langit, yaitu “pelangi.” Sebelum itu—yaitu sebelum klimaks air bah—'langit' tidak memiliki pelangi; 'pelangi' itu harus dilihat melalui penglihatan roh!

    Pelangi itu muncul setelah air bah sebagai “tanda” Perjanjian bahwa Tuhan mulai menabur agenda perdamaian dengan umat manusia yang terluka, yang berkembang biak kembali melalui keturunan nabi Nuh. Langit purbakala tanpa pelangi itu sudah berlalu. Kita sebagai keturunan Nuh adalah pewaris “langit” yang berpelangi. 

    Kita mewarisi agenda perjanjian damai Tuhan yang telah diikrarkan kepada Nuh dan keturunannya bahwa Ia tidak akan menenggelamkan seluruh bumi ini lagi dengan air bah (Kejadian 9). “11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi untuk memusnahkan bumi. 12 Dan Allah berfirman: ‘Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi’” (Kejadian 9.11–13). Itu bukanlah busur bumi, melainkan 'busur' Roh Tuhan!

    Setelah klimaks air bah, Tuhan mulai menaburkan firman kepada Nuh. Maka, era Nuh “setelah air bah” sesungguhnya adalah bumi baru dan langit baru atau “pagi-pagi.” Malam, yaitu klimaks air bah, sudah berlalu! Roh Tuhan mulai “menabur” kembali firman kepada Nuh dan keturunannya setelah air bah. 

    Ini adalah “pagi” bagi Roh Tuhan untuk bumi yang baru saja disembuhkan oleh Roh Kudus akibat pemusnahan oleh “malam” air bah. Langit yang baru muncul dengan warna-warni pelangi: “Pagi.” “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi” (Kejadian 9:17). Itulah “pagi” bagi Roh Tuhan di dalam pekerjaan Roh Tuhan, yaitu “Menabur”.

    Zaman YHVH adalah zaman Roh Tuhan menaburkan firman kepada bani Israel, yaitu keturunan Abraham yang dipilih Tuhan. Oleh karena itu, bani Israel dikatakan oleh nubuat para nabi sebagai ladang anggur (Vineyard), dan Pekebunnya ialah YHVH. Ringkasnya, pekerjaan YHVH adalah “menabur”.

    Namun, kemudian Israel memberontak dan menolak Sang Pekebun sehingga kebun itu diberikan “firman penghukuman.” Israel sebagai ladang anggur Tuhan diselimuti oleh api murka Sang Pekebun ke mana pun mereka pergi di keempat penjuru langit; anggur yang ditabur-Nya tidak berbuah menurut firman-Nya.

    Namun, Pekebun itu datang kembali sebagai “Firman menjadi manusia” untuk menabur, bermula dari kedua belas rasul-Nya. Kemudian, rasul-rasul-Nya itu turut serta “menabur” sehingga orang Ibrani yang percaya (juga disebut sebagai Perempuan dalam bahasa nubuatan) kepada Sang Penabur (Jalan) itu telah melahirkan banyak anak dari berbagai bangsa di bumi (bangsa-bangsa di dunia yang menerima Firman). 

    Roh-roh manusia terluka yang menerima Firman itu adalah benih-benih gandum! Anak Manusia yang datang sebagai Raja Damai adalah Penabur yang sempurna. Raja Damai telah memperkuat pesan “pelangi” Nuh sehingga roh-roh manusia yang “terluka” menerima agenda perdamaian dengan Roh Tuhan. Mereka telah dijanjikan untuk menerima anugerah Roh Kudus: meterai kehidupan yang penuh.


Pekerjaan Roh Tuhan Menurut Firman yang Disampaikan oleh Tuhan kepada Nuh

“21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: ‘Aku tidak akan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.’” (Kejadian 8:21–22)

    Pada hakikatnya, Tuhan mulai menabur pada zaman Nuh setelah air bah. Itulah “pagi” bagi Roh Tuhan yang bekerja sebagai Penabur. Maka, satu hari bagi Tuhan adalah seperti selang waktu dari “Menabur di zaman Nuh (setelah air bah)” sampai pada “petang”, yaitu pada saat Kristus kembali. Selang waktu yang panjang itu adalah siang hari bagi Roh Tuhan. Malam hari akan bermula dari saat Penghukuman Roh Tuhan oleh Sang Hakim di bumi. Apabila Ia kembali kelak, Dia masih akan menabur, namun Firman yang Ia taburkan ke atas roh-roh manusia bukanlah agenda pesan Perdamaian.

    Pesan dan karya-Nya akan beralih kepada penghakiman serta penghukuman, dan para penuai-Nya adalah malaikat Tuhan. Sepanjang zaman gerejani, yaitu zaman yang dijamin oleh Pengantara dan Raja Damai, penaburan berfokus pada pesan perdamaian: Jalan, Perdamaian, Pintu Perdamaian, dan Kunci Perdamaian. Turut serta dalam penaburan adalah sahabat-sahabat Kristus di ladang Tuhan (dunia), dan mereka adalah tubuh Kristus di bumi, yaitu Gereja. 

    Penaburnya adalah Anak Manusia, dan salurannya adalah mereka yang diurapi Roh Kudus untuk memberitakan Firman. Tuaiannya adalah mereka yang menerima Firman. Hasilnya bergantung pada tanahnya. Apa yang ditabur itu membentuk komunitas orang percaya yang disebut Gereja.

    Kelak, apabila Kristus kembali, Dia tidak akan lagi menaburkan Firman perihal agenda Perdamaian (keselamatan mengikut Jalan), tetapi sudah tentu Ia masih menaburkan Firman tentang penghakiman, keadilan, dan penghukuman. Para penuai-Nya yang melaksanakan penuaian “penghukuman” dengan penuh keadilan adalah para malaikat surgawi!

    Maka, agenda atau misi menaburkan Firman “perdamaian” kepada roh-roh manusia akan sampai pada “petangnya”; petang itu ialah akhir zaman. Ketika sampai “petang”, Kristus akan kembali ke bumi, dan para malaikat akan melaksanakan urusan menuai! Urusan menuai ialah: “…Para malaikat akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. 42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Matius 13:41–42). “Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar (Matius 13.49).


Akhir Zaman” Bermula dari Hari Pentakosta! Mengapa Pula Tafsiran Seperti Itu? Betulkah?

    Rasul Yohanes menjelaskan dalam suratnya 1 Yohanes 4:3 bahwa: “Setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah ada di dalam dunia.” Dan dalam 1 Yohanes 2:18, Rasul Yohanes bersaksi bahwa: “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar waktu yang terakhir (the last hours).”

    Rasul Yohanes berkata benar bahwa pada zamannya sudah disebut secara profetis sebagai “waktu yang terakhir” (the last hours). Era setelah Pentakosta adalah era permulaan 'ragi' bagi operasi Tujuh Roh-Lapis Tuhan yang sedang merebak ke seluruh dunia: era awal Gerejani. Roh Kudus turun ke atas bangsa-bangsa memberi arti bahwa Roh Penghukuman juga turut dicurahkan ke atas semua bangsa di bumi. Kepada yang menerima Firman, ia diperdamaikan dengan Roh Tuhan, tetapi kepada yang menolak Firman, Firman itu sendiri yang akan menghukumnya. 

    “Penghukuman” akhir zaman itu sesungguhnya sudah bermula sejak dicurakannya Roh Kudus ke atas semua bangsa di bumi, yaitu sejak hari Pentakosta sampai jam sekarang. Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, juga disebut sebagai Roh yang menginsafkan akan dosa, dan juga sebagai Roh Penghukuman! Api Roh Kudus yang dicurahkan kepada bangsa-bangsa dinubuatkan oleh Nabi Yeremia sebagai api penghukuman (spirit of Judgment). Bukankah keenam murka “Meterai” dalam Wahyu 6 adalah era Gerejani? Murka “Meterai” dalam Wahyu 6 bermula dari Pentakosta dan masih berlangsung hingga kini!

    Kelak, kedatangan Kristus akan menyempurnakan (menyelesaikan semua yang harus digenapi menurut Firman) penghakiman dan penghukuman yang telah giat dilaksanakan oleh misi Roh Kudus sepanjang era Gerejani. Nubuat Nabi Yoel yang dipetik dalam khotbah Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul menjelaskan bahwa era pasca-Pentakosta adalah era atau akhir zaman: Akan terjadi pada hari-hari terakhir—demikianlah firman Allah—bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia…” (Kisah Para Rasul 2:17). 

    Dan Rasul Petrus melanjutkan khotbahnya tentang: “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (Kisah Para Rasul 2:20). Ayat 20 merujuk khusus pada selang waktu peralihan antara misi Raja Damai dan misi Raja Hakim. Ini merujuk pada Matius 24:29 dan juga meterai keenam dalam Wahyu 6.

“Sunyi Senyap”

"You caused judgment to be heard from heaven; the earth feared and was still" (Psalm 76.8).

    Saya terinspirasi oleh Nabi Nahum dalam Nahum 1:3 yang menjelaskan bahwa 'jalan' (pathway) penghukuman Roh Tuhan seolah-olah diumpamakan sebagai “perjalanan puting beliung”. “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.” 

    Puting beliung berpusar membinasakan segala sesuatu yang dilaluinya. Namun, di tengah-tengah pusaran atau jantung puting beliung itu terdapat 'suatu sunyi senyap' yang mengerikan. Bunyi ledakan kemusnahan akan dirasakan setelah 'kesunyian' yang mengerikan itu berlalu. Meterai ketujuh menyatakan: “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.” Namun, ini adalah 'sunyi senyap' di sorga dan bukannya di bumi, maka hal itu berarti suatu urutan upacara yang normal bagi 'nama-nama' Tuhan menurut Ordo Melkisedek sebelum penghakiman dan penghukuman selanjutnya diteruskan di bumi dalam 'nama' Sang Hakim.

    Mungkinkah “murka Tuhan” yang dinubuatkan oleh Nabi Nahum dalam Nahum 1:3 menjelaskan bahwa Sang Hakim akan memperlihatkan manifestasi murka pada penghujung meterai keenam, karena Nabi Nahum menyingkapkan murka Tuhan sebagai “Ia yang berjalan dalam puting beliung” (the pathway of Divine Wrath)? 

    Sang Hakim akan mulai memperlihatkan manifestasi hadirat-Nya sebagai Hakim di bumi setelah upacara Melkisedek di sorga, yaitu setelah “sunyi senyap”—yang berarti “pusat pusaran puting beliung”—menyentuh bumi. Sunyi senyap adalah fenomena pusat puting beliung, namun penglihatan 'roh nubuat' menjelaskan bahwa itu adalah Upacara Melkisedek di sorga! “Meterai ketujuh” yang sunyi senyap dalam Wahyu 8:1–2 memberikan kita pengertian bahwa 'hadirat' Sang Hakim dan rombongan surgawi akan menyentuh seluruh bumi! Maka bermulalah peristiwa Wahyu 8:1–4. 

   Pada ayat ke-5, “…Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi”, menjelaskan bahwa pusat “puting beliung” sebagai simbol 'perjalanan murka Tuhan' itu mulai bergerak ke “murka Tuhan” berikutnya, yaitu murka “sangkakala pertama”—murka Tuhan kategori Sangkakala (the 2nd category of Woe) dalam Wahyu 8:1 sampai Wahyu 10:7. Ya, the pathway of the divine manifestations of divine wraths diungkapkan oleh Nabi Nahum sebagai: “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya” (Nahum 1:3).

    Lagi pula, pada selang waktu di antara “meterai keenam” dan “meterai ketujuh”, upacara (Wahyu 7:1–17) atau karya memeteraikan 144.000 dari kedua belas suku bani Israel akan dijalankan. 12.000 dari setiap suku diberikan “meterai Allah yang hidup”. Meterai itu diberikan oleh penuai gandum (Matius 13), yaitu para malaikat! Pentakosta adalah meterai Roh Kudus, namun Wahyu 7:1–17 adalah “meterai Allah yang hidup” yang diberikan oleh para malaikat! Meterai itu tidaklah dianugerahkan jika Kristus belum turun. Maka, Kristus sudah turun karena “meterai Allah yang hidup” itu tidak dapat dijalankan oleh nama-Nya jikalau Ia belum turun! Sebagai perbandingan, “Kekuatan” Roh Tujuh Lapis tidak dapat diterima selagi Pentakosta itu belum tiba.

    Oleh karena itu, kita tahu “hari-hari terakhir” merujuk pada rentang waktu perdamaian oleh Raja Damai sejak Pentakosta sampai pada saat kedatangan Kristus. Sebab itu, enam meterai dalam Wahyu 6 merujuk pada “siksaan-siksaan” yang akan menimpa umat manusia di bumi yang dihitung mulai dari Pentakosta sampai pada saat kedatangan Kristus (lihat Wahyu 6; Matius 24:29–30; Yoel 2:28; Kisah Para Rasul 2:14–21). 

    Akhir zaman merujuk pada rentang waktu dari Pentakosta sampai kembalinya Kristus; ia juga disebut jam-jam terakhir (the last hours). Namun, jam terakhir (the most last hour) dan saatnya (the exact day) hanya diketahui oleh Allah Bapa saja. Maka, biarpun banyak orang tahu tanda-tanda jam-jam terakhir (the last hours), Kristus telah menyatakan sejak awal bahwa hanya Bapa yang tahu tentang jam (yaitu jam yang paling terakhir) dan saatnya.

    Kita kembali lagi pada pesan hati Tuhan yang disampaikan kepada Nuh, yaitu “pagi” bagi aktivitas menabur. Itulah permulaan Firman mulai ditaburkan ke atas roh manusia, yaitu Nuh setelah air bah. Kita akan melihat rahasia apa yang tersembunyi dalam lirik-lirik hati Tuhan YHVH. Pemazmur mengatakan bahwa tujuan “hati” Tuhan (pesan Firman dalam hati Tuhan) ditujukan kepada semua generasi, yaitu generasi zaman Nuh sampai generasi gerejani. Mereka yang menerima Firman adalah mereka yang “ditaburi” oleh Tuhan dengan Firman.

    "21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: ‘Aku tidak akan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.’” (Kejadian 8:21–22)


    Frasa “Selama bumi masih ada” merujuk pada selang waktu di mana bumi belum saatnya dibersihkan oleh Firman, sebagaimana tergenapnya Firman yang menyatakan pembersihan yang dilakukan Tuhan atas semua makhluk di bawah kolong langit ketika hukuman air bah. Sebelum pembersihan dengan tujuh sangkakala dan tujuh cawan Tuhan ditumpahkan ke atas bumi dengan elemen “api” Tuhan, pekerjaan Tuhan tertuju pada “menabur”, seperti yang diumpamakan oleh Kristus dalam perumpamaan seorang penabur. 

    Hukuman Tuhan atas kota Sodom dan Gomora adalah contoh “penuaian” Tuhan yang dilaksanakan oleh para malaikat. Hanya Lot dan kedua anak perempuannya yang terluput dari penuaian malaikat itu karena Tuhan mengingat Abraham. Lot kemudian menjadi bapa leluhur bangsa Moab melalui hubungan sumbang (incestuous cohabitation) dengan kedua anak gadisnya. Jelas, “penaburan Firman” ke atas penduduk Sodom dan Gomora tidak menghasilkan hasil tuaian apa pun kecuali Lot.

    Maka, pekerjaan “menabur dan menuai” akan berlangsung selama “dingin dan panas” masih ada, dan selama “kemarau dan hujan” berganti-ganti. Menabur dan menuai juga akan berlangsung selagi ada pergantian “siang dan malam.” Semua ungkapan di atas adalah roh, karena Kristus berfirman: Perkataan-perkataan-Ku adalah roh (eKatolik, Yohanes 6.63). Maka, perkataan Tuhan YHVH dalam hati-Nya dalam Kitab Kejadian 8:22 adalah “roh”. Perkataan itu harus dimengerti dengan tangkapan roh yang diilhamkan oleh roh pengertian dan roh hikmat dari Roh Tujuh Lapis, dan tidak semata-mata dirumuskan dengan kemampuan intelek.

    Nabi Yeremia menyampaikan nubuatan bahwa janji Tuhan untuk mewujudkan perdamaian manusia melalui tunas Raja Daud, sang Raja Damai, diumpamakan selama masih ada “siang dan malam” yang berganti-ganti. “25 Beginilah firman TUHAN: Jika Aku tidak menetapkan perjanjian-Ku dengan siang dan malam dan aturan langit dan bumi, 26 maka Aku pasti akan menolak keturunan Yakub dan hamba-Ku Daud, sehingga berhenti mengangkat dari keturunannya orang-orang yang memerintah atas keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Sebab Aku akan memulihkan keadaan mereka dan menyayangi mereka.” (Yeremia 33.25–26).

    Tuhan mengatakan bahwa agenda pemulihan Tuhan atas bani Ibrani adalah seperti penetapan “siang dan malam”. Selagi “siang dan malam” diberitakan berganti-ganti dan selagi aturan langit dan bumi menyatakan agenda perdamaian, Yakub dan pemulihannya tidak akan dilupakan Tuhan. Pemulihan secara rohani itu bermula pada hari Pentakosta. Namun, pemulihan Israel di tanah suci pada era Mesias yang datang dan setelah kedatangan Kristus hanya akan dilaksanakan setelah “malam pun menjadi siang” digenapi (Zakharia 14:7).

    Frasa “tidak ada pergantian siang dan malam” merujuk khusus pada selang waktu “satu masa, dua masa, dan setengah masa”. Ini merujuk pada selang waktu antara pemberitaan misi hukuman dan penghakiman oleh Raja Hakim mulai dari Matius 24:29 atau “meterai ke-6” dalam Wahyu 6 sampai Wahyu 10:7 yang menjelaskan: “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalnya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah diberitakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi.”


Apakah yang Dimaksudkan dengan Frasa “Keputusan Rahasia Allah”?

    Sepintas pikir, kita akan berkata bahwa rahasia Allah adalah Firman atau Kristus. Namun, “genaplah keputusan rahasia Allah” sebenarnya merujuk pada satu penggenapan khusus pada era nama Kristus adalah Hakim menurut pemberitaan para nabi. Ini merujuk pada pemulihan bani Israel, penghakiman dan penghukuman 'binatang-binatang', penghakiman atas 'lalang', dan pemberian upah kepada 'gandum'. 

    Tokoh utama yang memerlukan pemulihan dalam nubuatan Kitab Suci adalah bani Ibrani! House of Jacob dipanggil secara simbolis sebagai Perempuan (Woman). Apakah “keputusan rahasia Allah”? Dalam Daniel 12:7b: “…Satu masa, dan dua masa, dan setengah masa; dan setelah berakhir kuasa perusak bangsa yang kudus itu, maka segala hal ini akan digenapi!”

    Nabi Daniel bernubuat khusus untuk takdir (destiny) bangsa Ibrani yang senantiasa terombang-ambing oleh pergolakan kuasa-kuasa besar di dunia, terutama kuasa-kuasa anti-Firman. Pasal 36 sampai Yehezkiel 39 dalam Kitab Yehezkiel adalah nubuat-nubuat tentang kesesakan bani Israel pada zaman setelah era Matius 24:29. Janji Tuhan kepada Israel melalui nubuat Yehezkiel berbunyi: Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”

    Selama diaspora berlangsung, bani Israel terpecah menjadi dua kelompok 'perempuan', yaitu 'perempuan' menurut Perjanjian Lama dan 'perempuan' yang mengikuti Perjanjian Baru. Israel yang mengikuti Perjanjian Baru tidak mengalami masalah dalam pemulihan penyembahan karena mereka telah menemukan pemulihan rohani. 

    Namun secara menyeluruh, kaum Israel masih menunggu nubuat para nabi perihal pemulihan bani Israel secara menyeluruh di Tanah Suci menurut Firman Tuhan, dan bukannya seperti keadaan tanah Israel yang ada sekarang yang diwujudkan oleh binatang-binatang atau pemerintah bangsa-bangsa pada tahun 1948 AD. Tahun 1948 menggenapi keputusan ("perintah") bangsa-bangsa di dunia, dan bukanlah menggenapi 'pemulihan' sebagaimana yang dinubuatkan oleh para nabi.

    Tanah Israel yang diwujudkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (pemerintah dunia) berdasarkan formula Deklarasi Lord Balfour sebenarnya merupakan suatu ‘penjarahan’ Tanah Suci. Keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidaklah memenuhi kehendak 'penggenapan pemulihan bani Israel' menurut nubuat para nabi! Namun, kembalinya mereka ke sana masih menggenapi beberapa nubuat para nabi, tetapi bukanlah penggenapan bagi pemulihan kerajaan Israel menurut nubuat para nabi. 

    Sebelum pengangkatan Yesus ke sorga, murid-murid-Nya sempat bertanya perihal 'pemulihan kerajaan Israel'. “6 Mereka bertanya: ‘Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’ 7 Jawab-Nya: ‘Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya’” (Kisah Para Rasul 1.6–7). Jawaban Yesus pada ayat ke-7 yang berbunyi “…yang ditetapkan Bapa…” jelas membuktikan bahwa memang ada 'pemulihan' kerajaan Israel pada masa yang akan datang.

    Pemulihan Israel akan bermula apabila kebangkitan Israel dimulai dari “tulang-tulang kering” yang hidup kembali menurut nubuat Nabi Yehezkiel. Harus kita ingat bahwa bani Ibrani adalah mempelai YHVH dalam Perjanjian Lama, tetapi ia telah mati menjadi “tulang-tulang yang kering” karena mereka telah meninggalkan Perjanjian 'darah', yaitu ‘jalan’ perdamaian yang diajarkan menurut Taurat, bahkan mereka juga turut menolak anugerah ‘Jalan’ menurut pekerjaan Kristus (Lukas 24:44). 

    Kelak, mereka akan sampai pada suatu 'titik permulaan' pemulihan Kerajaan Israel yang luar biasa, di mana 12.000 dari setiap suku kaum Israel yang berjumlah 144.000 akan dimeteraikan oleh malaikat dengan “meterai Allah yang hidup”. Bayangkan, 144.000 orang akan turut serta bersama Yesus dalam karya menghakimi, menghukum, dan memerangi binatang-binatang yang memerintah bangsa-bangsa dengan kuasa para malaikat yang menopang mereka!

Pemulihan Israel

    Tuhan tidak akan melupakan tanah Yakub, dan Ia akan memulihkan Israel. Pemulihan Israel menjadi suatu kisah yang sangat menarik karena menyeret semua bangsa di dunia dan melibatkan pergolakan kuasa-kuasa besar di dunia. Takdir Israel dalam nubuat para nabi adalah kunci untuk memahami sejarah dunia.

    Hal itu dinubuatkan dalam Yehezkiel 38:8: “Sesudah waktu yang lama sekali, engkau akan mendapat perintah (Lord Balfour’s declaration dan keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa); pada hari yang terkemudian engkau akan datang (kembali ke Tanah Suci) sesudah musnah karena perang (WWII), dan engkau menuju suatu bangsa yang dikumpulkan dari tengah-tengah banyak bangsa yang dikumpulkan di atas gunung-gunung Israel yang telah lama menjadi reruntuhan. Bangsa ini telah dibawa keluar dari tengah-tengah bangsa, dan mereka semuanya diam dengan aman tenteram.”

    Sejak kemerdekaan Israel pada tahun 1948, mereka kian gencar “menuju suatu bangsa yang dikumpulkan”, namun bukanlah pada tahap pemulihan rohani. Keberadaannya ditentang oleh bangsa-bangsa Arab di sekelilingnya melalui konflik peperangan (Yehezkiel 38:1–7) yang tidak putus-putus. 

    Bahkan pendirian negara sekuler Israel perihal “Tanah Suci” ditentang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (Yehezkiel 38:9). Oleh karena itu, tahun kemerdekaan 1948 bukanlah "pemulihan" bekas pengantin YHVH itu sebagai pemulihan rohani, melainkan menggenapi frasa “menuju suatu bangsa yang dikumpulkan”. Ada satu “titik perubahan” yang dinubuatkan oleh Nabi Yehezkiel akan terjadi atas Israel sekuler yang ada sekarang.


Apakah “Titik” (Point of Sailing) Itu Menurut Nubuat Nabi Yehezkiel?

“15 …Engkau (Gog) dari utara sekali, engkau dengan banyak bangsa yang menyertai engkau, mereka semuanya mengendarai kuda, suatu kumpulan yang besar dan suatu pasukan yang kuat.” (Yehezkiel 38:15). “16 Pada hari yang terkemudian akan terjadi hal itu dan Aku akan membawa engkau (Gog di tanah Magog, yaitu raja agung negeri Mesekh dan Tubal) untuk melawan tanah-Ku, supaya bangsa-bangsa mengenal Aku, pada saat Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan mereka, hai Gog. 17 …Aku sudah berfirman pada hari-hari dahulu kala dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, yaitu nabi-nabi Israel, yang bertahun-tahun bernubuat pada waktu itu, bahwa Aku akan membawa engkau melawan umat-Ku

18 Pada waktu itu, pada saat Gog datang melawan tanah Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH, amarah-Ku akan timbul. 19 Dalam murka-Ku, dalam cemburu-Ku dan dalam api kemurkaan-Ku Aku akan berfirman: Pada hari itu pasti terjadi gempa bumi yang dahsyat di tanah Israel. 20 …Semua manusia di atas bumi akan gentar melihat wajah-Ku (kedatangan Kristus yang kedua atau hadirat-Nya di bumi).

21 Gunung-gunung akan runtuh, lereng-lereng gunung akan longsor, dan tiap tembok akan roboh ke tanah. 22 Dan Aku akan menghukum dia dengan sampar dan tumpahan darah; Aku akan menurunkan hujan lebat, rambun, api, dan hujan belerang ke atasnya dan ke atas tentaranya dan ke atas banyak bangsa yang menyertai dia” (Yehezkiel 38:15–22). Peperangan yang disertai oleh banyak bangsa sebelum terpulihnya penyembahan rohani Israel dinubuatkan dalam “murka Tuhan”, yaitu Sangkakala yang keenam, yaitu peperangan yang melibatkan 200 juta tentara (Wahyu 9:13–17). “…Dan menyatakan diri-Ku di hadapan bangsa-bangsa yang banyak, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN (Yehezkiel 38:23).


Pemulihan Bani Israel

    Meterai pemulihan 12 suku kaum Israel sejati dinyatakan dalam Wahyu 7, dan dinubuatkan 12.000 orang dari setiap suku kaum mendapat “meterai Allah yang hidup” pada dahi mereka, berjumlah 144.000 kesemuanya. Namun, pemulihan bani Israel secara terperinci dinubuatkan oleh Nabi Yehezkiel bermula dari Yehezkiel 36 sampai Yehezkiel 48. Yehezkiel 36:8: “…Gunung-gunung Israel, akan bertunas kembali dan akan memberi buah untuk umat-Ku Israel, sebab mereka akan segera kembali.”

    Tuhan menyatakan misi-Nya (mission-Nya) kepada Israel dalam Yehezkiel 39:7: “Dan Aku akan menyatakan nama-Ku (misi-Ku) yang kudus di tengah-tengah umat-Ku Israel, dan Aku tidak lagi membiarkan nama-Ku (misi-Ku) yang kudus dinajiskan, sehingga bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang Mahakudus di Israel.”

    “25 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Sekarang, Aku akan memulihkan keadaan Yakub dan akan menyayangi seluruh kaum Israel dan cemburu-Ku timbul untuk mempertahankan nama-Ku yang kudus. 26 Mereka akan melupakan noda mereka dan segala ketidaksetiaan mereka… 27 Dan kalau Aku sudah membawa mereka kembali dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari tanah musuh-musuh mereka, dan pada saat Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepada mereka di hadapan bangsa-bangsa yang banyak, 28 maka mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang membawa mereka ke dalam pembuangan di tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka kembali di tanahnya dan Aku tidak membiarkan seorang pun dari padanya tinggal di sana (pembuangan). 29 Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku (hadirat Tuhan) terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 39:25–29).

    Pemulihan Israel di Tanah Suci tidak akan terjadi tanpa melalui kesesakan peperangan bangsa-bangsa seperti dalam Yehezkiel pasal 38–39, yaitu setelah terjadinya peperangan yang melibatkan Gog, raja agung negeri Mesekh dan Tubal, yang menyerang Israel. Orang Persia (Iran, Irak, dan Suriah), Etiopia, dan Put (Libya?) menyertai mereka, dan semuanya dengan perisai dan ketopong. Orang Gomer dengan seluruh tenteranya, Bet-Togarma dari utara sekali dengan seluruh bala tenteranya, banyak bangsa menyertai engkau... Tuhan berfirman: “Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 39.29).


Works Cited:

Bernardus, Dominicus. Alkitab Terjemahan Baru. eKatolik, Google Play Store/Softonic, 2015, Softonic.com. Diakses 22 November 2015. 

The Bible. New Revised Standard Version Catholic Edition, National Council of Churches, 1989. Bible Gateway, ://biblegateway.com.  Accessed 22 November 2015.






___________
to be continued --bersambung di Part 2
_______________

Tidak ada komentar: