Yesus di Hadapan Mahkamah Agama
59 Imam-imam kepala, bahkan
seluruh Mahkamah Agama, mencari kesaksian palsu terhadap Yesus supaya Ia dapat
dihukum mati. 60 Namun, mereka tidak memperolehnya, walaupun banyak saksi dusta
yang tampil. Akhirnya, tampillah dua orang 61 yang berkata, "Orang ini
berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga
hari." 62 Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya,
"Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini
terhadap Engkau?" 63 Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu
kepada-Nya, "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau
Mesias, Anak Allah, atau tidak?" 64 Jawab Yesus, "Engkau telah
mengatakannya. Namun, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak
Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di
langit." (Alkitab Terjemahan Baru, Matius 26.59–64)
Pengakuan Yesus tentang
diri-Nya—seperti yang tertulis dalam Taurat, nubuat para nabi, dan lirik-lirik
dalam Mazmur—telah mempercepat penghakiman oleh Mahkamah Agama terhadap Yesus.
65 Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, "Ia menghujat
Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang kamu telah mendengar
hujat-Nya. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata,
"Ia harus dihukum mati." (Matius 26.65–66)
Pengakuan Yesus melalui
frasa "...datang di atas awan-awan di langit" sebenarnya
tidak mengelirukan pemikiran (precepts) para imam dan saksi. Mereka
sangat memahami bahwa frasa "awan-awan di langit" merujuk pada
Kemuliaan Tuhan (YHVH). Oleh karena itu, pengakuan 'keilahian' Kristus bahwa
Dia setara dengan YHVH telah memuaskan keinginan buta para imam. Mereka berpikir
bahwa mereka telah berhasil menghukum Dia, padahal Dialah sebenarnya yang
berfirman pada zaman Perjanjian Lama. Yesus dituduh menghujat YHVH menurut
penghakiman Mahkamah Agama; padahal Dia sesungguhnya adalah Roh YHVH pada zaman
Perjanjian Lama tersebut.
Berikut adalah beberapa
petikan yang menjelaskan bahwa frasa profetik "datang di atas
awan-awan di langit" merujuk pada kemuliaan hadirat Tuhan;
sekaligus menjadi pernyataan yang jelas mengenai pengakuan keilahian Yesus.
Yesus Kristus mengakui bahwa Dia adalah Ilahi: "Aku dan Bapa
adalah satu" (~Satu Roh).
Contoh
Petikan Frasa “Datang di atas Awan-awan di Langit” dari Taurat, Para Nabi,
Mazmur, dan Kitab Wahyu
1)
"Datang di atas awan-awan di langit" (Petikan dari Kitab Taurat)
9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
"Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan
maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan
engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." 18
Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. Gunung Sinai
ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api;
asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar
sangat. (Keluaran 19.9, 18)
Maka Musa mendaki gunung itu dan awan
itu menutupinya. Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu
menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari
tengah-tengah awan itu. Tampaknya kemuliaan TUHAN sebagai api yang
menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel. Masuklah Musa
ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas
gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya. (Keluaran
24.15–18)
2) "Datang di atas awan-awan di langit"
(Petikan dari Kitab Nabi-Nabi)
"Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas,
dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan
bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang
menciptakan semuanya ini." (Yesaya 45.8)
13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Daniel 7.13–14)
"Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin." (Wahyu 1.7)
3) "Datang di atas awan-awan di langit"
(Petikan dari Kitab Mazmur)
Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang
diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, tidak hendak kami sembunyikan
kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang
kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan
ajaib yang telah dilakukan-Nya. Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan
hukum Taurat diberikan-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk
memperkenalkannya kepada anak-anak mereka... dituntun-Nya mereka dengan awan pada
waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang api. (Mazmur 78.3–5, 14)
Penulis tidak akan
menguraikan perihal penghakiman Mahkamah Agama tersebut, melainkan akan
membagikan pemikiran tentang misteri mengenai "Dia yang datang di atas
awan-awan di langit"; yaitu sebuah frasa profetik perihal kemuliaan
hadirat Roh Tuhan. Yesus dihakimi dan disalibkan sebagai manusia dengan derajat
paling rendah—sebagai hamba yang dijual seharga 30 uang perak—serta sebagai
penghujat Tuhan dalam agama Perjanjian Lama. Namun, kematian-Nya itulah yang
menjadi karya agung-Nya. Dalam kematian-Nya, kehendak Tuhan digenapi karena Dia
menjadi korban penebus salah: Sang Jurupenebus.
Oleh hikmat-Nya, Ia
membenarkan banyak orang (Lihat Yesaya 53). Oleh kematian-Nya, pulau-pulau
menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan dan memuji-muji nama-Nya.
Mengapa
Yesus Kristus Mengatakan bahwa Dia Datang di atas Awan-awan di Langit?
"Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan
setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua
bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin." (Wahyu 1.7)
Dia yang ditakdirkan
sebagai "Domba Allah yang menghapuskan dosa dunia" telah berkata
bahwa 'mulai sekarang' (pada saat Ia dihakimi manusia), engkau (Imam Besar)
akan melihat Dia "datang di atas awan-awan di langit." Hal ini
disebabkan perkataan tersebut merujuk pada kemuliaan-Nya sebagai co-partner Tritunggal:
Hakim atas segala ciptaan! Dalam seluruh nubuatan Kitab Suci, frasa profetik
tersebut merujuk pada Kristus yang dimuliakan di hadapan Bapa. Frasa ini juga
merujuk pada kuasa yang dianugerahkan oleh Bapa, bahwa kuasa penghakiman dan
penghukuman telah diserahkan kepada Anak Manusia yang "memegang segala
kunci maut dan kerajaan maut" (Wahyu 1.18).
Artinya, segala kematian
berada di bawah takluk kekuasaan Kristus, bukan di tangan si Ular Tua. Kristus
bukan sekadar sumber Kehidupan, melainkan Dia juga memiliki segala kekuasaan
yang melampaui segala keberadaan maut, atau "memegang segala kunci maut
dan kerajaan maut" (Wahyu 1.18).
Makna
Frasa “Datang di atas Awan-awan di Langit”
"Awan" yang
terlihat oleh mata telanjang di atas merupakan salah satu fenomena pemandangan
langit yang senantiasa menakjubkan karena keajaibannya. Fenomena ini memberikan
inspirasi kepada manusia karena kedudukannya yang selalu ada di setiap lapisan
langit. Bahkan, awan menimbulkan kegentaran dan kecemasan di hati manusia
ketika menunjukkan tanda-tanda cuaca buruk seperti badai petir yang dahsyat
atau pembentukan angin puting beliung.
"Warna putih suci
awan" tidaklah asing jika dikaitkan dengan "Kemuliaan" Tuhan
yang Mahakudus. Kemuliaan hadirat Roh Tuhan dikaitkan dengan keberadaan
"awan-awan suci (bersifat roh)" yang berkepul-kepul.
"Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan
kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci... kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah
Suci." (Keluaran 40.34–35)
Hadirat "awan-awan Tuhan" adalah
kemuliaan-Nya yang memberikan keadilan kepada bangsa-bangsa (Mazmur
97.6). Awan-awan itu juga mewakili malaikat-malaikat Tuhan yang tak
terhitung jumlahnya, yang hadir sebagai rombongan hadirat Tuhan. Hadirat Roh
Tuhan tersebut kelihatan seperti "tiang awan dan berhenti di pintu kemah
apabila Musa memasuki Kemah" (Keluaran 33.9). Raja Daud
bernyanyi:
11Ia mengendarai kerub,
lalu terbang, dan tampak di atas sayap angin.
12 Dan Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. (2 Samuel 22.11–12)
“Awan-awan” itu dalah para malaikat Tuhan. Awan
juga melambangkan kemuliaan-Nya dalam murka-Nya.
"Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar
dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni surgawi?" (Mazmur
89.7)
Orang-orang kudus yang
kembali ke bumi seperti dalam Zakaria 14:5b juga diberitakan sebagai
"awan-awan untuk melayang-layang ke seluruh dunia, maka dilaksanakannya
apa yang dititahkan-Nya itu" (Barukh 6.61).
Baik saat Tuhan menampakkan
kemuliaan-Nya di atas takhta-Nya (di atas Tabut Perjanjian) maupun pada saat Ia
murka, elemen-elemen langit secara jelas dinyatakan sebagai 'pelaksana' Firman
Tuhan.
"Pujilah TUHAN... hai api dan hujan es, salju
dan kabut (awan), angin badai yang melakukan firman-Nya." (Mazmur
148.8)
Mengapa elemen-elemen langit
tersebut melaksanakan Firman? Jawabannya sederhana: seluruh elemen langit
tersebut "menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2).
"Fire, hail, snow, clouds,
and stormy wind are fulfilling His Word."
Oleh karena itu, kita tahu bahwa
pada kedatangan Kristus yang kedua kali, Kristus telah bernubuat dalam Matius
24:30:
"Pada waktu itu akan tampak
tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia dan
mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan
segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya."
"Awan-awan"
(bersama Roh Tuhan) memberitakan kemuliaan-Nya sebagai Hakim, karena pemazmur
bernyanyi: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala
memberitakan pekerjaan tangan-Nya." Sebagaimana
"awan-awan" itu muncul dalam hadirat Tuhan, demikian pulalah
awan-awan tersebut memberitakan kemuliaan Sang Hakim dan memberitakan pekerjaan
tangan-Nya. Jadi, kita tidak hanya melihat awan-awan, tetapi juga halilintar!
Sebelum Dia datang di atas
awan-awan, telah dinubuatkan bahwa:
"...maka terjadilah
gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut
dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. 13 Dan bintang-bintang di
langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya
yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. 14 Maka
menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan bergeserlah
gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya." (Wahyu 6.12b–14)
Mengapa
Langit Menyusut Bagaikan Gulungan Kitab yang Digulung?
Untuk menjawab mengapa
langit menyusut sebelum Ia turun di atas awan-awan, kita perlu menyelidiki
bagaimana Yesus Kristus terangkat ke surga!
9...terangkatlah Ia
disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 10 Ketika
mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua
orang yang berpakaian putih dekat mereka, 11 dan berkata kepada mereka:
"Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus
ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara
yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." (Kisah Para
Rasul 1.9–11)
Mengapa
pula "awan" perlu menutup-Nya?
Kita tahu bahwa
"awan" seolah-olah merupakan entitas langit yang melaksanakan
Firman (Mazmur 148.8). Yang dimaksud dengan firman 'awan-awan'
adalah para malaikat Tuhan. Mereka juga diungkapkan sebagai
"bintang-bintang" seperti dalam Kitab Wahyu. Tuhanlah yang
memerintahkan “awan-awan” tersebut agar menutupi Yesus Kristus yang terangkat
naik ke Sorga. Dalam Mazmur 78:23, Tuhan memerintahkan awan-awan (Kerubim), dan
pintu-pintu surga pun dibuka! Jika demikian, tentu Dialah yang memerintahkan
"awan-awan" itu menutupi-Nya, seolah-olah menutupi pintu surga.
"He
commanded the clouds above, and opened the doors of heaven;"(New American Standard Bible, Psalm 78.23)
Pemazmur juga bernyanyi:
"He who covers the heaven
with clouds," (Psalm 147.8)
Tidak mengherankan jika langit
akan menyusut—yaitu awan-awan akan menggulung seperti gulungan kitab—untuk
membuka "pintu" bagi "Pengantin laki-laki yang keluar
dari kamarnya..." (Mazmur 19.6). Awan-awan tersebut
memiliki sifat demikian karena Roh Tuhanlah yang memerintahkannya.
Sekilas
Perihal "Langit" pada Hari Pentakosta
Pada hari Pentakosta, yaitu
perhitungan 50 hari dari hari kebangkitan Yesus, entitas langit yang
memberitakan pekerjaan tangan Tuhan hanyalah "angin" dan
"api".
2 Tiba-tiba turunlah dari
langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di
mana mereka duduk; 3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api
yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (Kisah Para Rasul
2.2–3)
Karena Roh Kudus disebut Ruach
Ha-Kodesh, pemberitaan langit hanya melibatkan "angin" dan
"api", tepat seperti yang dinubuatkan oleh para nabi:
"...yang membuat angin
sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai
pelayan-pelayan-Mu," (Mazmur 104.4)
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran
yang melaksanakan karya Kristus bagi umat manusia di bumi: Firman Allah.
"He makes the winds His
messengers, flaming fires His ministers" (Psalm
104.4)
Mengapa hari Pentakosta tidak
dikaitkan dengan "awan-awan", melainkan hanya diberitakan melalui
"angin" dan "api"?
Mengapa
hari Pentakosta tidak dikaitkan dengan "awan-awan", melainkan hanya
diberitakan melalui "angin" dan "api"?
Sebab "awan-awan"
adalah pelaksana Firman-Nya (malaikat~ Mazmur 103:20–21) dengan mendengarkan suara Firman-Nya. Raja Damai/Raja Yesus Kristus adalah Firman Allah Bapa yang diutus sebagai Anak manusia! Walaupun Roh Kudus adalah Tuhan, kita tidak pernah menyebut Roh Kudus sebagai Raja. Hanya Yahweh dan Kristus Yesus sahaja yang disebut gelaran 'Raja' seperti Raja di atas segala raja, Raja Kemuliaan, Raja Kebenaran dan Raja Damai, karena nama-nama mereka menyatakan kekuasaan karya,
dan Kerajaan Allah dijelaskan melalui nubuatan-nubuatan.
Maka, "awan-awan"
tidak diperintahkan oleh Allah Bapa untuk menyatakan kemuliaan Tuhan sewaktu turunnya
Roh Kudus pada hari Pentakosta. Demikian pula halnya ketika Roh Kudus mengurapi
orang-orang pilihan Tuhan dalam Perjanjian Lama. Kemuliaan yang dinyatakan
melalui pemberitaan "awan-awan" hanya menyertai hadirat Roh Ilahi
yang bergelar "Raja", yaitu Raja YHVH dan Raja Yesus Kristus yang
akan datang kelak. Dengan demikian, Kristus yang dimuliakan Bapa dinyatakan
kembali sebagai yang "datang di atas awan-awan di langit."
Kita tidak pernah
menggelari Roh Kudus sebagai 'Raja' karena gelaran sedemikian bukan saja
janggal, melainkan juga frasa yang tidak sesuai dengan bahasa profetik. Sungguh
unik, tetapi benar! Oleh sebab itu, Pentakosta tidak dikaitkan dengan
"awan-awan." Ia hanya dikaitkan dengan "lidah api" dan 'deruan angin" dari Sorga.
Bagaimanapun juga, orang percaya bisa saja mendapat penglihatan tentang "awan-awan" dalam doa-doa pribadi mereka. Para malaikat senantiasa mengamati manusia di bumi dan selalu bersedia melaksanakan firman-Nya serta mematuhi suara firman-Nya.
Sitasi Alkitab:
Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 15 Agustus 2026.
New American Standard Bible (NASB). Bible
gateway, ://biblegateway.com. Accessed 01 December 2015.
to be continued.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar