Senin, 28 September 2015

'Langit' (heavens) menceritakan kemuliaan Allah, dan 'cakrawala' (sky) memberitakan 'pekerjaan' ('nama') tangan-Nya;(Mzm 19:2)




    "Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Alkitab Terjemahan Baru, Yohanes 4:24). Sang Pencipta bekerja siang dan malam tanpa henti untuk memperdamaikan antara diri-Nya yang Mahasuci dengan umat manusia yang berdosa (Mazmur 68:19). Mayoritas orang percaya bergantung pada tiga kategori catatan firman Tuhan yang tertulis dan diwahyukan kepada para nabi. Ketiga kategori tertulis itu merupakan Firman-Nya yang ditulis oleh nabi-nabi Perjanjian Lama.

    Yesus Kristus sendiri pernah bersabda: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." (Lukas 24:44). Artinya, Yesus  telah mengakui (mengiktiraf) tiga kategori catatan firman yang ditulis oleh para nabi: seluruh Taurat, seluruh kitab-kitab para nabi, dan kitab Mazmur. Ketiga sumber Firman tertulis itu memberitakan Injil Allah yang akan datang ke dunia untuk mengadakan Perjanjian Baru, sekaligus menawarkan Kasih Karunia kepada semua bangsa-bangsa melalui penuaian gereja. 'Nama' Yesus Kristus adalah Firman Allah (Wahyu 19:13b; Yohanes 1:1). Justeru, karya Kristus dapat kita baca berdasarkan tiga sumber Firman yang bertulis berikut: 

(1)  Seluruh Hukum Suci Tuhan dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama (All the Holy Divine Laws);

(2)  Seluruh nubuatan atau "pesan" Tuhan, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru (Written Prophecies or 'Spoken' words); serta

(3)  Seluruh lirik puitis dari hati Tuhan (Divine Lyrics), baik dalam Kitab Mazmur maupun dalam kitab-kitab para nabi.

    Kedatangan Kristus yang pertama ketika Ia menjadi manusia (terbalut daging) berfokus pada penggenapan seluruh Taurat, kitab-kitab para nabi, dan juga Mazmur (Lukas24:44). Kematian-Nya di Kayu Salib Suci merupakan kulminasi dari karya penganugerahan berkat Pendamaian, Penebusan, dan Keselamatan bagi seluruh umat manusia.

    Sebelum era ini, dalam Perjanjian Lama, ketiga berkat tersebut sering kali terbatal; bahkan Tuhan YHVH tidak berkenan turun karena pemimpin upacara (Imam Besar) atau gembala serta persembahan korban sering kali gagal menuruti Firman Allah, sehingga berkat yang dipohonkan tidak terwujud. Seluruh upacara darah binatang dalam Perjanjian Lama diizinkan oleh Bapa Yahweh sekadar sebagai bayangan bagi Altar Melkisedek yang sejati, yaitu Kayu Salib Yesus yang dilayani oleh Tuhan Tritunggal sendiri, di mana korban-Nya adalah Domba Paskah Allah, yaitu Sang Anak Manusia.

    Sederhananya, hal ini terlihat sebagai transisi dari upacara-upacara yang dilayankan oleh manusia menurut ritus YHVH menuju penyempurnaan Upacara Altar Melkisedek yang dilayani di bumi oleh Pribadi Tuhan Yesus Kristus sendiri. Tuhan Yesus sendiri yang melayani kematian suci-Nya guna menyempurnakan seluruh upacara Perjanjian Lama yang hanya bersifat tipologi atau bayangan Kristus!

    Kedatangan Kristus yang kedua adalah misi ['nama'] sebagai Hakim yang Mahaadil; hal itu haruslah juga dilihat menggenapi atau tidak menyimpang dari Firman-Nya dalam (Lukas 24:44). Semua nubuat ataupun wahyu pribadi yang dikumandangkan oleh para santa dan santo Gereja hendaklah mengiyakan dasar pekerjaan Kristus yang diketahui oleh umat Tuhan, yaitu sebagaimana kata-kata-Nya dalam (Lukas 24:44). Allah Bapa, Allah Roh Kudus, dan Kristus 'berkarya' menurut dasar yang sama, karena Mereka adalah Tuhan yang Satu Roh. 

    Kitab Mazmur adalah nyanyian yang mengandung Firman [Lyrics] yang bercampur dengan 'lirik-lirik' karangan para nabi. Sebagian besar lagu dalam Mazmur dikarang oleh Raja Daud, serta kompilasi lirik dan lagu dari para nabi YHVH. Salah satu dari asas pekerjaan Tuhan Yesus yang harus disempurnakan berasal dari "Lirik-Lirik Tuhan Yahweh." Raja Daud dikatakan sangat dekat di hati Tuhan dan banyak mendengar lirik ucapan hati Tuhan [...the Secrets of the Covenants of God... (Mazmur 25:14)].

    Lirik-lirik puisi Tuhan dalam Kitab Mazmur, ketika tersingkap, akan menyingkapkan rahasia-rahasia karya atau misi keselamatan Kristus. Kitab Mazmur menyimpan informasi rohani mengenai Perjanjian Damai, pengadilan, serta penghukuman atas seluruh bangsa di bumi. Perjanjian Damai tersebut diungkapkan melalui frasa lirik "siang dan malam yang tanpa henti". Ucapan Kristus, "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu," akan berakhir ketika lirik "siang dan malam"—yang merupakan puitisasi hati Tuhan dalam Kejadian 8:22—berubah menjadi "tanpa siang dan tanpa malam", atau ketika makna liriknya berbalik seperti dalam Zakharia 14:6-7, Matius 24:29, dan Wahyu 6:12-15.

    Lirik-lirik puisi dalam Matius 24:29 sebenarnya merupakan suatu "pemberitaan" yang berkaitan dengan maksud lirik Mazmur 19:1 mengenai penghakiman (judgment) yang akan dilaksanakan oleh Kristus sebagai Hakim pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Hal tersebut merupakan "pemberitaan" tanda di langit yang sekaligus berfungsi sebagai titik peralihan karya Tuhan, yaitu pengakhiran masa pendamaian serta permulaan pengadilan dan penghukuman. 

    Pengumuman penghakiman (judgment) dalam Matius 24:29 tergolong dalam kategori Firman ketiga (3), yakni berdasarkan lirik-lirik puitis dari hati Tuhan yang disampaikan oleh Kristus saat Ia berkhotbah di Bukit Zaitun. Peristiwa tersebut disertai tanda-tanda di bumi, di langit, dan di surga secara serentak!

"The heavens declare the glory of God; the skies proclaim the work of his hands." (New International Version, Psalm 19:1)

Kunci Penafsiran:

    Frasa "...Langit (the skies) memberitakan..." merupakan bahasa Roh Tuhan yang puitis dan tidak merujuk secara harfiah pada langit fisik yang tampak oleh mata telanjang di atas kepala kita. Frasa ini melainkan merujuk kepada "alam roh" yang kita saksikan saat kita berdoa dan menerima penglihatan-penglihatan surgawi. Roh katalah yang melihat melalui mata rohani, bukan mata fisik milik tubuh jiwa.

    Kata "langit" (heavens atau skies) di dalam Alkitab memiliki tiga pengertian yang berbeda, bergantung pada konteks penyampaian pesan roh tersebut. Ketika menemukan kata "langit", umumnya kata itu berkaitan dengan pemandangan seperti matahari, bulan, bintang-bintang, cuaca (panas atau dingin), musim, serta siang atau malam. Meskipun demikian, tanpa anugerah roh hikmat dan roh pengertian, kita tidak akan menyadari adanya tiga makna yang berbeda di balik kata "langit". Oleh karena itu, kata "langit" (heavens atau skies) dalam Firman Suci Tuhan di Alkitab dapat merujuk pada salah satu dari daftar pengertian di bawah ini:

                              
Langit harfiah cuma memberitahukan kita tentang cuaca. Ia tidaklah memberitakan 'karya atau Nama Tuhan.



  1. Langit fisik (langit sebenarnya): merujuk pada beberapa lapisan atmosfer langit dan angkasa luar, di mana National Aeronautics and Space Administration (NASA) menjadi salah satu lembaga yang memiliki otoritas ilmiah dalam menafsirkan serta merumuskan realitasnya.

  2. Langit penglihatan gabungan: merujuk pada "alam langit" yang disaksikan seseorang, di mana manifestasi alam roh tersebut menyertai atau memperkaya pemandangan langit fisik yang sebenarnya. Contohnya adalah Bintang Betlehem yang hanya dilihat oleh tiga orang majus dari Timur.

  3. Langit profetik (bahasa Roh Tuhan): merujuk pada pemandangan langit yang disaksikan dalam penglihatan (the skies seen in vision) sesuai Yohanes 6:63. Pengertian ini hanya dapat dilihat dan dipahami oleh orang percaya yang dianugerahi kesempatan untuk memasuki kehadiran Roh Kudus serta dikaruniai karunia hikmat dan pengertian.  "Langit" kategori ketiga (poin 3) inilah yang dimaksudkan dalam Matius 24:29; Kejadian 8:22; Zakharia 14:6-7; dan Wahyu 6:12-15. Dalam tulisan ini, kata "langit" atau fenomena apa pun di "langit" (skies atau heavenly luminaries) merujuk secara khusus pada pengertian kategori ketiga, yaitu "bahasa" Roh Tuhan. "Langit" dalam kategori pengertian ini merujuk pada alam roh (the spirit's realm).


    Kedua kata, yaitu "heavens" dan "skies", dalam Kitab Mazmur 19:1-4 dan Mazmur 50:3-6 merujuk pada bahasa Roh yang menggunakan lirik-lirik puitis untuk "memberitakan" pekerjaan Tuhan melalui ungkapan pesan yang disampaikan oleh "matahari", "bulan", dan "bintang-bintang" (or simply the heavenly luminaries that pronounce the work of the hand of God). Daud menyanyikan lirik-lirik tentang pemandangan di langit yang bermakna bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang bergerak menurut bahasa Roh. Langit itu "memberitakan pekerjaan tangan Tuhan atau misi-Nya".

    Lirik-lirik tentang langit "memberitakan" misi Ilahi (nama Tuhan). Dengan kata lain, selain melalui tipologi (typology) dalam pengajaran Hukum Taurat dan nubuatan para nabi Tuhan, karya Tuhan juga diberitakan oleh lirik-lirik puitis dari lubuk hati Tuhan, seperti lagu-lagu dalam Kitab Mazmur. Ringkasnya, lirik lagu tentang Tuhan maupun Kitab Mazmur memberitakan karya atau pekerjaan Tuhan. Contoh-contoh lirik Tuhan selain dari Kitab Mazmur adalah Kejadian 8:22, Zakharia 14:6-7, dan Matius 24:29.

    Matius 24:29 yang dinubuatkan oleh Yesus Kristus di Bukit Zaitun berfungsi secara khusus untuk "mengumumkan" misi (nama) penghakiman dan penghukuman oleh Sang Hakim. Ayat 29 tersebut juga berfungsi sebagai "titik peralihan" (point of sailing) bagi misi penghakiman yang dilaksanakan oleh Kristus saat Ia kembali ke bumi. Ayat ini menjadi titik peralihan karya Roh Tuhan, yaitu dari misi "Pendamaian" oleh Raja Damai menjadi "Penghukuman dan Penghakiman" atas dunia oleh Sang Hakim. 

    Saving justice (keadilan yang menyelamatkan) akan dianugerahkan kepada orang-orang percaya selama "satu waktu, dua waktu, dan setengah waktu" (a time, times, and half a time). Saving justice ini bermakna bahwa meskipun "gandum" dihakimi—bahkan mungkin tubuh jasmani mereka menempuh berbagai penghukuman Ilahi—roh mereka (sang "gandum") tetap dianugerahi keselamatan untuk mengecap kehidupan kekal abadi.


    Frasa "satu waktu, dua waktu, dan setengah waktu", jika diterjemahkan ke dalam angka, menjadi 7, 7 × 7, dan 7 × ½, yaitu 7 tahun, 49 tahun, dan 3,5 tahun yang menurut pendapat penulis telah dimulai pada 8 Maret 2011. Rhyme tersebut dihitung berdasarkan kalender bulan Ibrani, dan jika dikonversikan ke dalam kalender matahari modern, jangka waktunya adalah sekitar 58,9033 tahun. (Catatan: Tanggal 8 Maret 2011 M adalah perkiraan/prediksi penulis mengenai permulaan "a time", dan perkiraan ini tidak berkaitan langsung dengan otoritas mana pun dari institusi gereja mana pun. Jangan khawatir dengan prediksi tanggal tersebut, sebab hakikatnya "murka" Tuhan telah dimulai sejak di Pohon Pengetahuan Tentang Yang Baik dan Yang Jahat, ketika Adam dan Hawa baru saja melanggar hukum di Eden. Selain itu, Raja Daud menyanyikan bahwa murka-Nya ditumpahkan "setiap hari", atau dalam versi bahasa Inggris berbunyi "His wraths are daily expressed on earth".)

    "A time" akan berlangsung selama 7 tahun (genap satu tahun Sabat) sebelum hari Kristus Yesus turun ke bumi. Rasul Petrus, dalam catatan Kitab Kisah Para Rasul, mengutip nubuatan Nabi Yoel bahwa lirik langit "matahari menjadi gelap dan bulan menjadi merah darah" akan diberitakan "sebelum" hari Tuhan itu datang (lihat Kisah Para Rasul 2:19-21; Matius 24:29-30). Oleh karena itu, sepanjang tujuh tahun terakhir sebelum Kristus sebagai Hakim turun, "sangkakala" (shofar)—yaitu Roh Kristus yang diwakili oleh Roh Kudus—akan menyampaikan pesan "kedatangan Kristus sebagai Hakim yang Mahaadil" kepada umat Perjanjian (Mazmur 81:3) di bumi, agar mereka tetap dapat menuruti Jalan, Pintu, dan Kunci. 

    Dalam bahasa nubuatan Nabi Yesaya, hal itu berbunyi "masuk" ke dalam "kamar/bahtera", sampai tiba saat kedatangan Kristus sebagai Hakim (Yesaya 26:20-21). Demikian pula dua nafiri perak (silver trumpets) dalam Bilangan 10:10 yang bernubuat secara tipologi (typology) mengenai dua penghulu malaikat (archangels) yang akan mengingatkan dan memanggil umat Perjanjian untuk terus menuruti Firman, supaya mereka senantiasa diperdamaikan sepanjang periode tujuh tahun terakhir tersebut (...trumpeting the last seven callings; embarking the "Ark" i.e. "entering your own chamber").

    Pada tiupan sangkakala (kedua nafiri perak/dua malaikat) yang ketujuh (at the last trumpet)—yaitu tepat pada tahun ketujuh bagi "a time"—maka "rahasia" yang disampaikan Rasul Paulus akan digenapi (1 Korintus 15:51-54). Frasa "dalam sekejap mata" pada ayat 52 tidak dimaknai secara harfiah sebagai benar-benar "sekejap mata", melainkan merujuk pada rentang waktu 50 hari yang dihitung dari Perayaan Paskah (sesuai dengan ajaran teofani/theophany) hingga penggenapan hari ke-50. Rentang waktu tersebut juga merujuk pada fenomena rohani, yaitu "transformasi" rohani sebagaimana yang telah dialami oleh Nabi Musa, Nabi Elia, dan Yesus Kristus. Transformasi tersebut menjelaskan bahwa mereka harus melewati 40 hari dan 40 malam sebagai proses transformasi roh. Orang-orang pilihan (the elect) yang masih hidup akan mengalami transformasi dalam jangka waktu 40 hari 40 malam, dan periode ini tercakup di dalam rentang waktu 50 hari tersebut. Adapun 10 hari pertama mendahului periode 40 hari tersebut, yaitu masa "kebangkitan" bagi mereka yang telah tertidur (meninggal).

    Dalam Perjanjian Lama, umat Israel dipanggil dengan peniupan dua nafiri perak sebagai isyarat bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan (Bilangan 10). Shofar dibunyikan untuk mengumumkan kedatangan (arrival) tahun baru, yaitu pada Hari Bulan Baru (hari pertama di bulan pertama, Abib/Aviv) setiap tahun (Mazmur 81:3-4a). Meniup shofar pada hari kedatangan Bulan Baru merupakan dekrit Tuhan untuk selama-lamanya (dekrit berarti keputusan Ilahi yang tidak dapat ditarik kembali). Mengapa hal itu menjadi dekrit?

   Meskipun Yesus sendiri telah memberitakan kedatangan-Nya yang kedua di Bukit Zaitun—sesuai dengan konsistensi Firman Tuhan menurut nubuatan Yesaya 46:10—dan terus dikumandangkan pasca-Pentakosta melalui surat-surat yang hidup dari Tuhan, bahkan doksologi Katolik pun senantiasa mengikrarkan pengakuan dalam setiap Misa Kudus bahwa "Kristus akan kembali", namun tiupan shofar sepanjang periode 7 tahun terakhir pada hakikatnya menggenapi tipologi kiamat pertama.

    Nuh telah memasuki bahtera (ark) 7 hari sebelum murka Tuhan ditumpahkan ke bumi. Nuh-lah yang mendahului masuk ke dalam "kamar" (bahtera) tersebut, lalu semua pasangan spesies binatang yang terpilih datang kepada Nuh, hingga kemudian pintu bahtera itu ditutup oleh "tangan" Tuhan. Bahtera tersebut merupakan tipologi Perjanjian Tuhan dengan orang-orang pilihan-Nya (the elect). Membangun bahtera adalah Perjanjian antara Tuhan dan Nuh. 

    Oleh karena itu, penyerahan diri ke dalam Perjanjian akan tetap sah selama "Pintu" Perjanjian Pendamaian tersebut belum ditutup oleh tangan (nama) Tuhan. Orang-orang terpilih yang memasuki Perjanjian Pendamaian (bahtera) oleh Raja Damai akan terus-menerus "masuk kamar" selama pintu pendamaian belum ditutup. Bahtera adalah tipologi Perjanjian dan memiliki bilik-bilik atau kamar (chambers/compartments). Setiap orang yang memasuki Perjanjian perlu memasuki kamar atau kabinnya sendiri; hal ini bermakna bahwa setiap umat perjanjian harus mahir dalam roh doa (the Spirit of prayer). 

    Nabi Yesaya bernubuat mengenai persiapan menghadapi Penghakiman Tuhan, yaitu memasuki kamar masing-masing: "20 Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutup pintu di belakangmu; bersembunyilah sebentar sampai amarah itu berlalu. 21 Sebab sesungguhnya, TUHAN keluar dari tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya; bumi akan menyingkapkan darah yang tertumpah di atasnya dan tidak lagi menutupi orang-orang yang terbunuh di sana" (Alkitab Terjemahan Baru, Yesaya 26:20-21).

    Siapakah yang akan menutup pintu Perjanjian Pendamaian? Firman Allah menyatakan bahwa yang menutup Pintu adalah tangan Tuhan. Tangan Tuhan-lah yang akan menutup pintu tersebut. Tangan menggambarkan buatan tangan (handiwork) atau karya Tuhan, di mana karya tersebut juga diungkapkan sebagai "nama" Tuhan. Jadi, nama Tuhan-lah yang akan menutup Pintu. Dalam Perjanjian Pendamaian antara Tuhan dan manusia di bumi oleh Raja Damai, urusan menutup pintu pendamaian adalah wewenang tangan Tuhan. 

    Yesus Kristus (Raja Damai) berkata, "Akulah Pintu." Maka, yang membuka Pintu Pendamaian adalah Yesus Kristus. Penghakiman dan Penghukuman akan dimulai penyempurnaannya di bumi oleh tangan Tuhan Sang Hakim. Nama Tuhan sebagai Hakim adalah "tangan" yang menutup Pintu Pendamaian. Raja Damai membuka Pintu Pendamaian, tetapi Sang Hakim yang akan menutup Pintu Pendamaian tersebut.   Itu bukanlah berarti orang percaya yang memiliki karunia takut akan Tuhan tidak dapat memasuki hadirat Hakim, melainkan gereja pada masa kesusuhan besar tidaklah diberikan kuasa untuk menuai jiwa-jiwa. Para malaikat yang menggantikan gereja menjadi the harvesters.

    Bilakah pintu Perjanjian Pendamaian akan ditutup? Atau bilakah Perjanjian Baru oleh Raja Damai (Prince of Peace) akan ditutup pintunya? Kita sebenarnya akan mengalami kesulitan besar untuk memprediksi tanggal kedatangan Sang Hakim (kedatangan Kristus yang kedua kali) jika kita kekurangan hikmat dan pengertian. Namun, kita memiliki panduan rohani secara umum untuk membaca tanda-tanda (signs) yang disingkapkan oleh Roh Kudus. Saat kedatangan Sang Hakim memiliki tanda di surga, tanda di langit, dan tanda di bumi yang terjadi secara serentak. Ketika tanda-tanda itu terlihat dinyatakan secara simultan di ketiga alam roh (yaitu surga, langit, dan alam roh di bumi)—yang disaksikan dalam penglihatan rohani (spiritual visions)—maka besar kemungkinan Sang Hakim sudah ada di bumi!

    Mengapa "tangan" Tuhan yang menutup pintu bahtera tersebut? Bahtera (Perjanjian) yang dibangun menurut kehendak Firman sudah sepantasnya hanya ditutup oleh tangan Tuhan sendiri. Jalan untuk menerima "anugerah Pendamaian" yang disempurnakan oleh salib Kristus atau Raja Damai hanya layak ditutup oleh tangan (nama) Tuhan saja. Nama Tuhan yang menutup Perjanjian Pendamaian adalah "Hakim". Raja Damai yang telah membuka pintu Pendamaian, Yeshua, berkata, "Akulah pintu..." dan Ia menyatakan, "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu." Pada ketika itu, pintu Tabernakel Perjanjian Lama di Yerusalem telah ditutup! 

    Pintu tabernakel Yerusalem telah ditutup dan 'Pintu' Perjanjian Perdamaian telah dibuka karena Yesus bersabda "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu" dan juga "Akulah Pintu...".  Ini memang merupakan salam (greeting) dari Sang Raja Damai! Ketika kelak Pintu Pendamaian ditutup, maka berakhirlah Perjanjian Pendamaian antara Tuhan dan umat manusia di bumi. Salam yang berbunyi "Damai sejahtera-Ku berikan kepadamu" akan berhenti berkumandang. Kondisi ketiadaan Perjanjian Pendamaian antara Tuhan dan umat manusia ini dinubuatkan dalam ritme (rhyme) "a time, times and half a time", atau singkatnya "Penghakiman" (Judgment). Penghakiman dan penghukuman tersebut dilaksanakan oleh tujuh tanduk, tujuh mata, dan tujuh Roh bersama para malaikat penuai atas penduduk di muka bumi. Gereja tidak menuai karena para malaikat yang menuai! Gereja diseru masuk 'kamar' selalu (Matius 5:6; Yesaya 26:20-21)!

    Penabur mulai menabur pada pagi hari, dan Ia akan kembali menuai pada petang hari. Oleh karena itu, bilakah "hari Tuhan" itu tiba? Hal itu sangat mudah "dibaca" karena terdapat banyak tanda dari petikan nubuatan para nabi yang menunjuk pada waktu "petang" tersebut, seperti dalam Zakharia 14:5d-7 dan Kisah Para Rasul 2:20. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa sebelum hari Tuhan tiba, orang-orang percaya akan menyaksikan penglihatan rohani di alam langit, di mana "matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu." 

    Sebelum hari Tuhan tiba, bulan terlihat menjadi darah; sedangkan pada hari Tuhan, bulan "tidak bercahaya". Bulan sudah menjadi merah darah sejak Hari Pentakosta, karena Pentakosta pada hakikatnya merupakan permulaan penghakiman dan penghukuman bagi "ibunda umat Tuhan", yaitu Israel, serta penghakiman atas bangsa-bangsa. Namun, penghakiman dan penghukuman tersebut tidak disempurnakan oleh Roh Kudus, sebab Roh Kudus yang mulai dicurahkan pada Hari Pentakosta merupakan kesinambungan misi era Pendamaian yang dimulai melalui kurban di bumi oleh kematian Kristus di kayu salib. Kita menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim untuk menyempurnakan penghakiman dan penghukuman atas seluruh bangsa di dunia. Jadi, Hari Pentakosta pada hakikatnya merupakan titik awal bagi akhir zaman bangsa-bangsa. Santo Yohanes menulis dalam suratnya bahwa pada masa awal gereja pun telah muncul banyak antikristus, menandakan bahwa itu merupakan jam-jam terakhir bagi zaman bangsa-bangsa.

     Zaman bangsa-bangsa dimulai di Menara Babel Kuno (Kejadian 11). Sebelum Menara Babel dihukum, penduduk dunia hanya terdiri dari satu bangsa dengan satu bahasa tuturan. Namun setelah penghakiman dan penghukuman, bangsa yang satu itu terpecah menjadi banyak bangsa dan beragam bahasa. Manusia di dunia yang pernah bersatu menjadi satu bangsa dan satu bahasa tersebut pernah ada, tetapi kemudian tidak ada lagi karena para malaikat turun melaksanakan penghakiman atas Menara Babel lalu mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak lagi diperhambakan sebagai satu bangsa oleh penguasa dunia. Kendati demikian, dunia yang menyatu seperti pada zaman Menara Babel akan muncul kembali, yakni dalam era Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah panji-panji Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB).

    Kedatangan Kristus sebagai Hakim bertujuan untuk melanjutkan dan menyempurnakan penghakiman serta penghukuman atas bangsa-bangsa di dunia yang tidak disempurnakan oleh misi Roh Kudus. Roh Kudus melaksanakan misi kesinambungan Pendamaian oleh Raja Damai, tetapi pada saat yang sama Ia juga berkarya sebagai Hakim di atas bumi yang menghakimi "ibunda umat Tuhan". Penghakiman atas "ibunda umat Tuhan" ini disingkapkan melalui frasa "bulan menjadi merah darah": kaum Ibrani sebagai ibunda umat Tuhan (the moon / the motherhood of the people of God) mengalami penganiayaan berdarah (bloody moon) oleh penguasa bangsa-bangsa, seperti yang dilakukan Hitler pada Perang Dunia II.

    Bangsa Israel senantiasa menyandang sebutan simbolis sebagai "ibunda umat Tuhan" di bumi, sebagaimana Hawa (Eve) yang menjadi simbol keibuan bagi semua orang di bumi yang percaya kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi serta Bapa dari segala roh. Mereka yang berhenti percaya kepada Allah sebagai Pencipta pada akhirnya memisahkan diri dari warisan rohani keibuan Hawa. "Perempuan" yang terluka tersebut tetap percaya kepada Allah sebagai Sang Pencipta Tertinggi. Sebaliknya, mereka yang tidak lagi berdiri di sisi Hawa pada akhirnya diperhambakan oleh nama-nama "binatang" (beasts) di bumi yang menyebarkan kebohongan dari si Ular Tua. 

    Bangsa Israel telah ditetapkan untuk menjadi pembawa identitas nubuat-keibuan-Hawa, yakni sang "perempuan"—umat Allah di bumi! Dalam Wahyu 12, istilah "perempuan" merujuk pada keibuan umat Allah, yaitu bangsa Israel, sedangkan orang-orang bukan Yahudi (gentiles) yang menerima Kabar Baik disebut sebagai keturunannya (offspring).

    Frasa "bulan tidak bercahaya" merujuk pada rentang waktu ketika seluruh bangsa di dunia—baik "ibunda umat Tuhan" (Israel) maupun bangsa-bangsa lain di dunia—akan dihakimi dan dihukum oleh Sang Hakim yang telah turun ke bumi. Untuk mempertajam pemahaman kita dalam membaca tanda-tanda saat turunnya Sang Hakim ke bumi, penulis akan mengambil latar belakang (setting) kelahiran Raja Damai sebagai contoh dalam mempelajari cara melihat dan membaca tanda-tanda saat Ia datang ke bumi:

1. Tanda di Surga: Para gembala domba (para nabi/ the prophets) telah menyaksikan tanda di surga. Mereka melihat (melalui penglihatan rohani) surga terbuka dan kemuliaan nama Tuhan yang diiringi oleh jutaan malaikat (awan-awan di surga / clouds of heavens). Surga memiliki tujuh lapis, dan ketika ketujuh lapisan surga tersebut terbuka, maka clouds of heavens atau para malaikat di surga akan bergerak bagaikan gulungan kitab. Jika kita merujuk pada Wahyu 6:14 yang berbunyi, "...maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung...", ayat ini merujuk pada "tanda di surga" berkenaan dengan saat turunnya Sang Hakim ke bumi. Kata "langit" dalam petikan ayat tersebut sebenarnya merujuk pada heavens. Raja Daud menyanyikan bahwa "heavens declare God's glory". Bagaimanakah kiranya kemuliaan (glory) Tuhan di surga itu? The clouds of heavens mengiringi Sang Hakim dan tampak seperti awan-awan yang bergerak dalam formasi "gulungan kitab". Semua itu disaksikan dalam penglihatan rohani (spiritual visions). Dalam catatan pesan dua malaikat pada Kisah Para Rasul 1:6-11, malaikat memberikan pesan bahwa sebagaimana Kristus terangkat ke surga, demikian pula cara Ia akan turun kelak ke bumi sebagai Hakim. Frasa "demikianlah caranya" merujuk pada pergerakan makhluk-makhluk roh, yaitu the clouds of heavens yang bergulung seperti gulungan kitab. Dalam Matius 24:30, dinubuatkan bahwa "...pada waktu itu (saat Sang Hakim turun) akan tampak tanda Anak Manusia di langit (heavens), dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit (heavens) dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya."


(2) Tanda di Langit:    Pada saat kelahiran Raja Damai (Yesus Kristus), tanda di langit disaksikan oleh tiga orang Majus dari Timur. Majus diserap dari kata magus dalam bahasa Inggris. Magus sebenarnya adalah pelihat atau pengamat bintang yang terbiasa dengan penglihatan rohani (spiritual visions) yang disaksikan di alam roh yang disebut "langit". Namun, mereka tidak melihat alam roh surga, melainkan hanya menyaksikan alam roh di bawah surga, yaitu "langit". Mereka melihat "Bintang Betlehem" atau bintang Raja Kebenaran sebagaimana yang dinubuatkan oleh Balaam bin Beor—seorang nabi di luar bangsa Israel—lebih dari ribuan tahun Sebelum Masehi (sebelum Mesias/Raja Kebenaran dilahirkan). Dalam kasus kedatangan Kristus kembali, tanda di langit adalah sebagaimana yang tercantum dalam Matius 24:29, yang menjelaskan bahwa "...matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang."

(3) Tanda di Bumi: Tanda di bumi pada kelahiran Almasih (Mesias) yang dinanti-nantikan adalah kelahiran seorang bayi di kandang domba/ternak di Betlehem. Santo Yohanes kemudian menuliskan bahwa tanda di bumi tersebut dinamakan "Firman telah menjadi manusia". Wahyu 6:14 menubuatkan, "...dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya." Sementara itu, frasa "...maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" merupakan tanda di bumi yang dinubuatkan dalam Wahyu 8:5. Bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi adalah tanda-tanda kehadiran Sang Hakim di bumi! "TUHAN itu lambat untuk murka dan besar dalam kuasa; TUHAN tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman; jalan-Nya ialah dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya" (Nahum 1:3). Jalan murka Tuhan yang disaksikan dalam penglihatan rohani berkaitan dengan perjalanan murka Tuhan, seperti angin puting beliung (the whirlwind) yang disertai fenomena rohani berupa badai (storm) dan awan-awan (clouds). "Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" (Wahyu 8:5). Oleh karena itu, kehadiran Sang Hakim di bumi berkaitan erat dengan tanda-tanda yang dapat disaksikan melalui penglihatan rohani, yaitu guruh, halilintar, dan gempa bumi.


    Shofar dan kedua nafiri perak tersebut memiliki pesan tipologi (typology) mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali. Yohanes Pembaptis mengumumkan Yesus sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" sekitar tiga tahun sebelum Sang Anak Domba mati di atas kayu salib sebagai Juru Selamat Penebus. Ketika waktu "petang" tiba, nama-Nya akan terus diumumkan sebagai Anak Domba bertanduk tujuh, bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh—yakni misi penghukuman di dunia sebagai Hakim yang Mahaadil. 

   Pernyataan nama merupakan misi (mission) Tuhan. Nama-Nya yang diumumkan sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" juga dimaknai sebagai saving grace (kasih karunia yang menyelamatkan) bagi orang-orang percaya. Sementara itu, nama-Nya atau misi-Nya yang dinubuatkan sebagai "tujuh tanduk, tujuh mata, dan tujuh Roh" dimaknai sebagai kesempurnaan-Nya dalam memberikan saving justice (keadilan yang menyelamatkan) kepada orang-orang kudus yang masih hidup di "padang gurun" atau periode penghukuman.

    Dalam Matius 13, Anak Manusia adalah Sang Penabur, dan ladang adalah dunia. Dalam lirik puitis dari lubuk hati Yahweh kepada Nuh dalam Kejadian 8:21-22, alegori karya Tuhan diungkapkan melalui baris lirik "menabur dan menuai" yang akan berlangsung seolah-olah "siang dan malam tidak akan berhenti". Misi ini dimulai dari perjanjian damai antara Tuhan dengan Nuh beserta keturunannya yang ditandai oleh pelangi, tetapi akan berakhir pula karena karya pendamaian tersebut tunduk pada batas daya tahan rohani bumi. Daya tahan rohani bumi memiliki makna yang sama dengan kesabaran Tuhan yang panjang sabar terhadap kejahatan dan dosa-dosa manusia di bumi.

    Misi Tuhan untuk memperdamaikan umat manusia melalui jalan "penebusan" tidak terpisahkan dari urusan "pengantaraan". Pada era bapa-bapa leluhur (patriarchs)—yaitu sebelum Hukum Taurat diturunkan di Gunung Sinai kepada Nabi Musa—urusan pengantaraan diupacarakan oleh para kepala keluarga/bapa patriarch. Setelah era Hukum Taurat diturunkan di Gunung Sinai, suku Imam (kaum Lewi) diangkat menjadi pengelola kerajaan teokrasi Israel di Tanah Suci, dan penyelenggaraan kurban penebus dosa atau pembenaran umat Israel dilakukan melalui pengantaraan keturunan ordo Imam Harun. 

    Dalam Perjanjian Baru, semua bangsa di bumi telah dianugerahi jalan penebusan dan pengampunan dosa melalui kuasa pengantaraan Imam Agung Surgawi menurut Ordo Melkisedek, yaitu Anak Domba yang duduk di sebelah kanan Bapa. Oleh karena itu, kekuatan perjanjian damai—baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru—terletak pada kesempurnaan Pengantara-Nya. Yesus adalah Pengantara yang maha sempurna. Kendati demikian, pengantaraan-Nya pasti akan berakhir ketika "matahari menjadi gelap, bulan berhenti bercahaya, dan bintang-bintang berjatuhan".

    Pengantaraan Raja Damai sebagai jaminan tuntas atas Perjanjian Damai dalam era Perjanjian Baru akan berakhir dan diberitakan oleh "langit" sebagaimana tertulis dalam Matius 24:29. Maksud Matius 24:29 memiliki penafsiran yang senada dengan nubuatan-nubuatan yang telah disampaikan oleh Nabi Zakharia dalam Zakharia 14:6-7 serta oleh Rasul Yohanes dalam Wahyu 6:12-13

   Kesempurnaan karya Tuhan dalam menganugerahkan kehidupan yang kelimpahan kepada umat manusia adalah melalui jalan penebusan, yaitu salib Kristus. Agenda pendamaian baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru diumpamakan sebagai pekerjaan seorang petani yang pergi ke ladang dari "pagi" hingga "petang". Oleh karena itu, penafsiran mengenai perubahan waktu penetapan (at an appointed time) bagi misi Tuhan di bumi bukanlah dengan merumuskan nubuatan menurut pengertian manusiawi—seperti perhitungan matematis atau integrasi kalender buatan manusia—melainkan secara mendasar menurut "permulaan dan pengakhiran karya Ilahi dalam perumpamaan menabur dan menuai" (seedtime and harvest).

    Melihat pengakhiran misi Ilahi dalam perumpamaan "menabur dan menuai" berarti memahami bagaimana misi penghukuman akan datang ke bumi, serta memahami bagaimana hal tersebut ditetapkan oleh Allah Bapa. Pemazmur menyanyikan Firman Tuhan mengenai penghukuman: "Aku menetapkan waktu yang tepat" (Mazmur 75:2). "Anak Domba yang menghapus dosa dunia" akan mengakhiri pelayanan Pengantaraan ketika langit memberitakan, "Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya, dan bintang-bintang akan berjatuhan."

    Dalam bahasa Dusun (a native language of borneo) dikatakan bahwa langit seolah-olah menundait (berpantun/berpuitis) melalui lirik-lirik perihal langit. Berakhirnya tugas Kristus sebagai Pengantara bagi misi era Pendamaian di sebelah kanan Bapa menandakan bahwa misi penghukuman oleh "Singa dari suku Yehuda"—yaitu Sang Anak Domba bertanduk tujuh, bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh—pasti dimulai. 

    Nabi Zakharia bernubuat bahwa ketika waktu petang menjelang (sunset), Kristus akan dianugerahi kuasa oleh Bapa untuk turun ke bumi sebagai sosok bertanduk tujuh, bermata tujuh, dan ber-Roh tujuh. Gelar yang unik ini sebenarnya merupakan pernyataan misi Surgawi atau ringkasnya penyataan "nama". Nabi Zakharia bernubuat, "Pada waktu petang akan ada terang" (Zakharia 14:7). Dia yang tidak bertanduk dan mati di kayu salib adalah Kristus, yakni Sang Anak Domba, Juru Selamat, dan Penebus menurut Pengantaraan Ordo Surgawi Melkisedek sepanjang masa "siang dan malam tidak berhenti". Sementara itu, Dia yang kembali dengan "mata tujuh, tanduk tujuh, dan tujuh Roh" adalah Kristus yang diberi kuasa sebagai Hakim yang Mahaadil dengan kekuasaan Raja segala raja yang sempurna.

    Pasca-kiamat air bah pada zaman Nuh, maklumat puitis dari lubuk hati Tuhan dalam Kejadian 8:22 menjadi titik awal agenda pendamaian antara Tuhan dan keturunan Nuh di bumi. Permulaan karya Pendamaian ini diumpamakan sebagai waktu pagi bagi misi pendamaian Tuhan di bumi bersama umat manusia yang terluka. Sebaliknya, karya tangan Tuhan pada waktu petang menuju pada pengakhiran masa pendamaian, yang diberitakan secara puitis melalui lirik-lirik "langit" mengenai penghakiman (judgment) dalam Matius 24:29. Karya tangan Ilahi selama nama-Nya disandang sebagai "Anak Domba yang menghapus dosa dunia"—atau ungkapan hati YHVH—diuraikan sebagai "siang dan malam tidak akan berhenti" (day and night will never cease) atau dimaknai sebagai "menabur dan menuai" (seedtime and harvest).

    Ketika waktu petang tiba, lirik-lirik "langit" dalam Matius 24:29 akan memberitakan pesannya kepada umat Perjanjian mengenai agenda Penghukuman. Setelah genap tujuh tahun dari titik pengumuman tersebut, Kristus (Light) akan turun dari surga sebagaimana yang diberitakan oleh dua malaikat berjubah putih dalam Kisah Para Rasul 1:9-11. Dalam bahasa Inggris dinyatakan, "...When evening comes, there will be Light (Jesus Christ)" (Zakharia 14:7). Jadi, langit yang berbahasa puitis dalam Kejadian 8:22 memberitakan misi pendamaian Tuhan kepada umat manusia yang berdosa, sedangkan pengakhiran misi pendamaian Tuhan tersebut diumumkan oleh puisi "langit" dalam Matius 24:29. Dengan demikian, waktu pagi bagi seedtime and harvest adalah Kejadian 8:22, dan waktu petang bagi agenda pendamaian tersebut adalah Matius 24:29.

    Dalam Perjanjian Lama, jalan pendamaian adalah Jalan Penebusan melalui ritus kurban penebusan, yang kemudian disempurnakan oleh Sang Anak Domba, Yesus, di atas kayu salib. Kayu salib merupakan puncak atau waktu "tengah hari" bagi karya pendamaian Tuhan. "Damai sejahtera Kuberikan kepadamu"—demikian Firman Sang Raja Damai untuk memperkuat pesan pelangi sekaligus menyempurnakan misi pendamaian yang telah diumumkan Tuhan pada zaman Nuh. Karya Yesus Kristus sebagai Raja Damai yang menganugerahkan pendamaian (Yesaya 54:9-10; Yeremia 33:20-26) antara umat manusia yang terluka dan Roh Tuhan yang Mahasuci akan berakhir ketika pemberitaan lirik-lirik langit dalam Kejadian 8:22 berbalik maknanya menuju Matius 24:29 (serta Zakharia 14:6-7 dan Wahyu 6:12-13). Bapa Segala Roh memberitakan agenda pendamaian dalam Kejadian 8:22, yang diperdengarkan kepada Nabi Nuh melalui lirik-lirik dari lubuk hati-Nya.

    Nuh dan keturunannya adalah penerima pengumuman karya pendamaian Tuhan tersebut. Pemahaman mengenai pengakhiran masa pendamaian dengan Tuhan akan terlihat makin jelas ketika keterkaitan antara Kejadian 8:22 dan Zakharia 14:6-7 diteliti berdasarkan firman YHVH dalam Yesaya 46:10 yang berbunyi, "Aku memberitahukan dari mulanya apa yang kemudian akan terjadi dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana."

    Setelah air bah, Tuhan hendak memulai hal yang baru di bumi, yaitu berdamai dengan keturunan Nuh agar kelak mereka dapat memenuhi muka bumi meskipun mereka adalah keturunan yang berdosa atau "terluka". Misi Tuhan untuk memperdamaikan umat manusia yang terluka dengan diri-Nya yang suci diumumkan melalui puisi tentang "langit" dari lubuk hati YHVH (Kejadian 8:22). Jadi, Kejadian 8:22 tidak ditulis tanpa makna. Daud bernyanyi dalam Mazmur bahwa rencana-rencana hati Tuhan tetap ada untuk selama-lamanya. Melalui Yesaya 46:10, kita memahami rahasia lirik dari hati Tuhan dalam Kejadian 8:22.

    Ayat tersebut memberitahukan tentang "pengakhiran" yang telah dinyatakan sejak purbakala atau sejak permulaan. Hal ini benar karena permulaannya disampaikan melalui lirik-lirik puitis, sedangkan pengakhirannya terlihat melalui lirik-lirik puitis (summoning the heavens) yang bermakna kebalikan. Frasa "dingin dan panas" berbalik menjadi "tidak ada dingin, tidak ada panas, dan tidak ada kabut"; sementara lirik "siang dan malam tidak akan berhenti" berbalik menjadi pemberitaan langit "tanpa siang dan tanpa malam". 

    Peralihan frasa pemberitaan langit tersebut dinubuatkan oleh Nabi Zakharia dan ditulis sebagai "hari yang unik" (lihat Kejadian 8:22 dan Zakharia 14:6-7). Peralihan itu bermakna berahirnya misi Pendamaian Tuhan untuk berganti menjadi misi Penghukuman dan Pengadilan Tuhan. Dengan kata lain, maksud misi Ilahi dalam Kejadian 8:22 akan berakhir pada Zakharia 14:6-7 atau Matius 24:29.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Matius 24:29 merupakan pengumuman khusus yang merujuk pada pengakhiran misi Pendamaian Tuhan, atau puisi penutup bagi Kejadian 8:22 yang menandai berahirnya masa seedtime and harvest. Penuaian jiwa diselenggarakan oleh gereja yang diurapi Roh Kudus sepanjang era gereja sejak Hari Pentakosta. Namun, permulaan penuaian saat Kristus kembali—yakni era setelah pengumuman Matius 24:29—akan dilaksanakan oleh para malaikat di bawah perintah Sang Hakim (Matius 13).

    Lirik puitis "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22, ketika berakhir, akan menjadi "tanpa siang dan tanpa malam" sebagaimana nubuatan Zakharia 14:6-7. "Matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan bintang-bintang berjatuhan" merupakan puisi yang menyampaikan pesan senada dengan nubuatan Yesus dalam Matius 24:29. Oleh karena itu, Matius 24:29 adalah "pemberitaan langit" yang memuat pesan Ilahi mengenai keadaan "tanpa siang dan tanpa malam", sebagaimana yang diberitakan dalam Zakharia 14:6-7. 

    Kedua ayat tersebut merupakan penutup bagi frasa "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22. "Hari yang unik" dalam nubuatan Zakharia merujuk pada rentang waktu "satu masa, dua masa, dan setengah masa", yaitu periode yang dinubuatkan sebagai waktu Penghukuman oleh Hakim yang Mahaadil. Periode tersebut juga disebut dalam bahasa simbolis sebagai alegori "padang gurun" atau secara puitis sebagai "tanpa siang dan tanpa malam".

    Pemberitaan melalui puisi "langit" yang diseru oleh Tuhan mengumumkan permulaan atau pengakhiran masa pendamaian sesuai dengan makna lirik pemberitaan langit tersebut (Mazmur 19:1-4; Mazmur 50:3-6). Jika Tuhan hendak mengakhiri karya-Nya—yakni misi "menabur dan menuai" dalam Kejadian 8:22—maka Ia akan memberitakan pengakhirannya melalui lirik-lirik "langit" yang memuat makna antonim dari "siang dan malam", seperti yang diberitakan dalam Matius 24:29 (yang senada dengan Zakharia 14:6-7, Mazmur 50:3-6, dan Wahyu 6:12-13).

    Maksud lirik-lirik puisi langit dalam Matius 24:29 berfungsi untuk mengakhiri karya yang telah diberitakan sebelumnya sekaligus mengumumkan misi-Nya yang baru. Pemberitaan-Nya melalui pesan lirik langit (Mazmur 50:3-6) untuk mengakhiri karya tersebut disampaikan lewat lirik-lirik puitis tentang langit yang telah berbalik maknanya. Ringkasnya, gambaran harmonis (damai) mengenai langit dalam Kejadian 8:21-22 berbalik menjadi pesan puisi langit yang bertolak belakang (tiada pendamaian), sebagaimana yang disampaikan Yesus melalui lirik-lirik puitis langit dalam Matius 24:29.

    Dengan demikian, jelaslah bahwa Matius 24:29 merupakan pengumuman khusus yang merujuk pada pengakhiran misi Pendamaian Tuhan, atau puisi penutup bagi Kejadian 8:22 yang menandai berakhirnya masa seedtime and harvest (menabur dan menuai). Penuaian jiwa diselenggarakan oleh gereja yang diurapi Roh Kudus sepanjang era gereja sejak Hari Pentakosta. Namun, permulaan penuaian saat Kristus kembali—yakni era setelah pengumuman Matius 24:29—akan dilaksanakan oleh para malaikat di bawah perintah Sang Hakim (Matius 13).

    Lirik puitis "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22, ketika berakhir, akan menjadi "tanpa siang dan tanpa malam" sebagaimana nubuatan Zakharia 14:6-7. "Matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, dan bintang-bintang berjatuhan" merupakan puisi yang menyampaikan pesan senada dengan nubuatan Yesus dalam Matius 24:29. Oleh karena itu, Matius 24:29 adalah "pemberitaan langit" yang memuat pesan Ilahi mengenai keadaan "tanpa siang dan tanpa malam", sebagaimana yang diberitakan dalam Zakharia 14:6-7. Kedua ayat tersebut merupakan penutup bagi frasa "siang dan malam tidak akan berhenti" dalam Kejadian 8:22. "Hari yang unik" dalam nubuatan Zakharia merujuk pada rentang waktu "satu masa, dua masa, dan setengah masa", yaitu periode yang dinubuatkan sebagai waktu Penghukuman oleh Hakim yang Mahaadil. Periode tersebut juga disebut dalam bahasa simbolis sebagai alegori "padang gurun" atau secara puitis sebagai "tanpa siang dan tanpa malam".

    Pemberitaan melalui puisi "langit" yang diseru oleh Tuhan mengumumkan permulaan atau pengakhiran masa pendamaian sesuai dengan makna lirik pemberitaan langit tersebut (Mazmur 19:1-4; Mazmur 50:3-6). Jika Tuhan hendak mengakhiri karya-Nya—yakni misi "menabur dan menuai" dalam Kejadian 8:22—maka Ia akan memberitakan pengakhirannya melalui lirik-lirik "langit" yang memuat makna antonim dari "siang dan malam", seperti yang diberitakan dalam Matius 24:29 (yang senada dengan Zakharia 14:6-7, Mazmur 50:3-6, dan Wahyu 6:12-13).

    Maksud lirik-lirik puisi langit dalam Matius 24:29 berfungsi untuk mengakhiri karya yang telah diberitakan sebelumnya sekaligus mengumumkan misi-Nya yang baru. Pemberitaan-Nya melalui pesan lirik langit (Mazmur 50:3-6) untuk mengakhiri karya tersebut disampaikan lewat lirik-lirik puitis tentang langit yang telah berbalik maknanya. Ringkasnya, gambaran harmonis (damai) mengenai langit dalam Kejadian 8:21-22 berbalik menjadi pesan puisi langit yang bertolak belakang (tiada pendamaian), sebagaimana yang disampaikan Yesus melalui lirik-lirik puitis langit dalam Matius 24:29.

Jadi, urutan pemberitaan "Misi-Nya" melalui lirik-lirik puitis adalah sebagai berikut:

1.   Pengumuman atau pemberitaan oleh langit melalui lirik/puisi (Mazmur 19:1-4; Kejadian 8:22; Matius 24:29; Mazmur 50:3-6; Wahyu 6:12-13; Zakharia 14:6-7);


2.   Tuhan memberikan "Tanda" (Sign) (Kejadian 9:12-17; Matius 24:30). Dalam Matius 24, terdapat tanda-tanda akhir zaman yang masih berada dalam agenda pendamaian oleh Sang Anak Domba. Sementara itu, Penghakiman memiliki maklumat (pronouncement), yaitu ayat 29 yang keluar dari mulut-Nya;


3.    Rincian Perjanjian atau Misi Penghakiman (Judgment Mission) akan diberikan     (Kejadian 9:1-10; Matius 24:31-44; Wahyu 6–19);

4.    Penggenapan, penyempurnaan, dan penyelesaian.


    Pemberitaan mengenai Penghakiman (Judgment) diumpamakan oleh Yesus Kristus seperti burung-burung nazar yang mengerumuni bangkai: "Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun" (Matius 24:28). Burung-burung nazar yang berkerumun tersebut memberitakan secara jelas dan nyata bahwa terdapat bangkai yang mereka lihat. Berkerumun merupakan insting (instinct) alami burung nazar, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Walaupun burung nazar dianggap sebagai binatang haram/najis dalam tradisi Ibrani, pemberitaan mereka mengenai keberadaan bangkai bukanlah suatu kebohongan. Oleh karena itu, Matius 24:29 sebenarnya merupakan pengumuman puitis yang fungsinya sama seperti perumpamaan burung-burung nazar yang berkerumun.

    Berkerumunnya burung nazar merupakan perumpamaan mengenai pengumuman kedatangan Yesus yang kedua kali yang telah ditetapkan oleh Allah Bapa. Demikian pula maksud perumpamaan kilat/halilintar pada ayat 27. Maka, ayat 29 bagaikan "burung-burung nazar" yang mengumumkan secara sangat jelas bahwa Kristus akan datang sesuai dengan pengumuman di surga (Mazmur 76:8) atau di dalam hati Allah Bapa. Burung nazarlah yang mencari bangkai karena mereka adalah pemakan bangkai. Di sisi lain, Kristus adalah Roti dari Surga, dan mereka yang dianugerahi karunia "takut akan Tuhan" (fear of the Lord) adalah orang-orang yang secara murni "lapar" akan Roti Surgawi.

    Kristus berfirman bahwa untuk hidup, manusia perlu memakan manna dari surga, selain makanan roti duniawi (Matius 4:4; Ulangan 8:3). Sebagaimana burung nazar pemakan bangkai yang tahu tempat keberadaan bangkai, demikian pula orang-orang yang senantiasa lapar akan Roti Surgawi: kepada merekalah dinyatakan "rahasia-rahasia Tuhan" (Mazmur 25:14). Rasa lapar tersebut timbul karena karunia Roh Tuhan yang disebut sebagai "takut akan Tuhan" (fear of the Lord). Dan fear of the Lord merupakan "kunci" utama untuk mulai mengenal hikmat, yaitu Kristus sendiri (Yesaya 33:6; Amsal 2:1-6).


Bagaimanakah kedatangan-Nya dikumandangkan?


·     Dikumandangkan seperti dalam Mazmur 19:1-4, Mazmur 50:3-6, dan Amos 3:7:

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka mejangkau seluruh bumi, dan perkataan mereka sampai ke ujung dunia." (Mazmur 19:1-4)

·     Dinyatakan dalam Amos 3:7:

"Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi."

Prediksi/Proyeksi:

1.   Masa "Tanpa siang dan tanpa malam" (without daytime and without nighttime) (Zakharia 14:6-7; Matius 24:29) dimulai: 8 Maret 2011 M

2.   Kedatangan Yesus (7 tahun setelah maklumat/pronouncement): 20 Mei 2018 M

(Sebagai perbandingan, hukuman kiamat yang pertama dimulai setelah Nuh masuk ke dalam bahtera (Yesaya 26:20-21), yaitu 7 hari sebelum tingkap-tingkap di langit mencurahkan air. Hukuman pada era turunnya Kristus akan dimulai setelah satu masa berlalu, yaitu fasa 7 tahun pengumuman terakhir? (Kisah Para Rasul 2:19-20)).

3.   Hukuman (Chastisement) baru berakhir setelah 59,5 tahun (atau setara 58,9033 tahun menurut perhitungan kalender matahari modern), yaitu diperkirakan berakhir pada: 1 Februari 2070 M



Ulasan terkini (10 Juni 2018): pembaca "tanda-tanda zaman" (the reader of the signs of the times)


    "Tanggal ramalan" (the above predicted date) di atas adalah tidak tepat, karena ketika tanggal tersebut diramalkan, penulis belum menerima pesan hikmat dan pengertian untuk "melihat" keselarasan (alignment) tanda-tanda di ketiga-tiga alam keberadaan roh yang dianugerahkan kepada umat Tuhan secara serentak. Jika seseorang ingin menjadi pembaca "tanda-tanda zaman", dia harus memiliki dasar dalam melihat alur roh nubuat (the flow of the Spirit of Prophecy).

    Ada empat alam roh yang diciptakan Tuhan pada nubuatan penciptaan dalam Kitab Kejadian pasal 1 (There are four different spirit realms namely the heavens, the skies, the earth, and the hells). Pembaca "tanda-tanda zaman" harus mengetahui keempat keberadaan alam roh tersebut, sebab tanda-tanda zaman akan muncul di dalam alam roh yang disebutkan tadi melalui penglihatan (visions) dan mimpi (dreams).

    Ketika tanda-tanda (the Signs) di surga, di langit, dan di bumi dinyatakan secara serentak pada waktu yang telah ditetapkan (at an appointed time)—seperti pada saat kelahiran Kristus—kita mengetahui bahwa itulah waktu yang tepat (the exact time) bagi Sang Hakim yang menghakimi dengan keadilan untuk memulai jalan murka Ilahi di bumi: yaitu angin puting beliung (a whirlwind). Kilat memang menyertai Whirlwind.

    Tiga orang majus mengetahui waktu yang tepat dari kelahiran Kristus karena mereka melihat momen ketika "Tanda" [Bintang Betlehem] dari Raja Damai muncul di "langit" (alam roh yang disebut "langit", bukan ditafsirkan secara harfiah sebagai langit fisik). Ada tiga alam roh yang harus "dibaca" melalui karunia penglihatan (visions) dan mimpi (dreams). Ketiga alam roh itu merupakan tempat tanda-tanda dinyatakan oleh Tuhan secara serentak. Jika tanda-tanda tersebut telah dinyatakan secara serentak, barulah kita dapat menyatakan bahwa itulah saat "nama" Sang Hakim telah berada di bumi!

Tujuh (7) Heavens ~ Surga (kadang-kadang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "langit" atau "cakrawala");

Skies ~ Realitas alam roh "langit", yang berada di bawah realitas alam tujuh lapis surga; di atas bumi adalah langit dan di atas langit adalah surga tujuh lapis. 

Bumi (earth) ~ Alam roh ini terlihat seolah-olah seperti bumi yang kita pijak karena bentuk muka buminya memiliki dataran, sungai, danau, hutan, pepohonan, laut, dan lautan, bahkan segala makhluk serta binatang-binatang yang aneh/ganjil sebagaimana yang tercatat dalam nubuatan para nabi—seperti binatang bertanduk sepuluh yang keluar dari "laut". "Laut" dalam Wahyu 13 sebenarnya merujuk pada alam roh yang menyampaikan pesan rohani simbolis tentang bangsa-bangsa di dunia. Oleh karena itu, binatang yang keluar dari laut bermakna "suatu pemerintahan yang muncul dan telah memerintah banyak bangsa di dunia". Contohnya terdapat dalam Kitab Daniel yang menyatakan beberapa binatang keluar dari air laut yang menggelora, yang bermakna munculnya beberapa kekaisaran yang menaklukkan banyak bangsa di dunia. Dengan demikian, bukankah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga tergolong sebagai "binatang yang keluar dari laut" atau dari jurang maut, karena lembaga tersebut merupakan pemerintahan global (world governance) yang mencakup hampir semua bangsa di dunia?

    Sebenarnya ada satu lagi alam roh yang disebut "neraka". Namun, penulis tidak menerima firman yang tersingkap mengenai neraka; oleh karena itu, kita tidak akan membahas realitas alam roh neraka. Kita tahu bahwa untuk mengesahkan penggenapan saat kedatangan Sang Hakim, tanda-tanda di surga harus dilihat bersamaan dengan tanda di langit dan tanda di bumi. Pada peristiwa kelahiran Raja Damai, tanda-tanda di surga hanya disaksikan oleh "para gembala" (the prophets). 

    Penulis menyebut para gembala di padang gembalaan tersebut sebagai the prophets, karena sebenarnya hanya nabi-nabi Tuhan yang dikaruniakan penglihatan rohani untuk melihat kemuliaan "surga terbuka"! Tiga orang majus dari Timur (the heathen seers) mengonfirmasi bahwa mereka juga telah melihat tanda kelahiran Raja Kebenaran tersebut, yaitu Bintang Betlehem yang pernah dinubuatkan oleh nabi Balaam bin Beor lebih dari seribu tahun yang lalu. Balaam juga merupakan seorang heathen seer! Kedua kelompok nabi tersebut bertemu pada konteks (setting) yang sama, yaitu ketika "Firman itu telah menjadi manusia" tampak di bumi sebagai "seorang bayi di kandang ternak", sebagaimana yang diberitakan oleh Malaikat.

    Penulis telah mendapat penglihatan "langit" pada 10 Juni 2018, dan "Matahari" terlihat berada di garis ufuk petang dengan posisi matahari yang hanya berjarak setebal 2 mm sebelum menyentuh atau mencecah garis ufuk terbenam. Mungkinkah Sang Hakim akan datang sewaktu-waktu sekarang? Nabi Zakharia bernubuat dalam Zakharia 14:5d-7: "Lalu TUHAN, Allahku, akan datang, dan semua orang kudus bersama-sama Dia. Pada waktu itu tidak akan ada lagi terang, suhu dingin, atau pembekuan. Hari itu akan menjadi hari yang unik—hari yang hanya diketahui oleh TUHAN—tanpa perbedaan antara siang dan malam. Pada waktu petang akan ada terang." Yeshua adalah Terang (Light) atau Matahari (Sang Hakim) yang akan datang. Pada waktu petang, Sang Hakim akan datang sewaktu-waktu bersama para malaikat (para penuai) yang dapat disaksikan dalam penglihatan rohani sebagai gulungan Kitab!



                                                        

Membaca 'tanda' di langit perihal kedatangan Hakim (Zak. 14:7)




    Penglihatan penulis pada 10 Juni 2018 adalah seperti pemandangan (seperti gambar kiasan di atas) pada sekitar pukul 01.57 WIB, tetapi cahaya "petang"-nya lebih cemerlang (brilliant) dan hidup. Saya teringat ayat "...pada waktu petang akan ada terang" dalam Zakharia 14:7 ketika melihat penglihatan tersebut. Ia (Sang Hakim) dapat saja hadir di bumi sewaktu-waktu bersama para malaikat. Sang Hakim tersebut akan disertai tanda-tanda, yaitu bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi. "TUHAN itu lambat untuk murka dan besar dalam kuasa; TUHAN tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman; jalan-Nya ialah dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya" (Nahum 1:3).

    Jalan murka Tuhan yang disaksikan dalam penglihatan rohani adalah seperti angin puting beliung (the Whirlwind) yang tidak terpisahkan dari keberadaan fenomena rohani, seperti badai (storm) dan awan-awan (clouds). "Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi" (Wahyu 8:5). Oleh karena itu, kehadiran Sang Hakim di bumi dapat dikenali dengan melihat tanda-tanda melalui penglihatan rohani, yaitu guruh dan halilintar (tanda di langit) serta gempa bumi (tanda di bumi). Yesus pernah bernubuat dalam Matius 24:27, "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia." 

    Kilat tidak akan ada jika angin puting beliung tidak ada, karena kilat merupakan tanda khusus kehadiran Sang Hakim di bumi apabila disaksikan dalam penglihatan rohani. Dalam kesaksian Nabi Nahum, nama Tuhan—yaitu Sang Hakim—"...berjalan dalam puting beliung [whirlwind] dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya." Nabi Nahum dalam Nahum 1:1-3 berbicara tentang penglihatan rohani mengenai Sang Hakim. Sang Hakim dapat dikenali dan dibedakan dari Roh Raja Damai dengan melihat tanda-tanda yang menyertai nama Tuhan, meskipun keduanya adalah Roh yang satu. Sebagian besar orang percaya mengetahui perihal tanda-tanda kehadiran Raja Kebenaran atau Raja Damai, seperti pada saat kelahiran-Nya dan pada Hari Pentakosta. Nama Sang Hakim dapat dikenali dalam penglihatan rohani sebagai "Puting Beliung", dan Ia disertai tanda-tanda seperti guruh, halilintar, badai, dan gempa bumi!




Sitasi 

Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 28 September 2015.

The Bible. New International Version, Biblica, 2011. Bible Gateway, ://biblegateway.com. Accessed 28 September 2015.



Tidak ada komentar: