Minggu, 03 April 2016

"Kunci" Raja Daud dalam pergaulannya dengan Roh Tuhan...


Kepada mereka yang dianugerahi 'Kasih Karunia' dari Tuhan, karunia "takut akan Tuhan" merupakan 'kepastian' bahwa Roh Tuhan akan bergaul karib dengan roh penerima kasih karunia tersebut. Karunia ini adalah permulaan pengetahuan, pengertian, dan hikmat. Roh Tuhan memberitahukan 'rahasia-rahasia' perjanjian kepada mereka yang menerima karunia "takut akan Tuhan". Rahasia tersebut mencakup tipologi Kristus yang tersembunyi dalam Taurat Musa, rahasia-rahasia nubuat yang disampaikan melalui syair kitab Mazmur, serta misteri nubuat para nabi melalui nyanyian dalam Kitab Mazmur.

Tuhan "bergaul karib" dengan mereka yang takut akan Tuhan (anugerah 'karunia takut akan Tuhan') ... (Mazmur 25:14).

                               

..kerana kasihMu mengatasi langit, dan kesetianMu sampai ke awan-awan. "For great is Your love, higher than heavens; your faithfulness reaches to the skies." (Psalm 108: 4). It is written that "Judgment is in the Court of heaven." But it was also revealed that "...Your mercy is higher than heaven."



    Ketika Yesus dilahirkan, para gembala telah melihat kemuliaan Tuhan dalam dualitas keberadaan (duality): mereka melihat penglihatan surga terbuka dengan bala tentara malaikat. Tiga orang majus dari Timur juga telah melihat 'bintang' Raja Kebenaran dari keturunan Yakub (house of Jacob), sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh nabi Bileam bin Beor lebih dari seribu tahun yang lalu.

    Para gembala melihat kemuliaan Tuhan ketika surga terbuka, dan mereka juga berkomunikasi dengan Malaikat Tuhan serta diberitahu oleh malaikat tentang kelahiran Almasih. Para gembala tersebut sebenarnya adalah sekumpulan nabi! Sementara itu, ketiga orang majus dicatatkan dalam Injil hanya melihat 'langit' bersama 'tanda' kelahiran Yeshua. Namun, tidak dicatatkan bahwa mereka melihat 'tanda' di surga yang terbuka seperti para gembala.

    Mungkin hal itu terjadi karena identiti mereka hanyalah sekadar 'peramal' (seers) yang diizinkan Tuhan untuk sekadar bersaksi tentang 'tanda' di langit. Para nabi (gembala) telah dianugerahi Tuhan suatu penglihatan rohani yang menampakkan 'tanda' di surga dan juga 'tanda' di bumi!

    Pada hari Paskah Tuhan Yesus, 'tanda' yang diberitakan oleh penglihatan rohani di alam roh yang disebut 'langit' adalah suatu 'kegelapan' selama tiga jam berturut-turut sesuai dengan nubuat nabi yang berbunyi, "...tengah hari pun akan menjadi gelap gulita." Alam roh 'langit' menjadi 'gelap gulita' karena pemberitaan itu bermakna bahwa murka Allah Bapa yang seharusnya ditumpahkan ke atas umat manusia telah ditumpahkan ke atas kepala "Domba Allah," yaitu Yeshua.

    Yeshua telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban mezbah di bumi yang diupacarakan menurut Ordo Melkisedek sesuai dengan nubuat para nabi (Yesaya 53; Mazmur 110:4). Dengan hikmat Juru Penebus, Ia telah mengupacarakan mezbah di bumi dan upacara itu berstatus "Sudah Selesai." Bapa yang Mahakasih dan Mahapenyayang menyatakan kasih setia-Nya kepada dunia dengan mentakdirkan Anak Allah yang Mahatinggi menjadi 'Domba Allah' (sin offering). Kelak, 'Roh Kudus' menyingkapkan karya agung Ilahi itu, yaitu Domba Allah, sebagai 'kehendak surgawi' yang telah digenapi di bumi. Kehendak surga adalah kasih. Kasih menganugerahkan kasih karunia, dan kasih karunia menganugerahkan penebusan atau 'pengampunan dosa'. "Lihatlah Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29).

    Roh nubuat dalam doa Bapa Kami berbunyi: "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Sifat-sifat Tuhan yang kasih, setia, dan maha pengasih (merciful) adalah melampaui langit. Tuhan menghendaki supaya manusia (semua bangsa) mengecap cinta kasih dan belas kasihan Ilahi melalui jaminan atau ikatan 'Perjanjian Perdamaian'. Tuhan menghendaki 'Mezbah Surga' seperti yang telah dilihat Nabi Yesaya (Yesaya 6) terjadi di bumi apabila "Firman telah menjadi manusia"; Anak Manusia itu kelak menggenapi misi "Domba Allah" yang menghapus dosa-dosa dunia. Hal itu bermula dengan upacara di atas kayu salib menurut tata cara Ordo Melkisedek. Taurat mengajar bahwa penyelesaian dosa orang-orang percaya adalah melalui ritual sin offering.

    Sifat kasih setia Ilahi, sifat penyayang, dan sifat belas kasihan Tuhan menuntut diri-Nya sendiri menjadi 'korban' mezbah di bumi. Oleh karena itu, kita belajar dari Tuhan bahwa cinta kasih itu menuntut pengorbanan! Dalam 'penglihatan' Nabi Yesaya, "kehendak sifat-sifat Allah" diperlihatkan kepada Yesaya melalui penglihatan mezbah di surga. Kehendak sifat-sifat Allah yang tak terlihat dialami oleh orang-orang beriman melalui ibadah mezbah.

    Penglihatan mezbah itu bernubuat bahwasanya kasih setia-Nya kelak akan mengorbankan "Domba Allah" dari surga, yaitu Yeshua Kristus! Korban sin offering itu juga telah menganugerahkan 'Jalan' bagi manusia berdosa untuk menghapuskan catatan dosa dalam roh mereka, serta mentahirkan catatan kesalahan dalam roh mereka.

    Manusia di bumi telah dianugerahi berkat perdamaian oleh nama Allah dan kasih setia-Nya. Orang-orang yang percaya pada nama Allah dan kasih setia-Nya harus mengimani nama Allah tersebut dengan "menuruti" jalan mezbah. Melalui ibadah tersebut, 'kenajisan' (impurities) mereka yang tercatat pada roh akan dihapuskan. Kasih Karunia (Grace) dianugerahkan kepada mereka yang 'percaya' pada nama Tuhan 'Kasih Setia' dan rahmat yang besar (great mercy of Yahweh)!

    Yeshua telah menjadi keselamatan kita dengan menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup; Dia menganugerahkan berkat perdamaian, penebusan, dan keselamatan. Allah Bapa menganugerahkan janji curahan 'lidah api' (Roh Tujuh Lapis Tuhan) di dalam Kristus karena Bapa telah memberikan nama-Nya kepada Anak.

    Yeshua naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa untuk meneruskan 'pengupacaraan surgawi' atau mengerjakan 'pengantaraan' (Mediatorship) sebagai Imam Agung Surgawi menurut Ordo Melkisedek. Ordo Melkisedek adalah 'ketentuan-ketentuan' Ilahi dalam penyelamatan umat manusia dengan menurunkan ajaran mezbah untuk mengungkapkan "nama" Tuhan! Kehendak Tuhan, yaitu 'Mezbah' di surga, telah "Sudah Selesai" digenapi (diupacarakan di bumi) dalam karya pribadi Yeshua, yaitu Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia di atas kayu salib. Pembenaran roh manusia di dalam Perjanjian Lama adalah menurut ajaran Ordo Melkisedek karena Roh YHVH turun ke bumi melalui Ordo Melkisedek. Namun, hal itu tidak memberikan Jalan kepada semua bangsa karena korban binatang, Mezbah Batu di bumi, dan pengupacaraannya hanya dilaksanakan oleh suatu 'garis keturunan' yang telah dipilih-Nya di bumi. Jalan perdamaian menurut Perjanjian Lama seluruhnya diupacarakan oleh manusia yang berdosa di bumi. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa manusia yang 'terluka' diterima oleh Tuhan karena menuruti jalan "penebusan": penerima anugerah Kasih Karunia.

    Taurat adalah Firman Allah, dan ajaran penebusan itu diajarkan menurut Taurat (Firman). Bahkan sejak zaman Habel ('permulaan'), Roh Tuhan sudah mengajarkan "pembenaran/penyelesaian dosa" menurut 'jalan' penebusan. Oleh karena itu, pengajaran 'penebusan' yang dianut oleh para patriark dan 'perempuan' (Bani Israel) dalam Perjanjian Lama sebenarnya adalah menurut "Mezbah" Ordo Melkisedek. 

    Akan tetapi, mezbah, korban, dan pengupacaraannya seluruhnya dilaksanakan oleh imamat (manusia) di bumi, baik imam patriark maupun Imam Besar Ordo Harun di Tanah Perjanjian. Oleh karena itu, umat Tuhan di bumi tidak dapat melihat 'nama', yaitu sifat-sifat Ilahi, secara sempurna; mereka hanaya melihat bayangan kepada realiti sebenar Tuhan! Manusia di bumi tidak dapat melihat dengan sempurna bahwa Roh Sang Pencipta itu adalah Tuhan yang mahakasih, setia, dan penyayang untuk selama-lamanya. 

    Mereka lebih melihat 'kekudusan Tuhan' yang semarak menghanguskan (consuming fire). Umat Perjanjian Lama lebih dahulu mengerti betapa Tuhan itu adalah Allah yang cemburu dan api yang menghanguskan ('kekudusan Ilahi'), namun sifat kasih-Nya tidak dapat dimengerti secara sempurna! Hanya nabi-nabi saja yang dapat bersaksi bahwa Tuhan YHVH itu adalah Jurupenebus dan Juruselamat yang panjang sabar, penyayang, maha pengasih, mengampuni beribu-ribu orang, dan 'tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman'. Nabi-nabi dapat bersaksi sedemikian rupa karena mereka 'bergaul karib' dengan Roh Tujuh Lapis, yaitu Roh Kudus.

Daud dinyatakan amat dekat di hati (Roh) Tuhan karena Daud dianugerahi 'Firman', yaitu Roh Tujuh Lapis Roh Kudus.

                                      

David Sang "Your mercy is higher than heavens." Yeshua berkata kepada rasul-rasulNya: "...tetapi kepada kamu diberikan 'karunia' untuk mengetahui rahasia-rahasia Sorga." Justeru itu, sudah tentu kamu tahu Apakah arti Perkataan-perkataan Nya yang berbunyi: "...Your mercy is higher than heavens"?


    Bagaimana mungkin seseorang seperti Daud yang mempunyai delapan istri dan puluhan gundik dikatakan 'dekat' di hati Tuhan? Bukankah beristri delapan sudah melanggar ajaran YHVH karena raja hendaknya beristri satu (monogami) sesuai dengan 'hukum YHVH untuk raja-raja Israel' yang disampaikan dan ditulis oleh Nabi Samuel? Apakah rahasia Raja Daud sehingga Roh Tuhan masih bergaul karib dengan rohnya meskipun ia berpoligami sepanjang hayatnya? 

    Daud bersaksi "deep calls unto deep" (hubungan spiritual). Bukankah menanggalkan 'kejahatan' itu perlu? Mengapa Daud masih dikatakan orang baik, sedangkan ia beristri delapan dan bisa saja menambah koleksi 'haremnya'? Apakah 'sumpah' Tuhan itu penyebabnya? Jika demikian, mengapa hanya seorang raja saja yang disumpah? Apakah Tuhan pilih kasih? Bukankah Saul juga adalah raja yang diurapi Tuhan?  Jawabannya ialah Daud adalah penerima Kasih Karunia!

    Raja Saul sebenarnya berusaha untuk berkenan kepada Tuhan. Dia menghapuskan semua dukun di tanah suci, dan hanya dukun Endor yang luput dari operasi penghapusan sihir oleh Raja Saul. Jelas Saul menafsirkan Taurat dengan logika semata, lalu melaksanakan penghapusan dukun-dukun di tanah suci. Menurut hukum Taurat, siapa pun yang mempraktikkan sihir atau hidup sebagai dukun telah melanggar hukum Taurat, dan jika ditafsirkan secara harfiah, mereka akan dilenyapkan dari tanah suci dengan direjam batu sampai mati. Namun, jika kita menelusuri praktik asal Taurat, Nabi Musa dan 70 tua-tua yang melaksanakan penegakan Taurat sebenarnya dipenuhi dengan urapan Roh Kudus. Oleh karena itu, Taurat ditegakkan berdasarkan 'suara Roh Kudus.' Dengan demikian, mereka menjadi hakim (magistrate) yang berkenan kepada Tuhan.

    Raja Saul ternyata ingin menyenangkan Tuhan dengan menghapuskan dukun, namun tindakan itu berdasarkan pemikirannya belaka, bukan berdasarkan suara Roh Tuhan. Sesungguhnya, Firman harus dilaksanakan bukan sesuka hati, melainkan dengan kekuatan Roh Kudus, yaitu dengan bimbingan 'suara' Roh Kudus. Kelak, Nabi Samuel menegur Saul bahwa Tuhan tidak lagi berkenan kepadanya karena Saul ternyata menggunakan pemikirannya sendiri tanpa menuruti suara 'Firman.' Nabi Samuel menyampaikan 'suara' Firman kepada Raja Saul supaya menunggunya sampai hari yang ketujuh, dan barulah ia mempersembahkan korban. Akan tetapi, Saul terdesak untuk mempersembahkan korban sebelum Nabi Samuel tiba kepadanya karena dalam pemikirannya, Tuhan akan meluputkannya dari kesesakan dan ketakutan terhadap orang Filistin yang telah menyerang Saul (kisah Raja Saul ditolak Tuhan dalam 1 Samuel 13:1–15). Maka, Saul tidak menuruti 'suara' Roh Tuhan dan hanya bergantung pada kehendak pemikirannya belaka. Oleh sebab itu, Tuhan menolak Saul sebagai raja Israel.

    Hakikatnya, semua orang Kristen akan melalui 'masa' dalam perjalanan imannya dan bertindak seperti Raja Saul yang ingin 'berkenan' kepada Tuhan dengan 'rumusan' pemikiran kita sendiri. Yesus gugur di tangan mahkamah Taurat karena Taurat tersebut ditafsirkan oleh para hakim mahkamah Sanhedrin dengan otak tanpa 'roh.' 

    Namun Yesus, dengan 'hikmat ilahi Juruselamat', secara mahakreatif memakai kebutaan para pemimpin agama untuk menggenapi 'mezbah surgawi' turun di bumi, agar dosa-dosa umat manusia dapat ditebus ("It's finished"). Akan ada saat-saat pencobaan (times of temptation) dalam perjalanan iman pribadi kita, saat kita mencoba—seperti Saul—untuk menyenangkan Allah menurut pemahaman intelektual kita (intellectual digests). Ketika 'fajar menyingsing', kita akan belajar meminta berkat dengan benar dan tepat serta mendengar 'suara' Firman seperti Daud. Kita akan meminta berkat Tuhan berdasarkan Kasih Karunia dan bukannya melulu di bawah takluk Taurat! Sungguh tiada keselamatan di dalam Taurat. 

    Mazmur Daud menyingkapkan bahwa apa yang 'benar' itu sampai ke 'langit'. Semua nabi bermazmur seperti koleksi lirik lagu nabi-nabi dalam Kitab Mazmur karena mereka semua telah 'melihat' bahwa Roh Tuhan itu adalah: "bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 136:1). Mereka juga tahu bahwa rahmat (mercy) Tuhan dinyatakan kepada 'manusia terluka' di bumi melalui "Mezbah" Melkisedek Surgawi. 'Mezbah' itu mengajarkan bahwa Tuhan itu maha pengampun, menebus umat-Nya, dan menganugerahkan rasa 'takut akan Tuhan.'

    Sebelum "kehendak" Kasih Tuhan itu turun ke bumi di atas kayu salib, yaitu sejak zaman purbakala (permulaan), umat Tuhan sudah diajar oleh Roh Tuhan perihal mempersembahkan 'korban di atas mezbah batu.' Hal ini bertujuan agar kelak di atas kayu salib, orang percaya melihat bahwa sifat Ilahi itu adalah 'kasih', dan Kasih senantiasa menuntut 'korban', yaitu 'Mezbah.' Kelak, Yesus dinubuatkan sebagai gunung 'batu' keselamatan! Batu itu merujuk kepada 'batu' mezbah yang menyelesaikan dosa-dosa manusia. Batu itu juga mengungkapkan sifat-sifat Tuhan yang tidak berubah (immutable). Oleh karena itu, Kasih Ilahi (agape) secara sempurna dapat dilihat dan dimengerti oleh roh dan pikiran apabila melalui 'Mezbah Melkisedek.'

    Kasih Tuhan secara sempurna dapat dilihat apabila Tuhan sendiri mempersembahkan 'korban Domba Allah', yaitu diri-Nya sendiri dalam pribadi Anak yang diutus sebagai Domba Allah Mezbah Melkisedek. Itulah arti penglihatan 'mezbah' yang dilihat Nabi Yesaya (Yesaya 6). Rasul Paulus melihat: "segala sesuatu diperbolehkan," tetapi bukan segala sesuatu berguna (1 Korintus 10:23 / 6:12).

    Tuhan itu Kasih, namun kita juga tahu bahwa kasih-Nya yang ajaib itu suci. Karena kesucian kasih-Nya, 'Mezbah Melkisedek' ditentukan-Nya dari Alpha dan Omega, supaya mereka yang dianugerahi Kasih Karunia bersandar pada kuasa rahmat-Nya (mercy). 'Bersandar' hanya dimungkinkan oleh kerja anugerah "takut akan Tuhan", supaya setiap orang percaya belajar menjadi "...ranting-ranting pada Pokok Anggur Kebijakan/Kehidupan."

                                

He (Sevenfold-Spirit) is the sure foundation for your times, a rich store of salvation and wisdom and knowledge; the fear of the Lord is the key to this treasure (Isaiah 33: 6, NIV). 



    Tuhan menemukan Daud, yaitu orang yang 'dekat' di hati-Nya. Daud ternyata menuruti 'suara' Roh Tuhan. Raja Daud tidak menafsirkan Taurat dengan pemikirannya, melainkan dia senantiasa merindukan 'suara' Firman (Roh Kudus). Daud bernyanyi dalam Mazmur 28: "1 Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur. 2 Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus." 

    Daud ternyata tidak bersandar pada pemikirannya sendiri, melainkan mendambakan 'Suara' Firman (Roh Tujuh Lapis). Maka, Daud dikatakan 'dekat' dengan hati (Roh) Tuhan. Nabi Daniel hidup di Babel karena ikut serta dalam pembuangan akibat dihukum oleh YHVH. Nabi Hosea beristrikan perempuan sundal yang memperanakkan anak-anak perzinahan, begitu pula Nabi Amos. Bahkan patriark Abraham, bapa orang beriman, mempunyai tiga istri, dan Yakub mempunyai empat istri. 

Kunci: "takut akan Tuhan" 

    Ajaran Roh Ilahi menjelaskan bahwa manusia, umat Tuhan, harus 'beristri satu' (monogami). Apakah gerangan "kunci" bagi mereka semua (para patriark dan nabi-nabi) untuk terus dapat bergaul karib dengan Tuhan? Apakah kunci yang dimiliki oleh Raja Daud dan segelintir nabi yang seolah-olah kelihatan hidup 'tidak bermoral' karena mempraktikkan poligami, namun mereka masih digauli karib oleh Roh Tuhan? Apakah mereka memiliki "kunci" sehingga dalam keadaan yang terlihat melanggar ajaran Roh sekalipun—seperti praktik poligami—Tuhan dengan kasih setia-Nya ternyata masih bergaul karib dengan para patriark dan nabi-nabi?

    Kunci kehidupan rohani bagi Raja Daud dan seluruh nabi adalah anugerah karunia "takut akan Tuhan." Anugerah ini turun dalam pribadi Roh Kudus (Roh Tujuh Lapis) karena kasih setia serta rahmat (mercy) Tuhan. Daud bernyanyi, "...kasih-Mu lebih tinggi dari langit." Sifat kasih setia Tuhan adalah kuasa tertinggi dalam pribadi Roh Sang Pencipta alam semesta. 

    Langit menceritakan 'kemuliaan' Allah dan cakrawala memberitakan "misi" ('nama') Tuhan (lihat Mazmur 19:1). Namun, rahmat (mercy) dan 'kasih setia' Tuhan (kasih karunia) berada lebih tinggi dari segala kuasa Ilahi yang diceritakan oleh langit. Nabi Asaf bermazmur bahwa orang yang dianugerahi rasa takut akan Tuhan dapat menyeru 'nama' Tuhan: "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." (Mazmur 50:15).

    Dengan anugerah Roh Ilahi inilah ('takut akan Tuhan') dijelaskan mengapa Roh Tuhan masih 'bergaul karib' dengan roh seorang manusia, biarpun orang itu kelihatan tidak layak menurut penghakiman pikiran manusiawi. 'Sumpah' Tuhan kepada Daud dalam Mazmur 89 hanya menjelaskan 'misi' Roh Tuhan dalam the delivery of Christ dari garis keturunannya. Hal itu adalah nubuat perjanjian sumpah yang meneguhkan kerajaan Daud dan keturunannya untuk kelak turut menggenapi "Firman menjadi manusia ('Tunas Kebenaran' dari Daud)": Raja Kebenaran, Yeshua Mashiach. Namun, sumpah itu bukanlah jaminan bahwa Daud bebas dari hukuman Tuhan. 

    Sumpah itu lebih kepada 'jaminan' bahwa Raja Kebenaran akan benar-benar digenapi melalui garis keturunannya! Nabi Musa juga pernah dihukum Tuhan sehingga ia tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di Tanah Suci, demikian pula beberapa nabi lain seperti Yehezkiel dan Daniel yang turut dihukum Tuhan ke pembuangan. Hal ini disebabkan bani Israel dikawini YHVH secara kolektif dan Tanah Suci menuntut mereka untuk memegang Perjanjian Taurat. Namun, Tuhan yang 'bergaul karib' dengan roh seseorang adalah kasus "deep calls unto deep" secara pribadi.

    Nabi Yesaya menyingkapkan "Kunci" harta karun Sion (Roh Kudus) dalam Yesaya 33:6: "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion." Harta Roh adalah anugerah Tuhan yang tertinggi dan penuh sempurna karena dengan kasih setia-Nya, Ia berkenan menganugerahkan diri-Nya sendiri kepada para pengikut 'Jalan' ('Jalan' ~ Yohanes 14:6, 16, 17). 

    Anugerah cinta kasih Ilahi yang penuh adalah "memberikan Roh-Nya sendiri", yaitu janji pencurahan Roh Pentakosta. Tidak ada bentuk berkat lain yang melebihi anugerah ini. Nabi Yesaya bernubuat bahwa perdamaian akan menjadi sempurna melalui 'Mezbah Surgawi' yang disempurnakan di bumi, dan hal itu dinubuatkan sebagai "masa keamanan" karena Salib adalah permulaan 'zaman Raja Damai.' Harta benda Roh yang dimaksudkan oleh Roh Tuhan melalui 'mulut' Tuhan—yaitu Nabi Yesaya—adalah "kunci" Roh Tuhan. Hal itu jelas dapat 'dilihat' melalui lirik nyanyian Raja Daud, di antaranya:

    Daud bernyanyi: "Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"" (Mazmur 118:4), dan ia juga bernyanyi: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10).

    Anugerah "takut akan Tuhan" adalah suci karena merupakan pekerjaan Roh Tuhan yang Mahasuci. Karunia ini adalah anugerah dasar Tujuh Lapis Roh Kristus (Menorah Surgawi), dan karunia inilah yang melahirkan kembali roh manusia yang terluka. Melalui pekerjaan karunia inilah menjadi permulaan bagi Roh Tuhan untuk 'bergaul karib' dengan roh manusia (lihat Mazmur 25:14). Karunia ini didaftarkan sebagai salah satu dari Tujuh Anugerah Dasar Roh Kristus dalam nubuat Nabi Yesaya di Yesaya 11. Oleh karena Tuhan Roh Kudus, Tuhan Bapa, dan Tuhan Anak adalah 'satu Roh', maka Roh Kudus juga adalah Roh yang dimaksudkan dalam Yesaya 11. 

    Itulah karunia yang akan bekerja atas sumbu roh seseorang, sehingga ia dapat belajar menjadi "ranting pada Pokok Anggur Kebijakan/Kehidupan yang sejati." Tanpa anugerah Roh Tujuh Lapis dan pekerjaan karunia "takut akan Tuhan", kita hanya akan bergantung pada pikiran kita sendiri. Pikiran adalah pusat kesadaran bagi daging dan akan menuju kebinasaan. Mengenal Roh Tuhan dan Dia yang diutus Tuhan adalah hidup kekal.

    Ketika Nabi Musa diperlihatkan kemuliaan kekudusan hadirat Tuhan, Tuhan menudungi (spiritual covering, yaitu divine mercy) Musa dengan telapak tangan-Nya. 17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." 18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." 19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." 

20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." 21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; 22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. 23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan." (Keluaran 33:17–23). 

    Seperti Musa yang memiliki 'tempat' dekat Tuhan dan diberikan spiritual covering (divine mercy), ketika Roh Tuhan menurunkan hadirat Roh-Nya, setiap pengikut 'Jalan' senantiasa 'memiliki tempat' untuk meminta 'tudungan' rohani yang menutupi roh orang percaya, yaitu 'darah' Kristus yang tertumpah satu kali menurut 'Mezbah Melkisedek.' Kemuliaan kekudusan hadirat Roh Tuhan tidak ada yang dapat bertahan menghadapinya, namun oleh 'jubah' dari Firman Tuhan—yaitu Kristus—melalui pencurahan Kasih Karunia di dalam 'nama' Kristus, Roh Kudus sebagai janji Immanuel yang berlanjut telah dianugerahkan kepada semua manusia menurut kehendak Ilahi (termasuk kedatangan Kristus yang kedua kali). 

    "Tangan (kanan) Tuhan yang menudungi Musa" senantiasa menubuatkan karya rahmat (mercy) Kristus melalui pencurahan darah-Nya, sehingga jubah-Nya senantiasa dengan setia dapat 'menudungi' mereka yang telah dianugerahi rasa "takut akan Tuhan" untuk memasuki "hadirat Roh Tuhan (wajah-Nya)." Ya, seperti Nabi Musa yang ditudungi telapak tangan kanan-Nya di suatu 'lekuk gunung', kita juga senantiasa 'memiliki tempat' untuk "diberikan pelepasan dari dosa-dosa", yaitu darah Kristus yang setia dan benar. Oleh karena itu, Yesus adalah "gunung batu keselamatan kita" (the Rock of our salvation). Selalu ada tempat bagi kita di dekat Allah, di atas gunung batu keselamatan, dan Daud menyanyikan, "Engkaulah gunung batuku dan keselamatanku." Tempat di atas gunung batu itu selalu mengarah pada Mezbah Domba Allah: Salib Suci Yeshua.

    Karena Musa telah dianugerahi kasih karunia sehingga ia berkenan memasuki hadirat Roh Tuhan, maka Tuhan YHVH 'bergaul karib' dengan roh Nabi Musa. Anugerah "takut akan Tuhan" adalah 'permulaan hikmat' (Roh Tuhan) dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. Dalam hadirat YHVH, roh pengertian turut bersuara kepada Nabi Musa: "6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat."" (Keluaran 34:6–7). 

    YHVH memberikan Roh pengertian kepada Nabi Musa perihal sifat-sifat Roh Tuhan. Semua pengikut Jalan Perjanjian Baru telah dianugerahi "Kasih karunia" di dalam Kristus. Karena Bapa berkenan kepada Anak-Nya, mereka yang diperdamaikan dalam Kristus adalah penerima Kasih karunia Tuhan, sama seperti Nabi Musa yang dianugerahi kasih karunia oleh Tuhan. Mereka yang dianugerahi kasih karunia—yaitu mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan—adalah penerima "kunci" Roh Tuhan, yaitu anugerah "takut akan Tuhan." Ketika 'fajar menyingsing', kita akan tahu cara meminta dengan benar perihal kehendak Tuhan dan anugerah-Nya. Kristus adalah Jalan Kebenaran (Jalan perdamaian); Kristus adalah Pintu (pintu itu dimungkinkan oleh curahan hadirat Roh Kudus); dan karunia-karunia Roh Tujuh Lapis adalah 'kunci-kunci' untuk mengenali Roh Kristus. 

    Nabi Yesaya bernubuat bahwasanya: "Sebab itu umat-Ku harus pergi ke dalam pembuangan, oleh karena mereka tidak mengerti (kurang Roh Pengertian); orang-orangnya yang mulia akan mati kelaparan, dan khalayaknya ramai akan menderita kehausan." (Yesaya 5:13). Pengetahuan wahyu (revelation knowledge) ini ditujukan oleh Tuhan YHVH kepada umat-Nya, bangsa Ibrani, yang telah dibuang ke dalam pembuangan di Babel. 'Roh Pengetahuan Wahyu' ini masih berbicara sampai sekarang untuk umat Tuhan ('perempuan') dan 'anak-anak'. Negara-negara Eropa Timur, Rusia, Cina, Korea Utara, dan Kuba pada suatu masa pernah menjadi tempat bagi banyak pengikut Kristus sebelum mereka masuk 'pembuangan' ke dalam ajaran komunisme. Mengapa mereka terjerumus ke dalam ajaran yang salah, yaitu ajaran yang menyatakan ketiadaan Tuhan Sang Pencipta (ateisme)? Banyak di antara pemimpin negara-negara tersebut pada mulanya adalah penganut "Jalan." Namun, karena mereka kekurangan Roh Pengertian (lack of understanding), hal itu menjerumuskan para pemimpin mereka sekaligus menyeret negara dan penduduknya dilanda 'angin' yang mengajarkan ajaran ateisme. 

    Firman Tuhan: "Umat-Ku masuk ke dalam pembuangan karena tidak ada pengertian." Pengertian Roh datang karena pencurahan Roh Tujuh Lapis ke atas umat-Nya. Jika tidak ada Roh yang turun, maka tidak ada roh kekuatan dan damai sejahtera. Namun, kini curahan hujan akhir (latter rain) telah melanda kembali negara-negara tersebut, dan pemerintah tampaknya memberikan kelonggaran kebebasan beragama seperti di Eropa Timur dan Rusia, meskipun di beberapa negara seperti Korea Utara, para pengikut Jalan masih dikekang.

    Semoga kasih setia Roh Tuhan mencurahkan Roh Tujuh Lapis-Nya kepada barisan pemimpin negara-negara tersebut agar memberikan kebebasan kepada para Pengikut Jalan di negara mereka, sehingga mereka dapat beribadah dengan tenang tanpa penganiayaan pihak pemerintah. Surat Rasul Paulus berbunyi: "Sebab di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." (2 Korintus 3:17). Hadirat pencurahan Roh Kudus adalah 'kunci' bagi pembangunan roh pengertian ke atas roh setiap orang percaya. ...mengenal Yang Mahakudus adalah Roh Pengertian (Amsal 9:10). Jika Roh Pengertian menerpa semua pemimpin yang percaya 'Jalan' di negara-negara tersebut, sudah tentu mereka tidak terjerumus ke dalam kesesatan (errors), yaitu pembuangan 'ke dalam ajaran komunisme' (ateisme). Semoga kasih setia dan belas kasihan Tuhan menerpa semua pemimpin di negara-negara tersebut, supaya 'Roh Pengertian' membawa mereka yang tertulis namanya dalam kitab kehidupan pada pengenalan akan Yang Mahakudus, serta memberikan mereka kekuatan, atau sekurang-kurangnya memberikan pengertian bahwa yang memegang 'kunci segala maut' dan kunci kerajaan maut adalah Yeshua. Semoga mereka juga diberikan kebebasan sebagai pengikut Jalan yang tidak dianiaya oleh 'patung' binatang yang memerintah mereka. "Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!" (Mazmur 33:12).



Tidak ada komentar: