"Dan pada masa itu orang-orang
akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya; dan mereka akan ingin
mati, tetapi maut lari dari mereka." (Alkitab Terjemahan Baru, Wahyu 9:6)
Dalam "bahasa Roh" Ilahi, "nama" Tuhan bermakna "karya" Tuhan. Karya Roh Tuhan dijelaskan oleh seluruh firman yang dianugerahkan kepada umat-Nya sejak zaman Adam. Karya tersebut berasal dari akal budi Tuhan yang Hidup dan kekal abadi, yang disebut menurut Tatanan (Ordo) Melkisedek. Tatanan Melkisedek itu kelak dipahami dan dinyatakan dalam pribadi Mesias--Yesus Kristus!
Secara singkat, Anak Manusia, Yeshua Kristus, adalah karya Roh Tuhan menurut Tatanan Melkisedek! Sebab itu, Kristus juga dilihat dan dikenal sebagai Firman yang telah menjadi manusia untuk menyempurnakan misi "Anak Domba Allah" (Upacara Ritus Mezbah Surgawi di Bumi).
Karya Kristus sepenuhnya seturut dengan Firman Allah karena Roh-Nya adalah Roh dengan tujuh lapis karunia (Yesaya 11). Firman itu kudus, benar, tanpa cacat cela (sempurna), dan penuh kuasa. Sifat-sifat Firman demikian adanya karena Firman itu "hidup dan kekal abadi". Kuasanya diberlakukan oleh para malaikat surga dan penghuni surgawi.
Umat Tuhan di bumi diperintahkan untuk menuruti dan melaksanakan isi pesan firman Allah tersebut sebagaimana tercantum dalam Doa Bapa Kami; “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Orang yang melakukan Doa Bapa Kami disebut sebagai pelaku-pelaku Firman (the doers of the Word)!
Firman adalah roh dan hidup. Oleh karena itu, "nama" Kristus juga adalah Firman Allah (Wahyu 19:13). Seluruh karya atau pekerjaan Kristus adalah Firman Allah, atau dalam Roh nubuatan berbunyi: "...dan nama-Nya ialah Firman Allah (the Word of God)" seperti tertulis dalam Wahyu 19:13. Seluruh hidup-Nya di bumi dan di sorga adalah bertujuan untuk menggenapi Firman Allah (Lukas 24: 44).
Sekali imbas, petikan Wahyu 9:6 di atas mengingatkan kita pada film buatan Hollywood yang bertema zombie, yaitu manusia yang tidak mati karena berubah menjadi makhluk zombie. Namun, ayat Wahyu 9:6 sama sekali tidak ada kaitannya dengan fenomena zombie seperti yang disajikan oleh film fantasi atau fiksi ilmiah (sci-fi) Hollywood.
Secara ringkas, ayat 6 tersebut mengungkapkan realitas "perbudakan" yang akan melanda seluruh umat manusia pada saat-saat terakhir! Kata nubuat "maut" dalam ayat 6 di atas bermakna "karya" manusia yang menuju kepada kebinasaan (perishable).
Apa saja yang dihasilkan oleh kapasitas intelek manusia di bumi adalah "maut" (death, yang berarti karya tangan yang fana), kecuali perbuatan atau ibadah "Bapa Kami" yang dilakukan secara sempurna—yaitu yang dilakukan dengan kekuatan Ilahi (lihat Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6). Perbuatan-perbuatan manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan dalam Doa Bapa Kami adalah perbuatan yang kekal abadi (non-perishable), apabila berkenan di mata Tuhan!
Perjanjian uang dinubuatkan sebagai "maut", sebab uang bukanlah sumber kehidupan yang sejati; uang adalah karya manusia yang mewakili nilai untuk transaksi "membeli atau menjual". Uang bukanlah karya Ilahi dan tidak berada di dalam "nama" Tuhan. Namun, penduduk dunia tetap percaya dan mengadopsi "karya" (nama) yang disebut "uang" atau "moneter" demi kelangsungan hidup, karena semua orang terikat pada kesepakatan, kesepahaman, atau perjanjian-perjanjian duniawi, serta menerima peraturan uang sesuai dengan hukum-hukumnya.
Mengapa uang—baik uang logam maupun uang kertas—menampilkan gambar penguasa atau raja? Karena "uang" adalah "karya" penguasa! Hal itu juga disampaikan oleh perkataan Roh nubuatan sebagai "nama binatang" atau "nama manusia". Dalam Kitab Kejadian 11:4, manusia di bumi berkata: "Marilah kita mencari nama..." Ini berarti: manusia di bumi mulai berkarya demi dirinya sendiri.
Sumber kehidupan sejati yang menjanjikan kehidupan kekal abadi adalah nama-nama Tuhan, dan jaminan bagi "karya-karya" ("nama-nama") Tuhan adalah perjanjian—yaitu Perjanjian Paskah Tuhan.
Namun, umat manusia sejagat telah berkata sejak Sistem Bretton Woods pada tahun 1944:1 "...marilah kita mencari 'nama'..." Karya utama atau "nama" seluruh manusia di bumi pada saat-saat terakhir adalah "peace andsecurity" (damai dan aman), serta karya “uang fiat"2 atau "moneter" untuk urusan jual-beli. "Peace and security" dan "sistem moneter" adalah karya-karya (nama-nama) utama manusia pada akhir zaman bangsa-bangsa. Sifatnya sementara dan memperbudak manusia; karena sifatnya yang memperbudak itulah ia dinubuatkan sebagai "maut" (the covenant of death).
Pekerjaan-pekerjaan yang "kekal abadi" secara jelas dinyatakan oleh Firman, yaitu kehendak-kehendak Ilahi yang terkandung dalam Doa Bapa Kami. "Karya" manusia dalam kehidupan yang tanpa Tuhan dinubuatkan sebagai "maut", sedangkan "karya" Tuhan bersifat kekal abadi. Seluruh firman Tuhan adalah misi (karya) Roh Tuhan. Jelas sekali, "Nama" Tuhan ("karya" Tuhan) ialah Firman Allah: Kristus (Wahyu 19:13b).
"Pada masa itu orang-orang akan mencari 'maut' (mencari uang)". Pada saat-saat terakhir, umat manusia sejagat akan 'mencari uang' demi kelangsungan hidup. Bahkan sebelum era berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (1945 M) muncul, uang telah lama dirancang oleh kuasa-kuasa besar dunia untuk menjadi ibarat 'darah dan nadi' bagi misi pembangunan negara (nation-building atau empire building) bagi setiap bangsa di dunia—sebagaimana pembuatan batu bata (brickmaking) pernah menjadi dasar bagi misi "peace and security" dan pembangunan kota (city-building) pada zaman purba, yaitu sebelum bermulanya era bangsa-bangsa (Kejadian 11).
Pada masa-masa terakhir zaman perdamaian oleh 'Raja Damai', serta era permulaan penghakiman dan penghukuman oleh Hakim Agung, kekuatan ekonomi—yaitu keutuhan nilai uang—menjadi dasar bagi misi ('nama') membangun negara bagi setiap bangsa di dunia.
Ilmu "...membuat batu bata dan membakarnya baik-baik..." adalah dasar pembangunan kota-kota yang sezaman dengan Kota Babel purba (Kejadian 11). Tinggal di dalam kota yang dibangun menyerupai benteng jauh lebih aman dibandingkan tinggal bebas di tanah lapang tanpa dikelilingi oleh tembok-tembok batu bata. Kerajaan monarki purba tidak dapat dipisahkan dari kota/benteng yang kokoh dan raja yang memerintah. Maka, kerajaan-kerajaan purba sangat bergantung pada pembangunan kota/benteng (city/fort building) sebagai sumber "peace and security" di bumi.
Sementara itu, ungkapan "Marilah kita mencari nama..." adalah frasa nubuatan yang menyatakan karya (handiwork) kehidupan manusia yang kelak diperbudak oleh 'nama' yang mereka cari tersebut. Ketika manusia mencari 'nama' manusia, itu berarti umat manusia berkarya di bumi tanpa mencari 'nama' Tuhan; mereka bukanlah pelaku-pelaku Firman Tuhan. Padahal jelas bahwa nama-nama Tuhan memerdekakan umat manusia dari perbudakan dosa, dan mencari nama Tuhan menuntun manusia kepada Sumber Kehidupan yang sejati; nama Tuhan menjanjikan keselamatan rohaniah dan kehidupan kekal abadi.
Manusia yang pusat kesadarannya didominasi oleh akal budi cenderung 'berkarya' atau "mencari nama" manusia demi kehidupan daging! Namun, tanpa nama Tuhan, karya ("nama") manusia akan berakhir dalam kesia-siaan. Kejadian 11 memberikan kita pengertian bahwa membangun kota-kota (city-building) yang kokoh merupakan sumber "peace and security" bagi umat manusia pada zaman Babel purba untuk bertahan hidup di bumi. Keutuhan kota (kingdom-building) yang dibangun sangat bergantung pada teknologi pembuatan batu bata (brickmaking). Akhir zaman telah dinubuatkan sejak awal mula (Yesaya 46:10).
Namun pada akhir zaman, karya politik dan karya ekonomi (karya uang) yang kokoh menjadi dasar "peace and security" bagi setiap bangsa dan negara (nation-building). Karya nation-building pada masa-masa terakhir menuntut ilmu perhitungan dalam seluruh matematika ekonomi, yaitu dalam prinsip modern penawaran dan permintaan (supply and demand).
Tuhan adalah Pencipta langit danbumi; oleh karena itu, nama-nama Tuhan adalah dasar dan sumber "keselamatan dan damai sejahtera" yang sejati. Kuasa Roh Tuhan adalah "Sumber Kehidupan", dan nama-nama-Nya yang memelihara bumi, manusia, serta seluruh makhluk hidup dan segala isinya. "Nama" Tuhan ("karya" Tuhan) adalah damai sejahtera manusia yang sejati!
Nama-nama Roh Tuhanlah yang memelihara seluruh keseimbangan alam semesta, sedangkan 'karya uang' sama sekali tidak memiliki kuasa untuk memelihara, juga tidak memiliki kuasa gaib untuk menyembuhkan alam semesta dan bumi. Bahkan, "cinta akan uang" telah mengakibatkan pertumpahan darah manusia dan mendatangkan kerusakan pada bumi secara terus-menerus.
"...tetapi mereka tidak akan
menemukannya; dan mereka akan ingin mati." Mengapa?
Hal itu terjadi karena krisis ekonomi yang sangat dahsyat pada era apokaliptik 'api'! Ketika nilai upah menjadi negatif akibat utang negara-negara yang tersesat jauh dari perhitungan ekonomi yang sehat dan diizinkan, itu bermakna sama dengan "tidak menemukannya...". Akan ada masanya seluruh ilmu matematika dalam ekonomi mengalami kegagalan.
Pada saat perhitungan tidak lagi
berfungsi, 'karya uang' yang dicari oleh manusia seolah-olah akan 'terbang dan
lari'. Berbagai usaha dan kerja keras yang dilakukan dengan bertungkus-lumus
hanya akan berakhir dengan "tidak menemukannya", karena nilai upah
akan terus menjadi negatif. Taraf hidup akan merosot tajam! Daya beli yang amat
rendah secara berkepanjangan atau pendapatan negatif secara menyeluruh di
seluruh dunia adalah kejatuhan ekonomi (economic collapses) yang
mengakibatkan mereka yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan menjadi
"ingin mati".
Dan "maut lari dari mereka" karena seluruh upah atau pendapatan akan menjadi kesia-siaan (negatif). Keadaan global seperti ini akan mengarah pada penggenapan nubuatan dalam Wahyu 9, yaitu keterlibatan "200 juta tentara" dalam perang dunia.
Penulis tidak memiliki niat untuk membenci atau menjadikan diri sebagai pihak yang anti terhadap "karya" manusia mengenai sistem moneter. Ulasan di atas hanyalah sebuah kesaksian tentang takdir yang akan menimpa manusia beserta karyanya apabila murka sangkakala yang kelima (the 5th trumpet) dicurahkan ke atas bumi.
Meskipun kita menyaksikan tanda-tanda akhir zaman bangsa-bangsa, kita tidak bertindak seolah-olah anti terhadap "karya" manusia di bumi. Karya manusia merupakan kebutuhan bagi kehidupan jasmani di bumi, sekalipun karya tersebut dirajut dengan berbagai ketidakadilan dan konspirasi! Semua penguasa (yang juga disebut sebagai raja-raja di bumi atau yang menyerupai raja) dari setiap bangsa dan negara terikat pada hukum-hukum mengenai perjanjian "nama" manusia.
Nubuatan para nabi menyingkapkan masa depan, dan kita melihat bahwa karya Tuhan ("nama-nama" Tuhan) sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan karya-karya manusia ("nama-nama" manusia)—yakni antara yang fana (perishable) dan yang kekal (imperishable). Manusia berkata: "Marilah kita mencari 'nama'..." Namun, "nama" yang mereka cari justru telah membuat bangsa-bangsa menjadi marah.
Akan tetapi, kita tahu: "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar." (Mazmur 29:3). Mazmur 29:1-8 merupakan pengantar (intro) bagi nubuatan "suara" Sang Hakim, yang murka-Nya berjalan seperti pusaran puting beliung (Nahum 1). Suara Hakim Yahweh boleh dirujuk dengan ekspresi puitis dalam Mazmur 29: Sabda.org).
Meskipun suara "nama-nama" Tuhan seolah-olah memiliki 'abjad bahasa Roh' (abjad yang menjelaskan aliran Roh nubuatan: the flow of the Spirit of prophecy), setiap "nama" Tuhan memiliki pemberitaan 'langit' dan 'bumi' yang dapat dibedakan. Oleh karena itu, nama "Raja Damai" diberitakan oleh langit dan bumi dengan rincian penyampaian yang berbeda dari pemberitaan nama "Sang Hakim".
Meskipun demikian,
pemberitaan tersebut secara konsisten mengalir menurut aliran Roh nubuatan,
yaitu mengalir pada 'abjad Roh': langit dan bumi. Yeshua berkata:
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku," dan Ia juga berkata:
"...Akulah gembala yang baik..."
Referensi
Alkitab
Terjemahan Baru. (2015). Yayasan Lembaga SABDA, sabda.org.
Diakses pada 20 Sept. 2015.
Nota Kaki
1 “Sistem
Bretton Woods”. Kamus Ekonomi, Cet. 1 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993), hlm. 243
2 “Wang
fiat”. Kamus Ekonomi, Cet. 1 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993), hlm. 272-273

Tidak ada komentar:
Posting Komentar