Sabtu, 22 April 2023

"Bermalam" dalam perjalanan iman...

By Joannes Simin


"10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. 11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu." (Alkitab terjemahan Baru, Kejadian 28:10-11)

    Allah itu Roh.Firman Allah itu pun adalah Roh Allah2, sebab segala Firman Allah berasal dari Roh Allah. Jika kisah perjalanan Yakub dari Bersyeba ke Haran tidak melibatkan hal-hal yang memasuki hadirat Roh TUHAN (YHVH), tentu kata 'bermalam' itu sendiri tidak akan mengandung arti rohani yang signifikan. Namun, oleh karena catatan Kitab Kejadian merupakan bahasa Roh Allah, maka kata 'bermalam' pastilah mengandung makna hakiki dari roh nubuat (the nature of the Spirit of prophecy) yang sangat dalam.

    Para cendekiawan dan ahli Kitab Suci yang terpelajar biasanya menamai metode penafsiran kata demi kata ini sebagai expositional interpretation word by word. Mereka adalah ahli di bidang etimologi. Biasanya, orang-orang yang berminat membuat penafsiran seperti ini sangat menguasai bahasa asli Kitab Suci. Jadi, mereka tidak hanya tergolong sebagai ahli teologi (biblical scholars), melainkan juga sebagai ahli linguistik (linguists), khususnya bahasa asli dari kitab-kitab kuno.

     Penulis sendiri sejujurnya amat awam dalam ilmu hermeneutika (hermeneutics). Namun, saya memberanikan diri untuk membagikan beberapa perenungan kepada mereka yang sedang berjalan dalam 'kegelapan.' Sekurang-kurangnya, mereka dapat menangkap arti kata 'bermalam'hasil dari pengalaman perjalanan iman di 'padang gurun' atau di dalam 'kegelapan.' Nabi Yesaya menuliskan Firman-Nya:

"Siapa di antara kamu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya terang baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya!" (Yesaya 50:10)

    Kata profetik "bermalam" sebenarnya ditujukan secara khusus kepada semua orang percaya yang sedang menelusuri perjalanan iman. Kata 'bermalam' dalam penafsiran tipologi (kiasan rohani) pada petikan kisah perjalanan Yakub menubuatkan agar kita menangkap pengajaran perjalanan rohani tersebut, sehingga kita dapat melafazkan inti doa dalam Mazmur 91:1 yang mengandung kata "bermalam" dengan sempurna. Kita sedang membicarakan makna kontekstual (contextual meaning) sekaligus penafsiran profetik/tipologis (prophetic/typological interpretation), sebagaimana yang dimaksudkan dalam Ayub 33:14:

"Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak meperhatikannya." (Ayub 33:14)

"Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Mazmur 62:12-13)


    Cara pertama Dia berfirman adalah melalui Pribadi Bapa (YHVH) di dalam Perjanjian Lama, dan cara kedua adalah melalui Putra-Nya, Anak Yang Mahatinggi, dalam Pribadi Kristus Yesus (Yeshua) di dalam Perjanjian Baru—Sion yang Baru (the New Zion)! Sebab itu, Bapa menubuatkan kedatangan Anak dalam seluruh Kitab Taurat, Kitab Nabi-nabi, dan Mazmur, sedangkan Yesus mengesahkan nubuat Bapa tentang tujuan kedatangan Firman yang menjadi manusia (Lukas 24:44).

    Allah sebagai Pencipta langit dan bumi serta segala isinya adalah mahakudus, sedangkan manusia yang diciptakan itu lemah dan senantiasa terluka. Keadaan inilah yang menimbulkan perseteruan atau konflik antara Sang Pencipta dan umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

    Oleh sebab itu, sejak semula Allah telah merencanakan untuk menganugerahkan 'Jalan' bagi umat manusia yang jatuh, supaya mereka dapat diperdamaikan dan hidup dalam kuasa kekudusan-Nya. Sekalipun dalam hidup sehari-hari manusia masih kerap takluk kepada kebinasaan daging akibat belenggu dosa, melalui 'Jalan' itu kita dilepaskan dari sengat maut. Namun, kita tidak akan dapat melihat fungsi 'jalan' itu secara jelas melainkan jika kita diajar oleh Roh Allah pada saat roh kita 'bermalam' di 'suatu tempat.' 

    Jadi, kata "bermalam" hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang percaya kepada 'nama' TUHAN! Kata ini memberikan arti rohani tentang pengajaran 'pendamaian'—yaitu bagaimana roh orang percaya yang menderita setiap hari dapat diperdamaikan dengan Roh Allah yang Mahakudus.

    'Bermalam' adalah ibarat 'prolog' bagi dasar berdoa di dalam roh dan kebenaran. Berdoa adalah urusan memasuki 'kamar' terdalam menurut ajaran Yesus dalam Matius 6:6 dan Matius 6:9-14. Urusan memasuki 'kamar terdalam' adalah urusan komunikasi rohani antara Roh Allah dan roh orang percaya. Raja Daud menuliskan syair Mazmur tentang komunikasi spiritual ini dalam frasa: "Samudera raya menyahut kepada samudera raya" (Deep calls unto deep).

    Di dalam 'kamar' atau 'rumah TUHAN' itu, kita diajar memasuki hadirat Roh Bapa. Ini adalah urusan yang tidak diajarkan dalam sistem pendidikan formal mana pun dan tidak dapat dipelajari dalam waktu singkat. Ini adalah anugerah Allah, suatu urusan hidup atau mati yang dipelajari sepanjang hayat. Orang-orang terdahulu, mungkin pada tingkat terbaik sekalipun, hanya dapat membagikan beberapa petunjuk dari pengalaman rohani mereka kepada orang-orang yang sedang menelusuri perjalanan iman. Man knows only in part, but God knows all matters (Manusia hanya tahu sebagian, tetapi Allah tahu segalanya).

    Kita tidak akan dapat memasuki 'kamar' (the Spirit of prayer) jika kita tidak dianugerahi Roh Pengetahuan dan Roh Pengertian. Hanya dengan karunia itulah kita dapat mengerti arti rohani dari 'beristirahat.' Bahkan, urusan 'percaya' kepada TUHAN itu sendiri hanya dapat dinyatakan dari hati kita oleh karena karya 'nama' TUHAN melalui karunia Roh Pengetahuan dan Roh Pengertian dari Roh Allah (Amsal 9:10). 

    Tujuan utama berdoa adalah supaya roh kita mendapat 'ketenangan' (rest) di dalam kuasa Kristus, yaitu disembuhkan dari 'luka-luka' yang meletihkan dan melesukan batin kita. Melalui doalah kita memperoleh pelepasan dari beban dosa (luka-luka yang menumpuk dan belum dibereskan melalui pertobatan atau pengakuan dosa). Hal ini tercantum dalam ajakan Kristus untuk beristirahat di dalam-Nya (rest in Christ) pada Matius 11:28-30.

    Oleh karena itu, siapa pun yang ingin berdoa di 'kamar' terdalam harus memahami arti 'beristirahat' (rest) secara rohani. Kita baru dapat mulai mempelajari makna 'beristirahat' secara rohani apabila kita telah melewati suatu tempat atau titik balik kehidupan yang disebut "there is a place" (ada suatu tempat), tempat roh kita mulai menangkap arti 'bermalam.' Melalui pengalaman rohani 'bermalam' itulah kita mulai belajar bagaimana roh kita diperdamaikan dengan Roh Allah!

    Agar diberkati oleh Roh Allah, kita harus terlebih dahulu diperdamaikan dengan-Nya melalui pelayanan Imam Agung Melkisedek yang duduk di sebelah kanan Bapa. Seluruh penduduk bumi, tanpa memandang apa pun kepercayaannya, memang tetap menerima anugerah umum dari Allah, sekalipun Alkitab mencatat bahwa kutuk telah menimpa keturunan Adam dan Hawa dalam lipatan tujuh kali ganda (Ulangan 28; Imamat 26:18, 21, 24, 28). 

    Berkat-berkat Allah sesuai dengan nama-Nya yang kekal (Keluaran 34:5-7) tetap mengalirkan kuasa kehidupan bagi semua orang, termasuk yang tidak percaya, supaya mereka dapat melanjutkan hidup secara jasmani. Namun, 'Berkat' (Berkat dari 'bermalam') yang kita perbincangkan di sini adalah Berkat menjadi 'anak-anak Allah'.4

    Segala bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah akan membelenggu manusia ke dalam kuasa dosa (sengat maut) dan menuju kebinasaan. Namun, syukur kepada Anak Domba Paskah Allah, Yesus Kristus, yang telah membebaskan kita dari segala kutuk! Secara jasmani, Rasul Paulus menyatakan bahwa kita telah terjual di bawah kuasa dosa karena kelemahan daging kita, tetapi pengharapan kita dimeteraikan oleh kuasa kebangkitan Kristus! 

    Dalam iman Kristen, Anak Domba Allah—Sang Raja Damai (Prince of Peace) / Imam Agung Melkisedek—berperan sebagai penghapus dosa dunia sekaligus Pengantara antara Roh Allah dan umat-Nya, agar roh kita mengecap kesembuhan yang tuntas. Kita senantiasa bersukacita karena kita memiliki Pengantara yang begitu sempurna, yaitu Anak Allah Yang Mahatinggi.Dia tidak berdosa dan Dialah Korban Penghapus Dosa (Sin Offering) yang paling sempurna.6

    Darah-Nya yang suci menyembuhkansegala 'luka' roh orang percaya. Sebagai Raja Damai dan Imam Melkisedek, karya pendamaian antara Allah dan manusia telah selesai digenapioleh Kristus. Tidak ada pengantaraan yang lebih agung daripada pelayanan pengantaraan Yesus Kristus! Tanpa pengantaraan Kristus, tidak ada seorang pun dari kita yang layak "memasuki hadirat Roh Allah" yang Mahakudus9. Kesucian Roh Allah yang murni dapat menghanguskan10 kita!

    TUHAN pernah menjelaskan kepada Nabi Musa (Moshe) bagaimana "Kasih Karunia"11 itu menudungi roh orang percaya agar tidak terlahap oleh api kekudusan Allah yang menghanguskan. "Kasih Karunia" dari Bapa itu kelak dinyatakan dalam Pribadi Sang Mesias yang dijanjikan, yaitu Firman yang hidup yang telah menjadi manusia dalam Yesus Kristus (the incarnated Word). Pendamaian Kristus melalui kuasa darah-Nya menutupi ketelanjangan roh kita setiap hari. Dialah yang menanggung beban dan penderitaan kita setiap hari (Mazmur 68:20).

Kekudusan Allah Bapa

Kitab Keluaran 33:20 mencatat:

Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

    "Tidak tahan" di sini diibaratkan seperti kapas yang tidak tahan terhadap api. Roh manusia tidak akan mampu bertahan di dalam hadirat kekudusan Sang Pencipta yang semarak-Nya menghanguskan. Roh kita perlu dibalut oleh kasih karunia-Nya sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa! Sesungguhnya, kita memerlukan pengantaraan Kristus—Kasih Karunia yang membalut roh kita—agar kita dapat bertahan memandang wajah-Nya. Pengantaraan Kristus yang bersifat Immanuel (Allah menyertai kita) telah datang, dan darah-Nya yang suci telah dipersembahkan "Sudah Selesai"12 di atas mezbah kayu salib!

    "Sudah Selesai"13 berarti berkat-Nya mengalir secara Immanuel (tanpa henti). Yakub, bapa leluhur bangsa Israel, menemukan keajaiban kasih karunia itu ketika ia memasuki hadirat Roh Allah di "suatu tempat" dalam perjalanannya ke Padan-Aram. Yakub tidak mati sewaktu melihat penglihatan tentang Allah. Rupanya, roh Yakub telah diperdamaikan ketika ia memasuki hadirat 'Rumah Allah' di Luz. Kelak, ia menamai tempat di mana ia melihat pintu gerbang surga terbuka itu sebagai Betel (Beth-El).

"...Maka berangkatlah Yakub dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di 'suatu tempat,' dan 'bermalam' di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil salah satu batu yang ada di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu." (Kejadian 28:10-11)

    Catatan dalam Kejadian 28:10-11 bernubuat bagi setiap orang percaya tentang perjalanan iman yang akan kita lalui. Hingga pada "suatu tempat" dalam perjalanan hidup, kita diajarkan perihal perdamaian dengan Roh Allah atau yang disebut "istirehat"14 (the Sabbath Rest), yang dalam bahasa Ibrani kuno disebut manoach/menuchah—istirahat yang membawa arti diperdamaikan.

    Dalam Kitab Kejadian 28, frasa "suatu tempat" (there is a place), jika dilihat dengan mata rohani melalui penafsiran tipologi, merujuk pada suatu titik sejarah dalam perjalanan hidup seorang percaya. Pada titik tersebut, kita mengalami "kelahiran kembali"15 menjadi Anak Allah16 dan mulai melihat Surga terbuka seperti yang dilihat oleh Yakub: tangga-tangga ke surga (the stairways of heaven) dan paduan suara malaikat (angelic choirs).

    Namun, proses kelahiran membutuhkan waktu. Ini bukanlah urusan satu hari atau satu malam. Kelahiran jasmani pun membutuhkan waktu sembilan bulan. Kelahiran rohani tidak memiliki jangka waktu yang pasti, namun kita tahu bahwa setiap orang percaya memiliki titik permulaan dalam perjalanan imannya yang dikenal sebagai "there is a place"17—titik sejarah di mana roh kita telah dilahirkan kembali. Di sanalah kita memahami arti 'rest' secara rohani, sebab 'bermalam' menuntut kita untuk mengerti arti ketenangan di dalam Kristus!18 Di tempat itulah—di dalam frasa profetik "suatu tempat"—Yakub diajar oleh Tuhan untuk "bermalam19(rested) secara rohani di tanah Luz. Inti dari kisah "bermalam" dalam Kejadian 28 ini adalah perolehan pengertian rohani.

    Bermalam di atas tanah lapang atau pasir tentu tidak aman. Yakub sebenarnya bermalam di 'suatu tempat' seperti yang pernah dilalui oleh Musa dan Elia, yaitu di "lekuk gunung batu"20 atau "gua," sebagaimana yang dialami oleh para nabi dan musafir iman (sojourners of faith). 'Suatu tempat' itu adalah tipologi bagi tempat 'bermalam' secara rohani. Bermalam dalam bahasa rohani merujuk pada tindakan 'berhenti' atau 'beristirahat'—yaitu berhenti dari belenggu dosa dan sengat maut.

    Kita harus memahami bahwa "suatu tempat" itu memiliki "lekuk batu" tempat kita dapat beristirahat. Kristus memberikan ajakan kepada semua anak Allah yang percaya kepada-Nya untuk datang kepada-Nya: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Roh yang letih adalah akibat luka-luka dosa yang tidak sembuh dan makin memberatkan hidup. 

    Hanya melalui pengampunan dosa dan kesembuhan rohani, batin kita menjadi pulih dan bebas dari sengat maut. Dari sinilah kita memahami pemazmur dalam Mazmur 18, ketika Raja Daud mengungkapkan bahwa Allah adalah Gunung Batu keselamatannya. Dalam perjalanan iman di padang gurun rohani (spiritual wilderness), tempat yang paling aman adalah di dalam perlindungan Gunung Batu, yaitu bermalam di dalam 'lekuk batu'. Frasa 'lekuk batu' menggambarkan posisi roh kita yang telah diperdamaikan dengan Roh Allah melalui pengantaraan Kristus, Pengantara Kita yang Sempurna (Our Perfect Mediator)!

    Kristus Dialah "lekuk batu" yang pernah ditemukan oleh Nabi Musa, sebagaimana yang tersirat di dalam Taurat. TUHAN berfirman bahwa Dia memberi kasih karunia kepada siapa yang berkenan kepada-Nya, sebab Kasih Karunia itu dianugerahkan kepada mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan. Rasul Paulus merumuskan bahwa mengenal Bapa (YHVH) dan Yesus Kristus adalah ketetapan ilahi di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:3-9). Orang percaya harus melihat 'lekuk batu' sebagai frasa profetik tentang Kristus yang "tersembunyi" di dalam Taurat. Daud pernah menyanyikan bahwa Allah memperlihatkan keajaiban-keajaiban hukum-Nya (wonderful things of the Law), yang merujuk pada kebaikan TUHAN yang nyata dalam Kristus.

 

"Lekuk Batu" dalam pertemuan antara TUHAN dan Nabi Musa di Gunung Sinai


Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam LEKUK gunung itu, dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat." (Keluaran 33:21-22)

    Bagi umat Perjanjian Baru, 'suatu tempat' itu adalah 'pendamaian' Kristus. Hanya di dalam pengantaraan Kristus di dalam lekuk gunung batu itulah kita dapat berdiri di hadirat-Nya yang Mahakudus. Pertemuan TUHAN dan Musa dalam Keluaran 33 merupakan penegasan atas apa yang telah dialami oleh para leluhur (patriarchs). Yakub telah lebih dahulu memasuki "lekuk batu" itu di tanah Luz dalam perjalanannya ke Padan-Aram. Di "suatu tempat" itu (di "lekuk batu" itu), Yakub melihat dalam mimpi malaikat-malaikat Allah turun naik. Tempat itu dinamainya Betel—hadirat Rumah Allah. Pintu Gerbang menuju rumah Allah itu adalah Yesus Kristus (Yohanes 1:49-51; Ibrani 1:6-13; Yohanes 10:7, 9).

    Untuk selamat, kita tidak bisa beristirahat di atas pasir yang berisiko mendatangkan maut. Kita harus mencari satu-satunya "lekuk batu" yang dekat dengan Roh Bapa, yaitu Dia yang duduk di sebelah kanan Bapa: Anak Manusia, Imam Agung menurut Melkisedek, yaitu Yesus Kristus! Itulah tujuan perjalanan di tengah gelap gulita, tempat kita menemukan makna dari frasa profetik "There is a place"—yaitu tempat "lekuk batu" di mana kita melihat Pintu Gerbang surga. Kristus berkata: "Akulah Pintu."

    Di sanalah kita diajar oleh Roh Allah bagaimana roh kita diperdamaikan dengan-Nya. Natanael pernah menyaksikan Pribadi Pintu Gerbang Surga itu. Yesus berjanji kepada Natanael bahwa ia akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia, sama seperti yang pernah dilihat oleh Yakub.

Pintu Gerbang Doa Bapa Kami di Betel 

Kejadian 28:16-17 mencatat:

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya." Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga."

"Akulah pintu itu..." — Yesus Kristus (Yohanes 10:7, 9)

    Yesus memberitahukan kepada Natanael bahwa Dialah Pintu Gerbang Surga yang dilihat oleh Yakub di Luz (Betel). Ribuan tahun kemudian, Firman itu telah menjadi manusia—"Tunas dari tunggul Isai" (Yesaya 11:1)—dan mengaku: "Akulah Pintu." Natanael percaya, lalu menjadi pengikut "Jalan Tuhan" (follower of the Way).21 Yakub menemui "Pintu" itu di Betel lebih 2,000 tahun dahulu. 

    Sungguh mustahil kita diberkati menjadi anak-anak Allah jika roh kita masih berada dalam perseteruan dengan-Nya. Kita harus mengambil posisi yang diperdamaikan dengan Allah, yaitu dengan menerima pengajaran tentang 'bermalam' atau 'beristirahat' (rest) di atas gunung batu keselamatan (Mazmur 18). Di sanalah firman-Nya terdengar jelas: "Peliharalah Hari Perhentian (Sabbath Rest)." Diperdamaikan dengan Allah berarti masuk ke dalam perhentian-Nya. Perintah TUHAN dalam Keluaran 20:8 berbunyi: "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat." Kristus adalah penggenapan sempurna dari Perhentian Sabat itu (Ibrani 4).

    Oleh sebab itu, jika gambaran 'bermalam' hadir dalam hidup kita secara tipologi, itu menandakan bahwa kita dipanggil oleh Roh Allah untuk memahami arti 'rest' (perhentian/pendamaian). Jika perjalanan iman kita terhenti karena tidak ada cahaya yang menerangi jalan—seperti ketika "matahari telah terbenam"—maka itulah saatnya kita menghayati kembali arti "bermalam." Dalam keadaan tidak dapat melangkah, kita perlu mengambil waktu untuk melakukan pembenahan rohani (spiritual inventories) dan memahami kembali makna 'kegelapan' di dalam terang firman-Nya:

"Siapa di antara kamu yang takut akan Tuhan dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya terang baginya, baiklah ia percaya kepada Tuhan dan bersandar kepada Allahnya!" (Yesaya 50:10)

    Ini berarti kita diajak untuk kembali ke "lekuk" gunung batu (rest/ Salib Kristus), tempat kita belajar bagaimana roh kita telah diperdamaikan dengan Roh Allah.


    Sering kali, kita perlu kembali ke Salib Kristus yang Kudus dan datang ke mezbah Allah. 'bermalam' berarti memandang Salib Kristus—yaitu masuk ke dalam rest! Kita diperdamaikan dengan Allah Bapa yang Mahakudus melalui pengantaraan yang sempurna oleh Anak-Nya, Yesus Kristus: Sang Kasih Karunia.

    Secara rohani dan pribadi, apakah arti frasa profetik "ada suatu tempat" bagi Saudara? Mengapa Henokh, bapa leluhur yang agung itu, belum hidup bergaul dengan Allah sebelum ia mencapai umur 65 tahun? Dalam Kejadian 5:21-24 dicatat:

 

“21 Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. 22 Dan Henokh hidup BERGAUL dengan Allah tiga ratus tahun lamanya, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 23 Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. 24 Dan Henokh BERGAUL dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.”

    Ia hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun, namun jelaslah bahwa sebelum mencapai umur 65 tahun, bapa leluhur yang agung ini belum mengalami frasa profetik "ada suatu tempat." Setelah mengalami frasa profetik "ada suatu tempat" atau pengalaman "lahir baru" dalam hidupnya, barulah ia hidup dalam iman dan bergaul dengan Allah selama 300 tahun. Hal ini tentu berarti bahwa ia hidup bergaul dengan Allah setelah ia 'dilahirkan kembali.' Dengan demikian, kita tahu bahwa pengalaman pribadi "ada suatu tempat" dalam diri Henokh telah "terjadi" ketika ia genap berumur 65 tahun (tahun lunar).

    Pada hakikatnya, frasa "ada suatu tempat" biasanya menubuatkan permulaan perjalanan iman kita. Namun, sering kali kita dibawa kembali berulang-ulang kepada frasa profetik itu—frasa yang disebut "ada suatu tempat" di padang gurun perjalanan iman kita kepada Allah—supaya rohani kita dimurnikan, sehingga kita dapat bertahan ketika memasuki Api Pentahir yang Dahsyat dari Kekudusan Roh Allah Yang Mahakuasa. Siapakah yang berani masuk ke dalam hadirat-Nya tanpa pengantaraan Kristus, Sang Penebus dan Juruselamat!



Nota Kaki:


1  Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/Alkitab, Yayasan Lembaga Sabda, www.sabda.orgYohanes 4:24

Alkitab Terjemahan Baru, Yohanes 1:1; Yohanes 6:63; Ibrani 4:14; Wahyu 1:16

Yesaya 50:10; Yunus 1:17; Yunus 2:1-10; Ayub 42:1-6

Yohanes 1:12; 1Yohanes 5:1

Yesaya 9:5-6; Mazmur 2:7-12; Yohanes 1:29; Roma 1:1-6

Yohanes 1:29; Matius 26:26-28; Yesaya 53:5; Yesaya 52:25

Lukas 24:44

Ibid. 

Matius 5:8

10 Keluaran 33:20 

11 Yohanes 1:17; Keluaran 33:19; Keluaran 34:5-6

12 Yohanes 19:30

13 Ibid

14 Kejadian 2:2-3

15 Yohanes 3:3-6; 1 Yohanes 5:6-12

16 Yohanes 1:12; 1 Yohanes 5:1

17 Kejadian 28:11

18 Matius 11:28-30

19 Lukas 24: 44; Mazmur 62:12; Ulangan 5:4-6; Kis.7:38; Ibrani 1:1-2

20 Wahyu 1:5; Wahyu 7:14; Yesaya 53:5; Kejadian 3:21

21 Kisah Para Rasul 9:2


Tidak ada komentar: