Prioritas
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka
semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu KUATIR akan
hari BESOK, karena hari besok mempunyai KESUSAHANNYA sendiri. Kesusahan s
Hanya ada satu keutamaan yang sangat penting dalam hidup orang percaya milik Kristus, yaitu mengambil keputusan untuk "duduk di dekat kaki Tuhan Yeshua [2]". Injil Lukas mencatat bahwa Maria telah mengambil keputusan untuk duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan Kristus.
38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung.
Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu
mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan (
Pengenapan seluruh Hukum Taurat, seluruh nubuat para nabi, dan Kitab Mazmur mengenai Pendamaian, Penebusan, dan Keselamatan.
Ada beberapa hakikat nubuat tentang karya penebusan umat manusia yang digenapi oleh karya Yesus Kristus secara tersembunyi di dalam kitab-kitab suci Taurat (Typology dalam Pentateuch), pengenapan nubuat dalam Kitab Suci para nabi, dan penyempurnaan nubuat-nubuat dalam Kitab Suci Mazmur yang berstatus "Sudah Selesai" [3] ketika Yeshua, Anak Domba Paskah Allah, menghembuskan napas terakhir-Nya di atas mezbah/Kayu Salib Kudus. Di antara contoh petikan nubuat atau FIRMAN Tuhan Bapa Yahweh yang digenapi saat kematian menimpa Domba Paskah Tuhan adalah sebagai berikut:
1. KELUARAN 20:1-17. Dinubuatkan dalam Yeremia 31:31-34 bahawa Roh Kudus akan menuliskan Taurat ini di dalam roh manusia/orang percaya; fenomena rohaniah ini bermula pada hari Pentakosta dalam era Perjanjian Baru. Maka, status Taurat dalam roh orang percaya adalah dilihat "Sudah Selesai." Ketika Tuahn Yahweh turun di gunung Sinai dulu, ia menulis sepuluh Hukum Taurat itu di atas batu dengan jari-Nya.
Segala pelanggaran kita terhadap Hukum Taurat menuntut Korban Penebus Dosa demi terjadinya Pendamaian. Taurat mengajarkan bahwa pelanggaran terhadap hukum dan perintah Allah memerlukan pencurahan darah untuk penentuan pendamaian [4]. Sebelum masa tersebut, yaitu pada zaman Perjanjian Lama, Allah telah berjanji untuk bertemu dengan bani Israel di atas Tutup Pendamaian Tabut Perjanjian (the atonement cover ~ the mercy seat of YHVH) [5] melalui pelayanan perantara Imam Besar/Gembala. Tuhan Yahweh menemui bani Israel melalui pengantaraan imam/gembala di dekat Tutup Pendamaian (the Mercy Seat).
Segala perintah dan firman dari Tuhan Yahweh disampaikan melalui gembala Israel di dekat Tutup Pendamaian tersebut. Pada zaman Nabi Musa, Musalah dan Imam besar Harun yang berbicara dengan Tuhan YHVH di dekat the Mercy Seat of God. Korban Pendamaian, yaitu DARAH dari korban penebus dosa bagi seluruh bangsa Israel, dipercikkan tujuh kali di atas Tutup Tabut Perjanjian dan ke atas umat Allah, supaya seluruh umat Israel sebagai bangsa pilihan dapat diperdamaikan dengan Allah yang kudus.
Penebusan Sion secara menyeluruh—baik Sion Perjanjian Lama maupun Sion Perjanjian Baru—berstatus "Sudah Selesai." Karya ini diselesaikan oleh Anak Domba Allah, Yeshua, di atas kayu salib. DARAH Yesus telah membayar tuntas seluruh tuntutan darah Korban Pendamaian atas segala kutuk dan 'bilur-bilur' akibat pelanggaran firman dari Sang Alpha dan Omega.
Berkat Kasih Karunia sebenarnya mengalir kepada seluruh bani Israel di Tanah Perjanjian dari Tutup Pendamaian (the atonement cover) atau the Mercy Seat of Yahweh. Darah binatang digunakan dalam ritus ibadah menurut Taurat karena darah binatang diizinkan oleh firman Tuhan sebagai sarana penghapusan dosa. Kelak, ibadah ritus Taurat ini dipahami sebagai 'bayangan' yang menuntun orang-orang Israel kepada iman itu sendiri, yaitu pribadi Yeshua.
Mereka (orang-orang Israel) kelak akan beriman kepada NAMA Tuhan Bapa, yaitu: Kasih Setia, Adil, Berlimpah Kasih Sayang, dan Setia Mengampuni. Bapa telah menganugerahkan NAMA itu kepada Anak-Nya, yaitu Yeshua Kristus. Namun, umat manusia sempat menganggap NAMA Tuhan ini tidak benar, sehingga dunia meninggalkan nama-Nya seperti pada zaman Nabi Nuh, di mana dunia hanya berfokus pada agenda manusiawi/aktiviti “daging”, yaitu 'makan dan minum' serta 'kawin dan dikawinkan.'
NAMA, yaitu Kasih Setia dan the Great Mercy, tersebut telah diberikan oleh Bapa kepada Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Tanggung jawab penebusan dan penyelamatan umat manusia telah ditakdirkan untuk dipikul oleh Yesus Kristus pada zaman Perjanjian Baru. Para ahli Kitab merumuskan bahwa Tuhan Anak telah melaksanakan tiga perkara utama untuk menyelesaikan perseteruan antara Roh Allah (yang tidak berdosa) dan manusia (yang senantiasa berdosa):
(i) Korban Penebus Dosa,
(ii) Pengantaraan, dan
(iii) Sumpah
Perjanjian Damai oleh Raja Damai.
Dalam tatanan ilahi di alam roh, Allah Bapa telah menetapkan bahwa pelanggaran hukum rohani menuntut transaksi yang melibatkan AIR, DARAH, dan ROH [6]. KETIGA-Nya adalah SATU, yaitu karya pribadi Kristus atau 'NAMA' yang diberikan oleh Bapa. Kita tidak dapat berkomunikasi secara langsung kepada Bapa segala Roh yang mahakudus tanpa pengantaraan Gembala yang Baik.
Oleh karena itu, hubungan antara Roh Bapa dan umat manusia menetapkan Kristus/Kasih Karunia sebagai Pengantaranya. Dahulu, pada zaman para bapa leluhur (Patriarchs), hanya satu garis keturunan yang telah diberi anugerah pengajaran mengenai kasih karunia dari Tuhan Yahweh. Mereka diajar oleh Tuhan mengenai Jalan, Pintu, Kunci, dan Jubah Kebenaran dalam berkomunikasi dengan Roh Allah Bapa.
Tuhan memiliki rencana agung bagi segala bangsa, yaitu penganugerahan Jalan, Pintu, Kunci, dan Jubah Kebenaran kepada semua bangsa di dunia melalui pengantaraan Kristus, Imam Agung menurut Melkisedek. Kekudusan Tuhan memenuhi alam semesta yang diciptakan-Nya. Kekudusan-Nya dapat menjadi sumber kebinasaan bagi manusia yang telah 'jatuh' ke dalam dosa, karena dosa pada hakikatnya berseteru dengan kekudusan Tuhan. Karena itu, kita memerlukan JALAN Tuhan jika merindukan kehidupan kekal.
Pengantaraan Kristus ditetapkan untuk menyelesaikan perseteruan antara Roh Allah dan roh manusia. Kodrat Roh Allah senantiasa kudus, sedangkan hakikat keberadaan manusia yang dibalut daging cenderung lemah dan sering jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, Kristus harus berdiri di tengah-tengah atau duduk di sebelah kanan Bapa untuk menyembuhkan luka-luka akibat dosa; sebab dosa manusialah yang menjadi sumber perseteruan tersebut.
Benih Penciptaan (Creation), yaitu segala pengetahuan, pengertian, hikmat, dan kuasa ilahi Kristus, merupakan 'Jalan' pemulihan atas kerusakan benih atau hakikat manusia di dalam ciptaan. This perpetual spiritual conflict between the Creator and mankind must be settled through the mediatorship of Jesus Christ: the Messianic Mediator.
Kita dapat tetap hidup di bumi yang kudus ini dengan syarat adanya pengantaraan Imam Agung Melkisedek—sebagaimana kelangsungan hidup janin (fetus) di dalam rahim ibunya, di mana keduanya dapat hidup berdampingan (co-exist) melalui keajaiban plasenta (placenta). Jika 'bermalam' diibaratkan seperti janin di dalam rahim ibu, maka memperoleh hikmat tentang "perhentian" (rest) dapat diumpamakan sebagai proses kelahiran baru.
Semakin kita menyadari kebutuhan akan "perhentian" atau kesembuhan dari keletihan akibat luka-luka dosa, semakin manusia bergantung kepada Pohon Kehidupan, yaitu Kristus. Dalam khotbah kebahagiaan-Nya, Kristus bersabda: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." Kata 'miskin' di sini bukanlah berarti kekurangan materi menurut hikmat duniawi, melainkan merujuk pada ketergantungan roh kita secara penuh kepada pengantaraan Kristus (Pohon Kehidupan). Tanpa Kristus, kita tidak memiliki arti. Itulah yang dimaksud dengan frasa "miskin di hadapan Allah."
Manusia yang lahir baru akan diajar oleh Roh Kudus melalui ajaran mezbah (altar), bahwa manusia harus hidup seperti ranting yang melekat pada Pohon Kehidupan. Hal ini sama seperti janin yang hidup dalam ketergantungan penuh melalui tali pusat dan fungsi plasenta yang memberikan perlindungan imunologi, fungsi kelenjar tubuh, pembuangan sisa metabolisme, asupan nutrisi, serta proses pernapasan bagi janin tersebut.
Darah ibu tidak bercampur dengan darah janin, namun seluruh proses kehidupan janin terjadi melalui perantaraan plasenta dan tali pusat. Sebelum dilahirkan, janin harus 'bermalam' di dalam rahim ibu selama sembilan bulan. Selama masa itu, ia bergantung penuh secara alami kepada perantaraan plasenta melalui saluran tali pusat.
Sebelum memahami kelahiran baru, roh manusia harus dididik terlebih dahulu mengenai ketergantungan penuh (dependency) kepada Roh Tuhan melalui perantaraan Kristus. Setelah ia memahami dan mengerti bagaimana hidup sebagai anak-anak yang telah ditebus Tuhan, barulah ia dapat melanjutkan perjalanan imannya. Jika ia belum murni dalam memahami hikmat dasar mengenai "perhentian" (rest) tersebut, ia akan terus kembali pada masa 'bermalam' atau berjalan dalam 'kegelapan.'
Rasul
Petrus menasihati kita: 6 Bersukacitalah akan hal
itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai
pencobaan. 7 Maksud semuanya itu ialah untuk
membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas
yang fana,
Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Tuhan.
Kelayakan kita bukanlah karena kebaikan diri kita sendiri, melainkan karena kita dilayakkan oleh pengantaraan Kristus yang ajaib. Roh Tuhan tidak bercampur dengan roh manusia dalam hubungan komunikasi rohani, melainkan 'proses menjadi anak-anak Allah' itu dikerjakan melalui pengantaraan Kristus (Mediatorship of Christ). Kristus berdiri di tengah-tengah antara Allah dan umat-Nya untuk memberikan kehidupan dan pengharapan bagi manusia yang telah jatuh (fallen). Hal ini sebagaimana plasenta yang berada di tengah-tengah agar sang ibu dapat memberikan kehidupan kepada janin yang belum lahir. Demikianlah gambaran peranan plasenta tersebut; meskipun perumpamaan ini tidak sepenuhnya sempurna, namun cukup untuk memberikan penerangan.
Kita lemah di dalam daging karena hakikat daging telah terbelenggu oleh kebinasaan. Namun, justru karena pengantaraan Kristus yang ajaib dan sempurna, kita tetap dapat bersekutu karib dengan Bapa Sorgawi di dalam 'kamar' yang paling dalam. Di dalam daging ini terdapat keluh kesah (groanings), dan di dalam roh kita pun terdapat keluhan-keluhan yang tidak terucapkan oleh kata-kata.
Keluh kesah kita mirip dengan ungkapan Abraham: "Siapakah kami ini, Tuhan? Napas hidup kami hanyalah seperti gilir penjaga di waktu malam (like a watch in the night), sebab kami hanyalah debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Sedangkan Engkau, ya Tuhan, hidup selama-lamanya... dari kekal sampai kekal (from infinity to infinity)."
Dahulu ada kisah seorang anggota kepolisian Malaysia yang diculik oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Kepulauan Jolo. Mereka menuntut uang tebusan sebagai jaminan pembebasan agar polisi tersebut dapat dibebaskan dari cengkeraman maut dan kembali dalam keadaan hidup ke tempat asalnya di Malaysia. Artinya, ada harga tebusan yang harus dibayar secara tuntas.
Darah suci Yeshua harus menebus kita dari 'penculikan' oleh kuasa maut/kubur melalui kuasa Sang Penebus, yaitu pembayaran penuh yang menyembuhkan segala luka: Darah Suci Yeshua. Bersyukurlah dan dimuliakanlah nama-Nya, karena Darah-Nya senantiasa berseru siang dan malam di alam roh untuk membebaskan setiap orang yang percaya kepada nama-Nya dari belenggu dosa.
Seluruh tebusan telah lunas dibayar agar kita dapat kembali ke pangkuan Bapa. Segala pelanggaran terhadap Hukum Taurat (dosa)—yaitu pelanggaran terhadap hukum-hukum yang tercantum dalam KELUARAN 20:1-17—statusnya kini adalah "Sudah Selesai." Artinya, tuntutan tebusan pendamaian atas segala pelanggaran telah lunas dibayar oleh DARAH ANAK DOMBA Allah!
2.
YESAYA 53. Nubuat-nubuat dalam Kitab Firman ini juga
berstatus "Sudah Selesai."
3.
IMAMAT 17:11. Status nubuatnya adalah "Sudah
Selesai."
4.
MAZMUR 40:7, 8,
dan 9. Status nubuatnya
adalah "Sudah Selesai."
Bagaimanakah saya dapat mengetahui bahwa statusnya Sudah Selesai?
Yesus Kristus memberikan jawaban yang sangat jelas: "IT IS FINISHED" [3]. Oleh bilur-bilur-Nya (Darah Suci Anak Domba Allah), kita telah menjadi sembuh—luka-luka roh pasti memperoleh KESEMBUHAN, luka-luka jiwa dapat dipulihkan jika sesuai kehendak Bapa, dan tubuh jasmani pun dapat disembuhkan menurut kehendak Bapa (Yesaya 53:5b).
Kesembuhan atas luka-luka rohaniah adalah pasti. Namun bagi luka-luka jiwa dan jasmani, kesembuhannya bergantung pada kehendak panggilan Tuhan dan kondisi tubuh jasmani; sebab tubuh jasmani ditakdirkan untuk kembali ke tanah dan bersifat fana (vulnerable), sehingga sulit menjadi abadi (immortal), kecuali dalam kasus Henokh, Elia, dan Santa Maria yang mengalami keabadian/pengangkatan.
Duduk dekat kaki Yesus
Seseorang yang dapat duduk di dekat kaki Tuhan Yeshua adalah seseorang yang telah lahir baru. TIDAK ada orang yang mampu duduk di dekat kaki Tuhan Yeshua—yaitu memasuki hadirat Roh Tuhan—kecuali ia telah lahir baru ke dalam Kerajaan ALLAH. Oleh karena itu, siapa yang "tinggal" atau "duduk" dalam perlindungan Yang Mahatinggi berarti ia yang 'makan daging dan minum DARAH Yeshua;' merekalah yang dapat tinggal di dalam Kristus (Yohanes 6:56).
Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 36:8). Yeshua Kristus adalah Kasih Setia Allah yang nyata di bumi. Ia terbukti setia karena Ia menghapuskan dosa-dosa dunia, menjadi Pengantara siang dan malam di sebelah kanan Bapa menurut Melkisedek, serta mengikat kita dalam Perjanjian Pendamaian sehingga roh kita terjamin tidak dihukum di dalam api neraka. Duduk/DIAM di rumah Tuhan sebagaimana dipetik dari Mazmur 27:4-5 merupakan ekspresi iman Daud tentang kondisi roh yang telah diperdamaikan dengan Roh Allah Bapa yang Kudus.
Rumah Tuhan merujuk pada roh doa. Di sanalah Daud menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati kebaikan di dalam bait-Nya (Mazmur 27:4-5). Kebaikan Tuhan tersebut merujuk pada KASIH KARUNIA, yaitu Yeshua Kristus! Janji Tuhan dalam Mazmur 91:1 menyatakan:
1 Whoever dwells in the shelter of the Most High will rest in the shadow of the Almighty (Psalm 91:1).
Kata "dwells" merujuk pada orang percaya yang duduk atau tinggal dalam perlindungan Yang Mahatinggi. Tempat perlindungan (shelter) milik Yang Mahatinggi merujuk pada roh doa atau 'kamar' yang paling dalam. Merekalah orang-orang percaya yang telah lahir baru di dalam Kerajaan Kristus. Definisi dari kata tinggal adalah: "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia" [Yohanes 6:56].
Orang percaya adalah mereka yang telah menerima-Nya tanpa ragu-ragu, dan diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam NAMA-Nya [Yohanes 1:12]. Perkataan "nama-Nya" merujuk pada the covenanted names of God, the immutable names of God, dan juga the Word of God. KETIGA kategori "nama" Yeshua ini adalah bukti bahawa Dia adalah Tuhan, Juruselamat, dan Pengantara bagi Perjanjian Baru.
Dia sungguh Ilahi karena Yeshua telah menggenapi pengwujudan Perjanjian Baru (Yeremia 31:31-34); Roh Yeshua berasal dari 'Tunas' atau Akar Tunjang, yaitu dari Roh Kudus (Yesaya 11:1-3; Yesaya 9:5-6); dan seluruh karya-Nya seratus persen bersifat ilahi. Ia tidak melakukan urusan-urusan manusiawi di dunia ini seperti berdagang, menikah dan beranak cucu, karena "nama-Nya adalah Firman Allah" (Wahyu 19.13b; Lukas 24.44).
Yeshua adalah Tuhan. Bukan kita yang menjadikan Yeshua sebagai Tuhan, melainkan Dialah Tuhan Kristus (Tuhan ANAK yang Mahatinggi) karena seluruh karya-Nya seratus persen MENURUTI dan MENGENAPI FIRMAN. Wahyu 19:13b menyatakan bahwa nama-Nya (karya penebusan-Nya) adalah FIRMAN Allah. Dialah Tuhan Kristus yang dijanjikan oleh Bapa Yahweh di dalam Kitab para nabi melalui pengantaraan nabi-nabi Perjanjian Lama sejak zaman Adam. Identitas Yesus Kristus adalah INJIL ALLAH (Roma 1:1-6; Lukas 24: 44).
[2] Luk. 10.38-41
[3] Yoh. 9.30
[4] Kel. 17.11
[5] Kel. 25.1-22
[6] 1Yoh. 5.6-12
Sitasi
Alkitab Terjemahan Baru. Yayasan Lembaga SABDA, sabda.org. Diakses 28 April 2023.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar