Sabtu, 26 September 2015

...NamaNya: Firman Allah (Wahyu 19: 13)


Nama-Nya artinya misi-Nya atau karya-Nya 

    Roh nubuat menjelaskan bahwa "nama Tuhan" berarti misi-Nya atau karya-Nya. Ketika sorga bekerja, sorga akan membuat utusan "nama". Oleh karena itu, "Anak Domba Allah" adalah "nama" yang diutus oleh sorga, atau diutus oleh Bapa. Apakah pekerjaan atau misi "Anak Domba Allah"? Kita mengetahuinya dari catatan Injil Yohanes yang berbunyi: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Alkitab Terjemahan Baru, Yohanes 1:29).

Mengenai nama binatang yang keluar dari bumi: 666 (Wahyu 13:17-18).

    "Nama" yang diutus oleh Allah berarti pekerjaan, misi, atau karya tangan Allah. Ketika Roh Tuhan berfirman dalam Wahyu 13:18, "17 dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu, karena atau bilangan namanya. 18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam," hal itu berarti, menurut roh nubuat, kita tidak menghitung namanya dengan ilmu gematria atau numerologi, sebab ilmu gematria melanggar Hukum Taurat.   

   "Nama" binatang itu seperti nomor seri seorang narapidana yang menjadi identitasnya dan dapat digunakan bergantian dengan nama aslinya. Allah memberikan nomor 666 sebagai nama binatang tersebut supaya orang percaya dapat mengidentifikasi karyanya di muka bumi, yaitu menguasai aktivitas "membeli dan menjual".

    Kita tahu bahwa nama-nama Allah bekerja dengan menggenapi Hukum Taurat, nubuat Para nabi, Mazmur, dan kitab Injil, dan Wahyu. Maka, nama binatang, yaitu 666, menyingkapkan pekerjaan atau "karya" umat manusia di bumi. Semua perjanjian yang melibatkan "karya" tersebut dikuatkuasakan oleh semua pemerintah dunia.


 Apakah sebenarnya karya atau nama binatang 666 itu?

    Apakah aktiviti utama bagi nama atau misi utama binatang yang keluar dari bumi itu (Wahyu 13:1-18)? Jawabannya ialah "membeli atau menjual". Pihak yang memakai tanda binatang tersebut adalah semua kerajaan di bumi berserta penduduknya yang ikut serta dan tunduk pada perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan "membeli dan menjual". Karya atau nama Allah adalah Firman Allah. 

    Namun, karya atau nama pemerintah-pemerintah (the beasts) di dunia pada akhir zaman adalah "membeli dan menjual". Itulah perbedaan antara pekerjaan (nama) Roh Tuhan dan pekerjaan (nama) manusia yang telah jatuh di bumi. Nama itu adalah pekerjaan, aktivitas, atau karya pemerintah dunia yang bertanduk dua tersebut. Karya pemerintah dunia itu adalah "membeli dan menjual". Bukankah seluruh dunia telah memakai tanda nama itu pada tangan kanannya?

    Mengapa tanda itu dipakai pada tangan kanan? Karena hal itu dikerjakan oleh tangan manusia seolah-olah sebagai ibadah! Mengapa pula tanda itu dikenakan pada dahi setiap manusia? Karena perjanjian-perjanjian dan perundang-undangan yang berkaitan dengan "membeli dan menjual" tersebut menuntut seluruh manusia di bumi agar percaya pada perjanjian tentang uang!

    Pada zaman Babel dahulu dalam Kejadian 11, dituliskan oleh Nabi Musa bahwa, "...marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi" (Kejadian 11:4). Apakah yang dimaksudkan ketika mereka mencari "nama" menurut ayat tersebut? Maksud dari perkataan itu singkatnya adalah "karya manusia"—suatu misi atau karya kehidupan manusia tanpa karya Allah; manusia tanpa Firman Allah

    Sejak ekonomi dunia mulai beroperasi dan berpusat pada "menara" Bank Dunia, serta penduduk bumi diikat oleh berbagai perjanjian, kita semua (seluruh dunia) sebenarnya telah kembali ke zaman Menara Babel seolah-olah pada masa purbakala, ketika manusia pada masa itu bertekad untuk berkarya tanpa Allah dengan berkata, "Marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." 

    Mereka tidak bertekad untuk mengenal "nama-nama" Allah supaya diperdamaikan dengan Roh Pencipta. Saya secara pribadi bukanlah orang yang anti-uang, karena pada zaman teokrasi Bani Israel pun uang digunakan. Namun, memahami arti "nama" berarti memahami cara membaca zaman. Memahami "nama" juga berarti memahami perbedaan antara karya manusia dan karya Allah.

    Menara itu menyatukan mereka secara harfiah, tetapi mereka pada hakikatnya diikat oleh suatu perjanjian agar mereka semua berkarya dan berpusat pada kota yang didirikan tersebut. Karya manusia yang berpusat dan diikat oleh perjanjian akan membawa manusia menjadi makhluk yang diperhambakan. Karya Babel itu memperhambakan umat manusia karena semua manusia terikat pada perjanjian untuk "membuat batu bata". 

    Pekerjaan atau karya purbakala "membuat batu bata" tersebut memperhambakan semua orang di seluruh dunia pada masa itu (Kejadian 11:1-9). Dahulu, manusia pada zaman Menara Babel mencari suatu "nama", yaitu karya manusia. Sudah tentu "karya" itu dikuatkuasakan melalui suatu perjanjian bersama dan dijalankan oleh pemerintah purbakala. Karya manusia di bumi tanpa Allah adalah meniadakan karya Allah, yaitu Firman; tanpa "jalan" pendamaian, sehebat apa pun karya manusia, pada akhirnya akan menghadapi penghakiman (judgment)!

    Mereka diperhambakan oleh karya mereka sendiri. Allah menghendaki manusia yang berdosa, yaitu semua orang yang tertulis namanya dalam kitab kehidupan, agar terikat pada suatu penghambaan yang lebih sempurna dan benar, yaitu seperti "ranting dan pohon kehidupan". Oleh karena roh manusia harus menuruti ibadah "ranting dan pohon kehidupan" untuk menerima anugerah kehidupan yang penuh, ia harus bebas dari segala jenis perhambaan di dunia.

    Sesungguhnya, antikristus adalah penduduk dunia yang paling banyak! "Gandum" yang diterima Allah hanyalah mewakili persentase minoritas dari jumlah penduduk dunia, sedangkan selebihnya adalah "lalang". Antikristus berarti anti-Firman. Anti-Firman menurut kesaksian Santo Yohanes singkatnya adalah tidak percaya bahwa "Firman telah menjadi manusia"; maka, "lalang" tidak percaya kepada Paskah sebagai "Jalan" untuk menyelesaikan dosa. 

    Binatang itu adalah pemerintah dunia yang dinubuatkan mempunyai dua kekuasaan pemerintahan. Sebagai contoh, kita melihat pemerintah dunia yang mempunyai dua tanduk adalah seperti Britania Raya (United Kingdom); negara tersebut mempunyai kekuasaan turun-temurun, yaitu tanduk Monarki, dan juga tanduk perdana menteri. Pada masa kini, berdasarkan penafsiran melalui pengamatan keadaan dunia, negara Amerika Serikat adalah yang paling mendekati deskripsi binatang yang keluar dari bumi dalam Wahyu 13. 

    Bagaimana mungkin negara Amerika Serikat memenuhi syarat sebagai binatang yang mempunyai "dua tanduk", sedangkan negara tersebut hanya mempunyai satu presiden? Tanduk itu sebenarnya adalah pemimpin, sebagaimana yang dapat kita pelajari dari Kitab Mazmur dan Kitab Daniel. Namun, tanduk itu juga berarti kuasa, karena Yesus Kristus yang akan datang kembali pun mempunyai tujuh tanduk, seperti yang disingkapkan dalam Wahyu 5:6.

    Oleh karena itu, Amerika Serikat mempunyai dua tanduk karena satu tanduknya merujuk pada kuasa politik Amerika Serikat di arena global, dan satu tanduk lainnya merujuk pada kuasa ekonomi atau kuasa uang Amerika Serikat. Jadi, ada tanduk politik dan tanduk "membeli dan menjual". Mata uangnya telah mendominasi atau hegemoni dunia melalui perjanjian demi perjanjian, yaitu pada mulanya Sistem Bretton Woods1 tahun 1944, kemudian Agreement SmithsonianDesember 1971, dan Jamaica Accord3 pada tahun 1976. Paskah Allah adalah permulaan pekerjaan Allah bagi umat perjanjian, baik dalam Perjanjian Sinai maupun dalam Perjanjian Baru. Ibadah umat-Nya diungkapkan sebagai memiliki tanda di dahi atau tanda di tangan.

    Demikian pula cara Roh Tuhan menyingkapkan rahasia karya pemerintah-pemerintah dunia. Nama binatang, yaitu karya pemerintah dunia, memulai pekerjaannya dengan mewujudkan perjanjian. Maka, perjanjian itu adalah tanda "di dahi"! Negara-negara anggota atau pihak yang diikat oleh perjanjian itu diungkapkan sebagai "diberi tanda pada tangannya atau pada dahinya". 

    "Beribadah" menurut Hukum Taurat diungkapkan sebagai "tanda di dahi dan tanda di tangan" di dalam Perjanjian Lama. Maka, "tanda di dahi dan tanda di tangan" yang diwujudkan oleh binatang yang keluar dari bumi adalah penduduk muka bumi yang terpaksa menuruti (beribadah kepada) semua perjanjian dan perundang-undangan yang mengikat semua lapisan masyarakat dunia serta semua kasta atau derajat kehidupan pada kuasa "membeli dan menjual": uang! 

    Ketika nama atau karya itu sudah dimeteraikan melalui perjanjian, karya tersebut akan dikerjakan oleh tangan. Oleh sebab itu, rahasia tersebut tertulis: "Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya" (Wahyu 13:16).

    Maka, 666 itu adalah ungkapan tentang pekerjaan, misi, atau karya manusia di bumi yang berpusat pada "menara" Babel. Pada hakikatnya, Allah pernah berfirman ketika Dia melihat kota Babel pada zaman purbakala: "Ia berfirman: 'Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini baru permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana'" (Kejadian 11:6).

    Dimeteraikannya Sistem Bretton Woods pada tahun 1944 dan didirikannya gedung Bank Dunia pada tahun 1954 yang telah menyatukan semua bangsa dan bahasa di dunia sebenarnya adalah permulaan karya atau "nama" yang dicari oleh manusia di bumi. Namun, semua manusia di bumi telah "beribadah" atau "diperhambakan" oleh ikatan perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah Dunia atau binatang yang keluar dari bumi tersebut.

    Bilakah kiranya Allah akan berfirman, "Baiklah Kita turun...", hingga selesainya murka-Ku sampai cawan ke-7 digenapi? Allah merencanakan melalui Karya Paskah-Nya supaya manusia mengerti bahwa rancangan rohaninya adalah kehidupan yang penuh. Namun, ketika manusia diperhambakan oleh karya atau "nama" manusia itu sendiri, sudah tentu manusia telah menyimpang dari rencana dan tujuan awal penciptaan manusia itu sendiri. 

    Manusia memang berhak untuk membuat keputusan sendiri, namun Allah berfirman: "Akulah yang empunya langit dan bumi." Oleh karena itu, apabila 666, yaitu Karya Pemerintah Dunia yang mempunyai tanduk politik dan tanduk uang/ekonomi itu sampai waktunya untuk dihakimi, Allah Bapa akan berfirman: "Baiklah Kita turun..." Dan, apabila Dia hendak turun ke bumi, kedua malaikat yang berpakaian putih dalam catatan Kisah Para Rasul 1:10-11 berkata kepada orang-orang Galilea: "...'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga'" (Kisah Para Rasul 1:11).

Firman


1.   "Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: 'Firman Allah'" (Wahyu 19:13).

2. "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh" (Mazmur 119:130).

3.  "Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan" (Mazmur 33:4).

4.   "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10).

5.  Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Ku-katakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Lukas 24:44).

6.   "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Ku-katakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63).

    Firman Tuhan seluruhnya adalah roh karena berasal dari Roh Tuhan. Perkataan ucapan manusia bukanlah roh, melainkan daging karena berasal dari otak manusia (pusat kehidupan daging), kecuali ucapan jampi serapah. Aktivitas otak dan sistem saraf adalah pusat kehidupan daging.

nama-Nya ialah"Firman Allah."(Wahyu 19:13)


    Roh nubuat menjelaskan bahwa "nama" Tuhan merujuk kepada Pekerjaan Ilahi atau misi Kristus, yaitu Firman. Firman itu adalah Allah, dan Firman adalah pekerjaan suci tangan Tuhan. Tanpa Firman, manusia yang telah jatuh di dalam dosa tidak mengerti apa pun tentang pekerjaan Roh Tuhan. 

Firman adalah ketujuh Roh Allah. Mengenal Allah yang Mahakudus menuntut kita untuk "memakan" Firman (Ulangan 8:3; Mat. 4:4). Tanpa "memakan" Firman, orang percaya tidak akan mengalami pertumbuhan iman. Oleh karena itu, makanlah Firman karena Firman adalah Roh Kristus—ketujuh Roh Allah yang bekerja menurut Firman. Firman itu adalah Roh Tuhan. Maka dari itu, Firman harus dimakan oleh roh orang percaya yang telah diperdamaikan terlebih dahulu dengan Allah yang Mahasuci. 

    Janganlah heran jika semua nabi memakan gulungan kitab; hal itu adalah kiasan mengenai rancangan (design) roh manusia yang harus bergantung kepada Sang Sumber Kehidupan, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, mereka memakan Firman! Meskipun berjalan di padang gurun, orang benar (yang diterima oleh Yesus di atas kayu salib) akan dianugerahi meja hidangan.

    Jika Kristus adalah pokok anggur yang benar, yaitu Roh Pencipta (the Father of all spirits), maka untuk menjadi ranting-Nya yang sejati diperlukan ketergantungan dan kerendahan hati (humility) dengan mengikuti "Jalan" Roh, supaya mereka yang dianugerahi "rasa takut akan Tuhan" dapat senantiasa makan siang dan malam. 

    Ketergantungan (dependency) adalah kerendahan hati di hadapan Tuhan, sedangkan keangkuhan di hadapan Tuhan adalah keputusan untuk tidak makan. Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Matius 4:4). 

    Tidak ada bahasa yang lebih tepat untuk mengungkapkan "ketergantungan" ini selain perumpamaan pokok anggur yang benar (Yesus) dan ranting-rantingnya. Sebagaimana ranting tidak memiliki kehidupan kecuali tinggal pada pokok yang benar, demikian pulalah dengan roh manusia; ia tidak akan menerima kehidupan yang penuh tanpa Kristus. 


Perihal Rahasia Tuhan

    Tidak heran jika Raja Daud bernyanyi bahwa tanpa Tuhan, hidupnya tidak bermakna sama sekali.Maka datanglah murid-murid-Nya dan berkata kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti" (Alkitab Terjemahan Baru, Matius 13:10-13).

    "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka" (Mazmur 25:14) [dianugerahi ketujuh Roh Allah, yang salah satu karyanya adalah "roh takut akan TUHAN"].

    "Orang percaya yang takut akan Tuhan" adalah orang percaya yang dianugerahi "roh takut akan TUHAN." Karunia roh tersebut merupakan salah satu dari ketujuh Roh Allah yang ada pada Pribadi Roh Kudus. Ketujuh Roh itu adalah karya yang dilaksanakan oleh Roh Tritunggal atas roh manusia, supaya selesailah pekerjaan Allah atas roh orang-orang yang tertulis namanya dalam kitab kehidupan. 

    Karunia-karunia tersebut senantiasa melekat pada Pribadi Roh Kudus. Oleh karena itu, Rasul Paulus bersaksi bahwa karunia-karunia tersebut dapat datang dan pergi. Karunia itu dikatakan datang apabila Roh Kudus turun menyala pada sumbu roh manusia, dan dikatakan pergi apabila Dia tidak turun pada sumbu roh manusia. 

    Sumbu roh ialah "jantung rohani", tempat pusat lidah api tampak menyala dan bersinar bagaikan lingkar cahaya (halo) di atas orang-orang kudus. Tempat itu adalah lokasi berlangsungnya komunikasi alam rohani sebagaimana dinyatakan oleh Raja Daud: "Samudera raya berseru kepada samudera raya" (deep calls to deep). Semua indra rohani, termasuk mata dan telinga rohani, terhubung secara langsung dengan "jantung rohani" tersebut.Maka, Yesus bersabda bahwa berbahagialah orang percaya yang suci hatinya ("jantung rohaninya"), karena mereka akan melihat Allah dan dapat memasuki Hadirat Roh Kudus. 

    "Melihat Wajah Tuhan" berarti dapat memasuki hadirat Immanuel, yaitu Kristus melalui Roh Kudus. Oleh karena urusan memasuki hadirat-Nya (Mat. 6:6) adalah kudus, Kristus telah menyempurnakan Jalan untuk menyelesaikan segala dosa, agar Pintu hadirat Roh Kudus yang Mahakudus sudi menerima roh orang percaya seolah-olah mereka adalah orang benar.  Padahal, mereka sebenarnya hanyalah mengenakan "jubah kebenaran" yang disucikan oleh darah Anak Domba. Namun, oleh karena kesetiaan Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa dan menanggung penderitaan akibat "luka-luka" kita siang dan malam, kita dibela oleh darah-Nya yang suci, sehingga diri kita yang rohnya "merah seperti kirmizi" dapat ditahirkan menjadi putih seperti bulu domba. 

    Tanpa Kristus, kita tidak dapat memasuki "roh doa", karena Dialah Jalan, Pintu, dan juga Kunci dan juga Pakaian Kebenaran: "Akulah Jalan...", "Akulah Pintu...", "Nama-Nya ialah: Firman Allah..." Ini merujuk pada misteri kekayaan karya Kristus sebagai Penebus, Juruselamat, dan Pembela bagi para pengikut-Nya. Kuasa darah-Nya yang suci adalah kunci bagi semua doa; Roh Kristus (Roh Kudus) adalah Roh Doa (the Spirit of prayer). Jika Perjanjian Lama disahkan melalui perjanjian darah, demikian pulalah halnya dengan Perjanjian Baru oleh dara suci Domba Paskah Tuhan Yesus.

    "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10). "Pagi-pagi benar ia mengarahkan hatinya kepada Tuhan yang telah membuatnya, dan berdoa kepada Yang Mahatinggi. Ia membuka mulutnya untuk bersembahyang, dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Jika Tuhan yang besar menghendakinya, maka terpenuhilah ia dengan roh pengertian. Maka ia sendiri mencurahkan kata-kata yang bijak, dan memuji Tuhan dengan sembahyangnya" (Sirakh 39:5-6).





Referensi

Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 9 Januari 2018



Nota kaki 

1 “Sistem Bretton Woods”. Kamus Ekonomi, Cetakan Pertama, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993, m.s. 243

2 James Chen. “Smithsonian Agreement: What It Is, How It Works.” Investopedia, 10 Disember 2015, Investopedia.com

3 Farlex. “Jamaica Accord”. Farlex Financial Dictionary, 2012. Thefreedictionary.com.  Diakses pada 10 Disember 2015




Tidak ada komentar: