Sabtu, 26 Desember 2015

Wahyu 17: 1-18 --'Perempuan' vs. Ular Tua dan keturunan si ular tua ( Woman vs. Old Serpent ~ Siri 2)

(Binatang dalam Wahyu 12--rujuk link Siri I)




Prolog

    Prolog renungan sebelum memasuki hikmah makrifat penafsiran bagi binatang-binatang dalam Kitab Wahyu ini berpandukan pada nubuatan Nabi Yesaya dalam Alkitab Terjemahan Baru, Yesaya 46:9–10:

"9 Ingatlah hal-hal yang dahulu sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, 10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berfirman: Keputusan-Ku akan tercapai, dan segala kehendak-Ku akan Aku laksanakan,"

 

Mengenali identiti "kota" yang dinubuatkan dalam Wahyu 17 disingkapkan oleh identitas "bangsa" yang berkaitan erat secara nubuat dengannya.

    Setelah ketujuh cawan murka dan kategori murka yang ketiga itu selesai dinyatakan kepada Santo Yohanes, Tuhan menunjukkan hukuman atas pelacur besar yang duduk di tempat yang banyak airnya. Dalam penafsiran nubuatan Wahyu 17, kita memerlukan roh pengertian, roh hikmat, dan roh pengetahuan mengenai identitas pelacur dan identitas binatang tersebut.

    Hanya ada dua identitas "perempuan" dalam seluruh penyampaian firman di Kitab Suci: "Perempuan" yang menganut agama Perjanjian Lama dan "Perempuan" yang menganut agama Kristen Perjanjian Baru.

    Namun, perempuan Perjanjian Baru tidak mungkin menjadi "pelacur" sebab ia senantiasa dianugerahkan jaminan "kasih setia" dan pengampunan oleh Anak Domba Allah, yaitu Kristus ("kesetiaan Kristus", bandingkan 1 Yohanes 1:8–10; Wahyu 19:11). Maka, "pelacur besar" yang dinyatakan secara simbolis dalam Wahyu 17 ini merujuk kepada "perempuan" yang menganut agama Perjanjian Lama. Kita tidak bingung mengenai binatang merah ungu itu sebab ia adalah pemerintah dunia di jam terakhir akhir zaman. Yang membingungkan adalah "saat" dan di mana nubuatan ini digenapi. Sebelum kita melihat perinciannya, adalah bijaksana untuk melihat petikan Yesaya 46:9–10 sekali lagi.

    Tuhan menyatakan melalui Nabi Yesaya bahwa hal yang terjadi kemudian (pada akhir zaman) telah diberitahukan dari mulanya, yaitu sejak zaman purbakala. Melalui kacamata hikmat makrifat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya tersebut, kita akan menelusuri awal permusuhan antara "perempuan" dan "binatang" naga itu. Tentu ada nubuatan pada zaman purbakala yang memberitahukan permulaan perseteruan tersebut yang terbawa hingga akhir zaman. Kita kembali kepada permulaan permusuhan antara "perempuan" dan "naga" menurut nubuatan Ilahi yang dicatat dalam Kejadian 3:15.



                                                                    


The woman and the other 'offspring' (gentile-followers of the Way ) versus the Serpent and the serpent's offspring, 'the beasts.'  The 'offspring' learn how to crush the head of the Serpent from the 'empowering' Holy Spirit (the soul of the New Testament's woman.)



“15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular tua) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3: 15). 

    Berpandukan nubuatan di atas, kita diberitahu bahwa "perempuan" itu telah dinubuatkan akan bermusuhan dengan Ular Tua dan keturunannya di sepanjang zaman manusia. Jelas sekali bahwa Tuhan turut menyatakan bahwa Ia mengadakan permusuhan antara Tuhan dan "perempuan" itu karena perempuan itu adalah manusia yang "terluka". Jika perempuan itu tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan, tentu Tuhan akan membiarkan keturunan si Ular Tua mematuk tumit perempuan itu. Dan jika perempuan itu diperdamaikan dengan Roh Tuhan, perempuan itu akan meremukkan kepala keturunan-keturunan si Ular Tua.

    Perempuan pelacur besar itu mewakili bangsa Ibrani yang tetap menamakan diri mereka sebagai penyembah-penyembah Tuhan YHVH menurut Perjanjian Lama. Pada masa kini, mereka sedang menduduki reruntuhan-reruntuhan Tanah Suci yang dibangun kembali. Mereka membangunnya kembali ketika menggenapi nubuatan para nabi seperti frasa "yang dijemput" oleh Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 37:21; frasa "Yerusalem dibelah dua" oleh Nabi Zakharia dalam Zakharia 14:2; dan kelak setelah Kristus kembali akan ada pemulihan "144.000 dari bangsa Israel" menurut nubuatan Santo Yohanes dalam Wahyu 7:4 dan Wahyu 14:1–5; serta "istri-Ku dalam kesetiaan" dalam Hosea 2:19. Meskipun mayoritas penduduk Israel tidak percaya kepada "Jalan" penyelesaian dosa di dalam "nama" Anak Domba Allah, Tuhan tetap menepati firman-Nya melalui Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 36:24:

“Aku akan 'menjemput kamu' dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.” 

    Namun, jemputan ini belum menggenapi pemulihan penuh bangsa Ibrani. Negara Israel yang ada sekarang hanyalah menggenapi "jemputan" Tuhan untuk menduduki kembali Tanah Perjanjian.

    Kemerdekaan negara Israel pada tahun 1948 M dan operasi-operasi Aliyah [1] (pulang ke Tanah Suci) hanyalah menggenapi nubuatan "jemputan" tersebut. Pemulihan yang ditanyakan oleh rasul-rasul Kristus dalam Kisah Para Rasul 1:6–7, yang berbunyi: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, jelas terjawab oleh Wahyu 7:4, di mana sebanyak 144.000 orang dari kedua belas suku Israel kelak akan dimeteraikan dengan “meterai Allah yang hidup.” Pemulihan kerajaan Israel secara rohani hanya dapat dimulai dengan “meterai Allah yang hidup.” Yesus menjawab pertanyaan itu: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”

    Kedua belas suku kaum Bani Israel dinubuatkan sebagai dua belas (12) bintang, sebagaimana dalam mimpi Yusuf. Lirik dalam Kitab Mazmur 147:2, 4 berbunyi: “2 ... Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai. ... 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama mereka semuanya.”

    Kelak, apabila Yeshua kembali, dinubuatkan bahwa ada 12.000 orang dari "setiap bintang" keturunan Yakub (the House of Jacob). Namun satu bintang, yaitu suku Dan, telah dikeluarkan dari daftar nubuat Tuhan, dan suku Manasye telah diangkat sebagai salah satu dari bintang-bintang keturunan Yakub tersebut menggantikan Dan yang hilang dalam daftar 12.

    Yesus menyatakan bahwa mereka akan menerima kuasa dari Bapa jika Roh Kudus turun ke atas mereka. Oleh karena itu, perihal pemulihan kerajaan Israel akan dijelaskan oleh Roh Kudus kelak. Yesus menyarankan agar bangsa Israel yang menganut kepercayaan Perjanjian Baru menerima Roh Kudus terlebih dahulu, barulah nanti mereka mengerti perihal pemulihan kerajaan Israel. Pemulihan itu mencakup dua hal, yaitu pemulihan kepada penyembahan roh melalui "Jalan", dan yang kedua adalah pemulihan kerajaan di Tanah Suci. Bangsa-bangsa yang percaya kepada "Jalan" akan mengecap status sebagai "keturunannya": "anak-anak" (offspring) dari "perempuan" menurut roh nubuatan (Wahyu 12:17 dan Kejadian 3:15).

   Meskipun surat-surat para rasul menyatakan bahwa Gereja adalah mempelai Kristus—sehingga Gereja adalah "perempuan"—namun berdasarkan Kejadian 3:15, Wahyu 12:17, mimpi Yusuf dalam Kejadian 37:9, dan penglihatan Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1, kata "perempuan" dalam Kitab Wahyu merujuk khusus kepada bangsa Ibrani, baik mereka menganut agama Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 

    Maksud penulis adalah arti istilah "perempuan" secara khusus dilihat berdasarkan bahasa nubuatan dalam Wahyu 12:17, Kejadian 3:15–16, Wahyu 12:1, dan Kejadian 37:9. Jika dilihat berdasarkan surat rasul-rasul, bangsa-bangsa lain yang menjadi pengikut Jalan memang dipanggil sebagai mempelai Kristus. Namun, penafsiran Wahyu 17 didasarkan pada bahasa nubuatan yang khusus tersebut. Pada masa kini, orang Ibrani yang menganut agama Perjanjian Baru mewakili persentase minoritas di Tanah Suci dibandingkan dengan orang Ibrani yang menganut agama Perjanjian Lama.


Mengapa "perempuan" ("kota") itu disebut Pelacur Besar?

    Bangsa Ibrani adalah bangsa yang dianugerahi Taurat. Perempuan dalam Kejadian 3:15–16 merujuk khusus kepada bangsa Ibrani yang masih menganut agama Perjanjian Lama; tidak mungkin merujuk kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Namun dalam Wahyu 17, istilah ini merujuk khusus kepada "Kota"—Kota yang mempunyai kaitan istimewa dengan perempuan, yaitu umat Tuhan. Perempuan ini dilahirkan di Mesir melalui Paskah Tuhan. Ketika ia memiliki Tanah yang Dijanjikan, Kota Yerusalem menjadi pusat penyembahan yang berpusat pada Bait Allah, tempat nama-Nya tinggal di sana (rujuk nubuat 2 Raja-raja 23:27). Kehidupan rohani Israel berpatokan pada Bait Allah (Kemah Suci). Oleh karena itu, Pemazmur bernyanyi bahwa ada aliran sungai kehidupan yang mengalir di tengah-tengah Kota Yerusalem, dan sungai itu merujuk kepada hadirat YHVH di Bait Allah tersebut.

    Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa Yerusalem adalah istri-Nya (Lihat kata "istri-Ku" dalam Hosea 2:19) yang telah bersundal dengan Mesir, Asyur, dan Kasdim (Babel) dalam Yehezkiel 16. Bahkan, Nabi Yehezkiel turut menguraikan dosa-dosanya dalam pasal ke-22 dan ke-23. Meskipun Wahyu 17:18 jelas menerangkan perwakilan simbolis "perempuan" itu, Kota tersebut tidak dapat dikenali jika kita tidak melihat bangsa yang dinubuatkan secara khusus bersama kota itu. Sebab itulah kita memulai penafsiran Wahyu 17 dari Kejadian 3:15.

    Jelas, Yerusalem disindir oleh Tuhan sebagai seorang pelacur ketika Nabi Yehezkiel menyampaikan pesan perihal keadaan Israel yang tidak diperdamaikan dengan YHVH. Oleh karena "perempuan" itu tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan, seluruh bangsa Ibrani ditaklukkan di bawah kekuasaan "keturunan ular tua", yaitu pemerintah-pemerintah dunia—Mesir, Asyur, dan Kasdim (Babel). Rupanya Tuhan membiarkan bangsa-bangsa pemerintah dunia tersebut (Mesir, Asyur, dan Kasdim) sebagai keturunan Ular Tua untuk "meremukkan tumit" perempuan itu, sesuai dengan pemberitahuan-Nya sejak mulanya. 

    Dalam Yehezkiel 16, hubungan antara Tuhan dan umat Ibrani diumpamakan sebagai hubungan suami-istri. Jika bangsa Ibrani tidak setia, Tuhan akan membiarkannya tanpa perlindungan dari jajahan penguasa-penguasa politik dunia. Maka, bangsa Israel dan Kota Yerusalem ditaklukkan oleh kuasa-kuasa besar dunia, dan penaklukan oleh kuasa dunia inilah yang menjadikan Yerusalem sebagai "Pelacur Besar."

    Ia duduk di tempat yang banyak airnya karena Kota Yerusalem pernah dijajah oleh raja-raja bangsa dunia, termasuk monarki Britania. Ia menjadi kota percaturan politik oleh raja-raja dan kuasa-kuasa besar dunia, bahkan masih demikian hingga kini! Binatang-binatang (pemerintah-pemerintah dunia) menurut Kejadian 3:15 adalah keturunan Ular Tua. Mereka adalah pemerintah dunia yang menentang "perempuan" itu. Dalam Kitab Daniel, Nabi Daniel menjelaskan dalam Daniel 7:2–3:

“2 ... Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar, 3 dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.”

    Identitas binatang-binatang itu mewakili empat kekaisaran yang akan muncul di bumi (lihat Daniel 7:1–28). Perempuan itu ("Kota") dikaitkan dengan bangsa, yaitu bangsa Ibrani. Binatang merah ungu itu penuh dengan nama-nama hujat. Nama adalah karya atau pekerjaan sebagaimana yang dapat kita pahami melalui Wahyu 19:13 dan Yohanes 1:29. Menurut roh nubuatan, kata "nama" secara ringkas berarti karya (handiwork) atau pekerjaan. Nama-nama hujat artinya karya-karya atau pekerjaan yang menghujat atau menentang Tuhan.

 

Perbedaan Binatang Merah-Ungu dalam Wahyu 17 dengan "Binatang yang Keluar dari Dalam Laut" dalam Wahyu 13

    "Binatang yang keluar dari dalam laut" dalam Wahyu 13 merujuk kepada sepuluh garis keturunan raja-raja Eropa yang muncul setelah binatang keempat yang keluar dari laut berlalu, yaitu Kekaisaran Romawi Purba menurut penglihatan Nabi Daniel dalam Daniel 7:8–9. Sepuluh garis keturunan monarki di Eropa itu telah bertahan hingga sekarang [2]. Penglihatan binatang ke-4 yang keluar dari laut itu diterima oleh Nabi Daniel pada tahun pertama pemerintahan Kaisar Nabonidus, yaitu kira-kira tahun 556 SM. Maka, Tuhan sudah berfirman perihal 10 garis keturunan dalam Kekaisaran Romawi sebelum kekaisaran itu lahir 524 tahun kemudian.

    Tujuh monarki dari sepuluh garis keturunan raja-raja itu telah menjadi kuasa penjajah yang menjajah dunia hingga kekaisaran mereka melingkupi muka bumi. Ke mana perginya 3 garis keturunan raja-raja lainnya? Tiga garis keturunan telah bergabung menjadi satu mahkota dalam monarki Kekaisaran Britania. Sementara itu, tiga lainnya telah lama terhapus, yaitu pada masa perang dan pergolakan politik Kekaisaran Kristen Romawi. Sepatutnya ada 13 garis keturunan raja-raja di Eropa; tiga garis keturunan sudah terhapus, dan tiga lainnya telah bergabung menjadi satu. 

    Ada tujuh monarki Eropa yang dikatakan sebagai Imperialis. Mahkota Paus tidak dimasukkan sebagai keturunan raja karena ia adalah Pemimpin Agama Katolik, dan ia bisa saja tergolong sebagai perempuan (jika darah pejabat Paus tersebut berketurunan Ibrani) atau sekadar berstatus "anak-anak" (jika pejabat Paus adalah bangsa non-Ibrani). Wahyu 12:17 menjelaskan perbedaan antara perempuan dan anak-anak. Perempuan merujuk kepada bangsa Ibrani, sedangkan anak-anak merujuk kepada bangsa-bangsa lain yang telah menjadi pengikut Yesus Kristus.

    Maka, "binatang yang keluar dari dalam laut" dalam Wahyu 13 bukanlah binatang merah ungu dalam Wahyu 17, karena tujuh kepala bagi binatang itu merujuk kepada tujuh gunung yang dikaitkan dengan lokasi kota tersebut. Untuk memperjelas pengertian, kita dapat melihat Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai perbandingan saja, di mana dalam organisasi PBB terdapat 'binatang-binatang' elit (cabal) yang memiliki hak veto, seperti Rusia, Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, dan Britania Raya [3]. Maka, 'binatang merah-ungu' dalam Wahyu 17 adalah pemerintah dunia yang mempunyai struktur organisasi mencakup semua negara dan berbagai bangsa di dunia serta memayungi dunia dalam agenda "damai dan aman" (peace and security) [4]. 

    Sedangkan binatang yang keluar dari laut dan binatang yang keluar dari bumi adalah anggota cabal yang sering kali memainkan peran 'monopoli' keputusan bagi binatang merah-ungu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika 10 raja dalam binatang yang keluar dari laut (Wahyu 13) dapat menjadi sepuluh tanduk dalam organisasi global, yaitu binatang merah-ungu dalam Wahyu 17, karena merekalah yang menjadi sekutu utama bagi elit (cabal) gabungan bangsa-bangsa itu.

    Oleh karena perempuan itu hanya merujuk kepada umat Tuhan menurut Kejadian 3:15, kota yang pernah "menikah" dengan Tuhan YHVH adalah Kota Yerusalem (Lihat Hosea 2:19). Tuduhan yang menyatakan bahwa Kota Roma atau Kota Vatikan adalah perempuan merupakan penafsiran yang tidak benar karena Kristus tidak menikah dengan kota. Jelas, Yesus Kristus tidak menikah dengan kota manapun di dunia ini, melainkan Ia mempersatukan diri dengan setiap roh umat-Nya, baik dari perempuan Perjanjian Baru maupun bangsa-bangsa yang menjadi pengikut Jalan: "anak-anak" (Wahyu 12:17). 

    Roh orang percaya (pengikut Kristus) adalah bait Allah karena Roh Kudus turun ke atas roh mereka. Hanya ada satu Kota di dunia ini yang pernah menjadi istri Tuhan, yaitu Kota Yerusalem. Namun, ia telah menjadi pelacur sebagaimana pemberitahuan para nabi, sehingga ia menunggangi binatang merah-ungu tersebut.

Ayat 4: 

    Kota (perempuan) itu dikatakan menikah dengan raja-raja pemerintah dunia karena ia digambarkan oleh frasa seperti "kain ungu", "kain kirmizi", permata, mutiara, dan cawan emas yang penuh dengan "kekejian" serta "percabulan". Sejak kelahirannya dan sejak bangsa Ibrani merebut Kota itu dari tangan orang Kanaan, kota tersebut telah menjadi pusat percaturan politik bagi raja-raja di dunia. 

    Tuhan YHVH mengumpamakan Yerusalem sebagai istri-Nya, sebagaimana firman-Nya yang disampaikan oleh Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 16. Oleh karena umat-Nya (bangsa Ibrani) telah meninggalkan 'jalan' perdamaian yang diajarkan oleh Taurat, akhirnya Tuhan berhenti memberikan perlindungan kepada kerajaan Israel, dan orang Israel mulai dibuang serta diserakkan ke empat penjuru bumi.

    Kematian Kristus menurut Lukas 24:44 juga menjadi dosa bagi Kota Suci itu karena menambah kekejian dan percabulannya. Kota itu jauh dari layak disebut sebagai kota suci karena telah menjadi pusat karya (pekerjaan) pemerintah dunia sejak umat-Nya mulai memberontak kepada Tuhan YHVH; kota itu dikatakan mewarisi kekayaan emas dan perak sejak zaman Raja Salomo. Hingga kini, kota tersebut tetap sekadar pusat perdagangan dan salah satu titik terpanas konflik antar-pemerintah di dunia. 

    Kota itu tidak pernah ditahirkan sebagai istri Tuhan YHVH. Dengan kata lain, kota tersebut memperlihatkan aktivitas bangsa yang dikaitkan dengannya: "kain ungu" yang berarti "politik", "kain kirmizi" yang mengungkapkan dosa-dosa merah kirmizi, serta "permata, mutiara, dan emas" yang merupakan ungkapan pekerjaan manusia atau bangsa yang tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan. 

    Umat Allah yang sejati makan manna dari surga. Oleh karena itu, nubuatan Wahyu 17:3–5 menjelaskan simbolisme kekejian dan percabulannya: tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan. Dahulu, Bait Allah di Kota Yerusalem adalah tempat Yahweh turun bertahta di bumi sebagaimana pernah Ia genapi pada zaman pemerintahan teokrasi Israel yang berlangsung selama 391 tahun dalam pemerintahan Imamat [5], dan berlangsung selama 511 tahun dalam garis pemerintahan monarki Yehuda [6]. Setelah itu, tempat itu bukan lagi tempat nama Tuhan tinggal (2 Raja-raja 23:27).

Ayat 5: 

    Pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Sejak ia terpisah dari pernikahan dengan Tuhan YHVH, "tumit perempuan" itu sering kali dikuasai oleh raja-raja di bumi. Jika ia menikah hanya kepada YHVH, tentu ia tidak disebut sebagai pelacur. Akan tetapi, ia telah ditaklukkan oleh banyak pemerintah dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang hingga kini belum menemukan penyelesaian atas konflik di sana. Maka sesungguhnya, ia telah menjadi "Babel besar, ibu dari semua pelacur." 

    Semua bangsa di dunia (banyak "air") telah terlibat secara langsung dalam konflik Timur Tengah dan Yerusalem. Kita kembali kepada Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya;” Keturunan si Ular Tua adalah pemerintah-pemerintah dunia, yaitu bangsa-bangsa di dunia yang non-Ibrani.

Ayat 6: 

    Kota itu telah disirami darah orang-orang kudus, yaitu nabi-nabi Tuhan. Kota itu juga menjadi tempat penyembelihan saksi-saksi Yesus, terutama pada hari-hari awal karya 'Perempuan-Perjanjian Baru' yang baru saja dilahirkan pada hari Pentakosta. Santo Yohanes sangat heran karena Kota itu sepatutnya disebut Kota Suci bekas istri Yahweh, namun kenyataannya sangat jauh dari gelar tersebut.





The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865) (based upon the minaret of Samarra) [a]
[a] Lucarelli, Fosco. The Confusion of Tongues. Socks. 25 december 2015. http://socks-studio.com/2013/07/09/confusion-of-tongues-the-construction-of-the-tower-of-babel/

Kelahiran 'era' atau 'zaman' bangsa-bangsa.  Sebelum, "biarlah kita turun...", diproklamirkan ke atas Babel, umat manusia cuma 'satu' bangsa dan satu bahasa sahaja. 


Ayat 8: 

    Pemerintah dunia yang ditunggangi oleh Kota Yerusalem itu dikatakan: “Ia telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan menuju kepada kebinasaan.” Negara Israel telah memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1948, dan Kota Yerusalem telah dibagi dua oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa menurut formula yang telah dibuat oleh pihak Mandat Britania. 

    Binatang yang bertanggung jawab atas kelahiran Kota Yerusalem sebagai kota sekuler adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa menurut formula Britania dan didukung penuh oleh Amerika Serikat serta Uni Soviet. Kejadian 11 menjelaskan bahwa bangsa yang bersatu di Babel kuno memenuhi deskripsi frasa “telah ada.” 

    Bangsa bersatu yang mendirikan menara Babel kuno dan yang bersatu mencari nama bagi umat manusia pada dasarnya secara murni hanyalah satu bangsa saja. Namun kemudian, bangsa itu menjadi banyak bangsa dengan berbagai bahasa tuturan. Berbagai bangsa di dunia dilahirkan di menara Babel kuno karena sebelum itu, mereka berusaha bersatu mencari nama (handiwork) bagi manusia itu sendiri; mereka tidak mencari nama Tuhan. Tuhan mencerai-beraikan mereka ke seluruh muka bumi dengan menumpahkan murka berupa kekacauan bahasa ke dalam berbagai bahasa tuturan.

    Kemudian, ia dikatakan “namun tidak ada, dan akan muncul lagi” karena sebelum hukuman Tuhan atas menara Babel kuno ditumpahkan, bangsa di seluruh dunia bersepakat untuk bersatu menjadi satu. Sejak saat itu, kesatuan umat manusia seumpama itu menjadi "tidak ada" untuk jangka waktu yang sangat lama hingga tahun 1945 M. Jangka waktu ketiadaan kesatuan sedunia itulah yang dimaksud dengan “namun tidak ada.” 

    Masa tersebut juga dikenal sebagai "zaman bangsa-bangsa." Sepanjang masa itu, bangsa-bangsa yang telah ada akibat hukuman Tuhan di menara Babel senantiasa saling bersaing, berperang, dan menguasai satu sama lain; umat manusia di seluruh dunia tidak bersatu menjadi satu sepanjang zaman yang dinubuatkan secara simbolis sebagai “namun tidak ada.”

                                     
"This piece of art is called 'Non-Violence.' It consists of a large replica in bronze of a 45-calibre revolver, the barrel of which is tied into a knot. It was created in 1980 as a peace symbol and is located in the Visitor’s Plaza, facing First Avenue at 45th Street." [b]
[b] Khong, Eunice.  The United Nations Headquarters. 02 January 2016. Travelerfolio.<travelerfolio.com/new york-united-nations>


    Namun, setelah Perang Dunia II, yaitu sejak Oktober 1945 M, bangsa-bangsa di dunia mulai mencari nama (karya) dengan bersepakat secara sedunia untuk bersatu mencari nama: “Peace and Security” (Damai dan Aman), yang dilaksanakan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Maka, umat manusia sedunia mulai mencari nama (handiwork) bagi manusia yang bersatu, sebagaimana 'bangsa kuno' bersatu mendirikan Menara Babel. Hanya saja, perbedaan bagi kedua 'kesatuan' tersebut terletak pada aktivitas nama atau pekerjaan manusia. 

    Karya atau nama manusia itu berbeda karena perbedaan zaman kehadirannya; ia berbeda dari segi kemajuan teknologi dan gaya hidup. Namun, keduanya memiliki persamaan karena kedua menara 'bersatu' itu sama-sama mencari nama, dan nama (karya manusia) tersebut pada akhirnya bertambah kuasa merebut penyembahan manusia kepada Tuhan. Bukankah sejak dunia sepakat untuk bersatu pada tahun 1944 dalam nama "membeli dan menjual", manusia di seluruh bumi telah mulai diperhambakan untuk menyembah Mamon? Namun, karya itu diterima oleh umat manusia karena sangat praktis dan mempermudah transaksi perdagangan domestik maupun internasional (seluruh dunia). 

    Menara yang mereka dirikan dan nama yang mereka cari itu merebut penyembahan yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan yang Maha Esa. Manusia, menurut rancangan (design) rohnya, seeloknya mengikuti hikmat Surgawi untuk mencari nama Tuhan; nama-Nya ialah Firman Allah (Wahyu 19:13 b). Tidak mengherankan bahwa Tuhan akan membuat keputusan atas "pelacur besar" itu; pada zaman Babel kuno keputusan Tuhan secara ringkas diungkapkan dengan perkataan: “Baiklah Kita turun...”

    Saya bukanlah menentang pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahkan, saya mendukung penuh keberadaan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memelihara perdamaian sesama manusia di dunia ini, biarpun itu dilaksanakan menurut pemikiran manusia semata-mata (nama atau karya manusia)! Saya juga tidak menentang pendirian Bank Dunia, dan saya juga tidak anti terhadap perjanjian-perjanjian yang mengikat pemerintah-pemerintah di dunia perihal karya yang diciptakan oleh penguasa-penguasa elit (cabal) dunia. 

    Jika semua itu muncul, maka saya melihat penggenapan nubuatan-nubuatan firman Tuhan. Saya tidak bersikap negatif terhadap keberadaan karya umat manusia tersebut. Namun hakikatnya, semua karya atau nama yang diwujudkan oleh umat manusia itu berasal dari manusia. Apa yang berasal dari nama manusia akan menuju kebinasaan: tidak kekal abadi. Dan kita, sebagai pengikut Jalan, seeloknya dapat membaca tanda-tanda akhir zaman bangsa-bangsa, supaya kita tergolong sebagai orang yang "berbahagia." Karya Tuhan sangat jelas perbedaannya dari karya manusia. Nama-Nya adalah Firman Allah: Kristus.

    Pemerintah-pemerintah dunia adalah calon-calon keturunan Ular Tua. Tuhan menganugerahkan Kitab Wahyu karena mereka yang percaya disebut "berbahagia."

“3 Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (Wahyu 1:3)

    Frasa "Waktunya sudah dekat" merujuk kepada penghakiman dan penghukuman bangsa-bangsa di dunia ini oleh Hakim yang Mahaadil. Bangsa-bangsa yang ada di dunia sekarang ini lahir dari 'satu bangsa' di Babel kuno dalam Kitab Kejadian 11. Tuhan menghukum bangsa yang 'satu' itu dengan mengacaubalaukan bahasanya, maka lahirlah zaman bagi berbagai bangsa. Nabi Bileam bernubuat bahwa Amalek adalah bangsa yang pertama (Bilangan 24:20); darahnya mengalir kepada penguasa Mesir, yaitu Firaun. Maka, Kekaisaran Mesir adalah musuh 'perempuan' (umat Tuhan) yang pertama dalam garis waktu (timeline) bangsa-bangsa. Hal itu sudah dinubuatkan pada permulaannya, yaitu dalam Kejadian 3:15.

    Sejak saat itu, berbagai bangsa senantiasa bergolak dalam percaturan kuasa politik dan ekonomi. Kita sedang berada dalam zaman di mana bangsa-bangsa itu telah 'bersatu kembali', biarpun kesatuan itu agak rapuh seperti penggabungan "besi dan tanah liat." Bangsa-bangsa bersatu dalam nama manusia (karya manusia) yang disebut "Peace and Security" melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah kepemimpinan penguasa dunia No. 1 yang dinubuatkan sebagai "kelihatan seperti domba ('peacemaker'), tetapi berbicara seperti naga." Rasul Paulus mengungkapkan 'suatu pesan' perihal kesatuan bangsa-bangsa itu dalam 1 Tesalonika 5:3:

“Apabila mereka mengatakan: Semuanya 'damai dan aman,' maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin—mereka pasti tidak akan luput.”

                                                                   


Ketika semua bangsa-bangsa di dunia masih mengatakan atau memperjuangkan  'peace and security,' ... 
(Sumber gambar: United Nations language Careers. 4 januari 2016. <languagecareers.un.org>)


 Mengapa Paulus Menulis Frasa "Damai dan Aman"?

    Paulus menulis surat kepada jemaat di Tesalonika pada zamannya karena terdapat nabi-nabi palsu yang mencoba mempengaruhi jemaat Tuhan bahwa "Hari Tuhan" sudah tiba. Hal itu bukanlah sekadar nasihat biasa, melainkan menyingkapkan hikmat makrifat tentang "nama" yang dicari oleh semua bangsa. Nama tersebut menjadi pertanda awal (pra-) kemunculan kembali "menara Babel kuno." Frasa nama "damai dan aman" itu disampaikan oleh Rasul Paulus mengenai masa sebelum (pra-) kedatangan kembali Kristus ke bumi. Ayat 3 merupakan pengetahuan wahyu (revelation knowledge) yang sering kali dipandang remeh oleh para pembaca Kitab Suci.

    Pada zaman menara Babel kuno, umat manusia di seluruh dunia berkata: "Marilah kita mencari nama ('karya/pekerjaan') ..." Sampai saat ini, umat manusia di dunia masih "mengatakan" (mencari "nama") seperti yang dilakukan di Babel kuno, dan "nama" yang dicari ialah "damai dan aman", yang dalam versi bahasa Inggris berbunyi "Peace and Security" [7]. "Peace and Security" [8] merupakan Pasal 1 dalam Bab 1 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Apa yang pasti, Rasul Paulus menulis hal tersebut bukan karena keinginan pribadi tanpa diilhami oleh Roh Kudus. Roh Kudus mengilhaminya agar tulisan Paulus dapat menasihati jemaat Tuhan di Tesalonika. Maka, sumber ilham ayat ke-3 tersebut sudah barang tentu datang dari Roh Kudus. Kita kembali lagi kepada Kejadian 3:15. Ketika "perempuan" itu diperdamaikan dengan Tuhan, kepala keturunan Ular Tua akan diremukkan. Namun, ketika "perempuan" itu bersundal, maka tumitnya akan diremukkan oleh keturunan Ular Tua tersebut. Demikianlah kita melihat "kuasa-kuasa tersembunyi" di balik pergolakan politik dan ekonomi dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa manusia di bumi ini.

Ayat 9: Yerusalem dikatakan duduk di atas tujuh gunung karena kota itu dikelilingi oleh tujuh gunung. Lokasi kota itu dapat dikenali dengan mengaitkannya pada kedudukan tujuh buah gunung yang mengelilinginya. Dalam "panggilan" Tuhan kepada semua suku bangsa Ibrani untuk "menuju satu bangsa", penempatan bagi suku-suku bangsa itu juga dinubuatkan oleh Nabi Yehezkiel sebagai menduduki gunung-gunung.

Ayat 10: “Ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja.”

    Ayat 10 hanya akan memberikan pengertian yang lebih jelas apabila kita merujuk kembali kepada permulaan permusuhan antara perempuan dan Ular Tua serta keturunannya, sebagaimana yang dinubuatkan dalam Kejadian 3:15. Meskipun "perempuan" dalam Wahyu 17 merujuk kepada Kota Yerusalem, kota tersebut sebenarnya dikaitkan dengan bangsanya, yaitu bangsa Ibrani. Tuhan telah memilih Israel (House of Jacob) menjadi pewaris janji-janji Abraham. Bangsa Israel telah dipilih menjadi istri Tuhan YHVH. Pusat pekerjaan (nama Tuhan) dalam pernikahan tersebut adalah Bait Allah di Yerusalem.

    Tanda di langit bagi bangsa Ibrani pada mulanya dilihat oleh Yusuf dalam Kejadian 37:9, kemudian dilihat kembali oleh Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1. Kedua penglihatan yang diperoleh kedua nabi tersebut memiliki persamaan, meskipun tidak sepenuhnya sama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan dua belas bintang di atas kepalanya, dan bulan di bawah telapak kakinya." Yusuf melihat tanda "perempuan" Perjanjian Lama, sedangkan Santo Yohanes melihat bagaimana "Perempuan" Bangsa Israel Perjanjian Lama yang kemudian melahirkan Anak Perdamaian bagi orang Ibrani Perjanjian Baru, dan juga bagi seluruh bangsa di dunia.

    Perempuan itu dinubuatkan oleh Tuhan dalam Kejadian 3:15 bahwa perempuan yang bermusuhan dengan Ular Tua akan melanjutkan permusuhan tersebut hingga pengakhirannya:  “15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

    Sekiranya umat Tuhan (bangsa Israel) tidak diperdamaikan dengan Tuhan, maka perempuan itu akan tunduk di bawah kekuasaan pemerintah-pemerintah dunia, yaitu keturunan Ular Tua. Dengan demikian, keturunan Ular Tua akan meremukkan tumit perempuan itu, dan Kota Yerusalem juga akan tunduk kepada raja-raja atau kaisar-kaisar. Dalam Ayat 10, Santo Yohanes mendapat penglihatan bahwa 5 (lima) garis keturunan kaisar telah "meremukkan tumit" perempuan itu. Namun, hal tersebut telah berlalu karena kekaisaran-kekaisaran yang menaklukkan 'tumit' perempuan itu telah berlalu. 5 (lima) kekaisaran telah meremukkan tumit perempuan itu. Kejadian 3:15 tetap menjadi salah satu kunci penting untuk menafsirkan dan melihat bagaimana permusuhan antara kedua keturunan tersebut: 

"Perempuan vs. Binatang-binatang."

 Keturunan Ular Tua yang pernah meremukkan tumit perempuan itu, lalu menaklukkan Kota Yerusalem adalah:


1.       Kekaisaran Mesir (Egyptian)
2.      Kekaisaran Asyur (Assyrian)
3.    Kekaisaran Kasdim (Babylonian)
4.      Kekaisaran Medo-Persia (Mede-Persian)
5.      Kekaisaran Yunani (Greek)
6.      Kekaisaran Romawi (Roman)
7.      Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman)
8.     Kekaisaran Monarki Britania (British Empire)

 

Panduan Khusus Penafsiran "Kaisar" dalam Wahyu 17:10 Berdasarkan Ilham dari Daniel 7:1–17

    Kita akan berpatokan pada ilham dari Daniel 7:1–28 untuk menyingkapkan arti tersembunyi dari Wahyu 17:10. Dalam Kitab Daniel ini, kita dapat dengan mudah memahami bahwa identitas 'binatang' merujuk kepada kekaisaran atau penguasa bangsa-bangsa. Nabi Daniel menyatakan dalam ayat 3 bahwa ada "empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain." Oleh karena itu, dari ayat 4 sampai ayat 7, kita melihat bahwa 'binatang' itu merujuk kepada empat kekaisaran atau penguasa bangsa-bangsa yang muncul di bumi, dan mereka memang merupakan penguasa atau penakluk Kota Yerusalem.  Pada ayat yang ke-17, Nabi Daniel menuliskan penglihatan dan penjelasan malaikat yang berbunyi:

“Binatang-binatang besar yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi.”

    Kita akan bertanya, mengapa dalam ayat 3 hingga ayat 7 kata 'binatang' jelas-jelas merujuk kepada 'kekaisaran', sedangkan dalam ayat ke-17 malaikat menyatakan bahwa 'binatang' itu merujuk kepada 'raja yang akan muncul dari dalam bumi'? Bukankah keempat binatang itu berasal dari empat kekaisaran yang berbeda, yaitu Kasdim (Babel), Medo-Persia, Yunani, dan akhirnya Kekaisaran Romawi? Mengapa malaikat menyatakan dalam ayat ke-17 bahwa binatang-binatang itu hanya merujuk kepada 4 raja yang akan muncul di bumi? Bukankah satu kekaisaran memiliki banyak kaisar, terlebih lagi jika ada empat kekaisaran yang berganti-ganti?

    Kekeliruan ini akan terjawab jika kita melihat 'raja' tersebut sebagai 'garis keturunan kaisar'. Maka, biarpun ada empat kekaisaran yang berbeda, hal itu berarti hanya empat raja yang muncul, atau dalam ungkapan yang lebih mudah dipahami: "empat garis keturunan kaisar" telah muncul. Malaikat menyatakan hanya ada empat raja di bumi. "Empat raja" itu juga merujuk kepada "empat garis keturunan kaisar" dari empat kekaisaran yang berbeda! Artinya kurang lebih sama dengan mengatakan "ada empat raja", dengan syarat tidak ada pergantian garis keturunan kaisar. Penafsiran seluruh Daniel pasal 7 menjelaskan bahwa empat raja itu bermakna 4 garis keturunan kaisar dari empat kekaisaran yang berbeda. Kita akan menafsirkan Wahyu 17 sebagaimana kita memahami Daniel 7:1–17.

    Sebab itulah dalam Wahyu 17, penulis mencatat delapan (8) kekaisaran (delapan 'binatang') yang pernah memerintah Kota Yerusalem. Hal ini juga berarti ada 8 (delapan) garis keturunan kaisar yang memerintah Kota Yerusalem. Maka, kita tidak akan menafsirkan bahwa ada delapan 'raja' secara harfiah yang pernah memerintah Kota Yerusalem, melainkan kita melihat ada "delapan garis keturunan kaisar dari delapan kekaisaran yang berbeda" yang memerintah Kota Yerusalem.

Ayat 11: “Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu, dan ia menuju kepada kebinasaan.”

   Kekaisaran yang kedelapan itu "telah ada", yaitu "seperti" penguasa zaman Babel kuno (bersifat global atau sedunia), "namun tidak ada" sampai pada tahun 1945 M di mana dunia bersatu menjadi satu dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maka, ia telah "muncul lagi" sejak tahun 1945 M. Hanya ada satu 'garis kaisar' yang berada dalam kelompok lima anggota Veto Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sapa pun peminat sejarah akan terperangkap untuk menafsirkan bahwa lima (5) kaisar itu merujuk kepada 5 (lima) kaisar Romawi Kuno. Pendekatan penafsiran seperti itu menandakan ketidakcermatan dalam membaca Kitab Daniel 7:1–17.

    Permusuhan antara 'perempuan' dan Ular Tua dimulai sejak era kelahirannya di Mesir, dan telah diberitahukan sejak Kejadian 3:15. Harus diingat bahwa ayat 17 dalam Daniel 7 memberitahukan bahwa empat binatang itu ialah 'raja' dari empat kekaisaran (4 kekaisaran), maka pahamlah kita bahwa 4 'raja' itu bermakna 4 garis keturunan kaisar dari empat kekaisaran yang berbeda! Biasanya kekaisaran diperintah oleh satu garis keturunan raja/kaisar.

Kesimpulan dan Kunci: Maka, dalam penafsiran Wahyu 17:10–11, "delapan (8) kaisar" sebenarnya bermakna 8 (delapan) garis keturunan kaisar dari delapan kekaisaran yang berbeda. Seluruh 'binatang' itu (pemerintah dunia) mempunyai pertalian dan persamaan: semua binatang yang muncul itu adalah keturunan si Ular Tua! Satu kekaisaran dilihat sebagai satu kaisar (raja) seperti dalam Daniel 7:17:

“Binatang-binatang besar yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi.”

    Maka, saya melihat 8 kaisar dalam Wahyu 17:10–11 sebagai 8 (delapan) kekaisaran atau 8 (delapan) garis keturunan kaisar dari 8 (delapan) kekaisaran yang pernah menaklukkan atau kaisar-kaisar yang 'menikah' dengan 'perempuan' (Kota Yerusalem) itu. Jikalau kota itu hanya 'menikah' dengan YHVH saja, tentu ia tidak dinubuatkan sebagai pelacur yang menunggangi 'binatang' merah-ungu tersebut!



Tajuk:  Empayar British pada tahun-tahun 1920-an
Source of map [c] 
[c] Histoire-GĂ©ographie au LycĂ©e par Mr. PICQ. 27 December 2015. http://lewebpedagogique.com/grunen/british-empire-maps/map_of_the_british_empire_in_the_1920s/
                                                                    

    

Penjelasan: Kekaisaran-Kekaisaran dan Penaklukan Yerusalem

    Kekaisaran-kekaisaran yang dinyatakan dalam daftar di atas adalah daftar binatang (kekaisaran) yang pernah menaklukkan Kota Yerusalem ('Perempuan': istri Tuhan YHVH). Binatang-binatang keturunan Ular Tua itu adalah kekaisaran-kekaisaran yang memiliki kaisar-kaisar sebagai pemerintahnya. Ketika Santo Yohanes menerima Wahyu itu, "lima kekaisaran sudah jatuh" atau lima garis keturunan kaisar dari lima kekaisaran telah berlalu. Perempuan tersebut tidak hanya bermusuhan dengan Kekaisaran Romawi saja, melainkan dengan semua binatang sejak zaman Firaun!

    Perempuan itu lahir melalui Paskah Tuhan di Mesir; maka, binatang pertama yang bermusuhan dengannya adalah Kekaisaran Mesir. Binatang-binatang itu bukan saja pemerintah dunia, tetapi juga memiliki permusuhan dengan perempuan itu dan kotanya, yaitu Kota Yerusalem. Pemerintahan lima binatang (lima kekaisaran) keturunan Ular Tua atas Yerusalem telah berlalu.

    Ketika Santo Yohanes menerima nubuat dalam Wahyu 17, binatang yang sedang memerintah Kota Yerusalem adalah Kekaisaran Romawi. "Yang lain belum datang" merujuk kepada Kekaisaran Utsmaniyah (Kaisar Utsmaniyah). Dan firman itu melanjutkan: "dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja."

    Bagian ini menjelaskan bahwa bukanlah binatang ketujuh yang akan menjadi 'tanda' bagi pengakhiran penaklukan Yerusalem oleh bangsa-bangsa. Walaupun Kekaisaran Utsmaniyah memerintah Yerusalem dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu selama kurang lebih 400 tahun, namun ia hanya diungkapkan akan "tinggal seketika saja", supaya para pembaca zaman itu dapat menyimpulkan bahwa bukanlah binatang ketujuh yang akan menjadi pemerintah pengakhir. 

    Maka, frasa "akan tinggal seketika saja" memberikan kita pengertian bahwa pemerintah keturunan Ular Tua yang ke-7 juga pasti akan berlalu seperti lima binatang terdahulu yang telah berlalu. Jadi, binatang kedelapanlah yang akan menjadi binatang pemerintah terakhir atas Kota Yerusalem. Setelah itu, kota tersebut akan dipulihkan oleh Yesus Kristus. (Pemulihan Yerusalem atau bangsa Ibrani akan dibahas dalam Seri ke-III).


Siapakah Binatang Kedelapan yang Memerintah Yerusalem?

    Binatang itu ialah binatang merah ungu. Kota Yerusalem telah diberikan kemerdekaan pada tahun 1948, namun kota tersebut telah dibagi dua mengikut formula kaisar kedelapan. Kebijaksanaan Sionisme yang menunggangi kuasa-kuasa besar membantunya untuk terus memiliki Kota Yerusalem, meskipun hal itu bertentangan dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maka, 'perempuan' itu dikatakan duduk di atas semua air, yaitu bangsa-bangsa di dunia, karena ia licik dan bijak dalam menunggangi kuasa-kuasa besar sebagai sekutunya (Ayat 15).

    Namun, separuh kota itu masih menjadi konflik internasional karena Yerusalem Timur diberikan kepada bangsa Palestina. Maka, separuh Kota Yerusalem dikatakan duduk di atas bangsa-bangsa di dunia karena hal itu merupakan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun demikian, kelima anggota hak veto di organisasi tersebut tidak memiliki 'kaisar', kecuali Kekaisaran Britania.

Ayat 11: Apakah Maksud Ungkapan "...Raja kedelapan itu adalah satu dari ketujuh Itu"?

    Maksud ringkasnya, binatang itu adalah keturunan si Ular Tua, dan oleh sebab itu, ia adalah musuh kepada 'perempuan' tersebut. Semua binatang itu adalah keturunan si Ular Tua menurut Kejadian 3:15.

Ayat 16 merupakan suatu nubuat yang terdengarnya tidak baik bagi Israel (bad news for the present secular Israel), karena Kota Yerusalem akan dipaksa untuk dibagi dua menurut ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa! Namun, hal itu diizinkan Tuhan selama bangsa Ibrani belum dipulihkan oleh Kristus. Binatang merah ungu itu akan membenci 'pelacur itu' karena ia telah menjadi sumber konflik internasional yang tidak memiliki penyelesaian. Akhirnya, Tuhan akan merelakan binatang merah ungu untuk meremukkan 'tumit perempuan itu'. Dan tumit perempuan itu adalah Kota Yerusalem.

“Dan kedelapan tanduk yang kaulihat itu serta binatang itu, mereka akan membenci wanita jalang itu dan mereka akan membuat dia sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.”

Maka, benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi dalam Yesaya 46:9–10:

“9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, 10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Ku-lakukan,”

    'Perempuan' yang dinubuatkan oleh Tuhan dalam Kejadian 3:15 menjelaskan bahwa perempuan yang bermusuhan dengan Ular Tua akan meneruskan permusuhan tersebut hingga era penghakiman bangsa-bangsa oleh Hakim Agung:

“15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

    Maka, pahamlah kita bahwa Roh Tuhanlah yang Mahaberdaulat antara perempuan dan keturunan-keturunan Ular Tua itu. Apa yang terjadi kepada Kota Yerusalem dalam Wahyu 17:16 akan digenapi kelak. Namun, hal itu diizinkan oleh tangan Tuhan selama bangsa Ibrani belum dipulihkan oleh Kristus yang akan kembali ke bumi (Yehezkiel 37:1–14; Wahyu 7:4; 1 Korintus 15:50–54).

                                           .....................Lihat Siri 3.....................


Pesan dalam Wahyu 22:18–19

"18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: 'Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. 

19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.'"


Nota Kaki

[1] "Aliyah." Wikipedia. 25 Dec. 2015, en.m.wikipedia.org
[2] "Monarchies in Europe." Wikipedia. 28 Dec. 2015, en.m.wikipedia.org/wiki/monarchies_in-Europe
[3] "Permanent and Non-Permanent Members." The United Nations. 25 Dec. 2015. www.un.org
[4] "Permanent and Non-Permanent Members."
[5] Simin, Joannes. The Interpolated Chronologies in the Old Covenant Based on Prophecies. ms. 2014
[6] Simin.
[7] "Charter of The United Nations." The United Nations. 27 Dec. 2015. un.org
[8] "Charter of The United Nations."


Sitasi 

Alkitab Terjemahan Baru. Yayasan Lembaga SABDA, sabda.org. Diakses 28 September 2015.



Kamis, 24 Desember 2015

Binatang dalam Wahyu 12 sudah dinyatakan dari permulaan dari purbakala iaitu dalam Kejadian 3: 15 -16 a (Woman vs. Old Serpent~ Siri I )




    “15 Aku akan mengadakan permusuhanantara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; ..." (Alkitab Terjemahan Baru, Kejadian 3:15-16 a).

    Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan dalam Kitab Yesaya 46: 10 “(Akulah Allah) …yang memberitahu dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang yang belum terlaksana, yang berkata: keputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan.” Permusuhan di antara ‘perempuan’ dan Ular Tua, dan juga di antara keturunannya dan keturunan Ular Tua itu telah disingkapkan seawalnya dalam alkisah manusia iaitu sejak zaman purbakala lagi di Taman Eden. Perseturuan itu telah disingkapkan pengakhirannya dalam Kitab Wahyu, bab yang ke-12 sehinggalah kepada alkisah nubuatan dalam Kitab Wahyu bab ke-17. Alkisah “Perempuan bermusuhan dengan nama-nama binatang” telahpun diberitakan sejak dari 'permulaannya,' iaitu se-awal pada nubuatan Nabi Musa secara ke belakang ('prophesying backwadly') dalam Kitab Suci Kejadian 3: 15.

    Benarlah Firman Tuhan bahawa "dari purbakala Tuhan telah mewahyukan perihal pengakhirannya" iaitu kasus perseteruan di antara 'perempuan' dan 'Ular Tua.' Permusuhan di antara perempuan dan ular tua dinubuatkan bahawa ia akan membabitkan kedua-dua keturunan bagi mahluk ciptaan Tuhan itu. Ungkapan 'perempuan' dalam Kitab Kejadian 3: 15 adalah ungkapan nubuatan yang hanya diberikan secara khusus kepada bangsa Ibrani. Justeru itu, perkataan ‘perempuan’ bukanlah secara harfiah merujuk kepada Hawa sahaja, tetapi ia sebenarnya merujuk kepada bangsa yang dipilih Tuhan untuk melaksanakan kehendak-kehendakNya di bumi.

    Kelak, selepas kiamat banjir ungkapan profetik 'perempuan' telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada keturunan Abraham, iaitu 'house of Jacob' atau bani Ibrani. Tuhan melihat dan merencanakan supaya perempuan itu akan melahirkan 'bintang bethlehem' pada masa yang telah diketahui dan ditetapkan oleh Allah Bapa. Juruselamat dari Sion adalah maksud yang disingkapkan semula oleh latarbelakang penceritaan Wahyu 12. Wahyu 12: 2 menyingkapkan takdir yang akan menerpa bani Ibrani, dan ia berbunyi “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia (Juruselamat) berteriak kesakitan.” Rencana Tuhan untuk menggenapi “Firman menjadi manusia,” melalui Israel sebagai umat pilihanNya telah mengakibatkan bani Ibrani itu senantiasa menjadi sasaran yang tidak dilepaskan oleh ular tua.

    Ular tua senantiasa berusaha untuk mencari jalan supaya dapat merosakkan apa sahaja rencana Tuhan ke atas bangsa Ibrani. Justeru itu, ia senantiasa mencari jalan untuk “meremukkan tumit perempuan” itu. House of Jacob yang dipilih Tuhan untuk melaksanakan kata profetik “perempuan’ dalam Kejadian 3: 15 telah melalui pelbagai ‘kesakitan dan penderitaan.’ Ia bermula dengan 400 tahun penghambaan di Mesir. Selepas menduduki tanah Perjanjian selama lebih kurang "902 tahun,"[1] iaitu jumlah tahun 'pendudukan' Tanah Suci yang dihitung sejak Paskah di Mesir sehinggalah Tuhan YHVH menyatakan 'perceraian' seperti Firman yang disampaikan dalam 2 Raja-Raja 23: 27. 

    Tuhan telah mengambil 'namaNya,' meskipun sebelum itu, Ia pernah berjanji bahawa namaNya ada pada bait Allah di Kota Yerusalem. Selepas Yehuda memasuki era pembuangan, kerajaan kedua-belas suku kaum Israel telah menjadi sekadar sejarah sahaja. Tanah suci telah menjadi jajahan-takluk oleh bangsa Asyur, Kasdim, Medo-Parsi, Yunani, dan juga oleh pemerintah Romawi. 'Penderitaan dan kesakitan' yang dialami oleh 'perempuan' kerana 'patukan-patukan' penaklukan oleh keturunan-keturunan Ular Tua, dan ditambahi pula dengan kebutaan rohani suku-kaum Imamat, dan kejahatan raja-raja mereka sendiri telah menggenapi nubuatan dalam Kitab Kejadian 3: 16.

    Wahyu 12: 1-2 sebenarnya menjelaskan kebenaran konsistensi kesaksian Roh nubuat dalam Yesaya 46: 10 kerana nubuat dalam Kejadian 3: 16 telah disampaikan seawalnya oleh Roh Tuhan di zaman purbakala menurut catatan permulaan Kitab Kejadian. Santo Yohanes telah melihat tanda di langit, dan penglihatannya perihal ‘perempuan’ berselubungkan matahari itu mempunyai ‘dua belas bintang di atas kepala perempuan' seperti dalam Kitab Why. 12:1. 

    Tanda itu mewakili kedua belas suku bangsa Ibrani, dan ia juga mewakili kedua belas rasul Kristus yang telah memberitakan perihal anugerah 'Jalan' kepada semua bangsa-bangsa di dunia. Bangsa-bangsa di dunia yang percaya kepada Anak Perdamaian yang dilahirkan oleh ‘perempuan’ itu, telah menjadi 'anak-anak' (offspring). 'Anak-anak' itu adalah keturunan 'perempuan' seperti yang didedahkan oleh nubuatan dalam Kejadian 3: 15; Yesus telah menjadi Anak yang sulung. 'Anak-anak' (evangelized gentiles) kepada 'perempuan' (New Testament's house of Jacob) itu turut diperangi oleh Ular Tua itu menurut wahyu dalam Kitab Wahyu 12: 17.

    'Ular tua' itu adalah kata-nama yang membawa maksud nubuat yang merujuk kepada Roh Lucifer! Siapakah pula keturunan ular tua yang diungkapkan oleh Kejadian 3: 15? Keturunannya jelas mempunyai manifestasi kacukan darah manusia, dan “anak-anak Allah (gods)” dalam Kitab Kejadian 6, iaitu kemunculan nephilim, malah selepas kiamat banjir, keturunan kacukan itu muncul lagi seperti dalam catatan Kitab Bilangan 13: 33.

    Walaubagaimanapun, penafsiran tersebut tadi tidaklah jitu dan lengkap, jika sekiranya kita katakan bahawa keturunan ular tua itu hanyalah sekadar merujuk kepada keturunan daging sahaja, meskipun ternyata ada kejadian mengenai dengan ‘cross breeding’ terlarang seperti dalam Kejadian 6 dan Bilangan 13: 33. Roh Nubuat menjelaskan bahawa keturunan ular tua juga merujuk kepada semua pemerintah-pemerintah dunia daripada bangsa-bangsa yang menentang Firman, ataupun bangsa-bangsa tidak percaya kepada 'Firman menjadi manusia.' Janganlah hairan jika suku kaum Dan tergugur dari senarai dua belas bangsa Israel dalam Wahyu 7.  

    Yakub menubuatkan bahawa suku kaum Dan adalah ular. Penulis berpendapat bahawa dalam Why.7, suku kaum tersebut tidaklah mempunyai kelayakan untuk mencapai jumlah 12,000, maka sub-tribe Manasye telah diangkat untuk menggantikan suku kaum Dan. Bukanlah berarti mereka semua telah gugur dan ditolak Tuhan.  'Anak-anak' perempuan dalam Wahyu 12: 17 bukanlah merujuk kepada keturunan Bangsa Ibrani. Ia ('anak-anak')  merujuk kepada bangsa-bangsa bukan Ibrani yang telah dilahirkan kembali oleh operasi Roh tujuh lapis yang melaksanakan karya Allah Bapa di dalam nama Kristus, lalu menjadi pengikut-pengikut 'Jalan.'

    Keturunan perempuan disebut 'anak-anak' (offspring), dan mereka itu adalah merangkumi barangsiapa di antara bangsa-bangsa bukan Ibrani yang telah percaya kepada penebusan dalam nama Domba Tuhan, Kristus. Jika Tuhan memilih bani Israel sebagai 'perempuan,' samada Ibrani Perjanjian Lama atau Ibrani Perjanjian Baru, maka si Ular Tua pula memilih pemerintah-pemerintah dunia sebagai keturunannya.  

    Pemerintah-pemerintah dunia atau raja-raja bangsa-bangsa telah dijadikan  oleh Ular Tua sebagai saluran kehendak-kehendak naga.  Mereka adalah maharaja-maharaja Babylon, maharaja-maharaja Mede-Persian, maharaja dan raja-raja Yunani, maharaja Romawi, raja-raja dalam empayar Romawi (termasuk Herodes) dan juga termasuklah pemerintah-pemerintah dunia yang sedang berkuasa pada masa kini! Tuhan menyampaikan firman dan menyingkapkannya kepada kita bahawa pemerintah-pemerintah Dunia adalah disebut secara simbolis sebagai 'binatang-binatang.' Ia bersesuaian dengan status mereka sebagai keturunan si Ular Tua. Yesus menjelaskan kenapa ia berkata-kata dalam perumpamaan, “kepada kamu diberikan karunia untuk mengetahui rahasia kerajaan Sorga.”

    Dalam seluruh 'karya Allah' iaitu Firman Allah, hanya umatNya sahaja yang dinubuatkan dengan gelaran 'perempuan,' meskipun ungkapan profetik 'perempuan' itu, ada masanya ia diungkapkan sebagai pelacur; ungkapan 'pelacur' mendedahkan ketidaksetiaan bani Israel dalam zaman Perjanjian Lama. Ia disindirkan sebegitu kerana Israel telah meninggalkan Tuhan sebagai Raja mereka, dan mengakibatkan ia kerapkali terlibat atau ditakluki oleh kekuasaan politik raja-raja bangsa-bangsa  di dunia. Namun, ketidaksetiaannya tidaklah pula membatalkan gelarnya sebagai perempuan, meskipun ia disindirkan sebagai pelacur.  Ia diungkapkan oleh firman sebagai "mabuk dengan raja-raja dunia." 

    Di dalam Alkitab, semua pemerintah dunia dari bangsa-bangsa adalah dirujuk secara konsisten dengan ungkapan yang sama, iaitu sebagai 'binatang-binatang.' Maka, sudah tentu kita akan tahu maksud simbolis “perempuan yang menunggangi binatang merah ungu” dalam Wahyu 17, bukankah? Bangsa Israel yang masih menamakan diri mereka sebagai saki-baki kepada penyembah-penyembah menurut agama Perjanjian Lama telah kembali semula ke Tanah Suci, dan hal ini bukan sahaja menggenapi nubuatan, tetapi juga sebagai manifestasi kelicikan dan kepintaran 'perempuan' menunggangi binatang merah ungu itu.

    Si ular tua tidaklah bosan untuk menjadi pengarya disebalik kemunculan penguasa-penguasa dunia, dan ia senantiasa ghairah untuk menumpahkan kekuatannya kepada raja-raja dan pemerintah-pemerintah Dunia, entah mereka 'gandum' ataupun lalang! Maka, tidak hairanlah Yesus bernubuat dalam Matius 13 bahawa ketika Anak Manusia menabur benih, maka datanglah si Ular Tua pada waktu malam dan menabur benih lalang. 

    Justeru, kita akan menyaksikan pemerintah dunia itu boleh saja beragama Kristian, namun pemerintahannya tertakluk kepada manupulasi Ular Tua untuk menjadikan mereka sebagai agen-agen kehendaknya atau keturunannya, samada mereka sedari atau tanpa mereka sedari. Walau-apapun rumusan, "hati Raja (pemerintah) adalah seperti aliran batang air (sungai) di dalam tangan Tuhan, dialirkanNya ke mana Ia ingini" (Amsal 21: 1). Justeru, jika roh pemerintah itu bukan dalam kekuasaan tangan Tuhan, maka sudah tentu ia berada di tangannya sendiri, ataupun bolej jadi ia sedang  diinspirasikan secara halus oleh Naga. Oleh itu, umat Tuhan menaikkan doa syafaat kepada mereka (Raja/pemerintah).

    Di masa penghakiman dan murka Tuhan, iaitu nama Kristus sebagai Hakim, kita akan melihat pemerintah-pemerintah yang 'jatuh,' iaitu mereka yang tidak lagi percaya kepada Firman; mereka akan ternyata sebagai jerami belaka, biarpun mereka mendakwa sebagai manusia yang beragama. Hakikatnya, Penguasaan 'lalang' dalam birokrasi pentadbiran kerajaan-kerajaan di dunia akan lebih nyata pada masa penghakiman atau ketika nama Kristus beroperasi sebagai 'Hakim' di sepanjang "satu masa, dua masa dan separuh masa."

    Ketika naga berada di tepi laut, ia sedang 'memerhatikan' benua Eropah dan  ia ingin berkarya kepada semua "10 garis keturunan raja-raja Eropah"[2] sebagaimana yang dijelaskan dalam Wahyu 13. Ia melihat bahawa semua raja-raja itu akan mampu melilitkan empayar mereka merentasi laut di dunia. Mereka melaksnakannya dengan topangan kekuatan roh yang tidak kelihatan, iaitu anugerah naga itu. Empayar British menggenapi deskripsi pemerintah dunia yang dinubuatkan dalam Wahyu 13: ‘kepala binatang yang luka.' Ia adalah bukti bagaimana naga itu memberikannya kekuatan untuk menjajah hampir seperempat mukabumi! Malah ia (British) masih memiliki beberapa tanah jajahan sehingga kini. Tuhan merelakannya kerana ia menggenapi putusan (nubuatan-nubuatan) Tuhan. Rupa-rupanya, Tuhan telah berkerja melalui empayar-empayar yang dibentangkan oleh raja-raja Eropah, dan memudahkan pemberitaan Khabar Gembira di seluruh dunia.

    Rupa-rupanya, Roh Tuhan dengan lebih mudah melalui Maha-kreatifnya di dalam pekerjaan menabur benih ke atas ladang yang dibajak oleh Ular Tua. Bagi mereka yang meminati dan menyokong British, mereka sudah tentu akan berpendapat bahawa tidak mungkin naga itu yang memberikan kekuatan kepada British, namun keturunan si Ular Tua adalah pemerintah-pemerintah Dunia. Pemerintah-pemerintah dunia sebenarnya adalah sasaran ular tua untuk menyalurkan kehendak-kehendaknya samada ia disedari ataupun tidak. Apapun rancangan yang licik dari pihak ular tua, Tuhan telah menegakkan kedaulatanNya di atas segala sesuatu! Maka, keputusanNya juga akhirnya yang akan terlaksana.

    Empayar British bukanlah layak dipanggil 'perempuan' seperti nubuatan Kejadian 3:15; empayar British selayaknya adalah 'karya yang tidak kelihatan oleh tangan Naga' yang telah "tinggal berdiri di pantai laut" itu (Wahyu 12: 18). Senjata pemusnah seperti bom atom, bom hydrogen, bom plasma, dan bom nukliar, bukanlah dicipta kerana inspirasi Roh Tuhan. Kuasa-kuasa besar dunia memiliki semua senjata itu. Bukankah Kristus akan kembali ke bumi ini untuk menggenapi Firman, dan salah satu daripada tujuan Kristus kembali sebagai Hakim berbunyi: "...membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi." (Wahyu 11: 18)?

    Penaburan Anak Manusia ialah Ibrani perjanjian Baru (perempuan), dan juga 'converted gentiles' sebagai anak-anak. Bukankah anak-anak itu turut terheret dalam agenda kerakusan pemerintah yang menjajah dunia, seperti peperangan-peperangan, demi menunaikan kepatuhan dan kesetiaan mereka yang dituntut oleh raja-raja (gods)?

    Melalui kacamata Firman, agenda penjajahan adalah inspirasi si naga. Penjajahan raja-raja Eropah itu seolah-olah telah direlakan oleh tangan Roh Tuhan, agar genaplah nubuatan-nubuatan para nabi! Penguasa dunia, Amerika tidak menjajah dunia seperti raja-raja Eropah, malah ia digelar "kelihatan seperti domba"kerana ia adalah pemimpin gergasi dunia dalam melaksanakan karya perdamaian di antara semua negara di dunia dengan memperjuangkan prinsip Bangsa-Bangsa Bersatu, Charter Chapter 1, Article No.1: 'Peace and Security.'[3] Domba Tuhan' merupakan karya Jalan 'perdamaian' di antara Roh Allah Bapa dan dengan umat manusia. Justeru kerana usaha-usaha yang diusulkan dan dilaksanakan oleh Amerika seperti 'Peace and Security,'[4] bagi Bangsa-Bangsa Bersatu, maka Ia memenuhi deskripsi binatang yang keluar dari bumi, dan digelar 'kelihatan seperti domba.' Binatang seperti ‘Amerika’ bertindak sebagai pemimpin utama dunia dalam memperjuangkan perdamaian di muka bumi: maka, ia “kelihatan seperti domba.”

    Domba Tuhan adalah karya Jalan Perdamaian di antara Tuhan dan manusia yang luka. "Binatang yang keluar dari bumi" adalah pemimpin dalam semua agenda 'perdamaian' di antara bangsa-bangsa di dunia, terutama era-era selepas perang Dunia yang ke-dua. Oleh kerana Amerika tidaklah menjajah seperti raja-raja Eropah yang mendapatkan tanah-tanah jajahan di serata bumi, maka Ia (Amerika) hanya dinubuatkan sebagai "keluar dari bumi" sahaja. Hampir kesemua 50 negeri tanahnya yang bersatu menjadi satu, dan ia di panggil 'the United States of America; sesuai dengan ungkapan “binatang yang keluar dari bumi,” namun dua tanduknya menguasai Dunia. 

    Perkataan profetik 'laut' mengungkapkan kaitannya dengan banyak bangsa-bangsa di dunia termasuk lokasi-lokasi geografi di mana bangsa-bangsa itu tinggal. Maka, fahamlah kita kenapa empayar British adalah keluar dari 'laut;' kerana ia melilitkan banyak bangsa-bangsa menjadi warga empayar British, dan tanah jajahannya pula menjadi unjuran kepada tanah ibunda di kepulauan British. Empayar British membabitkan banyak bangsa dan tanah yang merentasi tujuh lautan Dunia, dan itulah sebabnya pemerintahan monarki British itu dikatakan “binatang keluar dari laut” atau empayar pemerintahan yang merangkumi banyak bangsa dan banyak tanah jajahan di semua benua. Penduduk empayarnya terdiri dari pelbagi bangsa dari banyak tanah-tanah jajahan. Tanduknya pula ada 'mahkota' kerana empayar British diperintah oleh monarki British.

    Pemerintah dunia seperti Amerika tidaklah diungkapkan sebagai binatang yang keluar dari 'laut' kerana tanah pemerintahannya tidaklah melingkari bumi. Ia tetap berada di tanah (land) di benua utara Amerika, tanpa merentasi pantai-pantai laut di seluruh dunia. Namun, kuasanya sesungguhnya melingkari bumi, dan jelas diungkapkan oleh dua tanduk binatang itu, iaitu kuasa politik dan kuasa "buying and selling" ('kuasa duitnya'). Pemerintahan Amerika juga diungkapkan sebagai "keluar dari bumi” kerana ia tetap sebagai satu bangsa, iaitu bangsa Amerika, di benua utara Amerika. Dua kuasa Amerika atau “dua tanduk binatang yang keluar dari bumi” itu telah mengikat bangsa-bangsa di dunia melalui usul perjanjian-perjanjian. 'Tanduk' itu tiada mahkota kerana Amerika adalah negara republikan. Dunia biasanya menuruti dan tunduk kepada usulnya kerana "ia 'kelihatan sebagai domba ('peacemaker'), tetapi kuasa 'politik-militer', dan kuasa "buying and selling" adalah diungkapkan sebagai "bercakap seperti naga"; berkuasa, persuasif, dan bahaya jika ditentang (irresistible!). 


'Patung'?

13 Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. 14 Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.” (Wahyu 13:14-15)

    Di zaman dahulukala dalam kehidupan animisme atau kepercayaan polytheisme bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa, patung memainkan peranan sebagai objek penyembahan. Seluruh ibadah para penganut adalah berpusat di mana lokasi patung itu diletakkan. Namun, dalam nubuatan Wahyu 13: 14, perkataan simbolik patung mengungkapkan pengertian profetik yang tersembunyi. 

    Ayat itu berbunyi “dan ia (binatang yang keluar dari bumi) menyuruh seluruh bumi untuk mendirikan patung bagi binatang yang luka itu," dan ia adalah bahasa profetik yang merujuk kepada kuasa politik Amerika yang menghidupkan kuasa Imperialis British dalam usaha menguasai kembali politik dunia melalui karya politik sekutu Amerika bermula dengan perjanjian-perjanjian yang mengikat bangsa-bangsa di dunia termasuklah "Sistem Bretton Woods" [5] pada tahun 1944. Sebelum perang dunia ke-2 berakhir, matawang British merupakan matawang utama Dunia, terutama di seluruh tanah jajahannya yang dikatakan telah melingkari dunia, sehingga ada penyair yang telah berpuisi, “matahari tidak pernah terbenam di dalam empayar British”

    Dan semua aktiviti-aktiviti ekonomi di seluruh jajahannya adalah berpusat di Bank of England sebagai pusat transaksi perekonomiannya, atau 'patungnya' yang terletak di Kota London. Malah, seluruh tanah jajahannya iaitu colonies, mandates atau protectorates adalah tertakluk kepada 'undang-undang' yang digubal oleh penjajah British (colonial master). Maka ketaatan kepada hukum-hukum yang digubal oleh penjajah itu juga diwahyukan oleh Roh Tuhan sebagai 'menyembah' Patung itu: pemerintah Empayar British. Patung dalam sudut pandangan religious adalah objek ibadah, namun dalam Kitab Suci Wahyu, 'patung' itu merujuk kepada “salah satu daripada tujuh kepala binatang yang luka” yang keluar dari laut, dan ia adalah monarki empayar British. 

    Kuasa monarki adalah dinyatakan melalui penguatkuasaan undang-undang yang ditandatanganinya, atau yang dimeteraikannya. Justeru itu, patungnya juga merujuk kepada peraturan atau undang-undang yang ia gubal untuk menaklukkan semua bangsa-bangsa yang tinggal di semua-tanah jajahannya. Sebagaimana bangsa-bangsa dituntut tunduk, dan taat kepada monarki empayar Biritish, maka demikianlah ia diumpamakan sebagai seolah-olah suatu ungkapan ibadah kepada patung (idol) yang menuntut ketaatan pada peraturan ritual atau tata-cara ibadah! Selepas Perang Dunia ke-II, banyak tanah jajahan British yang telah menyatakan hasrat untuk mengecapi independen, samada melalui perjuangan politik yang aman, ataupun melalui pemberontakan yang berdarah.

    Banyak tanah jajahan telah diberikan kemerdekaan yang juga memberi arti bahawa ia telah mengurangkan kekayaan yang dikecapi selama ini oleh penjajah British. Namun, kemunculan Amerika sebagai kuasa baru dunia selepas perang dinubuatkan sebagai binatang yang keluar dari bumiitu,“kelihatan seperti domba.” Ia telah berkarya bersama British dengan mengusulkan penubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu, dan juga penubuhan pusat pemulihan negara iaitu Bank Dunia dengan ditunjangi oleh perjanjian Bretton Woods. 

    Dengan karya atau nama yang diilhamkan oleh Amerika bersama sekutu utamanya iaitu British, maka British sebagai “binatang yang luka oleh pedang” (peperangan dunia ke-dua), telah dapat mengembalikan 'kuasa duit’ Pound sebagai matawang utama Dunia di belakang dollar Amerika. Amerika (“binatang yang keluar dari bumi”) telah bersepakat dengan British dan sekutunya melalui "Sistem Bretton Woods"[6]; ia dinubuatkan oleh Kitab Wahyu bahawa Ia (Amerika) menyuruh seluruh dunia untuk mendirikan 'patung,' atau dalam bahasa biasa berarti ‘akur kepada kuasa politik British.’ Kuasa politik British telah dikatakan dihidupkan kembali kerana ia telah dapat mengembalikan kedudukannya sebagai penguasa dunia.

    Penguasaan politik dunia bagi pihak British telah terjamin melalui kedudukannya sebagai ‘elit,’ iaitu salah satu daripada Lima kuasa Veto dunia di meja bulat.[7] Lima ahli tetap Majlis Keselamatan Bangsa-Bangsa Bersatu itu adalah, the United States of America, British, France, Russia dan China.[8] Penguasaan London dalam transaksi perdagangan Dunia telah dihidupkan kembali atau diungkapkan "patung binatang yang luka" telah diberi-kuasa “berbicara kembali.” 

    Kuasa politiknya di Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu dan juga Bank Dunia secara simbolis diungkapkan oleh frasa nubuatan “telah diberikuasa berbicara kembali.” Atas topangan kuasa gergasi politik Amerika (binatang yang keluar dari bumi), penguasaan London telah dihidupkan kembali, cuma ia beralih dari City Centre of London ke Bank Dunia. Kepalanya (Empayar) pula dihidupkan kembali dari “luka parah” akibat peperangan dunia ke-dua, dan juga akibat peperangan dengan tanah jajahan yang menuntut kemerdekaan darinya. Penguasaan semulanya di arena politik dunia sebagai salah satu 'kuasa veto’, ahli tetap majelis keselamatan, Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu telah menghidupkan kembali kepalanya yang 'luka parah.'  Karya politiknya bersama dengan karya duit Amerika telah menyembuhkan semula 'luka parah' kepala sekutunya, iaitu Imperialis-British.

    Penguasaan British dalam “membeli dan menjual” telah kembali hidup apabila ia menjadi pemegang kedua terbesar dalam syernya di Bank Dunia selepas Amerika. Pusat penyembahan 'duit' sebelum perang dunia ke-II adalah di London, dan kemudian selepas perang ia telah didirikan (melalui perjanjian-perjanjian) kembali, iaitu di Bank Dunia. Manakala, kuasa politiknya dalam arena politik global telah hidup semula apabila ia menduduki kerusi sebagai ahli tetap dalam majlis keselamatan PBB, atau ringkasnya pemegang kuasa Veto. Kuasa ekonominya pula telah dapat dihidupkan kembali melalui 'karya' "Bretton Woods" [9] bersama dengan Amerika. 

    Perjanjian itu berfungsi sebagai pengikat kepada 'karya' (“membeli dan menjual”), dan ia telah disambut secara positif melalui penerimaan dan pengesahan penyertaan oleh negara-negara di dunia. Demikianlah alkisah bagaimana 'Patung' itu diteguhkan semula oleh bangsa-bangsa, bagi bekas Imperialis dunia itu! Pusat aktiviti dan kehidupan moden bagi seluruh dunia iaitu “membeli dan menjual” adalah berpusat di Bank International Settlements (BIS) [10], Bank Dunia, dan International Monetary Fund (IMF). Demikianlah, bagaimana Amerika menolong sekutunya the United Kingdom dan empayarnya dalam mencari nama atau karya untuk menguasai politik, ekonomi dan militer di Dunia ini. Kemunculan karya Amerika (“binatang yang keluar dari bumi”) telahpun digenapi, dan ia mewakili peringkat awalan bagi karya itu. Kita sedang memerhatikan babak akhirannya.

    Masih ada lagi hal-hal dari nubuatan-nubuatan tersebut dalam Wahyu 13 yang belum digenapi. Masih ada beberapa perkara berhubung dengan Wahyu 13 yang belum digenapi iaitu perbuatannya di masa hadapan yang dikatakan selama 42 bulan: binatang yang keluar dari laut (iaitu 'kepala yang luka') akan menghujat yang Mahatinggi, dan akan tidak memihak malah menentang 'gandum.' “Ia akan diperkenankan untuk berperang ke atas orang-orang kudus selama 42 bulan” atau 3.5 tahun. 

    Kesimpulannya, kita bukanlah berniat untuk mengubah karya yang diusulkan dan dilaksanakan oleh Amerika serta sekutunya kerana hampir kesemua negara di dunia telah bersetuju mengikatkan diri mereka kepada Perjanjian-Perjanjian yang dicipta oleh “binatang yang keluar dari bumi” itu. Kita tidak juga berniat untuk berkempen supaya orang membenci “Binatang yang keluar dari bumi” itu kerana sesungguhnya binatang itu adalah ‘kelihatan’ sebagai 'peacemaker' di bumi; “kelihatan seperti domba.” Namun, penulis hanya membentangkan perihal bagaimana 'tanda-tanda' dan nubuatan dalam Wahyu itu dikenalpasti supaya kita, orang percaya dan pengikut Jalan, dapat membaca zaman: to be the readers of the signs of times.

    Demikian juga halnya dengan pihak British, di mana kita tiada niat untuk membenci zaman penjajahan mereka ke atas kita, kerana penjajahan oleh British ke atas kita sudah berlalu, meskipun nyata mereka masih berkuasa di atas kita semua. Walau-apapun rumusan, "hati raja (pemerintah negara dan pemerintah dunia) adalah seperti aliran batang air (sungai) di dalam tangan Tuhan, dialirkanNya ke mana Ia ingini" (Amsal 21: 1). Justeru itu, jika hati mereka bukan dalam tangan Tuhan, maka sudah tentu hati raja itu berada di tangannya sendiri, ataupun ia sedang diinspirasikan secara halus oleh roh Ular tua itu atau Naga. Justeru itu, semua umat Tuhan menaikkan doa-doa syafaat kepada mereka (raja/pemerintah-pemerintah), agar mereka mendapat 'aliran batang air' yang membawa keadilan ataupun paling tidakpun suatu pengertian.   (Lihat Link Siri ke-2)





Nota Kaki

[1] Simin, Joannes. The Interpolated Chronologies in the Old Covenant Based on Prophecies. ms. 2014
[2] “Monarchies in Europe.” Wikipedia. 28 Dec. 2015, en.m.wikipedia.org/wiki/monarchies_in-Europe
[3] “Charter of The United Nations.” The United Nations. 27 Dec. 2015. un.org
[4] “Charter of The United Nations.”
[5] “Sistem Bretton Woods”. Kamus Ekonomi, Cet.1, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993, m.s. 243
[6] “Sistem Bretton Woods.”
[7] “Permanent and Non-Permanent Members.” The United Nations. 25 Dec. 2015. www.un.org
[8] “Permanent and Non-Permanent Members.”
[9] “Sistem Bretton Woods.”
[10] Margaret Allen, Let's Talk Money, 2nd ed. (Singapore: Time Books International), 171-172.



Sitasi 

Alkitab Terjemahan Baru. Yayasan Lembaga SABDA, sabda.org. Diakses 24 Disember 2015.