Sabtu, 25 Juli 2026

Takut akan Tuhan, itulah harta (kunci) Sion

 


Nubuat tentang harta Sion Perjanjian Baru: Yesaya 33: 6

"He will be the sure foundation for your times, a rich store of salvation and wisdom and knowledge; the ‘fear of the Lord’ is the KEY to this treasure." (New International Version, Isaiah 33:6).


Harta Kekal dan Kunci Kehidupan

    Oleh karena hidup di dunia ini, ada banyak hal yang dapat kita pegang atau miliki menurut kemampuan akal budi maupun kecakapan yang ada pada diri seseorang. Engkau boleh memegang hak milik atas tanah, menjadi pemegang saham, ataupun memegang janji setia kepada istrimu, serta pelbagai hal lain yang dapat kita usahakan untuk kita miliki atau pegang. Barangsiapa pandai menguasai banyak kecakapan, dialah yang berpotensi untuk berhasil dalam hidup di dunia ini.

    Kita mencari sesuatu yang dapat kita pegang atau miliki, supaya kita mempunyai makna untuk terus hidup dan berjuang di bumi. Orang yang tidak mempunyai satu hal pun untuk dipegang atau dimiliki akan menderita dalam hidupnya, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak ada lagi hal yang dapat dipegang untuk menjadikan hidupnya bermakna. Namun, Yesus bersabda bahwa orang percaya perlu memiliki harta yang kekal abadi melalui "kunci"—yaitu takut akan TUHAN. "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (eKatolik, Matius 13:12). Namun demikian, seseorang harus memiliki ketetapan-ketetapan rohani yang benar untuk memperoleh kunci tersebut.


Sebab di Mana Hartamu Berada, di Situ Juga Hatimu Berada

    Harga diri seseorang berkaitan erat dengan apa yang dipegangnya di bumi ini. Baik itu segulung ijazah maupun sesuatu yang berharga baginya, ia akan bersandar kepada apa yang dipegangnya itu. Apabila dunia menghina apa yang dipegangnya, ia dapat menjadi murung, marah, kecewa, cemburu, atau tawar hati. Oleh sebab itu, manusia yang terluka oleh dosa berlomba-lomba untuk memegang sesuatu yang dapat mereka banggakan, lalu menganggapnya sebagai hal yang bernilai atau sebagai harta dalam kehidupan.

    Orang percaya memegang dua jenis harta yang memberi mereka rasa berharga: harta kekayaan dunia dan harta kekayaan Sion. Sungguh malanglah kita sekiranya kita tidak memiliki kedua-duanya! Kita berikhtiar memegang apa yang kita anggap berharga di bumi. Melalui akal budi dan kekuatan jasmani—baik menurut hukum maupun melanggar hukum, baik dengan kejujuran maupun dengan kelicikan, serta melalui peperangan ataupun perjanjian damai—kita berusaha memperoleh apa yang kita perjuangkan. Itulah harta yang fana di bumi.

    Kita memperjuangkan apa yang berharga itu dengan pelbagai cara, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa kita sendiri. Itulah harta! Bukankah Yesus telah berfirman: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:19-21). 

    Harta kekayaan yang kekal abadi bagi pengikut Kristus adalah Harta Sion, yaitu ketujuh Roh Allah. TUHAN (Yahweh), ketika memberikan janji pembaruan kepada umat-Nya—bani Israel yang tidak setia memegang perjanjian—menyingkapkan rahasia harta masa depan Sion di dalam Yesaya 33:6.


Harta Perjanjian Baru: Roh Kudus

    Nabi Yesaya menyampaikan pesan nubuat: "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion." (Yesaya 33:6). Banyak di antara kita berpendapat bahwa pengetahuan untuk memperoleh harta benda Sion hanya layak dibahas oleh kalangan elit, para pendeta, dan kaum religius. Padahal, Yesus telah berfirman dengan sangat jelas: "... Kepadamu dikurniakan rahasia ketujuh Roh Allah..."

    Harta Sion, yaitu Roh Kudus, dikurniakan kepada setiap imamat yang rajani dalam Perjanjian Baru. Maka, roh hikmat itu hadir melalui pekerjaan ketujuh Roh Allah secara pribadi, sekalipun kita dimeteraikan dalam satu sakramen. Pekerjaan ketujuh Roh Allah haruslah diseru setiap hari sebagaimana kita berseru kepada Sang Jalan, Pintu, dan Kunci: Kristus. Pekerjaan Roh itu dinyatakan melalui doa.

    Dalam perjalanan iman, setiap pengikut Kristus dapat bertumbuh dalam iman sebab roh orang percaya dengan setia menikmati Manna. Ia menikmati Manna karena didorong oleh pekerjaan roh takut akan TUHAN yang membangkitkan rasa lapar rohani. Tanpa makanan rohani, tidak akan ada pertumbuhan rohani. Membaca Firman tanpa berdoa hanya akan menghasilkan pemahaman pada tingkat akal budi semata. Namun, berdoa dan membaca Firman adalah tingkat rohani; inilah yang dimaksud dengan menikmati Manna.

    Tuhan tidak akan mengurniakan pekerjaan roh hikmat dan roh pengertian jikalau tidak ada kesetiaan untuk terus-menerus menikmati Firman-Nya. Raja Daud menyingkapkan kunci bergaul karib dengan TUHAN dalam Mazmur 25:14: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."

    Mereka yang bergaul karib dengan Tuhan adalah mereka yang dikurniakan pekerjaan roh takut akan TUHAN; karunia itu senantiasa menyatu di dalam Roh Kudus. Oleh karena penyertaan karunia tersebut perlu dipelihara, kita harus berseru siang dan malam supaya kita senantiasa dikurniakan kehadiran-Nya.


Janji Tuhan kepada Sion: Roh Kudus

    Yesus berfirman bahwa apabila Penghibur itu datang: "Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku." (Yohanes 15:26). Pekerjaan "roh pengertian" ada pada Roh Kudus, sehingga roh pengertian inilah yang memberikan pengenalan akan Yang Mahakudus. Semakin sering Ia dicurahkan, semakin cepat pula kita mengenali Yang Mahakudus.

    Hikmat Raja Salomo dengan jelas memberikan kesaksian bahwa roh hikmat dan roh pengertian didahului oleh pekerjaan "roh takut akan TUHAN." Sekalipun ketujuh Roh Allah itu ada pada Roh Kudus—yakni menyatu secara serentak—pekerjaan-Nya disingkapkan secara nyata oleh Firman Tuhan. Karunia "roh takut akan TUHAN" inilah yang membangkitkan roh si penerima kasih karunia Allah, supaya rohnya mulai menanggapi hakikat Roh Tuhan, yang dinamakan sebagai "permulaan hikmat."

    Roh Hikmat adalah hakikat Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala hikmat. Jikalau engkau mulai mendengar suara-Nya, melihat penglihatan-penglihatan, dan memimpikan hakikat Roh Tuhan, itulah yang dimaksud dengan "permulaan hikmat." Hal ini juga disebut sebagai permulaan persekutuan dengan Kristus. Dari titik inilah para pengikut Kristus memulai perjalanan iman sebagai manusia rohani yang dewasa. Mereka yang disebut sebagai "ranting yang benar pada Pokok Anggur yang sejati" adalah mereka yang bernubuat, mendapat penglihatan-penglihatan, dan memperoleh mimpi-mimpi (Yoel 2:28).

    Raja Salomo rupanya telah lebih dahulu mengenali pekerjaan ketujuh Roh Allah dibanding kita, yakni pada masa pemerintahannya kira-kira tahun 1017 SM hingga 978 SM. Kesaksiannya memberikan pengertian kepada kita: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10).


Perjalanan Iman Memerlukan Karunia-Karunia

    Sebab itu, dalam menempuh perjalanan iman, setiap orang percaya harus memegang apa yang telah dikurniakan kepadanya, yaitu ketujuh Roh Allah. Tuhan itu adil, sebab kekuatan iman terletak pada penyertaan ketujuh Roh Allah—dan mungkin pula kehadiran malaikat-malaikat yang diutus oleh Bapa—bukan pada kemampuan akal budi manusia. Tanpa urapan atau penyertaan Roh Kudus, tidak akan ada kekuatan untuk melanjutkan perjalanan iman. Jikalau demikian, rumput hijau pun menjadi layu dan orang-orang muda terhuyung-huyung.

    Tanpa kekuatan roh untuk melakukan kehendak Roh Tuhan, kita hanya akan bersandar pada kekuatan pikiran semata. Pikiran adalah pusat kehidupan daging. Sebaliknya, kehendak Roh Tuhan atau Firman dilaksanakan dengan kekuatan ketujuh Roh, yaitu melalui urapan penyertaan Roh Kudus. Hanya dengan kekuatan yang dianugerahkan oleh Roh Kudus, kemenangan itu ada. Tidak ada kemenangan bagi mereka yang melakukan kehendak Firman sekadar bergantung pada kekuatan pikiran.

    Setiap orang yang memahami kehendak Tuhan akan melakukan kehendak-Nya dengan pengakuan bahwa tanpa Kristus, mustahil seseorang berkenan kepada Allah Bapa. "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:1, 5). Di luar Sang Jalan, Pintu, dan Kunci, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Roh Kristus berfirman: "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11).

    Apakah yang engkau pegang? Harta Sion, harta dunia, atau kedua-duanya sekaligus? Harta dunia memang tidak dimungkiri penting, namun hanya untuk kehidupan yang sementara selama kita berselubungkan tubuh daging ini. Akan tetapi, kehidupan yang kekal menuntut kita untuk memegang "Harta Sion." Nabi Yesaya menyingkapkan: "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion." (Yesaya 33:6). 

    Bagaimanakah engkau memegang harta itu? Kita memegangnya dengan kerendahan hati, mengakui betapa roh kita tidak memiliki napas hidup yang kekal tanpa Kristus. Pengakuan yang tiada putus-putusnya itu adalah wujud perbuatan kita untuk tetap menjadi ranting pada Pokok yang benar. Yesus bersabda: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).

    Sebagaimana ranting tidak berdaya untuk hidup sendiri tanpa melekat pada pokoknya, demikian pulalah kodrat roh kita yang mutlak memerlukan kebergantungan kepada ketujuh Roh Allah. Oleh karena roh kita berasal dari benih roh Adam yang telah tercemar oleh dosa, dan kita senantiasa menambah pelanggaran kita setiap hari, maka kita tidak henti-hentinya memerlukan kesetiaan pengampunan Kristus. 

    Sebagaimana tubuh jasmani memerlukan makanan dan minuman untuk bertahan hidup, demikian pulalah ranting itu harus terus bergantung penuh kepada pokoknya agar tetap hidup. Sebab Kristus berfirman: "... sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). "... dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5).

    Jikalau pada esok hari kita masih melakukan pelanggaran di dalam hidup ini, berharaplah dan bersandarlah kepada nama Tuhan, yaitu kesetiaan Kristus. Janganlah bersandar pada kekuatan diri sendiri, yakni kemampuan intelek manusia dalam mengarungi perjalanan iman. Kita diterima oleh Roh Allah Bapa oleh karena kesetiaan Kristus, sungguhpun kita tidak setia. Siang dan malam kesetiaan Kristus tidak pernah berkesudahan. Hanya Kristus yang sepenuhnya setia menggenapi dan menyempurnakan Firman. Oleh sebab itu, berpautlah kepada kesetiaan Kristus yang memberikan kemenangan atas dosa, sebab nama-Nya adalah "Yang Setia dan Yang Adil."

    Janganlah mengusahakan kesetiaanmu dengan kekuatan intelekmu sendiri, sehingga parasmu menjadi sangat muram. Selama Roh bersaksi bahwa pergantian siang dan malam belum berakhir—yakni misi Tuhan masih bergema: "Siang dan malam tidak berhenti"—maka kesetiaan Anak Domba Allah tidak akan berhenti menghapus dosa-dosa. Hanya setelah siang tidak ada lagi dan malam telah lenyap, maka pelayanan kesetiaan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia akan ditutup. Pintu Anak Domba Allah akan ditutup oleh nama Tuhan: Sang Hakim. Namun, jikalau kita memiliki Roh Pengertian, kita tahu bahwa Sang Hakim memiliki hakikat Roh yang sama dengan Roh Anak Domba Allah, sekalipun tanda-tanda kehadiran dari kedua misi Tuhan tersebut dapat dibedakan.  22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23)

    Jikalau roh kita beroleh keselamatan hingga masuk ke dalam sorga, maka hal itu adalah kasih karunia Allah dan bukanlah hasil usaha kita. Harta Sion, yakni "ketujuh Roh Allah", adalah karunia "takut akan TUHAN". Ia adalah Roh Kristus. Hanya oleh karena kesetiaan Kristuslah kita dapat mempersembahkan korban syukur siang dan malam. Jikalau keselamatan itu bergantung pada kesetiaan kita, tentulah sangat sukar bagi kita untuk beroleh selamat, apalagi untuk mengucap syukur! Keselamatan dikurniakan oleh karena kasih setia Kristus dan oleh nama Tuhan yang tidak berubah (Keluaran 34:6).

    Kita beroleh selamat sebab Firman tidak pernah gagal dalam kesetiaan-Nya. Bukankah nama-Nya adalah "Firman Allah", dan Firman itu adalah "Yang Setia dan Yang Benar"? (1 Yohanes 1:9; Wahyu 19:11, 13). Kita dinasihatkan untuk mengasihi sesama manusia sebab itulah perintah kasih. Jikalau kita mengasihi, kita adalah sahabat-sahabat Yesus: "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya... Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu... Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." (Yohanes 15:9-10, 12, 14). 

    Rasul Paulus bersaksi bahwa sebelum iman itu datang, kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat dan dikurung sampai iman itu dinyatakan. Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman (Galatia 3:23-24). Paulus melihat bahwa seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Galatia 5:14). Hukum kelima hingga kesepuluh dalam Dasatitah (Sepuluh Perintah Allah) sesungguhnya menyingkapkan pesan tentang "mengasihi sesama manusia". 

    Jikalau kita gagal menurutinya (yaitu Hukum Kasih yang utama), kita harus percaya sepenuhnya kepada kesetiaan Kristus dan mengakui dosa-dosa kita kepada Anak Domba Allah. Oleh karena kesetiaan kasih Kristus yang dinyatakan secara nyata melalui karya-Nya yang sempurna sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia", kita dapat mempersembahkan korban syukur selama pergantian siang dan malam belum berhenti—yakni hingga pergantian siang dan malam itu akan berakhir kelak, sebagaimana tertulis dalam Matius 24:29 atau Zakharia 14:5-7. Apabila pergantian siang dan malam telah berhenti, barulah kita melanjutkan untuk berseru kepada nama Tuhan yang Mahatetap (sifat-sifat Roh Ilahi yang tidak berubah), sebagaimana yang diajarkan oleh Roh Pengertian dalam Keluaran 34:5-7.

    Oleh sebab itu, "... apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang." (Wahyu 2:25). "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (Matius 13:12). Maka, jadilah ranting yang benar pada Pokok Anggur yang sejati, supaya kamu dapat memegang apa yang telah dikurniakan kepadamu!



Rujukan

The Bible. New International Version, Biblica, 2011. Bible Gateway, ://biblegateway.com. Accessed 25 July 2026.

Katolik Media.  (2024). eKatolik (Versi 5.3.3) [Mobile app]. Google Play Store.google.com

Tidak ada komentar: