Jesus said: “So give back to Caesar what is Caesar’s, and to God what is God’s.” (New International Version, Matthew 22: 21).
19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu."Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" 21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." 22 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"(Alkitab Terjemhan Baru, Matius 22: 19-22).
Sebab yang wajib dipersembahkan kepada Allah singkatnya ialah menyempurnakan ibadah rohani, yaitu Doa Bapa Kami. Orang-orang percaya belum tentu berkenan kepada Bapa di sorga ketika mereka berseru kepada nama Tuhan. Hukum Tuhan yang ketiga berfirman: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu,dengan sembarangan."
Seruan kita mungkin bercela sebab iman kita memiliki cacat cela oleh karena tidak sepenuhnya menuruti Roh Pengertian tentang seruan kepada nama Tuhan. Mengenal Tuhan adalah kasih karunia dari Roh Pengertian (Yesaya 11:2). Nama Bapa dapat dipahami apabila firman yang dituliskan oleh nabi Musa dalam Keluaran 34:5-7 tersingkap. Tersingkap berarti Roh Pengertian dan Roh Hikmat datang membimbing kita kepada seluruh kebenaran.
"Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130).
Ketersingkapan Firman itu terjadi oleh karena karunia-karunia ketujuh Roh Allah (Yesaya 11:2) dan juga kasih karunia "Ucapan Bahagia" (Matius 5:1-12). Kata "berbahagia" berarti kasih karunia dari Roh Tuhan: aliran kasih karunia dari ketujuh Roh Allah. Orang-orang percaya tidak memiliki sumber daya manusiawi apa pun yang dapat membuat diri mereka disebut "berbahagia." Keadaan "berbahagia" itu sepenuhnya bersumber dari Allah atau merupakan berkat dari Roh Tuhan; hal itu bukan berasal dari usaha manusia. Ucapan Bahagia hanya dapat diterima oleh anak-anak Allah melalui pekerjaan aliran ketujuh Roh Allah.
Doa Yesus dalam Yohanes 6:63 dan Yohanes 17 jelas memperlihatkan bahwa
Firman itu adalah Roh. Dia berfirman: "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran;
firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17). Firman yang tercetak dengan
tinta pada lembaran-lembaran kertas di dalam Kitab Suci akan tetap terhenti
pada tingkat pemahaman akal budi, kecuali jikalau ketujuh Roh Allah datang
mengurniakan roh pengertian dan roh hikmat. TUHAN berfirman: "Bila
tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada
orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130).
Ketersingkapan Firman itu dapat dipahami dengan lebih baik melalui kiasan sebuah penjelajahan: para penjelajah tidak dapat melihat pemandangan yang luas di dalam gua yang gelap, namun ketika mereka menemukan cermin utama di bawah celah bukaan gua dan sinar matahari masuk menembus celah tersebut, sinar itu dapat dipancarkan lebih jauh melalui penyesuaian sudut cermin utama, sehingga rangkaian cermin-cermin lainnya dapat menerangi bagian-bagian yang lebih dalam di dalam gua yang gelap itu.
Demikian pula, pemahaman akal budi kita terhadap firman pada lembaran Alkitab akan menjadi pemahaman rohani yang lebih mendalam hanya apabila ketujuh Roh Allah dicurahkan untuk menyalakan roh kita. Selanjutnya, roh orang percaya dapat diterangi melalui persekutuan rohani yang mendalam (“kamar terdalam”)—yaitu komunikasi antara Roh Allah dan roh manusia melalui mimpi, penglihatan, dan suara Roh.
Kehadiran-Nya memberikan pemahaman yang jauh lebih dalam dibanding dengan pemahaman kita yang sebelumnya, bahkan Ia memperbaharui akal budi kita. Pembaharuan akal budi tidak akan dicapai kecuali jika Firman itu telah tersingkap. "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup." (Yohanes 6:63).
"Nama" umat manusia sejagat adalah urusan kehidupan daging. Kehidupan daging berpusat pada makan dan minum, kawin dan mengawinkan, membuat batu bata, mendirikan menara, membina kota (kingdom building/nation building), serta membeli dan menjual. Karya manusia itu diungkapkan pula oleh frasa nubuat yang berbunyi: "Marilah kita mencari nama." Urusan membeli atau menjual yang menggunakan fiat money sebagai wakil nilai sesuatu stok atau upah adalah urus niaga di luar urusan ibadah dalam nama Tuhan; dengan kata lain, uang bukanlah karya Roh Tuhan.
Uang adalah karya pemerintah bangsa-bangsa yang dipimpin oleh
"binatang bertanduk dua." Karya Tuhan atau nama Tuhan dijelaskan
dalam Wahyu 19:13, di mana nama-Nya ialah "Firman Allah." Oleh sebab
itu, Rasul Yohanes menulis dalam Injilnya: "Pada mulanya adalah Firman;
Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
(Yohanes 1:1). Firman Allah itu ialah ketujuh Roh Allah. Namun, firman yang
tertulis itu perlu disingkapkan oleh Pribadi Firman Allah (ketujuh Roh Allah)
itu sendiri: "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi
pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130).
Yesus tahu bahwa manusia yang tidak mengenal Allah semuanya mencari "nama" (karya) manusia sendiri. Oleh karena itu, Ia menasihatkan: "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:31-34).
Keutamaan bagi setiap warga Kerajaan Allah adalah nama Tuhan dan nama yang dikurniakan kepada Yesus Kristus. Semua karya manusia di bumi tercakup dalam frasa nubuat "mencari nama" bagi manusia itu sendiri. Nama Tuhan (Keluaran 34:5-7) dinyatakan kepada manusia sebab Roh Pencipta langit dan bumi bekerja siang dan malam tidak henti-henti dalam hal "menabur dan menuai" (Kejadian 8:22). Karya atau nama manusia mencakup pula karya politik seperti kekaisaran (yang juga digambarkan sebagai "binatang" dalam kata nubuat), Liga Bangsa-Bangsa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations), demokrasi, kapitalisme, komunisme, dan lain-lain.
Kegiatan
perdagangan sedunia juga telah memperlihatkan kemunculan pelbagai bentuk karya
(nama) manusia yang diciptakan oleh manusia, tetapi monetary (sistem keuangan)
adalah salah satu karya manusia yang paling menaklukkan seluruh umat manusia.
Sistem itu menghambakan umat manusia; sistem monetary tersebut juga disebut
"Mamon." Karya-karya ataupun nama-nama manusia itu sebenarnya berguna
untuk kehidupan daging di bumi. Namun, apabila sesuatu nama mulai
"mendirikan menara yang sampai ke langit," hal itu akan mendatangkan
penghakiman Tuhan atas umat manusia di bumi. Hanya nama Tuhan yang layak
disembah sebagai Tuhan! Pemazmur bernyanyi: "... cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya!" (Mazmur 19:2).
Nama atau karya manusia tidaklah layak ditinggikan sampai ke langit, sebab hal itu akan menista nama Tuhan! "Nama" manusia yang mempunyai "menara sampai ke langit" adalah suatu ungkapan yang merujuk kepada penghambaan oleh karya manusia daging, dan karya itu akhirnya meniadakan nama Tuhan! Pada akhirnya, nama manusia menghasilkan penghambaan yang menindas penghambaan kasih Tuhan. Tanpa nama Tuhan, nama manusia akhirnya akan menindas karya Tuhan. Maka, "mendirikan menara yang sampai ke langit" (Kejadian 11) juga berarti impian manusia untuk menjadikan nama manusia sebagai keutamaan hidup, sehingga menindas nama Tuhan. Nama Tuhan adalah Sumber Kehidupan yang sejati (Keluaran 34:5-7).
Sejak zaman purbakala, yaitu sejak zaman Menara Babel kuno, manusia yang terluka oleh dosa memperlihatkan kecenderungannya untuk "berkarya" ("mencari nama") di bumi tanpa menghiraukan nama Tuhan. Pusat kesadaran manusia berpaut secara dominan pada kemampuan akal budi dan kegiatan sistem saraf semata. Puncak dari "pencarian nama" bagi semua orang di dunia dinubuatkan oleh kisah dalam Kejadian 11. Permulaan ini juga menyingkapkan kesudahannya. Sejak berakhirnya Perang Dunia II (1945), umat manusia di bumi telah kembali bersatu dalam karya Peace and Safety serta bersatu dalam pelaksanaan karya monetary secara global. Dahulu pada zaman setelah air bah, umat manusia yang merupakan satu bangsa dan satu bahasa ("bahasa sejagat") pernah seia sekata dalam melaksanakan agenda manusia sejagat. Mereka berkata: "... marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi." (Kejadian 11:4). Yang dicari oleh manusia daging itu ialah karya atau nama! Dan nama itu menjadi the reason to live and the reason to die.
Uang di setiap negara dinubuatkan sebagai "nama"
(karya) pemerintah! Mata uang ringgit Malaysia, sebagai contoh, adalah karya
pemerintah (rulers) Malaysia. Oleh karena mata uang tertakluk kepada
perjanjian, hukum internasional, maupun hukum domestik, maka uang adalah
"nama" yang tertakluk kepada kuasa-kuasa besar pemerintah dunia,
sekaligus "nama" bagi setiap pemerintah di setiap negara yang
berdaulat. Uang Malaysia yang tertakluk kepada undang-undang negara, sebagai
contoh, juga dinubuatkan sebagai 'nama' pemerintah Malaysia. Uang ringgit adalah
karya pemerintah negara Malaysia. Demikian pulalah halnya bagi semua mata uang
yang digunakan oleh setiap negara di dunia. Uang adalah karya atau nama dari
pemerintah bangsa-bangsa. Tidak ada nama manusia yang jauh lebih berkuasa dan
dapat menaklukkan seluruh umat manusia di bumi—baik ia seorang raja maupun
seorang hamba—melainkan "Mamon" (monetary).
![]() |
| Duit ('monetary') adalah "nama" ('karya') pemerintah-pemerintah yang ada di bumi ; ia bukanlah 'nama' ('karya') Tuhan. |
Ketujuh Roh Allah telah
menyingkapkan salah satu rahasia akhir zaman perdamaian menurut nubuat Nabi
Yesaya dalam Yesaya 46:10, bahwa tanda-tanda akhir zaman perdamaian telah
diberitakan sejak zaman purbakala, sebagaimana yang disingkapkan oleh nubuat
dalam Kejadian 11. Mission ("nama") manusia yang dominan di
bumi telah disingkapkan oleh nubuat dalam pemberitaan Kejadian 11:4: ... kata
mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah ‘kota’ (yang bermaksud kingdom/empire
building) dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah
kita cari nama..." (Kejadian 11:4). Sebenarnya, kehidupan di dunia bukan
saja karya ("nama") manusia semata-mata, melainkan juga karya Tuhan
atas umat manusia. Namun, manusia telah berkata: "... marilah kita cari
nama;" frasa ini adalah nubuat Roh Tuhan yang mengungkapkan agenda manusia
sejagat yang akan diakhiri dengan karya manusia yang menghambakan umat manusia
itu sendiri. "Nama" manusia itu akan menindas, bahkan menista
"nama" Tuhan sebagai Sumber Kehidupan di bumi!
![]() |
| Exodus 34: 5-7. Note: In prophecy, "name" means divine missions or divine attributes... |
Dalam bahasa Roh Tuhan, uang (monetary) merupakan salah satu "nama" manusia, atau dalam bahasa manusiawi disebut sebagai "karya" (mission) manusia ataupun pemerintah. Oleh sebab itu, uang ringgit, sebagai contoh, adalah karya pemerintah negara Malaysia. Dalam bahasa roh, uang itu disebut "nama" pemerintah Malaysia. Dalam Kejadian 11:4, manusia yang bersatu menurut agenda politik Menara Babel telah berkata seia sekata: "Marilah kita cari nama." Frasa tersebut bersifat nubuat. Hal itu berarti bahwa manusia sejagat berkarya untuk "mencari nama" yang diikat oleh perjanjian atau kesepahaman di seluruh dunia, yakni yang disindir oleh Roh Tuhan dengan bahasa roh nubuat yang berbunyi: "... tanda pada tangan kanan mereka atau pada dahi mereka." (bdk. Wahyu 13:16).
Pada zaman sekarang, "nama" utama manusia
di bumi ialah peace and safety dan juga monetary. Tidak mengherankan bahwa
semua uang legal tender memuat gambar-gambar pemerintah, baik pemerintah dalam
sistem kerajaan maupun presiden, sesuai dengan bentuk pemerintahan politik di
sesebuah negara. Uang kertas dan uang logam memuat gambar atau ukiran citra
pemerintah negara masing-masing, baik raja maupun presiden, sebab uang
dinubuatkan sebagai "nama" pemerintah sesebuah bangsa atau negara. Ketika
uang menjadi "nama" pemerintah, maka melalui pelaksanaan
undang-undang, uang tersebut secara otomatis menjadi "nama" bagi kita
semua, atau singkatnya disebut "nama" manusia.
Roh Nubuat dari zaman purbakala, yaitu dalam Kejadian 11, berfirman: "Marilah kita cari nama." Ada dua "nama" atau "karya" para pemerintah yang dominan sejak zaman purbakala, yakni karya yang berkaitan dengan agenda utama kehidupan manusia di bumi: peace and safety dan juga monetary. Kedua-dua karya utama manusia tersebut pada akhirnya akan menghambakan umat manusia, sehingga pada waktu yang telah ditetapkan, Isi Sorga akan berfirman: "Baiklah Kita turun..." (Kejadian 11:7).
Apabila Sang Hakim turun ke bumi bersama-sama dengan para penuai (para malaikat), kita akan melihat api yang disingkapkan melalui penglihatan Roh, yaitu guruh, halilintar, dan gempa bumi! "Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya. Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi." (Wahyu 8:1-5).
Guruh, Halilintar, dan Gempa
Bumi sebagai Bahasa Roh
Guruh, halilintar, dan gempa bumi adalah bahasa Roh (abjad Roh), yaitu tanda-tanda yang menyingkapkan hadirat Sang Hakim untuk melaksanakan agenda penghakiman dan penghukuman atas penduduk bumi. Singkatnya, guruh, halilintar, dan gempa bumi adalah tanda-tanda hadirat Sang Hakim di bumi yang bermakna pelaksanaan penghukuman dengan api.
Rincian penghukuman oleh api menurut bahasa Roh adalah selaras dengan nubuat para nabi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; semua nubuat penghakiman dan penghukuman ditandai oleh api. Maka, frasa "keluarlah api dari mulut Tuhan" berarti penghukuman yang dinubuatkan oleh nabi-nabi Tuhan. Hal itu bukanlah api buatan manusia, melainkan firman Tuhan itulah yang dimaksudkan sebagai api.
Semua pemerintah di setiap negara telah seia sekata melalui perjanjian untuk memperjuangkan serta melaksanakan agenda utama manusia, yaitu "damai dan aman" (peace and safety) dan "sistem keuangan" (monetary). Tunjang utama agenda pembangunan bangsa (nation building) atau pembangunan kerajaan (kingdom building) didasarkan pada menara "damai dan aman" serta "sistem keuangan." Maka, kekuatan suatu negara bergantung pada keutuhan menara "damai dan aman" serta "sistem keuangan" tersebut. Padahal, damai dan keselamatan sejati bagi umat Tuhan adalah nama Tuhan; nama Tuhan adalah menara keselamatan yang kuat! "Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat." (Amsal 18:10).
Penulis tidaklah menolak karya-karya manusia, sebab karya-karya manusialah yang menjadi wujud kehidupan daging. Namun, tanpa nama Tuhan di dalam kehidupan, karya-karya manusia di bumi hanyalah sekadar mendirikan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit! Dan nama manusia melalui pendirian menara itu tidak menjanjikan berkat penebusan serta keselamatan sejati.
Kita telah melihat betapa bangsa-bangsa di dunia telah benar-benar bersatu sejak tahun 1945 di dalam "nama" manusia atau "karya" manusia yang disebut "damai dan aman" serta "sistem keuangan." Peace and Security memerlukan kuasa politik (tanduk politik) untuk melaksanakan operasinya, sedangkan monetary memerlukan perjanjian agar seolah-olah dianut oleh manusia sejagat: "tanda pada tangan kanan mereka atau pada dahi mereka."
Orang-orang percaya tidak dipanggil untuk menjadi penentang nama manusia sejagat, melainkan dipanggil untuk: "Carilah dahulu Kerajaan Allah..." Di mana keutamaan seseorang diletakkan, di situlah ia menjadi hamba. Ada dua penghambaan yang dapat kita pilih, yaitu penghambaan kepada nama Tuhan atau penghambaan kepada nama-nama manusia. Yesus menasihatkan para pengikut-Nya: "Carilah dahulu Kerajaan Allah..." Ini adalah nasihat rohani yang menyingkapkan keutamaan kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah: makhluk roh yang berselubungkan daging. Dalam nubuat Wahyu 13, pemerintah dituntut untuk menghitung dengan bijaksana, sebab perhitungan itu menentukan apakah nama (uang) membawa keuntungan atau kerugian.
Kita tidak membenci agenda monetary, tetapi nama manusia itu merupakan salah satu tanda yang menyingkapkan karya Tuhan selanjutnya di bumi. Pada saat nama sejagat yang dicari manusia adalah monetary, maka nama Tuhan, yaitu Sang Hakim, akan tiba-tiba turun ke bumi untuk menghakimi semua bangsa dengan penuh keadilan! Walaupun umat manusia bebas berkarya atau mencari nama, nama manusia akan menindas kebenaran bahwa Sang Pencipta adalah Pengarya Agung di sorga dan di bumi. Penghambaan kepada uang akan menindas penghambaan kepada kasih Tuhan. Karya uang seolah-olah membuat karya Tuhan menjadi bahan ejekan.
Pada jam terakhir Zaman Perdamaian, "milik Kaisar" adalah urusan sejagat yang disebut peace and safety dan monetary, sedangkan "milik Allah" adalah ibadah rohani, yaitu urusan menggenapi Doa Bapa Kami. Orang percaya yang gagal menyempurnakan Doa Bapa Kami tergolong seperti jemaat di Sardis: "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu." (Wahyu 3:1-4).
Tidak seorang pun di antara orang percaya yang sempurna ibadahnya di hadapan Roh Tuhan yang Mahasempurna. Namun, kita dapat membuat pengakuan yang jujur kepada Tuhan bahwa roh kita tidak tahir, dan tubuh daging kita hanya berasal dari debu. Oleh karena kita menambahi pelanggaran hidup setiap hari, selayaknya pengakuan kita berbunyi: "Tanpa-Mu, aku tidak dapat berbuat apa-apa."
Yesus berfirman: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). "Berbuat apa-apa" itu adalah urusan antara ranting dan pokok, yaitu urusan Firman Allah! Ketetapan setiap manusia rohani menyatakan: walaupun uang tidak dimungkiri penting pada jam terakhir zaman perdamaian (zaman gereja) ini, nama-nama Allah tetap menjadi Sumber Kehidupan yang paling sejati dan mutlak.
Roh Tuhan adalah Pengarya langit dan bumi, dan setiap orang percaya perlu memahami kembali makna bahasa Roh Tuhan melalui syair nubuat Tuhan kepada Nuh dalam Kejadian 8:22. Tuhan berkarya di bumi berdasarkan pesan Roh dalam syair nubuat itu:
"Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam." (Kejadian 8:22).
Apakah gerangan arti syair Roh Tuhan dalam Kejadian 8:22 yang disampaikan kepada Nuh setelah penghukuman air bah? Secara singkat, agenda perdamaian dengan umat manusia di bumi terkandung dalam pesan roh syair itu. Bahkan, rahasia kiamat api yang akan datang juga terkandung di dalamnya. Pada saat air bah, hanya Nuh dan tujuh orang lainnya serta pasangan binatang yang terpilih yang mewarisi bumi kembali.
Dalam era pascakiamat karya Raja Damai nanti, yaitu setelah selesainya cawan murka yang ketujuh, hanya orang yang lemah lembut yang akan mewarisi bumi: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Kedatangan Yesus yang kedua kali bukanlah kehancuran fisik bumi, melainkan pengakhiran Zaman Perdamaian.
Zaman Gereja sebagai penuai akan tamat. Penuaian akan diambil alih dan dilaksanakan oleh para malaikat dalam masa penghakiman. Agenda perdamaian yang disingkapkan oleh syair Tuhan dalam Kejadian 8:22 akan digenapi. Walaupun fisik bumi tidak hancur berderai, murka Sang Hakim sangat dahsyat dan tiada tolok bandingnya sejak zaman Menara Babel, yaitu sejak bermulanya zaman bangsa-bangsa!
Kiamat api hanya berlaku seperti yang tertulis dalam Wahyu 20:7-8: "Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut." (Wahyu 20:7-8).
Frasa "selama bumi masih ada" (the earth endures) dalam Kejadian 8:22 adalah bahasa Roh Tuhan yang menyatakan sifat Ilahi yang panjang sabar. Sifat-sifat Roh Tuhan adalah asal-usul dari semua karya atau nama Tuhan. Oleh sebab itu, nama Tuhan juga merujuk kepada sifat-sifat Ilahi. Yesus, yang telah menyempurnakan nama Anak Domba Allah, diutus oleh sifat Allah yang mahakasih, penyayang, dan setia mengampuni!
Maka, Rasul Yohanes menulis bahwa oleh karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (bdk. Yohanes 3:16). Yesus diutus karena sifat Allah, yaitu kasih. Semua sifat Tuhan adalah nama Tuhan sebab Tuhan berkarya di langit dan di bumi menurut sifat-sifat-Nya. Nama Tuhan yang tidak berubah (immutable) telah dijelaskan kepada Nabi Musa dalam Keluaran 34:6-7.
Mengapa ada nama Tuhan dalam Perjanjian (the covenanted names of God) yang dianugerahkan bersamaan dengan pengikatan perjanjian-perjanjian seperti YAHWEH dan Yesus? Ketika kita merujuk pada Kejadian 8:22, kita menemukan jawabannya. Nama-nama perjanjian Allah dikurniakan kepada manusia karena adanya penetapan perjanjian, dan perjanjian-perjanjian itu diadakan oleh Tuhan karena Roh Tuhan bekerja dalam hal "menabur dan menuai."
"Menabur dan menuai" adalah agenda utama dalam karya Roh Tuhan yang bekerja bersama-sama dengan umat-Nya atas semua bangsa, keturunan Adam yang terluka oleh dosa, selama syair itu masih terus bergaung: "siang dan malam tidak akan berhenti." Nama atau karya manusia jelas berbeda jika dibandingkan dengan nama Tuhan.
Karya manusia keturunan Adam telah disingkapkan oleh frasa-frasa firman dari Roh Nubuat seperti: "makan dan minum," "kawin dan mengawinkan," "membuat batu bata dan membakarnya baik-baik," "mendirikan kota dan menara," serta "membeli dan menjual"; seluruh frasa di atas mengungkapkan kehendak manusia yang terluka oleh dosa. Semua frasa tersebut terkandung dalam cita-cita manusia yang berkata: "marilah kita cari nama" (nama berarti karya). Roh Tuhan membiarkan semua karya manusia tersebut, namun semuanya akan tertakluk pada frasa "selama bumi masih ada."
Ketika sifat panjang sabar Tuhan sampai pada waktunya untuk tidak ditahan lagi (bumi tidak lagi menanggungnya), atau pada saat sifat panjang sabar itu dinyatakan berakhir, maka semarak hadirat kekudusan Sang Hakim yang menghanguskan beserta para penuai (malaikat) akan menghukum orang-orang berdosa di bumi. Kita akan mendengar kembali bahasa Roh tentang "langit" dan "bumi" dalam Kejadian 8:22 yang memberitakan berlalunya masa panjang sabar Tuhan, sebagaimana yang diungkapkan oleh nubuat nabi-nabi dalam Yesaya 26:20-21, Zakharia 14:6-7, dan Matius 24:29.
Petikan nubuat di atas adalah pengakhiran dari pesan perdamaian yang diberitakan oleh Kejadian 8:22. Bahasa Roh, "langit" dan "bumi," memberitakan karya keadilan Sang Hakim (Mazmur 50:3-4; Mazmur 19:2). "Siang dan malam tidak henti-henti" akan menjadi "tidak ada siang dan tidak ada malam." Zaman Perdamaian antara Tuhan dan manusia akan berakhir, sebagaimana tertulis bahwa bumi tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, yaitu keadaan tanpa siang dan tanpa malam:
"Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk; bersembunyilah barang sesaat lamanya, sampai amarah itu berlalu. Sebab sesungguhnya, TUHAN mau keluar dari tempat-Nya untuk menghukum penduduk bumi karena kesalahannya, dan bumi tidak lagi menyembunyikan darah yang tertumpah di atasnya, tidak lagi menutupi orang-orang yang mati terbunuh di sana." (Yesaya 26:20-21).
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6).
Permulaan zaman bangsa-bangsa yang dimulai melalui penghakiman dan penghukuman di Menara Babel telah dinubuatkan dalam Kejadian 11:6-8: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing. Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu." (Kejadian 11:6-8).
Pengakhiran zaman bangsa-bangsa yang telah bersatu seolah-olah menjadi satu melalui menara yang sampai ke langit—yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa—juga akan diakhiri dengan penghakiman dan penghukuman. Salah satu pemberitaan mengenai pengakhiran zaman bangsa-bangsa disingkapkan dalam Wahyu 11:15-19: "Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya."
Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan
Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata:
"Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada
dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah
mulai memerintah sebagai raja dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu
telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi
upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka
yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan
untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi." Maka terbukalah
Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam
Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es
lebat." (Wahyu 11:15-19).
Penjelasan Mengenai
Penerjemahan Kata "Zaman" (The Age)
Dalam Matius 24:3 ("Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan zaman?"), frasa the end of the age dalam beberapa terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi "kesudahan dunia," sehingga seolah-olah merujuk kepada kiamat fisik bumi. Namun, kata the age jika dipahami secara rohani bersama-sama dengan firman yang tersingkap dari Kejadian 8:22, Kejadian 11, Yesaya 46:10, serta nubuat para nabi lainnya, tepat diterjemahkan sebagai "Zaman." Maka, Matius 24 adalah nubuat Yesus mengenai penghakiman dan penghukuman atas Zaman Bangsa-Bangsa. Matius 24 merupakan nubuat tentang genapnya penyempurnaan penghakiman atas zaman bangsa-bangsa, dan bukan mengenai kiamat fisik bumi! Walaupun penghakiman bangsa-bangsa telah dimulai sejak Hari Pentakosta, penyempurnaannya baru akan digenapi apabila Kristus sebagai Sang Hakim kembali ke bumi.
Menurut pandangan penulis, Kiamat fisik bumi baru akan terjadi setelah masa seribu tahun, sebagaimana diwahyukan dalam Wahyu 20:1-11. Kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya yang dinubuatkan dalam Matius 24:29-30 bukanlah kiamat kehancuran fisik bumi, melainkan pelayanan-Nya sebagai Raja Damai yang seolah-olah selesai beroperasi; namun hal itu sekali-kali tidak terbatal, melainkan disempurnakan. Perdamaian itulah yang dikiamatkan supaya keadilan Tuhan dapat ditegakkan di bumi dan penebusan tuntas kepada semua pengikut Kristus dapat disempurnakan.
Referensi
Alkitab Terjemahan Baru. SABDA.org/ALKITAB, Yayasan Lembaga SABDA, www.sabda.org. Diakses 11 September 2017
The
Bible.
New International Version, Biblica,
2011. Bible Gateway, ://biblegateway.com. (Diakses pada 22 August 2017).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar