Luka pada tubuh roh: dosa-dosa Di
manakah 'catatan' dosa-dosa itu disimpan? Apakah 'catatan' dosa itu dan
bagaimanakah kuasa pengampunan Allah dapat menghapuskan dosa-dosa tersebut?
Apakah yang akan terjadi atas roh manusia apabila 'catatan dosa' itu
dihapuskan? Perbuatan-perbuatan yang megenapi Firman diumpamakan seperti
mikrobioma (bakteri baik) yang berguna bagi tubuh kita, sedangkan
perbuatan-perbuatan yang melanggar Firman Allah diumpamakan seperti bakteri
jahat bagi tubuh kita. Oleh karena itu, pelanggaran terhadap Firman Allah mengakibatkan
'luka-luka' pada tubuh roh kita, sehingga kita perlu percaya kepada Firman yang
berbunyi, "...oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh" (Yesaya 53:5c) demi
kesembuhan tubuh roh kita.
"Tetapi
kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan
Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi."
(Ayub 28:28)
"Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan
diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:21)
11 Dan
Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan
Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan
kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. 12 Selama Aku bersama
mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu,
yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan
kepada-Ku; (Yohanes 17:11-12a)
Tuhan itu Kasih
5
Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama
TUHAN. 6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar,
berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, 7 yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada
beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi
tidak sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan
yang ketiga dan keempat." (Keluaran 34:5-7)
Perbuatan-perbuatan kita tertulis dalam
roh kita masing-masing, baik perbuatan itu berupa penyempurnaan ibadah
"Bapa Kami" maupun perbuatan-perbuatan dosa. Dosa-dosa tidak hanya
diingat dan tersimpan dalam sel-sel memori otak, melainkan juga dicatat (atau
direkam) secara luar biasa dan kompleks di dalam roh kita sendiri. Dosa-dosa
atau rekaman kejahatan manusia hanya dapat dihapuskan oleh kuasa
"Nama" [karya] Roh Bapa, yaitu "nama" [karya] yang
diberikan kepada Roh Anak Allah Yang Mahatinggi. Kesempurnaan hikmat Allah yang
dianugerahkan kepada manusia melibatkan kenyataan yang tidak berwujud
(intangible realities—"nama" atau "karya" Bapa) dan
kenyataan yang berwujud (tangible realities—"nama" [atau
"karya"] Anak Allah Yang Mahatinggi di bumi).
Pewahyuan Kebenaran "nama" [atau "karya"] Allah Bapa
di sorga kepada umat manusia mencakup karya Allah di bumi melalui
"nama" pribadi Anak Manusia. Hal ini menggenapi frasa "jadilah
kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Penglihatan rohani seperti yang
dilihat oleh Nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya pasal 6 menjelaskan maksud kehendak
Roh Allah atas roh Yesaya. Mezbah di sorga adalah penyataan kehendak ilahi,
yaitu kehendak Kasih dan kehendak Belas Kasihan (mercy). "Nama" Bapa
di sorga tidak dapat dilihat oleh pancaindra mata jasmani manusia.
"Nama" Bapa atau "karya" Bapa hanya dapat dilihat oleh
nabi-nabi, karena mereka telah dianugerahi karunia-karunia sehingga dapat
memasuki hadirat Roh Allah, mendengar suara Firman, melihat penglihatan-penglihatan
(visions), serta menerima mimpi-mimpi (dreams).
Pemberitaan perihal "nama" atau "karya" Allah dalam
Kitab Keluaran 34:5–7 adalah suara Firman Allah yang didengar oleh Nabi Musa!
Oleh sebab itu, Nabi Musa mengenal "nama" Allah Bapa. Mengapa Allah
memilih "ritus mezbah" sebagai cara untuk mengungkapkan
kehendak-kehendak nama-Nya? Habel dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 4 sebagai
manusia pertama, keturunan Adam, yang telah menuruti Firman, yaitu melaksanakan
ritual firman mezbah. "Nama" TUHAN dalam Keluaran 34:5–7 berbunyi:
"TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah
kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu
orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah
sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan
kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga
dan keempat."
Kita tahu bahwa "nama" TUHAN adalah seperti yang diberitakan
oleh Roh TUHAN sendiri kepada Nabi Musa dalam catatan Kitab Suci Keluaran
34:5–7. "Nama" TUHAN itu juga menjelaskan sifat-sifat ilahi yang
tidak berubah (immutable). Semua kehendak Allah terbit dan mengalir dari
sifat-sifat-Nya! Kehendak Allah untuk mengasihi orang-orang berdosa terbit dari
sifat-Nya yang mengasihi ("God is love"). Allah itu Mahapengasih,
Mahapenyayang, dan setia mengampuni dosa-dosa kita. Kehendak Allah yang
mengampuni terbit dan mengalir dari sifat-sifat-Nya yang penuh belas kasihan,
murah hati, dan setia. Rasul Paulus melihat hal ini melalui anugerah
"roh" pengertian, dan ia diilhami oleh sifat-sifat Allah, lalu
menyampaikan makna "kasih" kepada jemaat di Korintus: "Kasih itu
sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu... ia tidak menyimpan kesalahan
orang lain... Ia menutupi segala sesuatu... sabar menanggung segala
sesuatu" (1 Korintus 13:4–8, TB). Rasul Yohanes pun menulis tentang kasih:
"Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah
yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian
bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:10). "Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).
Definisi "kasih" ini diilhami oleh "nama" TUHAN yang
tersingkap dari catatan Kitab Keluaran 34:5–7. Rasul Yohanes menyatakan bahwa
"Kebenaran" disaksikan oleh darah, air, dan roh. Dalam ritus mezbah
Kemah Suci (Tabernakel), darah adalah elemen ritus untuk upacara pentahiran
dosa melalui percikan darah korban penghapus dosa. Air juga merupakan elemen
dalam ritus mezbah untuk tujuan penyucian, sebagaimana percikan darah—yang
harus dilaksanakan menurut firman ritus—dipercikkan pada tutup pendamaian dan
pada tanduk-tanduk mezbah pada Hari Raya Pendamaian (national redemption).
Dalam hal pentahiran roh Yesaya, kita membaca bahwa malaikat Serafim diutus
oleh kehendak kasih untuk melaksanakan kehendak kasih, belas kasihan, dan
pengampunan atas Yesaya. Oleh karena itu, mezbah mengungkapkan "nama"
TUHAN dan sifat-sifat-Nya. Kita dapat memahami sifat-sifat TUHAN yang
mengampuni karena jalan penebusan yang dilaksanakan melalui ritus mezbah adalah
jalan untuk menyelesaikan masalah dosa. "Menebus" berarti mengampuni
atau menghapuskan rekaman/catatan dosa. Jadi, "mezbah" pada
hakikatnya mengungkapkan nama dan sifat-sifat Roh Allah!
Yesus Kristus adalah Kasih Bapa yang kelihatan di bumi
Mezbah Melkisedek di bumi, yaitu kematian Domba Allah, adalah hal yang
kelihatan di bumi! Ia adalah "nama" yang diberikan kepada Anak Allah
Yang Mahatinggi. Nama Bapa, seperti yang diberitakan oleh Roh YHWH dalam
Keluaran 34:5–7, tidak kelihatan. Namun, "nama" yang diberikan kepada
Anak Manusia kelihatan, dan nama Kristus sebagai "Domba Allah" telah
disempurnakan di bumi ("It is finished"). "Barangsiapa telah
melihat Aku, ia telah melihat Bapa," kata Yesus. Allah Bapa sungguh ada
dan nama-Nya benar, tetapi apakah jaminan bahwa Roh Bapa akan berkarya atas
semua bangsa? Jawabannya ialah Mezbah Melkisedek di bumi harus dilaksanakan
terlebih dahulu. Barulah berkat keselamatan Allah dapat mengalir di bumi.
Upacara Melkisedek telah sempurna di bumi melalui kematian Domba Allah.
Penyempurnaan mezbah di bumi itu dijelaskan dalam ucapan Yesus yang singkat:
"Sudah selesai." Maka, terjaminlah Nama Bapa dan nama Anak untuk
menggenapi nubuat "Immanuel" dalam urusan menabur dan menuai di
sepanjang zaman Pendamaian bagi segala bangsa di dunia! Upacara Mezbah
Melkisedek yang dilaksanakan hanya satu kali saja tanpa cacat cela telah
menjamin bahwa Roh Allah akan menganugerahkan keselamatan kepada umat manusia
di bumi. Oleh sebab itu, Yesus adalah Penjamin, Pengantara, Juruselamat, dan
Penebus! Hadirat Roh Allah yang mengalir melalui curahan Pentakosta secara
berkesinambungan adalah berkat yang terjamin, hasil dari Upacara Mezbah
Melkisedek di bumi yang disempurnakan oleh Kristus saat Ia mengembuskan napas
terakhir-Nya: "Sudah selesai!"
Mezbah di sorga adalah pernyataan kehendak Nama Bapa, sedangkan mezbah
di bumi adalah penyempurnaan "nama" yang diberikan kepada Kristus,
yaitu Domba Allah yang menghapuskan dosa manusia! "Barangsiapa telah
melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Ibadah roh atau roh doa tidak lepas
dari empat elemen utama, yaitu "jalan roh," "pintu roh,"
"kunci roh," dan "pakaian kebenaran" (the garment of
righteousness). Mengapa bapa-bapa leluhur (patriarchs) dan nabi-nabi Allah
percaya kepada doa ritus mezbah sebagai "jalan roh" yang menuruti
Firman Allah (Roh Allah)? Karena mereka semua adalah penerima kasih karunia
Bapa di sorga. Kelak, Yesus berkata: "Akulah jalan..." Domba Allah
yang mati di atas kayu salib adalah upacara ritus yang dilaksanakan menurut
Imam Menurut Melkisedek. Dari zaman Habel hingga salib Kristus, mezbah itu
berbicara dan menyingkapkan rahasia sifat ilahi, yaitu kasih dan belas kasihan
Allah Bapa di sorga. Memahami ajaran rohani tentang mezbah berarti kita
mengenal "nama" Bapa di sorga. Nabi Yesaya telah bersaksi bahwa ia
melihat asal usul mezbah tersebut.
"Nama" Bapa antara lain diungkapkan kepada Nabi Musa sebagai
"berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" seperti pemberitaan TUHAN dalam
Kitab Keluaran 34:5–7. "Nama" Allah memang tidak dapat kita lihat,
namun nabi-nabi bersaksi bahwa mereka telah melihat "nama" Allah
Bapa. Mezbah adalah hal yang kelihatan dan dapat ditangkap oleh akal budi
(intelek). Maka, "jalan" ibadah roh yang dapat dilihat oleh mata
jasmani manusia adalah upacara "Mezbah di bumi." Mezbah yang dilihat
Nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya pasal 6 adalah penglihatan akan Mezbah Surgawi.
Apakah arti dan maksud diperlihatkannya Mezbah Sorga kepada Yesaya?
Yesaya melihat mezbah surgawi berarti ia telah melihat nama Bapa dan melihat
nama yang diberikan kepada Sang Mesias. Mezbah itu berbicara tentang
sifat-sifat Roh Allah. Dari sifat-sifat ilahi itulah mengalir karya Allah, atau
singkatnya disebut "nama" Allah. Sifat-sifat Roh Allah tidak dapat
dipisahkan dari "nama" Allah. Sifat dan nama Allah menyatu sebagai
satu Roh! "Nama" Allah mengalir dari sifat-sifat-Nya. Karya
tangan-Nya mengalir dari sifat-sifat kekal-Nya (His handiworks flow from His
eternal attributes). Semuanya terpadu secara kekal dan tidak dapat dipisahkan.
Sebelum Yesaya menerima kasih karunia, yaitu ketika ia melihat kemuliaan
Bapa, Yesaya berkata: "Celakalah aku!" yang berarti "matilah aku
kali ini." Tidak ada seorang pun yang dapat tetap hidup setelah melihat
kemuliaan Hakim di sorga! Namun, Allah menganugerahkan kehendak kasih dan belas
kasihan kepada Yesaya dengan memperlihatkan penglihatan mezbah di sorga. Kasih
dan belas kasihan adalah kehendak nama Bapa di sorga. Penglihatan mezbah yang
diterima oleh Yesaya berarti Yesaya telah melihat kehendak kasih dan belas
kasihan. Jadi, mezbah adalah kehendak Nama Allah. Catatan Kitab Suci
menyebutkan bahwa Habel mendirikan mezbah, demikian pula para bapa leluhur
lainnya dan seluruh nabi.
Sebelum Yesaya menerima kasih karunia, ia berkata:
"Celakalah aku," yang dapat diartikan: "matilah aku kali
ini." Namun, Allah telah menganugerahkan kehendak kasih dan belas kasihan
kepada Yesaya dengan memperlihatkan penglihatan mezbah di sorga. Kasih dan
belas kasihan adalah nama Bapa di sorga. Maka, melihat penglihatan Mezbah
Surgawi berarti melihat kehendak kasih dan belas kasihan Allah. Penglihatan
mezbah yang diterima oleh Yesaya adalah penglihatan akan kehendak kasih dan
belas kasihan Bapa di sorga! Yesaya telah melihat kasih karunia! Malaikat
Serafim turun kepada roh Yesaya untuk melaksanakan kehendak kasih dan belas
kasihan (nama Bapa). Malaikat Serafim sebagai utusan kehendak belas kasihan dan
kasih Bapa sorgawi turun membawa kuasa mezbah, yaitu menghapuskan dosa-dosa
Yesaya. Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi adalah anugerah kasih dan
belas kasihan Bapa, atau singkatnya disebut kasih karunia!
Nama Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan, menganugerahkan pengampunan
dosa (pengampunan juga diartikan sebagai penyembuhan luka-luka akibat dosa atau
penebusan dosa). Dosa-dosa ditebus berarti roh kita dihidupkan (disembuhkan
dari luka-luka) karena korban penebus (sin offering) yang dikurbankan sebagai
ganti penderitaan upah dosa, yaitu maut; ini adalah urusan di alam roh. Untuk
menghapuskan kutuk Allah (akibat pelanggaran Hukum Taurat) dan maut, harus ada
perintah-perintah di alam roh yang hanya dapat dilaksanakan oleh upacara darah
suci YESUS menurut Imam Menurut Melkisedek. Imam Harun dan keturunannya dalam
Perjanjian Lama melaksanakan ritus DARAH Korban Penghapus Dosa dan juga korban
"kambing jantan bagi Azazel" pada Hari Raya Pendamaian (Day of
Atonement, khusus untuk penebusan nasional bagi bangsa Israel yang dahulu
merupakan negara teokrasi; lih. Imamat 16).
Pengorbanan Yesus turut menggenapi seluruh Hukum Taurat, termasuk
penebusan nasional ini, meskipun kelak ternyata bangsa Yahudi menolak-Nya
sebagai JALAN Penebusan. Ia sebenarnya telah menebus seluruh umat manusia
sebagai korban penghapus dosa (Paskah Allah) bagi semua orang di bumi tanpa
memandang identitas bangsanya. Namun, ritus "kambing Azazel" secara
khusus diperuntukkan bagi penebusan bangsa Israel. Bangsa-bangsa lain tidak
memerlukan penebusan nasional karena tidak pernah diikat dalam perjanjian teokrasi
oleh TUHAN (YHVH). Bagi bani Israel yang pernah menjadi negara teokrasi di
tanah perjanjian, penebusan nasional tersebut telah digenapi oleh kematian
Yesus sebagai "kambing pelepasan" di kayu salib.
Mezbah yang dilihat Yesaya mengandung arti bahwa ia akan ditebus oleh
anugerah nama Bapa surgawi! Oleh karena itu, Domba Allah dalam upacara ritus
mezbah Melkisedek di bumi berarti orang-orang yang namanya tertulis dalam Kitab
Kehidupan akan ditebus oleh anugerah kasih karunia Allah. "Nama"
Allah, yaitu kasih dan belas kasihan Allah, menganugerahkan penghapusan dosa.
Hal itu singkatnya disebut "ditebus" atau "ditanggung" oleh
nama Allah! Sebab itulah Yesus dikatakan "menanggung dosa-dosa
manusia," karena Yesus yang diutus sebagai Domba Allah—korban mezbah di
bumi—telah menyempurnakan nama Bapa, yaitu Kasih dan Belas Kasihan. Raja Daud
sangat dekat dengan Roh Allah. Daud dikaruniai roh pengertian dan roh hikmat
untuk melihat sifat-sifat Roh Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan.
Kehendak nama Allahlah yang menganugerahkan penghapusan dosa-dosa
manusia. Daud bernyanyi: "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia memikul
beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela" (Mazmur 68:20). Yesus
telah berhasil tanpa cacat cela (flawless) menyempurnakan Mezbah di bumi
seperti di sorga. "Ditebus" berarti "oleh bilur-bilur-Nya kamu
telah sembuh." Jadi, "ditebus" berarti dihidupkan atau
disembuhkan dari luka-luka roh. Pada upacara mezbah Kemah Suci Perjanjian di
Tanah Suci, kambing Azazel dan domba Korban Penghapus Dosa
disembelih/dikurbankan, sedangkan Israel disembuhkan dan dibenarkan (rekaman
dosa-dosa dihapuskan). Upacara Mezbah Melkisedek di bumi, yaitu kematian Domba
Allah, Yesus Kristus, telah "Sudah Selesai" menebus kita semua. Rasul
Yohanes bersaksi bahwa Yesus telah ditolak oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi.
Namun, bagi siapa saja yang dianugerahi percaya kepada nama Bapa dan nama yang
diberikan kepada Anak, Yohanes bersaksi: "Ia telah datang kepada milik
kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi
semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,
yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yohanes 1:11–12).
Berseru kepada nama Kristus sama artinya dengan percaya kepada nama Bapa
di sorga. Nama Bapa ialah Kasih dan Belas Kasihan! Ketika nama Bapa
menganugerahkan aliran Kasih dan Belas Kasihan kepada semua bangsa di dunia,
kita melihat Mezbah di bumi disempurnakan oleh nama yang diberikan kepada Anak
Allah Yang Mahatinggi, yaitu Paskah Yesus—Domba Allah yang menghapuskan dosa
dunia. Kita melihat Yesus sebagai Pelaksana Mezbah Melkisedek di bumi; kita
melihat Penebus dan Juruselamat umat manusia.
Nama Kasih dan Belas Kasihan Allah menganugerahkan pengampunan dosa,
penghapusan dosa (taking away of guilt), dan penebusan dosa. Dosa-dosa ditebus
berarti roh kita hidup (sembuh dari luka-luka). Kematian Yesus di atas kayu
salib adalah penebusan mezbah di bumi yang dianugerahkan oleh Allah Bapa.
Manusia yang berdosa (wounded man) tidak mungkin berkenan kepada Roh
Allah Yang Mahakudus, kecuali ia dianugerahi dan diselubungi oleh kasih
karunia. Kasih karunialah yang menjadikan seorang pembuat dosa (sinner) menjadi
orang yang percaya kepada Firman Allah. "Percaya" kepada Firman Allah
berarti menuruti Firman Allah. Nama Kristus "adalah Firman Allah"
(Wahyu 19:13b). Karya Kristus 100% adalah Firman Allah karena Roh-Nya berasal
dari Bapa. Oleh karena itu, Yesus juga merupakan Karya Bapa. Sifat Bapa adalah
Kasih; maka Yesus Kristus adalah karya Kasih! Manusia yang rohnya cemar
(impure) atau berdosa tidak akan tahan berdiri di hadirat Roh Allah Yang
Mahakudus (pure). Doa yang berkenan kepada Allah hanyalah doa orang benar.
Namun, siapakah orang benar di bumi ini? Tidak ada seorang pun yang benar di
muka bumi ini! Tidak ada manusia yang benar (righteous), murni (pure), tanpa
cacat (flawless), dan tanpa dosa (sinless). Hanya Allah saja yang nama-Nya
Kudus, Setia, dan Benar! Kita semua telah jatuh di bawah kekuasaan dosa dan
cenderung berbuat dosa; Allah sendiri pernah berfirman kepada Bapa Nuh bahwa
"yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya" (Kejadian
8:21). Tidak ada manusia yang mengasihi Allah dengan segenap hati, dan tidak
ada manusia yang mengasihi sesamanya seperti mengasihi dirinya sendiri.
Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia singkatnya berarti
menggenapi Induk Sepuluh Hukum (The Ten Commandments, Keluaran 20:1–17). Ayat 1
hingga 11 berisi rincian hukum perihal mengasihi Allah, sedangkan ayat 12
hingga 17 berisi rincian hukum perihal mengasihi sesama manusia. Pada induk
hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi serta seluruh
orang percaya. Akan tetapi, semua orang sebenarnya lemah dalam menuruti Firman
yang tertulis dalam Kitab Suci Keluaran 20:1–17. Semua orang melanggarnya
setiap hari, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Selalu saja ada bagian
dari kesepuluh hukum Allah yang kita langgar setiap hari. Bahkan dalam hal
menyebut nama Allah saja, terlihat betapa lemah dan tidak sempurnanya kita
dalam menuruti hukum! Semua manusia dapat bersalah (fallible) dan lemah untuk
menuruti Firman Allah. Benarlah perkataan Yesus: "...daging lemah."
Daging memang lemah dalam menuruti Firman Allah. Ucapan kita tidak
sempurna karena ketika berseru kepada nama-Nya, hati kita diwarnai keraguan,
prasangka, bahkan penyakit berkecil hati, mengkritik, dan bersungut-sungut
kepada Allah. Perjalanan iman mengajar kita untuk sembuh dari semua penyakit
tersebut dalam hal menyebut nama Allah. Dalam menyebut nama Allah saja, kita
sudah menemukan kegagalan. Namun, ketika kita mulai menjadi "ranting yang
benar pada pohon anggur yang benar," kita akan mulai melihat kemenangan.
Bahkan biarpun dosamu mengalir seperti sungai, tujuh kali lipatlah belas
kasihan Allah akan mengalir ke atas rohmu. Roh Allah berpesan kepada jemaat di
Filadelfia melalui penyampaian malaikat: "Aku tahu... bahwa kekuatanmu
tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal
nama-Ku" (Wahyu 3:8). Tidak menyangkal nama Allah berarti percaya kepada
nama Allah dengan sempurna, tanpa "penyakit" keraguan. Yesus berkata:
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa-mu yang di sorga
adalah sempurna" (Matius 5:48). Allah itu sempurna, maka selayaknya
kepercayaan kita kepada nama-Nya pun harus sempurna, tanpa ada unsur
bersungut-sungut!
Percaya yang sempurna berarti tidak menyangkal nama Allah. Ragu-ragu
berarti kita tidak percaya sepenuhnya kepada nama-Nya, keberadaan-Nya, dan
kesempurnaan-Nya. Dalam Keluaran 34:5–7, kita mendengar catatan Nabi Musa
perihal Proklamasi (proclamation) nama [karya atau sifat-sifat] TUHAN. Nama
TUHAN itu panjang sabar (slow to anger), adil (righteous), tanpa cela
(flawless), mahakuasa (full of power), berlimpah kasih (abounding in love),
kaya akan belas kasihan (rich in mercy), meneguhkan kasih setia kepada
beribu-ribu orang (maintaining love to thousands), dan api yang menghanguskan
(consuming fire / Holy). Nama Allah juga menjelaskan sifat-sifat-Nya yang tidak
sekali-kali membebaskan orang yang tidak tahu "Jalan" (Way), termasuk
orang yang tidak memiliki pengertian tentang bagaimana menghapuskan (take away
/ delete) rekaman dosa-dosa pada rohnya sendiri (orang
berdosa/bersalah—guilty).
Dosa-dosa direkam oleh roh kita secara tersimpan otomatis (autosaved).
Karena manusia adalah debu dan pusat kesadarannya terletak pada otak, maka
segala perbuatan dosa juga disimpan dalam sel-sel memori otak. Akibat-akibat
dosa pun tersimpan dan muncul mengekspresikan diri pada tubuh jasmani sebagai
trauma atau penyakit. Pengampunan dosa bukanlah soal memadamkan memori pada
sel-sel otak. Allah tidak akan menghapus memori dosa. Kita akan tetap hidup
dengan semua memori dosa tersebut. Berlalunya waktu akan melembutkan kenangan
(time heals the heart). Pengampunan dosa oleh nama Allah adalah perihal
menghapus informasi dosa, yaitu rekaman dosa-dosa dalam roh manusia!
Terhapusnya informasi (rekaman) dosa-dosa dalam roh seseorang berarti ia telah
menjadi "orang benar" pada saat ia menerima pengampunan. Allah-lah
yang membenarkan manusia berdosa menurut Firman-Nya. Ketika Allah memandang roh
seseorang yang diampuni dosanya, Allah dapat berkata: "Orang ini benar dan
suci!" Namun hakikatnya, roh kita akan merekam lagi dosa-dosa yang baru.
Kita memang senantiasa menambah luka-luka hidup setiap hari, tetapi Allahlah
yang setia memikul beban kita; Dialah Juruselamat dan Penebus kita!
"...oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh."
Setiap kali kita berdosa, dosa itu direkam secara tersimpan otomatis
dalam roh kita. Allah mampu melupakan dan tidak mengungkit-ungkit dosa yang
sudah diampuni karena seluruh informasi dosa pada roh seseorang terhapus jika
ia menerima pengampunan Allah! Ada tertulis: "Sejauh timur dari barat,
demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita" (Mazmur 103:12).
Dahulu saya bingung karena belum memiliki hikmat dan pengetahuan tentang
bagaimana Allah mampu melupakan dosa-dosa saya. Ternyata, Allah menghapus
(delete) catatan dosa tersebut pada roh manusia, yang disebut
"diampuni." Maka, tidak ada lagi catatan dosa yang dapat dilihat oleh
mata Allah! Demikianlah cara Allah melupakan dan tidak mengungkit-ungkit
pelanggaran yang telah selesai diampuni.
Manusia berkomunikasi dengan sesama manusia dan memahami alam sekeliling
menggunakan otak. Roh Allah berkomunikasi dengan roh manusia—Roh dengan roh:
Daud menulisnya sebagai "samudera raya memanggil kepada samudera
raya" (deep calls to deep, Mazmur 42:8). Nabi Yoel bernubuat bahwa pada
akhir zaman manusia akan menerima komunikasi dari Roh Allah melalui mimpi-mimpi
(dreams), penglihatan-penglihatan (visions), dan suara (voice, Yoel 2:28).
Hukum-hukum Allah (Induk dari semua hukum Allah) dicatat dalam roh kita secara
rekaman roh. Biarpun catatan "dosa" itu bersifat "hidup,"
ia hidup sebagai "sengat" dalam roh kita, dan sengat itu membawa
maut: sengat dosa ialah maut.
Rekaman dosa membawa maut. Maut itu bermula dari rekaman-rekaman dosa
dalam roh kita masing-masing! Oleh karena itu, dosa pada roh manusia adalah
rekaman yang hidup dan bersifat rohani. Rekaman Firman Allah seperti Sepuluh
Hukum (The Ten Commandments) adalah rekaman hidup dalam roh kita masing-masing,
yang menghidupkan jiwa apabila dituruti. Rekaman yang berbentuk tinta, gambar,
video, berkas media, atau tulisan tinta adalah rekaman yang mati. Rekaman
rohani bersifat hidup dan roh. Teknologi buatan manusia mampu membuat rekaman
yang kelihatan seolah-olah hidup melalui kemajuan teknologi informasi. Namun,
roh manusia ciptaan tangan Allah mampu merekam dosa atau merekam firman-firman
dengan lebih sempurna; ia merekam seluruh perbuatan dosa sebagai catatan roh,
dan catatan roh (dosa) itu bersifat sengat yang hidup!
Dosa adalah catatan rohani yang bersifat roh, tetapi memiliki sengat,
dan sengat itu mengakibatkan maut. Rasul Paulus bersaksi: "Sengat maut
ialah dosa" (1 Korintus 15:56). Jika seseorang menjalankan ibadah roh,
yaitu "Bapa Kami" (Matius 6:9–13), maka catatan rohani pada roh orang
yang melaksanakan pesan Bapa Kami tersebut adalah catatan perbuatan, apakah ia
menuruti kehendak Allah yang sempurna atau sebaliknya. Jika catatan itu berupa
rekaman dosa, hal itu menjadi kecemaran (impurities) pada roh seseorang yang
mengakibatkan maut. Maut berarti terpisah dari Roh Allah dan tubuh tertakluk
kepada kuasa kematian. Semua orang tertakluk kepada kuasa kematian karena benih
tubuh berasal dari Adam yang telah jatuh, dan juga karena semua orang telah
berdosa! Maka, dosa merusak benih roh dan merusak benih tubuh pada keturunan
Adam.
Adam yang kedua, yaitu Kristus, telah menjadi Jalan, Pintu, dan Kunci
bagi umat manusia, supaya barangsiapa yang percaya akan menerima kekayaan
keselamatan dan hikmat. Yesus adalah berkat Allah bagi umat manusia:
"Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan
menambahinya" (Amsal 10:22). Namun, Roh Allah tidak bergaul karib dengan
manusia yang tidak percaya kepada "Jalan" untuk menyelesaikan
dosa-dosa. "Jalan" itu ialah menuruti Firman Allah. Firman Allah itu
ialah Kristus, karena "nama-Nya ialah Firman Allah" (Wahyu 19:13b).
Roh Kristus adalah Alfa dan Omega! Jadi, nama yang diberikan Bapa kepada Yesus
ialah: "Lihatlah Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes
1:29). Percaya kepada Yesus berarti melihat nama Bapa dan melihat nama yang
diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi. Yesus berkata: "Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." "Melihat" di sini
berarti mata roh yang melihat! Oleh sebab itu, di dalam nama-nama Perjanjian Allah
dalam Perjanjian Baru, yaitu Kristus, kita telah melihat keselamatan.
Yesus menyelesaikan dosa-dosa manusia supaya nama Allah Bapa dalam hal
"menabur dan menuai" dapat dianugerahkan kepada semua bangsa di
dunia. Darah Yesus yang tertumpah sangat luar biasa keajaibannya karena tidak
tertumpah menurut kehendak manusia! Darah itu tidak tertumpah secara
sembarangan, melainkan tertumpah dengan sepenuhnya menuruti Firman (Lukas
24:44). Namun, manusia tidak dapat memahami penebusan itu karena darah itu
tertumpah dalam upacara yang dilaksanakan oleh tangan Allah, yaitu menurut Imam
Menurut Melkisedek. Manusia dengan kapasitas akal budinya hanya melihat bahwa
Ia mati oleh keputusan mahkamah agama; mereka (kita) tidak melihat upacara
Mezbah Melkisedek di bumi.
Darah Domba yang tertumpah melalui ritus Kemah Suci dalam Perjanjian
Lama dapat dilihat oleh mata jasmani sebagai ritus penebusan karena
dilaksanakan oleh urutan Imam Harun (manusia). Jika seseorang dapat melihat
kematian Yesus di kayu salib sebagai upacara Melkisedek, hal itu adalah
anugerah Allah. Semua ritus mezbah perihal penyelesaian dosa dalam Perjanjian
Lama sebenarnya telah disempurnakan dalam kematian Yesus. Mezbah di bumi
menjadi sangat berkuasa dalam menghapuskan dosa-dosa hanya dengan berseru
kepada nama Yesus, karena upacara penumpahan darah Domba Allah "Sudah
Selesai." Mezbah Perjanjian Lama mengikuti ritus ordo para patriark dan
Imam Harun, namun Mezbah Perjanjian Baru mengikuti ritus menurut Imam Agung
Surgawi, Melkisedek. Penyelesaian dosa-dosa umat manusia menurut ritus Mezbah
Melkisedek adalah salah satu maksud yang terkandung dalam ungkapan Lukas 24:44.
Roh Pentakosta adalah berkat yang menyusul dari hasil Mezbah Yesus yang
"Sudah Selesai" dilaksanakan di bumi. Pengakuan dosa kepada Yesus
adalah bukti dari pihak manusia untuk mengaminkan kuasa Darah Domba yang
dicurahkan satu kali untuk selama-lamanya. Maka, dosa-dosa diselesaikan dengan
berseru kepada nama Yesus: Penebus dan Juruselamat. Mezbah Yesus atau Kayu
Salib bagi Domba Allah adalah jaminan penghapusan rekaman dosa-dosa pada roh
orang-orang percaya! Mengapa hal itu menjadi jaminan pengampunan dosa? Karena
Upacara Mezbah di bumi melalui kematian Yesus sebagai Domba Allah telah
"Sudah Selesai" dilaksanakan menurut Imam Agung Melkisedek,
sepenuhnya menuruti Firman tanpa cacat cela (flawless, righteous, and holy
Melchizedek Rite of Expiation on earth through the death of Christ on the Cross
fulfilling all the Words spoken by the mouth of God in the Old Covenant days;
see Luke 24:44; Isaiah 53).
Penyaliban sebenarnya adalah hukuman mati (capital punishment) bagi
penjahat-penjahat di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Namun, Kayu Salib Yesus
adalah upacara Mezbah Melkisedek di bumi yang tidak dapat dilihat dan dipahami
oleh akal budi manusia semata. Bagi mereka yang dikaruniai "mata
rohani" untuk melihat Karya (nama) Bapa, mereka akan berkata:
"Kematian Yesus di kayu salib adalah penggenapan 'jadilah kehendak-Mu di
bumi seperti di sorga" (rujuk Lukas 24:44; Matius 6:9–13). Maka, melihat
Salib Yesus bagi orang-orang percaya adalah melihat nama Bapa di sorga dan
percaya (melihat) kepada nama yang diberikan kepada Anak Allah Yang Mahatinggi.
Tidak heran Rasul Petrus berkata: "Dan barangsiapa yang berseru kepada
nama Tuhan akan diselamatkan" (Kisah Para Rasul 2:21). Simbol salib
seperti yang dipakai sebagai kalung di leher hanyalah pengingat akan nama Bapa
dan nama yang diberikan kepada Anak. Karya manusia pada umumnya hanyalah
makan-minum, membuat batu bata, mendirikan menara, membangun kota, kawin dan
mengawinkan, membeli atau menjual, serta memperjuangkan perdamaian dan keamanan
(peace and security) untuk tujuan pembangunan bangsa (nation building) atau
kerajaan (kingdom building) di bumi.
Jika orang percaya melakukan (fulfilling) ibadah roh (the doer of the
Word), yaitu ibadah "Bapa Kami," hal itu akan dicatat pada roh kita
juga. Melakukan atau menuruti Sepuluh Hukum (The Ten Commandments) terkandung
dalam maksud doa "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."
Sepuluh Hukum adalah kehendak Bapa di sorga! Oleh karena itu, doa Bapa Kami
bukan sekadar untuk dihafal, melainkan harus dilaksanakan atau dituruti
sepenuhnya. Orang percaya menjadi pelaku Firman Allah di bumi (the doers of the
Word of God on earth) dengan menggenapi doa Bapa Kami. Bukankah Hukum Taurat,
yaitu Induk dari Segala Hukum (The Mother of all Laws / The Ten Commandments),
ditulis oleh Roh Kudus dalam roh setiap orang percaya? Hal itu telah
dinubuatkan oleh Nabi Yeremia! Seandainya kita gagal menuruti firman-firman,
nama Allah tidak berubah, bahkan pengampunan tetap terjamin karena aliran
berkat pengampunan dari kayu salib Yesus telah "Sudah Selesai"
dilaksanakan di bukit Golgota! Di sepanjang zaman Pendamaian, berkat pengampunan
itu mengalir tanpa henti. Jika ibadah (Bapa Kami) kita tidak sempurna seperti
orang percaya di Sardis, ibadah mereka akan dicatat sebagai perbuatan-perbuatan
yang tidak disempurnakan; doa Bapa Kami tidak digenapi dalam ibadah pribadi!
Orang percaya adalah pelaku Firman Allah (the doers of the Word of God). Doa
Bapa Kami adalah ibadah roh yang harus disempurnakan dengan kekuatan dan
bimbingan Roh Allah. Maka, doa Bapa Kami ditujukan kepada orang-orang yang
percaya secara sempurna. Percaya yang sempurna tidak berarti perawakan atau
sifat-sifat yang sempurna, melainkan singkatnya tidak menyangkal nama Allah,
seperti jemaat Allah di Filadelfia di Asia Kecil.
Sengat pada roh seseorang adalah catatan dosa; maka rekaman dosa itu
adalah sengat, yaitu maut! Oleh karena itu, kita mati setiap kali kita berbuat
dosa terhadap Allah, tetapi nama Allah setia menghidupkan kita setiap hari!
Daud bernyanyi: "Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia memikul beban kita;
Allah adalah keselamatan kita. Sela. Allah bagi kita adalah Allah yang
menyelamatkan, Allah, TUHANku, memberi jalan keluar dari maut" (Mazmur
68:20–21 / Psalm 68:19–20).
Dosa adalah pelanggaran hukum Roh Allah. Semua firman adalah roh, baik
Firman itu berupa hukum (Taurat), nubuat, maupun bentuk lirik lagu seperti
dalam Kitab Mazmur. Sifat Roh Allah, yaitu Kasih dan Belas Kasihan,
menganugerahkan pengampunan. Pengampunan Allah menghapuskan dosa-dosa dan
menebus dosa-dosa! Nama Bapa, yaitu Kasih, memikul beban penderitaan kita
setiap hari. Yesus adalah karya Kasih Bapa! Yesus menanggung dosa-dosa manusia.
Yesus adalah hal yang kelihatan di bumi, sedangkan tidak ada seorang pun yang
melihat Bapa di sorga. Nama Bapa, yaitu Kasih dan Belas Kasihan, bekerja
memikul penderitaan orang percaya setiap hari, dan hal itu tidak kelihatan.
Pada zaman Habel, nama Bapa berkarya di bumi dengan memerintahkan Habel untuk
menuruti firman ilahi dalam upacara ritus mezbah.
Yesus berkata, "...
perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yoh.
6:63). Taurat, nubuat para nabi, dan Kitab Mazmur adalah "roh" dan
"hidup." Ketika dilanggar, pelanggaran itu direkam pada roh manusia.
Hukum manusia di negara mana pun hanyalah huruf (letter), bukan roh. Spirit
of the laws (semangat hukum) tidak terdapat dalam hukum buatan manusia.
"Firman" itu adalah Roh Tujuh Lapis. Yesus datang untuk
menyempurnakan kehendak Roh, yaitu kehendak Roh Bapa (Lukas 24:44). Tidak
percaya kepada "nama" yang diberikan kepada Anak berarti menentang
kehendak Bapa, dan itu adalah dosa. Dosa direkam pada roh manusia. Hukum
komunikasi dalam alam roh terjadi melalui mimpi (dream dreams),
penglihatan (visions), dan Suara Roh.
Rekaman dosa dikomunikasikan kepada Roh
Allah menurut rancangan (design) Allah: "Deep calls to deep"
(samudra raya menyahut kepada samudra raya). Roh Allah akan melihat dan
mendengar "rekaman dosa" pada roh manusia, lalu Ia akan berkata,
"Orang ini adalah orang berdosa" (unrighteous man/transgressor of
Divine Laws). Hukum Kesepuluh adalah "roh dan
hidup." Yesus berkata, "Semua perkataan-Ku adalah roh dan
hidup." Pelanggaran Firman (roh) dicatat atau
direkam pada roh manusia. Allah tidak merekam dosa-dosa manusia di dalam
Roh-Nya karena rekaman dosa manusia adalah pencemaran (impurities).
Allah hanya menyimpan Firman Allah pada
Roh-Nya. Roh-Nya senantiasa murni (pure) dan tidak ada yang dapat mencemarkan
Roh Allah, karena Ia tidak merekam dosa-dosa manusia di dalam Roh-Nya!
Dosa-dosa direkam pada roh manusia itu sendiri, sebab itulah roh manusia
tercemar (impure)!
Maka, Firman Allah bukanlah tinta di
atas kertas, melainkan Roh Tujuh Lapis. Catatan Alkitab hanyalah usaha manusia
untuk memelihara Suara, Penglihatan (visions), dan Mimpi (dreams) yang pernah
diterima oleh para nabi. Perkataan manusia berasal dari otak. Perkataan itu
bersifat daging dan tidak berkuasa, kecuali jika dikuasakan oleh suatu kuasa
manusia—seperti perkataan raja yang dikuasakan oleh semua orang yang diberi
kuasa oleh raja. Namun, perkataan raja bukanlah roh dan hidup. Allah itu Roh,
maka Firman-Nya adalah roh dan hidup (Yoh. 6:63). Allah tidak memiliki otak dan
daging; Ia sepenuhnya Roh: Bapa Segala Roh. Otak adalah pusat daging atau pusat
kehidupan jasmani. Firman adalah perkataan "roh dan hidup." Para
malaikat yang tak terhitung jumlahnya senantiasa bersiap dengan taat dan setia
untuk menegakkan dan melaksanakan kehendak Firman (Mazmur 103:20).
Allah menuliskan Sepuluh Perintah (Ten
Commandments) pada roh orang percaya. Apabila Sepuluh Perintah itu dilanggar,
maka pelanggaran kita juga dicatat pada roh manusia (si pelanggar). Rekaman
pelanggaran itu bersifat "roh" dan dosa itu bersifat
"hidup" di dalam roh, tetapi membawa maut. Oleh karena rekaman
pelanggaran itu bersifat "roh", ia menaklukkan daging kepada kematian
dan memisahkan roh dari Roh Allah. Rekaman dosa itu merupakan pelanggaran
terhadap "Kuasa Kehidupan", yaitu penentangan terhadap Roh Allah atau
Firman Allah. Melanggar Kuasa Kehidupan berarti memilih kuasa maut. Oleh karena
itu, upah dosa adalah maut atau kematian daging dan pemisahan roh dari kuasa
kehidupan yang optimum, yaitu Roh Allah dan Sorga. Orang yang memilih hidup
berdosa berarti memilih untuk menentang Kuasa Kehidupan. Tidak percaya kepada
Kuasa Kehidupan ("nama" Allah) sama artinya dengan melanggar Firman
Allah. Namun malangnya, daging kita lemah dalam menuruti Firman Allah. Adalah
lebih mudah untuk melanggar Kuasa Kehidupan daripada menurutinya.
"Pengampunan dosa" berarti penghapusan (deletion) rekaman-rekaman
dosa pada roh manusia.
Kita semua sebenarnya memilih kuasa
kematian setiap hari. Tidak ada seorang manusia pun yang secara sempurna
memilih Kuasa Kehidupan, yaitu Firman Allah atau Roh Allah, kecuali Anak
Manusia. Siapakah yang dapat melepaskan diri kita dari rekaman-rekaman pelanggaran
Kuasa Kehidupan itu? Dosa-dosa setiap hari direkam secara otomatis (autosaved)
dalam roh kita. Maka, roh manusia adalah tercemar (impure), sedangkan Roh Allah
itu murni (pure)! Ayub bersaksi bahwa rekaman dosa itu seperti disimpan
"di dalam pundi-pundi yang dimeterai." Maksudnya, dosa-dosa manusia
adalah "rekaman roh yang bersifat hidup" di dalam roh kita sendiri.
Maka, masing-masing kita menanggung rekaman dosa kita. Namun, oleh karena
rekaman itu adalah pelanggaran dan bukan Penggenapan Firman, walaupun bersifat
"roh", ia seperti "sengat", yaitu maut. "Sengat"
atau penyakit pada roh kita itulah yang disebut "luka" (wounds).
Maka, wounded man bermakna manusia yang terluka/berdosa.
Dan Yesus datang untuk menyembuhkan
luka-luka kehidupan: "Oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh."
Tidak ada orang yang benar di bumi
melainkan mereka yang dianugerahi kasih karunia. Semua bapa leluhur
(patriarchs) adalah penerima kasih karunia. Semua nabi juga adalah penerima
kasih karunia. Nama Allah ialah Kasih. Nama atau karya Allah itu mengalir dan
memancar dari sifat-sifat-Nya. Orang yang terluka (wounded man) yang menerima
aliran "nama" Roh Allah akan menerima karunia. Oleh karena nama Allah
itu Kasih, maka di mana Roh Allah itu mengalir, orang yang terjangkau oleh
aliran Roh-Nya disebut penerima kasih karunia. Semua bapa leluhur, semua nabi,
dan semua orang percaya adalah penerima kasih karunia Allah. "Sebab
kasih-Mu besar melebihi langit, dan kesetiaan-Mu sampai ke awan-awan"
(Mazmur 108:5). Ada tertulis bahwa "Penghakiman adalah keputusan
sorgawi." Namun, kasih Allah berbunyi: "...kasih setia-Mu lebih
tinggi dari sorga." "Langit" adalah ungkapan bahasa roh yang
berkaitan dengan "pemberitaan karya Allah." "Langit menceritakan
kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur
19:2). Penghakiman dan penghukuman ilahi dibuat di sorga. Namun, itu adalah
keputusan Allah menurut waktu yang ditetapkan oleh Allah. Meskipun demikian,
kasih dan kemurahan (mercy) Allah memiliki kuasa yang lebih tinggi daripada
mahkamah sorgawi karena kasih adalah nama Allah dan merupakan sifat Allah yang
tidak berubah (immutable). Hukuman Allah atas Ninive, sebagai contoh, adalah
keputusan mahkamah sorga yang telah dibatalkan dalam kisah Kitab Yunus.
Sedangkan kasih Allah tidak dapat Ia batalkan karena itu adalah sifat Roh
Allah. Namun, oleh karena kasih Allah itu suci, kasih itu juga dapat
menghanguskan manusia yang berdosa!
Kasih adalah Kuasa Kehidupan yang
tertinggi di seluruh alam semesta karena kasih adalah nama Allah. Kasih adalah
sifat Roh Allah yang immutable (tidak berubah). Yesus adalah karya Roh Bapa.
Yesus adalah karya kasih Bapa. Santo Yohanes melihat Yesus sebagai Mesias yang
dijanjikan yang akan menggenapi Firman Allah (Lukas 24:44), maka ia menulis
dalam Injil: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes
3:16). Taurat, kitab nabi-nabi, dan Kitab Mazmur (Lukas 24:44) berbicara
tentang Yesus sebagai Mesias karya tangan kanan Bapa. Melihat Yesus dan
pekerjaan-Nya, yaitu Firman Allah, berarti melihat nama Bapa. Melihat Mezbah
Yesus sebagai mezbah di bumi yang diupacarakan untuk menggenapi Lukas 24:44
adalah melihat nama Bapa (Keluaran 34:5-7).
Mata yang melihat dan telinga yang
mendengar adalah anugerah Allah: "Telinga yang mendengar dan mata yang
melihat, kedua-duanya dibuat oleh TUHAN" (Amsal 20:12). Dan oleh karena
melihat mezbah "Anak Domba Allah" sebagai kehendak kasih Bapa, kita
percaya kepada nama Bapa dan juga nama yang diberikan kepada Yesus, supaya
orang percaya menerima hidup kekal abadi. Oleh karena percaya kepada Firman
Allah, kita menuruti Firman Allah. Ritus mezbah adalah firman mezbah. Nama
Yesus ketika melayani di mezbah bumi seperti di sorga ialah "Anak Domba
Allah" dan juga sebagai Imam Agung menurut Melkisedek yang melayani di
mezbah bumi. Orang-orang percaya dapat menyelesaikan rekaman-rekaman dosa pada
roh mereka dengan menuruti (percaya kepada) nama Allah: "Nama-Nya ialah
Firman Allah."
Biarpun umat manusia sangat hebat dengan
kapasitas intelektualnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari
rekaman-rekaman dosa (rekaman pada roh). Manusia tidak mempunyai sumber daya
(resourceless) untuk menyelesaikan rekaman-rekaman dosa pada roh mereka yang
tersimpan secara roh dan otomatis (autosaved). Selama rekaman itu tersimpan
pada roh manusia, selama itulah manusia akan dipandang bersalah atau tidak
benar di mata Allah (unrighteous men in the sight of God). Namun, oleh karena
nama Bapa dan nama Anak, kita dianugerahi limpahan kuasa Roh yang melepaskan
kita dari rekaman dosa (sengat dosa). Kita dilepaskan dari sengat dosa oleh
karena nama Allah yang setia mengampuni. Yesus datang dalam nama Allah.
"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita
sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita,
maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan
menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yoh. 1:8-9).
Ia adalah Anak Domba Allah, Anak Allah,
Pembaptis dengan Api, Juruselamat, dan juga Hakim yang akan datang kembali.
Nama Allah itu adalah "Yang Setia dan Yang Benar." Oleh karena itu,
kita diselamatkan oleh Allah karena nama Allah. "...dan dari Yesus
Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang
berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah
melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--" (Wahyu 1:5). Bapa, Anak,
dan Roh Kudus setia mengampuni dosa-dosa orang percaya. Immutable names of God
dan Covenanted names of God adalah setia mengampuni dosa. Yahweh, Yesus, Roh
Kudus, dan Hakim (Kristus yang akan datang kembali) juga setia mengampuni
dosa-dosa. Kemarin, hari ini, dan besok, Kristus tidak berubah! Maksudnya,
sifat-sifat Roh Allah tidak berubah. Sifat-sifat Roh Allah menyatu dengan nama
Allah! Roh Yesus (Yesaya 11 — Roh Kristus) adalah satu dengan Roh Bapa, dan
Mereka adalah Roh yang mengampuni (forgiving Spirit). Sifat-sifat ilahi tidak
berubah walaupun perjanjian seolah-olah bertambah, atau misi (missions/names)
Allah seolah-olah dipandang manusia bertambah.
Sebenarnya seluruh Firman Allah sudah
lengkap (complete) atau sudah ada secara penuh dalam pribadi Roh Allah dari
Alfa sampai Omega. Melihat nama Allah dalam Covenanted names of God berarti
melihat Immutable name of the Father in Heaven. Covenanted name of God
kelihatan di bumi, tetapi Immutable name of the Father hanya dilihat oleh
penduduk sorgawi. Jika nama itu dinyatakan sebagai mengampuni (forgiving),
orang percaya perlu mengalahkan ketidakpercayaan (conquering unbelief) mereka.
Dalam kisah kehidupan Ayub, istrinya ternyata gagal melihat kebaikan-kebaikan
nama Allah ketika mereka kehilangan harta dan seluruh anak mereka. Namun, Ayub
tetap bersandar kepada nama Allah:
"Maka berdirilah Ayub, lalu
mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
katanya: 'Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang
juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil,
terpujilah nama TUHAN!' Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak
menuduh Allah berbuat yang kurang patut." (Ayub 1:20-22)
Ayub percaya kepada nama Allah yang
tidak berubah, meskipun kehidupan jasmaninya seolah-olah ditimpa malapetaka.
Kemudian istrinya berkata kepadanya:
"Masih bertekunkah engkau dalam
kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2:9)
Bagi kebanyakan orang percaya, kita
sering kali lebih menyerupai istri Ayub. Godaan untuk meragukan nama Allah akan
datang dalam berbagai bentuk tatkala kita mengalami berbagai penderitaan atau
malapetaka yang menimpa kehidupan jasmani.
Sumpah Perjanjian Allah (Suzerain
Covenant)
Dalam urusan penyelamatan umat manusia
yang "terluka", bangsa-bangsa lain tidak melibatkan kasus
"disumpahi" oleh Allah supaya mereka selamat; melainkan kita
dianugerahi kasih karunia, yaitu nama Allah Bapa dan nama yang diberikan kepada
Anak Manusia, Yesus Kristus. Anugerah nama Allah mencakup "Anak Domba
Allah", supaya kita dapat menyelesaikan dosa (rekaman dosa dalam roh kita
sendiri) dan selanjutnya dapat mengenal Bapa. Nama Allah itu adalah
Kasih/Kemurahan (Mercy). Memancarnya berkat pelayanan mezbah di bumi menurut
Urutan Melkisedek berarti bangsa-bangsa mulai dapat melihat nama Bapa (seperti
yang diberitakan dalam Keluaran 34:5-7). Kematian Anak Domba Allah di mezbah
(kayu salib) di bumi adalah penggenapan "jadilah kehendak-Mu di bumi
seperti di sorga." "Mezbah di Sorga" seperti yang dilihat oleh
Yesaya dalam Yesaya 6 adalah kehendak nama Allah di sorga: kita tahu bahwa
kehendak kasih dan kemurahan Bapa itu adalah nama Allah dalam Keluaran 34:5-7.
Ketika kehendak itu turun ke bumi, manusia yang terjangkau oleh kehendak Allah
(kasih dan kemurahan) itu disebut penerima-penerima kasih karunia!
Sumpah Allah dan kasih karunia Allah
berkaitan, tetapi mempunyai tujuan yang jelas dan dapat dibedakan. Sumpah Allah
hanya diberikan kepada satu garis keturunan, yaitu bani Ibrani yang bermula
dari Abraham, Yakub (Israel), dan Daud. Mereka juga adalah penerima kasih
karunia karena mereka adalah nabi-nabi Allah. Namun, bangsa-bangsa lain yang
percaya dialiri oleh limpahan kasih karunia melalui nama Allah dan nama yang
diberikan kepada Yesus Kristus! Nama Allah itu kuat seperti menara yang
menyelamatkan orang benar. Raja Salomo berkata bahwa nama Allah bagaikan menara
yang kuat, tempat perlindungan orang benar (Amsal 18:10). Sumpah Allah kepada
orang-orang terpilih dalam satu garis keturunan yang dipelihara Allah adalah
untuk menjamin keberhasilan kedatangan Kristus (the delivery of Christ). Maka,
Firman menjadi manusia dari bangsa pilihan (the chosen race) yang beranak-cucu
dari satu garis keturunan yang telah dipelihara oleh Allah sejak dari Adam.
Penerima kasih karunia dapat kita lihat dalam silsilah keturunan Yesus dalam
Injil Matius. Silsilah itu memang tidak terlepas dari sumpah Allah. Dari
silsilah inilah kedatangan Kristus digenapi.
Maka, perjanjian dengan sumpah (Suzerain
Covenant) itu adalah rahasia Allah, yaitu Kristus. Garis keturunan itu
diamanahkan oleh Allah dalam kedatangan Kristus (the delivery of Christ), yaitu
Firman menjadi daging. Suku Dusun, sebagai contoh, tidak perlu disumpahi oleh
Allah karena mereka tidak terlibat langsung dalam rantai silsilah kedatangan
Kristus; bagi mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, cukuplah
menjadi penerima-penerima kasih karunia. Sumpah Allah hanya diberikan kepada
garis keturunan yang dipelihara oleh Allah seperti dalam silsilah Injil Matius,
karena mereka adalah bangsa pilihan (the chosen race) dan terlibat dalam
kedatangan Kristus kepada dunia. Sebenarnya, sumpah Allah mengalir dari nama
Allah; apa pun pesan dan isi sumpah itu pada hakikatnya adalah firman Allah.
Allah bergaul karib dengan Daud bukanlah disebabkan oleh sumpah semata,
melainkan karena anugerah kasih karunia dan rasa takut akan TUHAN (the fear of
the Lord). Sumpah itu berkaitan dengan kedatangan Kristus bahwa "daging"
Mesias akan bertunas dari Daud. Ada sumpah Allah kepada Daud yang berbunyi:
"Aku telah mengikat perjanjian
dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk
selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu
turun-temurun. Sela" (Mazmur 89:4-5)
Frasa "untuk selama-lamanya"
merujuk kepada kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Raja segala raja dalam
silsilah keturunan berdasarkan nubuat para nabi, seperti nubuat Nabi Yesaya
dalam Yesaya 11:
"Suatu tunas akan keluar dari
tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah."
(Yesaya 11:1)
Mesias "Bertunas" dari Isai
"Bertunas" berarti memiliki
"daging". Adam "bertunas" dari bumi bermakna bahwa
daging/tubuh Adam berasal dari debu/tanah liat (bumi). Maka, Yesus yang
bertunas dari Daud (juga ditulis atas nama ayah Daud, yaitu Isai) berarti
Kristus yang dinubuatkan dalam Yesaya 11 memang memiliki daging sebagai Anak
Manusia, dan daging-Nya berasal dari silsilah Raja Daud! Maksudnya, Mesias yang
ditunggu-tunggu itu memiliki daging dari keturunan Isai. Mesias itu adalah
manusia dari garis keturunan Isai, namun Roh-Nya berasal dari Allah Bapa.
Roh-Nya adalah Roh Kudus! Namun, kita tidak menyebut pribadi Yesus itu
semata-mata Roh Kudus dalam pengertian wujud non-fisik saja, karena "lidah
api" yang menghidupkan sel telur (ovum) Santa Maria telah menjadi
manusia—sehingga secara kasatmata Ia terlihat seolah-olah memiliki roh yang
terpisah dari Roh Allah Bapa. Ia tampak terpisah bagi mata manusia karena Ia
telah terbungkus oleh daging! Oleh karena itu, orang tanpa anugerah "mata
yang melihat" hanya akan melihat daging Yesus saja! Bapa, Yesus, dan Roh
Kudus adalah satu Roh Allah!
Roh Yesus berasal dari Benih (Seed),
yaitu "lidah api" yang menghidupkan sel telur Santa Maria menjadi
janin yang hidup, lalu tumbuh dan lahir sebagai Mesias yang ditunggu-tunggu.
Sel telur Santa Maria adalah tunas dari Daud. Sel telur tersebut mengalami
pengubahan ketika Kuasa Kehidupan (Roh Kudus) menghidupkannya tanpa sperma, dan
Ia menjadi manusia karena Roh Kudus! Oleh sebab itu, Ia disebut "Anak
Manusia." "Anak Manusia" juga mengandung makna bahwa Yesus
adalah "domba jantan pemikul dosa" (the Scapegoat/Azazel),
sebagaimana kambing jantan yang dipersembahkan pada Hari Raya Pendamaian. Nabi
Yehezkiel juga disebut son of man (anak manusia) karena ia kerap kali
diperintahkan Allah untuk memperagakan kembali dosa-dosa Israel dan menanggung
akibat dosa-dosa tersebut melalui bentuk nubuat sindiran; namun Nabi Yehezkiel
sebenarnya melaksanakan peran lambang kambing jantan pemikul dosa. Nabi
Yehezkiel dapat dikatakan sebagai bayangan (foreshadowing) atau partisipasi
dalam peran Sang Juruselamat, yaitu Yesus yang telah menggenapi pelayanan
mezbah menurut urutan Melkisedek di bumi.
Jadi, Santa Maria menyediakan benih
jasmani (seed of the flesh) yang berasal dari keturunan Daud (Isai), sedangkan
Roh Kudus yang turun atas Maria menyediakan Benih Roh (Seed of the Spirit) bagi
Anak Allah dalam kandungan Maria. Ketika Kristus lahir, Ia disebut "Anak
Allah Yang Mahatinggi" dan Ia juga sering menyebut diri-Nya sebagai
"Anak Manusia." Sebutan yang pertama merujuk kepada keilahian-Nya,
sedangkan sebutan yang kedua merujuk kepada kemanusiaan atau daging-Nya, yaitu
Anak Domba Allah. Dengan demikian, Ia sanggup memenuhi misi sebagai Anak Domba
Allah yang menghapus dosa dunia. Mezbah yang sempurna di bumi menuntut Anak
Domba Allah dari sorga, dan Anak Domba itu harus memiliki daging dan darah yang
mewakili umat manusia. Ketika mempersembahkan diri-Nya sebagai Anak Domba
Allah, Yesus berkata saat mengembuskan napas terakhir-Nya: "Sudah
selesai" (It is finished). Mezbah dan Jalan itu telah digenapi dalam
Kristus. Melihat kayu salib sebagai penggenapan Firman Allah berarti melihat
dan percaya kepada nama Bapa, serta percaya kepada nama Anak Allah Yang
Mahatinggi.
Hawa (Eve) sebagai perempuan (woman)
menunjuk kepada bangsa pilihan Allah dari antara segala bangsa di bumi, yaitu
bangsa Israel. Namun, bangsa-bangsa lain di dunia juga telah melihat Terang
Dunia itu. Bangsa-bangsa lain yang percaya kepada nama Allah Israel disebut
dalam kata nubuat sebagai saksi-saksi Kristus (the offspring). Dalam hubungan
ibadah rohani, Gereja memang disebut sebagai mempelai Kristus. Namun, dalam
tafsiran roh nubuat (Spirit of Prophecy), perempuan (woman) itu selamanya
merujuk kepada kaum Yakub (the house of Jacob). Penglihatan Santo Yohanes dalam
Wahyu 12 mengenai perempuan dengan mahkota 12 bintang di kepalanya dan bulan di
bawah kakinya adalah penglihatan rohani yang serupa dengan yang dilihat oleh
Bapa Leluhur Yusuf dalam Kejadian 37:9:
"Lalu ia bermimpi pula untuk kedua
kalinya dan menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya, katanya: 'Aku
bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah
kepadaku.'" (Kejadian 37:9)
Penglihatan Yusuf adalah identitas kaum
Yakub yang serupa dengan penglihatan Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1. Kaum Yakub
inilah yang menerima sumpah Allah! Bangsa-bangsa lain yang percaya kepada nama
Allah Israel dan percaya kepada nama Yesus Kristus disebut saksi-saksi Kristus
atau keturunan perempuan itu (the offspring of the woman):
"Maka marahlah naga itu kepada
perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti
hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus." (Wahyu 12:17)
Kita dapat belajar dari sejarah Israel
bahwa mereka dididik oleh Roh Allah selama 40 tahun di padang gurun agar mereka
mengerti apa itu "percaya." Dengan percaya yang sempurna, barulah
mereka melihat tembok Yerikho runtuh, Sungai Yordan terbelah, dan selanjutnya
dapat menduduki Tanah Perjanjian. Nama Allah menjanjikan pengampunan dosa,
tetapi orang percaya perlu dididik terlebih dahulu oleh Roh Allah agar ketika
memohon pengampunan melalui pengakuan dosa setiap hari atau setiap kali berdoa,
kita diberi kemampuan untuk "memindahkan gunung ke dalam laut."
Memohon pengampunan dosa di hadapan Allah tanpa kekuatan dari Allah adalah
usaha yang bagaikan memindahkan gunung ke dalam laut. Hanya "ranting"
yang menerima "biji sesawi" (suara Firman) dari sorga yang diberi
dasar keyakinan untuk dapat memindahkan gunung ke dalam laut.
Sebelum keyakinan
itu datang, keraguan bagaikan "Goliat" atau gunung yang sangat sukar
ditaklukkan. Untuk mendapat anugerah keyakinan, dibutuhkan anugerah "fajar
menyingsing" (seperti dalam kisah Yakub bergulat hingga fajar
menyingsing). Dan "ranting" itu akan berkata: "Apart from You, I
am nothing" (Di luar Engkau, aku tidak dapat berbuat apa-apa). Allah
bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan Ia memberitahukan rahasia
perjanjian-Nya kepada mereka (Mazmur 25:14). Ayub bersaksi: "Tetapi kepada
manusia Ia berkata: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat" (Ayub
28:28). Karunia ialah karya Roh Tujuh Lapis yang dianugerahkan kepada mereka
yang tertulis sebagai penerima kasih karunia, seperti para nabi. Dasar
operasional karunia-karunia ialah Roh Allah sendiri: Roh Tujuh Lapis Kristus
(the Sevenfold Spirit of Christ / Spirit of Menorahs — YHVH, Kristus, Bapa, Roh
Kudus, Hakim/Kristus yang akan datang kembali). Maka, karunia datang dan pergi
karena karunia adalah Pribadi Roh Allah. Karunia tidak melekat pada roh
manusia, melainkan senantiasa melekat pada Roh Tujuh Lapis Allah;
karunia-karunia adalah Roh Allah (Yesaya 11). Manusia tidak dapat bernubuat
atas kehendaknya sendiri karena Roh Nubuat (Spirit of Prophecy) adalah Roh
Tujuh Lapis Allah. Oleh karena itu, setiap karunia dipohonkan setiap kali kita
berdoa.
Nabi Musa sebagai Penerima Kasih Karunia
17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
"Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah
mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." 18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah
kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." 19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan
melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di
depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia
dan mengasihani siapa yang Kukasihani." 20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak
tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat
hidup." 21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu
tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; 22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku
akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau
dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat." (Keluaran 33:17-22)
Raja Daud mempunyai delapan istri dan
banyak gundik. Namun, ia berdoa tiga kali sehari dan memuji-muji Allah sebanyak
tujuh kali sehari. Tulisan ini bukan untuk mempromosikan kelemahan daging atau
mendukung pilihan kehendak daging Raja Daud. Memang perbuatan berzinah itu
terjadi dalam kehidupan jasmaninya, sebab Allah menghendaki raja bagi teokrasi
Tanah Suci hanya beristri satu (monogami), sebagaimana yang diberitahukan oleh
Nabi Samuel kepada Israel. Namun, Daud bersaksi bahwa Allah yang menanggung deritanya
(dosanya); maksudnya, Allah yang menghapus (delete) dosa-dosa pada roh Daud.
Ketika Daud masuk ke dalam hadirat Roh Allah dalam doa (spirit of prayer),
Allah menaunginya dengan perlindungan rohani (spiritual covering), sebagaimana
Nabi Musa yang dinaungi dengan telapak tangan Allah di Gunung Sinai.
Kisah Musa yang dinaungi telapak tangan
Allah itu senantiasa menunjuk kepada Kristus dan darah-Nya! Naungan rohani itu
bersifat roh dan tidak dapat dilihat oleh mata kasat manusia. Seseorang
memerlukan karunia "Roh Pengertian" untuk memahami kebenaran ini.
Sebagai perbandingan dan untuk mencerahkan pemahaman intelek kita, kita dapat
membayangkan roh kita yang dinaungi oleh belas kasihan Allah (kebaikan-kebaikan
Roh Ilahi, termasuk Khotbah di Bukit / Ucapan Bahagia), sebagaimana bumi
dinaungi oleh medan magnet dan lapisan-lapisan atmosfer. Naungan roh itu juga
telah diberitakan sejak permulaan, di mana kita melihat bagaimana Adam dan Hawa
yang berdosa karena memakan buah terlarang dinaungi oleh Allah dengan pakaian
dari kulit binatang yang dibuat oleh kuasa Firman Allah. Demikian pula pesan
pakaian kudus yang dipakai oleh Imam Harun ketika memasuki hadirat YHVH di
Tempat Mahakudus (Holy of Holies) dalam Kemah Suci.