"Takut akan Tuhan" adalah karunia Roh Tuhan dan sifatnya adalah "kudus." Daud
bersaksi melalui lirik nyanyiannya bahwa "takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk
selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya" (Mazmur
19:10). Hal itu 'kudus' karena merupakan pekerjaan dari aliran Roh Tuhan yang
disebut 'karunia'. Maka dari itu, hal tersebut bukanlah hasil usaha kapasitas
intelektual, tidak pula dapat direka-cipta, melainkan secara murni (pure)
merupakan anugerah Roh Tuhan menurut kehendak-Nya yang sempurna! Perihal ini
juga bukanlah reaksi emosional yang berkaitan dengan rasa takut.
Karunia
tersebut bekerja demi tujuan keselamatan umat manusia yang terpisah dari
kehidupan yang penuh, supaya mereka kembali memiliki kesadaran dan
kebergantungan (dependency)
kepada Sang Pencipta, yaitu Bapa segala roh. Kehidupan warga Kerajaan Allah
tidaklah mandiri (independent) dari Firman Tuhan.
Mengapa
Yesus membutuhkan "takut akan Tuhan" bekerja dalam diri-Nya? Roh
Yeshua adalah Roh Tuhan sebagaimana yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5 dan
Yesaya 11:1–6. Identitas Kristus dalam nubuat Yesaya 9:5 menjelaskan ke-Tuhanan
Roh Yeshua: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera
telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan
namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,
Raja Damai." Firman (Roh) yang menjadi 'daging' ini dilengkapi dengan 'roh
takut akan Tuhan' karena itulah tujuh Roh Kristus yang bekerja untuk kemenangan
'penebusan' dan 'keselamatan' bagi umat manusia yang "terluka."
Nabi Yesaya menuliskan nubuat Tuhan: "Tetapi dia tertikam
oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5).
Dosa sebagai akar tunjang masalah umat manusia dan rencana penyelamatan Allah Bapa
Dosa dipandang sebagai sengat maut yang 'melukai roh' manusia yang berdosa! Penyakit pada
tubuh jasmani disebabkan oleh luka pada daging, baik luka dalam maupun luka
luar. Demikian juga halnya dengan penyakit roh. Penyakit pada roh yang akhirnya
membawa maut digambarkan sebagai "luka-luka" kehidupan. Luka-luka
Yeshua sebagai Anak Domba Allah dialirkan untuk menganugerahkan berkat
penebusan dan keselamatan. Hal ini merujuk kepada pelaksanaan kurban kematian
Yeshua di atas kayu salib sebagai mezbah Allah di bumi, agar berkat dapat
mengalir tanpa henti.
Hukum Taurat
mengajarkan kita bahwa berkat penebusan dan keselamatan tidak akan mengalir
kepada kita selama kurban di atas mezbah di bumi belum diselesaikan atau
digenapi (lihat Lukas 24:44). Maksudnya, berkat penebusan dan keselamatan harus
didahului oleh penyelesaian upacara kurban di atas mezbah bumi. Dan Yeshua,
selaku Anak Domba Allah sekaligus Imami/Pengantara (Mediator), berkata: "Sudah selesai"
(Yohanes 19:30). Kata "sudah selesai" ini merupakan prasyarat dari
Allah yang harus digenapi sebelum aliran berkat penebusan dan keselamatan dapat
dicurahkan!
Yeshua dinubuatkan sebagai penghapus dosa-dosa dunia
menurut penggenapan Lukas 24:44. Sejak semula, yakni sejak zaman Habel, mezbah
merupakan jalan untuk menerima berkat pengampunan dosa. Mezbah menyatakan nama
Tuhan, yaitu Kasih. Kasih Ilahi itu menebus dan mengampuni! Penebusan itu dapat
dengan mudah dipahami melalui pelaksanaan upacara 'kurban' di atas mezbah. Oleh
karena itu, mendirikan mezbah berarti beribadah!
Nabi Yohanes
Pembaptis bersaksi: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa
dunia" (Yohanes 1:29). Mezbah adalah 'jalan roh' untuk menerima berkat
penebusan dan keselamatan! Yesus bukanlah orang berdosa, sebab Ia tidak
berdosa. Namun, karena Ia adalah 'Anak Domba Paskah Allah' yang dikurbankan
menurut ordo Melkisedek di bumi, maka curahan darah Sang Anak Domba menjanjikan
berkat penebusan dan keselamatan dapat mengalir kepada seluruh bangsa tanpa
henti, dimulai sejak Hari Pentakosta. Berkat itu telah mengalir ke bumi
secara Immanuel.
Karunia 'takut akan Tuhan' ada secara penuh dalam Roh
Yesus Kristus, Anak Domba Allah; karena itulah Ia seratus persen tunduk kepada
kehendak Bapa. Kristus, di dalam kepenuhan ketujuh karunia Roh Ilahi dengan
segala "kekayaan" dalam kematian-Nya sebagai kurban penebus dosa-dosa
umat manusia di atas kayu salib, telah menganugerahkan "Jalan"
perdamaian antara Roh Allah dan roh manusia yang terluka. Yeshua berkata: "Akulah jalan..."
(Yohanes 14:6).
Jalan mezbah
yang sempurna itu hanya dapat disempurnakan oleh Anak Manusia. Hal itu
merupakan karya tujuh Roh yang melaksanakan kurban kematian Yesus menurut Ordo Melkisedek.
Ia menggenapi Hukum Taurat, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur.
Perjanjian
Lama maupun Perjanjian Baru, keduanya menganugerahkan 'Jalan perdamaian'
menurut Ordo Melkisedek. Yang terdahulu adalah jalan penebusan menurut Firman
Allah dalam ibadah Hukum Taurat, sedangkan dalam Perjanjian Baru, ‛Jalan Mezbah’
oleh Yeshua telah menganugerahkan "Jalan" kepada semua bangsa di
dunia, supaya mereka dapat beribadah secara roh kepada Roh Allah.
"Jalan" itu sesuai dengan pekerjaan Roh Allah (lihat Lukas 24:44).
Yang terdahulu adalah kuk ibadah menurut Hukum Taurat, sedangkan jalan ibadah
roh melalui Kristus adalah kuk ibadah 'roh' yang ringan dan tidak memberi
beban.
"Firman" yang tertulis tentang keselamatan umat
manusia yang terluka—yaitu seluruh Hukum Taurat, seluruh kitab nabi-nabi, dan
seluruh lirik lagu pujian dalam kitab Mazmur—telah dilaksanakan dan digenapi
oleh pribadi Sang Juruselamat, "Firman yang telah menjadi manusia."
Rasul Yohanes bersaksi bahwa Yeshua adalah sosok yang "...nama-Nya ialah:
'Firman Allah'" (Wahyu 19:13).
Yeshua
menganugerahkan Jalan, Pintu, dan Kunci, supaya setiap orang yang namanya
tertulis di dalam Kitab Kehidupan dapat mengikuti Jalan, Pintu, dan Kunci
tersebut. Dengan demikian, mereka dapat menjadi pelaku Firman Allah (the doers of the Word of God)
dengan mengikuti jejak Sang Anak Sulung, yaitu Kristus, yang melakukan Firman
secara seratus persen.
Para pelaku
Firman hanya akan memperoleh kemenangan dalam melakukan Firman-Nya apabila ada
kekuatan yang diberikan oleh ketujuh Roh Kudus. Dengan kata lain, hal ini juga
disebut sebagai memiliki hikmat, pengertian, dan pengetahuan dalam melakukan
kehendak Tuhan. Dalam bahasa yang sederhana, kehidupan kekal berarti mengenal
Yang Mahakudus. Mengenal Yang Mahakudus adalah suatu hal yang mustahil tanpa
adanya anugerah ketujuh karunia Roh Kudus.
Setelah
'Jalan' ibadah secara roh selesai dikerjakan oleh Anak Manusia, Bapa di sorga
mengutus Roh Kudus untuk memberikan 'berkat', yaitu ketujuh karunia Roh Allah.
Melalui hadirat Roh Kudus pada pusat roh umat Allah, Ia memberikan Roh
pengertian. Sebab, mengenal Yang Mahakudus merupakan pekerjaan dari karunia
'Roh pengertian' di dalam pribadi Roh Kudus.
Hikmat Raja Salomo dan penjelasannya mengenai "takut
akan TUHAN."
"1 Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku
dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan
hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, 3 ya, jikalau
engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, 4
jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti
mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut
akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah." (Amsal 2:1–5).
Manusia-Ilahi
(Yesus) dan Adam (asal-usul manusia)
Manusia sejati yang memiliki "takut akan TUHAN" adalah Yesus Kristus.
Dia bergantung penuh pada kehendak Roh Bapa dalam melaksanakan misi sebagai "Anak Domba Allah yang
menghapus dosa dunia." Pengertian dan pengenalan Yesus akan Allah Bapa
adalah penuh dan sempurna. Supaya Ia dapat melaksanakan kehendak Bapa dengan
mudah, maka roh-Nya beroperasi dalam kepenuhan ketujuh karunia tersebut,
termasuk karunia "takut akan TUHAN."
Yesus, Sang
Anak Manusia, memiliki daging (otak manusiawi), tetapi Ia hidup, mendengar, dan
melakukan kehendak Roh Allah Bapa secara seratus persen. YHVH memberikan pesan
kepada Yesaya: "...ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN..."
(Yesaya 11:3). Yesus penuh dengan rasa "takut akan TUHAN", yaitu
suatu kebergantungan total (total dependency). Dia adalah manusia rohani sejati
yang pusat kesadarannya (consciousness)
adalah 'roh'. Sebaliknya, pusat kesadaran manusia yang 'terluka' adalah otak
(daging).
Sebelum
jatuh ke dalam dosa, pusat kesadaran Adam secara dominan berpusat pada rohnya.
Pada mulanya, ia adalah manusia rohani (spiritual man). Oleh karena itu, ia dapat
berkomunikasi dengan mudah dengan Roh Allah yang Mahakudus. Setelah berdosa,
pusat kesadaran dominannya berangsur-angsur berubah dari 'roh' menjadi 'otak',
yang mengandalkan lima panca indra. Hal ini menjelaskan mengapa Allah sengaja
membuat bunyi seolah-olah Ia sedang berjalan di taman Eden, yaitu
setelah Adam dan Hawa memutuskan untuk hidup mandiri (independent) dengan
melanggar hukum Eden; mereka telah memakan buah dari pohon pengetahuan
tentang yang baik dan yang jahat (pohon otak). Padahal, mereka seharusnya hanya
memakan buah dari pohon kehidupan (the tree of life—hikmat), apabila mereka
ingin tetap berada dalam persekutuan dengan Roh Allah dan layak untuk tinggal
di Eden.
"Ketujuh karunia Roh Ilahi Kristus bekerja atas roh
manusia, agar roh manusia yang tidak suci (berdosa/"terluka") dapat
berdamai kembali melalui 'Jalan', dan menerima kembali anugerah kehidupan yang
penuh."
Adam yang berdosa (terpisah) mulai mengalami perubahan
pada pusat kesadaran dominannya; dari berpusat pada rohnya menjadi berpusat
pada otak. Ia mulai kehilangan kepekaan akan hadirat Roh Kudus Allah. Perasaan
'takut' mulai menguasai mereka. Allah sengaja membuat bunyi seolah-olah Ia
sedang berjalan sambil memanggil-manggil nama Adam. Mereka 'takut' mendengar
'hadirat' Tuhan. Namun, pastilah Allah telah mengampuni kesalahan Adam dan Hawa
di Eden, meskipun mereka tidak lagi layak tinggal di sana. Pintu Eden telah
tertutup bagi mereka, walaupun kelak Allah membuka pintu hadirat-Nya di bumi
melalui ajaran mezbah atau 'jalan mezbah'.
Sejak saat
itu, setiap orang yang dipanggil nama-nya akan diberikan hikmat oleh Allah untuk
mengenali "jalan", kembali kepada "kesadaran" rohnya.
Hal ini bertujuan agar manusia mengenali kembali realitas keberadaan Allah,
yakni komunikasi dengan Roh Allah melalui 'roh doa' (the spirit of prayer).
Adam bukanlah kehilangan "kesadaran rohnya," namun kekuatan kesadaran
itu telah berubah karena dosa.
Adam dan
Hawa kehilangan kelayakan untuk terus tinggal di Eden. Namun, mereka mengenali
Allah dengan jauh lebih hebat dan akrab dibandingkan dengan kita atau keturunan
Adam lainnya, karena mereka pernah tinggal di Eden/Firdaus. Mereka hanya dilarang untuk terus
menetap di Eden. Allah masih memanggil setiap orang (He called each one of us by name!). Panggilan
itu terdiri dari panggilan umum (general calling—beribadah secara roh kepada Allah)
dan panggilan khusus (specific
calling)! Operasi Roh Allah yang khusus ini mengembalikan kesadaran
kebergantungan (dependency)
kepada Allah sebagai Sumber kehidupan kekal. Sebagaimana bergantungnya
kehidupan jasmani pada uang, maka demikian pulalah karunia Roh Allah yang
diwahyukan sebagai "takut akan TUHAN"; hal itu mendorong manusia yang
"terluka" menuju "jalan" Allah untuk menerima berkat
penebusan dan keselamatan.
Raja Salomo
mengumpamakan permulaan hikmat—yaitu karunia "takut akan
TUHAN"—seperti kebergantungan kehidupan jasmani yang membutuhkan kebutuhan
asas, yaitu uang dan harta. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah Bapa
setiap hari agar Ia menganugerahkan "karunia takut akan TUHAN", yaitu
kunci roh Allah sebagai dasar kehidupan rohani. Yesus memperlihatkan
kesempurnaan kebergantungan-Nya pada Allah Bapa dalam mengerjakan kehendak
Bapa, dan hal ini disebabkan oleh beroperasinya rasa "takut akan
TUHAN" di dalam diri-Nya.
Ada banyak
'jalan' kehidupan roh (agama) di dunia ini, namun Daud bersaksi melalui
nyanyiannya: "Siapakah
orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus
dipilihnya" (Mazmur 25:12). YHVH memberikan 'jalan' perdamaian menurut
ajaran Hukum Taurat. Hukum Taurat mengajarkan bahwa berkat penebusan dan
keselamatan tidak akan mengalir turun kepada umat-Nya sekiranya 'mezbah' belum
diselesaikan menurut Firman-Nya. Yeshua datang untuk menyempurnakan pekerjaan
Roh dalam Hukum Taurat (lihat Lukas 24:44). Kristus bersabda: "Akulah jalan..."
(Yohanes 14:6). Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui
Aku" (Yohanes 14:6).
Yesus telah
dicobai Iblis setelah berpuasa selama 40 hari 40 malam. Sekiranya Yesus kalah
terhadap tipu muslihat dan bujukan Setan serta tunduk pada kesadaran otak, maka
sudah tentulah Ia akan menikah, bekerja, berbisnis, berperang, atau menjadi
raja dunia. Akan tetapi, tubuh jasmani-Nya tunduk kepada Roh (otak
manusiawi-Nya tidak 'terpisah' dari kesadaran Roh). Otak Yeshua senantiasa
terhubung (linked) dengan
roh-Nya, dan Roh Yeshua senantiasa 'satu' dengan Roh Bapa di sorga. Oleh karena
itu, Yeshua senantiasa sadar dan tanggap akan realitas alam roh. Kekuatan Roh
Yesus adalah Ilahi (Mighty
God), karena roh-Nya sepenuhnya Ilahi, dari Alpha dan Omega. Pusat
kesadaran-Nya adalah Roh, dan otak-Nya senantiasa dapat berkomunikasi dengan
Roh dan alam roh; Yesus adalah manusia rohani sejati (true spiritual man).
Roh Tujuh Karunia adalah Kristus: Messiah
Yesaya menjelaskan Roh yang ada pada Yesus menurut nubuat
dalam kitab Yesaya 11:2–4 dengan merinci ketujuh karunia Roh Kudus. Pada
hakikatnya, karunia Roh Kudus bersifat tak terbatas (infinite), namun Allah
menjelaskannya berdasarkan nubuat bahwa pada Kristus terdapat tujuh karunia
Roh, tetapi semuanya adalah satu. Pernyataan tersebut merupakan suatu
konsistensi (consistency)
dari Roh nubuat.
"Takut
akan TUHAN" adalah salah satu dari ketujuh pilar karunia Roh yang
dianugerahkan kepada manusia yang "terluka" agar ia dilahirkan
kembali, serta bertumbuh dan memahami bagaimana karunia-karunia Roh Kristus
tersebut bekerja/beroperasi dalam menggenapi Firman. Ketujuh karunia Roh itu
beroperasi untuk 'menerangi' mereka yang berjalan dalam ziarah iman.
Manusia dan karunia
"takut akan Tuhan:"
Tetapi, oleh karena Yesus adalah Tuhan, maka adalah lebih
praktis bagi kita untuk belajar dan menyelami inti sari "takut akan TUHAN" dari perspektif
rohani seorang percaya, yaitu manusia "terluka" yang normal dan
senantiasa berdosa seperti Raja Daud. Sewaktu hidupnya, Raja Daud mempunyai
delapan istri, dan tentu saja sebagai raja ia mampu menambah jumlah gundiknya
kapan saja. Namun, Daud bersaksi: "Siapakah orang yang takut akan TUHAN?
Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya" (Mazmur 25:12). Raja
Daud juga menjelaskan bahwa "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut
akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka" (Mazmur
25:14).
Allah bekerja (menebus dan
menyelamatkan) melalui perjanjian-perjanjian dan juga melalui nama-Nya yang
tidak berubah (immutable names of
God), seperti penyataan dalam Keluaran 34:5–7. Ia bekerja menurut
Firman-Nya. Keterangan bahwa "...nama-Nya ialah: 'Firman Allah'"
berarti pekerjaan atau karya-Nya adalah menurut Firman-Nya sendiri. Daud
bernyanyi: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang
melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk
selamanya" (Mazmur 111:10).
Dalam hubungan dengan Roh
Allah, urusan menghakimi dengan benar berarti mendengar suara Roh Allah
terlebih dahulu sebelum membuat penilaian tentang suatu perkara rohani. Jika
dilihat dari moralitas menurut penghakiman pikiran manusia yang cenderung menghakimi,
Raja Daud bukanlah sosok yang ideal atau sempurna sebagai 'orang benar' maupun
sebagai "mulut" Allah, namun ia diberikan "anugerah
Firman." Daud yang dipilih Allah amat responsif terhadap anugerah
"takut akan TUHAN." Yesus bersabda bahwa lirik-lirik Mazmur adalah
Firman yang harus Ia genapi (Lukas 24:44); sebagian besar lirik lagu nyanyian
dalam Kitab Mazmur adalah Firman dari Roh Allah yang terjalin dengan lirik
karangan para nabi, termasuk hasil karya Raja Daud.
Anugerah
"Firman" membuat segala sesuatu tidak ada yang mustahil bagi Raja
Daud, dan takhtanya terus diteguhkan oleh Firman. Pernah Engkau berbicara dalam
penglihatan kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu:
"Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan, telah Kutinggikan
seorang pilihan dari antara bangsa itu." Firman itu bersuara: "Aku
telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak
Daud
memberitahukan dalam lirik nyanyiannya: "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105). Daud mempunyai hubungan yang intim secara "Roh
dan roh" (deep calls to deep) dengan Roh Pencipta, yaitu YHVH. Maka,
ia bersaksi tentang mereka yang diurapi: "Maka
berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan
diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,
disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka
dari liang kubu
Daud memastikan agar penerus takhtanya
menimba pengalaman hikmat, pengertian, dan pengetahuan dalam rasa "takut
akan TUHAN." Namun anaknya, Raja Salomo, turut mewarisi praktik poligami
ayahnya, bahkan nafsunya berlipat ganda dibandingkan ayahnya; tercatat bahwa
Salomo mempunyai 700 istri dan 300 gundik (1 Raja-raja 11:3). Walaupun
demikian, Salomo turut bersaksi seperti ayahnya, Daud: "Takut akan TUHAN
adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan
didikan" (Amsal 1:7).
Salomo mengumpamakan karunia
"takut akan TUHAN" sebagai suatu dorongan hidup yang kuat,
sebagaimana kita didorong dalam mencari uang atau mengejar harta kehidupan: "...jikalau
engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta
terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan
mendapat pengenalan akan Allah" (Amsal 2:4–5). Namun, "dorongan
karena kesadaran" roh itu hanyalah permulaan dan harus berkesinambungan.
Jikalau kita melihat bahwa mengenal Allah adalah "Sumber" kehidupan
yang "memperkaya" kehidupan rohani, maka tentu saja kita akan
bermotivasi positif dalam "takut akan TUHAN."
Karunia
"takut akan TUHAN" yang aktif bekerja dalam roh seseorang akan
memampukan orang percaya mengerti perumpamaan Yesus tentang pokok anggur dan
ranting-rantingnya, serta memungkinkan ia berkata dari isi hatinya yang
terdalam bahwa tanpa Kristus ia tidak dapat berbuat apa-apa berhubungan dengan
pekerjaan atau kehendak Roh Allah (Firman): "Akulah pokok anggur dan
kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam
dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa" (Yohanes 15:5). Raja Daud yang dianugerahi rasa "takut akan
TUHAN" berkata dalam Mazmur 16:2: "Aku berkata kepada TUHAN:
'Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagi-Ku selain Engkau!'" Meskipun
Daud beristri delapan, karunia roh "takut akan TUHAN" setia bekerja
dalam roh Raja Daud. Oleh karena itu, roh Daud memang penurut, tetapi seperti
kita, tubuh jasmaninya (yang berpusat pada intelek/otak) memang lemah; tubuh
jasmani memang senantiasa berdosa. Maka, Daud berpaut kepada kesetiaan Allah,
bukan sebaliknya. Kita mengejarnya seperti mencari uang bukanlah karena kita
setia, melainkan karena roh kita didorong oleh anugerah karunia "takut
akan TUHAN."
Nabi
Yesaya, mulut Allah yang dipanggil ketika Raja Uzzia mangkat, bernubuat bahwa
"takut akan TUHAN" adalah anugerah/karunia Roh Allah, karena itu
merupakan salah satu dari tujuh manifestasi Roh Raja Damai yang dinubuatkan
akan digenapi pada waktu yang ditetapkan di masa depan: "2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian,
roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; 3 ya,
kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak
akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusa
Setelah lebih dari 700 tahun sejak tanggal nubuat yang diberikan Allah kepada Yesaya, ketika Raja Damai datang sebagai "Firman yang menjadi daging," Ia (Kristus) bersabda: "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yohanes 17:3). Kristus adalah Hikmat. Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa diberitakan oleh Rasul Paulus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (gentiles): "2...supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, 3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:2–3).
"Hikmat" itu adalah Kristus, dan Kristus itu adalah "Firman". Ketujuh Roh, ketujuh karunia itu adalah Roh Kristus: Firman. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10).
"...dan
nama-Nya ialah: 'Firman Allah'" (Wahyu 19:13). Pekerjaan atau misi-Nya
ialah Firman/Tuhan. Dalam nubuat, "nama" berarti karya Ilahi/misi (divine handiworks/mission).
Karya Tuhan bekerja/beroperasi secara tujuh kelipatan (sevenfold). Oleh karena
itu, Kristus, Roh Kudus, dan Allah Bapa adalah tujuh kelipatan; karya mereka
baik dalam penciptaan, pendamaian, maupun dalam penghakiman dan penghukuman
adalah dalam kelipatan tujuh, yaitu berdasarkan operasi tujuh karunia
asas/pilar Roh. Yesus Kristus sebagai Hakim adalah Allah: tujuh mata, tujuh
tanduk, dan tujuh Roh.
Menurut Roh,
"nama" yang dinyatakan (revealed) oleh Surgawi berarti 'pekerjaan
Ilahi' (Divine Handiwork). "...nama-Nya ialah: 'Firman Allah". Jika
tidak ada Firman yang dianugerahkan kepada manusia, tidak ada manusia yang
mengetahui pekerjaan Roh Allah. Firman itu telah dibaluti daging: "Firman
itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat
kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal
Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" (Yohanes 1:14). Pekerjaan manusia
secara jelas dinubuatkan dengan ungkapan profetis: makan dan minum, menikah dan
mengawinkan, membuat batu bata, serta 'membeli atau menjual'. Jadi, pekerjaan
manusia tanpa percaya kepada Allah amat jauh berbeza/berbeda dengan pekerjaan (handiwork)
Roh Allah Pencipta!
Mengapa pula
"Firman" harus menjadi manusia? Karena Allah Bapa bekerja
menganugerahkan "Jalan" menurut Firman (Lukas 24:44), supaya umat
manusia yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan mendapat anugerah kehidupan
kekal. Pekerjaan Roh Allah adalah mengutus "nama-Nya" dalam pribadi
Kristus. "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah
kebenaran" (Yohanes 17:17). "Rohlah yang memberi hidup, daging sama
sekali tidak berguna" (Yohanes 6:63). Maksudnya, daging (pikiran manusiwi)
tidak digunakan untuk melakukan pekerjaan Roh, sehingga daging perlu
dikesampingkan dalam mengerjakan pekerjaan Roh. "Perkataan-perkataan yang
Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63). "...dan
nama-Nya ialah: 'Firman Allah" (Wahyu 19:13).
"Allah
itu Roh..." (Yohanes 4:24). Firman adalah Karya (handiworks) Roh Allah.
Pekerjaan manusia, sebaliknya, adalah daging yang berpusat pada 'otak/intelek'.
Pada mulanya, manusia diciptakan dengan pusat kesadaran pada rohnya. Kemudian,
ketika manusia berdosa, ia membawa seluruh keturunannya kepada kesadaran (consciousness)
yang berpusat pada 'otak'. Terpisahnya kesadaran roh manusia dari hadirat Roh
Mahakudus Allah memperlihatkan perubahan pusat kesadaran kehidupan. Meskipun
masyarakat dahulu kala dikatakan dekat dengan 'kesadaran' alam roh, itu
bukanlah kesadaran akan realitas Roh Allah. Tidak ada "Jalan" menuju
realitas Roh Allah melainkan Kristus.
Namun,
sesungguhnya ada banyak jalan bagi alam roh; pada zaman Nuh, hanya Nuh yang
'berjalan' mengikuti 'jalan' Allah, sedangkan orang-orang seangkatan dengannya
hidup menurut jalan-jalan mereka sendiri. Demikian juga halnya dengan kehidupan
Henokh. Setelah Henokh berumur 65 tahun dan memperanakkan Metusalah, "Dan
Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia
memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan
perempuan" (Kejadian 5:22). Henokh bergaul dengan Allah karena Allah
menganugerahkan "jalan" kepadanya, yaitu "Firman".
"Firman"
adalah Roh karena berasal dari Roh Allah. Setiap Firman yang keluar dari
"mulut-Nya" disertai oleh malaikat-malaikat kudus untuk melaksanakan
kehendak Allah sesuai dengan maksud Firman itu. Mazmur Daud memberi kita ilham
dan pengertian: "Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai
pahlawan-pahlawan perkasa yang melakukan firman-Nya dengan mendengarkan suara
firman-Nya" (Mazmur 103:20). "Perkataan-perkataan yang Kukatakan
kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63). Dalam setiap Firman yang
diucapkan Tuhan, selalu ada malaikat-malaikat pelayan yang ditugaskan untuk
menggenapi/melaksanakan Firman tersebut!
Perkataan
manusia bukanlah roh karena berasal dari otak manusia (daging), dan tidak ada
roh yang melaksanakan perkataan manusia kecuali jampi serapah. Jampi serapah
ahli sihir memang melibatkan roh, tetapi roh itu bukan berasal dari
malaikat-malaikat-Nya. Yohanes memulai Injilnya dengan kata-kata pembuka: "Pada
mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu
adalah Allah" (Yohanes 1:1). Oleh karena itu, Firman hanya akan menjadi
"pedang Roh" apabila dipakai oleh Roh Kudus. Jika Firman dipakai oleh
otak/intelek semata, Firman tidak memiliki kuasa untuk menjadi "pedang
Roh", melainkan sekadar transaksi intelek. Orang percaya yang "sumbu
rohnya" (spiritual heart) senantiasa diurapi oleh hadirat Roh Kudus akan
mendengar suara Roh terlebih dahulu mengenai penggunaan Firman yang tertulis
dalam Kitab Suci. Jika otak yang memegang atau menggunakan Firman, hal itu
tidak menyembuhkan, melainkan sekadar daya tarik intelektual (intellectual
fascination).
Roh Kudus
adalah Roh Allah Bapa yang bekerja di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Anak
adalah Roh yang dibaluti daging, karena Roh tidak dapat menjadi Anak Domba
Allah tanpa tubuh daging. Maka, Roh mengambil tubuh manusia agar Ia memiliki
daging dan darah untuk menggenapi penumpahan darah (penebusan umat manusia yang
terluka), serta agar Firman menurut Lukas 24:44 dapat digenapi. Maria dipilih
untuk menyediakan tubuh jasmani, tetapi Roh Kudus yang menjadi Roh-Nya;
nama-Nya ialah Yesus Kristus: Mesias/Almasih. Oleh karena itu, "Anak
Manusia" merujuk pada kemanusiaan-Nya, dan "Anak Allah yang
Mahatinggi" merujuk pada keilahian-Nya—Roh-Nya. Naungan Bapa di bumi yang
memberdayakan umat-Nya disebut Roh Kudus. Bapa ada di sorga. Bapa, Anak, dan
Roh Kudus adalah Satu Roh.
"Tetapi
apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi
segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan data
Mereka yang diberikan anugerah
"takut akan TUHAN" akan mengenal Allah. Keseluruhan anugerah ada pada
Kristus (Raja Damai). Maka, Kristus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Rasul
Paulus, yang dianugerahi rasa "takut akan TUHAN" oleh Allah,
meluahkan keinginannya untuk mengenal-Nya lebih dalam. Ia berkata: "Karena
bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Filipi 1:21).
Ketika Yesus masih di bumi, Dia bersabda: "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau
kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (Yohanes 15:14).
"Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain"
(Yohanes 15:17). Hakikat kehidupan yang dibaluti daging memang amat sukar untuk
mengasihi, karena roh penurut tetapi daging (pikiran manusiawi) lemah!
Doa Raja Daud berbunyi:
"TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya
memberkati umat-Nya dengan sejahtera!" (Mazmur 29:11). Kekuatan datang
hanya dari urapan hadirat Roh Kudus yang dijanjikan untuk menggenapi dan
meneruskan realitas 'Immanuel'. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan
roh ketakutan, melainkan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan
ketertiban" (2 Timotius 1:7). Utusan surgawi juga memberikan kekuatan
selain Roh Kudus, seperti malaikat-malaikat: "Maka seorang
malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan
kepada-Nya" (Lukas 22:43).
Nabi Daniel diberikan
kekuatan oleh malaikat Tuhan: "Ketika dikatakannya hal ini kepadaku,
kutundukkan mukaku ke tanah dan aku terkelu. Tetapi sesuatu yang menyerupai
manusia menyentuh bibirku; lalu kubuka mulutku dan mulai berbicara, kataku
kepada yang berdiri di depanku itu: 'Tuanku, oleh sebab penglihatan itu aku
ditimpa kesakitan, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. Masakan aku, hamba
tuanku ini dapat berbicara dengan tuanku! Bukankah tidak ada lagi kekuatan
padaku dan tidak ada lagi nafas padaku?' Lalu dia yang rupanya seperti manusia
itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan, dan berkata: 'Hai engkau
yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah
kuat!' Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan berkata:
'Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan'"
(Daniel 10:15–19).
Untuk apakah kekuatan itu? Supaya kita dapat melaksanakan ibadah menurut "Doa Bapa Kami". Kehendak Roh Bapa ringkasnya dinyatakan di setiap baris "Firman" dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami kelihatan sederhana, namun untuk melaksanakan setiap maksud yang ada dalam doa itu, kita memerlukan kekuatan Roh Allah. Bukankah kita memerlukan kekuatan untuk memuliakan Allah? Bukankah kita memerlukan kekuatan Roh supaya kita dapat 'makan' Firman dengan sempurna? Kita memerlukan kekuatan supaya kita dapat mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita memerlukan kekuatan-Nya untuk mengaminkan semua kehendak-Nya, dan juga supaya orang yang dianugerahi "takut akan TUHAN" dapat meneruskan perjalanan iman, meskipun 'seolah-olah' ia sedang berjalan dalam kegelapan. Kegelapan itu secara singkat berarti tidak ada suara Tuhan, sehingga doa terasa satu arah. Bagi kebanyakan orang percaya, kegelapan dapat berarti ketiadaan tanda-tanda berkat dari Allah. Pandangan radikal melihat "kegelapan" sebagai ketiadaan Roh Kudus yang turun menganugerahkan hadirat-Nya, atau tidak ada cahaya yang bersinar di atas kepala.
Ayub
bersaksi tentang hadirat Roh Terang dengan berkata: "...ketika pelita-Nya
bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam
gelap" (Ayub 29:3). Orang percaya yang seolah-olah tidak mengalami hadirat
Roh Kudus juga dikatakan berjalan dalam gelap: "Siapa di antaramu yang
takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam
kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama
TUHAN dan bersandar kepada Allahnya!" (Yesaya 50:10). Misi Raja Damai
menjadi daging adalah sebagai "Anak Domba Allah yang menghapus dosa
dunia". Bapa
menganugerahkan Yesus sebagai 'Jalan' (Yohanes 14:6) untuk mengenal Roh Allah,
dan orang-orang percaya dipanggil sebagai "pengikut Jalan" (followers
of the Way). Yesus Kristus adalah "Jalan" untuk memohon
"karunia takut akan TUHAN".
Yesus
bersabda: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang
berkata kepadamu: 'Berilah Aku minum!', niscaya engkau telah meminta kepada-Nya
dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup" (Yohanes 4:10). Karunia Roh
itu datang dan pergi, sebagaimana urapan Roh itu turun dan berlalu. Oleh karena
karunia adalah operasi pribadi Roh Kudus dan tidak tinggal secara permanen
dalam roh manusia, karunia tersebut tertakluk/tergantung pada keadaan "bait"
(roh) orang percaya. Karunia bekerja setiap kali ia turun atas sumbu roh
manusia. Oleh karena itu, karunia harus "dikejar" seperti mencari
uang, dan karunia itu perlu dipohon dari Allah Bapa sepanjang hayat kita dalam
perjalanan iman. "Kebergantungan hidup pada Pencipta" adalah
"buah/hasil" yang muncul dalam roh orang percaya karena operasi
karunia "takut akan TUHAN"; pada akhirnya, ia akan benar-benar
menjadi ranting, dan Kristus adalah pokoknya. Ranting hidup (dependency) juga sinonim dengan frasa
"the fear of the Lord". Oleh sebab itu, 'independensi' atau 'kehidupan yang tidak
bergantung' pada Roh Allah (Firman) dapat diungkapkan dengan frasa "tidak
takut akan TUHAN". Namun, di atas semuanya, kemenangan bukanlah karena
kesetiaan manusia, melainkan karena kesetiaan hati Allah. Jika demikian, tidak
ada yang dapat dimegahkan dalam kehidupan kerohanian melainkan mengucap syukur
dan mempersembahkan korban syukur, karena Allahlah yang benar-benar setia dalam
segala Firman-Nya.
Maka, kesimpulan ringkas perihal "takut akan TUHAN" menurut lirik lagu Raja Daud adalah: "Carilah TUHAN" (mencari karena didorong oleh anugerah "takut akan TUHAN") "dan kekuatan-Nya" (kekuatan dari Roh Allah), "carilah wajah-Nya" (hadirat-Nya) "selalu!" (Mazmur 105:4). Mencari Allah adalah 'bisnis' yang suci. Tanpa pekerjaan Bapa yang dinyatakan oleh Kristus, sia-sialah pencarian itu. Mereka yang "lapar" akan Allah harus mengikuti 'Jalan', melalui 'Pintu', dan memegang 'Kunci' menuju hadirat Roh Kudus, yaitu Kristus (Yohanes 14:6; Yohanes 10:1–9; Matius 5:8).
Misi dan operasi ketujuh karunia Roh Allah dialah yang memimpin seorang
manusia yang "terluka" sehingga ia percaya (100% percaya) kepada
"Firman". Kristus adalah kepenuhan hikmat Ilahi. Raja Salomo
bersaksi: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang
Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10). Roh manusia yang
"terluka" tidak akan mampu merindukan Firman jika tidak ada anugerah
karunia "takut akan TUHAN" yang menyentuh rohnya. Oleh karena itu,
hal ini menjawab pertanyaan dasar: bagaimana mungkin manusia yang kesadarannya
(consciousness) "berpusat pada otak" dapat mengatakan bahwa Firman
(Roh Allah) adalah Sumber hidupnya?
Raja Salomo membagikan kesaksiannya: "Permulaan hikmat adalah takut
akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian" (Amsal 9:10).
"Takut akan TUHAN" itu ibarat mengejar harta terpendam, demikian ujar
Raja Salomo. Yesaya bernubuat bahwa "takut akan TUHAN" adalah harta
Tubuh Kristus (profetis Sion): "Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan
yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta
benda Sion" (Yesaya 33:6).
Tidak ada intelek manusia "terluka" yang dapat mengenal Roh
Allah, melainkan melalui anugerah Roh Allah (Firman) yang bekerja/berkarya
menurut operasi ketujuh karunia Roh Kudus di dalam roh manusia. Rasa
"takut akan TUHAN" menjadikan manusia yang terluka akhirnya mengerti
maksud asal penciptaan manusia rohani (blueprint/design yang semula), yaitu
sepatutnya bergantung penuh kepada Sang Pencipta. Hal ini sebagaimana
diperlihatkan oleh Yesus sewaktu misi-Nya dalam daging, yang bergantung secara
total kepada kehendak-kehendak Allah Bapa.
Kehidupan 'ranting' ada karena ia bergantung penuh kepada 'Pokok'; roh
manusia hanya dapat diumpamakan sebagai ranting apabila ada karunia "takut
akan Allah" yang beroperasi di dalam roh manusia. Tidak mengherankan jika
Raja Salomo mengumpamakannya seperti mencari uang (perak) atau mengejar harta,
karena kehidupan yang berpusat pada 'otak' sesungguhnya 'bergantung' pada
uang/harta. Maka, kebergantungan (dependency) itu hanya dimungkinkan dalam
kehidupan kerohanian seseorang apabila operasi Karunia tersebut dianugerahkan
oleh Roh Kudus. "Ya!... Di luar Kristus, aku tidak dapat berbuat
apa-apa!" kata seorang manusia rohani (hal ini bukanlah ketiadaan
kapasitas intelektual, melainkan ketiadaan kemampuan pada roh manusia itu
sendiri). Oleh karena itu, roh manusia yang tidak memiliki kebergantungan (dependency)
kepada Roh Allah dapat pula diungkapkan dengan frasa tidak "takut akan
TUHAN". Amin.
Glosarium
- Manusia
"Terluka" ~ Keturunan Adam yang berdosa. Pusat kesadarannya (consciousness)
dominan menjurus pada kapasitas intelek dan aktivitas sistem sarafnya,
yaitu kebergantungan pada keinginan daging. Oleh karena itu, manusia
"terluka" menafsirkan arti hidup dengan kekuatan pikirannya.
Manusia "terluka" membutuhkan Yeshua untuk menerima berkat
penyembuhan atas luka-luka hidupnya. Dosa adalah rekaman (informasi) di
dalam roh seseorang dan rekaman dosa itu merupakan penyakit roh,
sebagaimana pertumbuhan kanker pada tubuh jasmani. Penyakit itu perlu
dihapuskan demi penyembuhan roh. Oleh bilur-bilur-Nya (Anak Domba Allah),
kita disembuhkan!
- Manusia
yang Tidak "Terluka" ~ Roh Adam adalah
suci sebelum ia jatuh ke dalam dusta Satan, hingga kuasa dosa mulai
mengubah hidupnya. Sebelum jatuh ke dalam kuasa dosa, ia belum 'terluka", sehingga ia masih layak tinggal di Taman
Eden/Firdaus. Ada satu lagi Manusia yang tidak 'terluka', yaitu
Adam yang kedua, yakni Kristus. Roh-Nya adalah Ilahi, yaitu Yesus Kristus
(lihat identitas Kristus dalam Yesaya 9:5 dan Yesaya 11). Pusat
kesadaran-Nya (consciousness) dominan berpusat pada roh-Nya. Kedua-duanya
adalah manusia rohani sejati, namun Roh Yesus adalah Ilahi, sedangkan roh
Adam yang pertama adalah 'roh manusia yang suci' sebelum ia jatuh ke dalam
dosa.
Adam yang pertama memang suci, tetapi tidak dianugerahi ketujuh karunia
Roh karena ia bukanlah Roh Ilahi—kecuali apabila Roh Kudus turun atasnya,
sehingga ia menjadi seumpama Kristus. Namun, roh Adam yang pertama bukanlah Roh
Ilahi, sedangkan Roh Kristus adalah Ilahi (divine) [lihat Yesaya 9:5]. Jika
diperbolehkan membuat perumpamaan, Roh Kristus itu seperti pedang, sedangkan
roh Adam sekadar sarung pedang. Memang roh manusia diciptakan untuk
berkomunikasi dengan Sang Pencipta, sebagaimana hubungan antara pedang dan
sarung pedang! Roh dari 'Manusia-Yesus' adalah kepenuhan ketujuh karunia karena
Roh-Nya, dari Alfa sampai Omega, adalah Ilahi. Kebergantungan hidup pada Roh
Allah adalah pesan dari Pohon Kehidupan. Oleh karena itu, mereka yang
dianugerahi rasa "takut akan TUHAN" dibimbing oleh Roh sehingga
memiliki hubungan seperti perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya,
yaitu suatu kebergantungan rohani (spiritual dependency).
- Luka-luka ~
Melalui bilur-bilur-Nya sebagai Anak Domba Allah, Raja Daud menyanyikan
lirik profetis: "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan
membalut luka-luka mereka" (Mazmur 147:3).
Ketujuh
Karunia Roh Kudus
(Ayat 1) Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan
tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.(Ayat 2) Roh TUHAN akan ada padanya, yaitu [1]
roh hikmat dan [2] (roh) pengertian, [3] roh nasihat dan [4] (roh) keperkasaan,
[5] roh pengenalan dan [6] (roh) takut akan TUHAN; (Ayat 3) ya, kesenangannya [7]
(sukacitanya) ialah takut akan TUHAN.
(Yesaya 11:1–3)





