(Binatang dalam Wahyu 12--rujuk link Siri I)
Prolog
Prolog renungan sebelum
memasuki hikmah makrifat penafsiran bagi binatang-binatang dalam Kitab Wahyu
ini berpandukan pada nubuatan Nabi Yesaya dalam Alkitab Terjemahan Baru, Yesaya 46:9–10:
"9 Ingatlah hal-hal
yang dahulu sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang
lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, 10 yang memberitahukan dari
mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana,
yang berfirman: Keputusan-Ku akan tercapai, dan segala kehendak-Ku akan
Aku laksanakan,"
Mengenali identiti "kota" yang dinubuatkan dalam Wahyu 17 disingkapkan oleh identitas "bangsa" yang berkaitan erat secara nubuat dengannya.
Setelah ketujuh cawan murka dan kategori murka yang ketiga itu selesai dinyatakan kepada Santo Yohanes, Tuhan menunjukkan hukuman atas pelacur besar yang duduk di tempat yang banyak airnya. Dalam penafsiran nubuatan Wahyu 17, kita memerlukan roh pengertian, roh hikmat, dan roh pengetahuan mengenai identitas pelacur dan identitas binatang tersebut.
Hanya ada dua identitas "perempuan" dalam seluruh penyampaian firman di Kitab Suci: "Perempuan" yang menganut agama Perjanjian Lama dan "Perempuan" yang menganut agama Kristen Perjanjian Baru.
Namun, perempuan Perjanjian Baru tidak mungkin menjadi "pelacur" sebab ia senantiasa dianugerahkan jaminan "kasih setia" dan pengampunan oleh Anak Domba Allah, yaitu Kristus ("kesetiaan Kristus", bandingkan 1 Yohanes 1:8–10; Wahyu 19:11). Maka, "pelacur besar" yang dinyatakan secara simbolis dalam Wahyu 17 ini merujuk kepada "perempuan" yang menganut agama Perjanjian Lama. Kita tidak bingung mengenai binatang merah ungu itu sebab ia adalah pemerintah dunia di jam terakhir akhir zaman. Yang membingungkan adalah "saat" dan di mana nubuatan ini digenapi. Sebelum kita melihat perinciannya, adalah bijaksana untuk melihat petikan Yesaya 46:9–10 sekali lagi.
Tuhan menyatakan melalui Nabi Yesaya bahwa hal yang terjadi kemudian (pada akhir zaman) telah diberitahukan dari mulanya, yaitu sejak zaman purbakala. Melalui kacamata hikmat makrifat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya tersebut, kita akan menelusuri awal permusuhan antara "perempuan" dan "binatang" naga itu. Tentu ada nubuatan pada zaman purbakala yang memberitahukan permulaan perseteruan tersebut yang terbawa hingga akhir zaman. Kita kembali kepada permulaan permusuhan antara "perempuan" dan "naga" menurut nubuatan Ilahi yang dicatat dalam Kejadian 3:15.
“15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular tua) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3: 15).
Berpandukan nubuatan di atas, kita diberitahu bahwa "perempuan" itu telah dinubuatkan akan bermusuhan dengan Ular Tua dan keturunannya di sepanjang zaman manusia. Jelas sekali bahwa Tuhan turut menyatakan bahwa Ia mengadakan permusuhan antara Tuhan dan "perempuan" itu karena perempuan itu adalah manusia yang "terluka". Jika perempuan itu tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan, tentu Tuhan akan membiarkan keturunan si Ular Tua mematuk tumit perempuan itu. Dan jika perempuan itu diperdamaikan dengan Roh Tuhan, perempuan itu akan meremukkan kepala keturunan-keturunan si Ular Tua.
Perempuan pelacur besar itu mewakili bangsa Ibrani yang tetap menamakan diri mereka sebagai penyembah-penyembah Tuhan YHVH menurut Perjanjian Lama. Pada masa kini, mereka sedang menduduki reruntuhan-reruntuhan Tanah Suci yang dibangun kembali. Mereka membangunnya kembali ketika menggenapi nubuatan para nabi seperti frasa "yang dijemput" oleh Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 37:21; frasa "Yerusalem dibelah dua" oleh Nabi Zakharia dalam Zakharia 14:2; dan kelak setelah Kristus kembali akan ada pemulihan "144.000 dari bangsa Israel" menurut nubuatan Santo Yohanes dalam Wahyu 7:4 dan Wahyu 14:1–5; serta "istri-Ku dalam kesetiaan" dalam Hosea 2:19. Meskipun mayoritas penduduk Israel tidak percaya kepada "Jalan" penyelesaian dosa di dalam "nama" Anak Domba Allah, Tuhan tetap menepati firman-Nya melalui Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 36:24:
“Aku akan 'menjemput kamu' dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.”
Namun, jemputan ini belum menggenapi pemulihan penuh bangsa Ibrani. Negara Israel yang ada sekarang hanyalah menggenapi "jemputan" Tuhan untuk menduduki kembali Tanah Perjanjian.
Kemerdekaan negara Israel pada tahun 1948 M dan operasi-operasi Aliyah [1] (pulang ke Tanah Suci) hanyalah menggenapi nubuatan "jemputan" tersebut. Pemulihan yang ditanyakan oleh rasul-rasul Kristus dalam Kisah Para Rasul 1:6–7, yang berbunyi: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”, jelas terjawab oleh Wahyu 7:4, di mana sebanyak 144.000 orang dari kedua belas suku Israel kelak akan dimeteraikan dengan “meterai Allah yang hidup.” Pemulihan kerajaan Israel secara rohani hanya dapat dimulai dengan “meterai Allah yang hidup.” Yesus menjawab pertanyaan itu: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”
Kedua belas suku kaum Bani Israel dinubuatkan sebagai dua belas (12) bintang, sebagaimana dalam mimpi Yusuf. Lirik dalam Kitab Mazmur 147:2, 4 berbunyi: “2 ... Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai. ... 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama mereka semuanya.”
Kelak, apabila Yeshua kembali, dinubuatkan bahwa ada 12.000 orang dari "setiap bintang" keturunan Yakub (the House of Jacob). Namun satu bintang, yaitu suku Dan, telah dikeluarkan dari daftar nubuat Tuhan, dan suku Manasye telah diangkat sebagai salah satu dari bintang-bintang keturunan Yakub tersebut menggantikan Dan yang hilang dalam daftar 12.
Yesus menyatakan bahwa mereka akan menerima kuasa dari Bapa jika Roh Kudus turun ke atas mereka. Oleh karena itu, perihal pemulihan kerajaan Israel akan dijelaskan oleh Roh Kudus kelak. Yesus menyarankan agar bangsa Israel yang menganut kepercayaan Perjanjian Baru menerima Roh Kudus terlebih dahulu, barulah nanti mereka mengerti perihal pemulihan kerajaan Israel. Pemulihan itu mencakup dua hal, yaitu pemulihan kepada penyembahan roh melalui "Jalan", dan yang kedua adalah pemulihan kerajaan di Tanah Suci. Bangsa-bangsa yang percaya kepada "Jalan" akan mengecap status sebagai "keturunannya": "anak-anak" (offspring) dari "perempuan" menurut roh nubuatan (Wahyu 12:17 dan Kejadian 3:15).
Meskipun surat-surat para rasul menyatakan bahwa Gereja adalah mempelai Kristus—sehingga Gereja adalah "perempuan"—namun berdasarkan Kejadian 3:15, Wahyu 12:17, mimpi Yusuf dalam Kejadian 37:9, dan penglihatan Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1, kata "perempuan" dalam Kitab Wahyu merujuk khusus kepada bangsa Ibrani, baik mereka menganut agama Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Maksud penulis adalah arti istilah "perempuan" secara khusus dilihat berdasarkan bahasa nubuatan dalam Wahyu 12:17, Kejadian 3:15–16, Wahyu 12:1, dan Kejadian 37:9. Jika dilihat berdasarkan surat rasul-rasul, bangsa-bangsa lain yang menjadi pengikut Jalan memang dipanggil sebagai mempelai Kristus. Namun, penafsiran Wahyu 17 didasarkan pada bahasa nubuatan yang khusus tersebut. Pada masa kini, orang Ibrani yang menganut agama Perjanjian Baru mewakili persentase minoritas di Tanah Suci dibandingkan dengan orang Ibrani yang menganut agama Perjanjian Lama.
Mengapa "perempuan" ("kota") itu disebut Pelacur Besar?
Bangsa Ibrani adalah bangsa yang dianugerahi Taurat. Perempuan dalam Kejadian 3:15–16 merujuk khusus kepada bangsa Ibrani yang masih menganut agama Perjanjian Lama; tidak mungkin merujuk kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Namun dalam Wahyu 17, istilah ini merujuk khusus kepada "Kota"—Kota yang mempunyai kaitan istimewa dengan perempuan, yaitu umat Tuhan. Perempuan ini dilahirkan di Mesir melalui Paskah Tuhan. Ketika ia memiliki Tanah yang Dijanjikan, Kota Yerusalem menjadi pusat penyembahan yang berpusat pada Bait Allah, tempat nama-Nya tinggal di sana (rujuk nubuat 2 Raja-raja 23:27). Kehidupan rohani Israel berpatokan pada Bait Allah (Kemah Suci). Oleh karena itu, Pemazmur bernyanyi bahwa ada aliran sungai kehidupan yang mengalir di tengah-tengah Kota Yerusalem, dan sungai itu merujuk kepada hadirat YHVH di Bait Allah tersebut.
Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa Yerusalem adalah istri-Nya (Lihat kata "istri-Ku" dalam Hosea 2:19) yang telah bersundal dengan Mesir, Asyur, dan Kasdim (Babel) dalam Yehezkiel 16. Bahkan, Nabi Yehezkiel turut menguraikan dosa-dosanya dalam pasal ke-22 dan ke-23. Meskipun Wahyu 17:18 jelas menerangkan perwakilan simbolis "perempuan" itu, Kota tersebut tidak dapat dikenali jika kita tidak melihat bangsa yang dinubuatkan secara khusus bersama kota itu. Sebab itulah kita memulai penafsiran Wahyu 17 dari Kejadian 3:15.
Jelas, Yerusalem disindir oleh Tuhan sebagai seorang pelacur ketika Nabi Yehezkiel menyampaikan pesan perihal keadaan Israel yang tidak diperdamaikan dengan YHVH. Oleh karena "perempuan" itu tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan, seluruh bangsa Ibrani ditaklukkan di bawah kekuasaan "keturunan ular tua", yaitu pemerintah-pemerintah dunia—Mesir, Asyur, dan Kasdim (Babel). Rupanya Tuhan membiarkan bangsa-bangsa pemerintah dunia tersebut (Mesir, Asyur, dan Kasdim) sebagai keturunan Ular Tua untuk "meremukkan tumit" perempuan itu, sesuai dengan pemberitahuan-Nya sejak mulanya.
Dalam Yehezkiel 16, hubungan antara Tuhan dan umat Ibrani diumpamakan sebagai hubungan suami-istri. Jika bangsa Ibrani tidak setia, Tuhan akan membiarkannya tanpa perlindungan dari jajahan penguasa-penguasa politik dunia. Maka, bangsa Israel dan Kota Yerusalem ditaklukkan oleh kuasa-kuasa besar dunia, dan penaklukan oleh kuasa dunia inilah yang menjadikan Yerusalem sebagai "Pelacur Besar."
Ia duduk di tempat yang banyak airnya karena Kota Yerusalem pernah dijajah oleh raja-raja bangsa dunia, termasuk monarki Britania. Ia menjadi kota percaturan politik oleh raja-raja dan kuasa-kuasa besar dunia, bahkan masih demikian hingga kini! Binatang-binatang (pemerintah-pemerintah dunia) menurut Kejadian 3:15 adalah keturunan Ular Tua. Mereka adalah pemerintah dunia yang menentang "perempuan" itu. Dalam Kitab Daniel, Nabi Daniel menjelaskan dalam Daniel 7:2–3:
“2 ... Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar, 3 dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.”
Identitas binatang-binatang itu mewakili empat kekaisaran yang akan muncul di bumi (lihat Daniel 7:1–28). Perempuan itu ("Kota") dikaitkan dengan bangsa, yaitu bangsa Ibrani. Binatang merah ungu itu penuh dengan nama-nama hujat. Nama adalah karya atau pekerjaan sebagaimana yang dapat kita pahami melalui Wahyu 19:13 dan Yohanes 1:29. Menurut roh nubuatan, kata "nama" secara ringkas berarti karya (handiwork) atau pekerjaan. Nama-nama hujat artinya karya-karya atau pekerjaan yang menghujat atau menentang Tuhan.
Perbedaan Binatang Merah-Ungu dalam Wahyu 17 dengan "Binatang yang Keluar dari Dalam Laut" dalam Wahyu 13
"Binatang yang keluar dari dalam laut" dalam Wahyu 13 merujuk kepada sepuluh garis keturunan raja-raja Eropa yang muncul setelah binatang keempat yang keluar dari laut berlalu, yaitu Kekaisaran Romawi Purba menurut penglihatan Nabi Daniel dalam Daniel 7:8–9. Sepuluh garis keturunan monarki di Eropa itu telah bertahan hingga sekarang [2]. Penglihatan binatang ke-4 yang keluar dari laut itu diterima oleh Nabi Daniel pada tahun pertama pemerintahan Kaisar Nabonidus, yaitu kira-kira tahun 556 SM. Maka, Tuhan sudah berfirman perihal 10 garis keturunan dalam Kekaisaran Romawi sebelum kekaisaran itu lahir 524 tahun kemudian.
Tujuh monarki dari sepuluh garis keturunan raja-raja itu telah menjadi kuasa penjajah yang menjajah dunia hingga kekaisaran mereka melingkupi muka bumi. Ke mana perginya 3 garis keturunan raja-raja lainnya? Tiga garis keturunan telah bergabung menjadi satu mahkota dalam monarki Kekaisaran Britania. Sementara itu, tiga lainnya telah lama terhapus, yaitu pada masa perang dan pergolakan politik Kekaisaran Kristen Romawi. Sepatutnya ada 13 garis keturunan raja-raja di Eropa; tiga garis keturunan sudah terhapus, dan tiga lainnya telah bergabung menjadi satu.
Ada tujuh monarki Eropa yang dikatakan sebagai Imperialis. Mahkota Paus tidak dimasukkan sebagai keturunan raja karena ia adalah Pemimpin Agama Katolik, dan ia bisa saja tergolong sebagai perempuan (jika darah pejabat Paus tersebut berketurunan Ibrani) atau sekadar berstatus "anak-anak" (jika pejabat Paus adalah bangsa non-Ibrani). Wahyu 12:17 menjelaskan perbedaan antara perempuan dan anak-anak. Perempuan merujuk kepada bangsa Ibrani, sedangkan anak-anak merujuk kepada bangsa-bangsa lain yang telah menjadi pengikut Yesus Kristus.
Maka, "binatang yang keluar dari dalam laut" dalam Wahyu 13 bukanlah binatang merah ungu dalam Wahyu 17, karena tujuh kepala bagi binatang itu merujuk kepada tujuh gunung yang dikaitkan dengan lokasi kota tersebut. Untuk memperjelas pengertian, kita dapat melihat Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai perbandingan saja, di mana dalam organisasi PBB terdapat 'binatang-binatang' elit (cabal) yang memiliki hak veto, seperti Rusia, Tiongkok, Prancis, Amerika Serikat, dan Britania Raya [3]. Maka, 'binatang merah-ungu' dalam Wahyu 17 adalah pemerintah dunia yang mempunyai struktur organisasi mencakup semua negara dan berbagai bangsa di dunia serta memayungi dunia dalam agenda "damai dan aman" (peace and security) [4].
Sedangkan binatang yang keluar dari laut dan binatang yang keluar dari bumi adalah anggota cabal yang sering kali memainkan peran 'monopoli' keputusan bagi binatang merah-ungu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika 10 raja dalam binatang yang keluar dari laut (Wahyu 13) dapat menjadi sepuluh tanduk dalam organisasi global, yaitu binatang merah-ungu dalam Wahyu 17, karena merekalah yang menjadi sekutu utama bagi elit (cabal) gabungan bangsa-bangsa itu.
Oleh karena perempuan itu hanya merujuk kepada umat Tuhan menurut Kejadian 3:15, kota yang pernah "menikah" dengan Tuhan YHVH adalah Kota Yerusalem (Lihat Hosea 2:19). Tuduhan yang menyatakan bahwa Kota Roma atau Kota Vatikan adalah perempuan merupakan penafsiran yang tidak benar karena Kristus tidak menikah dengan kota. Jelas, Yesus Kristus tidak menikah dengan kota manapun di dunia ini, melainkan Ia mempersatukan diri dengan setiap roh umat-Nya, baik dari perempuan Perjanjian Baru maupun bangsa-bangsa yang menjadi pengikut Jalan: "anak-anak" (Wahyu 12:17).
Roh orang percaya (pengikut Kristus) adalah bait Allah karena Roh Kudus turun ke atas roh mereka. Hanya ada satu Kota di dunia ini yang pernah menjadi istri Tuhan, yaitu Kota Yerusalem. Namun, ia telah menjadi pelacur sebagaimana pemberitahuan para nabi, sehingga ia menunggangi binatang merah-ungu tersebut.
Ayat 4:
Kota (perempuan) itu dikatakan menikah dengan raja-raja pemerintah dunia karena ia digambarkan oleh frasa seperti "kain ungu", "kain kirmizi", permata, mutiara, dan cawan emas yang penuh dengan "kekejian" serta "percabulan". Sejak kelahirannya dan sejak bangsa Ibrani merebut Kota itu dari tangan orang Kanaan, kota tersebut telah menjadi pusat percaturan politik bagi raja-raja di dunia.
Tuhan YHVH mengumpamakan Yerusalem sebagai istri-Nya, sebagaimana firman-Nya yang disampaikan oleh Nabi Yehezkiel dalam Yehezkiel 16. Oleh karena umat-Nya (bangsa Ibrani) telah meninggalkan 'jalan' perdamaian yang diajarkan oleh Taurat, akhirnya Tuhan berhenti memberikan perlindungan kepada kerajaan Israel, dan orang Israel mulai dibuang serta diserakkan ke empat penjuru bumi.
Kematian Kristus menurut Lukas 24:44 juga menjadi dosa bagi Kota Suci itu karena menambah kekejian dan percabulannya. Kota itu jauh dari layak disebut sebagai kota suci karena telah menjadi pusat karya (pekerjaan) pemerintah dunia sejak umat-Nya mulai memberontak kepada Tuhan YHVH; kota itu dikatakan mewarisi kekayaan emas dan perak sejak zaman Raja Salomo. Hingga kini, kota tersebut tetap sekadar pusat perdagangan dan salah satu titik terpanas konflik antar-pemerintah di dunia.
Kota itu tidak pernah ditahirkan sebagai istri Tuhan YHVH. Dengan kata lain, kota tersebut memperlihatkan aktivitas bangsa yang dikaitkan dengannya: "kain ungu" yang berarti "politik", "kain kirmizi" yang mengungkapkan dosa-dosa merah kirmizi, serta "permata, mutiara, dan emas" yang merupakan ungkapan pekerjaan manusia atau bangsa yang tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan.
Umat Allah yang sejati makan manna dari surga. Oleh karena itu, nubuatan Wahyu 17:3–5 menjelaskan simbolisme kekejian dan percabulannya: tidak diperdamaikan dengan Roh Tuhan. Dahulu, Bait Allah di Kota Yerusalem adalah tempat Yahweh turun bertahta di bumi sebagaimana pernah Ia genapi pada zaman pemerintahan teokrasi Israel yang berlangsung selama 391 tahun dalam pemerintahan Imamat [5], dan berlangsung selama 511 tahun dalam garis pemerintahan monarki Yehuda [6]. Setelah itu, tempat itu bukan lagi tempat nama Tuhan tinggal (2 Raja-raja 23:27).
Ayat 5:
Pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Sejak ia terpisah dari pernikahan dengan Tuhan YHVH, "tumit perempuan" itu sering kali dikuasai oleh raja-raja di bumi. Jika ia menikah hanya kepada YHVH, tentu ia tidak disebut sebagai pelacur. Akan tetapi, ia telah ditaklukkan oleh banyak pemerintah dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang hingga kini belum menemukan penyelesaian atas konflik di sana. Maka sesungguhnya, ia telah menjadi "Babel besar, ibu dari semua pelacur."
Semua bangsa di dunia (banyak "air") telah terlibat secara langsung dalam konflik Timur Tengah dan Yerusalem. Kita kembali kepada Kejadian 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya;” Keturunan si Ular Tua adalah pemerintah-pemerintah dunia, yaitu bangsa-bangsa di dunia yang non-Ibrani.
Ayat 6:
Kota itu telah disirami darah orang-orang kudus, yaitu nabi-nabi Tuhan. Kota itu juga menjadi tempat penyembelihan saksi-saksi Yesus, terutama pada hari-hari awal karya 'Perempuan-Perjanjian Baru' yang baru saja dilahirkan pada hari Pentakosta. Santo Yohanes sangat heran karena Kota itu sepatutnya disebut Kota Suci bekas istri Yahweh, namun kenyataannya sangat jauh dari gelar tersebut.
![]() |
| The Confusion of Tongues by Gustave Doré (1865) (based upon the minaret of Samarra) [a] [a] Lucarelli, Fosco. The Confusion of Tongues. Socks. 25 december 2015. http://socks-studio.com/2013/07/09/confusion-of-tongues-the-construction-of-the-tower-of-babel/ Kelahiran 'era' atau 'zaman' bangsa-bangsa. Sebelum, "biarlah kita turun...", diproklamirkan ke atas Babel, umat manusia cuma 'satu' bangsa dan satu bahasa sahaja. |
Ayat 8:
Pemerintah dunia yang ditunggangi oleh Kota Yerusalem itu dikatakan: “Ia telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan menuju kepada kebinasaan.” Negara Israel telah memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1948, dan Kota Yerusalem telah dibagi dua oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa menurut formula yang telah dibuat oleh pihak Mandat Britania.
Binatang yang bertanggung jawab atas kelahiran Kota Yerusalem sebagai kota sekuler adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa menurut formula Britania dan didukung penuh oleh Amerika Serikat serta Uni Soviet. Kejadian 11 menjelaskan bahwa bangsa yang bersatu di Babel kuno memenuhi deskripsi frasa “telah ada.”
Bangsa bersatu yang mendirikan menara Babel kuno dan yang bersatu mencari nama bagi umat manusia pada dasarnya secara murni hanyalah satu bangsa saja. Namun kemudian, bangsa itu menjadi banyak bangsa dengan berbagai bahasa tuturan. Berbagai bangsa di dunia dilahirkan di menara Babel kuno karena sebelum itu, mereka berusaha bersatu mencari nama (handiwork) bagi manusia itu sendiri; mereka tidak mencari nama Tuhan. Tuhan mencerai-beraikan mereka ke seluruh muka bumi dengan menumpahkan murka berupa kekacauan bahasa ke dalam berbagai bahasa tuturan.
Kemudian, ia dikatakan “namun tidak ada, dan akan muncul lagi” karena sebelum hukuman Tuhan atas menara Babel kuno ditumpahkan, bangsa di seluruh dunia bersepakat untuk bersatu menjadi satu. Sejak saat itu, kesatuan umat manusia seumpama itu menjadi "tidak ada" untuk jangka waktu yang sangat lama hingga tahun 1945 M. Jangka waktu ketiadaan kesatuan sedunia itulah yang dimaksud dengan “namun tidak ada.”
Masa tersebut juga dikenal sebagai "zaman bangsa-bangsa." Sepanjang masa itu, bangsa-bangsa yang telah ada akibat hukuman Tuhan di menara Babel senantiasa saling bersaing, berperang, dan menguasai satu sama lain; umat manusia di seluruh dunia tidak bersatu menjadi satu sepanjang zaman yang dinubuatkan secara simbolis sebagai “namun tidak ada.”
Namun, setelah Perang Dunia II, yaitu sejak Oktober 1945 M, bangsa-bangsa di dunia mulai mencari nama (karya) dengan bersepakat secara sedunia untuk bersatu mencari nama: “Peace and Security” (Damai dan Aman), yang dilaksanakan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Maka, umat manusia sedunia mulai mencari nama (handiwork) bagi manusia yang bersatu, sebagaimana 'bangsa kuno' bersatu mendirikan Menara Babel. Hanya saja, perbedaan bagi kedua 'kesatuan' tersebut terletak pada aktivitas nama atau pekerjaan manusia.
Karya atau nama manusia itu berbeda karena perbedaan zaman kehadirannya; ia berbeda dari segi kemajuan teknologi dan gaya hidup. Namun, keduanya memiliki persamaan karena kedua menara 'bersatu' itu sama-sama mencari nama, dan nama (karya manusia) tersebut pada akhirnya bertambah kuasa merebut penyembahan manusia kepada Tuhan. Bukankah sejak dunia sepakat untuk bersatu pada tahun 1944 dalam nama "membeli dan menjual", manusia di seluruh bumi telah mulai diperhambakan untuk menyembah Mamon? Namun, karya itu diterima oleh umat manusia karena sangat praktis dan mempermudah transaksi perdagangan domestik maupun internasional (seluruh dunia).
Menara yang mereka
dirikan dan nama yang mereka cari itu merebut penyembahan yang seharusnya
ditujukan kepada Tuhan yang Maha Esa. Manusia, menurut rancangan (design)
rohnya, seeloknya mengikuti hikmat Surgawi untuk mencari nama Tuhan; nama-Nya
ialah Firman Allah (Wahyu 19:13 b). Tidak mengherankan bahwa Tuhan akan membuat
keputusan atas "pelacur besar" itu; pada zaman Babel kuno keputusan
Tuhan secara ringkas diungkapkan dengan perkataan: “Baiklah Kita turun...”
Saya bukanlah menentang pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahkan, saya mendukung penuh keberadaan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memelihara perdamaian sesama manusia di dunia ini, biarpun itu dilaksanakan menurut pemikiran manusia semata-mata (nama atau karya manusia)! Saya juga tidak menentang pendirian Bank Dunia, dan saya juga tidak anti terhadap perjanjian-perjanjian yang mengikat pemerintah-pemerintah di dunia perihal karya yang diciptakan oleh penguasa-penguasa elit (cabal) dunia.
Jika semua itu muncul, maka saya melihat penggenapan nubuatan-nubuatan firman Tuhan. Saya tidak bersikap negatif terhadap keberadaan karya umat manusia tersebut. Namun hakikatnya, semua karya atau nama yang diwujudkan oleh umat manusia itu berasal dari manusia. Apa yang berasal dari nama manusia akan menuju kebinasaan: tidak kekal abadi. Dan kita, sebagai pengikut Jalan, seeloknya dapat membaca tanda-tanda akhir zaman bangsa-bangsa, supaya kita tergolong sebagai orang yang "berbahagia." Karya Tuhan sangat jelas perbedaannya dari karya manusia. Nama-Nya adalah Firman Allah: Kristus.
Pemerintah-pemerintah dunia adalah calon-calon keturunan Ular Tua. Tuhan menganugerahkan Kitab Wahyu karena mereka yang percaya disebut "berbahagia."
“3 Berbahagialah ia yang
membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti
apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (Wahyu 1:3)
Frasa "Waktunya sudah
dekat" merujuk kepada penghakiman dan penghukuman bangsa-bangsa di dunia
ini oleh Hakim yang Mahaadil. Bangsa-bangsa yang ada di dunia sekarang ini
lahir dari 'satu bangsa' di Babel kuno dalam Kitab Kejadian 11. Tuhan menghukum
bangsa yang 'satu' itu dengan mengacaubalaukan bahasanya, maka lahirlah zaman
bagi berbagai bangsa. Nabi Bileam bernubuat bahwa Amalek adalah bangsa yang
pertama (Bilangan 24:20); darahnya mengalir kepada penguasa Mesir, yaitu
Firaun. Maka, Kekaisaran Mesir adalah musuh 'perempuan' (umat Tuhan) yang
pertama dalam garis waktu (timeline) bangsa-bangsa. Hal itu sudah dinubuatkan
pada permulaannya, yaitu dalam Kejadian 3:15.
Sejak saat itu, berbagai bangsa senantiasa bergolak dalam percaturan kuasa politik dan ekonomi. Kita sedang berada dalam zaman di mana bangsa-bangsa itu telah 'bersatu kembali', biarpun kesatuan itu agak rapuh seperti penggabungan "besi dan tanah liat." Bangsa-bangsa bersatu dalam nama manusia (karya manusia) yang disebut "Peace and Security" melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa di bawah kepemimpinan penguasa dunia No. 1 yang dinubuatkan sebagai "kelihatan seperti domba ('peacemaker'), tetapi berbicara seperti naga." Rasul Paulus mengungkapkan 'suatu pesan' perihal kesatuan bangsa-bangsa itu dalam 1 Tesalonika 5:3:
“Apabila mereka mengatakan: Semuanya 'damai dan aman,' maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin—mereka pasti tidak akan luput.”
![]() |
| Ketika semua bangsa-bangsa di dunia masih mengatakan atau memperjuangkan 'peace and security,' ... (Sumber gambar: United Nations language Careers. 4 januari 2016. <languagecareers.un.org>) |
Mengapa Paulus Menulis Frasa "Damai dan Aman"?
Paulus menulis surat kepada jemaat di Tesalonika pada zamannya karena terdapat nabi-nabi palsu yang mencoba mempengaruhi jemaat Tuhan bahwa "Hari Tuhan" sudah tiba. Hal itu bukanlah sekadar nasihat biasa, melainkan menyingkapkan hikmat makrifat tentang "nama" yang dicari oleh semua bangsa. Nama tersebut menjadi pertanda awal (pra-) kemunculan kembali "menara Babel kuno." Frasa nama "damai dan aman" itu disampaikan oleh Rasul Paulus mengenai masa sebelum (pra-) kedatangan kembali Kristus ke bumi. Ayat 3 merupakan pengetahuan wahyu (revelation knowledge) yang sering kali dipandang remeh oleh para pembaca Kitab Suci.
Pada zaman menara Babel kuno, umat manusia di seluruh dunia berkata: "Marilah kita mencari nama ('karya/pekerjaan') ..." Sampai saat ini, umat manusia di dunia masih "mengatakan" (mencari "nama") seperti yang dilakukan di Babel kuno, dan "nama" yang dicari ialah "damai dan aman", yang dalam versi bahasa Inggris berbunyi "Peace and Security" [7]. "Peace and Security" [8] merupakan Pasal 1 dalam Bab 1 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Apa yang pasti, Rasul Paulus menulis hal tersebut bukan karena keinginan pribadi tanpa diilhami oleh Roh Kudus. Roh Kudus mengilhaminya agar tulisan Paulus dapat menasihati jemaat Tuhan di Tesalonika. Maka, sumber ilham ayat ke-3 tersebut sudah barang tentu datang dari Roh Kudus. Kita kembali lagi kepada Kejadian 3:15. Ketika "perempuan" itu diperdamaikan dengan Tuhan, kepala keturunan Ular Tua akan diremukkan. Namun, ketika "perempuan" itu bersundal, maka tumitnya akan diremukkan oleh keturunan Ular Tua tersebut. Demikianlah kita melihat "kuasa-kuasa tersembunyi" di balik pergolakan politik dan ekonomi dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa manusia di bumi ini.
Ayat 9: Yerusalem dikatakan duduk di atas tujuh gunung karena kota itu dikelilingi oleh tujuh gunung. Lokasi kota itu dapat dikenali dengan mengaitkannya pada kedudukan tujuh buah gunung yang mengelilinginya. Dalam "panggilan" Tuhan kepada semua suku bangsa Ibrani untuk "menuju satu bangsa", penempatan bagi suku-suku bangsa itu juga dinubuatkan oleh Nabi Yehezkiel sebagai menduduki gunung-gunung.
Ayat 10: “Ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja.”
Ayat 10 hanya akan memberikan pengertian yang lebih jelas apabila kita merujuk kembali kepada permulaan permusuhan antara perempuan dan Ular Tua serta keturunannya, sebagaimana yang dinubuatkan dalam Kejadian 3:15. Meskipun "perempuan" dalam Wahyu 17 merujuk kepada Kota Yerusalem, kota tersebut sebenarnya dikaitkan dengan bangsanya, yaitu bangsa Ibrani. Tuhan telah memilih Israel (House of Jacob) menjadi pewaris janji-janji Abraham. Bangsa Israel telah dipilih menjadi istri Tuhan YHVH. Pusat pekerjaan (nama Tuhan) dalam pernikahan tersebut adalah Bait Allah di Yerusalem.
Tanda di langit bagi bangsa Ibrani pada mulanya dilihat oleh Yusuf dalam Kejadian 37:9, kemudian dilihat kembali oleh Santo Yohanes dalam Wahyu 12:1. Kedua penglihatan yang diperoleh kedua nabi tersebut memiliki persamaan, meskipun tidak sepenuhnya sama: "Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan dua belas bintang di atas kepalanya, dan bulan di bawah telapak kakinya." Yusuf melihat tanda "perempuan" Perjanjian Lama, sedangkan Santo Yohanes melihat bagaimana "Perempuan" Bangsa Israel Perjanjian Lama yang kemudian melahirkan Anak Perdamaian bagi orang Ibrani Perjanjian Baru, dan juga bagi seluruh bangsa di dunia.
Perempuan itu dinubuatkan oleh Tuhan dalam Kejadian 3:15 bahwa perempuan yang bermusuhan dengan Ular Tua akan melanjutkan permusuhan tersebut hingga pengakhirannya: “15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Sekiranya umat Tuhan (bangsa Israel) tidak diperdamaikan dengan Tuhan, maka perempuan itu akan tunduk di bawah kekuasaan pemerintah-pemerintah dunia, yaitu keturunan Ular Tua. Dengan demikian, keturunan Ular Tua akan meremukkan tumit perempuan itu, dan Kota Yerusalem juga akan tunduk kepada raja-raja atau kaisar-kaisar. Dalam Ayat 10, Santo Yohanes mendapat penglihatan bahwa 5 (lima) garis keturunan kaisar telah "meremukkan tumit" perempuan itu. Namun, hal tersebut telah berlalu karena kekaisaran-kekaisaran yang menaklukkan 'tumit' perempuan itu telah berlalu. 5 (lima) kekaisaran telah meremukkan tumit perempuan itu. Kejadian 3:15 tetap menjadi salah satu kunci penting untuk menafsirkan dan melihat bagaimana permusuhan antara kedua keturunan tersebut:
"Perempuan vs. Binatang-binatang."
Keturunan Ular Tua yang pernah meremukkan tumit perempuan itu, lalu menaklukkan Kota Yerusalem adalah:
1. Kekaisaran
Mesir (Egyptian)
2. Kekaisaran
Asyur (Assyrian)
3. Kekaisaran
Kasdim (Babylonian)
4. Kekaisaran
Medo-Persia (Mede-Persian)
Panduan Khusus Penafsiran
"Kaisar" dalam Wahyu 17:10 Berdasarkan Ilham dari Daniel 7:1–17
Kita akan berpatokan pada ilham dari Daniel 7:1–28 untuk menyingkapkan arti tersembunyi dari Wahyu 17:10. Dalam Kitab Daniel ini, kita dapat dengan mudah memahami bahwa identitas 'binatang' merujuk kepada kekaisaran atau penguasa bangsa-bangsa. Nabi Daniel menyatakan dalam ayat 3 bahwa ada "empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain." Oleh karena itu, dari ayat 4 sampai ayat 7, kita melihat bahwa 'binatang' itu merujuk kepada empat kekaisaran atau penguasa bangsa-bangsa yang muncul di bumi, dan mereka memang merupakan penguasa atau penakluk Kota Yerusalem. Pada ayat yang ke-17, Nabi Daniel menuliskan penglihatan dan penjelasan malaikat yang berbunyi:
“Binatang-binatang besar
yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi.”
Kita akan bertanya, mengapa dalam ayat 3 hingga ayat 7 kata 'binatang' jelas-jelas merujuk kepada 'kekaisaran', sedangkan dalam ayat ke-17 malaikat menyatakan bahwa 'binatang' itu merujuk kepada 'raja yang akan muncul dari dalam bumi'? Bukankah keempat binatang itu berasal dari empat kekaisaran yang berbeda, yaitu Kasdim (Babel), Medo-Persia, Yunani, dan akhirnya Kekaisaran Romawi? Mengapa malaikat menyatakan dalam ayat ke-17 bahwa binatang-binatang itu hanya merujuk kepada 4 raja yang akan muncul di bumi? Bukankah satu kekaisaran memiliki banyak kaisar, terlebih lagi jika ada empat kekaisaran yang berganti-ganti?
Kekeliruan ini akan
terjawab jika kita melihat 'raja' tersebut sebagai 'garis keturunan kaisar'.
Maka, biarpun ada empat kekaisaran yang berbeda, hal itu berarti hanya empat
raja yang muncul, atau dalam ungkapan yang lebih mudah dipahami: "empat
garis keturunan kaisar" telah muncul. Malaikat menyatakan hanya ada empat
raja di bumi. "Empat raja" itu juga merujuk kepada "empat garis
keturunan kaisar" dari empat kekaisaran yang berbeda! Artinya kurang lebih
sama dengan mengatakan "ada empat raja", dengan syarat tidak ada
pergantian garis keturunan kaisar. Penafsiran seluruh Daniel pasal 7
menjelaskan bahwa empat raja itu bermakna 4 garis keturunan kaisar dari empat
kekaisaran yang berbeda. Kita akan menafsirkan Wahyu 17 sebagaimana kita
memahami Daniel 7:1–17.
Sebab itulah dalam Wahyu 17, penulis mencatat delapan (8) kekaisaran (delapan 'binatang') yang pernah memerintah Kota Yerusalem. Hal ini juga berarti ada 8 (delapan) garis keturunan kaisar yang memerintah Kota Yerusalem. Maka, kita tidak akan menafsirkan bahwa ada delapan 'raja' secara harfiah yang pernah memerintah Kota Yerusalem, melainkan kita melihat ada "delapan garis keturunan kaisar dari delapan kekaisaran yang berbeda" yang memerintah Kota Yerusalem.
Ayat 11: “Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu, dan ia menuju kepada kebinasaan.”
Kekaisaran yang kedelapan
itu "telah ada", yaitu "seperti" penguasa zaman Babel kuno
(bersifat global atau sedunia), "namun tidak ada" sampai pada tahun
1945 M di mana dunia bersatu menjadi satu dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Maka, ia telah "muncul lagi" sejak tahun 1945 M. Hanya ada satu
'garis kaisar' yang berada dalam kelompok lima anggota Veto Perserikatan
Bangsa-Bangsa. Sapa pun peminat sejarah akan terperangkap untuk menafsirkan
bahwa lima (5) kaisar itu merujuk kepada 5 (lima) kaisar Romawi Kuno. Pendekatan
penafsiran seperti itu menandakan ketidakcermatan dalam membaca Kitab Daniel
7:1–17.
Permusuhan antara 'perempuan' dan Ular Tua dimulai sejak era kelahirannya di Mesir, dan telah diberitahukan sejak Kejadian 3:15. Harus diingat bahwa ayat 17 dalam Daniel 7 memberitahukan bahwa empat binatang itu ialah 'raja' dari empat kekaisaran (4 kekaisaran), maka pahamlah kita bahwa 4 'raja' itu bermakna 4 garis keturunan kaisar dari empat kekaisaran yang berbeda! Biasanya kekaisaran diperintah oleh satu garis keturunan raja/kaisar.
Kesimpulan dan Kunci:
Maka, dalam penafsiran Wahyu 17:10–11, "delapan (8) kaisar"
sebenarnya bermakna 8 (delapan) garis keturunan kaisar dari delapan kekaisaran
yang berbeda. Seluruh 'binatang' itu (pemerintah dunia) mempunyai pertalian dan
persamaan: semua binatang yang muncul itu adalah keturunan si Ular Tua! Satu
kekaisaran dilihat sebagai satu kaisar (raja) seperti dalam Daniel 7:17:
“Binatang-binatang besar
yang empat ekor itu ialah empat raja yang akan muncul dari dalam bumi.”
Maka, saya melihat 8
kaisar dalam Wahyu 17:10–11 sebagai 8 (delapan) kekaisaran atau 8 (delapan)
garis keturunan kaisar dari 8 (delapan) kekaisaran yang pernah menaklukkan atau
kaisar-kaisar yang 'menikah' dengan 'perempuan' (Kota Yerusalem) itu. Jikalau
kota itu hanya 'menikah' dengan YHVH saja, tentu ia tidak dinubuatkan sebagai
pelacur yang menunggangi 'binatang' merah-ungu tersebut!
![]() |
| Tajuk: Empayar British pada tahun-tahun 1920-an Source of map [c] [c] Histoire-Géographie au Lycée par Mr. PICQ. 27 December 2015. http://lewebpedagogique.com/grunen/british-empire-maps/map_of_the_british_empire_in_the_1920s/ |
Penjelasan: Kekaisaran-Kekaisaran dan Penaklukan Yerusalem
Kekaisaran-kekaisaran yang dinyatakan dalam daftar di atas adalah daftar binatang (kekaisaran) yang pernah menaklukkan Kota Yerusalem ('Perempuan': istri Tuhan YHVH). Binatang-binatang keturunan Ular Tua itu adalah kekaisaran-kekaisaran yang memiliki kaisar-kaisar sebagai pemerintahnya. Ketika Santo Yohanes menerima Wahyu itu, "lima kekaisaran sudah jatuh" atau lima garis keturunan kaisar dari lima kekaisaran telah berlalu. Perempuan tersebut tidak hanya bermusuhan dengan Kekaisaran Romawi saja, melainkan dengan semua binatang sejak zaman Firaun!
Perempuan itu lahir melalui Paskah Tuhan di Mesir; maka, binatang pertama yang bermusuhan dengannya adalah Kekaisaran Mesir. Binatang-binatang itu bukan saja pemerintah dunia, tetapi juga memiliki permusuhan dengan perempuan itu dan kotanya, yaitu Kota Yerusalem. Pemerintahan lima binatang (lima kekaisaran) keturunan Ular Tua atas Yerusalem telah berlalu.
Ketika Santo Yohanes menerima nubuat dalam Wahyu 17, binatang yang sedang memerintah Kota Yerusalem adalah Kekaisaran Romawi. "Yang lain belum datang" merujuk kepada Kekaisaran Utsmaniyah (Kaisar Utsmaniyah). Dan firman itu melanjutkan: "dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja."
Bagian ini menjelaskan bahwa bukanlah binatang ketujuh yang akan menjadi 'tanda' bagi pengakhiran penaklukan Yerusalem oleh bangsa-bangsa. Walaupun Kekaisaran Utsmaniyah memerintah Yerusalem dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu selama kurang lebih 400 tahun, namun ia hanya diungkapkan akan "tinggal seketika saja", supaya para pembaca zaman itu dapat menyimpulkan bahwa bukanlah binatang ketujuh yang akan menjadi pemerintah pengakhir.
Maka, frasa "akan tinggal seketika saja" memberikan kita pengertian bahwa pemerintah keturunan Ular Tua yang ke-7 juga pasti akan berlalu seperti lima binatang terdahulu yang telah berlalu. Jadi, binatang kedelapanlah yang akan menjadi binatang pemerintah terakhir atas Kota Yerusalem. Setelah itu, kota tersebut akan dipulihkan oleh Yesus Kristus. (Pemulihan Yerusalem atau bangsa Ibrani akan dibahas dalam Seri ke-III).
Siapakah Binatang Kedelapan yang Memerintah Yerusalem?
Binatang itu ialah binatang merah ungu. Kota Yerusalem telah diberikan kemerdekaan pada tahun 1948, namun kota tersebut telah dibagi dua mengikut formula kaisar kedelapan. Kebijaksanaan Sionisme yang menunggangi kuasa-kuasa besar membantunya untuk terus memiliki Kota Yerusalem, meskipun hal itu bertentangan dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maka, 'perempuan' itu dikatakan duduk di atas semua air, yaitu bangsa-bangsa di dunia, karena ia licik dan bijak dalam menunggangi kuasa-kuasa besar sebagai sekutunya (Ayat 15).
Namun, separuh kota itu masih menjadi konflik internasional karena Yerusalem Timur diberikan kepada bangsa Palestina. Maka, separuh Kota Yerusalem dikatakan duduk di atas bangsa-bangsa di dunia karena hal itu merupakan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun demikian, kelima anggota hak veto di organisasi tersebut tidak memiliki 'kaisar', kecuali Kekaisaran Britania.
Ayat 11: Apakah Maksud Ungkapan "...Raja kedelapan itu adalah satu dari ketujuh Itu"?
Maksud ringkasnya, binatang itu adalah keturunan si Ular Tua, dan oleh sebab itu, ia adalah musuh kepada 'perempuan' tersebut. Semua binatang itu adalah keturunan si Ular Tua menurut Kejadian 3:15.
Ayat 16 merupakan suatu nubuat yang terdengarnya tidak baik bagi
Israel (bad news for the present secular Israel), karena Kota Yerusalem akan
dipaksa untuk dibagi dua menurut ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa! Namun,
hal itu diizinkan Tuhan selama bangsa Ibrani belum dipulihkan oleh Kristus.
Binatang merah ungu itu akan membenci 'pelacur itu' karena ia telah menjadi
sumber konflik internasional yang tidak memiliki penyelesaian. Akhirnya, Tuhan
akan merelakan binatang merah ungu untuk meremukkan 'tumit perempuan itu'. Dan
tumit perempuan itu adalah Kota Yerusalem.
“Dan kedelapan tanduk yang kaulihat itu serta binatang itu, mereka
akan membenci wanita jalang itu dan mereka akan membuat dia sunyi dan
telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.”
Maka, benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi dalam
Yesaya 46:9–10:
“9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya
Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti
Aku, 10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman
purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai,
dan segala kehendak-Ku akan Ku-lakukan,”
'Perempuan' yang dinubuatkan oleh Tuhan dalam Kejadian 3:15
menjelaskan bahwa perempuan yang bermusuhan dengan Ular Tua akan meneruskan
permusuhan tersebut hingga era penghakiman bangsa-bangsa oleh Hakim Agung:
“15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan
ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan
kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Maka, pahamlah kita bahwa Roh Tuhanlah yang Mahaberdaulat antara perempuan dan keturunan-keturunan Ular Tua itu. Apa yang terjadi kepada Kota Yerusalem dalam Wahyu 17:16 akan digenapi kelak. Namun, hal itu diizinkan oleh tangan Tuhan selama bangsa Ibrani belum dipulihkan oleh Kristus yang akan kembali ke bumi (Yehezkiel 37:1–14; Wahyu 7:4; 1 Korintus 15:50–54).
"18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: 'Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.
19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.'"





Tidak ada komentar:
Posting Komentar